Meragukan Kisah Nabi Adam dalam al-Qur’an

▫▪▫▪▫▪▫▪

PERTANYAAN:

Assalamualaikum ustadz ,,, Afwan izin bertanya ustadz , ada seorang ustadz yg berceramah di masjid dkt rmh ana ustadz,,beliau meragukan kisah Adam yg ada di dalam Al Qur’an benar2 terjadi,,,apa sikap kita terhadap hal tersebut ustadz? (+62 852-7236-xxxx)


JAWABAN

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah

Allah Ta’ala menegaskan kebenaran semua isi Al Quran tidak ada keraguan di dalamnya. (QS. Al Baqarah: 2)

Meragukan isi Al Quran baik ragu pada kisah, hukum, atau apa pun dari kandungan Al Quran adalah salah satu bentuk kekufuran, sebagaimana dikatakan para ulama, misalnya:

من أنكر حرفاً مما أجمع عليه في القرآن، أو شك في كونه من القرآن، فقد كفر بإجماع المسلمين.

Barang siapa yang mengingkari satu huruf dari Al-Qur’an yang telah disepakati, atau meragukan bahwa ia adalah bagian dari Al-Qur’an, maka ia telah kafir berdasarkan ijma’ kaum Muslimin. (Mukhtashar Al Khalil)

ومن جحد شيئاً مما هو معلوم من الدين بالضرورة، كإنكار كون القرآن كلام الله، أو شك فيه، كفر.”

Barang siapa yang mengingkari sesuatu yang sudah menjadi pengetahuan agama yang pasti, seperti mengingkari bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah, atau meragukannya, maka dia kafir. (Al Iqna’)

Maka, jangan jadikan dia sebagai narasumber. Apa yang disampaikannya adalah kesesatan dan racun bagi jamaah yang mendengarkan.

Wallahu A’lam

 Farid Nu’man Hasan

Selesai Shalat Imam Masih Menghadap Kiblat

 PERTANYAAN:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة

Ustadz…. saya mau bertanya, apakah makruh apabila seorang imam terlalu lama menghadap kiblat setelah selesai sholat


 JAWABAN

▪▫▪▫▪▫▪▫

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاتة

Imam menghadap ke makmum setelah shalat itu mustahab (sunah), yaitu setelah Allahumma antassalam wa minkassalam .. dan para ahli fiqih mengatakan makruh jika imam terus menerus menghadap ke kiblat setelah selesai shalat.

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

َيُكْرَهُ لَهُ الْمُكْثُ عَلَى هَيْئَتِهِ مُسْتَقْبِل الْقِبْلَةِ، لِمَا رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنَ الصَّلاَةِ لاَ يَمْكُثُ فِي مَكَانِهِ إِلاَّ مِقْدَارَ أَنْ يَقُول: اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَل وَالإِْكْرَامِ، وَلأِنَّ الْمُكْثَ يُوهِمُ الدَّاخِل أَنَّهُ فِي الصَّلاَةِ فَيَقْتَدِي بِهِ. كَمَا يُكْرَهُ لَهُ أَنْ يَتَنَفَّل فِي الْمَكَانِ الَّذِي أَمَّ فِيهِ.

“Dimakruhkan baginya (imam) berdiam diri dengan tetap menghadap kiblat, karena telah diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa Nabi ﷺ apabila selesai dari shalat, beliau tidak berdiam di tempatnya kecuali sekadar membaca: ‘Allahumma anta as-salaam wa minka as-salaam tabaarakta yaa dzal-jalaali wal-ikraam’. Dan karena berdiam diri (lama) bisa membuat orang yang baru masuk (masjid) menyangka bahwa ia masih dalam shalat lalu mengikutinya. Demikian pula dimakruhkan baginya melaksanakan shalat sunnah di tempat yang ia menjadi imam di situ.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 6/214)

Dahulu Rasulullah ﷺ menghadap ke makmum untuk menunjukkan kepada jamaah bahwa shalat sudah selesai, atau memeriksa kehadiran jamaah, atau keperluan lainnya, seperti yang disampaikan Al Hafizh Ibnu Hajar.

Wallahu A’lam

Baca juga: Memutar Badan Bagi Imam Setelah Selesai Shalat Adalah Sunnah

✍ Farid Nu’man Hasan

Bid’ah Idhofiyah

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاتة

Ustadz… Izin bertanya dan mohon penjelasan Ustadz terkait bid’ah idhafiyah. Terimakasih.


Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاتة

Secara bahasa bid’ah idhafiyah adalah bid’ah karena penambahan. Pada satu sisi nampak tidak bid’ah karena memiliki dasar dalam agama, tetapi dari sisi lain dia bertentangan dengan agama, khususnya terkait pada hai’ah (bentuk) dan tata caranya.

Seorang ulama Al Azhar, Syaikh Muhammad Al Ghazali dalam Laisa Minal Islam memberikan contoh: berdzikir sambil joget-joget, menari-nari, dan diiringi musik. Dzikirnya sendiri adalah masyru’ (disyariatkan) baik oleh Al Quran maupun As Sunah. Tapi, dilakukan dengan cara menari-nari dan musik maka itu idhafiyah (tambahan) pada syariat dzikir tersebut. Walaupun berzikir cara ini dibela oleh kalangan sufi.

Syaikh Ali al Faqihi mengatakan:

جَانِبٌ مَشْرُوعٌ: وَلَكِنَّ الْمُبْتَدِعَ يُدْخِلُ عَلَى هَذَا الْجَانِبِ الْمَشْرُوعِ أَمْرًا مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ فَيُخْرِجُهَا عَنْ أَصْلِ مَشْرُوعِيَّتِهَا بِعَمَلِهِ هَذَا، وَأَكْثَرُ الْبِدَعِ الْمُنْتَشِرَةِ عِنْدَ النَّاسِ مِنْ هَذَا النَّوْعِ

Di satu sisi ini disyariatkan, tetapi pelakunya memasukan ke dalam sisi ini hal-hal yang munculnya dari diri sendiri sehingga sudah keluar dari syariat karena perbuatannya itu. Inilah jenis yang paling banyak tersebar di tengah manusia. (Al Bid’ah wa Dhawabithuha, hal. 14)

Beliau memberikan contoh: berjemur di terik matahari tanpa naungan dengan maksud sebagai dzikir, berniat puasa bicara dengan anggapan itu cara pendekatan diri kepada Allah, niat puasa tanpa berbuka.

Demikian. Wallahu A’lam.

✍ Farid Nu’man Hasan

Ucapan Rahimahullah Bagi Pelaku Bunuh Diri

▫▪▫▪▫▪

 PERTANYAAN:

Assalaamu’alaikum WrWb,

Semoga Ustadz Farid selalu Allah berkahi dan diberikan kesehatan paripurna.
Izin bertanya, Ada sebuah menjid menyebarkan flyer berita duka cita atas meninggalnya marbot Masjid. disitu tertulis fulan Rohimahullah, dengan tambahan beliau terbilang orang yg baik dan senang dengan anak2..

Di sekitaran Masjid 1 RW banyak yang tidak mengenal beliau, terlebih meninggal dalam posisi tergantung diduga di bunuh atau bisa jadi bunuh diri.

Yang saya ingin tanyakan, Bolehkah kita menyematkan kalimat Rohimahullah kepada setiap muslim yang meninggal ? atau ada kriteria tertentu ? perlu kah dinasihati atau cukup didiamkan saja flyer tersebut..?

Terima kasih sebelumnya pak Ustadz..
Wassalam


 JAWABAN

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Selama dia muslim, walau pun zalim, fasik, tetap disyariatkan tarahum (ucapan Rahimahullah). Sebab itu adalah doa, sebagaimana doa: Allahummagfir lahu warhamhu .. Ya Allah ampunilah dia dan rahmatilah dia… Ini dalil bolehnya mendoakan ampunan dan Rahmat kepada semua umat Islam..

فالدعاء بالرحمة لمن مات على الإسلام، مشروع، وإن كان فاسقا، ظالما، فإنه في مشئية الله، إن شاء غفر له، وإن شاء عذبه، ورحمة الله واسعة، والأمر لله من قبل، ومن بعد، قال تعالى: إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ {النساء:48}

Mendoakan rahmat bagi orang yang meninggal dalam keadaan Islam adalah sesuatu yang disyariatkan, meskipun ia seorang fasik atau zalim. Karena ia berada dalam kehendak Allah: jika Allah menghendaki, Dia mengampuninya; dan jika Allah menghendaki, Dia mengazabnya. Rahmat Allah itu luas, dan segala urusan adalah milik Allah, sejak dahulu maupun kemudian. Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki.’ (QS. An-Nisa: 48)

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 329563)

Wallahu A’lam

☘

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top