Hukum Wanita Mengantar / Mengiringi Jenazah ke Kuburan

 PERTANYAAN:

Ustadz Farid, apakah perempuan boleh mengantarkan jenazah ke kubur? Jazakallahu khayran. Rama

 JAWABAN

Para ulama berbeda pendapat tentang wanita mengantar jenazah ke kubur. Ada yang memakruhkan, membid’ahkan, dan membolehkan mereka mengiringi jenazah.

Ummu ‘Athiyah Radhiallahu ‘Anha mengatakan:

«كُنَّا» نُنْهَى عَنِ اتِّبَاعِ الْجَنَائِزِ، وَلَمْ يُعْزَمْ عَلَيْنَا”

Kami dilarang mengiringi jenazah, tetapi larangan itu tidak ditekankan atas kami. (HR. Muslim No. 938)

Larangan ini bermakna makruh, dan menjadi pendapat mayoritas ulama. Ada pun Imam Malik membolehkannya, namun memakruhkan bagi wanita muda dan jika muncul hal yang munkar dari mereka.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

مَعْنَاهُ نَهَانَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَلِكَ نَهْيَ كَرَاهَةِ تَنْزِيهٍ لَا نَهْيَ عَزِيمَةِ تَحْرِيمٍ وَمَذْهَبُ أَصْحَابِنَا أَنَّهُ مَكْرُوهٌ لَيْسَ بِحَرَامٍ لِهَذَا الْحَدِيثِ قَالَ الْقَاضِي قَالَ جُمْهُورُ الْعُلَمَاءِ بِمَنْعِهِنَّ مِنَ اتِّبَاعِهَا وَأَجَازَهُ عُلَمَاءُ الْمَدِينَةِ وَأَجَازَهُ مَالِكٌ وَكَرِهَهُ لِلشَّابَّةِ

“Maknanya, kami dilarang oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari hal itu, yaitu larangan yang menunjukkan makruh tanzih. Bukan makruh yang mengarah haram, Menurut para sahabat kami (Syafi’iyah), hadits ini menunjukkan makruh, bukan haram. Al Qadhi ‘Iyadh mengatakan: mayoritas ulama melarang wanita mengiringi jenazah, sedangkan ulama Madinah membolehkannya, Malik membolehkannya, tetapi makruh bagi wanita muda.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/351. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Imam Ibnu Baththaal Rahimahullah menjelaskan:

قال ابن المنذر: روينا عن ابن مسعود، وابن عمر، وأبى أمامة، وعائشة أنهم كرهوا للنساء اتباع الجنائز، وكره ذلك أبو أمامة، ومسروق، والنخعى، والحسن، ومحمد بن سيرين، وهو قول الأوزاعى، وأحمد، وإسحاق، وقال الثورى: اتباع النساء الجنازة بدعة. وروى جواز اتباع النساء الجنازة عن ابن عباس، والقاسم، وسالم، وعن الزهرى، وربيعة، وأبى الزناد مثله، ورخص مالك فى ذلك، وقال: قد خرج النساء قديمًا فى الجنائز، وخرجت أسماء تقود فرس الزبير، وهى حامل، وقال: ما أرى بخروجهن بأسًا إلا فى الأمر المستنكر

Ibnul Mundzir mengatakan: Kami meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Abu Umamah, dan ‘Aisyah, bahwa mereka memakruhkan wanita mengiringi jenazah. Dimakruhkan pula oleh Abu Umamah, Masruq, An Nakha’i, Al Hasan, Muhammad bin Sirin, dan ini pendapat Al Auza’i, Ahmad, dan Ishaq. Sufyan At Tsauri mengatakan: “Wanita ikut mengiringi jenazah adalah bid’ah.” Diriwayatkan kebolehan wanita mengiringi jenazah dari Ibnu Abbas, Al Qasim, Az Zuhri, Rabi’ah, Abu Az Zinad, dan semisalnya, dan Malik memberikan keringan (rukhshah), Beliau mengatakan: “Wanita zaman dahulu ikut keluar mengiringi jenazah, Asma’ keluar dengan menuntun kudanya Az Zubeir, dan dia sedang hamil. Dan Malik berkata: “Menurutku tidak masalah keluarnya kaum wanita kecuali jika ada hal-hal yang memang mesti diingkari.” (Syarh Shahih Al Bukhari,  3/267-268).

Ada pula yang mengatakan larangan tersebut bertingkat tergantung kondisi.

Al Muhallab Rahimahullah mengatakan:

هذا الحديث يدل على أن النهى من النبى، (صلى الله عليه وسلم) ، على درجات، فيه نهى تحريم، ونهى تنزيه، ونهى كراهية، وإنما قالت أم عطية: (ولم يعزم علينا) لأنها فهمت من النبى (صلى الله عليه وسلم) أن ذلك النهى إنما أراد به ترك ما كانت الجاهلية

Hadits ini menunjukkan bahwa larangan dari Nabi ﷺ itu bertingkat-tingkat. Padanya ada larangan haram, larangan menujukkan tanzih (lebih baik dihindari), dan larangan makruh. Perkataan Ummu ‘Athiyah (Larangan itu tidak ditekankan kepada kami) hanyalah menunjukkan apa yang dipahaminya dari Nabi ﷺ merupakan larangan dalam rangka meninggalkan apa-apa yang terjadi pada masa jahiliyah. (Ibid)

Al Qadhi ‘Iyadh berkata:

اختلف العلماء فى إباحة اتباع النساء الجنائز، فجمهورهم على منعه لظاهر النهى فى الحديث، واختاره جماعةُ علماء المدينة ومالك يجيزه ويكرهه للشابة، وفى الأمر المستنكر

Ulama berbeda tentang kebolehan mengantarkan jenazah (bagi wanita), mayoritas melarangnya sesuai zahir hadits, itulah yg dipilih ulama madinah. Sedangkan Imam Malik membolehkannya, tapi dia memakruhkan bagi wanita muda dan jika ada hal yg munkar.

(Ikmal Al Mu’lim, 3/382)

Apa lagi jika yg wafat adalah suami, yang mengantarkan istri, ini tidak boleh. Sebab istri statusnya adalah iddah, sudah tidak boleh keluar rumah tanpa alasan darurat.

Demikian. Zahirnya menunjukkan memang terlarang walau dengan larangan yang tidak keras, sehingga rata-rata ulama memakruhkan. Walau ada yang membolehkan jika aman dari finah dan hal-hal munkar. Wallahu A’lam

☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Standar Kesalafian

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Ada sebagian orang membuat standar kesalafian begitu sederhana. Hal-hal yang dijadikan standar itu bukanlah value utama seseorang disebut “salafi” yaitu mengikuti Al Quran, As Sunnah, dan pemahaman salafush shalih, tapi kesesuaian dengan mau dan kulturnya mereka.

Perbedaan pandangan fiqih pun sampai dijadikan sebab seseorang dikeluarkan dari zona salafi. Jelas, ini kezaliman terhadap manhaj salaf itu sendiri. Semoga yang seperti ini hanyalah perilaku orang-orang awamnya, yang baru kembali kepada agama, namun begitu nge-joss sehingga dia mudah membuat “branding” kepada dirinya dan orang lain.

Di antaranya adalah:

📌 Seorang salafi tidak boleh isbal, jika isbal maka bukan salafi. #Padalah Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan mayoritas ulama tidak mengharamkan isbal, kecuali jika dibarengi kesombongan.

📌 Seorang salafi kalau turun dari ruku ke sujud adalah tangan dulu, bukan lutut dulu. #Padahal mayoritas ulama mengatakan lutut dulu, baru kedua tangan. Ini tenar di kitab-kitab fiqih.

📌 Salafi itu kalau wirid tidak pakai tasbih, pakai tasbih itu bid’ah. # Padahal Imam As Suyuthi mengatakan sejak masa salaf dan khalaf manusia menggunakannya, dan tidak memakruhkannya, bahkan Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Shalih Al Fauzan, membolehkannya.

📌 Salafi itu tidak menasihati pemimpin secara terang terangan, kalau terang terangan maka khawarij. # Padahal para masyayikh Salafiyin sendiri membolehkan menasihati secara terang-terangan jika memang membawa maslahat, seperti fatwa Syaikh Utsaimin, Syaikh Abdullah Al Qu’ud, Syaikh Muqbil, dan lainnya. Dan, para salaf pun melakukannya.

📌 Salafi itu kalau warna pakaian muslimahnya gelap-gelap saja, kalau warna warni maka bukan akhwat salafiyah # Padahal masa nabi dijumpai para sahabiyah dan istri nabi yang memakai pakaian berwarna warni seperti merah, hijau, kuning, dan sebagainya, tentu hitam juga.

Dan masih banyak lagi .., tentu yang lebih unik adalah jika standar kesalafiyan adalah jika seseorang sudah rajin mendengar kajian dari radio X, majalah X, ustadz X .. jika sudah seperti itu maka secara zahir sudah masuk standar komunitas .., ada pun ustadz ustadz lain yang tidak masuk daftar, maka bukan termasuk salafi, betapa pun dia begitu semangat mengikuti ajaran salaf ..

Perilaku ‘ashabiyah dan hizbiyyah seperti ini tentu amatlah buruk, baik bagi pelakunya, juga bagi umat Islam

Benih perpecahan dan buruk sangka kepada sesama umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi subur

Al Wala (Loyalitas) yang syar’i adalah kepada Allah, Rasul, dan orang-orang beriman .. jangan diganti menjadi: Allah, Rasul, dan saudara sekelompok sepengajian ..

📌 Resistensi yang sangat ketat, barikade dan proteksi fikrah, membuat seolah standar kebenaran hanya ada pada kelompoknya, yang lain tidak ..

📌 Ketika berbagai elemen umat bersatu melawan si Penista Al Quran, mereka sibuk sendiri dan nyinyir terhadap gerakan umat Islam ..

📌 Diakui atau tidak, suka atau tidak, ini yang terjadi .., dan semoga ini hanya terjadi pada oknum-oknum saja.

Laa haula walaa quwwwata illa biillah

☘🌷🌺🍃🌾🌻🌴🌸

✍ Farid Nu’man Hasan

Anugrah Terbaik: Akhlak Yang Baik

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📌 Abdullah bin Syarik Radhiallahu ‘Anhu bercerita bahwa orang-orang Badui bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

قالوا يا رسول الله ماخير ما أعطي العبد ؟ قال ( خلق حسن )

Wahai Rasulullah, apa-apakah hal terbaik yang dianugerahkan bagi seorang hamba? Beliau menjawab: “Akhlak yang baik.”

(HR. Ibnu Majah No. 3436. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 6234. Ibnu Hibban No. 6061. Isnadnya Shahih, seperti yang dikatakan Imam Al Bushiri, Syaikh Syu’aib Al Arnauth, dll)

Sesungguhnya perkataan yang baik, wajah yang tersenyum, menyapa saudara, menghormati yang tua, yang menyayangi yang muda, memuliakan ulama, dan semua interaksi yang baik, merupakan buah dari akhlak yang baik. Semoga Allah menganugerahkan kita semua akhlak yang baik.

📌 Sebaliknya, memaki, bermuka masam, memboikot saudara tanpa alasan syar’i, menuding sesama muslim dan ulama, mudah menyebut sesat kepada saudaranya karena perbedaan pendapat dalam masalah furu’, merupakan buah dari akhlak dan pemahaman yang buruk. Semoga Allah menjaga kita dari akhlak seperti itu.

Dari Ziyad bin ‘Alaqah, dari pamannya (yaitu Qutbah bin Maalik Radhiallahu ‘Anhu), bahwa Nabi ﷺ berdoa:

اللهم إني أعوذ بك من منكرات الأخلاق والأعمال والأهواء

Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kemungkaran akhlak, perbuatan, dan hawa nafsu.

(HR. At Tirmidzi No. 3591, Ibnu Hibban No. 960. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnuath, Syaikh Al Albani, dll)

Wallahu A’lam

☘🌷🌺🌴🍃🌸🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Ikut Andil Membangun Geraja dan Tempat Maksiat

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📨 PERTANYAAN:

Abu:
Sy bekerja di bidang jasa konstruksi, kerjaan sy menghitung bahan bangunan yang dibutuhkan untuk membangun.
Terkadang mendapatkan kerjaan untuk menghitung bahan bangunan untuk membangun gereja, pabrik bir, pabrik wine, wiski dll. Itu hukumnya dalam islam bagaimana? Apakah halal?

📬 JAWABAN

💢💢💢💢💢💢💢

Bismillah wal hamdulillah ..

Seorang muslim dilarang untuk bekerjasama dalam dosa, kejahatan, dan permusuhan. Dan, puncak dari dosa adalah kekafiran kepada Allah ﷻ, kemudian maksiat-maksiat besar setelahnya seperti durhaka kepada kedua orangtua, sumpah palsu, membunuh, berjudi, zina, mabuk, dan semisalnya.

Maka, semua akifitas yang memfasilitasi terwujudnya penyembahan kepada selain Allah, dan berbagai dosa ini, adalah terlarang. Hal ini berdasarkan firman Allah ﷻ:

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan janganlah saling menolong dalam dosa (al itsmu) dan permusuhan (al ‘udwaan). (QS. Al Maidah: 2)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkata:

وينهاهم عن التناصر على الباطل والتعاون على المآثم والمحارم

Allah melarang mereka menolong dalam kebatilan, dan saling menolang dalam dosa dan perkara-perkara yang haram. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/13)

Imam Al Baghawi Rahimahullah mengatakan:

قيل: الإثم: الكفر، والعدوان: الظلم، وقيل: الإثم: المعصية، والعدوان: البدعة

Dikatakan bahwa maksud Al Itsmu (dosa) adalah kekufuran. Maksud Al ‘Udwaan adalah kezaliman. Dikatakan pula Al Itsmu adalah maksiat, dan Al ‘Udwaan adalah bid’ah. (Ma’aalim At Tanziil, 2/9)

Maka, membantu terwujudnya tempat ibadah selain Allah adalah sama juga membantu kepada penyembahan selain Allah pula. Begitu pula membantu terwujudnya fasilitas maksiat, maka itu telah ikut bermaksiat.

Kaidah fiqih menyebutkan:

ما ادى الى الحرام فهو حرام

Apa-apa yang mengantarkan kepada keharaman maka hal itu juga haram. (Imam Izzuddin bin Abdussalam, Qawaid Al Ahkam fi Mashalihil Anam, 2/184. Syaikh Zakariya bin Ghulam Qadir Al Bakistani, Ushul Al Fiqh ‘Ala Manhaj Ahlil Hadits, Hal. 114)

Perhatikan juga fatwa Imam Ibnu Hajar Al Haitami Rahimahullah berikut ini:

سئل : عن كافر ضل عن طريق صنمه فسأل مسلما عن الطريق إليه، فهل له أن يدل الطريق،

Imam Ibnu Hajar Al Haitami ditanya tentang seorang kafir yang tersesat jalan ke berhalanya, lalu bertanya kepada seorang muslim, maka bolehkah Muslim itu menunjukkan jalan tersebut?

فأجاب بقوله: ليس له أن يدله لذلك لأنا لا نقر عابدي الأصنام على عبادتها فإرشاده للطريق إليه إعانة له على معصية عظيمة فحرم ذلك

Beliau menjawab: Muslim tersebut tidak boleh menunjukkan jalan itu, karena kita tidak boleh membiarkan penyembah berhala untuk menyembahnya. Menunjukkan jalan kepadanya berarti membantunya pada kemaksiatan yang besar, sehingga hal tersebut hukumnya haram. (Fatawa Imam Ibnu Hajar Al Haitami, 1/248)

Demikian. Semoga Allah berikan reziki yang lebih baik dan menenangkan, serta mengandung keberkahan.

Wallahu A’lam

🌺🍃🌱🌻🌴🌿☘🌾🌸

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top