[Adab Pada Rambut] Batasan Panjang Rambut Laki-Laki

Ada pun laki-laki, tidak boleh pula menyerupai wanita dalam hal model dan ukuran panjang rambut. Paling panjang laki-laki dibolehkan sampai atas bahu dan sebagian telinga, sebagaimana dicontohkan nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan para sahabat ada yang disebut dengan jummiyyun yaitu para sahabat nabi yang rambutnya gondrong-gondrong sampai menyentuh bahu bagian atas. Selebih dari itu tidak boleh karena menyerupai wanita.

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَكَانَ لَهُ شَعْرٌ فَوْقَ الْجُمَّةِ ودون الوفرة

Saya pernah mandi bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam di satu bejana, rambut Beliau itu menjuntai sampai di atas bahu dan di bawah telinga. (HR. At Tirmidzi No. 1755, jugadalam Asy Syamail No. 22, katanya: hasan shahih. Al Baghawi, Syarhus Sunnah No. 3187)

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

كَانَ شَعْرُ رَسُولِ الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم َ إلى نصف أذنيه

Rambut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam itu panjangnya sampai menutupi setengah telinganya. (HR. An Nasa’i No. 5234, At Tirmidzi, Asy Syamail, No. 21, Al Baghawi, Syarhus SunnahNo. 3638. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Mukhtashar Asy Syamail No. 21)

Wallahu A’lam

🌺🌸🍃🌹🍀🌾🌴🌾

✏ Farid Nu’man Hasan

Serial Adab Pada Rambut

Larangan Mencukur Rambut dengan Cara Qaza’

Memotong Rambut Bagi Muslimah Sesuai Syariat

Batasan Panjang Rambut Laki-Laki

Memakai Minyak Rambut Bagi Laki-Laki

Tarajjul (Menyisir Rambut)

Larangan Keras Menyambung Rambut (Wig, Konde, dan Semisalnya)

Menyemir Rambut

Larangan Mencabut Uban

Menutupi Rambut Bagi Wanita Karena Itu Adalah Salah Satu Aurat

Hukum Memakai Henna

📨 PERTANYAAN:

Ustadz mau tanya…hukum memakai henna itu apa ya ust?
Tmn ana tanya dalilnya… (Ummu Nizar)

📬 JAWABAN

Wa’alaikumussalam warahmatullah .., Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Memakai henna, atau pacar cina, atau apa saja yang mewarnaik tangan atau kuku, selama berasal dr bahan suci dan tidak mencelakan kulit, serta tidak menghalangi wudhu tidak apa-apa.

Dasarnya adalah ayat :
وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا

Dan janganlah mereka (kaum mu’minah) Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya (QS. An Nuur: 31)

Apakah yang biasa nampak atau terlihat dari kaum mu’minah?

Abdullah bin Abbas mengatakan maksud kalimat itu adalah celak, pewarna tangan, dan cincin. Mujahid berkata: cincin, pewarna tangan, dan celak mata. Ibnu Zaid mengatakan: celak mata, pewarna tangan, dan cincin, mereka mengatakan demikianlah yang dilihat oleh manusia. Sedangkan Imam Ibnu Jarir, setelah dia memaparkan berbagai tafsir ini, beliau mengatakan:

وأولى الأقوال في ذلك بالصواب: قول من قال: عنى بذلك: الوجه والكفان، يدخل في ذلك إذا كان كذلك: الكحل، والخاتم، والسوار، والخضاب.

“Pendapat yang paling unggul dan benar adalah pendapat yang mengartikannya dengan wajah dan dua telapak tangan, dan jika demikian maka celak, cincin, gelang, dan pewarna tangan termasuk di dalamnya.” (Detilnya lihat Tafsir Ath Thabari, 19/156-158)

Dalil lain, dahulu Nabi ﷺ merasa heran ketika ada tangan wanita yang tidak memakai henna, dan itu menunjukkan memakai henna adalah umum bagi wanita saat itu,

Lengkapnya sebagai berikut, Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, Beliau bercerita:

أن امرأة مدت يدها إلى النبي صلى الله عليه و سلم بكتاب فقبض يده فقالت يا رسول الله مددت يدي إليك بكتاب فلم تأخذه فقال إني لم أدر أيد امرأة هي أو رجل قالت بل يد امرأة قال لو كنت امرأة لغيرت أظفارك بالحناء

Ada seorang wanita yang menjulurkan tangannya kepada Nabi ﷺ dengan memegang sebuah kitab, lalu nabi menahan tangannya.

Wanita itu bertanya: “Wahai Rasulullah, aku julurkan tanganku kepadamu dengan memberikan kitab, tapi engkau tidak mengambilnya?”

Nabi menjawab: “Aku tidak tahu ini tangan laki-laki atau tangan wanita?”

Wanita itu menjawab: “Ini tangan wanita.”

Lalu Nabi bersabda: “Jika kamu wanita maka ubahlah warna kukumu dengan henna.” (HR. An Nasa’i No. 5089, Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 6002, hadits ini hasan.)

Wallahu A’lam

🌺🌸🍃🌹🍀🌾🌴🌾

✏ Farid Nu’man Hasan

Tafsir Surat Al Falaq (bag.1)

💢💢💢💢💢💢💢

Muqaddimah

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (5)

1.      Katakanlah,” Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai Subuh
2.      Dari kejahatan makhluknya
3.      Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap
4.      Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.
5.      Dan dari kejahatan pendengki apabila ia dengki.

A.      Ta’rif Surah

Ayat  ini termasuk Makkiyyah, ayatnya berjumlah lima ayat, ini pendapat Ikrimah, Hasan, Atha dan Jabir. Sedangkan menurut Ibnu Abbas dan Qatadah, surat ini termasuk Madaniyah.[1]

Sebagian ulama menyebutkan bahwa surat Al Falaq turun di Mekkah setelah surat Al Fiil, sehingga termasuk ke dalam surat-surat Makiyyah.[2]

B.      Asbab Nuzul

Seperti halnya surat An-Nas, surat Al-Falaq dikenal juga dengan al-muawazatain (dua surat perlindungan).

Adapun sabab nuzulnya seperti telah kami sebutkan pada tafsir surat An Nas, namun kami sebutkan beberapa riwayat yang terkait. Diantaranya, An Nasa’i menyebutkan hadits:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ الْأَسْلَمِيِّ -هُوَ ابْنُ أُنَيْسٍ-: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضَعَ يَدَهُ عَلَى صَدْرِهِ ثُمَّ قَالَ: “قُلْ”. فَلَمْ أَدْرِ مَا أَقُولُ، ثُمَّ قَالَ لِي: “قُلْ”. قُلْتُ: ” قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ” ثُمَّ قَالَ لِي: “قُلْ”. قُلْتُ: ” أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ ” حَتَّى فَرَغْتُ مِنْهَا، ثُمَّ قَالَ لِي: “قُلْ”. قُلْتُ: ” قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ ” حَتَّى فَرَغْتُ مِنْهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “هَكَذَا فَتَعَوَذْ  مَا تعوذَ الْمُتَعَوِّذُونَ بِمِثْلِهِنَّ قَطُّ

Dari Uqbah bin ‘Amir, dari Abdullah Al Aslami-ia adalah Ibnu Unais- bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam meletakkan tangannya diatas dadanya, kemudian ia berkata,”     kemudian bersabda,”Katakanlah. Aku tak mengetahui apa yang akan aku katakan, kemudian beliau bersabda,” Katakanlah, aku berkata,” Qulhuwallahu Ahad, kemudian beliau bersabda kepadaku, Katakanlah,” Aku berkata,’ Qul a’uzubirabbil falaq, minsyarimakhalaq, hingga aku selesai. Kemudia beliau berkata,”katakanlah, lalu aku berkata,” Qul auzubirabbinnas, hingga aku selesai membaca. Lalu Rasulullah bersabda,”Hendaklah engkau memohon perlindungan seperti orang-orang yang meminta perlindungan dengan surat-surat seperti tersebut.”[3] (Sunan Nasa’i Kubra, No. 7845)

Juga hadits dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahuanha:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم كان يَقْرَأُ بِهِنَّ، وَيَنْفُثُ فِي كَفَّيْهِ، وَيَمْسَحُ بِهِمَا رَأْسَهُ وَوَجْهَهُ، وَمَا أَقْبَلَ مِنْ جَسَدِهِ. وَقَالَ الْإِمَامُ مَالِكٌ: عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَة، عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ عَلَى نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَتَيْنِ وَيَنْفُثُ، فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ، وَأَمْسَحُ بِيَدِهِ عَلَيْهِ، رَجَاءَ بَرَكَتِهَا

Bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam pernah membaca al muawaizatain, lalu meniupkan dikedua telapak tangannya, mengusapkan keduanya diwajah dan kepala lalu keseluruh tubuhnya. Berkata Imam Malik,” Dari Ibnu Syihab, daru ‘Urwah dari ‘Aisyah bahwasanya Rasulullah jika ada keluhan Beliau membaca untuk dirinya al-muawazatain dan meniupkannya. Ketika semakin terasa sakitnya, aku membacakan untuk Beliau, lalu aku mengusapkan dengan tangannya, mengharap keberkahannya.[4]
( Al Muwatha, 2/942, Shahih Bukhari, No.5016, Shahih Muslim, No.3902, Sunan Abu Daud, 3902, Sunan Nasa’i Al Kubra, No. 7544,7549).

C.  Kandungan Umum surat

Surat ini mengandung perlindungan kepada Allah, karena Allah Maha Kuasa atas segalanya. Saat manusia butuh dan lemah, tentu sebagai muslim, mereka akan kembali kepada Allah, hal ini juga seperti telah disebutkan didalam surat Al Fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Kepada Engkau (Allah)  kami menyembah, dan kepada Engkau kami mohon pertolongan (QS. Al-Fatihah:5)

Rasulullah juga telah mengajarkan kepada kita, jika kita memohon sesuatu, mohonkanlah dengan penuh harap kepada Sang Maha Kaya, Sang Maha Pencipta. Dan jika kita meminta pertolongan, dahulukanlah meminta kepada Allah, sebelum kepada makhluk.

Sabda Nabi:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ, وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

Jika kamu memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika meminta pertolongan, mintalah dengan Allah”.[5] HR. Ahmad, No. 2669

Syekh Dr. Yusuf Al Qardhawi dalam Tafsir Juz ‘Amma beliau menyebutkan:

“Al-Qur’an mengajarkan Umat Islam agar memohon perlindungan kepada Allah atas keburukan dunia, atau atas keburukan sifat dari ciptaan Allah, baik jenis maupun kuantitasnya, karena hanya Allah saja yang Maha Mampu atas segalanya”.[6]

Sedangkan Syekh Mutawalli Asy Sya’rawi menyebutkan dalam tafsirnya:

Surat ini dan setelahnya mengandung taujih (arahan) dari Allah kepada Nabi Muhammad, dan kepada kaum muslimin umumnya. Berlindung kepada Allah dengan pengayoman-Nya, dari segala rasa takut, baik yg tersembunyi maupun yang terlihat, diketahui maupun yang diketahui, seolah Allah membuka perlingungannya, seolah Allah berfirman,” Kemarilah, kemarilah wahai hambaku, Aku Maha Kuat jika kau lemah, kemarilah kepada perlindungan-Ku, kau akan aman dan tenang, kemarilah, kepada-Ku lah ketenangan dan keselamatan”.[7]

والله أعلم
Bersambung…

🍃☘🌺🌾🌻🌿🌴🌸

✍ Ust Fauzan Sugiono, Lc


🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱

[1]  Abu Hafs Sirajuddin An Nu’mani, Al Lubab, (Beirut: Dar Kutub Al Ilmiyah, 1419 H) 20/568
[2] Abdul Qadir bin Malaa, Bayan Al Ma’ani, 1/181
[3] Sunan Nasa’i, No. 7845
[4] Al Muwatha, 2/942, Shahih Bukhari, No.5016, Shahih Muslim, No.3902, Sunan Abu Daud, 3902, Sunan Nasa’i Al Kubra, No. 7544,7549
[5] HR. Ahmad, No. 2669
[6] Syekh Yusuf Al Qardhawi, Tafsir Juz Amma, h. 564
[7] Syekh Muhammad Mutawalli Asy Sya’rawi, Tafsir Juz Amma, (Mesir; Penerbit Ar Rayah) hal. 665


Selanjutnya:

Tafsir Surat Al Falaq (bag.3)

Serial Tafsir Surat Al-Falaq

Tafsir Surat Al-Falaq Bag. 1

Tafsir Surat Al-Falaq Bag. 2

Tafsir Surat Al-Falaq Bag. 3

Tafsir Surat Al-Falaq Bag. 4 (Selesai)

Serial Kepahlawanan Para Ulama Menghadapi Pemimpin Zalim (Bag 1)

💦💥💦💥💦💥💦💥

📌 Imam Muhammad bin Sirin Radhiallahu ‘Anhu terhadap Ibnu Hubairah

Beliau dikenal sebagai orang yang paling tegas terhadap Ahli bid’ah dan penguasa yang zalim. Dia pun secara terang-terangan menegur penguasa zamannya –yakni Ibnu Hubairah- di depan orang lain. Sebenarnya, Ibnu hubairah adalah salah satu pejabat tinggi dalam pemerintahan Khalifah Marwan.

Berikut ini yang diceritakan Imam Abu Nu’aim Al Ashbahani:

جعفر بن مرزوق، قال: بعث ابن هبيرة إلى ابن سيرين والحسن والشعبي، قال: فدخلوا عليه، فقال لابن سيرين: يا أبا بكر ماذا رأيت منذ قربت من بابنا، قال: رأيت ظلماً فاشياً، قال: فغمزه ابن أخيه بمنكبه فالتفت إليه ابن سيرين، فقال: إنك لست تسأل إنما أنا أسأل، فأرسل إلى الحسن بأربعة آلاف وإلى ابن سيرين بثلاثة آلاف، وإلى الشعبي بألفين؛ فأما ابن سيرين فلم يأخذها

Ja’far bin Marzuq berkata, “Ibnu Hubairah pernah memanggil Ibnu Sirin, Al Hasan (Al Bashri), dan Asy Sya’bi, dia berkata: “Masuklah kalian.”

Maka dia bertanya kepada Ibnu Sirin: “Wahai Abu Bakar, apa yang kau lihat sejak kau mendekat pintu istanaku?” Ibnu Sirin menjawab: “Aku melihat kezaliman yang merata.”

Perawi berkata: Maka saudaranya menganggukkan tengkuknya, dan Ibnu Sirin pun menoleh kepadanya.

Lalu dia (Ibnu Sirin) berkata (kepada Ibnu Hubairah):
“Bukan kamu yang seharusnya bertanya, tetapi akulah yang seharusnya bertanya.”

Maka, Ibnu Hubairah akhirnya memberikan Al Hasan empat ribu dirham, Ibnu Sirin tiga ribu dirham, dan Asy Sya’bi dua ribu. Ada pun Ibnu Sirin, tidak  mengambil hadiah itu.” (Hilyatul Auliya’, 1/330. Mauqi’ Al Warraq)

Imam Adz Dzahabi mengatakan:

قال هشام: ما رأيت أحدا عند السلطان أصلب من ابن سيرين

“Berkata Hisyam: Aku belum pernah melihat orang yang paling tegas terhadap penguasa dibanding Ibnu Sirin.” (Siyar A’lam An Nubala, 4/615)

Inilah Imam Muhammad bin Sirin Radhiallahu ‘Anhu, dia menegur kezaliman yang ada dalam istana, di depan banyak orang dan ulama. Mereka seperti Al Hasan dan Asy Sya’bi, pun tidak mengingkarinya. Ibnu Sirin tidak mengatakan kepada Ibnu Hubairah: “Aku ingin katakan kepadamu secara rahasia, bahwa kezaliman di istanamu telah merata!” Tidak demikian.

Lagi pula, tahu dari mana Hisyam, kalau Ibnu Sirin adalah manusia paling tegas terhadap penguasa jika dia menegurnya secara sembunyi-sembunyi?

Siapakah Imam Muhammad bin Sirin Radhiallahu ‘Anhu? Pada masanya dia dikenal orang yang sangat wara’, ahli fiqih, ahli tafsir mimpi, dan periang.

Berikut ini parade pujian para ulama untuk Imam Ibnu Sirin Radhiallahu ‘Anhu. Sebagaimana yang dicatat oleh Imam Adz Dzahabi dalam kitab As Siyar-nya:

قال ابن عون: كان محمد يأتي بالحديث على حروفه، وكان الحسن صاحب معنى. عون بن عمارة: حدثنا هشام، حدثني أصدق من أدركت، محمد بن سيرين
قال حبيب بن الشهيد: كنت عند عمرو بن دينار فقال: والله ما رأيت مثل طاووس، فقال أيوب السختياني وكان جالسا: والله لو رأى محمد بن سيرين لم يقله. معاذ بن معاذ: سمعت ابن عون يقول: ما رأيت مثل محمد بن سيرين.
وعن خليف بن عقبة، قال: كان ابن سيرين نسيج وحده.
وقال حماد بن زيد، عن عثمان البتي، قال: لم يكن بالبصرة أحد أعلم بالقضاء من ابن سيرين . وعن شعيب بن الحبحاب، قال: كان الشعبي يقول لنا: عليكم بذلك الاصم يعني ابن سيرين . وقال ابن يونس: كان ابن سيرين أفطن من الحسن في أشياء

“Berkata Ibnu ‘Aun: “Muhammad bin Sirin meriwayatkan hadits dengan huruf-hurufnya, sementara Al Hasan yang mengetahui maknanya.”

“Aun bin ‘Imarah, bercerita kepada kami Hisyam, telah bercerita kepadaku bahwa orang yang paling jujur yang pernah aku temui adalah Muhammad bin Sirin.

Habib bin Asy Syahid berkata: Aku bersama Amr bin Dinar, dia berkata: “Demi Allah aku tidak pernah melihat orang seperti Thawus.” Maka, Ayyub As Sukhtiyani sambil duduk menimpali: “Demi Allah, seandainya dia melihat Muhammad bin Sirin, tidak akan dia berkata seperti itu.”

Muadz bin Muadz berkata, aku mendengar Ibnu ‘Aun berkata: “Aku belum pernah melihat orang semisal Muhammad bin Sirin.”

Dari Khalifah bin ‘Uqbah, dia berkata: “Adalah Ibnu Sirin dia menenun (pakaiannya) sendiri.”

Dari Hammad bin Zaid, dari Utsman Al Bati: “Tidak pernah ada di Bashrah orang yang paling tahu tentang kehakiman (hukum) dibanding Ibnu Sirin.”

Ibnu Yunus berkata: “Ibnu Sirin lebih cerdas dibanding Al Hasan Al Bashri di banyak hal.” (Siyar A’lam An Nubala, 4/608)

🍃🌻☘🌹🌴🌿🌾

✏ Farid Nu’man Hasan

scroll to top