Hukum Cium Tangan

Hukum cium tangan kepada orang yang dihormati dan dimuliakan dalam Islam adalah boleh. Simak penjelasannya pada tanya jawab di bawah!


Pertanyaan

Assalamu’alaikum Ustadz, bagaimana hukumnya mencium tangan orang lain sebagai penghormatan seperti orangtua, guru dll? (08122374xxxx)


Jawaban Tentang Hukum Cium Tangan

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh …

Mencium tangan orang tua, paman, guru, ulama, atau pemimpin, karena untuk menghormati, memuliakan, karena kebaikan dan keshalihannya adalah boleh, tidak apa-apa.

Baca juga: Memuliakan, Mencintai, dan Menghormati Ulama

Imam Al Bahuti Rahimahullah berkata:

يُبَاحُ تَقْبِيلُ الْيَدِ وَالرَّأْسِ : تَدَيُّنًا ، وَإِكْرَامًا ، وَاحْتِرَامًا، مَعَ أَمْنِ الشَّهْوَةِ
وَظَاهِرُهُ : عَدَمُ إبَاحَتِهِ لِأَمْرِ الدُّنْيَا، وَعَلَيْهِ يُحْمَلُ النَّهْيُ

Dibolehkan mencium tangan dan kepala karena faktor agama, pemuliaan, penghormatan, jika aman dari syahwat. Secara Zahir menunjukkan Tidak boleh jika alasannya duniawi, dan itu diartikan larangan. (Kasysyaaf Al Qinaa’, 2/157)

Dalam Al Mausu’ah:

يَجُوزُ تَقْبِيل يَدِ الْعَالِمِ الْوَرِعِ ، وَالسُّلْطَانِ الْعَادِل ، وَتَقْبِيل يَدِ الْوَالِدَيْنِ ، وَالأْسْتَاذِ ، وَكُل مَنْ يَسْتَحِقُّ التَّعْظِيمَ وَالإْكْرَامَ ، كَمَا يَجُوزُ تَقْبِيل الرَّأْسِ وَالْجَبْهَةِ وَبَيْنَ الْعَيْنَيْنِ ، وَلَكِنْ كُل ذَلِكَ إِذَا كَانَ عَلَى وَجْهِ الْمَبَرَّةِ وَالإْكْرَامِ ، أَوِ الشَّفَقَةِ عِنْدَ اللِّقَاءِ وَالْوَدَاعِ ، وَتَدَيُّنًا وَاحْتِرَامًا مَعَ أَمْنِ الشَّهْوَةِ
قَال ابْنُ بَطَّالٍ : أَنْكَرَ مَالِكٌ تَقْبِيل الْيَدِ ، وَأَنْكَرَ مَا رُوِيَ فِيهِ ، قَال الأْبْهَرِيُّ: وَإِنَّمَا كَرِهَهُ مَالِكٌ إِذَا كَانَ عَلَى وَجْهِ التَّعْظِيمِ وَالتَّكَبُّرِ، وَأَمَّا إِذَا كَانَ عَلَى وَجْهِ الْقُرْبَةِ إِلَى اللَّهِ لِدِينِهِ أَوْ لِعِلْمِهِ أَوْ لِشَرَفِهِ : فَإِنَّ ذَلِكَ جَائِزٌ

Boleh mencium tangan seorang ulama yang wara’, pemimpin yang adil, kedua orang tua, ustadz, dan setiap orang yang pantas dihormati dan dimuliakan, sebagaimana boleh juga mencium kepala, jidat, dan di antara dua mata. Tetapi semua itu jika disebabkan oleh kebaikan, kemuliaan, kasih sayang saat bertemu dan berpisah, dan faktor agama, dan selama aman dari syahwat.

Imam Ibnu Baththal mengatakan: “Imam Malik mengingkari cium tangan, dan mengingkari riwayat ttg hal itu.”

Al Abhariy mengatakan pengingkaran Imam Malik itu jika disebabkan kesombogan, sedangkan jika maksudnya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah karena bagus agamanya, ilmunya, atau kemuliaannya, maka hal itu tidak apa-apa.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 13/131)

Demikian. Wallahu a’lam

✍ Farid Nu’man Hasan


Demikian penjelasan mengenai hukum cium tangan. Anda juga bisa membaca pembahasan tentang: Berdiri Menghormati Ulama atau Orang Terhormat

Hukum Tadarus Al-Qur’an Berjamaah di Masjid

🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

Dan tidaklah sebuah kaum yang berkumpul di salah satu rumah-rumah Allah (maksudnya masjid, pen) dalam rangka membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan niscaya akan diturunkan kepada mereka ketenangan dan dilimpahkan kepada mereka rahmat, dan mereka dikelilingi para malaikat serta Allah sebut-sebut mereka kepada makhluk yang ada disisiNya. (HR. Muslim No. 2699)

📌 Anjuran Membaca dan Belajar Al-Qur’an di Masjid

Hadits ini menunjukkan anjuran kuat untuk berkumpul di masjid dalam rangka membaca Al Quran dan mempelajarinya, atau secara umum berkumpul dalam rangka majelis dzikir. Di mana Allah Ta’ala dan para malaikatNya sangat meridhai semua itu.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

أن قراءة الجماعة مجتمعين مستحبة بالدلائل الظاهرة وأفعال السلف والخلف المتظاهرة

Sesungguhnya berkumpulnya jamaah untuk membaca Al Quran adalah perkara yang mustahab (sunah), berdasarkan berbagai dalil yang jelas, dan perilaku para salaf, dan khalaf yang begitu jelas. (At Tibyan fi Aadab Hamalatil Quran, Hal. 71)

Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah mengatakan:

هذا دليل على فضل الإجتماع على تلاوة القرآن في المساجد

Ini adalah dalil tentang keutamaan berkumpul dalam rangka membaca Al Quran di masjid-masjid. (Syarh Al Arbain Nawawiyah, Hal. 93)

📌 Cara Tadarus

Bagaimanakah cara membacanya? Yaitu mereka membaca masing-masing, atau satu orang membaca lalu yang lain menyimaknya dan mengoreksi jika ada kesalahan, dan tidak apa-apa dibaca berbarengan jika dalam rangka belajar, seperti seorang guru membaca lalu diikuti oleh murid-muridnya secara koor.

Berkata Imam An Nawawi Rahimahullah dalam Bab fil Idarah bil Quran (Bab Bergiliran Membaca Al Quran), pada kitab At Tibyan-nya:

وهو أن يجتمع جماعة يقرأ بعضهم عشرا أو جزءا أو غير ذلك ثم يسكت ويقرأ الأخر من حيث انتهى الأول ثم يقرأ الآخر وهذا جائز حسن وقد سئل مالك رحمه الله تعالى عنه فقال لا بأس به

Yaitu berkumpulnya jamaah, sebagian mereka membaca sepuluh ayat atau satu juz atau selain itu, kemudian mereka berhenti, dan dilanjutkan bacaannya oleh lainnya dengan melanjutkan ayat yang terakhir dibaca. Ini boleh dan bagus. Imam Malik Rahimahullah ditanya hal ini, Beliau menjawab: tidak apa-apa. (At Tibyan, Hal. 103)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abad Al Badr hafizhahullah menambahkan:

[ (ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله) ] بيوت الله هي المساجد، قيل: ويلحق بها دور العلم والأماكن التي تخصص للعلم ونشر العلم. قوله: [ (ويتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم) ] يعني: يقرءون كتاب الله، سواءٌ أكانت هذه القراءة بأن يقوم شخص ويقرأ ويفسر أو غيره يفسر، أم أنهم يجتمعون بحيث يقرأ واحد منهم مقداراً من القرآن ويستمع الباقون، ويكون هناك شخص يصوب قراءته ويبين ما عليه من ملاحظات، كل ذلك يدخل تحت التدارس

(Tidaklah sebuah kaum berkumpul di rumah di antara rumah-rumah Allah) yaitu masjid-masjid. Dikatakan: dikaitkan dengannya sebagai tempat ilmu dan tempat-tempat khusus untuk mencari ilmu dan menyebarkannya. (mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya) yakni mereka membaca Kitabullah, keadaanya sama saja apakah ada seorang yang membaca dan menafsirkan, atau orang lain yang menafsirkan, atau mereka berkumpul dengan satu orang di antara mereka membaca sejumlah ayat Al Quran dan yang lain mendengarkan, lalu ada orang yang mengoreksi bacaannya dan menjelaskan dengan berbagai keterangan. Semua ini termasuk makna tadarus. (Lihat Syarh Sunan Abi Daud [175])

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan:

وَكَانَ أَصْحَابُهُ إذَا اجْتَمَعُوا أَمَرُوا وَاحِدًا مِنْهُمْ أَنْ يَقْرَأَ وَالْبَاقِي يَسْتَمِعُونَ . وَكَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَقُولُ لِأَبِي مُوسَى ذَكَرْنَا رَبَّنَا فَيَقْرَأُ وَهُمْ يَسْتَمِعُونَ وَقَدْ رُوِيَ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى أَهْلِ الصُّفَّةِ وَمِنْهُمْ وَاحِدٌ يَقْرَأُ فَجَلَسَ مَعَهُمْ } وَقَدْ رُوِيَ فِي الْمَلَائِكَةِ السَّيَّارِينَ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ الْحَدِيثُ الْمَعْرُوفُ

Dahulu para sahabat nabi, jika mereka berkumpul mereka memerintahkan salah seorang membaca Al Quran, sedangkan yang lain mendengarkan. Umar bin Al Khathab berkata kepada Abu Musa: “ingatkanlah kami kepada Tuhan kami.” Lalu Abu Musa membaca Al Quran dan mereka (para sahabat) mendengarkan. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar rumah menuju Ahlush Shuffah (para sahabat yang tinggal di masjid nabawi, pen), ada salah seorang mereka yang membaca Al Quran dan dia berada bersama mereka. Diriwayatkan pula bahwa para malaikat berkeliling mencari majelis-majelis dzikir, hadits ini telah dikenal. (Majmu Al Fatawa, 23/133)

📌 Bukan Hanya Majelis Ilmu

Sebagian ulama membatasi majelis dzikir hanya majelis ilmu.

Imam ‘Atha Rahimahullah berkata:

مجالس الذكر هي مجالس الحلال والحرام، كيف تشتري وتبيع وتصلي وتصوم وتنكح وتطلق وتحج، وأشباه هذا

“Majelis-majelis dzikir adalah majelis tentang halal dan haram, tata cara membeli, menjual, shalat, puasa, nikah, thalaq, haji, dan yang semisalnya.” (Imam An Nawawi, Al Adzkar, Hal. 11. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Hal itu bertentangan dengan riwayat Imam Al Bukhari, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: (kami ringkas saja)

إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ مِنْهُمْ مَا يَقُولُ عِبَادِي قَالُوا يَقُولُونَ يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيُمَجِّدُونَكَ قَالَ فَيَقُولُ هَلْ رَأَوْنِي قَالَ فَيَقُولُونَ لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ قَالَ فَيَقُولُ وَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي قَالَ يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَتَحْمِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا……………….

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari orang-orang yang berdzikir. Jika mereka menemukan sekelompok kaum yang sedang berdzikir kepada Allah, maka para malaikat memanggil: marilah sambut hajat kalian. Lalu mereka ( kaum yang berdzikir) dinaungi dengan sayap-sayap mereka menuju langit dunia, lalu berkata: “mereka memohon kepada Tuhan mereka -dan Dia lebih tahu dibanding mereka. (Allah bertanya): “apa yang diucapkan hamba-hambaKu?” Para malaikat menjawab: “Mereka bertasbih (dengan subhanallah) kepadaMu, bertakbir (membesarkan dengan ‘Allahu Akbar), bertahmid (memuji dengan Alhamdulillah), dan bertamjid (memuliakan)Mu.” Allah berfirman: “Apakah mereka melihat Aku?” Para malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah mereka tidak melihatMu.” Allah bertanya: “Bagaimana jika mereka melihat Aku?” Para malaikat menjawab: “Seandainya mereka melihatMu niscaya mereka akan lebih kuat lagi beribadah kepadaMu, dan lebih kuat bertamjid, tahmid, dan lebih banyak bertasbih kepadaMu …………”

Hadits ini menunjukkan bahwa mereka berkumpul dengan bertasbih, tahmid, takbir, dan lainnya. Tentunya ini adalah berdzikir dengan mengucapkan kalimat-kalimat dzikir, bukan majelis ilmu semata. Oleh karena itu Imam Ash Shan’ani Rahimahullah mengomentari hadits ini:

وهذا من فضائل مجالس الذكر تحضرها الملائكة بعد التماسهم لها والمراد بالذكر هو التسبيح والتحميد وتلاوة القرآن ونحو ذلك

“Ini merupakan keutamaan majelis-majelis dzikir yang malaikat hadir di dalamnya setelah mereka menemukannya. Dan yang dimaksud dengan dzikir adalah bertasbih, bertahmid, membaca Al Quran, dan yang semisalnya.” (Imam Muhammad bin Ismail Ash Shan’ani, Subulus Salam, 4/213)

Bahkan Imam An Nawawi memperluas makna dzikir, bukan hanya seperti itu tapi juga semua bentuk ketaatan.

Beliau berkata:

اعلم أن فضيلة الذكر غير منحصرة في التسبيح والتهليل والتحميد والتكبير ونحوها، بل كل عامل لله تعالى بطاعة فهو ذاكر لله تعالى، كذا قاله سعيد بن جبير رضي الله عنه وغيره من العلماء

“Ketahuilah bahwa keutamaan dzikir tidaklah dibatasi hanya pada tasbih, tahmid, takbir, dan semisalnya. Tetapi semua amal ketaatan yang dilakukan untuk Allah Ta’ala juga merupakan dzikrullah Ta’ala. Demikianlah yang dikatakan oleh Sa’id bin Jubeir Radhiallahu ‘Anhu dan ulama lainnya.” (Al Adzkar, Hal. 11)

Sedangkan Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah masih meragukan ‘majelis ilmu’ dimasukan sebagai bagian dari majelis dzikir. Beliau berkata:

الْمُرَاد بِمَجَالِس الذِّكْر وَأَنَّهَا الَّتِي تَشْتَمِل عَلَى ذِكْر اللَّه بِأَنْوَاعِ الذِّكْر الْوَارِدَة مِنْ تَسْبِيح وَتَكْبِير وَغَيْرهمَا وَعَلَى تِلَاوَة كِتَاب اللَّه سُبْحَانه وَتَعَالَى وَعَلَى الدُّعَاء بِخَيْرَيْ الدُّنْيَا وَالْآخِرَة ، وَفِي دُخُول قِرَاءَة الْحَدِيث النَّبَوِيّ وَمُدَارَسَة الْعِلْم الشَّرْعِيّ وَمُذَاكَرَته وَالِاجْتِمَاع عَلَى صَلَاة النَّافِلَة فِي هَذِهِ الْمَجَالِس نَظَر ، وَالْأَشْبَه اِخْتِصَاص ذَلِكَ بِمَجَالِس التَّسْبِيح وَالتَّكْبِير وَنَحْوهمَا وَالتِّلَاوَة حَسْب ، وَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَة الْحَدِيث وَمُدَارَسَة الْعِلْم وَالْمُنَاظَرَة فِيهِ مِنْ جُمْلَة مَا يَدْخُل تَحْت مُسَمَّى ذِكْر اللَّه تَعَالَى

“Maksud dari majelis dzikir adalah mencakup berdzikir kepada Allah dengan berbagai jenis kalimat dzikir yang warid (datangnya dari sunnah) berupa tasbih, takbir, dan selain keduanya. Dan, termasuk membaca Kitabullah, berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat. Ada pun membaca hadits nabawi, mengkaji ilmu syar’i, dan mendiskusikannya, berkumpul (berjamaah) untuk melakukan shalat sunah, maka memasukan majelis-majelis seperti ini (sebagai majelis dzikir, pen) masih perlu dipertimbangkan (nazhar). Serupa dengan ini adalah mengkhususkan hal itu dengan majelis tasbih, takbir, dan semisalnya, dan membaca Al Quran. Dan, jika sekedar membaca hadits, mengkaji ilmu, dan mendebatkannya dalam artian secara umum, maka tidaklah dia termasuk dari penamaan dzikrullah Ta’ala.” (Imam Abul Fadhl Ahmad bin Hajar, Fathul Bari, 11/212. Darul Fikr, dengan tahqiq; Syaikh Ibnu Baaz. Lihat juga Syaikh Abul ‘Ala bin Muhammad Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 10/60. Cet. 2. 1963M-1383H. Al Maktabah As Salafiyah)

📌 Tadarusan Malam Hari di Ramadhan

Khusus di bulan Ramadhan, maka tadarusan bersama itu merupakan sunnah Nabi ﷺ dan malaikat Jibril ‘Alaihissalam.

Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menceritakan:

وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

Jibril menemuinya pada tiap malam malam bulan Ramadhan, dan dia (Jibril) bertadarus Al Quran bersamanya. (HR. Bukhari No. 3220)

Wallahu A’lam

🍃🌾🌴🌸☘🌷🌺🌻

✏ Farid Nu’man Hasan

Keutamaan Muawiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu ‘Anhuma (Bag. 3, selesai)

💥💦💥💦💥💦💥

📌 Pandangan Ulama Salaf Tentang Mu’awiyah

– Abdullah bin ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma

Berikut ini terdapat dalam At Tarikh Al Kabir-nya Al Imam Al Bukhari dengan sanad shahih:

قال ابراهيم بن موسى فيما حدثوني عنه عن هشام (بن يوسف ) عن معمر قال سمعت (همام ) بن منبه عن ابن عباس قال ما رأيت احدا اخلق للملك من معاوية

Berkata Ibrahim bin Musa, dari Hisyam bin Yusuf, dari Ma’mar, dia berkata: saya mendengar Hammam bin Munabbih, dari Ibnu Abbas berkata: “Belum pernah saya menemukan orang yang paling ahli dalam mengatur pemerintahan selain Mu’awiyah Radhiyallahu ‘Anhu.” (At Tarikh Al Kabir, 7/327. Lihat juga Imam Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyqi, 59/174)

– Abdullah bin Umar Radhialllahu ‘Anhuma

Dari Nafi’, bahwa Ibnu Umar berkata:

ما رأيت أحدا كان أسود بعد رسول الله (صلى الله عليه وسلم) من معاوية قلت هو كان أسود من أبي بكر قال أبو بكر كان خيرا منه وكان هو أسود منه قال قلت فهو كان أسود من عمر قال عمر والله كان خيرا منه وكان هو أسود منه قال قلت هو كان أسود من عثمان قال رحمة الله على عثمان عثمان كان خيرا منه وهو أسود من عثمان

“Aku belum pernah melihat seorang pun yang kepemimpinannya lebih cakap setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibandingkan Mu’awiyah.” Aku (Nafi’) bertanya: “Dia lebih cakap dibanding Abu Bakar?” Ibnu Umar menjawab: “Abu Bakar lebih baik darinya tetapi dia lebih cakap dalam kepemimpinan dibanding Abu Bakar.” Aku bertanya: “Apakah dia lebih cakap dibanding Umar?” Ibnu Umar menjawab: “Umar, demi Allah, lebih baik darinya tetapi dia lebih cakap dalam hal kepemimpinan dibanding Umar.” Aku bertanya: “Apakah dia lebih cakap dibanding Utsman?” Ibnu Umar menjawab: “Semoga Allah merahmati Utsman, Utsman lebih baik darinya tetapi dia lebih cakap dalam kepemimpinan dibanding Utsman.”(Imam Ibnu ‘Asakir, Tarikh Dimasyqi, 59/174)

– Imam Mujahid Rahimahullah (seorang mufassir masa tabi’in, murid senior Ibnu Abbas)

Berkata Al A’masy, bahwa Mujahid berkata:

لو رأيتم معاوية لقلتم هذا المهدي

“Seandainya kalian melihat Mu’awiyah niscaya kau akan katakana: “Inilah Mahdi!” (Ibid, 56/172)

– Imam Abu Ishaq As Subai’i Rahimahullah

Abu Bakar bin ‘Iyasy berkata, dari Abu Ishaq As Subai’i:

كان معاوية وكان وما رأينا مثله

“ Pada masa Mu’awiyah, saya belum pernah melihat orang yang sepertinya.” (Ibid)

– Imam Sa’id bin Al Musayyib Rahimahullah (Pemimpin para tabi’in)

Imam Az Zuhri berkata:

سألت سعيد بن المسيب عن أصحاب رسول الله (صلى الله عليه وسلم) فقال لي اسمع يا زهري من مات محبا لأبي بكر وعمر وعثمان وعلي وشهد للعشرة بالجنة وترحم على معاوية كان حقيقا على الله أن لا يناقشه الحساب

“Aku bertanya kepada Sa’id bin Al Musayyib tentang para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia berkata kepadaku: “Wahai Zuhri, dengarkan! Barangsiapa yang mati dalam keadaan mencintai Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, dan mengakui sepuluh orang yang dikabarkan masuk surge, dan memohonkan rahmat bagi Mu’awiyah, maka Allah pasti membebaskannya dari pertanyaan-pertanyaan saat hisab.” (Tarikh Dimasyqi, 59/207. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)

– Imam Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullah

Muhammad bin Yahya bin Sa’id mengatakan:

سئل ابن المبارك عن معاوية فقيل له ما تقول فيه قال ما أقول في رجل قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) سمع الله لمن حمده فقال معاوية من خلفه ربنا ولك الحمد فقيل له ما تقول في معاوية هو عندك أفضل أم عمر بن عبد العزيز فقال لتراب في منخري معاوية مع رسول الله (صلى الله عليه وسلم) خير أو أفضل من عمر بن عبد العزيز

Abdullah bin Al Mubarak pernah ditanya tentang Mu’awiyah,”Apa pendapatmu tentangnya?” Beliau menjawab,”Apa yang harus kukatakan terhadap lelaki, yang ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan: Sami’ Allahu liman hamidah (Allah mendengar hamba yang memujiNya), lalu Mu’awiyah menyambutnya dari belakang Rabbana wa Lakal Hamdu (Segala puji bagiMu, wahai Rabb kami).”

Lalu ada yang bertanya: “Apa pendapatmu terhadap Mu’awiyah, apakah menurutmu ia lebih utama dari pada Umar bin Abdul Aziz?” Beliau berkata,”Sungguh celaka aku ini, Mu’awiyah yang telah menyertai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentu lebih utama dan lebih baik daripada Umar bin Abdul Aziz.” (Tarikh Dimasyqi, 59/207-208. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)

Imam Abdullah bin Al Mubarak juga mengatakan:

تراب في أنف معاوية أفضل من عمر بن عبد العزيز

“Debu pada hidung Mu’awiyah adalah lebih utama dibanding Umar bin Abdul ‘Aziz.” (Tarikh Dimasyqi, 59/207. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)

– Imam Abu Mas’ud Al Ma’afi bin ‘Imran Rahimahullah

Muhammad bin Abdullah bin ‘Imar berkata:

سمعت المعافى بن عمران وسأله رجل وأنا حاضر أيما أفضل معاوية بن أبي سفيان أو عمر بن عبد العزيز فرأيته كأنه غضب وقال يوم من معاوية أفضل من عمر بن عبد العزيز ثم التفت إليه فقال تجعل رجلا من أصحاب محمد (صلى الله عليه وسلم) مثل رجل من التابعين

Aku mendengar Al Ma’afi bin ‘Imran, bahwa ada seorang yang bertanya kepadanya dan aku saat itu hadir: “Mana yang lebih utama antara Mu’awiyah bin Abi Sufyan atau Umar bin Abdil Aziz?” Aku melihat nampaknya dia marah, lalu berkata: “Seharinya Mu’awiyah adalah lebih utama dibanding Umar bin Abdil Aziz.” Lalu dia menengok kepada orang itu, dan berkata: “Kau menjadikan seorang laki-laki sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebanding dengan seorang tabi’in?” (Tarikh Dimasyqi, 59/207. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)

Ribah bin Al Jarah Al Maushili berkata:

سمعت رجلا سأل المعافى بن عمران فقال يا أبا مسعود أين عمر بن عبد العزيز من معاوية بن أبي سفيان فغضب من ذلك غضبا شديدا وقال لا يقاس بأصحاب رسول الله (صلى الله عليه وسلم) أحدا معاوية صاحبه وصهره وكاتبه وأمينه على وحي الله عز وجل

Aku mendengar ada seorang laki-laki bertanya kepada Al Ma’afi bin ‘Imran: “Wahai Abu Mas’ud, di manakah posisi Umar bin Abdil Aziz dibanding Mu’awiyah bin Abi Sufyan?” Abu Mas’ud nampak sangat marah, dan berkata: “Jangan samakan seorang pun sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Mu’awiyah adalah sahabatnya, iparnya, juru tulisnya, dan orang kepercayaannya dalam menulis wahyu Allah ‘Azza wa Jalla.” (Ibid. Tarikh Baghdad, 1/95)

Mu’awiyah adalah ipar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, karena saudaranya yang perempuan yakni Ummu habibah menikah dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Al Ma’afi juga pernah berkata:

كان معاوية أفضل من ستمائة مثل عمر بن عبد العزيز

“Mu’awiyah lebih utama 100 kali dibanding semisal Umar bin Abdil Aziz.” (Imam Abu Bakar Al Khalal, As Sunnah, No. 668)

– Imam Al Fadhl bin ‘Anbasah Rahimahullah

Berkata ‘Isa bin Khalifah Al Hadzdza:

كان الفضل بن عنبسة جالسا عندي في الحانوت فسئل معاوية أفضل أم عمر بن عبد العزيز فعجب من ذلك وقال سبحان الله أجعل من رأى رسول الله (صلى الله عليه وسلم) كمن لم يره قالها ثلاثا

Dahulu Al Fadhl bin ‘Anbasah duduk bersama saya di sebuah kedai, dia ditanya apakah Mu’awiyah lebih utama atau Umar bin Abdil Aziz. Dia merasa heran dengan pertanyaan itu, dan berkata: “Subhanallah, apakah pantas disamakan orang yang telah melihat Rasulullah dengan orang yang belum pernah melihat beliau?” Ia ulangi ucapan itu tiga kali. (Ibid)

Demikianlah komentar para sahabat dan tabi’in untuk Muawiyah Radhiallahu ‘Anhu, maka lemparlah ke tembok semua komentar buruk para pendengkinya.

Selesai. Wallahu A’lam

🍃🌻☘🌷🌸🌾🌺🌴

✏ Farid Nu’man Hasan

Tabur Bunga di Kubur

💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Apa hukum menabur bunga di kubur? (08220825xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillah wal Hamdulillah …

Afwan baru sempat ..

Para ulama berbeda pendapat dalam hal itu.

📌 Pertama, membolehkan bahkan menyunnahkan.

Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki Rahimahullah berkata:

يسن وضع جريدة خضراء للاتباع و سنده صحيح و لأنه يخفف عنه ببركة تسبيحها اذ هو اكمل من تسبيح اليابسة لما تلك من نوع حياة و قيس بها ما اعتيد من طرح الريحان و نحوه

Disunahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau dalam rangka mengikuti sunah, dan sanadnya shahih, dan hal itu bisa meringankan si ahli kubur mellui keberkahan tasbih pelepah kurma tsb. Lebih sempurna lagi tasbih dr yang pelepah masih basah karena itu termasuk jenis tanaman hidup, dan diqiyaskan dengan hal itu adalah menaburkan kembang harum dan semisalnya.
(Tuhfatul Muhtaj, 3/198)

Kedua. Pihak yang melarang bahkan membid’ahkannya.

Fatwa di Al Lajnah Ad Daimah:

وضع الأزهار أو الريحان أو ورق الشجر الأخضر أو غيرها على القبر زعمًا أنها تستغفر لصاحب القبر ما لم تيبس كل ذلك محدث وبدعة لا أصل له في الشرع المطهر، والمشروع هو الاستغفار للميت والدعاء له عند قبره أو في أي مكان، فذلك الذي ينفعه، وأما ما يحتج به بعض الناس على مشروعية وضع الجريد أو الورق الأخضر على القبور بحديث ابن عباس رضي الله عنهما، أن
(الجزء رقم : 7، الصفحة رقم: 450)
النبي صلى الله عليه وسلم مر بقبرين فقال: إنهما ليعذبان وما يعذبان في كبير، أما أحدهما فكان لا يستتر من البول، وأما الآخر فكان يمشي بالنميمة ثم أخذ جريدة رطبة فشقها نصفين فغرز في كل قبر واحدة، فسئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن ذلك فقال: لعله يخفف عنهما ما لم ييبسا رواه البخاري . فالجواب عن ذلك أن هذه الحادثة واقعة عين لا عموم لها في شخصين، أطلع الله نبيه صلى الله عليه وسلم على تعذيبهما وذلك خاص برسول الله صلى الله عليه وسلم، ولم يكن ذلك منه سنة مطردة في قبور المسلمين.

📌 Meletakkan kembang, bunga, daun2
-daunan, dgn menyangka bisa memohonkan ampun bagi ahli kubur adalah bid’ah, tidak ada dasarnya.

📌 Yg disyariatkan itu adalah mendoakannya memohonkan ampun di sisi kuburnya atau di mana saja

📌 Dasar pihak yg membolehkan, yaitu kisah Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam melewati dua kubur yg penghuninya sdg diazab, lalu Beliau menanamkan pelepah kurma basah ke dua kubur itu, yg dengan itu bs meringankan siksa kuburnya. (HR. Bukhari)

📌 Keistimewaan ini khusus bagi Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam saja, tidak berlaku umum.

📌 Maka tidak boleh kaum muslimin mengamalkannya karena bukan Sunnah.

(Fatwa no. 20517)

Jadi, perbedaan ini dikarenakan beda paham dalam memahami perbuatan Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam. Pihak yang menyunnahkan menilainya sebagai hujjah yang berlaku umum, pihak yang membid’ahkan menganggap itu adalah khusus bagi Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam saja.

Maka kita lihat kubur-kubur di negeri yang umumnya bermazhab Syafi’iy seperti Asia Tenggara, banyak ditumbuhi dedaunan, dan bunga-bunga.

Sementara di Arab Saudi, tidak demikian. Dibiarkan kering, ini tidak semata kondisi tanah atau iklim, tapi juga dipengaruhi pilihan pendapat fiqih ulamanya.

Demikian. Wallahu a’lam

🍄🌷🌴🌱🌸🍃🌵🌾

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top