Nasihat dan Adab-Adabnya

💢💢💢💢💢💢💢💢

1⃣ Definisi An Nashihah

Al Qadhi ‘Iyadh Rahmahullah mengatakan:

ومعناها فى اللغة: الإخلاص، من قولهم: نصحت العسل إذا صفيته

Maknanya secara bahasa adalah Al Ikhlash (murni/bersih), diambil dari perkataan mereka; nashahtu al ‘asala idza shafaytu (Saya memurnikan madu ketika saya menjernihkan).

(Al Qadhi ‘Iyadh, Ikmal Mu’lim Syarh Shahih Muslim, 1/218)

An Nashiihah diambil dari kata nashaha. Nashaha syai’u bermakna khalasha (memurnikan/menjernihkan/menyimpulkan). An Naashih yakni Al Khaalish minal ‘asali wa ghairih (yang membersihkan madu dan lainnya). (Lisanul ‘Arab, 2/615)

Imam Abu Sulaiman Al Khathabi Rahimahullah mengatakan:

يقال نصحت العسل إذا خلصته من الشمع

“Disebutkan bahwa An nashiihah diambil dari nashahtu al ‘asala idza shafaituhu min asy syam’i (saya memurnikan madu dari lilin).” (Imam Al Khathabiy, Ma’alim As Sunan, 4/126)

Juga bermakna menjahit, berkata Imam An Nawawi Rahimahullah:

وَقِيلَ النَّصِيحَةُ مَأْخُوذَةٌ مِنْ نَصَحَ الرَّجُلُ ثَوْبَهُ إِذَا خَاطَهُ

Disebutkan: bahwa an nashiihah diambil dari nashaha ar rajulu tsaubahu idza khaathahu (laki-laki itu menyimpulkan bajunya saat dia menjahitnya).

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/37)

Jadi, nasihat adalah upaya untuk memurnikan sesuatu menjadi bersih dari kotoran dan mengaitkan/menyimpulkannya dengan kebenaran.

▪▫▪▫▪▫▪▫▪▫

2⃣ Keutamaan dan Manfaatnya

Menghidupkan budaya nasihat dalam lingkup individu dan masyarakat, memiliki sejumlah keutamaan, di antaranya:

✅ Keluar dari lingkup Golongan Merugi

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحاتِ وَتَواصَوْا بِالْحَقِّ وَتَواصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang beriman dan beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.

(QS. Al ‘Ashr: 1-3)

Begitu agungnya surat ini, sampai-sampai Imam Asy Syafi’iy mengatakan:

لو تدبر الناس هذه السورة لوسعتهم

Seandainya manusia mentadabburi surat ini niscaya ini sudah mencukupkan mereka.

(Tafsir Ibnu Katsir, 8/456)

Apa yg dikatakan Imam Asy Syafi’iy sangat wajar, karena pokok dari agama Islam adalah nasihat.

✅ Menahan turunnya musibah

Amar Ma’ruf Nahi Munkar adalah bagian dari nasihat. Inilah yang membuat terhalangnya musibah bagi sebuah kaum.

Allah Ta’ala berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.

(QS. Al-Anfal, Ayat 25)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menginfokan adanya musibah yg merata, bukan hanya menimpa orang zalim saja, yang tidak zalim yang baik-baik saja juga kena.

Kenapa bisa terjadi? Kata Imam Ibnu Katsir:

يُحَذِّرُ تَعَالَى عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ فِتْنَةً أَيِ اخْتِبَارًا وَمِحْنَةً يَعُمُّ بِهَا الْمُسِيءَ وَغَيْرَهُ لَا يَخُصُّ بِهَا أَهْلَ الْمَعَاصِي وَلَا مَنْ بَاشَرَ الذَّنْبَ بَلْ يَعُمُّهُمَا حَيْثُ لَمْ تُدْفَعُ وَتُرْفَعُ

Allah Ta’ala memberikan peringatan kepada hamba-hambaNya yg beriman dengan adanya musibah, yg akan ditimpakan secara merata tidak hanya kelada orang yang buruk, yang melakukan maksiat, orang yg berdosa, tapi berlaku umum KARENA maksiat itu tidak dicegah dan tidak dihapuskan.

(Tafsir Ibnu Katsir, 4/32)

✅ Tanda Tegaknya Kehidupan Beragama

Hal ini sebagaimana hadits:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

Agama adalah nasihat. (HR. Muslim no. 55)

Maksudnya adalah yg pokok pada agama ini adalah nasihat, sebagaimana hadits: “Al Hajju ‘Arafah,” haji itu adalah arafah, maksudnya wuquf di Arafah adalah yang paling pokok dalam haji.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

عماد الدين وقوامه النصحية كَقَوْلِهِ الْحَجُّ عَرَفَةُ أَيْ عِمَادُهُ وَمُعْظَمُهُ عَرَفَةُ

Tiang agama dan tonggaknya adalah nasihat, seperti sabdanya: haji adalah arafah, artinya tiangnya dan yang paling besar adalah arafah.

(Syarh Shahih Muslim, 2/37)

▪▫▪▫▪▫▪▫

3⃣ Kedudukan Nasihat: apakah sebuah kewajiban ?

Para ulama berbeda pendapat tentang Nasihat jika tidak diminta, sebagian mengatakan itu adalah fardhu kifayah, Imam Ibnu Baththal Rahimahullah berkata:

والنصيحة فرض يجزئ فيه من قام به، ويسقط عن الباقين

Nasihat itu adalah kewajiban, siapa yang sudah menjalankannya maka itu sudah cukup, dan gugur kewajiban atas yang lainnya. (Syarh Shahih Al Bukhari, 1/129)

Sebagian lain mengatkan itu mandub (anjuran/sunnah), Imam Ash Shan’aniy Rahimahullah berkata:

وَظَاهِرُهُ أَنَّهُ لَا يَجِبُ نَصِيحَتُهُ إلَّا عِنْدَ طَلَبِهَا وَالنُّصْحُ بِغَيْرِ طَلَبٍ مَنْدُوبٌ؛ لِأَنَّهُ مِنْ الدَّلَالَةِ عَلَى الْخَيْرِ وَالْمَعْرُوفِ

Yang benar adalah bahwa nasihat tidak wajib kecuali disaat ada yang memintanya, dan nasihat tanpa diminta adalah mandub/sunnah, karena hal itu termasuk menunjukkan kepada kebaikan.

(Subulussalam, 2/530)

Tapi jika ada tuntutan atau permintaan dari seseorang kepada saudaranya, maka menjadi fardhu ‘ain bagi saudaranya itu memberikan nasihat.

Hal ini berdasarkan hadits:

وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ

Jika dia meminta nasihat darimu maka nasihatilah dia.

(HR. Muslim no. 2162)

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

فَمَعْنَاهُ طَلَبَ مِنْكَ النَّصِيحَةَ فَعَلَيْكَ أَنْ تَنْصَحَهُ وَلَا تُدَاهِنَهُ وَلَا تَفشَّهُ وَلَا تُمْسِكَ عَنْ بيان النصيحة

Maknanya adalah jika dia meminta nasihat kepadamu maka wajib atasmu menasihatinya, jangan bermanis, jangan menyebarkannya, dan jangan menahan diri dari menjelaskan nasihat.

(Syarh Shahih Muslim, 5/108)

Syaikh Muhammad Muhajirin Amsar Rahimahullah mengatakan:

والنصح واجب اذا طلب

Nasihat itu wajib jika diminta. (Misbahuzh Zhalam, 4/290)

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Wanita Pertama yang Masuk Surga

💢💢💢💢💢💢💢💢

❓PERTANYAAN:

Salam.. Tadz, apa benar Muthi’a itu wanita pertama yg masuk surga?(+62 856-9400-xxxx)

💡JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim..

Hal itu tidak benar dan tidak ada keterangan shahih tentang itu. Memang ada kisah tentang wanita ahli surga bernama Muthi’ah, tapi keshahihan bahwa dia sebagai wanita pertama di surga tidaklah benar.

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

وأما أول من يدخلها من النساء، فلم نقف عليه من وجه صحيح، إلا أن النبي صلى الله عليه وسلم أخبر عن سيدات نساء أهل الجنة، فقال هن: خديجة بنت خويلد، ومريم بنت عمران، وآسية بنت مزاحم، وفاطمة بنت محمد.وقد صح ذلك عنه في صحيح مسلم وغيره

Ada pun yg pertama masuk surga dr kalangan wanita, kami belum temukan keterangan shahih ttg hal itu. Hanya saja Rasulullah ﷺ mengabarkan ttg pimpinan kaum wanita di surga nanti adalah Khadijah binti Khuwailid, Maryam binti ‘Imran, Asiyah binti Muzahim, dan Fathimah binti Muhammad. Hal itu shahih dalam hadits Shahih Muslim dan lainnya.

وقد جاءت روايات عند الحاكم أن فاطمة هي أول من يدخل الجنة من النساء إلا أن الذهبي تعقب تلك الروايات وقال بأنها منكرة أي سندًا

Ada riwayat dari Imam Hakim bahwa Fathimah adalah wanita pertama yang masuk surga, hanya saja Imam Adz Dzahabi mengomentarinya bahwa jadits tsb sanadnya munkar.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 60999)

Demikian. Wallahu A’lam

🌴🌵🌿🌷🌸🍃🌺🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Jangan Kriminalisasi Kalimat Tauhid Kami!

▫▪▫▪▫▪▫▪▫

📌 Ini realita yang mengherankan dan menyedihkan

📌 Sebagian orang menjadikan tulisan Laa Ilaaha Illallah seolah seperti musuhnya, padahal dia muslim

📌 Tulisan tersebut menjadi monster bagi kehidupannya, bahkan menurutnya menjadi ancaman bagi negaranya

📌 Padahal Laa Ilaaha Illallah, dia baca dalam shalat

📌 Laa Ilaaha Illallah, adalah bukti iman yang tertinggi

📌 Laa Ilaaha Illallah, adalah dzikir yang paling utama

📌 Laa Ilaaha Illallah, adalah ucapan yg jika dibaca diakhir hidup maka surga baginya

📌 Tapi, jika ada tulisan Laa Ilaaha Illallah di stiker mobil, hiasan dinding, apalagi bendera para demonstran .. mereka langsung curiga dan menuduh, Ini HTI!! Ini ISIS!!

📌 Begitu polos dan simplistismya mereka, mereka lupa kalimat itu milik semua umat Islam, bahkan milik diri mereka sendiri

📌 Jauh sebelum ada HTI di negeri ini, tulisan Laa Ilaaha Illallah sudah biasa kita lihat dan miliki

📌 Namun Tulisan tauhid menjadi monster dalam hidup mereka, krn terbawa oleh bius fitnah media jago framing

📌 Zaman serba fitnah seperti ini memang berat .. Hadapilah dengan membawa Laa Ilaaha Illallah, agar dapat kemenangan dan keselamatan ..

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamith Thariq

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Macam-Macam Bacaan Doa Iftitah

▪▫▪▫▪▫▪▫▪

Versi pertama:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّهُ كَانَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ، قَالَ: «وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا، وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ، إِنَّ صَلَاتِي، وَنُسُكِي، وَمَحْيَايَ، وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ، اللهُمَّ أَنْتَ الْمَلِكُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْتَ رَبِّي، وَأَنَا عَبْدُكَ، ظَلَمْتُ نَفْسِي، وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِي، فَاغْفِرْ لِي ذُنُوبِي جَمِيعًا، إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ، وَاهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ، لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَالشَّرُّ لَيْسَ إِلَيْكَ، أَنَا بِكَ وَإِلَيْكَ، تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Dari Ali bin Abu Thalib dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; Biasanya apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, beliau membaca (do’a iftitah) sebagai berikut: “WAJJAHTU WAJHIYA LILLADZII FATHARAS SAMAAWAATI WAL ARDLA HANIIFAN WAMAA ANAA MINAL MUSYRIKIIN, INNA SHALAATII WA NUSUKII WA MAHYAAYA WA MAMAATII LILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN LAA SYARIIKA LAHU WA BIDZAALIKA UMIRTU WA ANAA MINAL MUSLIMIIN ALLAHUMMA ANTAL MALIKU LAA ILAAHA ILLAA ANTA, ANTA RABBII WA ANAA ‘ABDUKA ZHALAMTU NAFSII WA’TARAFTU BI DZANBII FAGHFIL LII DZUNUUBII JAMII’AN INNAHU LAA YAGHFIRUDZ DZUNUUB ILLAA ANTA WAH DINII LIAHSANAIL AKHLAAQ LAA YAHDII LIAHSANIHAA ILLAA ANTA WASHRIF ‘ANNII SAYYIAHAA LAA YASHRIFU ‘ANNII SAYYIAHAA ILLAA ANTA LABBAIKA WA SA’DAIKA WAL KHAIRU KULLUHU FII YADAIK WASY SYARRU LAISA ILAIKA ANAA BIKA WA ILAIKA TABAARAKTA WA TA’AALAITA ASTAGHFIRUKA WA ATUUBU ILAIKA (Aku hadapkan wajahku kepada Allah, Maha pencipta langit dan bumi dengan keadaan ikhlas dan tidak mempersekutukanNya. Sesungguhnya shalatku, segala ibadahku, hidupku dan matiku, hanya semata-mata untuk Allah Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya, dan karena itu aku patuh kepada perintahNya, dan berserah diri kepadaNya. Ya Allah, Engkaulah Maha Penguasa. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hambaMu. Aku telah menzhalimi diriku dan aku mengakui dosa-dosaku. Karena itu ampunilah dosa-dosaku semuanya. Sesungguhnya tidak ada yang berwenang untuk mengampuni segala dosa melainkan Engkau. Dan tunjukilah kepadaku akhlak yang paling bagus. Sesungguhnya tidak ada yang dapat menunjukkannya melainkan hanya Engkau. Dan jauhkanlah akhlak yang buruk dariku, karena sesungguhnya tidak ada yang sanggup menjauhkannya melainkan hanya Engkau. Labbaik wa sa’daik (Aku patuhi segala perintahMu, dan aku tolong agamaMu). Segala kebaikan berada di tanganMu. Sedangkan kejahatan tidak datang daripadaMu. Aku berpegang teguh denganMu dan kepadaMu. Maha Suci Engkau dan Maha Tinggi. Kumohon ampun dariMu dan aku bertobat kepadaMu).”

(HR. Muslim no. 771)

Versi kedua:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا كَبَّرَ فِي الصَّلَاةِ، سَكَتَ هُنَيَّةً قَبْلَ أَنْ يَقْرَأَ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَرَأَيْتَ سُكُوتَكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ، مَا تَقُولُ؟ قَالَ ” أَقُولُ: اللهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ وَالْبَرَدِ “

Dari Abu Hurairah dia berkata; Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertakbir ketika shalat, maka beliau diam sejenak sebelum membaca Al Fatihah, lalu aku bertanya; “Wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, apa yang engkau baca saat engkau diam antara takbir dan membaca Al Fatihah?” beliau menjawab: “ALLAAHUMMA BAA’ID BAINII WABAINA KHATHAYAAYA KAMAA BAA’ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIB, ALLAAHUMMA NAQQINII MIN KHOTHAAYAAYA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANASI, ALLAAHUMMAGH SIL NII MIN KHATHAAYAAYA BITSTSALJI WALMAA’I WALBARAD (Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahanku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat, Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran, Ya Allah, cucilah aku dari kesalahanku dengan es, air dan embun).”

(HR. Muslim no. 598)

Versi ketiga:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، تَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Dari Abu Sa’id Al Khudri ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuka shalatnya dengan membaca: “SUBHAANAKA ALLAHUMMA WA BIHAMDIKA TABAARAKASMUKA WA TA’ALAA JADDUKA WA LAA ILAAHA GHAIRUKA (Maha suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, nama-Mu berbarakah dan kemuliaan-Mu sangat agung, dan tidak ada Tuhan selain Engkau).”

(HR. Ibnu Majah no. 804, 806, Ahmad no. 11473, An Nasa’i no. 899, Abu Daud no. 775, dll, dari jalur Aisyah dan Abu Sa’id Al Khudriy. Dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiqnya terhadap Sunan Abi Daud)

Dalam atsar sahabat:

عَنْ عَبْدَةَ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، كَانَ يَجْهَرُ بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ يَقُولُ: «سُبْحَانَكَ اللهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، تَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ»

Dari ‘Abdah bahwa Umar bin al-Khaththab dahulu mengeraskan (bacaan) kalimat-kalimat tersebut. Dia membaca, “SUBHAANAKALLOOHUMMA, WABIHAMDIKA TABAAROKA ISMUKA WATA’AALAA JADDUKA WALAA ILAAHA GHOIRUKA.” Ya Allah, Mahasuci Engkau dan dengan memujimu, Mahaberkah NamaMu, Mahaluhur kemuliaanMu, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau.”

(HR. Muslim no. 399)

Semua bacaan ini shahih, silahkan pakai yg mana saja. Jika mau pakai semuanya secara bergantian, sesekali pakai versi 1, lalu coba pakai versi 2, atau versi 3, tidak masalah.

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengatakan – seperti yang dikutip Imam Ibnul Qayyim:

أمّا أنا فأذهب إلى ما روي عن عمر، ولو أن رجلاً استفتح ببعض ما رُوي عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ من الاستفتاح كان حسناً.

Ada pun aku berpendapat seperti yang diriwayatkan dari Umar, dan seandainya ada seseorang yang iftitahnya dengan riwayat yang lain dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam maka itu baik. (Zaadul Ma’ad, 1/205)

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan bahwa siapa yang menggunakan lafaz riwayat Umar maka itu ahsan (lebih baik).

Yang menggunakan wajjahtu wajhiya juga ahsan (lebih baik). Siapa yang menggabungkan keduanya juga ahsan.

Riwayat Umar dan Allahumma baa’id bainiy dipilih oleh Abu Hanifah dan8 Ahmad.

Asy Syafi’iy mengikuti riwayat Umar.

Riwayat wajjahtu wajhiya dipilih oleh pengikut Abu Hanifah dan pengikut Ahmad.

Lalu kata Imam Ibnu Taimiyah: “Semua ini bagus, setara dengan keragaman bacaan tasyahud, keragaman qiraah sab’ah yang dibaca manusia.”

(Al Fatawa Al Kubra, 2/165)

Demikian. Wallahu A’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

scroll to top