Kalimat doa qunut “Allahummah Dini Fiman Hadait .. dst”, tidak ada dalam kitab hadits Kutubus Sittah?

Kutubus Sittah adalah enam kitab-kitab hadits primer:

1. Shahih Al Bukhari
2. Shahih Muslim
3. Sunan At Tirmidzi
4. Sunan Abu Daud
5. Sunan An Nasa’i
6. Sunan Ibnu Majah

Ada pun pertanyaan apakah benar doa qunut dengan lafaz “Allahummah dini fiman hadait … Dst” tidak ada dalam Kutubus Sittah .. maka itu tidak benar.

Kalimat “Allahummah dini fiman hadait”.. Dst, ada di dalam kitab-kitab Kutubus Sittah, sebagai berikut:

1. Sunan Abi Daud, Kitab Tafri’ ‘Alal Witri, Bab Al Qunut Fil Witri, no. hadits. 1425. Penerbit: Dar Ibnul Jauzi, Kairo.

Rasulullah ﷺ mengajarkan Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhuma agar membaca saat qunut witir.

Dengan teks sbb:

١٤٢٥ – حدَّثنا قُتيبة بن سعيدِ وأحمدُ بنُ جواس الحنفي، قالا: حدَّثنا أبو الأحوص، عن أبي إسحاق، عن بُريد بن أبي مريم، عن أبي الحَوْراء قال: قال الحسنُ بنُ عليّ: عَلَّمني رسولُ الله – صلَّى الله عليه وسلم – كلماتٍ أقولُهُنَّ في الوِتر – قال ابن جوَّاس في قنوتِ الوتر -: “اللهُم اهْدِني فيمَنْ هَدَيتَ، وعافِني فيمَنْ عافَيْتَ، وتَوَلني فيمَنْ تَوَلَيتَ، وبارِكْ لي فيما أعطيتَ، وقني شَرَّ ما قَضَيْتَ، إئك تقضي ولا يُقضَى عَليك، وإنه لا يَذلُ مَنْ وَالَيتَ، تبارَكْت رَبَّنا وتَعَالَيتَ”

2. Sunan An Nasa’i, Kitab Qiyamul Lail wa Tathawwu’ fi Nahar, Bab Ad Du’a fil Witri, no hadits. 1745. Penerbit: Dar Ibnul Jauzi.

Dengan teks sbb:

١٧٤٥ – أَخْبَرَنَا ‌قُتَيْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا ‌أَبُو الْأَحْوَصِ ، عَنْ ‌أَبِي إِسْحَاقَ ، عَنْ ‌بُرَيْدٍ ، عَنْ ‌أَبِي الْجَوْزَاءِ قَالَ: قَالَ ‌الْحَسَنُ : «عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ فِي الْقُنُوتِ: اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ»

3. Sunan At Tirmidzi, Kitab Abwabul Witri, Bab Maa Jaa’a fil Qunut fil Witri, no hadits. 464. Penerbit: Dar Ibnul Jauzi, Kairo.

Dengan teks hadits sbb:

٤٦٤- حدثنا قتيبة حدثنا أبو الأحوص عن أبي إسحق عن بريد بن أبي مريم عن أبي الحوراء السعدي قال: قال الحسن بن علي رضي الله عنهما: علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم كلمات أقولهن في الوتر: اللهم اهدني فمين هديت وعافني في من عافيتن وتولني فيمن توليت وبارك لي فيما أعطيت وقني ما قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك وإنه لا يذل من واليت تباركت ربنا وتعاليت

4. Sunan Ibnu Majah, Kitab Iqamatush Shalah was Sunah fiiha, Bab Maa Jaa’a fil Qunut fil Witri, no hadits. 1178. Penerbit: Dar Ibnul Jauzi, Kairo.

Dengan teks hadits sbb:

١١٧٨- حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، قَالَ: عَلَّمَنِي جَدِّي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ: «اللَّهُمَّ عَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَاهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، سُبْحَانَكَ رَبَّنَا تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ»

Selain itu, juga ada di Musnad Ahmad bin Hambal, dalam Musnad Ahlil Bait, Hadits Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, no hadits. 1718. Penerbit: Darul Hadits, Kairo.

Dengan teks sbb:

١٧١٨ – حدثنا وكيع حدثنا يونس بن أبي إسحق عن بُرَيْد بن أبي مريم السَّلُولي عن أبي الحَوْراء عن الحسن بن علي: قال: علَّمني رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كلماتٍ أقولهن في قنوت الوتر: “اللهم اهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولني فيمن تولَّيت، وبارك لى فيما أَعطيت، وقني شرَّ ما قضيتَ، فإنك تَقْضي ولا يُقْضى عليك، إنه لا يَذلُّ من واليت، تباركتَ ربَّنا وتعاليت”.

Dan beberapa kitab lainnya selain Kutubus Sittah.

Maka, tidak benar bacaan dengan lafaz tersebut tidak ada dalam kitab Kutubus Sittah.

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Menjanjikan Hibah, Tapi Keburu Wafat

 PERTANYAAN:

AssalamualaikumWW

Ustadz Farid Numan ykc.

1. Bolehkah seorang Ayah akan memberi hibah kepada isteri dan anak anak kandung masing2 berupa saham di perusahaan pribadinya masing2 5%, yang berlaku misal sejak 1 Januari 2027 (sudah ttd perubahan di hadapan notaris, lengkap)

2. Bagaimana jika ternyata sebelum 1 Januari 2027 si Ayah wafat, apakah hibah saham tetap berlaku di tanggal 1 Jan 2027 ataukah batal dan seluruh saham perusahaan dibagikan seperti hitungan waris?

3. Jika tetap berlaku hibah tersebut di tanggal 1 Jan 2025, bagaimana pembagian hasil usaha sampai 1 Jan 2027, dibagikan kepada ahli waris sesuai hitungan warisan atau bagaimana?

Jazakallah khairan


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Tentang hibah yang berlaku mulai 1 Januari 2027, perlu diingat, hibah (pemberian hidup) dalam syariat hanya sah bila:

– Ada ijab–qabul (akad hibah)

– Ada qabdh (serah terima nyata)

– Dilakukan semasa pemberi hibah masih hidup.

Kalau seorang ayah sudah menandatangani akta di notaris bahwa hibah itu baru berlaku mulai 1 Januari 2027, maka pada hakikatnya itu belum hibah murni, melainkan janji hibah atau wasiat tersembunyi. Karena harta baru akan berpindah pada waktu yang ditentukan (di masa depan), bukan saat akad sekarang.

Lalu, bagaimana jika ayah wafat sebelum 1 Januari 2027?

Kalau wafat sebelum hibah berlaku, maka hibah tersebut batal secara syariat, karena harta masih milik ayah saat ia wafat.

Maka seluruh saham akan masuk ke harta warisan, lalu dibagikan sesuai hukum faraidh (waris).

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Umrah atau Bayar Utang Dulu?

 PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum Ustadz Farid Nu’man …ijin bertanya Umroh atau membayar hutang dahulu ?

 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Untuk utang yang mendesak untuk dibayar, atau yang jatuh tempo, maka jelas dahulukan utang dulu.

Imam Al Bukhari Rahimahullah menjelaskan:

مَنْ تَصَدَّقَ وَهُوَ مُحْتَاجٌ ، أَوْ أَهْلُهُ مُحْتَاجٌ ، أَوْ عَلَيْهِ دَيْنٌ : فَالدَّيْنُ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى مِنْ الصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ وَالْهِبَةِ

Barang siapa yang bersedekah, padahal dia sedang butuh, atau keluarganya butuh, atau dia punya hutang, maka hutang itu lebih berhak ditunaikan dulu, dibanding sedekah, memerdekakan budak, dan hibah.

(Shahih Al Bukhari, 2/112)

Untuk utang lunak dan jangka panjang, tidak mendesak dilunaskan saat itu juga, tidak apa-apa umrah dulu khususnya umrah yang wajib (yang pertama) ..

Syaikh Utsaimin menjelaskan:

أما إذا كان الدين مؤجلاً، وإذا حل وعندك ما يوفيه : فتصدق ولا حرج ؛ لأنك قادر

Jika hutangnya bisa ditunda pembayarannya, dan Anda punya apa-apa yang bisa dijadikan pemenuhan hutang itu, maka sedekahlah dan tidak apa-apa, sebab Anda mampu. (selesai dari Asy Syarh Al Kaafiy)

Wallahu A’lam

Baca juga: Bolehkah Utang Untuk Umroh?

✍️ Farid Nu’man Hasan

Lupa Rukun Salat Apakah Harus Sujud Sahwi?

 PERTANYAAN:

Ustadz, izin bertanya mengenai sujud sahwi.. ketika kita lupa/meninggalkan rukun dlm sholat, apakah kita cukup hanya sujud sahwi atau bagaimana?

 JAWABAN

▪▫▪

Bismillahirrahmanirrahim..

Jika sengaja meninggalkan salah satu rukun, maka shalatnya batal .. jika tidak sengaja atau lupa, shalatnya tetap sah tapi segera dia lakukan itu jika memungkinkan.. dan diakhiri dengan sujud sahwi.

Al ‘Allamah Al Qaradhawi:

وتبطل الصلاة بترك ركن من أركانها عمدًا ، كترك ركوع أو سجود.. ونحو ذلك، ولا تبطل إن تركها سهوًا، وإنما عليه أن يأتي بالذي تركه ويسجد للسهو، ما عدا تكبيرة الإحرام والنية، فمن ترك النية أو تكبيرة الإحرام بطلت صلاته، وتجب إعادتها، سواء ترك ذلك عمدا أو سهوا

Shalat batal jika seseorang meninggalkan salah satu rukun shalat dengan sengaja, seperti meninggalkan ruku’ atau sujud dan semacamnya. Namun, jika ia meninggalkannya karena lupa, maka shalatnya tidak batal; ia hanya wajib melakukan rukun yang ditinggalkannya itu dan sujud sahwi. Kecuali takbiratul ihram dan niat – barangsiapa meninggalkan niat atau takbiratul ihram, maka shalatnya batal dan wajib diulangi, baik ia meninggalkannya dengan sengaja maupun karena lupa. (Fiqhush Shalah, hal. 271)

Bagaimana jika rukun yang tertinggal tersebut sudah tidak mungkin dilakukan? Misal, di rakaat kedua teringat bahwa rakaat satu belum baca Al Fatihah, atau sujudnya hanya sekali …maka dalam hal ini ada dua pendapat:

– Batal dan wajib diulangi, ini Mazhab Hanafi

– Tidak batal, namun rakaat yang ketinggalan rukun tersebut dianggap tidak ada atau tidak dihitung sebagai rakaat. Ini pendapat mayoritas ulama.

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah:

أَمَّا تَرْكُهُ عَمْدًا: فَقَدِ اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى أَنَّ مَنْ تَرَكَ رُكْنًا مِنْ أَرْكَانِ الصَّلاَةِ عَمْدًا فَإِنَّ صَلاَتَهُ تَبْطُل وَلاَ تَصِحُّ مِنْهُ. وَأَمَّا تَرْكُهُ سَهْوًا أَوْ جَهْلاً فَقَدِ اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يَأْتِيَ بِهِ إِنْ أَمْكَنَ تَدَارُكُهُ، فَإِنْ لَمْ يُمْكِنْ تَدَارُكُهُ فَإِنَّ صَلاَتَهُ تَفْسُدُ عِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ، أَمَّا الْجُمْهُورُ فَقَالُوا: تُلْغَى الرَّكْعَةُ الَّتِي تَرَكَ مِنْهَا الرُّكْنَ فَقَطْ وَذَلِكَ إِذَا كَانَ الرُّكْنُ الْمَتْرُوكُ غَيْرَالنِّيَّةِ وَتَكْبِيرَةِ الإِْحْرَامِ، فَإِنْ كَانَا هُمَا اسْتَأْنَفَ الصَّلاَةَ؛ لأَِنَّهُ غَيْرُ مُصَلٍّ

Adapun meninggalkan (rukun shalat) dengan sengaja: Para fuqaha (ulama fikih) sepakat bahwa siapa saja yang sengaja meninggalkan salah satu rukun shalat, maka shalatnya batal dan tidak sah.

Adapun jika meninggalkannya karena lupa atau tidak tahu, para ulama juga sepakat bahwa ia wajib melakukannya kembali (mengulang bagian yang ditinggalkan) jika masih memungkinkan untuk diperbaiki.

Namun, jika sudah tidak mungkin diperbaiki, maka:

Menurut mazhab Hanafiyah, shalatnya menjadi rusak (batal).

Sedangkan jumhur (mayoritas ulama) berpendapat: rakaat yang di dalamnya rukun tersebut ditinggalkan dianggap batal saja, dan ia harus mengganti rakaat itu, selama rukun yang ditinggalkan bukan niat atau takbiratul ihram.

Karena apabila yang ditinggalkan adalah niat atau takbiratul ihram, maka ia harus mengulangi shalat dari awal, sebab tanpa keduanya ia belum dianggap sebagai orang yang sedang shalat.”

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/131-132)

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top