[Syarah Maratib Al ‘Amal] 2. Membangun dan Membina Keluarga Islami

وتكوين بيت مسلم , بان يحمل أهله على احترام فكرته , والمحافظة على آداب الإسلام في مظاهر الحياة المنزلية , وحسن اختيار الزوجة , و توقيفها على حقها و واجبها , وحسن تربية الأولاد , والخدم وتنشئتهم على مبادئ الإسلام , وذلك واجب كل أخ على حدته كذلك

“Membentuk rumah tangga Muslim, dengan membuat para penghuninya menghormati ide (Islam), menjaga adab-adab Islam dalam segala aspek kehidupan rumah tangga, memilih istri dengan baik, memberitahunya tentang hak dan kewajibannya, mendidik anak-anak dan para pembantu dengan baik, serta membesarkan mereka berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Itu adalah kewajiban setiap saudara secara individu pula.”

Penjelasan:

Bagian ini merupakan etape selanjutnya dari urutan amal Islami umat Islam, khususnya para aktivisnya. Setelah terbentuknya pribadi muslim dengan berbagai sifat dan karakternya, hendaknya memasuki area perjuangan baru yaitu membentuk keluarga Islami.

Keluarga Islami bukan semata-mata kumpulan anggota keluarga yang beragama Islam, tapi memang menjadikan Islam pedoman dan ruh keluarga tersebut. Bukan hanya pada satu anggota keluarga tapi seluruhnya.

Ciri-cirinya:

– Menghidupkan dan menjaga adab-adab Islam di semua aspek kehidupan keluarga tersebut.

– Bukan hanya adab makan dan minum, tidak sekadar adab berpakaian dan bertetangga, dan adab mencari dan menafkahi keluarga, tapi segala aspek kehidupan mrka berusaha menjadikan Islam sebagai pedoman.

– Membina keluarga Islami sudah dimulai sejak memilih pasangan hidup. Semakin shaleh/ah, maka semakin mudah perjalanan membangun Usrah Muslimah (keluarga Islami). Karena, bersama pasangan yang shaleh/ah maka menjalankan prinsip-prinsip Islam menjadi lebih kompak; baik dalam mendidik anak, memilihkan sekolah, tempat tinggal, jodoh, pekerjaan, dan mengarahkan arah perjalanan keluarga, dll.

– Tentunya tidak kalah penting adalah melibatkan semua anggota keluarga dalam fikrah Islamiyah, begitu pula ART (asisten rumah tangga) di dalamnya, sehingga bukan hanya menjadi keluarga Islami tapi juga keluarga dakwah dan harakah. Kalau pun tidak menjadi penggerak, minimal menjadi pendukungnya.

Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍ Farid Nu’man Hasan

Wahai Laki-Laki (Suami), Dahulukan Kebutuhan Istri dan Anakmu!

Dalam masalah nafkah, seharusnya seorang suami lebih mendahulukan kepentingan istri dan anaknya, sebab itu kewajiban syar’i. Di banding lainnya, ini yg paling besar pahalanya, dan paling besar perhatiannya. Tapi sayang banyak suami begitu boros untuk orang lain, kerabat, tapi anak istrinya dibiarkan kekurangan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

دينار أنفقته في سبيل الله ودينار أنفقته في رقبة ودينار تصدقت به على مسكين ودينار أنفقته على أهلك أعظمها أجرا الذي أنفقته على أهلك

Dinar yang kau infakkan fisabilillah, dinar yang kau infakkan untuk membebaskan budak, dinar yang kau pakai untuk bersedekah ke orang miskin, dan dinar yang kau nafkahkan untuk keluargamu, maka pahala yang paling besar adalah dinar yang kau nafkahkan untuk keluargamu. (HR. Muslim No. 995)

Dengan jelas Rasulullah ﷺ menyampaikan urutan prioritas sedekah atau nafkah:

ابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ ذِي قَرَابَتِكَ شَيْءٌ فَهَكَذَا وَهَكَذَا ، بَيْنَ يَدَيْكَ ، وَعَنْ يَمِينِكَ ، وَعَنْ شِمَالِكَ

Mulailah dari kebutuhan dirimu sendiri, maka bersedekahlah untuknya. Jika masih ada kelebihan, maka untuk keluargamu. Jika masih ada kelebihan dari keluargamu, maka untuk kerabatmu. Jika masih ada kelebihan dari kerabatmu, maka (bagikanlah) begini dan begini, di depanmu, di sebelah kananmu, dan di sebelah kirimu. (HR. Muslim no. 997)

Hadits lainnya:

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَصَدَّقُوا.

فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدِي دِينَارٌ .

فَقَالَ : تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ .

قَالَ : عِنْدِي آخَرُ .

قَالَ : تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ .

قَالَ : عِنْدِي آخَرُ .

قَالَ : تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ .

قَالَ : عِنْدِي آخَرُ .

قَالَ : تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ .

قَالَ : عِنْدِي آخَرُ .

قَالَ: أَنْتَ أَبْصَرُ .

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Bersedekahlah kalian.”

Lalu ada seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, aku punya satu dinar.”
Beliau bersabda: “Bersedekahlah dengannya untuk dirimu sendiri.”

Ia berkata: “Aku punya yang lain.”
Beliau bersabda: “Bersedekahlah dengannya untuk istrimu.”

Ia berkata: “Aku punya yang lain.”
Beliau bersabda: “Bersedekahlah dengannya untuk anakmu.”

Ia berkata: “Aku punya yang lain.”

Beliau bersabda: “Bersedekahlah dengannya untuk pembantumu.”

Ia berkata: “Aku punya yang lain.”
Beliau bersabda: “Engkau lebih tahu (tentang penggunaannya).” (HR. Abu Daud no. 1691. Hasan. Lihat Irwa’ul Ghalil, no. 895)

Imam Ibnu Hajar, mengutip dari Al Muhallab sbb:

قَالَ الْمُهَلَّب : ” النَّفَقَة عَلَى الْأَهْل وَاجِبَة بِالْإِجْمَاعِ , وَإِنَّمَا سَمَّاهَا الشَّارِع صَدَقَة خَشْيَة أَنْ يَظُنُّوا أَنَّ قِيَامهمْ بِالْوَاجِبِ لَا أَجْر لَهُمْ فِيهِ , وَقَدْ عَرَفُوا مَا فِي الصَّدَقَة مِنْ الْأَجْر فَعَرَّفَهُمْ أَنَّهَا لَهُمْ صَدَقَة , حَتَّى لَا يُخْرِجُوهَا إِلَى غَيْر الْأَهْل إِلَّا بَعْد أَنْ يَكْفُوهُمْ ; تَرْغِيبًا لَهُمْ فِي تَقْدِيم الصَّدَقَة الْوَاجِبَة قَبْل صَدَقَة التَّطَوُّع “.

Nafkah kepada keluarga hukumnya wajib berdasarkan ijma‘. Hanya saja syariat menyebutnya sebagai sedekah karena dikhawatirkan mereka mengira bahwa menunaikan kewajiban itu tidak ada pahalanya bagi mereka. Padahal mereka sudah mengetahui besarnya pahala sedekah, maka diberitahukan kepada mereka bahwa itu (nafkah kepada keluarga) adalah sedekah, agar mereka tidak mengeluarkannya kepada selain keluarga kecuali setelah mencukupi keluarga mereka. Hal ini bertujuan untuk mendorong mereka agar mendahulukan sedekah yang wajib sebelum sedekah yang sunnah. (Fathul Bari, 9/623)

Demikian pula kepada ortuanya, kerabatnya, adalah perioritas berikutnya jika masih ada kelebihan setelah kebutuhan keluarganya terpenuhi.

Para ulama, misalnya Imam An Nawawi menjelaskan:

إذا اجتمع على الشخص الواحد محتاجون ممن تلزمه نفقتهم ، نظرَ: إن وفَّى ماله أو كسبه بنفقتهم فعليه نفقة الجميع قريبهم وبعيدهم
وإن لم يفضل عن كفاية نفسه إلا نفقة واحد ، قدَّم نفقة الزوجة على نفقة الأقارب …لأن نفقتها آكد ، فإنها لا تسقط بمضي الزمان ، ولا بالإعسار

Apabila pada diri seseorang berkumpul orang-orang yang membutuhkan nafkah darinya, yang memang wajib ia nafkahi, maka dilihat: jika hartanya atau penghasilannya mencukupi untuk menafkahi semuanya, baik kerabat dekat maupun jauh, maka ia wajib menafkahi semuanya.

Namun apabila tidak ada kelebihan dari kecukupan dirinya kecuali hanya untuk menafkahi satu orang, maka ia dahulukan nafkah istri atas nafkah kerabat. … Karena nafkah istri lebih kuat (kewajibannya), sebab ia tidak gugur dengan berlalunya waktu dan tidak pula dengan kondisi miskin. (Raudhatuth Thalibin, 9/93)

Lalu Imam Al Mardawi:

الصَّحِيحُ مِنْ الْمَذْهَبِ : وُجُوبُ نَفَقَةِ أَبَوَيْهِ وَإِنْ عَلَوَا ، وَأَوْلَادِهِ وَإِنْ سَفَلُوا بِالْمَعْرُوفِ …إذَا فَضَلَ عَنْ نَفْسِهِ وَامْرَأَتِهِ

Pendapat yang shahih dalam mazhab (Hambali): wajib memberikan nafkah kepada kedua orang tuanya meskipun ke atas (kakek-nenek), dan kepada anak-anaknya meskipun ke bawah (cucu-cicit), dengan cara yang ma‘ruf … yaitu apabila masih ada kelebihan dari (nafkah untuk) dirinya sendiri dan istrinya. (Al Inshaf, 9/392)

Syaikh Utsaimin menjelaskan:

فالصواب أنه يبدأ بنفسه ، ثم بالزوجة ، ثم بالولد ، ثم بالوالدين ، ثم بقية الأقارب

Yang benar adalah dimulai untuk diri sendiri, lalu istri, lalu anak, lalu kedua orang tua, lalu kerabat lainnya. (Fathu Dzil Jalali Wal Ikram, 5/194)

Imam Asy Syaukani mengatakan:

وقد انعقد الإجماع على وجوب نفقة الزوجة ، ثم إذا فضل عن ذلك شيء فعلى ذوي قرابته

Terjadi ijma’ wajibnya memberikan nafkah kepada istri lalu jika ada lebihnya maka bisa diberikan kepada kerabatnya. (Nailul Authar, 6/81)

Imam Al Khathabi mengatakan:

هَذَا التَّرْتِيب إِذَا تَأَمَّلْته عَلِمْت أَنَّهُ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَآله وَسَلَّمَ قَدَّمَ الْأَوْلَى فَالْأَوْلَى وَالْأَقْرَب فَالْأَقْرَب

Apabila engkau memperhatikan urutan ini, maka engkau akan mengetahui bahwa Rasulullah ﷺ mendahulukan yang lebih utama kemudian yang utama, yang lebih dekat kemudian yang dekat. (Di kutip oleh Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim dalam ‘Aun al-Ma‘bud, 5/76)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

وبناء على ما سبق فالواجب على الزوج أن يبدأ بكفاية زوجته وأولاده من النفقة الواجبة عليه بالمعروف ، فإن بقي معه بعد ذلك شيء من المال فالواجب عليه أن ينفقه على والديه

“Berdasarkan keterangan di atas, maka kewajiban seorang suami adalah memulai dengan mencukupi kebutuhan istri dan anak-anaknya dari nafkah yang wajib atasnya sesuai dengan cara yang ma‘ruf. Jika setelah itu masih ada sisa harta padanya, maka wajib baginya menafkahkan (sisanya) kepada kedua orang tuanya.” (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 129344)

Maka, utamakan istri dan anak, jangan lupakan kedua orangtua, lalu kerabatmu, lalu lebih jauh dan lebih jauh. Dikala semuanya membutuhkan, tapi sedang lapang maka penuhi semuanya. Jika sedang sempit, maka istri dan anak diutamakan sebagaimana penjelasan para ulama.

Demikian. Wallahu A’lam

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍ Farid Nu’man Hasan

[Syarah Maratib Al ‘Amal] 1. Memperbaiki Dirinya Sendiri

Dakwah dan perjuangan harus berbasiskan target, bukan asal bikin program di tengah masyarakat. Tapi mau apa dan mau kemana?

Berikut ini tahapan dakwah (maratibul ‘amal), yang digagas oleh Imam Hasan Al Banna Rahimahullah, yang merupakan hasil renungan panjang Beliau atas nash-nash dan juga perjuangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihinwa sallam dan para sahabatnya.

ومراتب العمل المطلوبة من اللأخ الصادق :

1 – إصلاح نفسه حتى يكون : قوي الجسم , متين الخلق , مثقف الفكر , قادرا على الكسب , سليم العقيدة , صحيح العبادة , مجاهدا لنفسه , حريصا على وقته , منظما في شؤونه , نافعا لغيره , وذلك واجب كل أخ على حدته

Dan tingkatan (urutan) amal yang dituntut dari seorang Al Akh Ash Shaadiq (saudara yang jujur dan benar), adalah:

1 – Memperbaiki dirinya sendiri, hingga menjadi:

– kuat fisiknya,
– mulia akhlaknya,
– luas wawasannya,
– mampu mencari penghidupan,
– lurus akidahnya,
– benar ibadahnya,
– berjuang melawan hawa nafsunya,
– menjaga waktunya,
– teratur dalam urusannya,
– bermanfaat bagi orang lain.

Ini adalah kewajiban setiap saudara secara pribadi.

Ini adalah urutan pertama dalam maratibul ‘amal seorang Al Akh dan Al Ukht dalam menjalankan amal Islaminya; yaitu hendaknya memperbaiki diri sendiri dulu sebelum melangkah pada program dan amal-amal lainnya. Sebab, inilah fondasi, inilah labinatul ula (batu bata pertama) dari bangunan besar dan istana yang megah yang bernama “peradaban Islam”.

Secara global, ada tiga dimensi yang diperbaiki:

a. Perbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala dalam amal: Aqidah yang bersih (Salimul ‘Aqidah) dan ibadah yang benar (Shahihul ‘Ibadah). Aqidah yang bersih yaitu bersih dari aliran menyimpang dan kesyirikan dan khurafat. Ibadah yang benar yaitu ikhlas dan sejalan dengan sunnah.

b. Perbaiki hubungan dengan diri sendiri dengan amal: luas wawasannya (mutsaqaful fikri), kuat badannya (qawwiyul jismi), teratur urusannya (munazhaman fi syu’unih), berjuang melawan nafsunya (mujahidan linafsih), dan pandai mengatur waktu (harishun ‘ala waqtihi), mampu menafkahi diri sendiri (qaadiran ‘alal kasbi).

c. Perbaiki hubungan dengan masyarakatnya, dengan amal: mulia akhlaknya (matinul khuluq), bermanfaat bagi orang lain (naafi’an lighairihi)

Dari semua ini akan lahir kepercayaan dan mishdaqiyah fardiyah (kredibilitas individu) di tengah masyarakat dan umat. Sehingga para aktivis Islam menjadi problem solver, bukan justru menambah problem bagi masyarakat.

Wallahu Muwafiq Ilaa Aqwaamith Thariq

✍ Farid Nu’man Hasan

Tanya Jawab Tentang Sejarah Ali, Hasan bin Ali, Muawiyah, Yazid bin Muawiyah, dan Abdullah bin Zubair

▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️▪️▫️

 PERTANYAAN:

Assalaamu’alaykum Ustadz, ada beberapa pertanyaan:

1. Berdasarkan para ahli sejarah Ahlu Sunnah, apakah benar ada perjanjian antara Muawiyah r.a. dan Sayidinna Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa sayidina Hasan akan menjadi khalifah setelah Muawiyah?

2. Bagaimana pandangan para ulama Aswaja terkait Yazid bin Muawiyah, terutama terkait dengan tragedi Karbala 10 Muharram? Benarkah ada yang berpendapat bahwa Yazid ada gangguan jiwa sehingga tak dapat dianggap bersalah?

3. Kenapa sahabat Abdullaah bin Zubair bin Awwam r.a. tidak dianggap sebagai Khilafah oleh kebanyakan sejahrawan, walau beliau bertahun-tahun merupakan penguasa Mekkah sebagai pusat Islam?

JazakAllaahu ahsanul jazaa, ustadz


 JAWABAN

Wa’alaikumussalam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

1. Ya, perjanjiannya bukan antara Ali dan Muawiyah tapi antara Al Hasan dan Muawiyah sendiri.

Sepeninggal Ali Radhiallahu ‘Anhu, Al Hasan menjadi khalifah dibai’at oleh penduduk Kufah dahulu lalu menyusul lainnya.

Namun Muawiyah Radhiallahu ‘Anhu mendatangi Al Hasan untuk meminta kekhalifahan untuk dirinya karena dialah yang berhak atas jabatan itu. Al Hasan menyetujui, dia meletakkan jabatan agar pengikut Muawiyah dan Ali tidak terjadi pertumpahan darah. Namun Al Hasan memberikan syarat, jika Muawiyah wafat maka tampuk kekhalifahan kembali ke Al Hasan.

Namun Al Hasan wafat duluan, Beliau wafat diracun oleh Istrinya sendiri atas rayuan Yazid bin Muawiyah.

Ini semua dikisahkan dalam Tarikhul Khulafa, Imam As Suyuthi. Hal. 147. Cet. 1,th.2004. Maktabah Nizar Mushthafa Al Baaz

2. Pernah dibahas di sini: Menyikapi Yazid bin Muawiyah

3. Abdullah bin Zubeir bin ‘Awwam dihitung sebagai khalifah di sekitar Hijaz oleh pendukungnya dan penduduk Hijaz. Ada pun di luar itu, mayoritas dunia Islam di kuasai Bani Umayyah, dan Abdullah bin Zubeir dianggap oposisi.

Wallahu A’lam

 Farid Nu’man Hasan

 

scroll to top