Berbohong Kepada Anak Tetaplah Berbohong

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📌 Sebagian orang tua mengeluh bahwa putra putrinya suka berbohong

📌 Sebelum menyalahkan mereka atau yang lainnya, coba lihat diri sendiri, jangan-jangan kita juga mempertontonkan kebohongan dihadapan mereka

📌 Atau mereka sendiri menjadi korban kebohongan orang tuanya

📌 Biasanya dimulai dari hal sepele; anak merengek minta dibelikan mainan lalu orang tua menjanjikan “nanti ya”, saking lamanya si anak lupa sendiri, dan memang itu yang dimau orang tuanya

📌 Ini terjadi berulang dan tertanam dalam ingatan sang anak, lalu dia mencontoh .. korbannya pun beragam, saudaranya, kawannya, termasuk orang tuanya

📚 Sungguh tepat nasihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Ummu ‘Aamir  Radhiallahu ‘Anha, seperti yang diceritakan anaknya, ‘Aamir bin Rabi’ah

دَعَتْنِى أُمِّى يَوْمًا وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَاعِدٌ فِى بَيْتِنَا فَقَالَتْ هَا تَعَالَ أُعْطِيكَ. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « وَمَا أَرَدْتِ أَنْ تُعْطِيهِ ».
قَالَتْ أُعْطِيهِ تَمْرًا. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِيهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكِ كِذْبَةٌ ».

Sautu hari ibuku memanggilku, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk di rumah kami. Ibuku berkata (kepadaku): “Mari sini, Ibu mau memberikan sesuatu!” Maka, Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apa yang akan Engkau berikan?” Ibu menjawab: “Aku mau kasih kurma.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya: “Jika ternyata Engkau tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka  tercatat atasmu sebuah kebohongan.” (HR. Abu Daud No. 4993, hasan)

📌 Mari ayah dan ibu, kita berkata yang jujur walau dalam hal sepele kepada anak-anak sendiri, lindungilah mereka dari budaya bohong yang merusak kepribadiannya

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Wahai Orang-orang beriman, bertaqwa-lah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. (Qs. Al Ahzab: 70)

Wallahu A’lam

☘🌷🌺🌴🍃🌾🌻🌸

✍ Farid Nu’man Hasan

Demokrasi dan Parlemen

Asssalamualaikum, saya hendak bertanya: Bagaimana Islam memandang demokrasi dan parlemen. Menurut usatdz

Waalaikumussalam…
Dalam masalah pemerintahan, Islam mengatur dgn kaidah2 umum, tidak berbicara secara detail. Umumnya perkara detail diserahkan kepada ijtihad para ulama utk merumuskannya.

Dalam masalah demokrasi dan parleman, ada sisi lemah dan tdk sesuai dlm Islam, yaitu menyerahkan keputusan pada suara terbanyak yg belum tentu benar sesuai syariat. Idealnya adalah sistem syura, dimana urusan umat diserahkan kepada sekumpulan tokoh umat yang sudah dikenal ketakwaannya, kesalehannya dan keilmuannya, lalu mereka berunding mencari solusi dan keputusan yang bermanfaat bagi umat dengan mempertimbangkan berbagai aspek dan dengan landasan syariat Allah.

Namun masalahnya, kondisi ideal tersebut belum terwujud. Yang ada adalah sistem demokrasi yang ada sekarang ini, dimana bisa saja ada orang-orang yang jauh dari ajaran Allah memegang kendali jika dia mendapatkan suara terbanyak. Jika belum ada alternatif lain, dan kalau kita biarkan akan menjadi kesempatan bagi mereka yg memusuhi Islam utk berkuasa dan sewenang-wenang.

Maka kaidah yg dipakai adalah ‘irtikabu akhaffi adh-dhararain’ (Mengambil yang bahayanya lebih ringan), yaitu memanfaatkan kesempatan dalam demokrasi utk mengajak kebaikan atau menghalangi adanya keburukan atau dengan kata lain sebagai medan dakwah dalam hal amar ma’ruf nahi munkar, sambil sedikit demi sedikit memperbaiki kekurangan yg ada. Misalnya dengan memilih calon muslim dan siap menyalurkan aspirasi Islam serta umat Islam atau mengusahakan perundang-undangan yg lebih dekat kpd ajaran Islam melalui kekuatan suara di parlemen, dll. Ini lebih baik daripada tdk sama sekali.

Wallahu a’lam.

Abdullah Haidir

Tafsir Surat At-Tahrim (bag. 5B)

💢💢💢💢💢

KEUTAMAAN BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAUBAT

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu kedalam Jannah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sabil mereka mengatakan,”Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesunguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. At-Tahrim [66]:9)

عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ….

“Mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu kedalam Jannah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai”

📌Tinjauan bahasa

Menurut Ibnu Hisyam, kata (عَسى) merupakan kalimat yang isinya harapan (taraji).[1]

📋 Menurut  Muhammad Sayid at-Thantawi:

إن كل ترج في القرآن واقع منه- تعالى- فضلا منه وكرما

“ Sesungguhnya setiap huruf yang berisi harapan (tarajji) yang terdapat didalam Al-Qur’an, akan terjadi dengan izin Allah, untuk menunjukkan keutamaan dan kemuliaan dari Allah. [2]

📋  Dalam tafsir al-Maraghi disebutkan,

وجىء بكلمة (عَسى) التي تفيد الطمع فى حصول العفو فحسب، مع أن الله سبحانه وعد بقبول التوبة

Kalimat ‘asaa (عسى ) menunjukkan makna harapan besar untuk mendapatkan ampunan saja, meskipun Allah Subhanahu wataala menjajikan menerima taubat.[3]

Hal ini dimaksudkan agar seorang hamba yang berdosa sungguh-sungguh dalam bertaubat, dan berharap besar akan ampunan Allah, dengan memaksimalkan ibadah yang menyertai taubatnya itu, sehingga kondisinya berada diantara khawatir ( khauf) bila dosanya tidak diampuni, dan berharap besar (raja’) akan ampunan Allah.[4]

📋  Sedangkan menurut syekh Wahbah Zuhaily, kalimat ‘asaa ( عسى) jika redaksinya berasal dari Allah, maka fungsinya adalah :

موجبة تفيد التحقق

Wajib dan berfungsi harus terlaksana[5]

Balasan Bagi Orang Yang Bertaubat

1⃣ Dihapuskan kesalahannya

أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

“Mudah-mudahan Rabb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu”

Yang dimaksud dengan menutupi kesalahan adalah, ampunan Allah yang akan menutupi keburukan dan kesalahan yang pernah dilakukan oleh seorang hamba.[6]

Ibnu Asyur  juga menyebutkan, para ulama telah bersepakat (ijma) bahwa  orang kafir yang bertaubat dari kekafiran dan akhirnya ia memeluk agama Islam dengan ikhlas dan sungguh-sungguh maka taubatnya akan diterima Allah secara qath’I (pasti) . kemudian mereka berbeda pendapat terhadap orang mukmin yang bermaksiat, apakah taubatnya akan diterima Allah atau tidak. Jumhur ulama menyebutkan bahwa jika taubatnya sungguh-sungguh maka ampunan Allah dan diterima taubatnya merupakan harapan besar  dan tidak terputus (marjuwun ghaira maqthu’). Pendapat ini dipegang oleh Al Baqillani dan Imam Haramain.[7]

Kesalahan dan dosa yang dihapuskan Allah merupakan balasan bagi orang yang bertaubat. Menurut Syekh Wahbah Az Zuhaili, kesempurnaan taubat hingga Allah menghapuskan kesalahan dan mengampuni dosa seorang hamba melalui:

·         Penyesalan yang mendalam didalam hati atas dosa yang telah dilakukan

·         Terus beristighfar dengan lisan dalam setiap kesempatan

·         Badan sudah meninggalkan kebiasaan buruk yang bisa mengantarkan kepada dosa

·         Bertekad kuat, agar tidak mengulangi kembali dosa-dosa masa lalu.

Dari hal diatas, semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan menutup kesalahan.[8]

Selain hal di atas, didalam Shahih Muslim juga dijelaskan, bahwa kebaikan-kebaikan yang dilakukan setelah melakukan dosa dan kesalahan, dapat menghapus kesalahan tersebut:

عَنْ عَلْقَمَةَ، وَالْأَسْوَدِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي عَالَجْتُ امْرَأَةً فِي أَقْصَى الْمَدِينَةِ، وَإِنِّي أَصَبْتُ مِنْهَا مَا دُونَ أَنْ أَمَسَّهَا، فَأَنَا هَذَا، فَاقْضِ فِيَّ مَا شِئْتَ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ: لَقَدْ سَتَرَكَ اللهُ، لَوْ سَتَرْتَ نَفْسَكَ، قَالَ: فَلَمْ يَرُدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا، فَقَامَ الرَّجُلُ فَانْطَلَقَ، فَأَتْبَعَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا دَعَاهُ، وَتَلَا عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةَ: {أَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ، إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ} [هود: 114] فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ: يَا نَبِيَّ اللهِ هَذَا لَهُ خَاصَّةً؟ قَالَ: «بَلْ لِلنَّاسِ كَافَّةً»

Dari Alqamah, dan Al Aswad dari Abdullah, berkata,”Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah lalu ia berkata,”Wahai Rasulullah, aku melakukan dosa dengan seorang wanita di ujung kota, namun aku tidak sampai melakukan hubungan suami istri, bagaimana nasibku, putuskan sesuai kehendakmu. Lalu Umar berkata,”Allah sungguh telah menutupi kesalahanmu, seandainya engkau menutupi dirimu sendiri,  ia berkata,”Nabi tidak menjawab apapun, lalu lelaki itu berdiri dan beranjak pergi, lalu nabi mengutus seseorang untuk mengikutinya, seraya memanggil laki-laki tersebut. kemudian Rasulullab membaca ayat:

{أَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ، إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ} [هود: 114]

“Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. ( QS. Hud: 114)

Lalu seorang lelaki  lain berkata,” Wahai Rasulullah apakah, khusus untuk  orang tersebut?”, Rasulullah menjawab,” Bahkan untuk seluruh manusia”. (HR. Muslim)[9]

2⃣     Dimasukkan kedalam syurga

وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ

…“memasukkanmu kedalam Jannah yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia,

Balasan Allah kepada orang yang bertaubat, kelak akan dimasukkan kedalam syurga dengan kenikmatan tiada taranya. Dari sungai-sungai yang mengalir dibawah kebun-kebun syurga, serta Allah akan memuliakan mereka, tak kan pernah sedikitpun menghinakan mereka, sungguh kebahagiaan yang paling didamba oleh setiap manusia.

نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ

….sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sabil mereka mengatakan,”Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesunguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Imam Ibnu Katsir menyebutkan hadits terkait hal ini:

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ نَصْرٍ الْمَرْوَزِيُّ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُقَاتِلٍ الْمَرْوَزِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، أَخْبَرَنَا ابْنِ لَهِيعة، حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا ذَرٍّ وَأَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أنا أَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ فِي السُّجُودِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَوَّلُ مَنْ يُؤْذَنُ لَهُ بِرَفْعِ رَأْسِهِ، فأنظرُ بَيْنَ يَدَيّ فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ يَمِينِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ، وَأَنْظُرُ عَنْ شِمَالِي فَأَعْرِفُ أُمَّتِي مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ”. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ تَعْرِفُ أُمَّتَكَ مِنْ بَيْنِ الْأُمَمِ. قَالَ: “غُرٌّ مُحجلون مِنْ آثَارِ الطُّهور  وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ مِنَ الْأُمَمِ كَذَلِكَ غَيْرُهُمْ، وَأَعْرِفُهُمْ أَنَّهُمْ يؤتَون كُتُبَهُمْ بِأَيْمَانِهِمْ، وَأَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، وَأَعْرِفُهُمْ بِنُورِهِمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ” 

Berkata Muhammad bin Nashr Al Marwazi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Al marwazi, telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abi Habib dari Abdurrahman bin Zubair bin Nufair bahwasanya ia mendengar Abu Dzar dan Abu Darda mereka berdua berkata,”Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Aku adalah orang pertama yang diizinkan untuk sujud pada hari kiamat, dan orang pertama yang diizinkan mengangkat kepala, lalu aku melihat kehadapan, aku melihat umatku diantara umat-umat lain,  kemudian aku melihat ke sebelah kanan, aku melihat umatku diantara umat-umat lain, aku melihat ke sebelah kiri, akupun melihat umatku diantar umat-umat lain, kemudian salah seorang berkata,” Wahai Rasulullah, bagaimana engkau tahu umatmu berada diantara umat-umat yang lain?”, Beliau menjawab,” Umatku terlihat bercahaya dari bekas suci (wudhu) dan hal itu tidak dimiliki umat lain, aku tahu umatku diberikan catatan kitab dari kanan, aku tahu umatku memiliki bekas-bekas sujud di wajah mereka, aku tahu umatku dari cahaya yang memancar dihadapan mereka “ ( Musnad Imam Ahmad, 5/ 199).[10]

Kondisi orang mukmin dan munafiq yang melewati Shirath

Orang beriman bagi mereka cahaya yang terang benderang saat melewati shirat, kualitas terangnya cahaya tersebut bergantung kepada amal kebaikan selama di dunia, sedangkan bagi orang munafik, Allah akan memadamkan cahaya bagi mereka saat menyeberangi shirat, dan mereka berjalan dalam gelap tanpa penerangan.

يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير

Mereka berkata,“Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesunguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”

Terkait ayat ini Syekh Wahbah Az Zuhaili menyebutkan dalam tafsirnya:

ويدعو المؤمنون حين يطفئ الله نور المنافقين يوم القيامة، قائلين تقربا إلى الله: رَبَّنا أَتْمِمْ لَنا نُورَنا، أي أبقه لنا، فلا ينطفئ حتى نتجاوز الصراط، واستر ذنوبنا وتجاوز عن سيئاتنا، ولا تفضحنا بالعقاب عليها حين الحساب، فإنك على كل شيء قدير، ومنه إتمام نورنا، وغفران ذنوبنا، وتحقيق رجائنا وآمالنا، فأجب دعاءنا

Seorang mukmin berdoa kepada Allah, saat  Allah memadamkan cahaya orang-orang munafik pada hari kiamat, mereka berdoa dengan mendekatkan diri kepada Allah,” Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, abadikan cahaya itu bagi kami, janganlah engkau padamkan hingga kami menyeberangi shirat, tutup rapat dosa kami, ampuni kesalahan kami, janganlah engkau hinakan kami dengan hukuman atas dosa-dosa kami pada saat perhitungan amal, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan berikan kesempurnaan cahaya kami, ampuni dosa-dosa kami, dan kabulkan harapan kami, dan jawablah doa kami”.[11]

والله أعلم

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

[1] Ibnu Hisyam (761 H), Audhah al-Masalik ila Alfiyah Ibni Malik, (Dar al Fikr) 1/290
[2]
[3] Tafsir al Maraghi, 28/165
[4] Ahmad Mushtahafa Al Maraghi (1371  H), Tafsir Al Maraghi, (Mesir: Syarikah Mathba’ah Musthafa Babi al Halby, 1365H) 28/165
[5]  Wahbah Zuhaly, Tafsir Al Munir, ( Damaskus: Dar Fikr Muashir, 1418 H) 28/319
[6] Muhammad Thahir bin Asyur  (1393 H), At Tahrir Wa Tanwir, (Dar Tunis Li an Nasyr, 1984, 28/369
[7] Tafsir At Tahrir wa Tanwir, 28/369
[8] Wahbah Zuhaili, Tafsir Al Munir, ( Damaskus: Dar Fikr Muashir, 1418H), 28/318
[9] Imam Muslim, Shahih Muslim,  (Beirut: Dar Ihya Turats) No. 2763, 4/2116
[10] Tafsir Ibnu Katsir, 8/170
[11] Wahbah Zuhaili, Tafsir Al Munir, 28/320

☘🍃🌺🌾🌴🌸🌿

Ust Fauzan Sugiono, Lc

Serial Tafsir Surat At-Tahrim

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 1)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 2)

Tafsir At Tahrim (Bag. 3)

Tafsir At Tahrim (Bag. 4)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 5A)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 5B)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 6)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 7)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 8)

Tafsir Surat At Tahrim (Bag 9, Selesai)

Sejak Diutusnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Kiamat Memang Sudah Dekat

🐾🐾🐾🐾🐾

Beberapa tahun belakangan ramai manusia membicarakan tema akhir zaman. Bahkan sebagian ada yang mendramatisir sampai menebak tahun pastinya.

Tema akhir zaman sudah ada sejak masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan, juga diyakini oleh agama dan suku tertentu. Mereka ada yang meyakini kiamat itu 9 September 1999, ada yang meyakini 2012 mengikuti ramalan salah satu suku Indian, suka Maya. Di Amerika Serikat juga ada Sekte Hari Kiamat, dan sebagainya. Semua tebakan mereka gagal.

Ini menunjukkan kebenaran apa yang Allah Ta’ala firmankan (An Naziat: 43-44) :

“Fimaa anta min dzikraahaa?” – Siapa kamu yang berani menyebutkan kapan waktunya?

“Ila Rabbika muntahahaa?” – Kepada Tuhanmulah kembalinnya (ilmu tenang akhir waktunya)

Sungguh …, dekatnya kiamat memang sudah sejak zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebagaimana sabdanya:

بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ (وَالسَّاعَةُ) كَهَذِهِ مِنْ هَذِهِ أَوْ كَهَاتَيْنِ وَقَرَنَ بَيْنَ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

Jarak aku diutus dan kiamat seperti dua jari ini, Beliau mendekatkan antara jari telunjuk dan tengah. (HR. Muttafaq ‘Alaih, dari Sahl bin Sa’ad As Saa’idi)

Syaikh Al Mubarkafuri Rahimahullah mengatakan:

وبعثة النبي صلى الله عليه و سلم من أول أشراطها

Pengutusan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (menjadi seorang rasul), termasuk di antara tanda-tanda awal kiamat. (Tuhfah Al Ahwadzi, 6/380)

Beliau juga menjelaskan tentang makna “seperti dua jari” :

قال عياض أشار بهذا الحديث إلى قلة المدة بينه وبين الساعة

‘Iyadh berkata: “Hadits ini mengisyaratkan sedikitnya (pendeknya) jarak antara dirinya (Nabi) dan kiamat.” (Ibid, 6/381)

Jadi .., kiamat memang sudah dekat, dan semakin dekat. Jangan terjebak pada sikap mengkoleksi tanda-tandanya saja. Senang sekali kalau sudah terjadi atau menyaksikan salah satu tanda, yang membuat “wow” dalam diri kita. Sebab,  esensi dari pengabaran tentang tanda-tanda kiamat adalah persiapkan diri kita dengan amal shalih yang terbaik di akhir zaman ini.

# Ini juga menunjukkan tanda kiamat tidak melulu hal negatif dan mengerikan, hal yang positif dan membahagiakan seperti diutusnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga sebagai tandanya. Sebagaimana makin tersebarnya pena (Hr. Ahmad No. 3870), juga tanda kiamat. Maksudnya buku, karya ilmiah, dan semisalnya.

Wallahu A’lam

🍃🌸🌾🌻🌴🌺🌷☘

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top