Penjelasan Kalimat: Bid’ah Lebih Dicintai Oleh Iblis

 PERTANYAAN:

Assalamualaikum ustadz ijin bertanya apakah riwayat tentang perkataan sufyan atsauri ini shahih ” bid’ah itu lebih di cintai iblis ketimbang maksiat dst…”
Mohon penjelasannya ustadz

Jazakallahu khairan


 JAWABAN

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bunyinya:

البدعة أحب إلى إبليس من المعصية، فإن المعصية يُتاب منها، والبدعة لا يُتاب منها

“Bid’ah lebih dicintai oleh iblis daripada maksiat, karena maksiat bisa ditaubati, sedangkan bid’ah tidak (karena dianggap bagian dari agama).” (Dikutip Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ighatsatul Lahafan, 1/70)

Bid’ah yg dimaksud tentunya bid’ah yg benar-benar bid’ah dan jelas bid’ahnya. Seperti thawaf di kuburan, menyebut Al Quran adalah makhluk, mengubah rukun Islam dan rukun iman.

Bukan sesuatu yang dituduh bid’ah, padahal itu sunnah menurut ulama lainnya seperti qunut subuh, dzikir dikeraskan setelah shalat, dsb.

Wallahu A’lam

☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Perhatikan Ujungnya!

 “Ada orang yang biasa melakukan amalan ahli surga, sampai jarak dirinya dan surga tinggal sehasta lagi” kata Rasulullah ﷺ, “tapi dia kesusul oleh catatan takdirnya, di akhir hayatnya melakukan amalan ahli neraka, maka dia masuk neraka.” Hadits ini shahih, Bukhari dan Muslim, dari jalur Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu.

Di kesempatan lain, ada seorang mujahid yang gagah berani memerangi kaum musyrikin, namun mujahid itu mengalami terluka parah akhirnya dia mengakhiri hidupnya sendiri dengan menghujamkan pedang ke tubuhnya. Dia mati bunuh diri padahal sebelumnya begitu heroik. Lalu Rasulullah ﷺ mengatakan: “Siapa yang ingin melihat ahli neraka maka lihatlah orang ini” , lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ لَمِنْ أَهْلِ النَّارِ وَيَعْمَلُ فِيمَا يَرَى النَّاسُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan penghuni surga, namun berakhir menjadi penghuni neraka. Sebaliknya, ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, namun berakhir dengan menjadi penghuni surga. Sesungguhnya (hasil) amalan itu tergantung pada penutupnya.” (HR. Bukhari no. 6493)

Rasulullah ﷺ mengatakan:

لا عليكم أن لا تعجبوا بعمل أحد حتى تنظروا بم يختم له، فإن العامل يعمل زمانا من عمره أو برهة من دهره بعمل صالح لو مات عليه دخل الجنة، ثم يتحول فيعمل عملا سيئا.

Tidak masalah bagi kalian untuk tidak kagum terhadap amal seseorang sampai kalian melihat bagaimana akhirnya, Sebab, seseorang bisa saja beramal shaleh dalam waktu tertentu dari umurnya atau dalam sebagian masa hidupnya, yang jika ia mati dalam keadaan itu maka ia akan masuk surga. Namun ia kemudian justru berubah dan melakukan amal yang buruk. (HR. Ahmad, dari jalan Anas, dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Lihat Fathul Bari, 11/487)

Semua ini menunjukkan betapa penting akhir perjalanan hidup .. akhir sebuah amal .. apakah Allah Ta’ala menerima, menolak, menjadikan sebab surga atau neraka tergantung akhirnya.

Oleh karenanya, Imam Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan:

إنَّ صلاحَها وفسادَها وقَبُولَها وعدمَه بحسب الخاتمة

Sesungguhnya kebaikan amal-amal tersebut, kerusakannya, diterima atau tidaknya, tergantung bagaimana akhirnya. (Jami’ al ‘Ulum wal Hikam, 3/10)

Imam Ath Thibrizi mengatakan:

العمل السابق ليس بمعتبر، وإنما المعتبر العمل الذي ختم به، وهذا فيه حث على المواظبة على الطاعات ومحافظة الأوقات عن المعاصي؛ خوفاً من أن يكون ذلك آخر عمله، كما فيه زجر عن العجب والتفرح بالأعمال؛ فإنه لا يدري ماذا يصيبه في العاقبة

Amal yang telah lalu tidaklah dianggap, yang dianggap adalah amal yang seseorang akhiri dengannya. Dalam hal ini terdapat dorongan untuk terus-menerus melakukan ketaatan dan menjaga waktu dari perbuatan maksiat, karena dikhawatirkan itu akan menjadi amal terakhirnya. Selain itu, terdapat peringatan agar tidak terjerumus dalam perasaan bangga dan gembira berlebihan terhadap amal yang telah lalu dilakukan, sebab seseorang tidak mengetahui bagaimana akhirnya kelak. (Mir’ah Al Mafatih Syarh Misykah al Mashabih, 1/419)

Maka, di ujung Ramadhan ini, teruslah berlari, semakin kuat, tilawahnya dan shalatnya, tampakkan kesedihan dan kerinduan saat berpisah dengan Ramadhan …

Bukan semakin melemah dan menghilang dari jalan ketaatan, serta kegirangan dengan kepergian Ramadhan..

Wallahu A’lam

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Shalawat Lebih Wajib Daripada Shalat?

 PERTANYAAN:

Assalaamu’alaykum Ustadz, bagaimana tentang pendapat ini?

https://mantrasukabumi.pikiran-rakyat.com/khazanah/pr-203242057/buya-arrazy-hasyim-sebut-baca-sholawat-lebih-wajib-daripada-sholat-simak-penjelasannya.

JazaakAllaahu khair

 JAWABAN

Wa’alaikumussalam Wa Rahmatullah..

Shalawat kepada nabi memiliki keutamaan yang banyak dan besar, dan tidak patut seorang muslim meremehkannya. Namun menganggapnya lebih wajib dari pada shalat lima waktu tentu ini juga tidak benar.

Alasan yang beliau kemukakan adalah retorika kaum sufi -bukan cara berpikir ahli fikih- bahwa shalat tidak diterima jika tidak ada shalawat, dan shalawatlah yang menjadi kendaraan shalat agar sampai kepada Allah Ta’ala.

Jika maksudnya shalawat kepada nabi lebih utama dibanding shalat wajib yang 5, Pemahaman ini keliru juga tidak dikenal dikalangan ulama, sebab logika seperti itu akan membuat orang akan berkata “Kalo gitu Wudhu lebih utama dibanding shalat, sebab Allah tidak menerima shalat seseorang tanpa wudhu”, akhirnya pemahaman-pemahaman ini bisa disalahgunakan: lebih baik shalawat saja atau wudhu saja walau tanpa shalat.

Dari sisi pendekatan hukum juga tidak bisa diterima:

– Shalawat adalah kewajiban sekali saja seumur hidup, seperti yg dikatakan Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya:

لا خلاف في أن الصلاة عليه فرض في العمر مرة، وفي كل حين من الواجبات

Tidak ada perselisihan pendapat bahwa shalawat kepada nabi adalah wajib sekali seumur hidup dan di setiap momen2 yang wajib.

– Di antara momen yang wajib adalah saat tasyahud akhir, itu pun hanya pendapat sedikit ulama seperti Imam Asy Syafi’i. Mayoritas ulama mengatakan shalawat di dalam shalat adalah sunnah baik tasyahud awal dan akhir. Bahkan Ibnul Qayyim -dalam Jala’ul Afham- mengatakan dalam hal ini Imam Asy Syafi’i sendirian dalam pendapatnya itu.

– Shalawat bukan rukun Islam

– Shalawat wajib dalam Seumur hidup sebanyak satu kali maka jika sudah melakukannya sekali, dia sunnah melakukannya di waktu-waktu lainnya dan tidak berdosa jika tidak melakukannya, namun tapi tidak patut seorg muslim meninggalkan shalawat kepada nabinya.

Ada pun shalat wajib yang 5:

– Rukun Islam

– Pembeda muslim dan kafir

– Jika tidak melakukannya karena malas walau masih meyakini wajib maka dinilai sebagai dosa besar, menurut jumhur adalah fasik. Sebagian mengatakan kafir seperti Nafi’, Atha’, Ibnu Uyainah, umumnya ahli hadits, juga Imam Ahmad bin Hambal.

– Shalat adalah yang pertama kali akan diperiksa pada hari kiamat

– Orang yang tidak shalat diancam dengan neraka saqor, sebagaimana Al Muddatsir 42-43

– Kewajiban shalat ditetapkan saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ke langit (mi’raj) sedangkan ibadah lainnya saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di bumi.

Semua kedudukan ini tidak kita dapatkan pada kewajiban-kewajiban lainnya.

Dalam Al Mausu’ah:

لِلصَّلاَةِ مَكَانَةٌ عَظِيمَةٌ فِي الإِْسْلاَمِ. فَهِيَ آ كَدُ الْفُرُوضِ بَعْدَ الشَّهَادَتَيْنِ وَأَفْضَلُهَا، وَأَحَدُ أَرْكَانِ الإِْسْلاَمِ الْخَمْسَةِ …. فَالصَّلاَةُ عَمُودُ الدِّينِ الَّذِي لاَ يَقُومُ إِلاَّ بِهِ

Dalam Islam, Shalat memiliki kedudukan yang sangat agung, dia adalah kewajiban yang paling ditekankan setelah dua kalimat syahadat dan YANG PALING UTAMA, dan salah satu rukun Islam yang lima.. shalat adalah tiang agama yang mana agama tidaklah tegak kecuali dengannya.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 27/51)

Syaikh Abdurrahman Al Juzairi mengatakan:

أما الصلاة فهي أهم أركان الدين الإسلامي؛ فقد فرضها الله سبحانه على عباده ليعبدوه وحده، ولا يشركوا معه أحداً من خلقه في عبادته، … وقد وردت أحاديث كثيرة في تعظيم شأن الصلاة، والحث على أدائها في أوقاتها

Ada pun shalat, adalah rukun Islam yang PALING PENTING (UTAMA) dalam agama Islam, Allah Ta’ala telah mewajibkan atas hamba-hambaNya agar menyembah kepadaNya semata, dan tidak menyekutukanNya dengan apa pun di antara makhlukNya, … hadits-hadits yang menceritakan keagungan shalat begitu banyak dan dorongan untuk menunaikannya pada waktu-waktunya (juga banyak).

(Al Fiqhus ‘al all Madzahib Al Arba’ah, 1/157)

Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan:

وللصلاة في الاسلام منزلة لا تعدلها منزلة أية عبادة أخرى، فهي عماد الدين الذي لا يقوم إلا به

Dalam Islam, Shalat memiliki kedudukan yang tidak bisa disetarakan dengan ibadah apa pun yang lainnya, shalat adalah tiang agama yang mana agama tidaklah tegak kecuali dengannya. (Fiqhus Sunnah, 1/90)

Ada pun jika maksudnya SHALAWAT LEBIH WAJIB DIBANDING SHALAT SUNNAH, maka tentu lain lagi pembahasannya. Shalawat yang wajib sekali seumur hidup jelas lebih utama, namun untuk shalawat-shalawat yang sunnah muakkadah hendaknya jangan dibenturkan antara satu ibadah dengan ibadah lainnya.

Demikian. Wallahu A’lam

☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Waspadai Dua Manusia Ini

▪▫▪▫▪▫▪▫

Imam Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata:

احذروا العابد الجاهل و العالم الفاسق، فإن فيهما فتنة لكل مفتون

Waspadalah oleh kalian terhadap ahli ibadah yang bodoh dan ulama yang fasiq, sebab pada keduanya terdapat fitnah/musibah bagi tiap orang yang mengalami  musibah.

Hikam wa Aqwaal Al Hasan Al Bashri No. 55

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top