Cara Duduk Masbuk Saat Rakaat Terakhir

▪▫▪▫▪▫▪▫

 PERTANYAAN:

Assalamualaikum ustadz… Mohon penjelasannya…apabila solat seorang jamaah ketinggalan rokaat imam, apabila imam pd rokaat terakhir duduk tasyahud akhir apakah kita juga ikut duduk tasyahud akhir apa duduk tasyahut awal? Terima kasih


 JAWABAN

Bismillahirrahmanirrahim..

Dalam masalah duduk tasyahudnya, ada beragam pandangan.

Imam Malik dan pengikutnya mengatakan, semua duduk tasyahud adalah tawaruk, yaitu kaki kaki kanan dilipat kebelakang dengan telapak ditegakkan, dan kaki kiri ada dibawahnya dan tapak kaki kiri nampak keluar. (Kalau di Indonesia cara ini niasa dipakai pada duduk tasyahud akhir)

Bagi golongan ini, kapan saja masbuq bergabung dalam shalat, termasuk mashuq di tasyahud akhir, duduknya tetap tawaruk.

Imam Abu Hanifah dan pengikutnya mengatakan semua duduk tasyahud, baik awaldan akhir/kedua, adalah iftirasy, yaitu duduk seperti duduk di antara dua sujud. Bagi golongan ini, kapan pun seorang yang masbuq, termasuk masbuq di tasyahud akhir, maka cara duduknya tetap iftirasy.

Adapun Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, mereka membedakan antara duduk tasyahud awal dan akhir. Tasyahud awal duduknya iftirasy, sedangkan akhir adalah tawaruk.

Lalu bagaimana jika masbuq di tasyahud akhir? Ada beberapa pendapat:

Ikuti duduk imam, yaitu tawaruk, sebab ju’ilal imam liyu’tamma bihi – imam diangkat untuk diikuti

Duduk sesuai urutan bilangannya, jika si makmjm masih tasyahud awal, maka iftirasy

Masalah ini luwes saja bukan pembahasan batal dan sahnya shalat, bagi yang bertubuh gempal, kadang tawaruk menyulitkan maka boleh saja dia iftirasy.

Demikian. Wallahu a’lam

☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Hukum Jual Beli Blind Box

 PERTANYAAN:

Aswrwb ustadz afwan bagaimana hukum membeli mainan dalam bentuk blind box? Jenis-jenis mainan yang didapat tergambar di kotaknya. Hanya tidak pasti diketahui akan mendapat apa.


 JAWABAN

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاتة

Blind box, yaitu seseorang membeli box yang tidak diketahui apa isinya, walau sudah diberitahu isinya mainan, termasuk gharar, dan bertentangan dgn syariat Islam.

Gharar adalah setiap transaksi yang mengandung ketidakpastian tentang hasil, barang, harga, atau waktu penyerahan, sehingga bisa menimbulkan kerugian salah satu pihak.

نَهَى رَسُولُ اللهِ ﷺ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

“Rasulullah ﷺ melarang jual beli gharar.” (HR. Muslim, no. 1513)

Jual beli blind box, yang mana seseorang pembeli tidak tahu bagaimana kondisi barang yang ia beli, bagaimana bentuk dan modelnya, bahannya, warnanya, ini termasuk gharar yang terlarang.

Wallahu A’lam

☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Doa Khusus Untuk Membuka Acara

 PERTANYAAN:

Assalaamu’alaikuum. ustadz. izin bertanya soal doa. Ada 2 doa yang mau saya tanyakan.
1. apa ada doa untuk membuka acara umum agar lancar?
2. Apa ada doa untuk membuka acara buka puasa bersama?

(+62 895-8000-xxxxx)


 JAWABAN

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah

1. Tidak ada, hanya saja ada beberapa hal yang dianjurkan jika akan memulai acara:

– Memulai dengan basmalah
– Hamdalah
– Shalawat

Ada pun mengawali dengan membaca Al Fatihah. Ini tawasul dengan amal shalih, dibolehkan oleh semua mazhab.

2. Tidak ada juga. Tapi disunnahkan di menit-menit menjelang buka untuk berdoa (apa pun) karena itu waktu dikabulkannya doa sebagaimana haditd Abu Daud dan At Tirmidzi.

Wallahu A’lam

☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Benarkah Bani Israil Itu Cerdas?

 PERTANYAAN:

Assalamualaikum ustadz Afwan izin bertanya ustadz kami pernah mendengar pengajian di sebuah masjid,,penceramah berkisah tentang sapi pada surat Al Baqarah,,tapi yg agak aneh bagi kami , si penceramah melihat kisah itu dari sisi yg berbeda dgn mengatakan bahwa kaum bani Israil itu cerdas2 ,,katanya ini dapat di lihat dari dialog antara nabi Musa dgn Bani Israil terkait ciri2 sapi yg akan di sembelih .

Pertanyaannya ustadz, apakah ada dalam kitab tafsir yg mengatakan demikian ustadz?…..
Meningkat dalam ayat tersebut kalau tak salah di katakan hampir saja Bani Israil tak melaksanakan perintah dari nabi Musa.

(+62 852-7236-xxxx)


 JAWABAN

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Pertanyaan-pertanyaan Bani Israel bukan karena mereka cerdas, tapi karena watak dasar mereka membangkang. Mereka tidak mau menyembelih sehingga disampaikan berbagai pertanyaan. Justru karena Nabi Musa ‘Alaihissalam yang cerdas akhirnya semua pertanyaan nyeleneh Bani Israel bisa dijawab oleh Nabi Musa dan mereka pun akhirnya menyembelih.

Allah Ta’ala juga mengecam terhadap pertanyaan-pertanyaan Bani Israel kepada Nabi Musa yang berlebihan dan menunjukkan sikap membangkang serta kurangnya keimanan mereka. Salah satu contohnya terdapat dalam Surah Al-Baqarah ayat 67-71, yang menceritakan kisah Bani Israel ketika diperintahkan untuk menyembelih sapi. Alih-alih menaati perintah Allah dengan segera, mereka justru banyak bertanya tentang detail sapi tersebut, seperti warnanya, usianya, dan jenis pekerjaannya. Sikap ini menunjukkan kebiasaan mereka untuk memperumit sesuatu yang sebenarnya sudah jelas. Bukan karena mereka cerdas.

Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 68:

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ ۚ

“Mereka berkata: ‘Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menjelaskan kepada kami (sapi) itu bagaimana’…”

Allah mengecam sikap mereka dalam beberapa ayat lain, seperti dalam Surah Al-Baqarah ayat 108:

أَمْ تُرِيدُونَ أَن تَسْأَلُوا رَسُولَكُمْ كَمَا سُئِلَ مُوسَىٰ مِن قَبْلُ ۚ

“Apakah kamu ingin meminta kepada Rasulmu (Muhammad) seperti halnya Bani Israel meminta kepada Musa dahulu?”

Ayat ini mengingatkan umat Islam agar tidak mengikuti jejak Bani Israel yang terlalu banyak bertanya dalam rangka menghindari kewajiban, bukan untuk mencari ilmu dengan ikhlas. Sikap semacam ini justru menunjukkan keras kepala dan kurangnya kepatuhan terhadap wahyu Allah.

Dengan demikian, kecaman Allah Ta’ala terhadap pertanyaan-pertanyaan Bani Israel kepada Musa lebih kepada sikap mereka yang enggan menerima perintah dengan penuh ketaatan, Bukan karena kecerdasan.

Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top