Posisi Imam Wanita

💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

di mana posisi imam wanita saat shalat berjamaah? Benarkah sama seperti laki-laki yaitu di depannya?

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃
Bismillahirrahmanirrahim..

Jika wanita shalat berjamaah dengan sesama wanita, maka imamnya adalah bagian tengahnya, sejajar, itulah sunnahnya.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

قال ابن قدامة : كذلك سنّ لإمامة النساء القيام وسطهن في كل حال ، لأنهن عورات

Demikian juga sunnahnya imam perempuan adalah berdiri di tengah-tengah mereka bagaimana pun keadaannya, karena mereka aurat.

(Al Mughni, 1/347)

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

السنة أن تقف إمامة النساء وسطهن ، لما روي أن عائشة وأم سلمة أمّتا نساءً فقامتا وسطهنّ

Yang sunnah adalah imam wanita berdiri ditengah mereka berdasarkan riwayat Aisyah dan Ummu Salamah, bahwa mereka berdua pernah jadi imam, dan keduanya berdiri di tengahnya.

(Al Majmu’ syarh al muhadzdzab, 4/192)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

ولا تتقدم على الصفوف كالرجال بل تتوسط الصف الأول، وإذا كانت المأمومة واحدة وقفت عن يمين من تؤمها

Janganlah dia di depan shaf seperti Kaum laki-laki tapi dia di tengah-tengah shaf awal, jika makmumnya sendirian maka makmumnya di sebelah kanan imamnya.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 5796)

Demikian. Wallahu a’lam

🌺🌿🌷🌻🌸🍃🌴🌵

✍ Farid Nu’man Hasan

Hukum Menggunakan Jin Sebagai Khadam

💢💢💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum Admin Saya Mau bertanya, apa hukum nya seseorang memiliki khodam.

(Umar, Ciamis, 24th)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bismillahirrahmanirrahim…

Menggunakan khadam dari kalangan jin, menurut ulama tidak mutlak terlarang dan tidak pula mutlak boleh. Mesti dirinci dulu. Untuk keperluan manusia yang mubah maka para ulama mengatakan itu mubah (boleh). Selama benar-benar diyakini itu jin muslim. Hal ini tidak beda dengan minta bantuan kepada manusia atau hewan. Semuanya sama-sama makhluk Allah Ta’ala.

Dalam Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah:

فالتعامل مع الجن ليس محرما على الإطلاق، بل هو مباح في المباحات، ومحرم في المحرمات

Bergaul dengan jin tidak diharamkan secara mutlak. Hal itu boleh dalam hal-hal yang memang boleh, dan haram jika dalam hal-hal yang haram. (Fatwa no. 65551)

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah membahas ini secara terperinci, sebagai berikut:

وَاسْتِخْدَامُ الْإِنْسِ لَهُمْ مِثْلُ اسْتِخْدَامِ الْإِنْسِ لِلْإِنْسِ بِشَيْءِ: مِنْهُمْ مَنْ يَسْتَخْدِمُهُمْ فِي الْمُحَرَّمَاتِ مِنْ الْفَوَاحِشِ وَالظُّلْمِ وَالشِّرْكِ وَالْقَوْلِ عَلَى اللَّهِ بِلَا عِلْمٍ وَقَدْ يَظُنُّونَ ذَلِكَ مِنْ كَرَامَاتِ الصَّالِحِينَ وَإِنَّمَا هُوَ مِنْ أَفْعَالِ الشَّيَاطِينِ. وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَخْدِمُهُمْ فِي أُمُورٍ مُبَاحَةٍ إمَّا إحْضَارِ مَالِهِ أَوْ دَلَالَةٍ عَلَى مَكَانٍ فِيهِ مَالٌ لَيْسَ لَهُ مَالِكٌ مَعْصُومٌ أَوْ دَفْعِ مَنْ يُؤْذِيهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ فَهَذَا كَاسْتِعَانَةِ الْإِنْسِ بَعْضِهِمْ بِبَعْضِ فِي ذَلِكَ. و ” النَّوْعُ الثَّالِثُ ” أَنْ يَسْتَعْمِلَهُمْ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ كَمَا يُسْتَعْمَلُ الْإِنْسُ فِي مِثْلِ ذَلِكَ فَيَأْمُرَهُمْ بِمَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ وَرَسُولُهُ وَيَنْهَاهُمْ عَمَّا نَهَاهُمْ اللَّهُ عَنْهُ وَرَسُولُهُ كَمَا يَأْمُرُ الْإِنْسَ وَيَنْهَاهُمْ وَهَذِهِ حَالُ نَبِيِّنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَحَالٌ مَنْ اتَّبَعَهُ وَاقْتَدَى بِهِ مِنْ أُمَّتِهِ وَهُمْ أَفْضَلُ الْخَلْقِ فَإِنَّهُمْ يَأْمُرُونَ الْإِنْسَ وَالْجِنَّ بِمَا أَمَرَهُمْ اللَّهُ بِهِ وَرَسُولُهُ

Meminta bantuan jin itu sama seperti manusia meminta suatu bantuan kepada manusia.

Pertama. Jenis yang haram, yaitu meminta bantuan jin untuk melakukan kesyirikan, kezaliman, kekejian, dan berkata atas nama Allah tanpa ilmu. Lalu mereka sangka itu adalah karomah orang shalih.

Kedua. Jenis yang boleh, seperti orang yang meminta bantuan mereka dalam urusan yang mubah. Misalnya minta dihadirkan hartanya, atau menunjukkan tempat barang yang tidak ada pemiliknya, atau mencegah diri dari gangguan, dan yang semisal itu dari hal-hal yang mubah. Ini sama seperti kerjasama manusia dengan manusia lainnya.

Ketiga. Memanfaatkan mereka dalam ketaatan kepada Allah dan RasulNya, ini seperti memerintahkan manusia. Memerintahkan mereka berdasarkan perintah Allah dan RasulNya sebagaimana memerintah dan melarang manusia. Kondisi ini terjadi pada Nabi kita Shallallahu Alaihi wa Sallam dan orang-orang yg mengikutinya dari umatnya, dan mereka makhluk paling utama. Mereka memerintahkan manusia dan jin sebagaimana perintah Allah dan RasulNya.

(Majmu’ al Fatawa, 13/87)

Di Indonesia, negeri yang begitu kuat nuansa kleniknya tentu hal ini berbahaya jika dibuka pintu selebar-lebarnya. Ditutup saja mereka tetap membongkar apalagi dibuka. Maka, untuk mencegah kepada hal yang bisa merusak aqidah, khususnya bagi orang awam, maka menghindari menggunakan khadam dari kalangan jin adalah lebih layak dilakukan.

Di hadapan kita masih banyak saudara kita sesama manusia yang bisa kita mintai bantuannya. Maka selama masih ada manusia tentu meminta tolong kepada manusia lebih utama dibanding kepada Jin.

Kesimpulannya:

فالأمر متوقف على معرفة نوع الاستخدام ، فما كان مباحاً جاز ، وما كان حراما لم يجز
والذي نراه هو ترك التعامل مع الجن مطلقا فلا يستعان بهم ، ولا يركن إليهم ، ولا ينبغي مخاطبتهم ، ولا الحديث معهم ، لما قد يترتب على ذلك من المفاسد والمضا

Maka, masalah ini tergantung pada jenis bantuannya. Jika dalam hal yang mubah maka itu mubah, jika dalam urusan haram maka tidak boleh.

Menurut kami, berinteraksi dgn jin hendaknya ditinggalkan secara total. Maka tidak usah minta bantuan, condong kepada mereka, dialog, dan berbicara dengan mereka. Sebab hal itu akan memunculkan bahaya dan kerusakan. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 9734)

Demikian. Wallahu a’lam

🌿🌺🌷🌻🌸🍃🌵🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

[Tata Cara Shalat] – Ruku’

💢💢💢💢💢💢💢💢

Ini adalah salah satu rukun shalat, tanpanya shalat tidak sah. Bahkan dalam Al Quran, istilah shalat kadang menggunakan kata ruku’. Ini menunjukkan kedudukannya yang sangat penting.

Di antaranya:

وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرۡكَعُواْ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

Dan laksanakanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah beserta orang yang ruku’.

(QS. Al-Baqarah, Ayat 43)

Ayat lainnya:

يَٰمَرۡيَمُ ٱقۡنُتِي لِرَبِّكِ وَٱسۡجُدِي وَٱرۡكَعِي مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

Wahai Maryam! Taatilah Tuhanmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.

(Q. Ali ‘Imran, Ayat 43)

Ada pun tentang syariat ruku’ dalam shalat, ditegaskan dalam banyak hadits, di antaranya berikut ini.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ بِمَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا

‘Jika kamu hendak mengerjakan shalat, maka sempurnakanlah wudhu’, lalu menghadap ke arah Kiblat, setelah itu bertakbirlah, kemudian bacalah Al Qur’an yang mudah bagimu. Kemudian ruku’lah hingga kamu benar-benar ruku’

(HR. Bukhari no. 6251, 6252)

Makna Ruku’

Syaikh Hasan bin Ahmad al Kaaf, menjelaskan bahwa secara bahasa, ruku’ artinya al inhina’ (الإنحناء), yaitu membungkuk.

Secara syariat, artinya membungkuknya orang yang shalat tanpa INKHINAS, dengan meletakkan dua telapak tangannya di dua lututnya.

(Al Ahammu fi Fiqhi Thalib al ‘Ilmi, Hal. 96)

Inkhinas adalah membungkuk dengan malas, mengangkat/mendongakkan kepala, dan membusungkan dada. Ini haram. (Ibid)

Tata Cara Ruku’

Tentang cara ruku’, disebutkan dalam beberapa hadits berikut:

فَلَمَّا رَكَعَ وَضَعَ رَاحَتَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَجَعَلَ أَصَابِعَهُ مِنْ وَرَاءِ رُكْبَتَيْهِ وَجَافَى إِبْطَيْهِ حَتَّى اسْتَقَرَّ كُلُّ شَيْءٍ مِنْهُ

“dan ketika hendak ruku’ ia meletakkan kedua telapak tangannya pada dua lututnya dan meletakkan jari-jarinya merenggang di kedua lututnya. la merenggangkan kedua sikunya dari kedua lambungnya…

(HR. An Nasa’i no. 1037, shahih)

Tentang posisi kepala:

وكان إذا رَكَع لم يُشْخِصْ رأسَه ولم يُصَوِّبَه ولكن بين ذلك

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika ruku’ tidak meninggikan (mendongakkan) kepala dan tidak juga merendahkannya (terlalu bungkuk), namun di antara keduanya (lurus).” (HR. Muslim no. 498)

Tentang posisi punggung, diceritakan dalam sebuah hadits:

إِذَا رَكَعَ لَوْ وُضِعَ قَدَحٌ مِنْ مَاءٍ عَلَى ظَهْرِهِ لَمْ يُهَرَاقْ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, apabila sedang ruku’ kemudian diletakkan bejana air di punggungnya niscaya tidak akan tumpah.”

(HR. Ahmad no. 997)

Syaikh Ahmad Syakir mengatakan dhaif. Begitu pula yang dikatakan oleh Syaikh Syu’aib al Arnauth. Namun, Syaikh al Albani menyatakan shahih, karena banyaknya jalur lain yang menguatkan hadits ini.

Kesimpulan:

– Jadi, telapak tangan di lutut dan ini sunnah, bukan meletakkan di tulang kering kaki, lalu dengan jari yang agak direnggangkan

– serta siku yang menjauh dari lambungnya

– kepala tidak terlaku dongak, dan tidak terlalu nunduk

– Punggung diratakan, tegak lurus dengan kaki,

– Pandangan mata ke tempat sujud, sesuai keumuman dalil:

دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم الكعبة ما خلف بصره موضع سجوده حتى خرج منها

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masuk ke Ka’bah, pandangannya tidak pernah beralih dari tempat sujudnya sampai dia keluar dari Ka’bah.

(HR. Ibnu Hibban, 4/332, Al Hakim, 1/652. Shahih)

Demikian. Wallahu a’lam

Bersambung….

🌺🌿🌷🌻🌸🍃🌴🌵

✍ Farid Nu’man Hasan

[Tata Cara Shalat] – Membaca Surat

💢💢💢💢💢💢💢

Membaca surat, yakni selain Al Fatihah, adalah SUNNAH berdasarkan ijma’, bukan kewajiban. Tanpanya shalat seseorang tetap sah tetapi dia meninggalkan sunnah. Tentu itu bukanlah kebaikan.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

وهذا مجمع عليه في الصبح والجمعة والأولييْن من كل الصلوات ، وهو سنة عند جميع العلماء ، وحكى القاضي عياض رحمه الله تعالى عن بعض أصحاب مالك وجوب السورة ، وهو شاذ مردود

Hal ini (kesunahan membaca surat) adalah Ijma’, baik pada shalat subuh, shalat Jum’at, atau pada dua rakaat pertama disemua shalat. Itu sudah menurut semua ulama. Al Qadhi ‘Iyadh menceritakan adanya yang mewajibkan dari kalangan pengikut Imam Malik. Tapi, itu pendapat aneh dan tertolak.

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/104)

Oleh karena itu, membaca satu ayat saja, atau kurang dari tiga ayat dari surat yang dibaca, adalah tidak masalah. Asalkan itu ayat yang memiliki makna yang utuh seperti membaca ayat kursi saja (al Baqarah 255), atau al Baqarah 282 (ayat ttg hutang) . Ada pun membaca satu ayat dengan makna yang tidak utuh, lebih baik tidak dilakukan.

Dalam Syarh Al Muntaha, Imam al Bahuti menelaskan:

قال القاضي [أبو يعلى] وغيره : وتجزئ آية إلا أن أحمد استحب كونها طويلة , كآية الدين والكرسي

Berkata Al Qadhi Abu Ya’la dan lainnya: sudah cukup satu ayat, hanya saja Imam Ahmad menyukai satu ayat itu yang panjang seperti ayat tentang hutang dan ayat kursi.

(Imam al Bahuti, Syarh Al Muntaha, 1/191)

Ada pun satu ayat yang tidak membawa pada makna sempurna, sebaiknya jangan. Seperti sekedar membaca tsumma nazhar (kemudian dia melihat), seperti yang ada dalam surat Al Muddatstsir, atau mudhaamataan (kedua surga yang tampak hijau warnanya), dalam surat Ar Rahman.

Imam Al Bahutiy berkata:

والظاهر أنه لا تجزئ آية لا تستقل بمعنى أو حكم نحو ( ثم نظر ) و ( مدهامتان)

Yang benar adalah tidak cukup membaca satu ayat yang tidak memiliki makna tersendiri atau hukum, seperti “tsumma nazhar” dan “mudhaammataan”.
(Kasysyaaf Al Qinaa’, 1/342)

Urutan membaca surat juga mesti diperhatikan. Etikanya adalah mendahulukan membaca surat yang urutannya lebih dulu, misal surat Al Ikhlas didahulukan daripada Al Falaq. Al Ikhlas di rakaat pertama, Al Falaq atau An Naas di rakaat kedua. Atau, At Tin di rakaat pertama, Al Fiil atau An Nashr di rakaat kedua. Sebab begitulah urutannya dalam Al Quran. Jangan dibalik, walau jika dibalik pun itu tidak merusak shalat.

Imam An Nawawi Rahimahullah, menyebut dalam At Tibyan, bahwa jika rakaat pertama sudah membaca An Naas (surat terakhir dalam Al Quran), maka rakaat kedua dia membaca Al Baqarah, dengan kata lain kembali ke surat awal lagi. Sebab, setelah An Naas sudah tidak ada surat lagi.

Demikian. Wallahu a’lam

(bersambung..)

🌴🍄🌷🌱🌸🍃🌵🌾🌹

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top