Bolehkah Orang Kafir Masuk Masjid

🍃🌸 Serial Fiqih Pergaulan Dengan Non Muslim🌸🍃

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa Bad:

Para ulama umumnya membolehkan orang kafir, baik kaum Ahli Kitab dan Musyrikin masuk ke dalam masjid.

Imam Asy Syafi’i Rahimahullah berkata:

وَلَا بَأْسَ أَنْ يَبِيتَ الْمُشْرِكُ في كل مَسْجِدٍ إلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ فإن اللَّهَ عز وجل يقول { إنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هذا }

Tidak apa-apa orang musyrik bermalam di semua masjid kecuali masjidil haram, karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: (sesungguhnya orang musyrik itu najis maka janganlah mereka mendekati masjidil haram setelah tahun mereka ini). [1]

Alasan lain, karena dahulu Jubair bin Muth’im –ketika masih musyrik- pernah bermalam di masjid, bahkan mendengarkan pembacaan Al Quran. [2]

Sementara Imam An Nawawi dan Imam Ar Rafi’i –keduanya tokoh madzhab syafi’i- mengatakan secara mutlak orang kafir boleh masuk ke masjid mana saja, kecuali masjidil haram, namun bolehnya itu jika diizinkan kaum muslimin. Jika tidak diizinkan maka tidak boleh masuk, inilah pendapat yang benar. [3]

Sedangkan kalangan Hanafiyah mengatakan bahwa boleh saja orang kafir masuk ke semua masjid, termasuk masjidil haram, karena nabi pernah menyambut Tsaqif di masjid, dan dia seorang kafir. Beliau bersabda: Sesungguhnya tidaklah bumi menjadi najis karena manusia, tetapi najisnya manusia adalah untuk diri mereka sendiri. Malikiyah melarang mereka masuk ke masjid, kecuali jika diizinkan kaum muslimin dan ada hal mendesak untuk memasukinya seperti menyambut kabilah, jika tidak begitu, maka tidak boleh. Hanabilah (Hambaliyah) juga melarang orang kafir masuk ke semua masjid, kecuali dengan izin kaum muslimin. Pendapat lain dari Hambaliyah adalah boleh. [4]

Terkait dengan “izin” kaum muslimin, maka hal ini mesti menjadi syarat. Sebab dahulu delegasi Nasrani Bani Najran pernah mendatangi masjid nabi dan mereka ibadah di dalam masjid itu, para sahabat mencegahnya, namun nabi mengizinkannya.

Berikut dikatakan Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah:

“Berkata Ibnu Ishaq: Di Madinah, datang delegasi Nasrani Najran kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Ja’far bin Az Zubeir, katanya: ketika ketika delegasi Najran datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka masuk ke dalam masjid setelah shalat ashar, ketika datang waktu ibadah mereka, mereka bangun untuk mendirikan ibadah mereka di masjid nabi, maka manusia mencegahnya, lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Biarkan mereka.” Lalu mereka menghadap ke Timur, dan melaksanakan ibadah mereka. [5]

Kisah ini menunjukkan kebolehan Ahli Kitab masuk ke masjid, namun dengan syarat izin kaum muslimin, yang nampak dari perkataan Rasulullah ﷺ : “Biarkan mereka.” Kalau tidak ada izin maka tidak boleh.

Kesimpulan:

– Boleh bagi orang kafir masuk ke masjid seluruhnya, kecuali di tanah haram. Ini pendapat mayoritas ulama, kecuali Imam Abu Hanifah yang juga membolehkan ke masjidul haram.

– Kebolehan ini terikat oleh syarat yaitu izin dari waliyul ‘amr (penguasa) dan umat Islam, serta jika kedatangannya memiliki maslahat, jika tidak terpenuhi syaratnya maka tidak boleh.

Demikian. Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahibihi wa Sallam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

[1] Imam Asy Syafi’iy, Al Umm, 1/71

[2] Ibid

[3] Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 37/221

[4] Ibid

[5] Imam Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad, 3/629

 

Membaca Al Quran Memakai Mushaf Lebih Utama Dibanding Lewat Hapalan

🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

قراءة القرآن من المصحف أفضل من القراءة عن ظهر القلب لأن النظر في المصحف عبادة مطلوبة فتجتمع القراءة والنظر هكذا قاله القاضي حسين من أصحابنا وأبو حامد الغزالي وجماعات من السلف ونقل الغزالي في الإحياء أن كثيرين من الصحابة رضي الله عنهم كانوا يقرؤون من المصحف ويكرهون أن يخرج يوم ولم ينظروا في المصحف
وروى ابن أبي داود القراءة في المصحف عن كثيرين من السلف ولم أر فيه خلافا ولو قيل إنه يختلف باختلاف الأشخاص فيختار القراءة في المصحف لمن استوى خشوعه وتدبره في حالتي القراءة في المصحف وعن ظهر القلب ويختار القراءة عن ظهر القلب لمن لم يكمل بذلك خشوعه ويزيد على خشوعه وتدبره لو قرأ من المصحف لكان هذا قولا حسنا والظاهر أن كلام السلف وفعلهم محمول على هذا التفصيل

Membaca Al Quran melalui mushaf adalah lebih utama dibanding dari hapalan. Karena melihat mushaf sendiri adalah sebuah ibadah. Sehingga berpadulah keutamaan membaca dan melihat mushaf. Itulah yang dikatakan Al Qadhi Husein dari kalangan sahabat-sahabat kami (Syafi’iyyah), Abu Hamid Al Ghazali, dan jamaah para salaf. Al Ghazali telah menukil dalam Al Ihya’, bahwa kebanyakan para sahabat nabi Radhiallahu ‘Anhum membaca Al Quran melalui mushaf dan mereka membenci jika sehari mereka lalui tanpa melihat mushaf.

Ibnu Abi Daud meriwayatkan bahwa membaca lewat mushaf telah dilakukan oleh kebanyakan ulama salaf , “Dan Saya tidak melihat adanya perselisihan pendapat dalam hal ini.” Walau memang ada perbedaan yang sifatnya personal, mungkin ada orang yang memilih membaca lewat mushaf bagi bisa mencapai khusyu’ dan mampu memahaminya baik dengan cara melihat mushaf atau menghapal. Ada juga yang memilih lewat hapalan bagi yang bisa mendapatkan kekhusyuan dan pemahaman makna dengan cara itu. Tetapi, dia akan bertambah khusyu dan baik pemahamannya jika membacanya lewat mushaf. Maka, yang seperti ini adalah pendapat yang baik, Maka, yang ebnar adalah bahwa perkataan kaum salaf dan perbuatan mereka, dimaknai sebagaimana penjelasan ini.

📚 At Tibyan fi Adab Hamalatil Quran, Hal. 100

🌷☘🌺🌴🍃🌸🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Sudah Iqamah, Apakah Masih Boleh Meneruskan Shalat Sunnah?

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum ustad Farid yg saya muliakan…smoga antum sekeluarga slalu di berkahi Allah azza wa jalla….
Ana mau tanya,bagaimana hukumnya sholat sunah qobliyah yg tiba2 di batalkan apabaila muadzin sdh mengumandangkan iqomah utk menunaikan sholat wajib?

📬 JAWABAN

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Wa’alaikumussalam .., Bismillah wal Hamdulillah …, wa laka bimitslih ..

Jika kasusnya seperti itu, maka gugurlah anjuran shalat sunnah. Tidak boleh menegakkan shalat sunah, ketika sudah iqamah. Tetapi jika ‘memaksakan’ ingin melakasanakan juga, maka tetap sah, namun makruh.

Hal ini di dasarkan hadits berikut (sebenarnya haditsnya banyak, namun saya paparkan satu saja):

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia bersabda: “Jika sudah iqamat untuk shalat, maka tidak ada shalat kecuali shalat maktubah (fardhu).” (Hr. Muslim)

Dalam kitab Tuhfah Al Ahwadzi disebutkan:

قَالَ الْحَافِظُ فِي الْفَتْحِ فِيهِ مَنْعُ التَّنَفُّلِ بَعْدَ الشُّرُوعِ فِي إِقَامَةِ الصَّلَاةِ سَوَاءٌ كَانَتْ رَاتِبَةً أَمْ لَا لِأَنَّ الْمُرَادَ بِالْمَكْتُوبَةِ الْمَفْرُوضَةُ ، وَزَادَ مُسْلِمُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ فِي هَذَا الْحَدِيثِ : قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ ؟ قَالَ : وَلَا رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ ، أَخْرَجَهُ اِبْنُ عَدِيٍّ فِي تَرْجَمَةِ يَحْيَى بْنِ نَصْرِ بْنِ حَاجِبٍ وَإِسْنَادُهُ حَسَنٌ اِنْتَهَى . وَالْحَدِيثُ يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَا يَجُوزُ الشُّرُوعُ فِي النَّافِلَةِ عِنْدَ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ مِنْ غَيْرِ فَرْقٍ بَيْنَ رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ وَغَيْرِهِمَا

“Berkata Al Hafizh (maksudnya Imam Ibnu Hajar) dalam Al Fath, di dalamnya tedapat larangan melaksanakan shalat nafilah setelah masuk iqamah shalat, sama saja baik shalat rawatib atau bukan. Karena yang dimaksud shalat maktubah (dalam hadits) adalah shalat fardhu. Muslim bin Khalid menambahkan dari Amru bin Dinar, tentang hadits ini, diakatan: “Ya Rasulullah, apakah dua rakaat shalat fajar juga tidak boleh?” Beliau menjawab: “Tidak pula dua rakaat shalat fajar.” Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam tarjamah Yahya bin Nashr bin Hajib, sanadnya hasan. Selesai.

Hadits ini menunjukkan bahw tidak boleh melaksanakan nafilah ketika sudah iqamat shalat, tidak ada perbedaan antara dua rakaat shalat sunah fajar atau selainnya.” (Tuhfah Al Ahwadzi, 1/459)

Namun larangan ini bukan berarti haram, melainkan makruh saja, sebab ada kasus lain dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَرْجِسَ قَالَ دَخَلَ
رَجُلٌ الْمَسْجِدَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فِي جَانِبِ الْمَسْجِدِ ثُمَّ دَخَلَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا فُلَانُ بِأَيِّ الصَّلَاتَيْنِ اعْتَدَدْتَ أَبِصَلَاتِكَ وَحْدَكَ أَمْ بِصَلَاتِكَ مَعَنَا

Dari Abdullah bin Sarjis berkata: seorang laki-laki masuk ke mesjid, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang shalat subuh. Maka laki-laki itu shalat sendiri dua rakaat di tepi mesjid, lalu bergabung bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ketika Rasulullah selelesai mengucapkan salam, beliau bersabda; “Hai fulan, shalat manakah yang lebih engkau utamakan; apakah shalatmu sendiri, atau shalat bersama kami?” (Hr. Muslim)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

وفي إنكار الرسول صلى الله عليه وسلم، مع عدم أمره بإعادة ما صلي، دليل على صحة الصلاة وإن كانت مكروهة

“Pengingkaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, namun dia tidak memerintahkan untuk mengulangi shalat, menunjukkan bahwa shalatnya tetap sah, walau dibenci (makruh).” (Fiqhus Sunnah, 1/109)

Demikian. Wallahu A’lam

🌷☘🌺🌴🍃🌸🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Iblis Pun Menjebak Orang yang Membaca Al Quran

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata:

وقد لبس إبليس على قوم من القراء فهم يقرأون القرآن في منارة المسجد بالليل بالأصوات المجتمعة المرتفعة الجزء والجزأين فيجتمعون بين أذى الناس في منعهم من النوم وبين التعرض للرياء ومنهم من يقرأ في مسجده وقت الأذان لأنه حين اجتماع الناس في المسجد.
قال المصنف ومن أعجب ما رأيت فيهم أن رجلا كان يصلي بالناس صلاة الصبح يوم الجمعة ثم يلتفت فيقرأ المعوذتين ويدعو دعاء الختمة ليعلم الناس أني قد ختمت الختمة وما هذه طريقة السلف فإن السلف كانوا يسترون عبادتهم وكان عمل الربيع بن خثيم كله سرا فربما دخل عليه الداخل وقد نشر المصحف فيغطيه بثوبه وكان أحمد بن حنبل يقرأ القرآن كثيرا ولا يدري متى يختم

Iblis telah memperdayai segolongan ahli pembaca Al Quran, mereka membaca Al Quran di menara masjid di malam hari, dengan suara yang dikeraskan, juz demi juz, sehingga selain mengganggu manusia yang sedang tidur mereka juga menampakkan riya.

Di antara mereka ada yang membaca Al Quran ketika adzan, karena saat itu orang-orang mendatangi dan berkumpul di masjid. Pernah saya melihat kejadian yang aneh, ada orang yang shalat subuh pada hari Jumat bersama manusia, lalu dia tengok kanan kiri lalu membaca Al Falaq dan An Naas, kemudian membaca doa khataman Al Quran supaya pamer kepada manusia agar mereka tahu bahwa dia telah mengkhatamkannya.

Ini bukanlah perilaku salaf, karena mereka suka menyembunyikan amal ibadahnya. Bahkan Ar Rabi’ bin Khutsaim menyembunyikan semua amalnya. Jika ada orang yang masuk ke rumahnya saat dia sedang membaca mushaf, maka dia menutup mushafnya dengan kainnya. Dahulu Imam Ahmad bin Hambal banyak membaca Al Quran tapi tidak diketahui kapan dia mengkhatamkannya.

🔸🔹🔸🔹🔸🔹🔸🔹

📚 Imam Abul Faraj bin Al Jauzi, Talbis Iblis, Hal. 128

☘🌸🌺🌴🌻🌾🌷🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top