Sholat Berjamaah Bergantian dalam Satu Masjid

📨 PERTANYAAN:

As Salamu ‘Alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Ustadz farid Nu’man Hasan, semoga Allaah senantiasa menjaga kita semua. Ana mau tanya terkait shalat berjamaah di masjid. Bagaimanakah jika dalam satu masjid terdapat lebih dari 1 kelompok shalat berjamaah? apakah boleh? bagaimana status kelompok shalat berjamaah yang kedua dst? jazaakumullaah khairanil jazaa.

📬 JAWABAN

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Aalihi wa Man waalah, wa ba’d:
Pertanyaan antum perlu dirinci dulu.

1⃣ Pertama, Jika yang dimaksud adalah dalam waktu yang sama ada dua jamaah shalat dalam satu masjid,

Maka yang seperti ini shalatnya tetap sah, tidak ada nash yang menunjukkan batalnya. Hanya saja hal itu dibenci dan tercela, karena telah keluar dari ruh disyariatkannya berjamaah shalat, yaitu persatuan dan kebersamaan umat Islam. Selain memang hal itu bertentangan dengan sunah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga membuat kacaunya keadaan jamaah masjid. Kasus ini tidak bisa diqiyaskan dengan hadits jika ada dua bai’at kepada khalifah, maka bunuhlah salah satunya.

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا

Jika telah dibai’at dua khalifah, maka bunuhlah salah satu di antara keduanya. (HR. Muslim No. 1853)

Qiyas tidak berlaku untuk urusan  ritual peribadatan, Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء
Bab masalah qurbah (mendekatkan diri kepada Allah) harus berdasarkan nash, bukan karena qiyas atau pendapat-pendapat. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, Juz.7, Hal. 465. Dar Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’. Cet. 2, 1999M-1420H)

Oleh karena itu, walaupun kejadian seperti ini  perkara yang dibenci  keberadaannya, namun shalatnya tetap sah.

2⃣ Kedua, jika yang dimaksud adalah dalam satu masjid terjadi beberapa kali shalat berjamaah.

Anggaplah kita istilahkan beberapa kali kloter, di waktu yang berlainan.

Nah, kasus ini pun terbagi lagi menurut  beberapa keadaan:

A.  Jika jamaah kedua terjadi  pada masjid yang tidak memiliki imam rawatib (imam tetap yang telah ditunjuk oleh pihak masjid), maka  ini boleh berdasarkan ijma’.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

في مذاهب العلماء في اقامة الجماعة في مسجد اقيمت فيه جماعة قبلها: أما إذا لم يكن له امام راتب فلا كراهة في الجماعة الثانية والثالثة وأكثر بالاجماع

Pendapat berbagai ulama tentang shalat jamaah kedua pada masjid yang sudah dilaksanakan shalat berjamaah sebelumnya; jika masjid itu tidak memilki imam rawatib maka tidak dimakruhkan melaksanakan berjamaah kedua, ketiga, dan seterusnya berdasarkan ijma’. (Al Majmu’ Syarh Al Muhazdzab, 4/222)

B. Shalat jamaah kedua pada masjid-masjid yang ada di jalan-jalan (Al Mathruq) dan tanpa memiliki imam rawatib.

Maka  tidak mengapa terjadinya berulang jamaah. Sebab  masjid-masjid  seperti itu memang menjadi persinggahan banyak manusia secara bergantian, seperti mushalla-mushalla yang ada di terminal, stasiun, pasar-pasar, dan semisalnya.

Imam Abu Ishaq Asy Syairazi Rahimahullah mengatakan:

وإن كان المسجد مطروقا أو غير مطروق وليس له امام راتب لم تكره اقامة الجماعة الثانية فيه

Jika masjid tersebut berada di jalan-jalan  atau bukan, dan tidak memiliki imam tetap, maka tidak dimakruhkan menjalankan jamaah yang kedua di dalamnya. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 4/222)

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

أَمَّا إِذَا كَانَ الْمَسْجِدُ يَقَعُ فِي سُوقٍ ، أَوْ فِي مَمَرِّ النَّاسِ ، أَوْ لَيْسَ لَهُ إِمَامٌ رَاتِبٌ ، أَوْ لَهُ إِمَامٌ رَاتِبٌ وَلَكِنَّهُ أَذِنَ لِلْجَمَاعَةِ الثَّانِيَةِ ، فَلاَ كَرَاهَةَ فِي الْجَمَاعَةِ الثَّانِيَةِ وَالثَّالِثَةِ وَمَا زَادَ ، بِالإْجْمَاعِ

Ada pun jika masjid berada di pasar, atau tempat lalu lalang manusia, atau tidak memiliki imam rawatib, atau punya imam rawatib, tetapi dia memberikan izin kepada jamaah kedua, maka tidak dimakruhkan adanya shalat jamaah yang kedua, ketiga, dan seterusnya, menurut ijma’. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 22/47)

C. Shalat jamaah kedua –bahkan ketiga dan seterusnya

Terjadi karena masjid atau mushalla  tidak memadai menampung seluruh jamaah, sehingga jamaah mengantri untuk shalat berjamaah. Ini juga boleh dan sama sekali tidak dimakruhkan.

D. Sedangkan Shalat jamaah terjadi di masjid yang sudah memiliki imam rawatib dan bukan termasuk masjid di jalan-jalan,

Para ulama terjadi perselisihan pendapat. Sebagian mengatakan boleh berjamaah kedua dan itu lebih baik dibanding sendiri, yang lain mengatakan makruh, tetapi shalatnya tetap sah, dan lebih baik shalat sendiri saja.

1.       Pihak yang membolehkan berdalil dengan riwayat berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ
جَاءَ رَجُلٌ وَقَدْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيُّكُمْ يَتَّجِرُ عَلَى هَذَا فَقَامَ رَجُلٌ فَصَلَّى مَعَهُ

Dari Abu Sa’id dia berkata, datang seseorang dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah selesai shalat, Beliau besabda: “Siapakah di antara kalian yang mau menemaninya?” maka berdirilah seorang laki-laki dan shalat bersamanya. (HR. At Tirmidzi No. 220, katanya: hasan. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 4792. Imam Al Haitsami mengatakan perawinya adalah para perawi shahih. Lihat Majma’ Az Zawaid, 2/174 )

Laki-laki itu adalah Abu bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah. (Nailul Authar, 3/185)

Imam Ibnu Abi Syaibah memasukkan riwayat ini dalam Bab:

في القوم يَجِيئُونَ إلَى الْمَسْجِدِ وَقَدْ صُلِّيَ فِيهِ مَنْ قَالَ لاَ بَأْسَ أَنْ يُجَمِّعُوا.

Tentang kaum yang datang ke masjid yang sudah diadakan shalat berjamaah di dalamnya, dan orang yang mengatakan tidak apa-apa mereka shalat berjamaah. (Al Mushannaf, 2/321)

Dalil lainnya, hadits dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Shalat berjamaah lebih utama 27 derajat dibanding shalat sendiri. (HR. Bukhari No. 645, pada No. 646 disebutkan: lebih utama 25 derajat dibanding shalat sendiri)

Hadits Ibnu Umar ini menunjukkan keutamaan shalat berjamaah dibanding shalat sendiri, dan ini berlaku umum tidak khusus pada jamaah yang pertama, sebab memang tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan shalat berjamaah hanya ada jamaah kloter pertama, dan akan hilang keutamaan itu  kalau melakukannya pada jamaah yang kedua dan seterusnya.

Imam At Tirmidzi Rahimahullah berkata:

وَهُوَ قَوْلُ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ مِنْ التَّابِعِينَ قَالُوا لَا بَأْسَ أَنْ يُصَلِّيَ الْقَوْمُ جَمَاعَةً فِي مَسْجِدٍ قَدْ صَلَّى فِيهِ جَمَاعَةٌ وَبِهِ يَقُولُ أَحْمَدُ وَإِسْحَقُ

“Dan yang demikian itu pendapat lebih dari satu orang Ahli Ilmu golongan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan selain mereka dari kalangan tabi’in. Mereka berkata: “Tidak apa-apa shalatnya sekelompok manusia secara berjamaah di sebuah mesjid yang di dalamnya sebelumnya sudah di adakan shalat jamaah.” Inilah pendapat Ahmad dan Ishaq. (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 220)

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ الدُّخُولِ مَعَ مَنْ دَخَلَ فِي الصَّلَاةِ مُنْفَرِدًا ، وَإِنْ كَانَ الدَّاخِلُ مَعَهُ قَدْ صَلَّى فِي جَمَاعَة قَالَ ابْنُ الرِّفْعَةِ : وَقَدْ اتَّفَقَ الْكُلُّ عَلَى أَنَّ مَنْ رَأَى شَخْصًا يُصَلِّي مُنْفَرِدًا لَمْ يَلْحَقْ الْجَمَاعَةَ فَيُسْتَحَبُّ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ مَعَهُ وَإِنْ كَانَ قَدْ صَلَّى فِي جَمَاعَةٍ وَقَدْ اسْتَدَلَّ التِّرْمِذِيُّ بِهَذَا الْحَدِيثِ عَلَى جَوَازِ أَنْ يُصَلِّيَ الْقَوْمُ جَمَاعَةً فِي مَسْجِدٍ قَدْ صُلِّيَ فِيهِ .

Hadits ini menunjukkan disyariatkannya masuk berjamaah bersama orang yang shalat sendiri, walau orang yang masuk itu sudah shalat jamaah sebelumnya. Berkata Ibnur Rif’ah: “ Para ulama sepakat bahwa apabila seseorang melihat orang lain sedang melakukan shalat sendirian karena terlambat ikut jamaah, ia dianjurkan ikut berjamaah bersama orang tersebut, walau dia sudah shalat jamaah. “  At Tirmidzi juga berdalil dengan hadits ini bahwa bolehnya sekelompok orang shalat berjamaah di mesjid yang di dalamnya sudah di adakan shalat berjamaah sebelumnya.” (Nailul Authar, 3/185)

Berkata Syaikh Muhamamd bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:

لا بد أن نعلم أن إعادة الجماعة في مسجد أقيمت فيه الجماعة تنقسم إلى قسمين: القسم الأول: أن يكون ذلك على وجه الاستمرار، بحيث يكون في هذا المسجد جماعتان دائماً، فهنا نقول: إن الجماعة الثانية بدعة؛ لأن المطلوب من الأمة الإسلامية أن تجتمع على إمام واحد. القسم الثاني: أن تكون الجماعة الثانية عارضة، يعني ليست باستمرار، فهذه الجماعة مشروعة، ومن قال إنها بدعة فقد أخطأ، فإذا دخل المسجد جماعة قد فاتتهم صلاة الجماعة الأولى فإنهم يصلونها جماعة، لعموم قول النبي صلى الله عليه وسلم: (صلاة الرجل مع الرجل أزكى من صلاته وحده، وصلاته مع الرجلين أزكى من صلاته مع الرجل، وما كان أكثر فهو أحب إلى الله). ولأن رجلاً دخل المسجد والنبي صلى الله عليه وسلم في أصحابه وقد انتهت الصلاة فقال: (ألا رجل يقوم إلى هذا فيتصدق عليه فيصلي معه، فقام أحد الصحابة فصلى معه). إذاً: هذه الجماعة التي كانت بعد الجماعة الأولى بدون أن تكون باستمرار جماعة مطلوبة، وليست بمكروهة ولا محرمة ولا بدعة.

Mesti kita ketahui bahwa mengulangi jamaah di masjid ada dua macam: pertama, melakukannya secara terus menerus dalam satu masjid ada dua kali jamaah. Kami katakan: ini adalah bid’ah, karena umat Islam diperintahkan untuk bersama satu imam. Ada pun kedua, bila itu hanya kadang-kadang (dilakukan), misalnya oleh sekelompok orang yang datang ke masjid dan mendapatkan orang-orang telah selesai shalat. Disini mereka dibolehkan dan tidak mengapa mengerjakan shalat berjama’ah (kedua). Adapun pendapat yang menyatakan, hal ini sebagai satu kebid’ahan, maka pendapat itu salah. Jika mereka mendatangi masjid dan mendapatkan jamaah pertama sudah selesai, maka hendaknya mereka melakukan shalat jamaah, sesuai keumuman sabada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: (Shalatnya seseorang bersama orang lain lebih utama dibanding shalatnya sendiri, shalatnya bersama dua orang lebih utama dibanding bersama satu orang, dan yang lebih banyak dari itu lebih disukai Allah).  Juga, karena dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam duduk bersama para sahabatnya, lalu masuk seseorang yang belum shalat. Rasulullah bersabda:

“Adakah orang yang mau bershadaqah kepada orang ini, lalu shalat bersamanya?” Lalu ada seseorang yang bangkit dan shalat bersamanya.

Jadi, jamaah ini dilakukan setelah selesainya jamaah yang pertama, tanpa dilakukan terus menerus, maka dia bukanlah makruh, haram, dan bukan pula bid’ah. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Al Liqa’ Asy Syahri, hal. 12)

Para sahabat yang mengikuti pendapat ini di antaranya adalah   Abdullah bin Mas’ud dan Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhuma, juga tabi’in seperti ‘Alqamah, Masruq bin Ajda, Al Aswad, Atha, Al Hasan Al Bashri dalam satu riwayat, dan Asyhab.

Disebutkan dalam Al Mushannaf-nya Ibnu Abi Syaibah:

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ الأَزْرَقُ ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ ، أَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ دَخَلَ الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّوْا فَجَمَّعَ بِعَلْقَمَةَ وَمَسْرُوقٍ وَالأَسْوَدِ

Berkata kepada kami Ishaq bin Al Azraq, dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman, dari Salamah bin Kuhail, bahwa Ibnu Mas’ud masuk ke masjid, dan manusia telah selesai shalat, maka dia berjamaah dengan ‘Alqamah, Masruq, dan Al Aswad. (Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf,  No. 7182)

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri mengatakan: isnadnya shahih. (Tuhfah Al Ahwadzi, 2/8), dan Beliau mengatakan pendapat inilah yang benar, Beliau juga memberikan uraian panjang dan koreksi atas pihak yang memakruhkan shalat berjamaah kloter kedua dan seterusnya di masjid yang sama. (Ibid, 2/8-10)

Imam Bukhari menceritakan:

وَجَاءَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ إِلَى مَسْجِدٍ قَدْ صُلِّيَ فِيهِ فَأَذَّنَ وَأَقَامَ وَصَلَّى جَمَاعَةً

Anas bin Malik datang menuju masjid dan di dalamnya sudah dilaksanakan shalat, lalu dia azan, iqamah, dan shalat secara berjamaah. (Shahih Bukhari dalam Bab Fadhli Shalatil Jamaah)

Imam Bukhari memasukkan kisah Anas bin Malik ini ke dalam Bab Keutamaan Shalat Berjamaah, hal itu menunjukkan bahwa menurutnya jamaah kloter kedua tetaplah disebut berjamaah dan mendapatkan  nilai keutamaan 27 atau 25 derajat. Setelah Beliau menyebutkan kisah Anas ini, Beliau memasukkan pula hadits tentang keutamaan shalat berjamaah lebih utama 27 atau 25  derajat dibanding shalat sendiri.

Imam Al ‘Aini Rahimahullah menceritakan:

وهو قول عطاء والحسن في رواية وإليه ذهب أحمد وإسحاق وأشهب عملا بظاهر قوله صلاة الجماعة تفضل على صلاة الفذ الحديث

Ini juga pendapat ‘Atha, Al Hasan dalam satu riwayat, juga pendapat Ahmad, Ishaq, dan Asyhab, hal ini sesuai dengan zahir sabda nabi tentang keutamaan shalat berjamaah dibanding shalat sendiri. (‘Umdatul Qari, 8/241)

Alasan lainnya adalah hadits Shahih Bukhari:

أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة

“Shalat yang paling utama bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat wajib.”
Maka, menurut keumuman hadits ini shalat berjamaah kedua di masjid adalah boleh, karena memiliki keutamaan dibanding di rumah.

Ini juga pendapat Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 27537), Syaikh Hisam ‘Afanah. (Fatawa Yas’alunaka, 3/14)

2.       Pihak yang memakruhkan, mereka memilih shalat sendiri-sendiri dibanding berjamaah, jika memang jamaah yang pertama sudah selesai.

Imam At Tirmidzi menyebutkan:

و قَالَ آخَرُونَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ يُصَلُّونَ فُرَادَى وَبِهِ يَقُولُ سُفْيَانُ وَابْنُ الْمُبَارَكِ وَمَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ يَخْتَارُونَ الصَّلَاةَ فُرَادَى وَسُلَيْمَانُ النَّاجِيُّ بَصْرِيٌّ وَيُقَالُ سُلَيْمَانُ بْنُ الْأَسْوَدِ وَأَبُو الْمُتَوَكِّلِ اسْمُهُ عَلِيُّ بْنُ دَاوُدَ

Golongan Ahli Ilmu lainnya berpendapat hendaknya dilakukan shalatnya sendiri-sendiri saja (jika sebelumnya sudah diadakan shalat berjamaah, dengan kata lain tidak ada shalat berjamaah ‘kloter’ kedua, pen), inilah pendapat Imam Sufyan Ats Tsauri, Ibnul Mubarak, Malik, Syafi’i, mereka memilih shalat sendiri, Sulaiman An Naji Bashri dia juga disebut  Sulaiman bin Al Aswad dan Abul Mutawakkil nama aslinya adalah Ali bin Daud. (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 220)

Telah diriwayatkan dari Al Hasan, Abu Qilabah, dan Ibrahim An Nakha’i bahwa para sahabat melakukan shalat sendiri-sendiri jika jamaah sudah selesai. (Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 2/323)

Al Qasim bin Muhammad pernah datang ke masjid dan shalat jamaah sudah dilakukan di dalamnya, maka dia melakukan shalat sendiri. (Ibid No. 7189)

Ini juga pendapat ulama kontemporer seperti Syaikh Al Albani, Syaikh Masyhur Hasan Salman, dan lain-lain.

Alasan kelompok ini adalah bahwa jamaah kedua dapat memecah belah barisan kaum muslimin, serta dapat mengurangi jumlah jamaah yang pertama.  Lalu, jika dibolehkan jamaah kedua, membuka peluang orang akan menunda-nunda shalat tepat waktu secara berjamaah.

Alasan lain adalah hadits dari Abu Bakrah Radhiallahu ‘Anhu,  katanya:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم اقبل من نواحى المدينة يريد الصلاة فوجد الناس قد صلوا فمال إلى منزله فجمع اهله فصلى بهم

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang dari pinggir kota Madinah, dia hendak shalat dan  Beliau dapatkan manusia telah selesai shalatnya, lalu Beliau pulang ke rumahnya dan mengumpulkan keluarganya dan shalat bersama mereka. (HR. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Ausath No. 4601. Imam Al Haitsami mengatakan: perawinya terpercaya. Lihat Majma’ Az Zawaid, 2/173)

Dengan hadits ini, pihak yang memakruhkan berkata:

ولو كانت الجماعة الثانية جائزة بلا كراهة لما ترك فضل المسجد النبوي

Seandainya jamaah kedua adalah boleh, tidak makruh, kenapa Beliau meninggalkan keutamaan shalat di masjid nabawi? (Tuhfah Al Ahwadzi, 2/9)

Alasan ini dijawab oleh pihak yang membolehkan:

أن الحديث ليس بنص على أنه صلى الله عليه و سلم جمع أهله فصلى بهم في منزله بل يحتمل أن يكون صلى بهم في المسجد وكان ميله إلى منزله لجمع أهله لا للصلاة فيه وحينئذ يكون هذا الحديث دليلا لاستحباب الجماعة في مسجد قد صلى فيه مرة لا لكراهتها

Sesungguhnya hadits tersebut tidaklah menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengumpulkan keluarganya lalu shalat bersama mereka di rumah. Tetapi maknanya adalah Beliau shalat bersama keluarganya di masjid, kepulangan Beliau ke rumah adalah untuk mengumpulkan keluarganya bukan untuk shalat di dalamnya. Sehingga hadits ini merupakan dalil dianjurkannya shalat berjamaah di masjid yang sebelumnya telah dilakukan sekali shalat, itu tidaklah makruh. (Ibid)

Memang harus dimaknai bahwa Beliau shalat bersama keluarganya di masjid, bukan dirumah, sebab yang Beliau lakukan adalah shalat wajib. Jika tidak dimaknai demikian, maka akan bertentangan dengan sabda Beliau sendiri dalam Shahih Bukhari berikut:

أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة

“Shalat yang paling utama bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat wajib.”

Kalau pun hadits ini bermakna shalatnya nabi itu di rumah bersama keluarganya, maka jelas-jelas  hadits ini juga tidak menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan shalatnya sendiri; artinya hadits ini justru hujjah bagi pihak yang membolehkan berjamaah setelah jamaah  pertama. Sebab, kalau memang shalat sendiri adalah lebih utama dibanding jamaah yang kedua, pastilah Beliau memilih melakukan shalat sendiri itu di masjid, tetapi Beliau memilih pulang dan berjamaah dengan keluarganya.

Syaikh Ibrahim bin Shalih Al Khudhairi menjelaskan tentang hadits Abu Bakrah:

فإنها لا تدل على أن تكرار الجماعة في المسجد لا يجوز ” لأنه – صلى الله عليه وسلم – أقر تكرارها وأمر به – كما تقدم . ولم يقل أن صلاتها في البيت أولى ؛ بل عموم قوله : « أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة » : يدل على جواز تكرار المكتوبة جماعة بالمسجد لكونها فيه أفضل ، ثم إن هؤلاء يقولون بجوازها في مساجد الطرق العامة .

Sesungguhnya hal itu tidak menunjukkan tidak bolehnya berulang shalat berjamaah di masjid, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyetujui hal itu dan memerintahkannya sebagaimana penjelasan terdahulu. Dan, Beliau tidak mengatakan bahwa shalatnya di rumah itu lebih utama, bahkan secara umum adalah “Shalat yang paling utama bagi seseorang adalah di rumahnya kecuali shalat wajib”, ini menunjukkan bolehnya terjadi pengulangan shalat jamaah di masjid karena padanya memiliki keutamaan, kemudian mereka mengatakan dibolehkan pula di masjid-masjid yang berada di jalan-jalan umum. (Syaikh Ibrahim bin Shalih Al Khudhairi, Ahkamul Masajid, Hal. 140)

Sehingga pendapat yang menyatakan boleh, dengan berbagai kondisi yang membenarkannya seperti yang dipaparkan di awal tulisan, adalah lebih tepat, apalagi manusia zaman sekarang yang jumlahnya sangat banyak dan padat, dengan aktifitas yang sangat dinamis, dan dibarengi  jiwa keberagamaan mereka yang melemah, maka  mestilah diberikan  kabar gembira yang paling jauh bisa mereka lakukan; yaitu bahwa walaupun Anda berjamaah pada kloter kedua, janganlah berkecil hati, Anda tetap mendapat pahala berjamaah, sebagaimana jika Anda ingin sekali shalat berjamaah dengan jamaah pertama tetapi jamaah sudah selesai, lalu akhirnya Anda shalat sendiri, tetaplah Anda mendapatkan pahala jamaah, karena Islam menghargai niat Anda itu.

Alasan pembolehan ini juga  diberikan syarat bagi pelakunya:

–          Tidak berarti meremehkan shalat jamaah yang pertama, tetaplah shalat tepat waktu bersama jamaah pertama menjadi pilihan yang mesti dikejar secara sungguh-sungguh oleh setiap muslim

–          Tidak berarti jamaah kedua memecahkan barisan  dan persatuan umat Islam, sebab di antara manusia ada yang berjamaah pada kloter kedua  dengan berbagai udzur yang dimaklumi dan masyru’, ada pun jika ada seseorang  atau sekelompok orang yang tidak mau berjamaah pada kelompok yang pertama karena ada seseorang yang dibencinya, maka hal ini sifatnya sangat personally, tergantung orangnya,  dan sama sekali bukan hujjah, karena hujjah tidak dibangun dari perilaku oknum

Berkata Syaikh Hisam ‘Afanah:

وهذا القول هو أرجح القولين في المسألة وأقول به خاصة إذا كان أهل الجماعة الثانية لم يقصدوا ترك الصلاة مع الجماعة الأولى في المسجد لتفريق جماعة المصلين

Dan ini adalah pendapat yang lebih kuat di antara dua pendapat. Saya katakan demikian, khususnya jika mereka yang shalat jamaah kedua itu tidak memaksudkannya meninggalkan shalat bersama jamaah yang pertama di masjid  dengan tujuan memecah belah jamaah orang yang shalat. (Fatawa Yas’alunaka, 3/14)

Sekian masalah ini. Wallahu A’lam

 

Tafsir Surat Al Hujurat bag. 12 (Ayat ke-14)

HAKIKAT IMAN DAN ISLAM

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (14)

Dan orang-orang Arab Badui, itu berkata,”Kami telah beriman. Katakanlah,” Kamu belum beriman, tapi katakanlah,” Kami telah tunduk karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu, dan jika kamu taat kepada Allah, dan Rasul-Nya, Dia tidak mengurangi sedikitpun pahala amalanmu, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat [49]:14

Sabab Nuzul Ayat

Imam Al Wahidi menyebutkan bahwa sebab turun ayat ini adalah, saat sekelompok Bani Asad bin Khuzaimah tiba di Madinah, pada musim kemarau, mereka menyatakan syahadatnya namun belum beriman dalam hati. Mereka kemudian berkata kepada Rasulullah shalallah alaihi wasallam,” Kami datang kepadamu dengan beban berat dan keluarga kami Ya Rasulullah. Kami juga tidak memerangimu seperti Banu Fulan yang memerangimu. Maka berilah kami sadaqah”. Mereka terus menerus menyebut hal itu, hingga Allah menurunkan ayat ini.[1]

Kebahasaan

الأعراب: اسم جنس لبدو العرب، واحده أعرابى، وهم الذين يسكنون البادية

Al’ A’rab adalah kata benda jenis, untuk menyatakan suku Atab Badawi (Badui), bentuk tunggalnya Al A’raby, mereka tinggal di pedalaman.[2]

Kandungan ayat

Imam Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya:

وَقَدِ اسْتُفِيدَ مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ الْكَرِيمَةِ: أَنَّ الْإِيمَانَ أَخَصُّ مِنَ الْإِسْلَامِ كَمَا هُوَ مَذْهَبُ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ

Ayat mulia ini mengandung makna, bahwa iman lebih spesifik dari Islam, seperti yang disebutkan oleh Ahlus sunnah.[3]

Syekh Wahbah Zuhaili menyebutkan bahwa pernyataan Allah kepada orang Arab Badui dalam ayat:

قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا

Kamu belum beriman

Memiliki makna bahwa iman kalian (Arab Badui) pada zaman dahulu hingga ayat ini diturunkan, tidaklah berguna karena belum mengimani dengan hati yang sesungguhnya.[4]

Adakah Beda iman dan islam?

Iman dan islam merupakan persoalan mendasar dalam keyakinan beragama, termasuk kedalam pokok bahasan tauhid, para ulama sudah sejak dahulu memiliki perbedaan pendapat terkait makna dan batasan diantara keduanya. Seperti disebutkan oleh Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah:

  • Jika penyebutan iman dan islam secara terpisah maka keduanya bermakna dinul islam (agama islam) secara utuh.
  • Kata “iman” kadang terpisah tanpa diikuti kata “islam” atau “amal shalih” atau yang lainnya seperti dalam hadits saat Jibril bertanya kepada Rasulullah tentang, apakah iman, islam dan ihsan. Dalam hal ini, islam dimaknai sebagai amalan lahir seperti, syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. Sedangkan iman dimaknai sebagai, keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para Rasul, hari akhir dan takdir baik dan buruk.[5]

Sedangkan menurut Syekh Shalih Utsaimin ketika menyebutkan pengertian iman:

Jika kata iman dan islam disebut secara bersamaan, maka islam dimaknai sebagai penyerahan total secara lahir kepada Allah, baik lisan maupun perbuatan, sehinga terbagi menjadi mukmin yang sempurna imannya, atau mukmin yang lemah imannya. Seperti dalam firman Allah:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Dan orang-orang Arab Badui, itu berkata,”Kami telah beriman. Katakanlah,” Kamu belum beriman, tapi katakanlah,” Kami telah tunduk karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.

Juga terbagi menjadi munafik, namun masih disebut sebagai muslim secara lahiriyah. Namun kafir secara batin. Iman dimaknai sebagai penyerahan diri secara bathin, yaitu keyakinan dalam hati, dan melaksanakan dengan perbuatan. Iman ini tak kan terekspresi melainkan dari mukmin yang benar imannya. Seperti dalam ayat:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا

“Sesungguhnya orang yang beriman adalah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal, yaitu orang-orang yang menafkahkan sebagian rezeki yang telah kami berikan kepada mereka, itulah orang-orang mukmin yang sebenar-benarnya…( QS. Al Anfal [8]:2-4)

Dengan demikian, setiap mukmin pasti muslim dan tidak setiap muslim ia mukmin. Dari sinilah makna iman lebih tinggi dari makna islam.[6]

Menurut Abu Hanifah dalam kitabnya al Fikh al Akbar:

والاسلام هُوَ التَّسْلِيم والإنقياد لأوامر الله تَعَالَى فَمن طَرِيق اللُّغَة فرق بَين الْإِسْلَام وَالْإِيمَان وَلَكِن لَا يكون إِيمَان بِلَا اسلام وَلَا يُوجد إِسْلَام بِلَا إِيمَان وهما كالظهر مَعَ الْبَطن وَالدّين اسْم وَاقع على الْإِيمَان وَالْإِسْلَام والشرائع كلهَا

Islam adalah penyerahan diri dan tunduk terhadap perintah Allah, dari jalur bahasa, ada perbedaan antara Islam dan iman, akan tetapi tak terjadi iman tanpa islam dan tak ada Islam tanpa iman, mereka berdua ibarat lahir dan bathin, agama adalah nama untuk iman, Islam dan syariat sekaligus.[7]

Terkait mengapa Allah menyebut mereka belum beriman, Imam Al Qurthubi mengatakan:

لِأَنَّهُمْ أَسْلَمُوا فِي ظاهر إيمانهم ولم نؤمن قُلُوبُهُمْ، وَحَقِيقَةُ الْإِيمَانِ التَّصْدِيقُ بِالْقَلْبِ

Karena orang-orang Arab pedalaman, mereka telah memeluk Islam, namun hati mereka belum. Dan hakikat iman adalah tasdiq (pembenaran) di dalam hati[8]

Berdasarkan pendapat ulama-ulama diatas menggambarkan bahwa kesempurnaan iman dalam tiga hal:

  • Keyakinan dalam hati
  • Ucapan dengan lisan
  • Dilaksanakan dengan perbuatan

Imam Al Bukhari menjelakan panjang lebar tentang konsekuensi iman yang berkaitan dengan keyakinan maupun amal perbuatan. Diantaranya adalah ucapan Umar bin Abdul Aziz:

إنَّ لِلْإِيمَانِ فَرَائِضَ، وَشَرَائِعَ، وَحُدُودًا، وَسُنَنًا، فَمَنِ اسْتَكْمَلَهَا اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَكْمِلْهَا لَمْ يَسْتَكْمِلِ الإِيمَانَ، فَإِنْ أَعِشْ فَسَأُبَيِّنُهَا لَكُمْ حَتَّى تَعْمَلُوا بِهَا، وَإِنْ أَمُتْ فَمَا أَنَا عَلَى صُحْبَتِكُمْ بِحَرِيصٍ

Iman adalah kewajiban-kewajiban syariat dan akidah, hudud (perintah dan larangan), sunah-sunah, barang siapa yang telah menyempurnakan hal tersebut maka sempurnalah imannya, barang siapa yang belum menyempurnakan hal tersebut, maka belum sempurna imannya, jika aku hidup maka aku akan jelaskan kepadamu agar kamu mengetahuinya, jika aku mati maka aku telah bersungguh-sungguh menjadi sahabatnmu.[9]

Hadits-Hadits tentang iman

1. Menjaga diri lisan dan perbuatan

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ»

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhuma, dari nabi Shalallahu alaihi wasallam, bersabda,” Muslim adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .”[10]

2. Mencintai saudara muslim dan memberikan pertolongan

حَدثنَا قَتادَةُ عَنْ أنَسَ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قالَ لاَ يُؤْمَنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas dari Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasallam, bersabda,”Tidak beriman seorang diantara kamu hingga mencintai saudaranya, seperti ia mencintai dirinya sendiri”.[11]

3. Tiga ciri manisnya iman

حدّثنا مُحَمَّدُ بْنُ المُثَنَّى قالَ حَدثنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقفِيُّ قَالَ حَدثنَا أيُّوبُ عَنْ أبِي قِلاَبَةَ عَنْ أنَسٍ عَنِ النَّبي صلى الله عَلَيْهِ وَسلم قالَ ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرَءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ لِلَّهِ وَأنْ يَكَرَهُ أنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكَرَهَ أنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin al Mutsanna, telah berkata Abdul Wahab Ats Tsaqafi telah menceritakan Ayub dari Abi Qilabah dari Anas dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, berkata,”Tiga hal barangsiapa yang jika ada pada dirinya, maka ia akan merasakan kelezatan iman, menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, mencintai seseorang, ia tidak mencintai melainkan karena Allah, dan benci kepada kekafiran seperti ia benci dirinya dilemparkan kedalam neraka”.[12]

4. Malu sebagian dari Iman

عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ، وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الحَيَاءِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعْهُ فَإِنَّ الحَيَاءَ مِنَ الإِيمَانِ

Dari Salim bin Abdillah, dari ayahyna, bahwasanya Rasulullah melewati seseorang dari kalangan Anshar, beliau menasehati tentang sifat malu. Dan bersabda,”Biarkanlah ia, sesunggunya malu adalah sebagian dari iman”. (HR. Al Bukhari, no.24)

5. Iman memiliki cabang

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ – أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ – شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ»

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasululah Shalallah alaihi wasallam bersabda,”Iman memiliki 70 lebih-atau 60 cabang. Yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah, dan yang aling rendah adalah menyingkirkan rintangan dari jalanan, malu adalah cabang iman.” (HR. Muslim, Kitabul Iman, no.58 tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi)

Hikmah Ayat

  • Iman dan Islam dua kata yang tida terpisahkan dalam agama Islam.
  • Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan lisan dan amalan perbuatan nyata.
  • Iman lebih ke wilayah hati dan Islam lebih ke wilayah praktek dalam perbuatan.
  • Iman dapat bertambah dan berkurang, bertambahnya dengan ketaatan, berkurangnya akibat maksiat.

والله أعلم

Fauzan Sugiono


[1] Al Wahidi, Sababun Nuzul, h. 225

[2] Muhammad Sayid At Thantawi, Tafsir al Wasith, 13/320

[3] Tafsir Ibnu Katsir,7/389

[4] Wahbah Az Zuhaily ,Tafsir Al Munir, 26/269

[5] Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa13/7-15

[6] Majmu Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin,4/92

[7] Abu Hanifah, Al Fikh al Akbar, (Imarat: Maktabah Al Furqon,1419H), 1/57

[8] Imam Al Qurthubi, Al Jami’ li ahkamil Qur’an, (Mesir: Dar al Kutub al Mishriyah, 1384, 16/348

[9] Sahih Bukhari, Kitabul Iman, 1/10

[10] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40

[11] HR. AL Bukhari, Kitabul Iman, No. 13, 1/12, ta’liq Musthafa al Bugha

[12] HR. Bukhari, Kitabul Iman, no. 16, 1/12, ta’liq Musthafa al Bugha

Serial Tafsir Surat Al-Hujurat

TAFSIR SURAT AL HUJURAT (Muqaddimah)

TAFSIR SURAT AL HUJURAT (BAG.2) (Ayat ke-1)

TAFSIR SURAT AL HUJURAT (BAG.3) (Ayat ke-2)

TAFSIR SURAT AL HUJURAT (BAG. 4) (Ayat 3, 4, dan 5)

TAFSIR SURAT AL HUJURAT [BAG. 5] (Ayat ke-6)

TAFSIR SURAT AL HUJURAT [BAG. 6] (Ayat ke-7)

Tafsir Surat Al Hujurat bag. 7 (Ayat ke-8 dan 9)

Tafsir Surat Al Hujurat Bag. 8 (Ayat ke-10)

Tafsir Surat Al Hujurat Bag. 9 (Ayat ke-11)

Tafsir Surat Al Hujurat Bag. 10 (Ayat ke-12)

TAFSIR SURAT AL HUJURAT BAG 11 (Ayat ke-13)

Tafsir Surat Al Hujurat bag. 12 (Ayat ke-14)

Tafsir Surat AL Hujurat Bag. 13 (Ayat ke-15)

TAFSIR AL QUR’AN SURAT AL HUJURAT Ayat 16, 17 dan 18 (BAG. 14 SELESAI)

Wanita Menari, Dance, Senam, Di Depan Umum atau Bersama Laki Laki Yang Bukan Mahram

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua kelompok penghuni neraka yang belum saya lihat sekarang, yaitu kaum yang membawa cemeti (cambuk) seperti ekor sapi yang digunakan untuk memukul manusia. Dan para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, menggoyang-goyangkan tubuhnya,  memiringkan kepalanya, seperti punuk unta yang miring. Para wanita itu tidak akan masuk surga, bahkan tidak mendapatkan wanginya surga, padahal wanginya surga itu sudah bisa tercium dari perjalanan sekian dan sekian.”

(HR. Muslim No. 2128. Ahmad No. 8665. Ibnu Hibban No. 7461, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No.5357, Al Baghawi No. 2578, Abu Ya’la No. 6690)

Ancaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini adalah haq (benar) dan tidak main-main. Maka, bagi para muslimah yang sadar pentingnya rasa malu, ‘iffah,  tapi masih juga tidak peka dengan hal ini, maka hendaknya memperbaiki keadaan dirinya dan bertobat kepada Allah Ta’ala, menyesali perbuatan tersebut, membencinya, dan berjanji untuk tidak mengulanginya.

Berkata Imam Asy Syaukani Rahimahullah:

وَالْإِخْبَارُ بِأَنَّ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَأَنَّهُ لَا يَجِدُ رِيحَ الْجَنَّةِ مَعَ أَنَّ رِيحَهَا يُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ وَعِيدٌ شَدِيدٌ يَدُلُّ عَلَى تَحْرِيمِ مَا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ الْحَدِيثُ مِنْ صِفَاتِ هَذَيْنِ الصِّنْفَيْنِ

“Dan keterangan ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan hal tersebut termasuk golongan ahli neraka, bahkan tidak mendapatkan aroma surga, padahal aroma surga dapat dicium sejak lima ratus tahun perjalanan, itu merupakan ancaman keras yang menunjukkan haramnya perbuatan yang terkandung dalam hadits tersebut yang merupakan  sifat-sifat dua kelompok tersebut.”  (Imam Asy Syaukani, Nailul Authar,  2/117, Maktabah Ad Da’wah Al Islamiyah)

Wallahul Musta’an …

🍃🌷🌾🌻🌴🌺☘🌸

✍ Farid Nu’man Hasan

[Sunah Fitrah, Ringan Tapi Bernilai Ibadah] Larangan Istinja Dengan Tangan Kanan

Tangan kanan hendaknya dipakai untuk melaksanakan pekerjaan yang baik dan bersih. Inilah hikmah kenapa dilarang istinja   dengan tangan kanan, agar tidak tercampurnya antara yang kotor dan bersih. Kecuali, bagi mereka yang tidak memiliki tangan kiri, atau sedang tidak berfungsi, tentunya ini ‘udzur yang dimaafkan.

Dari Salman Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ، أَوْ بَوْلٍ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ

Rasulullah telah melarang kami buang air besar atau kencing menghadap kiblat, atau istinja dengan tangan kanan, atau istinja dengan kurang dari tiga batu, atau istinja dengan menggunakan kotoran hewan dan tulang. 1)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

( وَأَنْ لَا يَسْتَنْجِي بِالْيَمِينِ ) هُوَ مِنْ أَدَب الِاسْتِنْجَاء ، وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّهُ مَنْهِيّ عَنْ الِاسْتِنْجَاء بِالْيَمِينِ ، ثُمَّ الْجَمَاهِير عَلَى أَنَّهُ نَهْي تَنْزِيه وَأَدَب لَا نَهْي تَحْرِيم ، وَذَهَبَ بَعْض أَهْل الظَّاهِر إِلَى أَنَّهُ حَرَام ، وَأَشَارَ إِلَى تَحْرِيمه جَمَاعَة مِنْ أَصْحَابنَا ، وَلَا تَعْوِيل عَلَى إِشَارَتهمْ ، قَالَ أَصْحَابنَا : وَيُسْتَحَبّ أَنْ لَا يَسْتَعِين بِالْيَدِ الْيُمْنَى فِي شَيْء مِنْ أُمُور الِاسْتِنْجَاء إِلَّا لِعُذْرٍ ، فَإِذَا اِسْتَنْجَى بِمَاءٍ صَبَّهُ بِالْيُمْنَى وَمَسَحَ بِالْيُسْرَى

(janganlah istinja dengan tangan kanan) ini adalah adab dalam istinja (cebok), para ulama telah ijma’ (sepakat) bahwa  istinja dengan tangan kanan terlarang. Lalu, mayoritas ulama mengatakan larangan ini bermakna makruh tanzih, bukan haram. Sebagian kalangan tekstualist(ahluzh zhahir) mengatakan bahwa ini diharamkan. Para sahabat kami (Syafi’iyah) juga mengisyaratkan keharamannya, namun tidak ada takwil atas isyarat mereka itu. Para sahabat kami mengatakan: disunahkan sama sekali tidak menggunakan tangan kanan dalam urusan istinja kecuali ada ‘udzur. Jika istinja dengan air, maka tangan kanan menyiramkan air, dan membersihkannya dengan tangan kiri. 2)

⏺ Larangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan

Hal ini juga dilarang sebagaimana istinja. Dari Qatadah Radhiallahu, bahwa NabiShallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَا يُمْسِكَنَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ وَهُوَ يَبُولُ، وَلَا يَتَمَسَّحْ مِنَ الْخَلَاءِ بِيَمِينِهِ، وَلَا يَتَنَفَّسْ فِي الْإِنَاءِ

Janganlah kalian memegang kemaluannya dengan tangan kanannya  ketika dia sedang kencing, dan janganlah dia istinja (cebok) dengan tangan kanannya, dan jangan menghembuskan nafas pada bejana. 3)

Dalam hadits lain, dari Abu Qatadah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْخَلَاءَ فَلَا يَمَسَّ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ

Jika kalian masuk ke tempat buang hajat, maka jangan menyentuh kemaluannya dengan tangan kanannya. 4)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

امَّا إِمْسَاك الذَّكَر بِالْيَمِينِ فَمَكْرُوه كَرَاهَة تَنْزِيه لَا تَحْرِيم كَمَا تَقَدَّمَ فِي الِاسْتِنْجَاء ، وَقَدْ قَدَّمْنَا هُنَاكَ أَنَّهُ لَا يَسْتَعِين بِالْيَمِينِ فِي شَيْء مِنْ ذَلِكَ مِنْ الِاسْتِنْجَاء

Ada pun memegang kemaluan dengan tangan kanan, itu adalah makruh, yaitu makruh tanzih, bukan haram sebagaimana penjelasan lalu tentang c ebok. Kami telah menjelaskan di situ bahwa jangan menggunakan tangan kanan dalam hal cebok ini. 4)

🌺🌸🍃🌹🍀🌾🌴🌾

✏ Farid Nu’man Hasan


🌴🌴🌴🌴

[1] HR. Muslim No. 262
[2] Al Minhaj, 1/421
[3] HR. Muslim, 267/63
[4] HR. Muslim, 267/64
[5] Al Minhaj, 1/426

scroll to top