Sedekah Jumat

💢💢💢💢💢💢💢💢

Bismillahirrahmanirrahim..

Secara khusus, tidak ditemukan adanya dalil yang mengkhususkan Jumat atau malam Jumat sebagai hari untuk sedekah, dengan berbagai keutamaannya. Tetapi, mengkhususkannya pun juga tidak terlarang.

Sebab, secara umum hari Jumat memang hari paling utama dalam Islam, sebagaimana tanah haram dibanding tanah yang lain, atau bulan Ramadhan dibanding bulan yang lain. Maka begitulah posisi hari Jumat dibanding hari lainnya.

Bahkan dijuluki Sayyidul Ayyaam (pimpinannya hari), dan lebih agung di sisi Allah dibanding Idul Fitri dan Idul Adha. (HR. Ibnu Majah no. 1084, hasan)

Oleh karenanya para ulama pun membenarkan keutamaan sedekah di hari Jumat.

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

أن للصدقة فيه مزية عليها في سائر الأيام، والصدقة فيه بالنسبة إلى سائر أيام الأسبوع ، كالصدقة في شهر رمضان بالنسبة إلى سائر الشهور. وشاهدت شيخ الإسلام ابن تيمية قدس الله روحه، إذا خرج إلى الجمعة يأخذ ما وجد في البيت من خبز أو غيره، فيتصدق به في طريقه سرا

Bahwasanya bersedekah di hari Jumat ada keistimewaan dibanding hari-hari lainnya selama sepekan. Sebagaimana sedekah di bulan Ramadhan dibandingkan bulan-bulan lain.

Aku lihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – semoga Allah sucikan ruhnya- jika keluar rumah hari Jumat dia akan membawa sesuatu dari rumahnya, baik roti atau lainnya, lalu dia sedekahkan di jalan secara diam-diam.

(Zaadul Ma’ad, 1/407)

Imam Al Bujairimi Rahimahullah mengatakan:

ويسن كثرة الصدقة وفعل الخير في يومها وليلتها، ويكثر من الصلاة على رسول الله صلى الله عليه وسلم في يومها وليلتها لخبر: إن من أفضل أيامكم يوم الجمعة، فأكثروا علي من الصلاة فيه، فإن صلاتكم معروضة علي. انتهى

Disunnahkan banyak sedekah dan melakukan kebaikan di hari Jumat dan malamnya. Begitu juga disunnahkan banyak shalawat berdasarkan hadits: “Sesungguhnya hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat, maka perbanyaklah shalawat kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian itu sampai kepadaku.”

(Tuhfatul Habib, 2/431)

Demikian. Wallahu a’lam

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa’ ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🍀🍁🌿🌻🌷🍃🌸🌳

✍ Farid Nu’man Hasan

[Tata Cara Shalat] – Bersedekap (Di manakah letak tangannya?)

💢💢💢💢💢💢💢

Ini termasuk SUNNAH menurut mayoritas ulama, kecuali Malikiyah yang mengatakan justru makruh, kecuali shalat sunnah. Menurut Malikiyah hendaknya tangan tetap lurus disamping tubuh (irsaal). Bisa jadi ada yang menyangka ini shalatnya syiah, padahal Sunni yang Maliki juga melakukannya.

Kami akan ambil dari dua sumber.

Pertama. Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 38/369

Berikut ini kutipannya:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ إِلَى أَنَّ مِنْ سُنَنِ الصَّلاَةِ الْقَبْضَ وَهُوَ وَضْعُ الْيَدِ الْيُمْنَى عَلَى الْيُسْرَى وَخَالَفَهُمْ فِي ذَلِكَ الْمَالِكِيَّةُ فَقَالُوا : يُنْدَبُ الإِْرْسَال وَيُكْرَهُ الْقَبْضُ فِي صَلاَةِ الْفَرْضِ وَجَوَّزُوهُ فِي النَّفْل وَهَذَا فِي الْجُمْلَةِ .
وَمَكَانُ وَضْعِ الْيَدَيْنِ بِهَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ هُوَ تَحْتَ الصَّدْرِ وَفَوْقَ السُّرَّةِ ، وَهَذَا عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَرِوَايَةٌ عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ ، وَهُوَ قَوْل سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ لِمَا رَوَى وَائِل بْنُ حُجْرٍ قَال : صَلَّيْتُ مَعَ رَسُول اللَّهِ ، وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى يَدِهِ الْيُسْرَى عَلَى صَدْرِهِ
وَعِنْدَ الْحَنَفِيَّةِ وَفِي الرِّوَايَةِ الأُْخْرَى عِنْدَ الْحَنَابِلَةِ أَنَّهُ يَضَعُ يَدَيْهِ تَحْتَ سُرَّتِهِ وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ عَلِيٍّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي مِجْلَزٍ وَالنَّخَعِيِّ وَالثَّوْرِيِّ وَإِسْحَاقَ لِمَا رُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ قَال : مِنَ السُّنَّةِ وَضْعُ الْكَفِّ عَلَى الْكَفِّ فِي الصَّلاَةِ تَحْتَ السُّرَّةِ

Mayoritas ahli fiqih seperti Hanafiyah, Syafi’iyah dan Hanabilah, berpendapat bahwa di antara SUNNAH-SUNNAH shalat adalah Al Qabdh (bersedekap), yaitu meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri.

Sementara Malikiyah menyelisihi mereka dalam hal ini, mereka mengatakan: “Dianjurkan irsaal (meluruskan tangan) dan dimakruhkan sedekap di dalam shalat wajib namun boleh di shalat sunnah.” Inilah gambaran secara umum.

Ada pun tempat meletakkan tangannya adalah di bawah dada dan di atas pusar, ini menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan sebuah riwayat dari Hanabilah. Ini juga pendapat Sa’id bin Jubeir. Berdasarkan hadits Wail bin Hujr, dia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, Beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya, di dadanya.”

Sedangkan menurut Hanafiyah, dan sebuah riwayat lain dari Hanabilah, bahwa diletakkan kedua tangan itu di bawah pusar. Cara seperti ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Abu Mijlaz, An Nakha’i, Ats Tsauri, dan Ishaq. Berdasarkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib: “Diantara sunah dalam shalat adalah meletakkan telapak tangan di atas telapak tangan, di bawah pusar.” (selesai)

Kedua. Fiqhus Sunnah, 1/146

Berikut ini uraian Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

قال الكمال بن الهمام. ولم يثبت حديث صحيح يوجب العمل في كون الوضع تحت الصدر، وفي كونه تحت السرة، والمعهود عند الحنفية هو كونه تحت السرة وعند الشافعية تحت الصدر.
وعن أحمد قولان كالمذهبين، والتحقيق المساواة بينهما.
وقال الترمذي: أن أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم والتابعين ومن بعدهم يرون أن يضع الرجل يمينه على شماله في الصلاة، ورأى بعضهم فوق السرة، ورأى بعضهم أن يضعها تحت السرة، وكل ذلك واقع عندهم. انتهى.
ولكن قد جاءت روايات تفيد أنه صلى الله عليه وسلم، كان يضع يديه على صدره، فعن هلب الطائي قال: رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يضع اليمنى على اليسرى على صدره فوق المفصل، رواه أحمد، وحسنه الترمذي.
وعن وائل بن حجر قال: (صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم فوضع يده اليمنى على يده اليسرى على صدره) رواه ابن خزيمة وصححه ورواه أبو داود والنسائي بلفظ: ثم وضع يده اليمنى على ظهر كفه اليسرى والرسغ والساعد.أي أنه وضع يده اليمنى على ظهر اليسرى ورصغها وساعدها.

Berkata Al Kamal bin Al Hummam: “Tidak ada hadits shahih yang menunjukkan aktifitas posisi meletakkan tangan di bawah dada, dan di bawah pusar. Dan, yang dianut oleh Hanafiyah adalah posisinya di bawah pusar, dan bagi Syafi’iyah di bawah dada.”

Sedangkan Ahmad ada dua riwayat, sebagaimana dua madzhab tersebut.

At Tirmidzi berkata: “Para ulama dari kalangan sahabat Nabi ﷺ, tabi’in, dan generasi setelah mereka, berpendapat bahwa seseorang meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, sebagian mereka berpendapat meletakkan di atas pusar, sebagian lain berpendapat di bawah pusar. Semua ini ada dalam pendapat mereka.” Selesai

Tetapi terdapat banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ meletakkan kedua tangannya di atas dadanya. Dari Halab Ath Tha’iy, dia berkata: “Aku melihat Nabi ﷺ meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, di dadanya, di atas mufashshal (batas antara dada dan perut).”

Diriwayatkan oleh Ahmad, dan dihasankan oleh At Tirmidzi. Dari Wail bin Hujr, dia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ, Beliau meletakkan tangan kanan di atas tangan kirinya, di dadanya.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dia menshahihkannya.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dan An Nasa’i dengan lafaz: “Kemudian Beliau meletakkan tangan kanannya di atas punggung telapak tangan kirinya dan pergelangan tangannya serta tulang hastanya.” Maksudnya Beliau meletakkan tangan kanannya di punggung tangan kirinya, pergelangannya dan bagian hastanya.

💢 Kesimpulan:

✅ Hanafiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah (Hambaliyah), berpendapat SUNNAHnya bersedekap

✅ Sementara Malikiyah -pengikut Imam Malik- memakruhkan sedekap pada shalat wajib, tapi boleh pada shalat sunah.

✅ Tempatnya sedekap adalah di bawah dada tapi di atas pusar (antara dada dan pusar). Ini pendapat Malikiyah, Syafi’iyah, juga Imam Ahmad dalam satu riwayat, berdasarkan riwayat Wail bin Hujr.

✅ Hanafiyah dan sebagian Hanabilah, meletakkan tangan di bawah pusar. Ini juga pendapat Imam Ahmad dalam riwayat lainnya. Berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.

✅ Para ulama masa sahabat nabi, tabi’in, dan generasi setelah mereka mempraktekan keduanya, baik di antara dada dan pusar, dan di bawah pusar.

✅ Ada pun pas di dada berdasarkan riwayat Halab bin Tha’iy, disebutkan oleh Imam Ahmad dan Imam At Tirmidzi, dengan sanad hasan.

✅ Jadi, mau di bawah pusar, antara dada dan pusar, atau di dada, semuanya ada. Ada pun TANPA SEDEKAP, tangan lurus saja, dianggap pendapat lemah oleh Syaikh Wahbah Az Zuhailiy. Pendapat yang rajih/kuat adalah pendapat mayoritas ulama. (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 2/63)

✅ Imam Malik sendiri berbeda dengan pengikutnya, Beliau sampai akhir hayatnya tetap bersedekap, sebagaimana dikatakan Imam Ibnu Abdil Bar. (Fiqhus Sunnah, 1/146)

Bersambung..

Demikian. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Wallahu A’lam

🌴🍄🌷🌱🌸🍃🌵🌾🌹

✍ Farid Nu’man Hasan

[Tata Cara Shalat] – Takbiratul Ihram

Sebelumnya:

[Tata Cara Shalat] – Bersedekap (Di manakah letak tangannya?)

💢💢💢💢💢💢💢

Yaitu ucapan takbir Allahu Akbar, sebagai pembuka shalat sesaat setelah niat. Ini salah satu rukun shalat, tanpanya shalat menjadi batal.

Secara bahasa takbiratul ihram artinya takbir untuk mengharamkan. Maksudnya dengan takbir tersebut maka diharamkan aktifitas lain kecuali hanya bacaan dan gerakan shalat.

Hal ini berdasarkan hadits:

مفتاح الصلاة الطهور، وتحريمها التكبير، وتحليلها التسليم

Kuncinya Shalat adalah bersuci, pengharamnya adalah takbir, dan penghalalannya adalah salam.

(HR. Abu Daud, Ahmad, Al Hakim, kata Al Hakim: sanadnya Shahih)

Caranya adalah dengan mengucapkan Allahu Akbar, sambil mengangkat tangan, dan mengangkat tangan hukumnya sunnah berdasarkan ijma’.

Dari Abu Humaid:

أن النبي
صلى الله عليه وسلم كان إذا قام إلى الصلاة اعتدل قائما ورفع يديه ثم قال: (الله أكبر) ، رواه ابن ماجه، وصححه ابن خزيمة وابن حبان

Bahwa Nabi ﷺ jika dia berdiri untuk shalat, maka dia diri tegak lurus, dan mengangkat kedua tangannya dan membaca: Allahu Akbar.

(HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Bagaimana tata cara mengangkat tangannya? Yaitu boleh sejajar pundak (bahu) dan boleh sejajar telinga.

Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ، وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يُكَبِّرُ لِلرُّكُوعِ ، وَيَفْعَلُ ذَلِكَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، وَيَقُولُ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ، وَلاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ “

“Aku melihat jika Rasulullah ﷺ berdiri shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan PUNDAKNYA. Beliau melakukan seperti itu ketika takbir untuk rukuk dan bangkit dari rukuk dengan mengangkat kepalanya sambil mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya) ‘. Namun beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud.”

(HR. Bukhari no. 735 dan Muslim no. 390)

Malik bin Huwairits Radhiallahu ‘Anhu berkata:

” أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ ، وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ ” فَقَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ “

Bahwa Rasulullah ﷺ apabila bertakbir mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua telinganya. Apabila rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua TELINGANYA, dan apabila mengangkat kepalanya dari rukuk seraya mengucapkan; ‘Sami’allahu liman hamidah (semoga Allah mendengarkan orang yang memujiNya)’, beliau melakukan seperti itu juga.

(HR. Muslim no. 391)

Dari keterangan di atas, menunjukkan ada beberapa keadaan disunnahkan mengangkat kedua tangan.

– Saat takbiratul ihram
– Saat akan ruku’
– Saat bangun dari ruku’

Utk shalat yang empat rakaat dianjurkan angkat tangan pula saat bangun dari duduk tasyahud awal.

Dalam Syarhul Mumti’, tertulis:

مواضع رَفْع اليدين أربعة : عند تكبيرة الإحرام ، وعند الرُّكوعِ ، وعند الرَّفْعِ منه ، وإذا قام من التشهُّدِ الأول

Ada 4 posisi mengangkat kedua tangan:

– saat takbiratul Ihram
– hendak ruku’
– bangun ruku’
– dan bangun dari tasyahhud awal.

(Syarhul Mumti’, 3/214)

Demikian. Wallahu A’lam

Bersambung..

🌴🍄🌷🌱🌸🍃🌵🌾🌹

✍ Farid Nu’man Hasan

Selanjutnya:

[Tata Cara Shalat] – Bersedekap (Di manakah letak tangannya?)

 

[Tata Cara Shalat] – Niat

💢💢💢💢💢💢💢

Rasulullah bersabda:

انما الاعمال بالنيات

Amal itu hanyalah dengan niat. (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya tidak SAH sebuah amal ibadah tanpa niat, dan shalat termasuk di dalamnya. Tanpa niat maka shalat batal atau tidak sah.

Niat artinya ‘azmul qalbi (tekad di hati), dan al qashdu (maksud).

Maka, tempatnya niat adalah di hati. Semua ulama sepakat ini. Jika seseorang dihatinya sdh ada kehendak dan tekad, ingin shalat secara spesifik (misal subuh, zuhur, dll), maka itu sudah cukup dan sah dikatakan niat.

Ada pun mengucapkan niat di lisan, adalah perselisihan ulama. Sebagian ulama mengatakan sunnah (dianjurkan), ada yang mengatakan boleh, ada yang mengatakan (makruh/dibenci), bahkan bid’ah (mengada-ngada). Sikap kita adalah lapang dada atas perbedaan pendapat ini. Namun, yang jelas semua sepakat niat di hati saja sudah cukup dan itu sah. Keluar dari perselisihan adalah lebih baik.

Imam Muhammad bin Hasan Al Hanafi mengatakan:

النِّيَّةُ بِالْقَلْبِ فَرْضٌ ، وَذِكْرُهَا بِاللِّسَانِ سُنَّةٌ ، وَالْجَمْعُ بَيْنَهُمَا أَفْضَل

“Niat di hati adalah wajib, menyebutnya di lisan adalah sunah, dan menggabungkan keduanya adalah lebih utama.”

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 42/100)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah menyebutkan:

ولا يشترط التلفظ بها قطعاً، لكن يسن عند الجمهور غير المالكية التلفظ بها لمساعدة القلب على استحضارها، ليكون النطق عوناً على التذكر، والأولى عند المالكية: ترك التلفظ بها ؛ لأنه لم ينقل عن النبي صلّى الله عليه وسلم وأصحابه التلفظ بالنية، وكذا لم ينقل عن الأئمة الأربعة

“Secara qah’i melafazkan niat tidaklah menjadi syarat sahnya, tetapi DISUNNAHKAN menurut jumhur (mayoritas) ulama -selain Malikiyah- melafazkannya untuk menolong hati menghadirkan niat, agar pengucapan itu menjadi pembantu dalam mengingat, dan yang lebih utama menurut kalangan Malikiyah adalah meninggalkan pelafazan niat itu, karena tidak ada riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya tentang melafazkan niat, begitu pula tidak ada riwayat dari imam yang empat.”

(Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/137)

Bersambung..

Demikian. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Wallahu A’lam

🌴🍄🌷🌱🌸🍃🌵🌾🌹

✍ Farid Nu’man Hasan

Selanjutnya:

[Tata Cara Shalat] – Bersedekap (Di manakah letak tangannya?)

 

scroll to top