Pupuk Kimiawi

💢💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Pertanyaan :pak bagaimana hukum pupuk kimia?apakah haram? Misal pupuk urea.

Arif, Magelang,

+62 822-2386-xxxx

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bismillahirrahmanirrahim..

Selama pupuk berasal dari zat yang halal dan suci, tidak membahayakan manusia, maka pupuk tersebut halal. Tidak ada masalah.

Allah Ta’ala berfirman:

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَٰوَٰتٖۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ

Dialah (Allah) yang menciptakan semua apa yang ada di bumi untukmu.

(QS. Al-Baqarah, Ayat 29)

Ibnu Kaisan Rahimahullah berkata, seperti yang dikutip oleh Imam asy Syaukani Rahimahullah:

أن الأصل في الأشياء المخلوقة الإباحة حتى يقوم دليل يدل على النقل عن هذا الأصل

Sesungguhnya hukum asal dari segala ciptaan adalah mubah, sampai tegaknya dalil yang menunjukkan berubahnya hukum asal ini. (Imam Asy Syaukani, Fathul Qadir, 1/64. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🌷🌻🌸🌵🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

Waktu Menunaikan Zakat Fitrah (Fitri) Menurut Empat Madzhab

💢💢💢💢💢💢💢💢

Berikut ini penjelasan Syaikh Abdurrahman al Juzairi Rahimahullah:

1⃣. Madzhab Hanafi, membolehkan mengawali bayar zakat fitrah, bahkan di waktu kapan pun.

ووقت وجوبها من طلوع فجر عيد الفطر، ويصح أداؤها مقدماً ومؤخراً، لأن وقت أدائها العمر فلو أخرجها في أي وقت شاء كان مؤدياً لا قاضيا، كما في سائر الواجبات الموسعة، إلا أنها تستحب قبل الخروج إلى المصلى، لقوله صلى الله عليه وسلم: “أغنوهم عن السؤال في هذا اليوم”

Waktu wajib mengeluarkan zakat fitri (fitrah) adalah sejak terbitnya fajar hari ‘Idul Firi, dan SAH membayarkannya diawal dan diakhir waktu, karena waktu menunaikannya itu ada jangka waktunya, seandainya dikeluarkan di waktu kapan pun sesuai kehendaknya maka dia telah menunaikannya pada waktunya bukan qadha, sebagaimana ibadah-ibadah lain yang waktunya lapang. Hanya saja memang disukai (sunnah) dikeluarkan sebelum keluar menuju lapangan (shalat Id), berdasarkan hadits: “Penuhilah kebutuhan mereka, jangan sampai mengemis di hari ini (Hari raya).”

2️⃣ Malikiyah, tidak sah zakat fitrah dikeluarkan lebih dari dua hari sebelum hari raya

يندب إخراجها بعد فجر يوم العيد، وقبل الذهاب لصلاة العيد، ويجوز إخراجها قبل يوم العيد بيوم أو يومين، ولا يجوز أكثر من يومين على المعتمد

Dianjurkan mengeluarkannya setelah subuh di hari Id, sebelum pergi shalat Id, dibolehkan mengeluarkannya sebelum hari raya baik sehari atau dua hari, dan tidak boleh lebih dari dua hari menurut pendapat yang resmi (dalam madzhab Malik).

3️⃣ Madzhab Syafi’i, membolehkan membayarnya di awal Ramadhan

ووقت وجوبها آخر جزء من رمضان، وأول جزء من شوال، ويسن إخراجها أول يوم من أيام عيد الفطر بعد صلاة الفجر، وقيل صلاة العيد، ويكره إخراجها بعد صلاة العيد إلى الغروب إلا لعذر، كانتظار فقير قريب، ونحوه، ويحرم إخراجها بعد غروب اليوم الأول إلا لعذر
ووقت وجوبها آخر جزء من رمضان، وأول جزء من شوال، ويسن إخراجها أول يوم من أيام عيد الفطر بعد صلاة الفجر، وقيل صلاة العيد، ويكره إخراجها بعد صلاة العيد إلى الغروب إلا لعذر، كانتظار فقير قريب، ونحوه، ويحرم إخراجها بعد غروب اليوم الأول إلا لعذ ركغياب المستحقين لها وليس من العذر في هذه الحالة انتظار نحو قريب، ويجوز إخراجهما من أول شهر رمضان في أول يوم شاء

Waktu wajibnya adalah bagian dari Ramadhan dan awal dari Syawwal. Disunnahkan mengeluarkannya di hari awal Id setelah shalat subuh -ada yang mengatakan shalat Id-, dan dimakruhkan mengeluarkannya setelah shalat id sampai terbenam matahari kecuali karena udzur seperti menunggu adanya orang faqir, dan semisalnya, dan diharamkan mengeluarkannya setelah tenggelamnya matahari hari pertama (Syawwal), kecuali ada udzur seperti ketiadaan mustahiq, dan bukan termasuk udzur menunggu mustahiq yang jaraknya dekat, dan boleh mengeluarkannya sejak awal bulan Ramadhan di hari apa pun dia mau.

4️⃣ Madzhab Hambali, mengatakan tidak boleh mengawali zayar zakat fitrah lebih dari dua hari sebelum hari Id

والأفضل إخراجها في يوم العيد قبل الصلاة، ويكره إخراجها بعدها، ويحرم تأخيرها عن يوم العيد إذا كان قادراً على الإخراج فيه، ويجب قضاؤها، وتجزئ قبل العيد بيومين؛ ولا تجزئ قبلهما

Lebih utama mengeluarkan zakat fitrah itu di hari raya sebelum shalat Id, dimakruhkan mengeluarkannya setelah shalat Id, dan diharamkan mengeluarkannya di akhir hari Id, jika dia mampu mengeluarkannya di hari itu, maka dia wajib qadha. Sah dilakukan dua hari sebelum Id, dan tidak sah dikeluarkan sebelum dua hari dari hari raya.

📚 Al Fiqhu ‘alal Madzaahib al Arba’ ah, 1/569-570

Kesimpulan:

– Empat madzhab sepakat, bahwa setelah subuh sampai menjelang shalat Id adalah waktu paling utama.

– Mereka sepakat sehari atau dua hari sebelum shalat Id adalah sah, sebagian mengatakan boleh, sebagian mangatakan sunnah.

– Mereka tidak sepakat tentang lebih dari dua hari sebelum hari Id, termasuk di awal Ramadhan, ada yang mengatakan tidak sah (Maliki dan Hambali), dan ada yang mengatakan sah (Hanafi dan Syafi’i).

✅ Jika kita mengeluarkannya di waktu-waktu yang disepakati empat madzhab maka itu lebih utama dan hati-hati. Tapi, jika kondisinya tidak memungkinkan, atau sulit dan sempit, maka tidak mengapa membayarkannya sesuai madzhab yang berlaku di negerinya.

Imam Abu Bakar Al Khathib Al Baghdadi berkata:

عن أبي عبيدة
قَالَ: قَالَ عَلِيّ: اقضوا ما كنتم تقضون فإني أكره الاختلاف حتى يكون للناس جماعة، أو أموت كما مات أصحابي

Dari Abu Ubaidah, dia berkata: Berkata Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu:

Putuskanlah (hukum) dengan keputusan yang biasa kalian putuskan (di negeri kalian). Sungguh, saya tidak suka dengan perselisihan sampai saya mendapati manusia memiliki jamaahnya sendiri-sendiri, atau saya mati sebagaimana matinya para sahabatku.

(Tarikh Baghdad, 8/42)

Demikian. Wallahu a’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa’ ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🌿🌸🍀🌳🌻🌷🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

Shalat Tanpa Bersuci (Berwudhu, Tayamum) Karena ‘Udzur

💢💢💢💢💢💢💢💢

Bismillahirrahmanirrahim…

Telah sama-sama diketahui bersuci adalah miftahush shalah – kunci/pembuka shalat. Tanpanya shalat tidak sah.

Ada pun shalat tanpa bersuci, jika keadaannya memang super sulit untuk bersuci, baik ketiadaan air atau debu, atau memang kondisi yang membuatnya tidak mampu, maka shalat tetap SAH. Itu sesuai sunnah dan ruh Islam, yang membawa kemudahan. Baik dalil-dalil umum dan dalil-dalil khusus.

Dalil-dalil umum:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu, Dia tidak menghendaki kesulitan bagimu.

(QS. Al Baqarah: 185)

Ayat lain:

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai kemampuannya

(QS. Al Baqarah: 286)

Juga hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam:

يسروا ولا تعسورا

Permudahlah dan jangan persulit (HR. Bukhari no. 69)

Hadits lain:

فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

Jika kalian aku perintahkan sesuatu maka jalankanlah sesuai kemampuan kalian.

(HR. Muslim no. 1337)

Kaidah-kaidah fiqih:

اذا ضاق الأمر اتسعى

Jika sebuah urusan menjadi sempit lagi susah, maka dilapangkan dan mudah

المشقة تجلب التيسر

Keadaan sulit akan menarik kemudahan

Dalil khusus:

عَنْ عَائِشَةَ
أَنَّهَا اسْتَعَارَتْ مِنْ أَسْمَاءَ قِلَادَةً فَهَلَكَتْ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي طَلَبِهَا فَأَدْرَكَتْهُمْ الصَّلَاةُ فَصَلَّوْا بِغَيْرِ وُضُوءٍ فَلَمَّا أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَكَوْا ذَلِكَ إِلَيْهِ فَنَزَلَتْ آيَةُ التَّيَمُّمِ فَقَالَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ جَزَاكِ اللَّهُ خَيْرًا فَوَاللَّهِ مَا نَزَلَ بِكِ أَمْرٌ قَطُّ إِلَّا جَعَلَ اللَّهُ لَكِ مِنْهُ مَخْرَجًا وَجَعَلَ لِلْمُسْلِمِينَ فِيهِ بَرَكَةً

Dari Aisyah bahwa dia meminjam kalung dari Asma’, lalu kalung itu hilang. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus beberapa orang sahabat untuk mencari kalung tersebut. Ketika waktu shalat tiba, mereka SHALAT TANPA WUDHU. Mereka mengadukan hal itu kepada Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam ketika menemui beliau, lantas turunlah ayat tayammum. Usaid bin Hudhair berkata; ‘Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan (yang melimpah). Demi Allah, tidaklah suatu perkara turun padamu melainkan Allah menjadikan bagimu jalan keluar, dan menjadikan keberkahan bagi kaum mukminin.’

(HR. Bukhari no. 3773, dan Muslim no. 367)

Penjelasan ulama, bahwa ketiadaan, ketidak mampuan atau kesulitan, untuk bersuci tidaklah menghilangkan atau menggugurkan kewajiban shalat.

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

ففيه دليل على وجوب الصلاة لفاقد الطهوريْن ووجهه أنهم صلوا معتقدين وجوب ذلك ولو كانت الصلاة حينئذ ممنوعة لأنكر عليهم النبي صلى الله عليه وسلم وبهذا قال الشافعي وأحمد وجمهور المحدثين وأكثر أصحاب مالك

Ini menjadi dalil wajibnya shalat bagi orang yang tidak ada sesuatu untuk bersuci dan mereka shalat yakin shalat itu wajib. Seandainya hal ini terlarang pasti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengingkari hal itu. Inilah pendapat asy Syafi’i, Ahmad, mayoritas ahli hadits, dan para sahabatnya Malik.

(Fathul Bari, 1/440)

Bersuci itu sama dengan syarat atau rukun shalat lainnya. Jika dalam keadaan tidak bisa diwujudkan maka shalat tetap sah. Orang yang tidak tahu arah kiblat, sampai selesai shalat dia tidak tahu arahnya, sehingga dia salah kiblatnya, shalatnya tetap sah. Sama seperti shalat wajib sambil berbaring, kalau dia benar-benar tidak mampu untuk berdiri bahkan duduk. Maka shalat tetap sah sambil berbaring.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

ولأنه شرط من شرائط الصلاة فيسقط عند العجز عنه كسائر شروطها وأركانها ولأنه أدى فرضه على حسبه فلم يلزمه الإعادة كالعاجز عن السترة إذا صلى عريانا والعاجز عن الاستقبال إذا صلى إلى غيرها والعاجز عن القيام إذا صلى جالسا

Sebab, itu adalah salah satu syarat sahnya shalat sebagaimana syarat-syarat lainnya yang gugur disaat seseorang lemah mewujudkannya seperti syarat dan rukun yang lain. Dia jalankan kewajibannya dan tidak wajib mengulanginya seperti orang yang tidak memiliki sesuatu menutup aurat sehingga dia shalat tidak berbusana, atau tidak bisa menghadap kiblat, atau tidak bisa berdiri sehingga dia shalatnya duduk.

(Al Mughni, 1/157)

Demikian. Wallahu a’lam

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa’ ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🌿🌺🌷🌻🌸🍃🌵🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

Antara Strategi Amr bin al ‘Ash dan Husnuzhzhannya Abu Ubaidah, Mu’adz, dan Abu Watsilah Radhiallahu’ Anhum

💢💢💢💢💢💢💢💢

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah meriwayatkan dalam Musnadnya:

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي أَبَانُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ الْأَشْعَرِيِّ عَنْ رَابِّهِ رَجُلٍ مِنْ قَوْمِهِ كَانَ خَلَفَ عَلَى أُمِّهِ بَعْدَ أَبِيهِ كَانَ شَهِدَ طَاعُونَ عَمَوَاسَ قَالَ
لَمَّا اشْتَعَلَ الْوَجَعُ قَامَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي النَّاسِ خَطِيبًا فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ رَحْمَةُ رَبِّكُمْ وَدَعْوَةُ نَبِيِّكُمْ وَمَوْتُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ يَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَقْسِمَ لَهُ مِنْهُ حَظَّهُ قَالَ فَطُعِنَ فَمَاتَ رَحِمَهُ اللَّهُ
وَاسْتُخْلِفَ عَلَى النَّاسِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فَقَامَ خَطِيبًا بَعْدَهُ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ رَحْمَةُ رَبِّكُمْ وَدَعْوَةُ نَبِيِّكُمْ وَمَوْتُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ مُعَاذًا يَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَقْسِمَ لِآلِ مُعَاذٍ مِنْهُ حَظَّهُ قَالَ فَطُعِنَ ابْنُهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُعَاذٍ فَمَاتَ ثُمَّ قَامَ فَدَعَا رَبَّهُ لِنَفْسِهِ فَطُعِنَ فِي رَاحَتِهِ فَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا ثُمَّ يُقَبِّلُ ظَهْرَ كَفِّهِ ثُمَّ يَقُولُ مَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِمَا فِيكِ شَيْئًا مِنْ الدُّنْيَا فَلَمَّا مَاتَ اسْتُخْلِفَ عَلَى النَّاسِ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ فَقَامَ فِينَا خَطِيبًا فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ إِذَا وَقَعَ فَإِنَّمَا يَشْتَعِلُ اشْتِعَالَ النَّارِ فَتَجَبَّلُوا مِنْهُ فِي الْجِبَالِ قَالَ فَقَالَ لَهُ أَبُو وَاثِلَةَ الْهُذَلِيُّ كَذَبْتَ وَاللَّهِ لَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْتَ شَرٌّ مِنْ حِمَارِي هَذَا قَالَ وَاللَّهِ مَا أَرُدُّ عَلَيْكَ مَا تَقُولُ وَايْمُ اللَّهِ لَا نُقِيمُ عَلَيْهِ ثُمَّ خَرَجَ وَخَرَجَ النَّاسُ فَتَفَرَّقُوا عَنْهُ وَدَفَعَهُ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ مِنْ رَأْيِ عَمْرٍو فَوَاللَّهِ مَا كَرِهَهُ

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Aban bin Shalih dari Syahr bin Hausyab Al Asy’ari dari suami ibunya, seorang lelaki dari kaumnya yang menikahi ibunya setelah ayahnya meninggal, dia termasuk yang menyaksikan peristiwa menjangkitnya penyakit Tha’un ‘Amwas yang merajalela, dia berkata;

Ketika Tha’un merajalela, berdirilah Abu Ubaidah bin Jarrah berkhutbah di hadapan orang-orang dan berkata;

“Wahai manusia! sesungguhnya penyakit ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, doa para Nabi kalian, dan sebab kematian orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya Abu Ubaidah memohon kepada Allah untuk mendapat bagian dari rahmat tersebut.”

Lalu dia kena Tha’un tersebut sehingga meninggal dunia -semoga Allah memberikan rahmat kepadanya.- kemudian Mu’adz bin Jabal menggantikan dia untuk memimpin orang-orang, kemudian dia dia berdiri menyampaikan khutbah setelah wafatnya Abu Ubaidah;

“Wahai manusia, penyakit ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, doanya para Nabi kalian dan sebab kematiannya para orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya Mu’adz memohon kepada Allah agar keluarga Mu’adz mendapat bagian dari rahmat tersebut.”

Kemudian Abdurrahman bin Mu’adz, anaknya terjangkit penyakit Tha’un sampai meninggal. Dia pun bangkit memohon kepada Rabbnya untuk dirinya, dan akhirnya dia juga terjangkit Tha’un di telapak tangannya. Sungguh saya melihatnya memperhatikan penyakit tersebut kemudian mencium bagian atas tangannya sambil berkata; “Aku tidak senang mempunyaimu dan (aku pergunakan untuk meletakkan perhiasan) dunia ada padamu.”

Ketika dia wafat, ‘Amru bin Al Ash menggantikan kedudukannya untuk memimpin orang-orang. Kemudian dia berdiri menyampaikan khutbah di hadapan kami;

“Wahai manusia! sesungguhnya jika wabah ini menjangkiti (di suatu negri) maka dia akan melahap sebagaimana menyalanya api, maka menghindarlah kalian ke gunung-gunung.”

Tetapi Abu Watsilah Al Hudzali berkata kepadanya; “Demi Allah, kamu telah berdusta, saya pernah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kamu lebih buruk daripada keledaiku ini.”

‘Amru berkata; “Demi Allah aku tidak akan membalas perkataanmu, demi Allah saya tidak akan memperkarakan perkataanmu itu.” Dia pun keluar dan orang-orangpun ikut keluar berpencar darinya, kemudian Allah melenyapkan wabah tersebut dari mereka.

Ketika pendapat ‘Amr bin al’ Ash tersebut sampai kepada Umar bin Khaththab, demi Allah dia tidak membenci gagasan itu.”

📚 HR. Ahmad no. 1697

▶️ Status Hadits:

📌 Syaikh Ahmad Syakir menyatakan DHAIF, karena tidak dikenal siapa yang dimaksud
“seorang lelaki dari kaumnya yang menikahi ibunya setelah ayahnya meninggal”.

(Musnad Ahmad, 2/327. Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir)

📌 Syaikh Syu’aib al Arnauth mengatakan: DHAIF, karena Syahr bin Hausyab seorang yang dhaif, dan syaikh yang ada di sanad ini juga majhul (tidak dikenal). (Ta’liq Musnad Ahmad, 3/226)

▶️ Fiqih Hadits:

📌 Abul Hasan al Madaini mengatakan, Tha’un ‘Amwas adalah tha’ un yang terjadi pada masa Khalifah Umar, di Syam, dan menewaskan 15.000 orang.

(Dikutip Imam an Nawawi, al Adzkar, Hal. 138)

📌 ‘Amwas adalah nama sebuah desa, antara Ramalah dan Baitul Maqdis. al Ashmu’i mengatakan’ Amwas diambil dari ucapan mereka saat Tha’un terjadi: ‘amma wa aasaa. (Imam adz Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala, 4/12)

📌 Di antara tokoh para sahabat nabi yang wafat adalah Muadz, Abu ‘Ubaidah, Syurahbil bin Hasanah, Abu Malik al Asy’ari.

(Tarikh Dimasyqi, 67/198), juga al Fadhl bin’ Abbas. (Thabaqat Ibni Sa’ad, 4/55)

📌 Dua Khutbah dari Abu ‘Ubaidah dan Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’ Anhuma, menunjukkan sikap mereka yang berbaik sangka mereka kpd Tha’un. Bahwa tha’un adalah rahmat Allah, doa nabi, dan sebab kematian orang-orang shalih. Sehingga justru ini yang harapkan, bahkan Abu ‘Ubaidah dan Mu’adz berharap dia pun dapat bagian rahmat itu.

📌 Sementata khutbah ‘Amr bin al’ Ash Radhiallahu ‘Anhu, menunjukkan tha’un adalah marabahaya yang luar biasa dan cepat mematikan seperti api yang membakar. Maka, dia menganjurkan manusia untuk naik ke bukit dan gunung untuk menghindar jika ingin selamat.

📌 Abu Watsilah al Hudzali menolak pendapat Amr bin al ‘Ash dengan keras, dan dianggap itu lebih buruk dari keledainya. Keledai itu simbol kebodohan. Tapi, Amr bin al ‘Ash tidak membalas, dia tetap tegar atas pendapatnya.

📌 Manusia pun ikut pendapat Amr bin al’ Ash, mereka pun selamat. Wabah Tha’un ‘Amwas pun berakhir dengan izin Allah.

📌 Sebagian kitab, seperti al Jaami’ ash Shahih Lis Sunan wal Masanid (7/441), mengatakan yang menolak adalah Surahbil bin Hasanah, bukan Abu Watsilah.

📌 Kesimpulannya, ada manusia yang sikapnya seperti Abu Ubaidah, Mu’adz, dan Abu Watsilah, bahwa bencana itu rahmat Allah bagi orang-orang beriman, dan cara matinya orang-orang shalih. Ini benar, bagi orang beriman bencana adalah rahmat, karena akan menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya jika sia bersabar.

📌 Ada juga yang seperti ‘Amr bin al ‘Ash, sejak masa jahiliyah dia memang ahli strategi dan diplomat ulung. Menurutnya bencana Tha’un itu mesti dihindari, carilah cara untuk itu. Ini juga benar, sebab Allah Ta’ala memerintahkan jangan membinasakan diri sendiri. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga mengajarkan utk menghindari bahaya atau jgn membahayakan orang lain. Inilah yang lebih utama.

– Khalifah Umar setuju atas pendapat Amr, karena Umar sendiri pernah menghindar dari kota yang sedang wabah.

Semoga Allah meridhai mereka semua.

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa’ ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam-

🌿🌺🌷🌻🌸🌴🍃🌵

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top