Takhrij Hadits “Aku Tinggalkan Dua Hal: Kitabullah dan Sunnah Nabi”

 PERTANYAAN:

Bismillah. Ustadz mohon penjelasan dan takhrij hadits ini. Terimakasih

تركت فيكم عمرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما : كتاب الله و سنة رسوله

(+62 878-2863-xxxx)


 JAWABAN

Bismillahirrahmanirrahim..

تركت فيكم أمرين لن تضلوا ما مسكتم بهما كتاب الله وسنة نبيه

“Telah aku tinggalkan untuk kalian dua hal yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya maka kalian tidak akan pernah tersesat: Kitabullah dan Sunah NabiNya.” (HR. Malik dalam Al Muwatha’ No. 1594, secara mursal. Syaikh Al Albani menyatakan: hasan. Lihat Misykah Al Mashabih No. 186)

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (ketika khutbah haji wada’):

إني قد تركت فيكم ما إن اعتصمتم به فلن تضلوا أبدا كتاب الله وسنة نبيه صلى الله عليه وسلم

“Sesungguhnya saya telah meninggalkan pada kalian apa-apa yang jika kalian komitmen dengannya niscaya tidak akan tersesat selamanya, Kitabullah dan Sunah NabiNya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Imam Al Hakim mengatakan tentang riwayat ini:

وذكر الاعتصام بالسنة في هذه الخطبة غريب ويحتاج إليها وقد وجدت له شاهدا من حديث أبي هريرة

Penyebutan berpegang teguh dengan sunnah pada khutbah ini adalah ghariib (asing),dan membutuhkan adanya penjelasan kepadanya. Saya telah menemukan syahid (penguat) bagi hadits ini, dari hadits Abu Hurairah . (Al Mustadrak No. 318)

Hadits sebagai syahid tersebut adalah;

عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إني قد تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما كتاب الله وسنتي ولن يتفرقا حتى يردا علي الحوض

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Saya telah tinggalkan pada kalian dua hal yang kalian tidak akan tersesat selamanya setelah berpegang pada keduanya: Kitabullah dan Sunnahku, dan keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya mendatangi aku di Al Haudh (telaga).” (Al Mustadrak No. 319. Hadits ini shahih, lihat Shahihul Jami’ No.2937)

Wallahu A’lam

☘

✏ Farid Nu’man Hasan

Hukum Trading Saham

 PERTANYAAN

Afwan ustadz mau menyambung trading misal ada trading tapi dalam bentuk saham di pasar modal, jadi beranggapan bahwa kita itu membeli saham sebuah perusahaan contoh;
Kita membeli saham perusahaan A 100rb, kemudian karna saham di pasar modal untuk perusahaan A bisa naik dan turun ketika naik misal 50% dan kita menjual nya jadi kita bisa untung di 150rb tetapi, ketika harga saham di pasar modal untuk perusahaan A turun dan kita tidak menjual saham kita. Dan di sini kita tidak rugi karna selama kita tidak menjual saham kita,total saham yg kita punya itu tetap. Karna seperti kita memiliki sebagian kecil dari prusahaan trsebut.. bagaimana kalau menurut ustadz? (+62 812-1212-xxxx)


 JAWABAN

▪▫▪▫▪▫▪

Bismillahirrahmanirrahim

– Hukum asal muamalah itu sah dan boleh, sampai ada dalil yang menyatakan haram, atau adanya unsur yang menunjukkan haram, seperti riba, gharar, ghisy (menipu), maysir (judi)

– Jika trading, bebas dari hal-hal haram di atas maka dia kembaki ke hukum asal, bahwa bahwa itu boleh.

– Trading jika yang dimaksud adalah jual beli mata uang maka:

* Mesti kontan
* Beda jenis mata uang (rupiah dengan dollar, misalnya. Kalau rupiah beli dengan rupiah maka tidak boleh)

Ada pun jual beli saham, kalo tujuannya memang investasi dengan membeli saham, dengan jangka panjang, tidak apa-apa selama itu perusahaan halal, jasa dan barang halal.

Tapi, jika maksudnya untuk untung-untungan, beli saham saat harga turun, lalu dia amati pergerakan harga saham, begitu naik maka dia jual lagi agar dapat untung. Maka, ini judi, tidak boleh.

Wallahu A’lam

 Farid Nu’man Hasan

[Syarah Maratib Al ‘Amal] 3. Mewujudkan Masyarakat Islami

وإرشاد المجتمع , بنشر دعوة الخير فيه , ومحاربة الرزائل و المنكرات , و تشجيع الفضائل , والأمر بالمعروف , والمبادرة إلى فعل الخير , وكسب الرأي العام إلى جانب الفكرة الإسلامية , وصبغ مظاهر الحياة العامة بها دائما , وذلك واجب كل أخ على حدته , و واجب الجماعة كهيئة عاملة

“Membimbing masyarakat dengan menebar cahaya dakwah di tengah mereka, memerangi keburukan dan kemungkaran, mengobarkan semangat pada segala kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf, berlomba dalam kebaikan, merangkul hati umat agar berpihak pada risalah Islam, dan mewarnai wajah kehidupan dengan rona Islam sepanjang waktu. Inilah tugas suci setiap insan muslim secara pribadi, dan amanah mulia bagi jamaah sebagai tubuh yang bergerak dan bekerja.”

Penjelasan:

Pada tahapan ini spektrum dakwah tidak hanya mengurus individu dan keluarganya. Tapi meluas pada kumpulan mereka, yaitu membina masyarakat untuk membumikan nilai-nilai Islam. Agar kebaikan Islam yang kaffah dan Rahmatan Lil ‘Alamin dirasakan lebih luas tidak terbatas hanya orang-orang tertentu saja.

Di antaranya adalah semaraknya dakwah Islam dengan makna mengajak manusia ke jalan Allah Ta’ala. Bukan semata-mata ceramah, tapi semua aspek kehidupan di masyarakat memiliki kontribusi untuk dakwah; baik harta, waktu, lisan, tulisan, jiwa dan raga. Agar tauhid benar-benar tegak dan sunnah benar-benar hidup.

Begitu pula amar ma’ruf nahi munkar, diposisikan begitu berwibawa dan terhormat. Bukan pelengkap tapi memang pondasi kuat bagi masyarakat yang Islami. Pelakunya dihargai, keberadaannya dinanti. Jika masyarakat tidak ada amar ma’ruf nahi munkar, maka alamat menuju ummah ghaibah (umat yang lenyap).

Begitu pula adab dan akhlak Islam, telah mewarnai sendi kehidupan mereka dari hendak tidur sampai bangunnya, dari usuran belakang rumah sampai depannya, urusan kantor sampai kebunnya, urusan anak-anak sampai orang dewasanya; baik laki-laki maupun perempuan, dari masjid sampai ke pasar, sekolah-sekolah dan tempat perkumpulan manusia. Islam mewarnai mereka.

Semua ini merupakan tugas para pejuang Islam, baik sebagai individu, atau yang tergabung pada institusi, jamaah Islamiyah, ormas, dan sebagainya.

Jika ini dapat terwujud maka layak bagi masyarakat tersebut mendapatkan pujian Allah Ta’ala:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 110)

Umar bin Khattab Radhiayallahu ‘Anhu menjelaskan:

مَنْ سَرَّه أَنْ يَكُونَ مِنْ تِلْكَ الْأُمَّةِ فَلْيؤدّ شَرْط اللَّهِ فِيهَا

Siapa yang suka dirinya menjadi seperti umat dalam ayat tersebut maka penuhilah syarat yang Allah tentukan dalam ayat itu. (Imam Ibnu Jarir Ath Thabari, Tafsir Ath Thabari, 7/102)

Wallahu A’lam

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍ Farid Nu’man Hasan

Imam Ibnu Taimiyah VS Kebijakan Penguasa yang Keliru

Beliau adalah ulama khalaf (belakangan) yang dianggap mewarisi jalan ulama salaf (terdahulu). Di antara kebaikan yang bisa dipetik dari perjalanan hidupnya adalah keberaniannya mengkoreksi penguasa yang jelas-jelas salahnya, di masanya penguasa (Ibnu Ghazan) bekerja sama dengan raja Al Karaj (penguasa kafir) untuk merampas kekayaan dan menyerang warga Damaskus, padahal mereka adalah rakyatnya sendiri.

Imam Al Bazaar Rahimahullah bercerita tentang aksi heroik Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

ولما ظهر السلطان بن غازان على دمشق المحروسة جاءه ملك االكرج وبذله له أموالا كثيرة جزيلة على أن يمكنه من الفتك بالمسلمين من أهل دمشق. فوصل الخبر الى الشيخ فقام من فوره وشجع المسلمين ورغبهم في الشجاعة ووعدهم على قيامهم بالنصر والظفر والأمن وزوال الخوف. فانتدب منهم رجال من وجوههم، وكبرائهم، وذوي الأحلام منهم، فخرجوا معه إلى حضرة السلطان غازان، فلما رآهم السلطان قال: من هؤلاء؟ فقيل هم رؤساء دمشق، فأذن لهم فحضروا بين يديه، فتقدم الشيخ رحمه الله أولًا، فلما أن رآه أوقع الله له في قلبه هيبةً عظيمة، حتى أدناه وأجلسه، وأخذ الشيخ في الكلام معه أولًا في عكس رأيه عن تسليط المخذول ملك الكرج على المسلمين، وضمن له أموالًا وأخبره بحرمة دماء المسلمين، وذكَّره ووعظه فأجابه إلى ذلك طائعًا، وحقنت بسببه دماء المسلمين وحميت ذراريهم وصِين حريمهم

“Tatkala Sultan Ibnu Ghazan berkuasa di Damaskus, Raja Al Karaj datang kepadanya dengan membawa harta yang banyak agar Ibnu Ghazan memberikan kesempatan kepadanya untuk menyerang kaum musimin Damaskus.

Namun berita ini sampai ke telinga Syaikh Ibnu Taimiyah. Sehingga ia langsung bertindak menyulut semangat kaum muslimin untuk menentang rencana tersebut dan menjanjikan kepada mereka suatu kemenangan, keamanan, kekayaan, dan rasa takut yang hilang. LALU BANGKITLAH PARA PEMUDA, ORANG ORANG TUA, DAN PARA PEMBESAR MEREKA MENUJU SULTAN GHAZAN.

Ketika Sultan melihat mereka, dia bertanya: “Siapa mereka?” Maka dijawab: “Mereka adalah tokoh-tokoh Damaskus.” Sultan mengizinkan mereka dan berdiri dihadapannya. Lalu pertama-tama majulah Syaikh Ibnu Taimiyah Rahimahullah, tatkala Sultan Ghazan melihat Syaikh Ibnu Taimiyah, Allah menjadikan hati Sultan Ghazan mengalami ketakutan yang hebat terhadapnya sehingga ia meminta Syaikh Ibnu Taimiyah agar mendekat dan duduk bersamanya.

Kesempatan tersebut digunakan Syaikh Ibnu Taimiyah untuk menolak rencananya, yaitu memberikan kesempatan keada Raja Al Karaj yang hina untuk menghabisi umat Islam Damaskus dengan imbalan harta. Ibnu Taimiyah memberitahu Sultan Ibnu Ghazan tentang kehormatan darah muslimin, mengingatkan dan memberi nasihat kepadanya. Maka Ibnu Ghazan menurut nasihat Ibnu Tamiyah tersebut. Dari situ, terselamatkanlah darah-darah umat Islam, terhaga isteri-isteri mereka, dan terjaga budak-budak perempuan mereka.

Imam Al Bazaar, Al A’lam Al ‘Aliyah, Hal. 67

Pelajaran dan hikmah:

– Menasihati pemimpin yang keliru dan kekeliruannya merugikan kehidupan kaum muslimin, adalah kewajiban bagi yang mampu melaksanakannya

– Menasihatinya secara terbuka dan bersama-sama, merupakan salah satu cara yang pernah ditempuh para salaf dan ‘alim rabbani umat ini. Itu bukan pemberontakan, apalagi Khawarij.

– Hal ini dilakukan jika memang mampu, efektif, dan mendatangkan maslahat dan menekan madharat. Jika tidak, maka seharusnya ditempuh cara lain yang lebih kecil madharatnya dan lebih efektif dan besar maslahatnya.

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwaamith Thariq

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top