Mewakilkan Umrah (Badal Umrah) Untuk yang Sudah Meninggal, Bisakah?

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN

apa benar ibadah umroh bisa di wakil kan untuk orang yang sudah meninggal?tolong penjelasan nya ustad,terimah kasih (Ales Muntashir-Sumatera Selatan)

✒️❕JAWABAN

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

Bismillahirrahmanirrahim..

Pertanyaan ini sudah sangat sering ditanya dan dibahas. Nampaknya perlu kami ulangi lagi.

Mewakilkan umrah (juga haji) untuk muslim yang sudah wafat atau tidak mampu lagi secara fisik adalah hal yang dibolehkan menurut para ulama secara umum, berdasarkan dalil-dalil yang begitu banyak.

Di antaranya, dari Abu Razin Al ‘Uqailiy, dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam lalu bertanya:

يا رسول الله إن أبي شيخ كبير لا يستطيع الحج و لا العمرة و لا الظعن : قال ( حج عن أبيك واعتمر )

Wahai Rasulullah, ayahku sudah sangat tua, tidak mampu haji, umrah, dan perjalanan. Beliau bersabda: “Haji dan umrahlah untuknya.”
(HR. Ibnu Majah No. 2906, At Tirmidzi No. 930, Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih)

Hadits lainnya:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلًا يَقُولُ لَبَّيْكَ عَنْ شُبْرُمَةَ قَالَ مَنْ شُبْرُمَةُ قَالَ أَخٌ لِي أَوْ قَرِيبٌ لِي قَالَ حَجَجْتَ عَنْ نَفْسِكَ قَالَ لَا قَالَ حُجَّ عَن نَفْسِكَ ثُمَّ حُجَّ عَنْ شُبْرُمَةَ

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi ﷺ mendengar seorang laki-laki berkata: “Labbaika dari Syubrumah.” Rasulullah bertanya: :”Siapa Syubrumah?” laki-laki itu menjawab: “Dia adalah saudara bagiku, atau teman dekat saya.” Nabi bersabda: “Engkau sudah berhaji?” Laki-laki itu menjawab: “Belum.” Nabi bersabda: “Berhajilah untuk dirimu dahulu kemudian berhajilah untuk Syubrumah.” (HR. Abu Daud No. 1813, Imam Al Baihaqi mengatakan: isnadnya shahih. Lihat Al Muharar fil Hadits, No. 665)

Hadits lainnya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا

Abdullah bin Buraidah dari bapaknya berkata, “Seorang wanita menemui Nabi ﷺ lalu bertanya, ‘Ibuku meninggal dan belum melaksanakan haji, apakah saya dapat berhaji untuknya?’ Beliau menjawab, ‘Ya. Berhajilah untuknya.’
(HR. At Tirmidzi no. 929, At Tirmidzi berkata: hasan shahih)

Dari hadits-hadits di atas menunjukkan kebolehan badal haji atau umrah atas nama orang yang sudah wafat atau tidak mampu secara fisik. Namun pembolehannya ini terikat syarat, yaitu:

1. Yang dibadalkan memang sudah wafat, atau fisik tidak memungkinkan, bukan karena menghindari antrean haji yg begitu lama misalnya.

2. Yang membadalkan sudah haji atau umrah juga sebagaimana hadits Syubrumah di atas, inilah pendapat mayoritas ulama.

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

شرط الحج عن الغير يشترط فيمن يحج عن غيره، أن يكون قد سبق له الحج عن نفسه

“Disyaratkan bagi orang yang menghajikan orang lain, bahwa dia harus sudah haji untuk dirinya dulu.” (Fiqhus Sunnah, jilid. 1, hal. 638)

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah disebutkan:

ذهب الفقهاء في الجملة إلى أنه يجوز أداء العمرة عن الغير؛ لأن العمرة كالحج تجوز النيابة فيها

Para ahli fiqih secara global mengatakan bolehnya menunaikan umrah untuk orang lain, karena umrah sebagaimana haji boleh dilakukan secara perwakilan padanya (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, jilid. 30, hal. 328)

Ada pun pada ulama mazhab memberikan rincian sebagai berikut:

– Hanafiyah mengatakan bahwa badal haji atau umrah boleh dan sah jika yang dibadalkan memerintahkan

– Malikiyah mengatakan makruh, tapi tetap sah

– Syafi’iyah mengatakan boleh perwakilan dalam menunaikan umrah dan haji baik untuk orang yang sudah wafat dan masih hidup tapi tdk mampu fisiknya walau tanpa izinnya

– Hanabilah mengatakan tidak boleh mengumrahkan orang yang masih hidup kecuali atas izin orang tsb, ada untuk yang sudah wafat boleh walau tanpa izinnya.(Ibid, jilid. 30, hal. 328-329)

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Ayyamul Bidh Bertepatan dengan Hari Tasyriq, Bagaimana Menyikapinya?

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN

Bagaimana hukum puasa ayyamul bidh yg bertepatan dengan hari tasyrik? Syukron ustadz (Irwandi-Sumbar)

✒️❕JAWABAN

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

Bismillahirrahmanirrahim..

Salah satu hari tasyriq adalah tanggal 13 Zulhijjah, dan itu termasuk hari dilarang untuk berpuasa. Berdasarkan beberapa hadits shahih berikut:

أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر لله

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah. (HR. Muslim No. 1141)

Dalam riwayat lain:

عَنْ أَبِي مُرَّةَ مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَلَى أَبِيهِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَرَّبَ إِلَيْهِمَا طَعَامًا ، فَقَالَ : كُلْ . فَقَالَ : إِنِّي صَائِمٌ . فَقَالَ عَمْرٌو : كُلْ فَهَذِهِ الأَيَّامُ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِإِفْطَارِهَا ، وَيَنْهَانَا عَنْ صِيَامِهَا

Dari Abu Murrah -pelayannya Ummu Hani- bahwa dia bersama Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash menjumpai ayahnya, ‘Amr bin Al ‘Ash. Dia memberikan makanan kepada mereka berdua, lalu berkata: “Makanlah!”

Dia menjawab: “Saya sedang puasa.”

‘Amr berkata: “Makanlah, ini adalah hari-hari yang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kita diperintahkan untuk makan minum dan dilarang bagi kita untuk berpuasa. (HR. Abu Daud No. 2418, shahih)

Maksud “hari-hari” dalam hadits di atas adalah hari-hari tasyriq, seperti yang dikatakan Imam Malik Rahimahullah.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata:

ولا يحل صيامها تطوعا , في قول أكثر أهل العلم , وعن ابن الزبير أنه كان يصومها . وروي نحو ذلك عن ابن عمر والأسود بن يزيد ، وعن أبي طلحة أنه كان لا يفطر إلا يومي العيدين . والظاهر أن هؤلاء لم يبلغهم نهي رسول الله صلى الله عليه وسلم عن صيامها , ولو بلغهم لم يعدوه إلى غيره

Tidak halal berpuasa sunnah di hari tasyriq, menurut mayoritas ulama. Diriwayatkan dari Ibnu Az Zubeir bahwa dia berpuasa di hari-hari tersebut. Diriwayat oleh Ibnu Umar, Al Aswad bin Yazid, dari Abi Thalhah, bahwa mereka tidak pernah berhenti shaum kecuali di dua hari raya. Namun, yang benar adalah hadits-hadits larangannya belum sampai kepada mereka, namun apabila sudah sampai kepada mereka maka mereka tidaklan melakukannya. (Al Mughni, 3/51)

Lalu bagaimana dengan puasa Ayyamul Bidh, karena salah satunya adalah tanggal 13? Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Qudamah di atas :

Tidak halal berpuasa sunnah di hari tasyriq, menurut mayoritas ulama.

Maka, tidak diperkenankan seseorang berpuasa sunnah termasuk Ayyamul Bidh pada hari itu. Namun, dia bisa menggantikan puasa tanggal 13 Zulhijjah tsb di hari lain setelahnya dan itu tetap sah. Dia bisa memilih tanggal berapa pun di bulan Zulhijjah setelah itu.

Hal ini berdasarkan hadits Mu’adzah al ‘Adawiyah Radhiallahu ‘Anha, Beliau bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

«أَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ؟» قَالَتْ: «نَعَمْ»، فَقُلْتُ لَهَا: «مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُومُ؟» قَالَتْ: «لَمْ يَكُنْ يُبَالِي مِنْ أَيِّ أَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُومُ»

“Apakah Rasulullah berpuasa tiap bulannya sebanyak tiga hari?” Aisyah menjawab: “Ya.” Aku bertanya lagi: “Di hari apa pada bulan tersebut dia berpuasa?” Aisyah menjawab: “Dia berpuasa tiga hari tsb tidak mementingkan dihari yang mana pada bulan tersebut.”

(HR. Muslim no. 1160)

Al Qadhi ‘Iyyadh Rahimahullah menjelaskan:

“Puasa tiga hari pada tiap bulan menurut segolongan salaf dan ulama adalah hal yang tidak diperselisihkan lagi (kesunnahannya) dan TIDAK ADA hari spesifiknya.”

(Al Qadhi ‘Iyyadh, Ikmal al Mu’lim, 4/132)

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Ash Shadiquun – Orang-Orang Jujur

Al Harits Al Muhasibiy Rahimahullah berkata:

الصادق هو الذي لا يبالي ولو خرج عن كل قدر له في قلوب
الخلائق من أجل صلاح قلبه ولا يحب إطلاع الناس على مثاقيل الذر من حسن عمله ولا يكره إطلاع الناس على السئ من عمله فإن كراهته لذلك دليل على أنه يحب الزيادة عندهم وليس هذا من أخلاق الصديقين

Orang Jujur lagi benar adalah orang yang tidak memperhatikan segala penghargaan manusia kepadanya, demi kedamaian hatinya. Dia tidak suka manusia mengetahui kebaikan dirinya walau seberat atom. Dia tidak menarus rasa benci jika manusia tahu kejelekan dirinya. Kebencian itu hanyalah menunjukkan bahwa dia menginginkan tambahan perhatian dari mereka. Itu bukan akhlak orang-orang yang jujur

Imam An Nawawi, At Tibyan fi Adab Hamalah Al Quran, Hal. 33

☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Berqurban Ke Gaza

Ini diistilahkan dengan Naqlul Udhhiyah (Distribusi Hewan Qurban)

Pada dasarnya anjuran qurban pelaksanaan dan pendistribusian adalah di negeri sendiri bahkan di kampung sendiri.

Dengan demikian pemilik qurban dapat melaksanakan tiga sunnah:

1. Menyembelih sendiri jika mampu
2. Jika tidak mampu, maka disunnahkan menyaksikan qurbannya saat disembelih
3. Ikut memakan daging qurban tersebut

Ketiga sunnah ini akan sulit bahkan tidak bisa diraih jika qurban di luar daerahnya.

Distribusi qurban ke negeri lain ada dua bentuk:

1. Mengirim uangnya ke luar daerahnya dan diamanahkan ke seseorang atau sekelompok orang sebagai tawkil (perwakilan) dari pemilik qurban.

2. Bisa juga disembelih di negeri sendiri oleh sebuah lembaga lalu diolah menjadi matang atau dibekukan (frozen) untuk dikirim ke luar negeri.

Pada dasarnya qurban di luar domisili pemilik (shahibul qurban), umumnya ulama melarang ada pula yang memakruhkan kecuali di luar daerah tersebut lebih membutuhkan dibanding daerahnya, maka ini boleh.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan sbb:

– Hanafiyah: sah tapi makruh, kecuali di luar daerah yang dituju ada kerabatnya atau kondisi di sana lebih membutuhkannya.

– Malikiyah: tidak boleh, yaitu jika jarak “luar daerah” yg dituju sudah sama dengan jarak dibolehkannya shalat qashar atau lebih. Kecuali kondisi di luar daerah tersebut lebih membutuhkan. Maka, boleh sebagian besar diberikan ke daerah yang membutuhkan itu, dan bagian yang sedikit bisa di berikan di tempatnya.

– Syafi’iyyah dan Hanabilah, sama dengan Malikiyah, yaitu tidak boleh di daerah luar yg jaraknya sudah boleh shalat qashar atau lebih. Bagi mereka qurbannya tetap sah tapi haram, kecuali di luar lebih butuh.

(Al Fiqhul Islami Wa Adillatuhu, jilid. 4, hal. 282)

Jika melihat semua pendapat empat mazhab, maka semuanya sepakat bahwa qurban itu terlarang di luar daerah domisili pequrban.

Tapi, mereka juga sepakat hal itu dibolehkan jika di luar sana kondisinya lebih membutuhkan dibanding daerah si mudhahi (pequrban). Maka, jika kita lihat kondisi Palestina secara umum dan Gaza secara khusus, maka qurban ke Palestina khususnya Gaza adalah sah dan dibolehkan.

Hal ini diperkuat oleh penjelasan para imam berikut. Di antaranya:

Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi Rahimahullah:

سواء كان بلده او موضعه من السفر بخلاف الهدى فإنه يختص بالحرم و فى نقل الأضحية وجهان حكاهما الرافعى و غيره تخريجا من نقل الزكاة

(Qurban itu sebaiknya di tempat sendiri) Sama saja baik di negerinya sendiri atau di negeri singgah saat dia safar, berbeda dengan Al Hadyu (qurban jamaah haji), itu khusus di tanah haram. Adapun pemindahan hewan qurban ada dua sudut pandang, hal itu diceritakan oleh Ar Rafi’iy dan lainnya, dikeluarkannya sebagaimana pendistribusian zakat (yakni BOLEH).

(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 7/404)

Ulama nusantara, Syaikh Nawawi Al Bantani:

و فى نقل الأضحية وجهان قياسا على نقل الزكاة و الصحيح هنا الجواز

Dalam masalah distribusi hewan qurban (ke luar daerah) ada dua pendapat diqiyaskan pada distribusi zakat, pendapat yang BENAR adalah BOLEH. (Tsimar Al Yani’ah, Hal. 82)

Juga difatwakan oleh para ulama dunia di zaman modern, di antaranya Al Ittihad Al ‘Alami Li ‘Ulamail Muslimin (Ikatan Ulama Muslimin Sedunia),  yang dirintis oleh Al Imam Yusuf Al Qaradhawi Rahimahullah, yang saat ini diketuai oleh Syaikh Ali Al Qurrah Daghi Hafizhahullah.

Berikut ini fatwanya:

ترى اللجنة جواز نقل الأضحية – ولو مجمدة أو معبئة- من بلد لآخر إن كان ينقلها إلى ذي قرابة، أو إلى قوم هم أحوج إليها من بلده، وهو رأي جماهير الفقهاء، أما إن لم يكن هناك حاجة أو داع لنقلها، فالخلاف بين الفقهاء مشتهر، بين القول بالكراهة، أو بالجواز، أو بالحرمة مع كونها تجزئه. وترجح اللجنة أن نقلها مجزئ مطلقا، وهو ما ذهب إليه غالب الفقهاء المعاصرين ، وبخاصة أن الحاجة ماسة إليها في الدول التي تكثر فيها الحروب والطوارئ وتقع فيها المجاعات، وعلى رأس ذلك اليوم ما أصاب أهل غزة، فيشرع نقلها من بلد المزكي إلى غزة أو السودان ، وما شابههما من بلاد المسلمين الذين هم أحوج ما يكونون إلى الطعام والشراب المعتاد فضلا عن حاجتهم إلى اللحوم التي قد تقيم صلبهم أياما وأسابيع.

Lajnah Fatwa berpendapat bolehnya naqlul udhhiyah (distribusi qurban) baik dalam keadaan beku (frozen) atau dikemas dari satu negeri ke negeri lainnya, jika dia mendistribusikan ke kerabatnya, atau kaum yang lebih membutuhkannya dibanding negerinya, dan ini adalah pendapat mayoritas para fuqaha.

Akan tetapi, jika tidak ada keperluan dan alasan untuk mendistribusikannya, maka terjadi perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha antara yang mengatakan makruh, boleh, dan haram namun tetap sah.

Lajnah fatwa mentarjih bahwa pendistribusian ini adalah sah secara mutlak, dan ini adalah pendapat mayoritas ahli fiqih kontemporer, khususnya teruntuk negeri yg kebutuhannya mendesak seperti di negara-negara yg banyak terjadi peperangan, keadaan darurat, serta kelaparan, terutama saat ini yang terjadi di penduduk Gaza.

Sehingga diperbolehkan didistribusikan dari negara asal ke Gaza atau Sudan, dan negara-negara serupa di negara-negara Islam, yang sangat membutuhkan makanan dan minuman yang secara normal, terutama kebutuhan mereka thdp daging yang dapat menguatkan tulang punggung mereka selama berhari-hari dan berminggu-minggu. Wallahu A’lam

(https://iumsonline.org/ar/ContentDetails.aspx?ID=35317)

Demikian. Wallahu A’lam

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top