Emang Yahudi dan Nasrani Kafir ?

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum. Ustadz mohon pencerahan nya,  siapakah yg disebut orang kafir itu,  apakah yahudi, nashrani dll yg bukan islam disebut kafir?
Apa beda sebutan dia kristen, dia kafir?…  Ini ada orang atheis yg bertanya. ( Roro Sri Suprihatiningsih )

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam, ….. Bismillah wal Hamdulillah ..

Secara etimologis  kafir dari kata al kufru, kata dasarnya kafara yg artinya menutup. Secara terminologis, kafir adalah setiap manusia yang berkeyakinan diluar Islam maka semua mereka adalah kafir, karena mereka tertutup dari hidayah Islam.

Kafir itu beragam, ada yg ateis (tidak bertuhan), ada politeis (banyak tuhan, musyrik/paganis,  seperti semua agama penyembah berhala), ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Walau kafir tidak sebatas ini, dan secara nomenklatur/penamaan tdk hanya seperti ini, namun ada manusia yg tidak menuhankan Allah, tidak bernabikan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dst, maka dia juga kafir.

Tidak sedikit org Islam sendiri yg menyempitkan makna kafir, yaitu sebatas org tidak bertuhan saja,  maka itu  keliru dan tidak berdasar, …

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. Al Bayyinah: 6)

Ayat ini menyebut kaum musyrikin (politheis) dan ahli kitab (Yahudi-Nasrani) adalah kafir, bahkan mereka di akhirat senasib dan satu “cluster”, neraka jahanam.

Imam Al Kasani Rahimahullah menjelaskan klasemen kekafiran sebagai berikut:

صِنْفٌ مِنْهُمْ يُنْكِرُونَ الصَّانِعَ أَصْلاً ، وَهُمُ الدَّهْرِيَّةُ الْمُعَطِّلَةُ
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ بِالصَّانِعِ ، وَيُنْكِرُونَتَوْحِيدَهُ ، وَهُمُ الْوَثَنِيَّةُ وَالْمَجُوسُ
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ بِالصَّانِعِ وَتَوْحِيدِهِ ، وَيُنْكِرُونَ الرِّسَالَةَ رَأْسًا ، وَهُمْ قَوْمٌ مِنَ الْفَلاَسِفَةِ
وَصِنْفٌ مِنْهُمْ يُقِرُّونَ الصَّانِعَ وَتَوْحِيدَهُ وَالرِّسَالَةَ فِي الْجُمْلَةِ ، لَكِنَّهُمْ يُنْكِرُونَ رِسَالَةَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُمُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

📌Kelompok yang mengingkari adanya pencipta, mereka adalah kaum dahriyah dan mu’aththilah (atheis).

📌Kelompok yang mengakui adanya pencipta, tapi mengingkari keesaanNya, mereka adalah para paganis (penyembah berhala) dan majusi.

📌Kelompok yang mengakui pencipta dan mengesakanNya, tapi mengingkari risalah kenabian yang pokok, mereka adalah kaum filsuf.

📌Kelompok yang mengakui adanya pencipta, mengeesakanNya, dan mengakui risalahNya secara global, tapi mengingkari risalah Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka adalah Yahudi dan Nasrani. (Lihat: Imam Al Kasani, Al Bada’i Ash Shana’i, 7/102-103, lihat juga Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, 8/263)

📌 Ayat Al Quran  dan As Sunah lugas menyebut mereka (Ahli Kitab) dengan sebutan KAFIR.

Tentang Nasrani bahkan ada ayat khusus tentang kekafiran keyakinan bahwa Nabi Isa adalah Anak Tuhan,  dan keyakinan TRINITAS mereka.

Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Qs. Al Maidah: 72-73)

Ada pun dalam As Sunnah ..

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada dalam tanganNya, tidak seorangpun dari umat ini yang mendengarku, baik  seorang Yahudi atau Nashrani, lalu ia meninggal dalam keadaan tidak beriman terhadap risalahku ini (Islam),  melainkan dia menjadi penghuni neraka.

(HR. Muslim no. 153, Ahmad No. 8188, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul Ummal No. 280, Abu Uwanah dalam Musnadnya No. 307, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 3050, Ath Thayalisi dalam Musnadnya No. 509, 511)

Bahkan sebagian sahabat nabi –seperti Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma- mengatakan bahwa Nasrani juga musyrik., artinya kekafiran mereka sama levelnya dengan politheis.

Disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir:

وقد كان عبد الله بن عمر لا يرى التزويج بالنصرانية، ويقول: لا أعلم شركا أعظم من أن تقول: إن ربها عيسى، وقد قال الله تعالى: { وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ } الآية [ البقرة : 221 ]

Abdullah bin Umar memandang tidak boleh menikahi wanita Nasrani, dia mengatakan: “Saya tidak ketahui kesyirikan yang lebih besar dibanding perkataan: sesungguhnya Tuhan itu adalah ‘Isa, dan Allah Ta’ala telah berfirman: (Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik sampai dia beriman). (QS. Al Baqarah (2); 122). (Tafsir Ibnu Katsir, 3/42)

Maka, ini sebagai penegas atas kekafiran Ahli Kitab, dan berpalinglah dari pemahaman kaum liberal yang mendistorsi makna kafir, sebatas tak bertuhan saja.

Demikian. Wallahu A’lam

🌷☘🌴🌺🌻🌾🌸🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

Tafsir Surat At Tahrim (bag. 5 A)

TAUBATAN  NASHUHA

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (8)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu kedalam Jannah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sabil mereka mengatakan,”Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesunguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At-Tahrim [66]:9)

Makna Taubat

Secara bahasa  kata taubat berasal dari kata:

تاب-يتوب- توبة

Artinya: kembali[1]

Sedangkan secara istilah syar’i taubat adalah:

ترك الذنب مخافة الله، واستشعار قبحه، وندم على المعصية من حيث هي معصية، والعزيمة على ألا يعود إليها إذا قدر عليها، وتدارك ما أمكنه أن يتدارك من الأعمال بالإعادة

Meningalkan dosa karena takut kepada Allah, merasakan buruknya dosa, menyesal atas maksiat yang dilakukan, dan bertekad untuk tidak mengulangi, disertai dengan perbuatan-perbuatan untuk kembali.[2]

Taubatan Nasuha

Imam At Thabari menyebutkan beragam pendapat tentang makna taubatan nasuha, namun mayoritas pendapat tersebut memiliki kesamaan makna, yaitu:

📌       Dari Nu’man bin  Basyir,” Umar bin Khattab ditanya tentang  makna taubatan Nasuha, beliau menjawab:

أن يتوب الرجل من العمل السيئ، ثم لا يعود إليه أبدًا

“Seseorang yang bertaubat kepada Allah dari perbuatan buruk, kemudian dia tidak mengulangi selama-lamanya”.[3]

📌        Berkata Ibnu Zaid, pada firman Allah ini, ia berkata,”Taubat Nasuha adalah taubat yang benar  dan mengertahui dengan jujur penyesalan atas kesalahan yang dilakukan dan senang  jika ia kembali kepada ketaatan kepada Allah.

📌 Ahmad Musthafa Al Maragi  dalam tafsirnya menyebutkan riwayat yang bersumber  dari Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas, “Taubat nasuha adalah menyesal dengan sungguh-sungguh atas dosa yang pernah dilakukan, meminta ampun kepada Allah dengan bertekad tidak mengulanginya kembali di kemudian hari, seperti air susu yang tak mungkin kembali ke tempat asalnya (payudara).[4]

📌 Sedangkan Imam An Nawawi menyebutkan dalam Riyadhus Shalihin:

“ Taubat dari dosa hukumnya wajib, memiliki tiga syarat: [5]

1⃣       Meninggalkan maksiat
2⃣       Menyesali perbuatan dosa
Karena menyesal merupakan bagian dari taubat.
3⃣      Bertekad kuat tidak mengulanginya dikemudian hari, jika salah satu dari syarat ini tidak ada maka taubatnya tidak sah.

Namun Beliau juga menambahkan jika dosa terkait dengan anak Adam, maka syaratnya ditambah satu lagi yaitu,mengembalikan hak  atau meminta dihalalkan jika terkait dengan hak dan harta, adapun jika terkait dengan sikap, ia harus meminta maaf kepada yang bersangkutan

📌 Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan empat tingkatan orang yang bertaubat:[6]

1⃣      Tingkatan pertama

Orang yang bermaksiat, lalu ia bertaubat,  dan ia terus istiqamah dalam taubat hingga akhir hayatnya, tak pernah terbetik sedikitpun keinginan didalam hatinya untuk kembali kepada maksiatnya dahulu, inilah tingkatan taubatan nasuha, dan orang yang melakukannya memiliki jiwa yang tenang ( an Nafsu al Muthmainnah), yang kembali kepada Rabbnya dengan ridha dan di ridhai.

2⃣       Tingkatan kedua

Orang yang bertaubat dari dosa-dosa besar (kabair), ia berusaha istiqamah dijalan Allah dalam menjauhi dosa-dosa besar, namun ujian yang menghadangnya sehingga tanpa sengaja terjerumus kedalamnya, saat itu ia memperbaharui taubatnya dan mencela jiwanya ( nafsu Lawwamah (tercela), yang lemah terhadap dosa tersebut, dan ia tidak mengulanginya lagi.  ia memperbaharui taubatnya.

Inilah golongan yang disebutkan Allah dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji, atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. ( QS. Al Imran [3]:135)

3⃣       Tingkatan ketiga

Seseorang yang bertaubat dari dosa, ia beristiqamah namun hanya sesaat, ia dikalahkan  oleh nafsu syahwatnya, namun di sisi lain ia melakukan ketaatan, dengan kata lain, taat dan maksiat berjalan beriringan. Orang-orang seperti ini selalu dikalhkan oleh hawa nafsunya saat dorongan berbuat dosa memuncak. Yang dikhawatirkan ia mati dalam keadaan sedang melakukan dosa, di itulah ciri mati dalam Su’ul Khatimah.

Firman Allah:

وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan (adapula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampur adukkan amal baik dengan amal lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. ( QS. At Taubah[9]:102)

4⃣      Tingkatan keempat

Seseorang yang bertaubat, istiqamah sesaat, lalu ia melakukan dosa-dosa kembali, tanpa merasa bersalah, tak menyesalinya, ia terus menerus berlanjut dalam dosa, terlena dalam buaian syahwatnya. Orang seperti ini juga dikhawatirkan ia mati dalam kondisi sedang memperturutkan hawa nafsunya. Dan nafsunya disebut sebagai nafsu ammarah bi  suu (nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan).

Menyegerakan Taubat

Taubat harus dilakukan dengan segera, tanpa menunggu waktu hingga diakhirkan, dan orang yang meremehkan taubat, ia harus segera bertaubat dari dosa mengakhirkan taubat tersebut. karena manusia tidak ada yang tahu kapan ajal menjemputnya.[7]

Firman Allah:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana ( QS. An Nisa [4]: 17)

Bertaubat merupakan  jalan yang Allah berikan kepada anak Adam yang bersalah, karena setelah ua bertaubat dengan sebenarnya, maka ia akan mengambil hikmah dari kesalahan  untuk tidak mengulanginya pada masa yang akan datang.

Rasulullah bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu berkata, “Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam bersabda,”Setiap anak Adam melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat,”( HR. Hakim, No. 7617).[8]

Bersambung….

💢💢💢💢💢💢

[1] Ibnu Faris, Mu’jam Maqayis al-Lughah, 1/357
[2] Shalih bin Ghanam bin Sulaiman As Sadlan, At Taubah Ilallah, (Saudi Arabia, Dar Bilnisyah Lin Nasyr,1416) 1/10
[3] At Thabari, Tafsir at-Thabari, 23/493
[4] Al Maragi, Tafsir Al Maraghi Mesir, ( Syarikah Musthafa Al Halby, 1365H) 28/164
[5] Imam An Nawawi, Riyadhus Shalihin, (Beirut: Muasasah Ar Risalah, 1419 H) Tahqiq Syuaib Al Arnauth, 1/34
[6] Imam Al Ghazali, Ihya Ulumuddin, ( Beirut: Darul Ma’rifah), 4/43
[7] Shalih bin Ghanam bin Sulaiman As Sadlan, At Taubah Ilallah, 1/20
[8] Al Hakim, Al Mustadrak ala Sahihain, (Bab Taubat wa Inabah, no. 7617),  4/272

🌻🌹🍃🌴🌷☘🌸🌿🌺

Ust Fauzan Sugiono, Lc. MA

Serial Tafsir Surat At-Tahrim

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 1)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 2)

Tafsir At Tahrim (Bag. 3)

Tafsir At Tahrim (Bag. 4)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 5A)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 5B)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 6)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 7)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 8)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 9, Selesai)

Posisi Tangan Bersedekap Saat Shalat

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Kami akan ambil dari dua sumber.

1. Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 38/369

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ إِلَى أَنَّ مِنْ سُنَنِ الصَّلاَةِ الْقَبْضَ وَهُوَ وَضْعُ الْيَدِ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى وَخَالَفَهُمْ فِي ذَلِكَ الْمَالِكِيَّةُ فَقَالُوا : يُنْدَبُ الإِْرْسَال وَيُكْرَهُ الْقَبْضُ فِي صَلاَةِ الْفَرْضِ وَجَوَّزُوهُ فِي النَّفْل وَهَذَا فِي الْجُمْلَةِ .
وَمَكَانُ وَضْعِ الْيَدَيْنِ بِهَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ هُوَ تَحْتَ الصَّدْرِ وَفَوْقَ السُّرَّةِ ، وَهَذَا عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَرِوَايَةٌ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ ، وَهُوَ قَوْل سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ لِمَا رَوَى وَائِل بْنُ حُجْرٍ قَال : صَلَّيْتُ مَعَ رَسُول اللَّهِ ، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ
وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَفِي الرِّوَايَةِ الأُْخْرَى عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَنَّهُ يَضَعُ يَدَيْهِ تَحْتَ سُرَّتِهِ وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ عَلِيٍّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي مِجْلَزٍ وَالنَّخَعِيِّ وَالثَّوْرِيِّ وَإِسْحَاقَ لِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ قَال : مِنَ السُّنَّةِ وَضْعُ الْكَفِّ عَلَى الْكَفِّ فِي الصَّلاَةِ تَحْتَ السُّرَّةِ

Mayoritas ahli fiqih seperti Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah, berpendapat bahwa di antara sunah-sunah shalat adalah Al Qabdh (bersedekap), yaitu meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Sementara Malikiyah menyelisihi mereka dalam hal ini, mereka mengatakan: “Dianjurkan irsaal (meluruskan tangan) dan dimakruhkan sedekap di dalam shalat wajib namun boleh di shalat sunnah.” Inilah gambaran secara umum.

Ada pun tempat meletakkan tangannya adalah di bawah dada dan di atas pusar, ini menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan sebuah riwayat dari Hanabilah. Ini juga pendapat Sa’id bin Jubeir. Berdasarkan  hadits Wail bin Hujr, dia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, Beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya, di dadanya.”

Sedangkan menurut Hanafiyah, dan sebuah riwayat lain dari Hanabilah, bahwa diletakkan kedua tangan itu di bawah pusar. Cara seperti ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Abu Mijlaz, An Nakha’i, Ats Tsauri, dan Ishaq. Berdasarkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib: “Diantara sunah dalam shalat adalah meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan, di bawah pusar.”

2. Fiqhus Sunnah, 1/146

قال الكمال بن الهمام. ولم يثبت حديث صحيح يوجب العمل في كون الوضع تحت الصدر، وفي كونه تحت السرة، والمعهود عند الحنفية هو كونه تحت السرة وعند الشافعية تحت الصدر.
وعن أحمد قولان كالمذهبين، والتحقيق المساواة بينهما.
وقال الترمذي: أن أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم والتابعين ومن بعدهم يرون أن يضع الرجل يمينه على شماله في الصلاة، ورأى بعضهم فوق السرة، ورأى بعضهم أن يضعها تحت السرة، وكل ذلك واقع عندهم. انتهى.
ولكن قد جاءت روايات تفيد أنه صلى الله عليه وسلم، كان يضع يديه على صدره، فعن هلب الطائي قال: رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يضع اليمنى على اليسرى على صدره فوق المفصل، رواه أحمد، وحسنه الترمذي.
وعن وائل بن حجر قال: (صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم فوضع يده اليمنى على يده اليسرى على صدره) رواه ابن خزيمة وصححه ورواه أبو داود والنسائي بلفظ: ثم وضع يده اليمنى على ظهر كفه اليسرى والرسغ والساعد.أي أنه وضع يده اليمنى على ظهر اليسرى ورصغها وساعدها.

Berkata Al Kamal bin Al Hummam: “Tidak ada hadits shahih yang menunjukkan aktifitas posisi meletakkan tangan di bawah dada, dan di bawah pusar. Dan, yang dianut oleh Hanafiyah adalah posisinya di bawah pusar, dan bagi Syafi’iyah di bawah dada.”

Sedangkan Ahmad ada dua riwayat, sebagaimana dua madzhab tersebut.

At Tirmidzi berkata: “Para ulama dari kalangan sahabat Nabi ﷺ, tabi’in, dan generasi setelah mereka, berpendapat bahwa seseorang meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, sebagian mereka berpendapat meletakkan di atas pusar, sebagian lain berpendapat di bawah pusar. Semua ini ada dalam pendapat mereka.” Selesai

Tetapi terdapat banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ meletakkan kedua tangannya di atas dadanya. Dari Halab Ath Tha’iy, dia berkata: “Aku melihat  Nabi ﷺ meletakkan   tangan kanannya di atas tangan kirinya, di dadanya, di atas mufashshal (batas antara dada dan perut).”

Diriwayatkan oleh Ahmad, dan dihasankan oleh At Tirmidzi.
Dari Wail bin Hujr, dia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, Beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya, di dadanya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dia menshahihkannya.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dan An Nasa’i dengan lafaz: “Kemudian Beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kirinya dan pergelangan tangannya serta tulang hastanya.” Maksudnya Beliau meletakkan tangan kanannya di punggung tangan kirinya, pergelangannya dan bagian hastanya.

💢 Kesimpulan:

✅ Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah (Hambaliyah), berpendapat adanya bersedekap

✅ Sementara Malikiyah -pengikut Imam Malik- memakruhkan sedekap pada shalat wajib, tapi boleh pada shalat sunah.

✅ Tempatnya sedekap adalah di bawah dada tapi di atas pusar (antara dada dan pusar). Ini pendapat Malikiyah,  Syafi’iyah, juga Imam Ahmad dalam satu riwayat, berdasarkan riwayat Wail bin Hujr.

✅ Hanafiyah dan sebagian Hanabilah, meletakkan tangan di bawah pusar. Ini juga pendapat Imam Ahmad dalam riwayat lainnya. Berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.

✅ Para ulama masa sahabat nabi, tabi’in, dan generasi setelah mereka mempraktekan keduanya, baik di antara dada dan pusar, dan di bawah pusar.

✅ Ada pun pas di dada berdasarkan riwayat Halab bin Tha’iy, disebutkan oleh Imam Ahmad dan Imam At Tirmidzi, dengan sanad hasan.

✅ Jadi, mau di bawah pusar, antara dada dan pusar, atau di dada, semuanya ada. Ada pun TANPA SEDEKAP, tangan lurus saja, dianggap pendapat lemah oleh Syaikh Wahbah Az Zuhailiy. Pendapat yang rajih/kuat adalah pendapat mayoritas ulama. ( Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 2/63)

✅ Imam Malik sendiri berbeda dengan pengikutnya, Beliau sampai akhir hayatnya tetap bersedekap, sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Abdil Bar. ( Fiqhus Sunnah, 1/146)

Demikian. Wallahu a’lam

🌷☘🌴🌺🍃🌸🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Tata Cara Turun Sujud; Lutut Dulu, Tangan Dulu, Atau Sama saja?

Pertanyaan

Assalamu ‘alaikum, Wr.Wb. Pak ust, saya sering melihat orang-orang jika sujud mendahulukan lutut, padahal yang benar ’kan tangan dahulu, bagaimana pak ustadz? (dari 081345412xxx)


Jawaban

Wa’alaikum Salam Wa Rahmatullah wa Barakatuh.  Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ba’d:

Sebenarnya apa yang Anda tanyakan ini adalah perkara khilafiyah sejak lama, yang sampai hari ini, bahkan nampaknya sampai akan datang tidak ada kata sepakat. Anda berhak mengikuti dan meyakini bahwa mendahulukan tangan ketika akan sujud adalah lebih benar. Namun, sebaiknya kita tidak boleh mengingkari yang lain. Sebab, mendahulukan lutut ketika akan sujud, justru itulah pendapat yang dianut oleh jumhur (mayoritas) ulama.

Saya akan kutipkan paparan beberapa ulama, tentang peta perbedaan ini.

Hadits Mengenai Sujud, Tangan atau Lutut Dulu?

✅ Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata sebagai berikut:

ذهب الجمهور إلى استحباب وضع الركبتين قبل اليدين، حكاه ابن المنذر عن عمر النخعي ومسلم بن يسار وسفيان الثوري وأحمد وإسحاق وأصحاب الرأي قال: وبه أقول، انتهى.
وحكاه أبو الطيب عن عامة الفقهاء.
وقال ابن القيم: وكان صلى الله عليه وسلم يضع ركبتيه قبل يديه ثم يديه بعدهما ثم جبهته وأنفه هذا هو الصحيح الذي رواه شريك عن عاصم بن كليب عن أبيه.
عن وائل بن حجر قال: رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا سجد وضع ركبتيه قبل يديه، وإذا نهض رفع يديه قبل ركبتيه ولم يرو في فعله ما يخالف ذلك، انتهى.
وذهب مالك والاوزاعي وابن حزم إلى استحباب وضع اليدين قبل الركبتين، وهو رواية عن أحمد. قال الاوزاعي: أدركت الناس يضعون أيديهم قبل ركبهم.
وقال ابن أبي داود: وهو قول أصحاب الحديث.

“Menurut madzhab jumhur ulama, disunahkan meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan (saat sujud). Demikian itu diceritakan Ibnul Mundzir dari Umar, An Nakha’i, Muslim bin Yasar, Sufyan Ats Tsauri , Ahmad, Ishaq dan ashabur ra’yi (pengikut Abu Hanifah). Dia berkata: “Aku juga berpendapat demikian.” Abu Thayyib menceritakan hal ini dari umumnya para fuqaha.

Ibnul Qayyim mengatakan: Dahulu Rasulullah ﷺ   meletakkan lututnya sebelum tangannya, kemudian tangannya, lalu diikuti dengan keningnya dan hidungnya. Inilah yang shahih yang diriwayatkan oleh Syarik dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya, dari Wail bin Hujr, dia berkata: “Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika dia sujud dia meletakkan lututnya sebelum tangannya, dan jika dia akan bangkit, dia mengangkat tangannya sebelum lututnya. Dan tidak ada riwayat yang bertentangan dengan apa yang dilakukannya itu.” Selesai.

Sedangkan madzhab Imam Malik, Al Auza’i, dan Ibnu Hazm, menyunnahkan meletakkan tangan sebelum lutut, itu juga merupakan satu riwayat dari Ahmad. Berkata Al Auza’i: “Aku melihat manusia meletakkan tangan mereka sebelum lututnya.”

Berkata Ibnu Abi Daud: “Ini adalah pendapat para ahli hadits.”   (Fiqhus Sunnah, 1/164. Lengkapnya lihat juga Zaadul Ma’ad, 1/223)

✅ Imam Al Baghawi Rahimahullah juga menjelaskan:

واختلف العلماء في هذا ، فذهب أكثرهم إلى أنه يضع الركبتين قبل اليدين ، وقال نافع : كان ابن عمر يضع يديه قبل ركبتيه ، وبه قال الأوزاعي ومالك : إنه يضع يديه قبل ركبتيه

Para ulama berselisih pendapat tentang ini, mayoritas mengatakan bahwa meletakkan lutut sebelum kedua tangan. Naafi’ berkata: “Dahulu Ibnu Umar meletakkan kedua tangannya sebelum lututnya. Ini juga pendapat Al Auza’i dan Malik: bahwa meletakkan tangan didahulukan sebelum kedua lutut. (Syarhus Sunnah, 3/134)

Perbedaan pendapat ini lantaran perbedaan mereka dalam menilai hadits dari Wail bin Hujr di atas, shahih atau tidak. Hal ini berimplikasi pada hukum yang berlaku di dalamnya.

Pihak Yang Menshahihkan Hadits Lutut Sebelum Tangan

Sebagian imam muhadditsin menshahihkan hadits ini, seperti Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ibnu Hibban, Imam Ibnu As Sikkin.  (Lihat At Talkhish Al Habir, 1/616-617), juga Imam Al Hakim, dan menurutnya keshahihannya sesuai syarat Imam Muslim. (Lihat Al Muharrar fil Hadits, 1/195), juga Imam Ibnu Mulaqqin. (Lihat Al Badrul Munir, 3/656), juga dishahihkan oleh Imam Ibnul Qayyim. (Zaadul Ma’ad, 1/223)

Sedangkan menurut Imam At Tirmidzi: “Hadits tersebut hasan gharib, kami tidak mengetahui satu pun yang meriwayatkannya seperti ini dari Syarik. Kebanyakan ahli ilmu mengamalkan hadits ini, mereka berpendapat bahwa meletakkan lutut adalah sebelum kedua tangan, sedangkan bangkit adalah mengangkat tangan sebelum kedua lutut.” (Imam Ibnul Qayyim, Ibid. Lihat juga Sunan At Tirmidzi No. 268). Imam Al Baghawi juga menyatakan hasan. (Syarhus Sunnah, 3/134)

Iman Al Khathabi mengatakan –tentang mendahulukan lutut dibanding tangan- : “Itu lebih kuat haditsnya dibanding mendahulukan tangan, dan lebih lentur bagi yang shalat, lebih bagus bentuknya dan lebih bagus dilihat mata.” (Al Badru Al Munir, 3/656).

Pihak Yang Mendhaifkan Hadits Lutut Sebelum Tangan

Sementara, ulama lain mendhaifkan hadits tersebut seperti Syaikh Al Albany  dalam Silsilah Adh Dhaifah Juz. 2, hal. 329. dan dibeberapa kitabnya yang lain beliau juga mendhaifkan. Pendhaifan ini diikuti oleh kebanyakan murid-muridnya.

Sebab Perselisihan

Perselisihan tentang status hadits tersebut, lantaran posisi Syarik yang dianggap perawi yang kontroversi. Pihak yang mendhaifkan memiliki beberapa alasan berikut:

Pertama. Hadits ini diriwayatkan secara menyendiri oleh Syarik, tidak ada orang lain yang meriwayatkannya kecuali hanya darinya. Sebagaimana perkataan Imam At Tirmidzi: “Kami tidak ketahui satu pun orang yang meriwayatkan hadits seperti ini dari Syarik.” (Sunan At Tirmidzi No. 268).

Al Hafizh Ibnu Hajar  mengatakan: “Al Bukhari, At Tirmidzi, Abu Daud, dan Al Baihaqi mengatakan bahwa Syarik menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini.” (Talkhish Al Habir, 1/457)

Sedangkan, Syarik adalah orang yang dinilai tidak kuat haditsnya jika meriwayatkan secara menyendiri.   Berkata Imam Ad Daruquthni: “Dia “laisa bil qawwiy” (tidak kuat) jika meriwayatkan secara menyendiri.” (Al Muharraf fil Hadits, 1/196. Tanqih Tahqiq Ahadits At Ta’liq, Hal. 399)

Ibnu Sayyidin Naas berkata: “Syarik menyendiri dalam riwayat ini, dan tidak shahih berhujjah dengan Syarik jika dia menyendiri.” (Dhaif Abi Daud, 1/334)

Secara hapalan pun Syarik dinilai tidak kuat, Al Hafizh Ibnu Hajar berkata: “Dia jujur, tapi banyak salahnya dan hapalannya berubah semenjak menjadi Hakim Agung di Kufah. Dia seorang yang adil,  memiliki keutamaan, ahli ibadah, dan keras terhadap ahli bid’ah.”  (Lihat Taqrib At Tahzib No. 2787). Ibnu Abdil Hadi mengatakan: “Syarik banyak melakukan kekeliruan dan kebimbangan.” (Al Muharrar, 1/196)

Anggapan bahwa Syarik merupakan rawi yang dipakai oleh Imam Muslim –sebagaimana dikatakan oleh Imam Al Hakim dan Imam Adz Dzahabi, disanggah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Menurutnya Syarik bukanlah perawinya Imam Muslim kecuali hanya sebagai mutaba’ah (penguat) saja seperti yang disampaikan oleh Al Mundziri dalam At Targhib wat Tarhib, jadi Syarik bukan perawi utama Imam Muslim. Menurut Syaikh Al Albani:  “Banyak kasus wahm (kesamaran) yang dialami Imam Al Hakim yang seperti ini, yang lalu diikuti oleh Imam Adz Dzahabi padahal hakikatnya berbeda dengan apa yang mereka kira. Maka, penshahihan mereka berdua atas hadits Syarik ini, lalu disebut “sesuai syarat Imam Muslim” adalah tidak benar dikatakan hasan dan shahih, apalagi disebut “sesuai syarat Imam Muslim?” Maka perhatikanlah hal ini bagi yang menghendaki bashirah bagi agamanya dan hadits Nabinya ﷺ.”   (Lihat As Silsilah Adh Dhaifah, 2/229-230)

Alasan kedua, karena banyaknya hadits yang justru bertentangan dengan hadits Wail bin Hujr di atas.? Diantaranya, hadits dari Abu Hurairah:

إذا سجد أحدكم فلا يبرك كما يبرك البعير ، و ليضع يديه قبل ركبتيه ” . رواه أبو داود بسند جيد

“Jika salah seorang kalian sujud janganlah menderum seperti menderumnya unta, dan hendaklah dia meletakkan kedua tangannya sebelum lututnya.” (HR. Abu Daud dengan sanad Jayyid/baik)

Hadits lain:

” كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا سجد بدأ بوضع يديه قبل ركبتيه ” . أخرجه الطحاوي في ” شرح المعاني ”  (1 / 149 )

Dan dalam riwayat lain Abu Hurairah: “Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika sujud, di memulai dengan meletakkan dua tangannya sebelum lututnya. (HR. Ath Thahawy, dalam Syarhul Ma’ani, 1/149)

Lalu Syaikh Al Albany  Rahimahullah berkata:

و روى له شاهدا من حديث ابن عمر من فعله و فعل النبي صلى الله عليه وسلم . و سنده صحيح ، و صححه الحاكم و الذهبي

Dan diriwayatkan  hadits yang menguatkan hadits di atas, yakni hadits dari Ibnu Umar, tentang perbuatannya dan perbuatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sanadnya shahih, dan dishahihkan oleh Al Hakim dan Adz Dzahabi.  (As Silsilah Adh Dhaifah, Ibid)

Demikianlah pandangan pihak yang mendhaifkan, yang dengan itu bagi mereka meletakkan tangan adalah didahukan dibanding lutut (ketika sujud).

Baca juga: Saat Sujud, Jidat Terhalang Rambut

Pihak yang Menshahihkan

Pihak yang menshahihkan menyatakan bahwa Syarik bisa dijadikan hujjah. Beliau di nilai jujur dan tsiqah oleh Imam Yahya bin Ma’in, sedangkan Imam An Nasa’i mengatakan “tidak ada masalah”, dan lainnya. Ibnul Mubarak mengatakan bahwa Syarik lebih kuat pengetahuannya dibanding Sufyan tentang hadits-hadits orang Kufah. Isa bin Yunus mengatakan: “Rijalnya umat ini adalah Syarik.” Imam Muslim meriwayatkan darinya sebagai mutaba’ah (riwayat penguat).  Imam Adz Dzahabi menyebutnya sebagai Al Hafizh Ash Shaadiq dan salah satu imam. (Mizanul I’tidal, 2/270-274)

Ada pun tentang “menyendirinya” Syarik dalam meriwayatkan hadits ini telah dikuatkan oleh riwayat lain dari Hamam secara muttashil (bersambung sanadnya).

Berkata Ibnul Mulaqin Rahimahullah:

“Imam At Tirmidzi berkata: “Kami tidak ketahui satu pun orang yang meriwayatkan hadits seperti ini dari Syarik.” Saya (Ibnul Mulaqin) katakan: hadits ini juga diriwayatkan oleh Hamam secara muttashil.”  Dia (At Tirmidzi berkata): Berkata Yazid bin Harun: “Syarik tidak pernah meriwayatkan dari ‘Ashim bin Kulaib kecuali hadits ini.” Saya (Ibnul Mulaqin) katakan: “Syarik memiliki sejumlah hadits yang diriwayatkan darinya (‘Ashim) yang sudah saya sebutkan dalam takhrij saya terhadap hadits-hadits Ar Rafi’i, dan haidts ini shahih seperti yang disebutkan Ibnu Hibban, dan gurunya Ibnu Khuzaimah, dan Al Hakim mengisyaratkan sebagai hadits shahih sesuai syarat Imam Muslim.” (Tuhfatul Muhtaj Ila Adillatil Minhaj, /311-312)

Dalam kitabnya yang lain Ibnul Mulaqin juga mengoreksi Al Baihaqi yang mengatakan “Banyak haditsnya Syarik yang tidak bisa dijadikan hujjah.” Kata Beliau: “Itulah kata dia, padahal Syarik adalah perawinya muslim dan empat kitab sunan, yang ditelah ditsiqahkan oleh Yahya bin Ma’in dan lainnya. An Nasa’i mengatakan: “tidak masalah”. (Al Badrul Munir, 3/657)

Ibnul Mulaqin juga berkata: “Berkata An Nasa’i: “Hanya Yazid bin Harun yang meriwayatkan ini dari Syarik.” Saya katakan: “Sama sekali tidak membuat cacat atas keshahihannya, sebab kehebatan  Yazid bin Harun dalam hal hapalannya.” At Tirmidizi berkata: “Hamam meriwayatkannya dari ‘Ashim secara mursal (salah satu jenis hadits yang terputus sanadnya, pen).” Saya katakan: “Ini juga tidak menodainya, sebab keutamaan Hamam dan dia seorang yang tsiqah.” (Ibid)

Ada pun riwayat yang menunjukkan seolah hadits ini bertentangan dengan hadits lain yang shahih, sebagaimana pendapat Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Adh Dhaifahnya, adalah tidaklah demikian. Yang benar -sebagaimana kata Imam Ibnu Taimiyah-  adalah semua riwayat ini shahih dan KEDUA CARA INI BISA DIAMALKAN, yang satu tidak menganulir yang lainnya. Baik mendahulukan kedua tangan kemudian kedua lutut (saat sujud), atau mendahulukan kedua lutut kemudian kedua tangan. Masalah ini tidak pada zona “salah dan benar” tapi mana yang paling utama di antara keduanya.

Pandangan Bijak Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah ditanya mana yang benar tentang cara turun sujud, tangan dulukah atau lutut dulu, Beliau menjawab:

الْجَوَابُ: أَمَّا الصَّلَاةُ بِكِلَيْهِمَا فَجَائِزَةٌ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ، إنْ شَاءَ الْمُصَلِّي يَضَعُ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ، وَإِنْ شَاءَ وَضَعَ يَدَيْهِ ثُمَّ رُكْبَتَيْهِ، وَصَلَاتُهُ صَحِيحَةٌ فِي الْحَالَتَيْنِ، بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ. وَلَكِنْ تَنَازَعُوا فِي الْأَفْضَلِ. فَقِيلَ: الْأَوَّلُ كَمَا هُوَ مَذْهَبُ أَبِي حَنِيفَةَ، وَالشَّافِعِيِّ، وَأَحْمَدَ فِي إحْدَى الرِّوَايَتَيْنِ.
وَقِيلَ: الثَّانِي، كَمَا هُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ، وَأَحْمَدَ فِي الرِّوَايَةِ الْأُخْرَى وَقَدْ رُوِيَ بِكُلٍّ مِنْهُمَا حَدِيثٌ فِي السُّنَنِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Adapun shalat dengan kedua cara tersebut diperbolehkan menurut kesepakatan ulama, kalau dia mau silahkan meletakkan kedua lutut sebelum kedua telapak tangan, dan kalau dia mau silahkan  meletakkan kedua telapak tangan sebelum kedua lutut, dan shalatnya sah pada kedua cara  tersebut  menurut kesepakatan para ulama. Hanya saja mereka berselisih pendapat tentang mana yang afdhal.

Ada yang mengatakan cara pertama (meletakkan lutut dulu) yang lebih utama seperti madzhab Abu Hanifah, Asy Syafi’i, dan salah satu riwayat dari Ahmad di antara dua riwayat darinya. Ada yang mengatakan cara kedua (meletakkan tangan dulu) yang lebih utama seperti madzhab Malik, Ahmad dalam riwayat lainnya. Kedua cara ini terdapat dasar dalam Sunah Nabi ﷺ. (Al Fatawa Al Kubra, 2/187)

Demikian. Semoga bermanfaat dan dapat membuat kita lebih bijak dan lapang dada dalam menghadapi perbedaan dalam fiqih. Tidak sepantasnya menjadikan masalah ini sebab permusuhan sebab ini bukan masalah pokok agama (ushuluddin) kita.

Wallahu A’lam. Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Salam.

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top