Benarkah Boikot Harus Seizin Ulil Amri (Pemimpin)?

Bismillahirrahmanirrahim..

Salah satu wujud kepekaan iman seorang muslim adalah menampakkan kemarahan kepada para pembantai umat. Kemarahan tersebut tentu ditampilkan dengan cara efektif dan memiliki tujuan yaitu agar mereka jera dan tidak mengulangi lagi kejahatannya. Itu adalah kewajiban amar ma’ ruf nahi munkar setiap muslim yang mampu tanpa harus menunggu perintah penguasa atau pemerintah. Maka bantulah dengan apa pun yang bisa kita lalukan secara nyata, selain doa kita.

Imam Ibnu Daqiq al ‘Id Rahimahullah menjelaskan:

قالوا: ولا يختص الأمر بالمعروف والنهى عن المنكر بأصحاب الولاية بل ذلك ثابت لآحاد المسلمين وإنما يأمر وينهى من كان عالماً بما يأمر به وينهى عنه

Mereka (para ulama) mengatakan bahwa amar ma’ruf nahi munkar tidaklah khusus bagi penguasa saja, tapi ini berlaku bagi individu muslim mana pun. Sesungguhnya amar ma’ruf nahi munkar ini kewajiban bagi yang tahu jika ada hal yang memang mesti di perintah dan dicegah. (Syarh al Arbain an Nawawiyah, Hal. 113)

Syaikh al Albani menjelaskan:

أما كانوا محاربين ، فلا يجوز التعامل معهم ، سواء كانوا في الأرض التي احتلوها كاليهود في فلسطين ، أو كانوا في أرضهم ، ما داموا أنهم لنا من المحاربين ، فلا يجوز التعامل معهم إطلاقاً أما من كان مسالماً كما قلنا ، فهو على الأصل جائز

Ada pun jika mereka menyerang kaum muslimin, maka tidak boleh bermuamalah dengan mereka, sama saja, apakah bermuamalah dengan Yahudi yang saat ini menjajah Palestina atau mereka yang berada di negerinya sendiri selama mereka masih masih menyerang kami maka tidak boleh bermuamalah dengan mereka secara mutlak! Ada pun jika mereka mau berdamai seperti yang telah kami katakan, maka pada dasarnya boleh. (Silsilah al Huda wan Nuur, kaset no. 623)

Kita lihat… memboikot tetangga yang buruk dan jahat pun (walau dia muslim) boleh dilakukan tanpa harus menunggu diboikot pemerintah, apalagi memboikot penista Al Aqsha dan pembantai kaum muslimin.  Adalah pemikiran yang aneh untuk memboikot produk-produk musuh Islam menunggu perintah pemerintah dulu. Sekedar tidak belanja produk merk A, produk B.. Harus menunggu adanya aba-aba pemerintah Sungguh ini benar-benar aneh!

Hukum asal jual beli dengan siapa pun tentu halal, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun pernah beli gandum ke Yahudi sebagaimana hadits Imam Bukhari. Tapi, itu beda konteks dan kondisi yaitu kondisi damai dan wajar. Dalam konteks perang, atau menekan musuh dan pelaku kejahatan, maka fiqihnya tentu berbeda lagi.

Oleh karena itu para ulama pun memfatwakan boikot kepada Zionis Yahudi untuk menekan dan melawan mereka baik pada tahun 1973, dan tahun-tahun selanjutnya. Ini pernah saya bahas lebih dari belasan tahun lalu, baik difatwakan oleh Syaikh Muhammad bin Nashir as Sa’di, Syaikh al Albani, Syaikh Yusuf al Qaradhawi, Syaikh Farid al Washil, dan lainnya. Tidak ada fatwa-fatwa mereka mengatakan memboikot itu mesti menunggu pemboikotan dari pemerintah.

Demikian. Wallahu a’lam

✍ Farid Numan Hasan

Mengqadha Salat Sunnah

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum ustâdzuna. Ahsanallâhu ilaikum. Izin bertanya ustâdz, kalau kita mengqadha shalat sunnah yang terikat waktu (dhuha misal diqadha ba’da dhuhur) karena terlewat waktunya, apakah mendapatkan pahala yang sama seperti melakukannya sesuai waktunya Jazâkallâhu khairan

✒️❕JAWABAN

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Mengqadha shalat sunnah tidak semuanya dibolehkan.

Yang ada dalam sunnah adalah:

– Para ulama membolehkan mengqadha shalat malam di waktu shalat dhuha dalilnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah tidak shalat malam, lalu karena itu beliau melakukan 12 rakaat di waktu dhuha. Sebagian ulama lain mengatakan itu bukan qadha shalat malam, sebab tidak ada shalat malam 12 rakaat, tapi itu hanyalah jabran (menambal) pahala yang terlewat, sebagaimana kata Imam Ibnu Hajar.

– Qadha shalat sunnah fajar, dilakukan setelah subuh

– Qadha shalat rawatib zuhur, di waktu ba’da ashar.

Semua ini ada dalam sunnah. Tapi, kata Imam Asy Syaukani qadha ini tidak berlaku bagi orang yang sengaja tidak melakukan sunnah itu, lalu dia merencanakan qadha nantinya. Ini tidak boleh.

Ada pun mengqadha shalat Dhuha, di waktu setelah zuhur tidaklah diperkenankan.

Berkata Imam Abul ‘Abbas Ash Shawi Al Maliki Rahimahullah:

(وَلَا يُقْضَى نَفْلٌ) خَرَجَ وَقْتُهُ (سِوَاهَا)

“Shalat sunnah yang sudah keluar dari waktunya tidaklah diqadha kecuali shalat sunnah fajar.” (Hasyiyah Ash Shawi, jilid. 1, hal. 408)

Demikian. Wallahu a’lam

✏ Farid Nu’man Hasan

Sikap Syaikh Ahmad Yasin (HAMAS) terhadap Hizbullah (Syiah)

Wawancara Syaikh Ahmad Yasin Tentang Syiah dan Hizbullah di Koran AN NAHAR.

Syaikh ditanya:

يقول الله تعالى : ( الا ان حزب الله هم الفائزون) هل تنطبق هذه الآية على حزب الله الشيعي البناني ؟

Allah Ta’ala berfirman (Ketahuilah, sesungguhnya HIZBULLAH yang akan menjadi pemenang), apakah ayat ini tepat untuk HIZBULLAH Syi’ah Libanon?

Syaikh menjawab:

لا اعتقد .. ان حزب الله فى لبنان هو حزب شيعي لا يلتزم بأحكام كتاب الله وسنة رسوله .. والمسلمون سنة وليسوا شيعة .. وانا أعتقد بأن حزب الله الصحيح هو الذى يلتزم بأحكام كتاب الله وسنة رسوله، هذا إضافة الى الاختلاف الكبير بين السنة والشيعة .. إن حزب الله في لبنان لا يمثلنا ولا يمثل المسلمين في لبنان، هو بالتالي لا يمثل الا نفسه

Aku tidak meyakini hal itu .. Hizbullah di Libanon itu kelompok Syi’ah yang tidak berada di atas Al Quran dan Sunnah Rasul-Nya.. Kaum muslimin itu sunni, bukan Syi’ah.. aku meyakini bahwa Hizbullah yang benar adalah kelompok yang komitmen terhadap Al Quran dan Sunnah Rasul-Nya, ditambah lagi adanya perbedaan besar antara Sunni dan Syi’ah .. HIZBULLAH di Libanon tidak mewakili kami dan tidak mewakili umat Islam di Libanon, dan oleh karenanya dia hanya mewakili dirinya sendiri.

(Koran An Nahar, no. 797, 30 April 1989 M)

Ini sekaligus jawaban atas tuduhan dan fitnah bahwa HAMAS adalah syiah.

✍ Farid Numan Hasan

Fatwa Ulama Untuk Para Pencela Mujahidin

Sudah menjadi sunnatullah, para pejuang selalu mendapatkan ujian dan fitnah. Persis di awal kemerdekaan Indonesia, mereka disebut teroris oleh musuh-musuhnya dan kaki tangannya (Londo Ireng).

Saat ini, para mujahidin Palestina juga mengalaminya; dituduh dan diftnah sebagai teroris, khawarij, aqidahnya menyimpang, dll.

Jika fitnah dan tuduhan itu datangnya dari penjajah Zionis, kita sudah maklum, itu memang propaganda mereka. Tapi ini datangnya dari lisan muslim sendiri bahkan para da’i dan oknum ustadz di majelis-majelis mereka, lalu diikuti begitu saja oleh murid-muridnya secara taklid buta.

Lalu bagaimana syariat Islam memandang hal ini? Mencela sesama muslim adalah fasik, Rasulullah ﷺ bersabda:

سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ

Mecela seorang muslim adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekafiran. (HR. Bukhari no. 46)

Jika mencela muslim yang awam saja dinilai kefasikan atau kejahatan, maka apalagi mencela dan memfitnah para mujahidin pembela agama dan negaranya?

Al Mutanabbi dalam syairnya berkata:

لا خَيْل عِندك تُهْدِيها ولا مالُ * فلْيُسْعِد الـنُّطْق إن لم تُسْعِد الْحال

Anda tidak punya kuda perang dan harta yang bisa dipersembahkan

Maka bantulah dengan ucapan jika memang tidak bisa membantu dengan keadaan (perbuatan)

Ya, seharusnya seperti itu. Tapi yang kenyataannya ucapan mereka sangat kotor terhadap para pejuang kemerdekaan Palestina.

Mencela para mujahidin adalah perilaku kaum munafik seperti yang digambarkan dalam Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman:

َشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ تَدُورُ أَعۡيُنُهُمۡ كَٱلَّذِي يُغۡشَىٰ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلۡخَوۡفُ سَلَقُوكُم بِأَلۡسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلۡخَيۡرِۚ أُوْلَٰٓئِكَ لَمۡ يُؤۡمِنُواْ فَأَحۡبَطَ ٱللَّهُ أَعۡمَٰلَهُمۡۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا

Mereka (kaum munafiq) kikir terhadapmu. Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka kikir untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus amalnya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. Al Ahzab: 19)

Fatwa Syaikh Abdurrahman bin Abdullah As Suhaim, ulama KSA

Beliau ditanya:

ما حكم من يطعن بالمجاهدين الصادقين ويشهر بهم وينشر أخطاءهم ويشغل مجالسه بالطعن بالمجاهدين وتخطيئهم ورميهم تارة بالخوارج وتارة بالتكفيريين نعوذ بالله من ذلك؟

Apa Hukum orang yang mencela para mujahid yang jujur, menyebarkan kesalahan mereka, dan menyibukkan dalam majelis mereka dengan mencela para mujahidin, menyalahkan, dan melempar tuduhan, kadang menuduh khawarij, takfir, na’udzubillah min dzalik?

Beliau menjawab:

بعض الناس جَلَس في مجلسه واتكأ على أريكته وأخذ يُجرّح المجاهدين الصابرين والعلماء الصادقين
فلا هو بالذي قام يَعمل لِهذا الدِّين، ولا هو بالذي كفّ لسانه وخَزَنَه عن الطعن في العاملين !
والأخطَر من هذا إذا كانت مَصادِر ذلك المتكلِّم من وسائل إعلام آسِنة أو مُغرَّبَة! ربما تكون مصادر التلقّي عنده عن تلك الوسائل التي يُراد منها ومن إنشائها تشويه صورة الإسلام والمسلمين ، بل ” وأمْرَكة ” الأفكار والمفاهيم ! وذلك الطاعن في المجاهدين بِغير عِلم ، يَقِف في صف واحد وخندق واحد مع أعداء الأمة – رَضِي أو أبى – !

Sebagian orang duduk di kursinya dan bersandar di sofanya, dan menghina mujahidin yang sabar dan para ulama yang benar.

Dia (si pencela) bukanlah orang yang beramal demi agama ini, dan bukan pula orang yang menahan lidahnya dan menahan diri untuk tidak memfitnah para aktivis yang beramal!

Lebih berbahaya lagi adalah jika sumbernya berasal dari media yang kotor atau Barat! Sangat mungkin sumber penerimaannya berasal dari info yang dibuat-buat untuk mendistorsi citra Islam dan umat Islam, dan bahkan “Amerikanisasi” pemikiran dan pemahaman!

Siapa pun yang mencela Mujahidin tanpa ilmu, maka dia berdiri dalam satu barisan dan satu parit dengan musuh-musuh umat ini – suka atau tidak suka –!

هو يَخدم مصالح أعداء الأمّة ..
وهو لم يَلتمس عُذرا واحِداً لإخوان له وقَفُوا في وجه غزو آثم غاشم على بلد من بُلدان المسلمين ، فضلا عن أن يلتمس سبعين عُذرا ! والله المستعان . فلا يجوز لِقاعِد بعيداً عن الواقع أن يَطعن في إخوان له وَقَفُوا في وجه العدو، سواء في شرق الأرض أو في غربها

Dia melayani kepentingan musuh-musuh umat ini. Tidak ada satu pun alasan (uzur) baginya untuk menyerang saudara-saudaranya yang sedang menghadapi invasi brutal dan penuh kejahatan kepada sebuah negara Muslim, apalagi tujuh puluh alasan! Wallahul Musta’an!

Tidak boleh seseorang yang duduk-duduk saja dan jauh dari realita mencela saudara-saudaranya yang sedang berhadapan dengan musuh, baik yang berada di bumi timur maupun barat.

Sumber:

https://ar.islamway.net/fatwa/8011/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D9%85%D9%86-%D9%8A%D8%B7%D8%B9%D9%86-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%AC%D8%A7%D9%87%D8%AF%D9%8A%D9%86-%D8%A8%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%B1%D8%A7%D9%82-%D9%88%D9%8A%D9%86%D8%B4%D8%B1-%D8%A3%D8%AE%D8%B7%D8%A7%D8%A1%D9%87%D9%85-%D9%84%D8%AA%D8%AC%D8%B1%D9%8A%D8%AD%D9%87%D9%85

Kita lihat di atas, dengan tegas Syaikh mengatakan, para pencela mujahidin adalah musuh umat ini, dan mereka telah berdiri satu barisan dan satu parit dengan musuh-musuh Islam. Wallahul Musta’an!

✍ Farid Numan Hasan

scroll to top