Setelah Salat Langsung Kultum Tanpa Dzikir dan Ba’diyah

✉️❔PERTANYAAN

Assalaamualaikum…izin tanya ustadz…dimasjid tempat saya kerja..biasanya setelah selesai sholat zhuhur..langsung ada kultum..tanpa dzikir dan sholat sunnah dahulu sebelumnya..dan ini rutin…apakah ini termasuk bagian dari Sunnah kah..?..mohon penjelasannya..Jazaakallahu khair..

✒️❕JAWABAN

Wa’alaikumussalam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Sesekali boleh dilakukan, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

– Dari ‘Uqbah bin Al Harits Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَصْرَ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ سَرِيعًا دَخَلَ عَلَى بَعْضِ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ وَرَأَى مَا فِي وُجُوهِ الْقَوْمِ مِنْ تَعَجُّبِهِمْ لِسُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ تِبْرًا عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يُمْسِيَ أَوْ يَبِيتَ عِنْدَنَا فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ

“Aku shalat ashar bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika Beliau salam, beliau berdiri cepat-cepat lalu masuk menuju sebagian istrinya, kemudian  Beliau keluar dan memandang kepada wajah kaum yang nampak terheran-heran lantaran ketergesa-gesaannya. Beliau bersabda: “Aku teringat biji emas yang ada pada kami ketika sedang shalat, saya tidak suka mengerjakannya sore atau kemalaman,  maka saya perintahkan agar emas itu dibagi-bagi.” (HR. Bukhari No. 1221)

– Dari Rifa’ah bin Rafi’, dia berkata;

صَلَّيْتُ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَطَسْتُ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصَرَفَ فَقَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّانِيَةَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ فَلَمْ يَتَكَلَّمْ أَحَدٌ ثُمَّ قَالَهَا الثَّالِثَةَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ رِفَاعَةُ بْنُ رَافِعٍ ابْنُ عَفْرَاءَ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ كَيْفَ قُلْتَ قَالَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مُبَارَكًا عَلَيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ ابْتَدَرَهَا بِضْعَةٌ وَثَلَاثُونَ مَلَكًا أَيُّهُمْ يَصْعَدُ بِهَا

“Aku shalat dibelakang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu aku bersin, dan aku berkata:Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi mubarakan ‘alaih kama yuhibbu rabbuna wa yardha (segala puji bagi Allah, dengan pujian yang banyak lagi baik dan keberkahan di dalamnya, dan keberkahan atasnya, sebagaimana yang disukai Tuhan kami dan diridhaiNya). Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selesai shalat, dia bertanya: “Siapa yang mengatakan tadi dalam shalat?”. Tidak ada satu pun yang menjawab. Beliau bertanya lagi kedua kalinya: “Siapa yang mengatakan tadi dalam shalat?”. Tidak ada satu pun yang menjawab.  Beliau bertanya lagi ketiga kalinya: “siapa yang yang mengatakan tadi dalam shalat?” maka, berkatalah Rifa’ah bin Rafi’ bin ‘Afra: “Saya wahai Rasulullah!” Beliau bersabda: “Bagaimana engkau mengucapkannya?” dia menjawab: “Aku  mengucapkan: ” Alhamdulillah hamdan katsiran thayyiban mubarakan fihi mubarakan ‘alaih kama yuhibbu rabbuna wa yardha.” Maka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, sebanyak tiga puluh Malaikat saling merebutkan siapa di antara mereka yang membawanya naik (kelangit).” (HR. At Tirmidzi No. 402, katanya: hasan.  )

Dalam dua hadits ini menunjukkan, setelah shalat Rasulullah pernah tidak dzikir tapi langsung memberikan nasihat. Hal ini karena ada hajat untuk melakukannya.

Maka, sesekali saja tidak apa, namun lebih seringnya adalah berdzikir sebagaimana mestinya.

WallahuA’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Berkurban dengan Uang Haram

✉️❔PERTANYAAN

Ustd, jika ada yg mau berkurban tp kita tau bahwa sumber pencaharian mereka dari Narkoba, gmn sikap kita sebagai panitia kurban? Atau jika dapat pembagian daging kurban nya, gmn hukumnya? Jzklh

✒️❕JAWABAN

Bismillahirrahmanirrahim..

Ada dua sisi:

Pertama. Sisi pemilik harta haram tsb, sedekah atau qurban itu tidak bermanfaat baginya tidak mendatangkan pahala. Walau ibadahnya sah.

Sebagaimana ayat:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ

Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil. (QS. Al Baqarah: 42)

Juga hadits:

ان الله طيب لا يقبل الا طيبا

Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali dari yang baik-baik. (HR. Muslim)

Imam Al Ghazali Rahimahullah berkata tentang org beribadah dgn harta haram:

…أو يبنى مدرسة أو مسجد أو رباطا بمال حرام و قصده الخير فهذا كله جهل و النية لا تؤثر فى إخراجه عن كونه ظلما و عدوانا و معصية

.. atau membangun sekolah, masjid, menggunakan harta yang haram dan maksudnya kebaikan. Maka semua ini adalah kebodohan, dan niat yang baik tidaklah berdampak pada mengeluarkannya dari lingkup zalim, pelanggaran, dan maksiat. (Ihya ‘Ulumuddin, 4/357)

2. Sisi penerimanya, mereka tidak salah. Kecuali harta tersebut adalah harta curian, dan diketahui kalo itu curian, maka wajib ditolak dan kembalikan ke pemilik aslinya.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

وأما المحرم لكسبه فهو الذي اكتسبه الإنسان بطريق محرم كبيع الخمر ، أو التعامل بالربا ، أو أجرة الغناء والزنا ونحو ذلك ، فهذا المال حرام على من اكتسبه فقط ، أما إذا أخذه منه شخص آخر بطريق مباح فلا حرج في ذلك ، كما لو تبرع به لبناء مسجد ، أو دفعه أجرة لعامل عنده ، أو أنفق منه على زوجته وأولاده ، فلا يحرم على هؤلاء الانتفاع به ، وإنما يحرم على من اكتسبه بطريق محرم فقط

Harta haram yang dikarenakan usaha memperolehnya, seperti jual khamr, riba, zina, nyanyian, dan semisalnya, maka ini haram hanya bagi yang mendapatkannya saja. Tapi, jika ada ORANG LAIN yang mengambil dari orang itu dengan cara mubah, maka itu tidak apa-apa, seperti dia sumbangkan untuk masjid dengannya, bayar gaji pegawai, nafkah buat anak dan istri, hal-hal ini tidak diharamkan memanfaatkan harta tersebut. Sesungguhnya yang diharamkan adalah bagi orang mencari harta haram tersebut.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 75410)

Demikian. Wallahu a’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Lupa Tasyahud Awal, Batalkah Shalatnya?

✉️❔PERTANYAAN

Assalamualaykum ustadz Farid, semoga Allah Ta’ala merahmati kita semua.. Aamin..

Maaf ada pertanyaan dari saya yg slm ini saya blm paham.

Ketika jadi ma’mum shalat fardhu yg 4 rakaat. Sang Imam lupa rakaatnya yg ke dua, sehingga Imam tanpa tasyahud yang pertama langsung berdiri rakaat ke tiga. Si ma’mum pun juga lupa dan tak sadar juga mengikuti sang Imam. Ketika telah selesai rakaat ke tiga makmum baru ingat bhw sang imam blm tasyahud awal (lupa rakaat ke dua).

Nah, kita sbg ma’mum harus bagaimana tadz, apakah terus ikuti imam hingga mengakhiri shalatnya atau setelah selesai shalat kita sujud sahwi atau bagaimana tadz. Mhn penjelasannya tadz..

Trmks sebelumnya tadz… Semoga Allah merahmati antum dan kita semua. Aamiin…

✒️❕JAWABAN

Wa’alaikumussalam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Hukum Tasyahud awal itu diperselisihkan para ulama.

1. WAJIB, ini adalah pendapat:

– Hanafiyah (Ad Durul Mukhtar, 1/466)
– Hanabilah (Al Inshaf, 2/83)
– mayoritas ahli hadits (Nailul Authar, 2/314)

2. SUNNAH, ini pendapat MAYORITAS ahli fiqih. (Fatawa asy Syabakah Islamiyah no. 59826)

Kedua pihak sepakat mesti sujud sahwi baik imam atau makmum jika memang semuanya mengalami seperti itu. Jika lupa sujud sahwi, dan baru ingat setelah shalat, maka segeralah sujud sahwi. Tapi jika ingatnya sudah lama misal ingatnya 1 jam kemudian, maka tidak apa-apa, namun shalatnya tidak sempurna menurut jumhur karena meninggalkan sunnah.

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Bir Jahe

✉️❔PERTANYAAN

Assalamualaikum, izin bertanya istadz Tentang bir jahe, apakah Halal? Krn mengandung alkohol meski dibawah 5℅ tapi bisa juga diatas itu. Krn bir jahe dibuat dg proses fermentasi.

✒️❕JAWABAN

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Jika alkohol tersebut muncul secara alami, sebagaimana pada durian, nasi, buah-buahan yang dijus. Semua kita kita mengkonsumsinya, ini tidak apa-apa apalagi prosentasenya sangat sedikit dan bisa diabaikan. Karena bukan termasuk muskir dan khamr.

Ada pun untuk alkohol yang dibuat dengan fermentasi, walau tidak sampai 5% dan tidak memabukkan, maka menghindari lebih utama.

Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:

فإذا اشتمل الشراب على نسبة من الكحول لكنه كان لا يسكر لو شرب بكميات كبيرة فمن العلماء من يرى أنه لا حرج في شرب ما هذا شأنه لكون الكحول مستهلكا في المائع الطاهر، والأحوط اجتناب مثل هذا الشراب، وأما إذا كان يسكر شرب الكثير منه فلا شك في تحريمه، ومتعاطيه شارب للخمر ولو تعاطى القليل منه

Jika minuman tersebut mengandung sedikit alkohol, namun tidak memabukkan jika diminum dalam jumlah banyak, maka sebagian ulama berpendapat bahwa meminum minuman seperti itu tidak mengapa, karena alkohol tersebut telah lebur pada air yang suci, namun lebih hati-hati adalah menghindari minuman tersebut. Sedangkan jika memabukkan karena meminumnya dalam jumlah banyak, maka tidak ada keraguan keharamannya, dan orang yang mengkonsumsinya telah meminum khamr meskipun dia meminumnya sedikit. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 179763)

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top