Jika Pelaksanaan Haji Tidak Ada di Tanah Suci, Bagaimana dengan Hari Rayanya?

💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalaamu ‘alaikum wr wb. Ustdz izin sy mau bertanya? 🙏Tahun ini tdk ada pelaksanaan ibadah haji, berarti tdk ada jamaah yg wukuf di Arofah..apakah tetap ada hari raya ‘idul adha..
Mhn penjelasannya ustadz..Jazaakallah khoir..🙏. Tri, Ibadah

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bismillahirrahmanirrahim…

Hari raya dan Aktifitas shaum sunnah arafah, shalat id, dan menyembelih qurban, adalah ditentukan oleh tanggalnya yaitu 9, 10, 11 sd 13 Zulhijjah. Walau di tanah suci tidak berlangsung wuquf tanggal 9 Zulhijjah, tapi tanggal 9 Zulhijjah itu sendiri akan tetap terjadi di negeri manapun.

Imam Al Kharasyi Al Maliki mengatakan bahwa puasa Arafah itu ditentukan tanggal 9 Dzulhijjahnya. Beliau berkata:

(قَوْلُهُ: وَعَرَفَةَ وَعَاشُورَاءَ) هَذِهِ الْمَوَاسِمُ الْمُشَارُ بِقَوْلِهِ وَغَيْرِهِ مِنْ الْمَوَاسِمِ، وَعَاشُورَاءُ وَنِصْفُ شَعْبَانَ مَوْسِمٌ مِنْ حَيْثُ الصَّوْمُ وَغَيْرُهُ مِمَّا يُطْلَبُ فِيهِ، وَالْمَوَاسِمُ جَمْعُ مَوْسِمٍ الزَّمَنُ الْمُتَعَلِّقُ بِهِ الْحُكْمُ الشَّرْعِيُّ وَلَمْ يُرِدْ بِعَرَفَةَ مَوْضِعَ الْوُقُوفِ بَلْ أَرَادَ بِهِ زَمَنَهُ وَهُوَ الْيَوْمُ التَّاسِعُ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ

“Hari Arafah dan Asyura -sebagaimana yang disebutkan- adalah salah satu dari musim-musim ibadah. Jika ditinjau dari sisi puasa maka Hari Asyura’ dan Nisfu Sya’ban dan yang lainnya adalah musim ibadah yang dituntut untuk berpuasa pada musim tersebut.

Musim adalah waktu yang terkait dengan suatu hukum syariat. Bukanlah yang dimaksud dengan lafal “Arafah” adalah tempat wukuf, akan tetapi yang dimaksud adalah waktunya, yaitu waktu wukufnya, 9 Dzulhijjah.”

(Syarh Mukhtashar Al-Khalil, 2/234)

Hal ini berdasarkan hadits:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَصُومُ تِسْعًا مِنْ ذِى الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa tanggal 9 Dzulhijjah, hari Asyura, tiga hari setiap bulan, senin pertama setiap bulan, dan dua kali kamis.

(HR. An Nasa’i No. 2417, shahih)

Kenyataan sejarah juga menunjukkan bahwa puasa Arafah itu sudah ada SEBELUM Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan ibadah haji.

Al Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa puasa Arafah sudah dikenal dan biasa dilakukan generasi awal Islam di masa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabat. (Fathul Bari, 6/268)

Artinya “kebiasaan” ini menunjukkan bahwa shaum Arafah itu karena waktunya yaitu 9 Zulhijjah, bukan semata-mata adanya wukuf, sebab wukuf baru dilakukan tahun 10 Hijriyah saat haji wada’. Itulah wukuf satu-satunya yang Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam lakukan, hanya sekali. Sejarah ini menunjukkan ibadah-ibadah tersebut sudah dilakukan walau tidak ada haji kaum muslimin.

Peristiwa tahun ini (tidak ada pelaksanaan haji di Mekkah) seolah menjadi jawaban atas perdebatan panjang selama bertahun-tahun lamanya, di dunia medsos, dll, tentang “yang jadi patokan puasa Arafah itu TANGGALNYA atau peristiwa WUQUFNYA?” Tahun 2020 ini menjadi jawabannya, bahwa tanggal-lah yang lebih menentukan, dan ini pendapat yang kami ikuti sejak lama. Sebab, walau pun tidak ada haji tahun ini, ibadah-ibadah terkait Zulhijjah (Shaum Arafah, Shalat Id, Qurban) tetap berjalan seperti biasanya.

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🌷🌻🌸🍃🌵🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

Istilah-Istilah Penting Dalam Kajian Akhlak

💢💢💢💢💢💢💢💢

1⃣ Wara’

Imam Ibnu ‘Allan Rahimahullah:

هو عند العلماء ترك ما لا بأس به حذراً مما به بأس، وفي شرح الرسالة القشيرية للشيخ زكريا هو ترك الشبهات وهو الورع المندوب ويطلق على ترك المحرمات وهو الورع الواجب

Menurut para ulama wara’ adalah meninggalkan hal yang “tidak apa-apa” dalam rangka waspada terhadap yang “apa-apa”. Dalam Syarh Risalah al Qusyairiyah-nya Syaikh Zakariya, dijelaskan wara’ adalah meninggalkan syubhat. Itu adalah wara’ yang dianjurkan, ada pun wara’ yang wajib adalah meninggalkan yang diharamkan secara mutlak.

(Imam Ibnu ‘Allan, Syarh Riyadh ash Shalihin, 5/27)

2⃣ Zuhud

Imam at Tahanawi, mengutip dari As Surri As Suqthi Rahimahullah:

الزهد ترك حظوظ النفس من جميع ما في الدنيا أي لا يفرح بشيء منها ولا يحزن على فقده ولا يأخذ منها إلّا ما يعينه على طاعة ربه أو ما أمر في أخذه مع دوام الذكر والمراقبة والتفكر في الآخرة، وهذا أرفع أحوال الزهد

Zuhud adalah meninggalkan langkah-langkah keinginan jiwa dari semua isi dunia, yaitu sama sekali tidak bahagia dengan dunia dan tidak bersedih dengan kehilangannya, tidak mengambilnya kecuali apa-apa yang bisa membantunya dalam ketaatan kepada Rabbnya, atau apa-apa yang jika diambil membuatnya semakin konsisten dalam dzikir, muraqabah, dan tafakur kepada akhirat. Ini adalah kondisi tertinggi dari zuhud.

(Kasysyaaf Isthilahat al Funun wal ‘Ulum, 1/914)

Syaikh Muhammad Qal’aji Rahimahullah:

ترك ما في الدنيا ابتغاء ما عند الله من الثواب. أن يكون المرء بما عند الله أرجى منه مما هو في يده

Meninggalkan apa yang ada di dunia untuk menggapai balasan dari sisi Allah. Juga bermakna seorang yang lebih mengharap apa yang ada pada Allah dibanding apa yang ada di tangannya sendiri.

(Mu’jam Lughah Al Fuqaha, Hal. 234)

3⃣ Istiqamah

Imam Al Jurjani Rahimahullah mengatakan:

ﻫﻲ اﻟﻮﻓﺎء ﺑﺎﻟﻌﻬﻮﺩ ﻛﻠﻬﺎ، ﻭﻣﻼﺯﻣﺔ اﻟﺼﺮاﻁ اﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ ﺑﺮﻋﺎﻳﺔ ﺣﺪ اﻟﺘﻮﺳﻂ ﻓﻲ ﻛﻞ اﻷﻣﻮﺭ، ﻣﻦ اﻟﻄﻌﺎﻡ ﻭاﻟﺸﺮاﺏ ﻭاﻟﻠﺒﺎﺱ، ﻭﻓﻲ ﻛﻞ ﺃﻣﺮ ﺩﻳﻨﻲ ﻭﺩﻧﻴﻮﻱ، ﻓﺬﻟﻚ ﻫﻮ اﻟﺼﺮاﻁ اﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ، ﻛﺎﻟﺼﺮاﻁ اﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ ﻓﻲ اﻵﺧﺮﺓ

Yaitu pemenuhan terhadap janji semuanya, dan menetap pada jalan yang lurus dengan menjaga batasannya yang pertengahan dalam segala hal baik makanan, minuman, pakaian, dan semua perkara agama dan dunia maka itulah jalan yang lurus sebagaimana jalan yang lurus di akhirat.

الاﺳﺘﻘﺎﻣﺔ: ﻭﺃﻥ ﻳﺠﻤﻊ ﺑﻴﻦ ﺃﺩاء اﻟﻄﺎﻋﺔ ﻭاﺟﺘﻨﺎﺏ اﻟﻤﻌﺎﺻﻲ، ﻭﻗﻴﻞ: الاﺳﺘﻘﺎﻣﺔ ﺿﺪ اﻻﻋﻮﺟﺎﺝ، ﻭﻫﻲ ﻣﺮﻭﺭ اﻟﻌﺒﺪ ﻓﻲ ﻃﺮﻳﻖ اﻟﻌﺒﻮﺩﻳﺔ ﺑﺈﺭﺷﺎﺩ اﻟﺸﺮﻉ ﻭاﻟﻌﻘﻞ.
الاﺳﺘﻘﺎﻣﺔ: اﻟﻤﺪاﻭﻣﺔ

Istiqamah adalah menggabungkan antara melaksanakan ketaatan dan menjauhi larangan. Ada pula yang mengatakan, istiqamah adalah lawan dari bengkok, yaitu seorang hamba yang melewati jalan peribadatan dengan bimbingan syariat dan akal. Istiqamah itu konsisten.

(At Ta’rifaat, Hal. 19)

Wallahu A’lam

🌷🍀🌿🌸🌻🍃🌳🍁

✍ Farid Nu’man Hasan

Hukum Kopi Luwak

💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Mau tanya ust: Apakah kopi luwak bisa dikisahkan dengan hewan jalalah? Ahmad, Bone, (+62 852-3334-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim..

Hewan al Jalaalah, adalah hewan yang dominasi makanannya adalah kotoran najis dan bangkai.

Ada pun Luwak, yang dia makan adalah biji kopi, maka dia herbivora dan sama sekali Luwak itu bukanlah pemakan kotoran atau bangkai, atau biasa disebut hewan jalaalah.

Ada pun kopi luwak, setelah biji kopi itu bercampur dengan kotoran luwak, maka menurut mayoritas ulama adalah tetap suci. Sebab, luwak adalah hewan yang boleh dimakan menurut mayoritas ulama, dan kotoran yg keluar dari hewan yang dagingnya bisa dimakan adalah suci sebagaimana pendapat mayoritas ulama kecuali Syafi’iyah.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

اختلف العلماء رحمهم الله في حكم أكل السنجاب ، فمنهم من أجازه ، ومنهم من منعه ، والراجح والله أعلم أنه يجوز أكله ؛ لأن الأصل في الحيوانات الحل ، فلا يحرم منها إلا ما حرمه الشرع ، ولأنه ليس من ذوات الأنياب المفترسة

Ulama berselisih ttg hukum makan Luwak, ada yg membolehkan ada pula yg melarang.

Pendapat yg paling kuat adalah boleh, Krn hukum asal dr hewan adalah halal. Tidak boleh mengharamkan kecuali ada dasar dalam syariat. Dan Luwak bukan hewan yg memiliki taring yg ganas. ( Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 175167)

Ada pun kotoran hewan yg mana hewan itu bisa dimakan dagingnya, adalah suci. Berdasarkan hadits Bukhari dan Muslim, ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerankan Bani ‘Ukl dan Uraniyah, minum kencing Unta untuk berobat.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

واستدل أصحاب مالك وأحمد بهذا الحديث أن بول ما يؤكل لحمه وروثه طاهران

Para sahabat Imam Malik (Malikiyah) dan Imam Ahmad (Hambaliyah) berdalil dengan hadits ini bawah SUCINYA kencing dan kotoran hewan yang boleh dimakan dagingnya itu.

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 11/154)

Sehingga kopi tersebut pun bukan najis, dan bersihkan saja dengan air bersih. Bukankah ini tidak ada bedanya dengan BABAT atau USUS, yang merupakan tempatnya kotoran hewan? Umumnya ulama pun membolehkan makan jeroan seperti usus dan babat, kecuali Hanafiyah yang memakruhkan jeroan.

KALAU PUN itu najis, sebagaimana pendapat Syafi’iyah, maka ketika biji kopi itu dibersihkan sebersih-bersihnya sampai semua najisnya hilang, maka itu kembali suci. Sehingga sudah boleh dikonsumsi seperti babat dan usus kambing atau sapi yang biasa dimakan manusia.

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🌷🌵🌴🍃🌸🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Satu Sha’ Berapa Gram?

💢💢💢💢💢💢💢💢

Bismillahirrahmanirrahim…

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah mengatakan, bahwa menurut Hanafiyah satu sha’ adalah 3800 gram (3,8 kg), sedangkan Malikiyah satu sha’ adalah 2700 gram (2,7 kg). Sedangkan Syafi’iyyah dan Hambaliyah adalah 2751 gram (2,751 kg). (Al Fiqh al Islami wa Adillatuhu, 2/910-911)

Syaikh Umar bin Muhammad bin Thaha Ba’alawi dalam Tasydid al Bunyan (madzhab Syafi’i), menyebutkan bahwa satu sha’ kurang lebih 2,5 kg. (Mukhtashar Tasydid al Bunyan, Hal. 205)

Syaikh Abdullah al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

فالصاع النبوي يساوي أربعة أمداد، والمد يساوي ملء اليدين المعتدلتين،

Satu sha’ nabawi itu setara dgn 4 mud. Satu muda itu setara dgn sepenuh dua tapak tangan

وأما بالنسبة لتقديره بالوزن فهو يختلف باختلاف نوع الطعام المكيل،

Terkait dgn takaran timbangannya maka terjadi PERBEDAAN PENDAPAT krn berbedanya jenis makanan

ومن هنا اختلفوا في حسابه بالكيلو جرام، فمنهم من قدره بـ 2040 جراماً، ومنهم من قدره بـ2176 جراماً، ومنهم من قدره بـ2751 جراماً..

Dari sinilah mereka berbeda tentang hitungannya dalam KILOGRAM, ada yang mengatakan 2040 gram (2,04kg), ada yang mengatakan 2176gram (2,176kg), ada yang mengatakan 2751 (2,751kg)

وقدرته اللجنة الدائمة للإفتاء بالسعودية بما يساوي ثلاثة كيلو جرام تقريباً، وهو الذي نميل إليه ونختاره. والله أعلم.

Sementara Al Lajnah Ad Daimah Saudi Arabia menyetarakan dengan 3Kg, itulah yang kami ikuti dan pilih. Wallahu a’lam

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 26376)

Ada perkataan bagus dari Imam an Nawawi Rahimahullah kenapa sulit menyamakan persepsi tentang ukuran satu sha’, berikut ini:

قَدْ يَسْتَشْكِلُ ضَبْطُ الصَّاعِ بِالْأَرْطَالِ، فَإِنَّ الصَّاعَ الْمُخْرَجَ بِهِ فِي زَمَنِ رَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، مِكْيَالٌ مَعْرُوفٌ، وَيَخْتَلِفُ قَدْرُهُ وَزْنًا بِاخْتِلَافِ جِنْسِ مَا يَخْرُجُ، كَالذُّرَةِ وَالْحِمَّصِ وَغَيْرِهِمَا

Telah kesulitan membuat patokan takaran satu sha’ dengn timbangan, sebab satu sha’ yang dikeluarkan di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah takaran yang diketahui, dan berbeda-beda ukuran timbangannya, yang disebabkan perbedaan benda yang dikeluarkan seperti biji-bijian, kacang-kacangan, dan lainnya. (Raudhatuth Thalibin, 2/302)

Maka, kalau kita memilih 2,5 kg, atau 2,75, atau lainnya, dr salah satu dari takaran yang para ulama sampai kan krn mereka telah melakukan pengujian, maka itu bukan kesalahan.

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🌷🌻🌸🍃🌵🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top