Jumlah Hari Raya (Yaumul ‘Id) dalam Islam

💢💢💢💢💢💢💢💢

Telah dikenal bahwa hari raya umat Islam adalah Idul Fithri (1 Syawwal) dan Idul Adha (10 Dzulhijjah). Ini benar karena memang jelas dalilnya. Tetapi, membatasi hanya ini, tanpa memperhatikan dalil-dalil lain adalah keliru, dan tergelincir.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

وأقول لكم: إنه لم يضل من ضل من هذه الأمة إلا بسبب أنهم يأخذون بجانب من النصوص ويدعون جانباً، سواء كان في العقيدة أو في معاملة الحكام أو في معاملة الناس، أو في غير ذلك

Aku katakan kepada kalian: “Kesesatan yang terjadi pada umat ini tidaklah terjadi, kecuali karena mereka mengambil sebagian dalil saja, sama saja apakah itu dalam urusan aqidah, atau muamalah terhadap penguasa, atau muamalah kepada manusia, atau hal lainnya.

(Liqa Bab Al Maftuh No. 62)

✅ Hari Raya Lainnya Dalam Sunnah

Dari ‘Uqbah bin ‘Aamir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersaba:

يَوْمُ عَرَفَةَ وَيَوْمُ النَّحْرِ وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَهِىَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

Hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah), hari penyembelihan (10 Dzulhijjah), dan hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita, umat Islam. Itu adalah hari makan dan minum.

(HR. At Tirmidzi No. 773, Abu Daud No. 2421, Ad Darimiy No. 1804, dll)

Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih. (Sunan At Tirmidzi no 773), Imam Al Hakim mengatakan: shahih sesuai syarat Imam Muslim. (Al Mustadrak, 1/434), Imam Ibnu Hajar mengatakan: shahih. (Taghliq At Ta’liq, 2/385)

Dari hadits inilah para ulama Islam mengatakan bahwa hari raya umat Islam itu beragam, bukan hanya Idul Fithri dan Idul Adha, tapi juga hari Arafah dan hari-hari tasyriq. Ini bukan hanya bagi yang haji tapi semua umat Islam.

Imam Muhammad bin Abdil Hadiy As Sindiy Rahimahullah berkata:

(هذا عيدنا أهل الإسلام) أي : فجعل العيد عيداً لكل المسلمين

Inilah hari raya kita, umat Islam, artinya maka ini menjadi hari raya bagi setiap kaum muslimin. (Hasyiyah As Sindiy ‘Ala Shahih Al Bukhari, 1/160)

Imam Abu Thayyib Syamsul ‘Azim Abadi Rahimahullah menjelaskan:

الحديث أنه يكره صومه مطلقا لجعله قريبا في الذكر ليوم النحر وأيام التشريق وتعليل ذلك أنها عيد وأنها أيام أكل وشرب

Hadits ini menunjukkan dimakruhkannya puasa secara mutlak agar menjadikannya sebagai harihari untuk dzikir, bagi hari penyembelihan (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyriq, ‘ilat (sebabnya) adalah karena itu adalalah HARI RAYA hari di mana makan dan minum. (‘Aunul Ma’bud, 7/76)

Ada pun 9 Dzulhijjah (hari Arafah), menjadi hari raya bagi mereka yang wuquf sehingga di sana mereka tidak berpusa, … Imam Al Munawiy mengutip dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, yang mengatakan:

وإنما يكون يوم عرفة عيدا لأهل عرفة لاجتماعهم فيه بخلاف أهل الأمصار فإنما يجتمعون يوم النحر فكان هو يوم عيدهم

Sesungguhnya hari Arafah menjadi hari raya karena berjamaahnya mereka di sana, berbeda dengan penduduk di negeri lain di mana mereka berjamaahnya dihari penyembelihan (10 Dzulhijjah), itulah hari raya mereka. (Faidhul Qadir, 6/431)

Imam Ibnu Rajab Rahimahullah menjelaskan:

فقالت طائفة : يكبر من صلاة الصبح يوم عرفة إلى صلاة العصر من آخر أيام التشريق .فإن هذه أيام العيد

Berkata segolongan ulama, bahwa bertakbir itu sudah sejak shalat subuh hari Arafah sampai shalat Ashar di akhir hari tasyriq, karena HARI-HARI ini adalah HARI RAYA.

(Fathul Bari, 6/124)

Demikianlah, keterangan para imam ini sudah memadai bahwa hari raya Umat Islam bukan hanya Idul Fitri dan Idul Adha, tapi juga 9 Dzulhijjah bagi yang di Arafah, dan hari-hari tasyriq bagi seluruh umat Islam.

Oleh karena itu kita dapati kesamaan; terlarangnya puasa, hari tasyriq sama dengan 10 Dzulhijjah masih boleh untuk menyembelih qurban, dan masih boleh bertakbir. Yang berbeda adalah tidak ada shalat ‘Id, kecuali pada dua hari raya; Idul Fithri dan Idul Adha.

✅ Hari Jum’at Juga Hari Raya

Selain di atas, kita juga masih punya hari raya lagi bahkan pekanan. Hal ini tertera secara lugas dalam hadits berikut.

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa N

abi ﷺ bersabda:

إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ ، جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ ، فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ ، وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ

Sesungguhnya hari ini (Jumat) adalah HARI RAYA,yang Allah jadkan bagi kaum muslimin, maka barang siapa yang mendatangi hari Jumat maka mandilah, dan jika dia punya minyak wangi pakailah, dan hendaknya kalian bersiwak.

(HR. Ibnnu Majah no. 1098)

Imam Al Mundziriy mengatakan: hasan. (At Targhib wat Tarhib, No. 707), dihasankan pula oleh Syaikh Al Albaniy. (At Ta’liq Ar Raghib, 1/253, Shahih Ibni Majah no. 901)

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata:

وهو يوم المزيد لهم إذا دخلوا الجنة، وهو يوم عيد لهم في الدنيا

Hari Jumat adalah hari tambahan bagi mereka (kaum beriman) jika mareka masuk ke surga, dan sebagai HARI RAYA bagi mereka di dunia. (Zaadul Ma’ad, 1/379)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

ولا شك في أن يوم الجمعة هو العيد الأسبوعي للمسلمين

Tidak ragu lagi bahwa hari Jumat adalah hari raya pekanan bagi kaum muslimin. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 119892)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

لا شك أن يوم الجمعة يوم عيد للمسلمين ، كما جاء في الحديث عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما

Tidak ragu lagi bahwa hari Jumat adalah HARI RAYA kaum muslimin, sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 134741)

Maka, membatasi hari raya umat Islam hanya dua, jelas bertentangan dengan sunnah dan penjelasan para imam kaum muslimin.

Demikian. Wallahu Waliyut Taufiq

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Belajar Ushul Fiqih

💢💢💢💢💢💢💢💢

1⃣ Muqadimah

Kata Ushul al Fiqh, merupakan susunan idhafi yaitu mudhaf dan mudhaf ilaih. Mudhafnya adalah USHUL, mudhaf ilaih-nya adalah Al FIQH.

Al Ushul ( الأصول) adalah jamak (plural), dari Al Ashl (الأصل), yang berarti: dasar, asas, pondasi, akar, dan pokok/prinsip. Dia adalah lawan kata dari Al Far’u, yang artinya cabang.

Sehingga jika disebut:

– ashlusy sya’r, artinya akar rambut
– ashlusy syajarah, artinya akar pohon
– ashlul bait, artinya pondasi rumah
– dalam ilmu hadits sering disebut, laisa lahu ashlan, artinya hadits tersebut tidak ada dasarnya
– Ushul al ‘Isyrin, artinya dua puluh prinsip dasar

Dari kata Al Ashl inilah dalam bahasa Indonesia dikenal kata asal dan asli.

Sedangkan kata Al FIQH, kata dasarnya adalah faqaha, yang arti secara bahasa (etimologis) adalah memahami. Orang yang memiliki pemahaman fiqih adalah faqih, jamaknya fuqaha.

Allah Ta’ala berfirman:

لهم قلوب لا يفقهون بها

Mereka punya hati, tetapi mereka tidak mau memahami dengannya. (QS. Al A’raf: 179)

Dalam hadits juga disebut:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka akan dipahamkan agama baginya.

(HR. Bukhari no. 3116)

Ada pun secara terminologi, Al Fiqh adalah:

معرفة الأحكام الشرعية التي طريقها الاجتهاد

Pengetahuan tentang hukum-hukum syar’i yang didapatkan melalui jalan ijtihad.

(Imam Al Haramain, Al Waraqat, Hal. 7)

Jadi, Ushul Al Fiqh adalah ilmu tentang prinsip dasar dalam menggali hukum-hukum syariat agama.

💢💢💢💢💢💢💢

2⃣ Sejarah Ushul Al Fiqh

Ada tiga fase perkembangan Ushul Al Fiqh:

1. Fase ta’sis dan tadwin, peletakkan batu pertama dan pengkodifikasian. Ini sejak akhir abad kedua hijriyah sampai akhir abad keempat.

Ini dipelopori oleh Imam Asy Syafi’i Rahimahullah. Dia orang pertama yang mampu memadukan antara produk fiqihnya ahli hadits (yang dibangun Imam Malik di Madinah) dan fiqihnya ahli ra’yi (kaum rasionalis di Iraq yang dipelopori Imam Abu Hanifah dan murid-muridnya). Sebab, Imam Asy Syafi’i pernah menimba ilmu kepada Imam Malik dan murid-muridnya Imam Abu Hanifah. Sehingga Imam Al Ghazali menyebutkan bahwa Ushul Al Fiqh adalah ilmu yang paling afdhal, sebab ilmu ini memadukan antara wahyu dan akal. Dan, Imam Asy Syafi’i adalah bintangnya, melalui karyanya Ar Risalah. Dunia fiqih saat itu yang menjadi hal yang sulit bagi ahli hadits (karena hanya dikuasai oleh ahli fiqih) menjadi tercerahkan semenjak pencerahan Imam Asy Syafi’i.

Sampai-sampai Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengatakan:

كان الفقه قفلا علي اهله حتي فتحه الله بالشافعى

Dahulu ilmu fiqih tergembok atas pemiliknya, sampai akhirnya Allah bukakan melalui Asy Syafi’i.

(Tahdzibul Asma wal Lughat, 1/61)

Beliau juga berkata:

لولا الشافعي ما عرفنا فقه الحديث

Seandainya bukan karena Asy Syafi’i niscaya kami tidak tahu bagaimana memahami hadits. (Ibid)

Dahulu ahli hadits adalah paling tahu tentang sanad dan validitas hadits, namun ahli fiqih yang paling tahu apa maknanya. Ibarat tukang sayur yang paham mana sayur berkualitas, tapi juru kokilah yang paling tahu mengolahnya menjadi makanan lezat. Semenjak Imam Asy Syafi’i, ahli hadits pun juga mampu memahami fiqih haditsnya.

2. Fase Ittijah al Haditsi, yaitu fase orientasi hadits.

Maksudnya paradigma berpikir dalam Ushul Fiqih yg telah dibangun oleh ulama sebelumnya diperkuat lagi oleh ulama selanjutnya dengan hadits-hadits. Ini dari awal abad ke-5 sampai akhir abad ke-7 Hijriyah.

Fase ini, di Timur dipelopori oleh Imam Abu Manshur al Baghdadi, di Baghdad, dengan kitabnya Al Faqih wal Mutafaqih. Ada pun di Barat (Maroko/Maghrib), dipelopori oleh Imam Ibnu Abdil Bar dengan kitabnya Jaami’ Bayan al ‘Ilmi wa Fadhlihi.

3. Fase Ishlah, fase perbaikan dan penyempurnaan, sejak abad ke-7 sampai abad ke-10.

Ini dilakukan oleh Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim. Mereka melakukan perbaikan atas bagian-bagian yg dianggap tidak sesuai metode salaf, seperti pemahaman ahli kalam yg ikut masuk ke dalam Ushul Fiqh.

Demikian fase perkembangan Ushul Fiqih, yg kami ringkas dari Syaikh Muhammad bin Husain bin Hasan Al Jizani dalam bukunya “Ma’alim Ushul al Fiqh ‘Inda Ahli as Sunnah wa Jama’ ah.” Cet. 2, 1427. Penerbit, Dar Ibnu al Jauzi. Juga sedikit tambahan dari sumber lainnya..

🌺🌴🌵🌷🌿🌸🍃🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Mulut Penuh Ludah/Dahak Saat Shalat, Apa yang Mesti Dilakukan?

▫▪▫▪▫▪▫▪▫▪

❓PERTANYAAN:

Assalamualaikum ustadz, Kalau dahak gimana ust, dalam sholat kita batuk berdahak, ditelan atau gmn…(+62 852-4715-xxxx)

💡JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Dahak bukan najis, bukan pula makanan dan minuman, maka menelannya tidak membatalkan shalat, tapi membuangnya lebih baik yaitu dengan tisu atau sapu tangan. Kalau pun mau dibuang, Jangan dibuang ke arah kiblat dan jangan pula ke kanan. Tapi ke kiri ke bawah kaki, atau dia sediakan wadah disebelah kirinya jika dia shalat sendiri. Lebih utama adalah ke tisu, sapu tangan, atau ke pakaiannya.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

وحيث إن البلغم طاهر ، وليس بطعام ولا بشراب ، ولا في معناهما : فإذا بلعه المصلي وهو في الصلاة فصلاته صحيحة ، وخاصة إذا غلبه ، ولم يتمكن من إخراجه في منديل ونحوه

Dahak itu suci, bukan makanan dan bukan minuman, bukan bermakna keduanya. Maka, jika seorang yg shalat menelannya maka shalatnya tetap sah. Khususnya jika dahak tersebut begitu banyak dan tidak mungkin dia mengeluarkannya ke sapu tangan dan semisalnya.

وبلع البلغم مستقذر عادة ، والمشروع : أن الرجل يخرجه في منديل أو نحوه ، ولا يبتلعه

Menelan dahak adalah kebiasaan buruk. Yang diperintah syariat adalah mengeluarkanmya dengan sapu tangan dan semisalnya, bukan menelannya.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 144970)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

فالبصاق في الصلاة لا مانع منه، سوى ما ثبت من تخصيصه بالنهي وهو البصاق إلى جهة القبلة أو اليمين، بدليل قوله صلى الله عليه وسلم: إذا كان أحدكم في الصلاة فإنه يناجي ربه، فلا يبزق بين يديه ولا عن يمينه، ولكن عن شماله تحت قدمه. وهذا لفظ مسلم

Meludah saat shalat tdk terlarang KECUALI yang memang secara khusus dilarang oleh syariat, yaitu meludah ke arah kiblat atau kanan. Hal ini berdasarkan hadits:

Jika seorang kamu sdg shalat maka dia sedang bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah meludah ke depan atau ke kanan tetapi hendaknya ke kiri ke bawah kakinya. Hadits ini menurut lafaz Imam Muslim

وقال الحافظ ابن حجر في الفتح: وقد اتفقوا على جواز البصاق في الصلاة. انتهى

Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam Fathul Bari: Para ulama sepakat bahwa meludah itu boleh saat shalat.

وقال النووي في شرح صحيح مسلم: فيه نهي المصلي عن البصاق بين يديه وعن يمينه، وهذا عام في المسجد وغيره. انتهى

Imam An Nawawi mengatakan dalam Syarh Shahih Muslim: “Dalam hadits ini terdapat larangan meludah ke depan dan kanan, dan ini berlaku umum baik shalat di masjid atau di luar masjid.

وعليه، فلا حرج في البصاق في الوعاء المذكور إذا لم يكن إلى جهة اليمين أو القبلة

Atas dasar itu, maka tidak apa-apa meludah pada wadah jika wadah tersebut tidak di sisi kanan atau kiblat.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 57489)

Lebih aman adalah pakai sapu tangan atau tisu, mengingat masjid zaman sekarang adalah karpet, tegel, atau sajadah, maka tidak baik juga jika itu diludahi.

Demikian. Wallahu A’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Tiga Hal yang Termasuk Kesabaran

▪▫▪▫▪▫▪▫▪▫

Imam Sufyan Ats Tsauriy Rahimahullah berkata:

ثلاثة من الصبر: لا تحدث بمصيبتك، ولا بوجعك، ولا تُزَكِّ نفسك.

Tiga hal yang termasuk kesabaran:

1. Jangan bicarakan musibah yang menimpamu

2. Jangan pula bicarakan rasa sakitmu

3. Jangan memuji diri sendiri

📚 Imam Abu Nu’aim, Hilayatul Auliyaa, no. 9397

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

scroll to top