Hukum Aborsi

Bagaimana hukum aborsi aborsi (menggugurkan kandungan dengan sengaja) dalam Islam? Simak penjelasannya pada artikel di bawah!


Ini  terbagi atas dua bagian:

1⃣Hukum Aborsi Usia Kandungan 4 bulan lebih dan seterusnya.

Seluruh fuqaha sepakat, bahwa jika aborsi dilakukan pada usia kandungan 4 bulan secara sempurna, atau di atas usia 4 bulan, maka haram. Hal ini sama saja dia telah menghilangkan makhluk bernyawa (yakni manusia) lainnya (baca: pembunuhan). Sebab, usia kandungan 4 bulan sudah menjadi makhluk bernyawa, bukan sekedar lagi gumpalan darah atau daging sebagaimana penjelasan di atas. Dalilnya adalah;

Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan. Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu? (QS. Al An’am (6): 151).

Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut miskin. Kami akan memberikan rizki kepada mereka dan kepadamu? (QS. Al Isra` (17): 31).

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan (alasan) yang benar (menurut syara’)? (QS. Al Isra` (17): 33).

Dan bila bayi-bayi yang dikubur hidup-hidup itu ditanya karena dosa apakah ia dibunuh? (QS. At Takwir (81): 8-9)

Berkata Syaikh Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili Hafizhahullah:

اتفق العلماء على تحريم الإجهاض دون عذر بعد الشهر الرابع أي بعد 120 يوماً من بدء الحمل،ويعد ذلك جريمة موجبة للغُرَّة ، لأنه إزهاق نفس وقتل إنسان

“Ulama sepakat atas haramnya (hukum) aborsi tanpa ‘udzur setelah kandungan 4 bulan yaitu 120 hari sejak awal kehamilan, dan mengancam hal itu sebagai kejahatan pembunuhan terhadap permulaan kehidupan, karena dia sudah berbentuk jiwa dan termasuk membunuh manusia.” (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 4/196. Maktabah Al Misykah)

Tertulis dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Quwaitiyah:

وَلاَ يُعْلَمُ خِلاَفٌ بَيْنَ الْفُقَهَاءِ فِي تَحْرِيمِ الإِْجْهَاضِ بَعْدَ نَفْخِ الرُّوحِ . فَقَدْ نَصُّوا عَلَى أَنَّهُ إِذَا نُفِخَتْ فِي الْجَنِينِ الرُّوحُ حُرِّمَ الإِْجْهَاضُ إِجْمَاعًا . وَقَالُوا إِنَّهُ قَتْلٌ لَهُ ، بِلاَ خِلاَفٍ

“Tidak diketahui adanya perbedaan pendapat diantara para fuqaha tentang haramnya aborsi setelah ditiupkan ruh. Dasar mereka adalah jika telah ditiupkan ruh terhadap janin maka ijma’ telah mengharamkan aborsi tersebut. Mereka mengatakan hal itu adalah pembunuhan terhadapnya, tak ada perbedaan pendapat.” (Al Mausu’ah, 2/57)

Tetapi jika jika kandungan tersebut –setelah dianalisa dokter terpercaya- membawa bahaya yang jelas bagi si ibu dan mengancam kehidupannya, atau jika dipaksakan maka membawa kematian bagi ibu dan bayi sekaligus, maka para ulama membolehkan menggugurkan bayi tersebut, baik sebelum atau sesudah 4 bulan. Hal ini sesuai kaidah: Al Irtikab Akhafu Dharurain (memilih/menjalankan mudharat yang paling ringan di antara dua mudharat). Maka, nyawa si ibu lebih layak diselamatkan dibanding janin. Dalilnya adalah:

Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya? (QS. Al Maidah (5) : 32)

Tetapi kalangan Hanafiyah tetap melarang aborsi di atas 4 bulan walau pun ada udzur seperti itu. Imam Ibnu ‘Abidin Rahimahullah, salah satu tokoh madzhab Hanafi, mengatakan:

وَلَوْ كَانَ حَيًّا لَا يَجُوزُ تَقْطِيعُهُ لِأَنَّ مَوْتَ الْأُمِّ بِهِ مَوْهُومٌ ، فَلَا يَجُوزُ قَتْلُ آدَمِيٍّ حَيٍّ لِأَمْرٍ مَوْهُومٍ

“Seandainya janin itu hidup, tidak boleh menggugurkannya, sebab kematian si ibu karenanya masih wahm (belum jelas/ samar), maka tidak boleh membunuh manusia hidup karena alasan yang masih samar.” (Raddul Muhtar, 6/384)

Baca juga: Keguguran Seperti Apa yang Dihitung Nifas

2⃣Hukum Aborsi Usia Kandungan Kurang Dari 4 Bulan

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini, bahkan dalam satu madzhab pun juga memiliki pandangan yang beragam. Dan, yang menjadi pokok masalahnya adalah karena sebelum 4 bulan, belum ada nyawa (ruh), atau keadaan baru cikal bakal kehidupan. Nah, apakah menggugurkannya sama halnya dengan membunuh bayi bernyawa?

 Berikut ini pandangan madzhab fiqih dalam Ahlus Sunnah:

 Hanafiyah

Mereka berpendapat boleh, karena selama usia kandungan belum 120 hari, maka belum bisa disebut manusia. Mereka memaknai penciptaan manusia adalah ketika mulai ditiupkannya ruh. (Lihat Imam Kamaluddin bin Al Hummam, Fathul Qadiir, 7/296. Mawqi’ Al Islam. Lihat juga Imam Ibnu ‘Abidin, Raddul Muhtar, 4/424. Mawqi’ Al Islam)

Disebutkan juga menurut sebagian kalangan Hanafiah: hukumnya makruh jika tanpa udzur, dan jika aborsi dilakukan (hukumnya) tetap berdosa. Udzur tersebut adalah: terputusnya air susu ibu setelah melahirkan sedangkan ayahnya tidak mampu membayar wanita lain yang bisa menyusuinya, dan khawatir dia tertimpa malapetaka. (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 4/197)

Malikiyah

Padangan yang mu’tamad (resmi/bisa dijadikan pegangan) dalam madzhab Malikiyah adalah Haram mengeluarkan mani yang sudah tertanam di rahim, walaupun sebelum 40 hari. Ada pun jika sudah ditiupkan ruh (4 bulan) maka haram secara ijma’. (Imam Abul Barakat Sayyidi Ahmad Ad Dardir, Asy Syarhul Kabir, 2/266-267. Ihya’ul Kutub Al ‘Arabiyah. Lihat juga Imam Muhammad bin ‘Arafah Ad Dasuqi, Hasyiah ‘ala Asy Syarhil Kabir, 8/78) Tapi, Imam Ad Dasuqi mengatakan bahwa dalam pandangan Malikiyah, ada pula yang memakruhkan saja. (Ibid)

Syafi’iyah

Beragam pandangan dalam madzhab ini. Ada yang membolehkan dengan kebolehan yang dibenci (makruh tanzih), jika aborsi dilakukan pada masa-masa rentang waktu 40 hari, atau jeda antara 40 atau 42 atau 45., sejak awal kehamilan dengan syarat kerelaan suami dan isteri, dan tidak membawa dampak buruk bagi yang hamil. (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 4/198)

Sementara Imam Syihabuddin Ar Ramli mengatakan boleh jika sebelum ditiupkannya ruh (belum 4 bulan), tapi jika sudah ditiupkan ruh maka haram secara mutlak. (Imam Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, 8/443. 1404H-1984M. Darul Fikr) Pendapat beliau sama dengan kalangan Hanafiyah.

Imam Ad Dimyathi mengatakan, pendapat yang mu’tamad adalah tidak haram, mengeluarkan mani dan ‘alaqah (segumpal darah) yang sudah tertanam di rahim, (I’anatuth Thalibin, 3/256)

Sedangkan Imam Al Ghazali berpendapat haram, sebab itu merupakan tindakan kriminal terhadap sesuatu yang sudah ada. (Ihya ‘Ulumuddin, 2/47).

Pendapat Imam Al Ghazali inilah yang diikuti oleh Syaikh Wahbah Az Zuhaili, katanya:

وإني بهذا الترجيح ميَّال مع رأي الغزالي الذي يعتبر الإجهاض ولو من أول يوم كالوأد جناية على موجود حاصل

“Sesungguhnya saya dengan tarjih ini, lebih cenderung pada pendapat Al Ghazali yang telah melakukan pengujian terhadap masalah aborsi, walaupun itu dilakukan sejak awal (kehamilan) sebagaimana penguburan bayi hidup-hidup, hal itu merupakan kejahatan atas sesuatu yang sudah wujud (ada).” (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 4/197)

Hambaliyah (Hanabilah)

Pandangan mu’tamad mereka sama dengan Hanafiyah, yakni boleh. Selama dilakukan selama 4 bulan pertama atau 120 hari sejak awal kehamilan, karena belum ada ruh. Jika lebih dari itu dan sudah ada ruh maka haram secara qath’i (pasti). (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 4/198)

Nampaknya pendapat Malikiyah dan Imam Al Ghazali yaitu haram, merupakan pandangan lebih sesuai konteks zaman dan hati-hati, apalagi di tengah pergaulan bebas seperti saat ini. Sehingga pendapat ini dapat dijadikan preventif (pencegahan) dan membendung angka aborsi yang dilakukan manusia tidak bertanggung jawab, ada pun jika menggunakan pendapat yang membolehkan, maka akan membawa dampak disalahgunakan oleh mereka. Sebab, jika suatu yang haram saja mereka langgar (yakni free sex) apalagi sesuatu yang mubah, mereka akan semakin menjadi-jadi.

Pembahasan (hukum) di atas hanya berlaku untuk aborsi (keguguran yang disengaja), ada pun keguguran karena lemahnya kandungan, sakit, terjatuh, dan lainnya yang tidak diinginkan oleh orang tuanya, maka itu dimaafkan.

Wallahu A’lam

☘

✏ Farid Nu’man Hasan

Menutupi Aib Saudara Muslim

📌📌📌📌📌📌📌

Matan Hadits:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat. (HR. Muslim No. 2699)

Makna Hadits Scara Umum:

Hadits ini berisi anjuran menutupi aib dan aurat saudara sesama muslim, baik aib dan aurat fisiknya, atau perilakunya. Kesalahan perilaku individu muslim yang membawa dampak buruk bagi pelakunya saja hendaknya tidak dibeberkan, justru seharusnya ditutupi agar dia tidak malu dan merasa tetap terhormat. Balasan bagi orang yang menutupi aib saudaranya adalah Allah Ta’ala akan menutupi aib dirinya dihadapan manusia, baik di  dunia dan akhirat.

Bukankah setiap manusia punya aib pribadi yang membuatnya malu jika manusia tahu? Maka tutuplah aib itu dengan dua cara: Pertama,  tidak melakukan maksiat secara terang-terangan, Kedua,  tutuplah aib saudara kita di hadapan manusia agar Allah Ta’ala menutupi aib kita juga.

Membicarakan aib –yang diistilahkan ghibah- tidak terlarang secara mutlak. Ada beberapa ghibah yang diperbolehkan, sebagaimana yang tertera dalam Riyadhus Shalihin-nya Imam An Nawawi Rahimahullah. Kami  ringkas sebagai berikut:

1. Mengadukan kepada hakim, tentang kejahatan  orang yang menganiaya.

2. Minta tolong supaya menasehati orang yang berbuat mungkar kepada orang yang dianggap sanggup menasehatinya.

3. Karena minta fatwa: fulan menganiaya saya, bagaimana cara menghindarinya?

4. Bertujuan menasehati, agar orang lain tidak terpedaya oleh orang tersebut.

5. Terhadap orang yang terang-terangan melakukan kejahatan, maka yang demikian bukan ghibah, sebab ia sendiri yang menampakannya.

6. Untuk memperkenalkan orang dengan gelar/julukan yang sandangnya, seperti Al A’masy (buram matanya), Al A’raj (Si Pincang), Al A’ma (Si Buta), Al ‘Asham (Si Tuli), Al Ahwal (si Juling), semua ini adalah gelar yang pernah disandang oleh sebagian ulama hadits. (Imam An Nawawi, Riyadhush Shalihin,  Hal. 366-367. Maktabatul Iman. Al Manshurah)

Makna kalimat:

:وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا

dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim

Yakni barang siapa yang menyembunyikan aurat, noda, dan hal yang membuat saudaranya malu jika diketahui orang lain, baik secara fisik dan non fisik. Menutup aib saudara sesame muslim adalah bagian dari cara menolong saudaranya itu.

Satara – سَتَرَ  artinya menutup, menyembunyikan, dan melindungi. Tasattara artinya taghaththa (menutupi).  Syai’un Mastuurun (sesuatu yang tertutup). Rajulun Satiir artinya ‘afiif  (laki-laki yang suci dan terjaga).

Syaikh Shalih Abdul Aziz Alu Asy Syaikh  Hafizhahullah berkata:

من ستر مسلما ( مسلم : هنا -أيضا- تعم جميع المسلمين سواء أكانوا مطيعين صالحين، أم كانوا فسقة، فإن الستر على المسلم من فضائل الأعمال، بل جعله طائفة من أهل العلم واجبا، فإن المسلم الذي ليس له ولاية في الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، يجب عليه أن يستر أخاه المسلم ، أو يتأكد عليه أن يستر، فإذا علم منه معصية كتمها، وإذا علم منه قبيحا كتمه، وسعى في مناصحته وتخليصه منه

“(Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim), muslim di sini adalah juga berlaku bagi semua kaum muslimin, baik muslim yang taat lagi shalih, atau yang fasiq. Sesungguhnya menutupi aib seorang muslim adalah di antara amal-amal yang utama, bahkan segolongan ulama ada yang mengkategorikan wajib. Sesungguhnya seorang muslim yang tidak punya wewenang amar ma’ruf nahi munkar (seperti pemimpin, aparat, polisi, ahlul hisbah, pen) wajib baginya menutupi aib saudaranya muslim, atau dianjurkan baginya untuk menutupinya, jika dia tahu maksiat saudaranya hendaknya dia menyembunyikannya, jika dia tahu adanya keburukan darinya hendaknya dia menyembunyikannya, dan hendaknya dia berusaha untuk menasihati dan membersihkan aibnya itu.” ( Syarh Al Arbain Nawawiyah, Hal. 281)

Syaikh Shalih Abdul Aziz Alu Asy Syaikh melanjutkan:

وأما أهل الحسبة، أهل الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر، فإنهم يجوز لهم أن يعلموا هذا فيما بينهم، لكن لا يجوز لهم أن يتحدثوا بما قد يقترفه بعض المسلمين من الذنوب والآثام والقاذورات والمعاصي؛ لأن هذا -أيضا- داخل في عموم الستر

Ada pun ahlul hisbah, pelaku amr ma’ruf nahi munkar, maka mereka boleh mengetahui hal ini selama sesama mereka saja, tetapi  mereka tidak boleh membeberkan berbagai tuduhan yang menimpa sebagian kaum muslimin baik berupa dosa, kejelakan, dan maksiat, karena hal ini masuk keumuman kewajiban menutup aib. ( Ibid)

Ada pun jika kesalahan itu adalah kesalahan yang membawa dampak kerusakan pada agama dan manusia lain, maka tidak apa-apa dibongkar dan diusut agar tidak membawa kerusakan yang lebih besar lagi. Seperti korupsi, mencuri, menyebarkan ajaran sesat, dan semisalnya. Namun,  sebaiknya ini  diserahkan pihak yang berwenang; baik berilmu, berani,   mampu, dan bergerak secara konstitusional (syar’i).

Berkata Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azhim Abadi Rahimahullah:

( ومن ستر مسلما ) أي بدنه أو عيبه بعدم الغيبة له والذب عن معائبه وهذا بالنسبة إلى من ليس معروفا بالفساد وإلا فيستحب أن ترفع قصته إلى الوالي فإذا رآه في معصية فينكرها بحسب القدرة وإن عجز يرفعها إلى الحاكم

(Barang siapa yang menutup  saudaranya) yaitu badannya atau aibnya dengan tidak menggibahi dia, dan membelanya dari berbagai aib. Ini jika kesalahannya memang dikenal tidak mendatangkan kerusakan. Jika tidak demikian, maka dianjurkan untuk membawa dan menceritakan kesalahannya kepada pemimpin. Jika dia melihat masksiatnya maka hendaknya diingkarinya sesuai kemampuan, jika dia lemah posisinya maka laporkan kepada hakim. ( ‘Aunul Ma’bud, 13/162)

:سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Allah akan tutupkan aibnya di dunia dan akhirat

Yaitu Allah Ta’ala akan menutupi dari aib dan kekurangan orang tersebut dari penglihatan manusia lainnya, baik di dunia mau pun di akhirat. Ini akibat dari perbuatannya yang telah menutupi aib saudaranya di dunia. Ini merupakan ganjaran yang berlipat baginya, bukan hanya  di dunia tapi juga di akhirat.

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah mengatakan:

وهذا أيضاً العمل فيه ستر في الدنيا، والجزاء عليه سترٌ في الدنيا والآخرة، والسترُ هو إخفاء العيب وعدم إظهاره، فمَن كان معروفاً بالاستقامة وحصل منه الوقوع في المعصية نوصِحَ وسُتر عليه، ومَن كان معروفاً بالفساد والإجرام، فإنَّ السترَ عليه قد يهوِّن عليه إجرامه، فيستمر عليه ويتمادى فيه، فالمصلحةُ في مثل هذا عدم الستر عليه؛ ليحصل له العقوبة التي تزجره عن العَوْد إلى إجرامه وعدوانه

Ini juga perbuatan menutup aib di dunia balasannya adalah orang tersebut ditutup aibnya di dunia dan akhirat. As Sitru artinya menyembunyikan aib dan tidak menampakkannya. Orang yang  track record-nya dikenal baik,  lalu dia melakukan maksiat maka hendaknya dinasihati dan ditutupi kesalahannya itu. Tapi orang yang dikenal perusak dan jahat, maka menutup-nutupi kejahatannya justru memudahkan dia untuk berbuat jahat, lalu dia melanjutkan kejahatannya dan menyengaja melakukannya. Maka, bagi yang seperti ini justru membukanya adalah lebih bermaslahat, agar dia mendapatkan hukuman yang bisa mencegahnya mengulangi kejahatannyan itu. ( Fathul Qawwi Al Matin, Hal, 109)

Demikian. Wallahu a’lam

🌹🌿🌺🍃☘🌴🌻🌷🌸

Farid Nu’man Hasan

Seimbang Hablumminallah dan Hablumminnaas

⬜⬛⬜⬛⬜⬛⬜⬛⬜

Assalamualaikum warohmatullah wabarokatuh ustadz ana ingin bertanya

Bagaimana cara menyikapi orang yang mempunyai sifat namimah…?

Bagaimana cara menyikapi seseorang yang bergunjing tapi rajin beribadah…?

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam warahmatullah wa Barakatuh.

Bismillah wal Hamdulillah ..

Sangat disayangkan manusia yang bagus ibadah ritualnya, tapi hubungan dengan manusia begitu buruk. Sebaliknya ada manusia yang hangat dan bagus hubungan dengan manusia, tapi buruk hubungan dengan Allah. Keduanya tidak seimbang.

Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata:

قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا، وَصِيَامِهَا، وَصَدَقَتِهَا، غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: ” هِيَ فِي النَّارِ “، قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا، وَصَدَقَتِهَا، وَصَلَاتِهَا، وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ الْأَقِطِ، وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: ” هِيَ فِي الْجَنَّةِ ”

Berkata seorang laki-laki:

” Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang banyak shalat, puasa, sedekah, hanya saja dia suka mengganggu tetangganya dengan lisannya.”

Nabi menjawab: “Dia neraka.”

Laki-laki itu bertanya: “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang puasanya tidak banyak, juga sedekahnya, dan shalatnya, tapi dia tidak pernah mengganggu tetangganya dengan lisannya.”

Nabi menjawab: “Dia surga.”

(Hr. Ahmad No. 9675. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata: hasan)

Wanita seperti ini bagus hablumminallah-nya, tapi buruk hablumminnaas-nya. Itulah yang membuatnya neraka.

Wanita satu lagi, hablumminallah-nya tidak buruk walau tidak sehebat yang pertama, hanya saja dia bagus hablumminnaas-nya. Maka dia surga.

Ini menunjukkan bahwa kita mesti menjaga keseimbangan keduanya.

Hal ini juga sesuai hadits lain:

أَتَدْرُونَ أَكْثَرَ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ؟ تَقْوَى اللهِ،وَحُسْنُ الْخُلُقِ

Tahukah kalian faktor apa yang paling banyak membuat manusia ke surga? (Yaitu)  Taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik. (Hr. Ahmad No. 9696. Syu’aib Al Arnauth berkata: hasan)

Imam Ibnul Qayyim berkata:

جمع بينهما لان تقوى الله تصلح بين العبد و بين ربه و حسن الخلق يصلح ما بينه و بين الخلق

Menggabungkan keduanya, karena taqwa kepada Allah adalah bagusnya hubungan antara hamba dengan Rabbnya. Akhlak baik adalah bagusnya hubungan antara hamba dengan makhluk lainnya. ( Bulughul Maram, Hal. 287. Cat kaki no. 3. Cet. 1. 2004M-1425H. Darul Kutub Al ‘Islamiyah)

Demikian. Wallahu A’lam

🌿🌴☘🌻🌺🌷🌸🌹🍃

Farid Nu’man Hasan

Shohihkah Hadits Seorang Jahat yang Menangis Semaunya?

📌📌📌📌📌📌

assalamualaikum, nanya tadz hadits ini shohih ga

AHOK NANGIS DI SIDANG, KITA SIMAK HADIST NABI SAW BERIKUT INI

Rasulullah saw bersabda:

ﺇﺫﺍ ﺗﻢ ﻓﺠﻮﺭ ﺍﻟﻌﺒﺪ ، ﻣﻠﻚ ﻋﻴﻨﻴﻪ ، ﻓﺒﻜﻰ ﺑﻬﻤﺎ ﻣﺎ ﺷﺎﺀ. ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻋﺪﻱ

“Saat sempurna kebiadaban seorang hamba, maka ia dapat memiliki (mengendalikan) dua matanya, lalu ia dapat menangis dengannya kapanpun ia mau.”

*(HR Ibnu ‘Adi)*

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam …, langsung aja ya ..

Dalam sanadnya terdapat Ibnu Lahi’ah, dan dia sangat dikenal dha’ifnya.

Yahya bin Ma’in mengatakan: Dha’if, jangan berhujjah dengannya. Ibnu Ma’in juga berkata: Dia dha’if baik sebelum dan sesudah buku-bukunya terbakar.

Ibnu Mahdi mengatakan: Aku tidaklah membawa hadits darinya sedikit pun

Bisyr bin As Suri berkata: Seandainya kamu lihat Ibnu Lahi’ah, janganlah kamu ambil haditsnya satu huruf pun

Abu Zur’ah mengatakan: Bukan termasuk yang biaa dijadikan hujjah , tapi Abu Zur’ah mengecualikan hadits Ibnu Lahi’ah yang dicatat oleh Ibnul Mubarak dan Ibnu Wahb, sebab mereka berdua mengambil hadits dari Ibnu Lahi’ah sebelum kitab-kitabnya terbakar.

An Nasa’i mengatakan: Dha’if

Al Jauzajaani mengatakan: Haditsnya tidak ada cahaya, tidak pantas dijadikan hujjah

Al Falas berkata: Orang yang menulis hadits darinya sebelum buku-bukunya terbakar -seperti Ibnul Mubarak dan Al Muqri – maka itu lebih shahih.

Dan, … hadits yang ditanyakan ini bukanlah yang dicatat oleh Ibnul Mubarak dan Ibnu Wahb dari Ibnu Lahi’ah. Artinya, menurut standar Al Falas dan Abu Zur’ah tetaplah dha’if.

Sehingga para imam mendhaifkan hadits ini ..

Imam Ibnul Jauzi mengatakan:  TIDAK SHAHIH. ( Al ‘Ilal Al Mutanahiyah, 2/819. No. 1372)

Imam As Suyuthi mengatakan:  DHA’IF. ( Al Jaami’ Ash Shaghiir, No. 530)

Imam Al Munawi mengatakan:  DHA’IF.  ( At Taisir bisyarhil Jaami’ Ash Shaghiir, 1/171)

Syaikh Al Albani mengatakan: DHAIF.  ( Dha’iful Jami’,  No. 437)

Syaikh Al Ghumariy mengatakan:  PALSU.  ( Al Mughayyir, Hal. 14)

Wallahu A’lam

🌻🌴🌷🌸🍃☘🌺🌹🌿

Farid Nu’man Hasan
📡 Join Channel: bit.ly/1Tu7OaC

scroll to top