Sikap Adil Terhadap Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah

Pertanyaan

Bisa dijelaskan tentang pro-kontra terhadap Nashirudin Al-Albani dalam ilmu hadits?

(11 November 2015)


Jawaban

Bismillahirrahmanirrahim..

Ya, kita dapatkan sebagian orang ada yang puas dan kenyang ketika sebuah hadits tertulis “dishahihkan/didhaifkan oleh Syaikh Al Albani”, seolah hal itu sudah final. Namun sebagian lain ada yang sangat alergi dan sangat menolak hal itu, seraya menyebut Syaikh Al Albani bukan ahli hadits sama sekali.

Harus diakui, Beliau adalah salah satu ahli hadits abad ini. Berguru kepada sejumlah ahli hadits di masanya seperti Syaikh Muhammad Raghib ath Thabakh, Syaikh Muhammad Said Al Burhani, Syaikh Muhammad Bahjat Baithar, Syaikh Ahmad Syakir, dan ayahnya sendiri Syaikh Nuh an Najati. Syaikh Al Albani memiliki karya yang sangat banyak dan memenuhi perpustakaan dunia Islam. Banyak yang mengambil ilmunya, baik kalangan awam, terpelajar, dan juga ulama. Kepiawaiannya dalam meneliti hadits membuat sebagian muridnya memujinya dengan menyebutnya Al Bahaatstsah (peneliti ulung).

Para ulama dunia menaruh hormat padanya bahkan mengambil manfaat darinya baik pro dan kontra kepadanya, seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Syaikh Ali Ath Thanthawi, bahkan Syaikh Hasan Al Banna memberinya motivasi dan pujian di saat Beliau meneliti hadits-hadits Fiqhus Sunnah-nya Syaikh Sayyid Sabiq, dengan judul kitab Tamamul Minnah.

Kenyataan ini menunjukkan posisinya yang baik dan istimewa di tengah para ulama. Walau para ulama ini tidak selalu sejalan dengan pendapat-pendapat Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah baik pada hadits dan fiqihnya, dan di banyak perkara, dan itu adalah hal biasa dalam keilmuan.

Dua Kutub Ekstrim

Jika membicarakan sosok, biasanya kita dapati dua kutub yang amat bertentangan tentang sosok tersebut. Ada yang membencinya, bahkan merendahkannya sedasar lautan, serta membuang semua hal yang berasal darinya dan tentangnya, namun ada juga yang menyanjung dan meninggikannya seolah tiada cacat baginya, seakan perkataannya adalah hujjah final bagi manusia. Ini pula yang dialami oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Kedua sikap ini sama-sama tercela dan zalim.

Hendaknya kebencian kita kepada seorang manusia, apalagi muslim, apalagi tokoh agama, hanya karena perbedaan pandangan semata-mata, tidak membuat kita berlaku zalim kepadanya; merendahkan, menghina, dan menjadikannya seolah musuh abadi dan perusak agama. Begitu pula kekaguman dan cinta kita kepada seorang tokoh dan ulama, tidaklah membuat kita mensucikannya, menjadikannya seolah nabi baru yang ma’shum, atau mendudukannya melebihi para imam yang empat, bahkan melebihi para sahabat dan tabi’in, yang jika pendapat mereka bertentangan dengannya, kita buang pendapat mereka dan kita hanya ambil pendapat Syaikh Al Albani. Tertutup dari semua kritikan, memandang kritikan sebagai ancaman dan kebencian. Tanpa disadari sikap itu telah membebani apa-apa yang ulama tersebut juga tidak menginginkannya.

Beberapa Contoh

Sebagai contoh pada posisi orang-orang yang membencinya, kami dapati perkataan yang mengandung petir kebencian bagi Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, berasal dari perkataan sebagian murid-murid Syaikh Abdullah Al Harari Rahimahullah -pendiri jamaah Ahbasy- dalam kitab yang mereka susun berjudul, Silsilah Al Hidayah Tabyinu Dhalalat Al Albani Syaikh Al Wahabiyyah Al Mutamahdits.

Berikut ini sebagian saja perkataannya:

“Di antara mereka adalah seorang laki-laki yang menyandarkan dirinya pada ilmu dan ulama, pada hadits dan ahli hadits padahal itu hanyalah bualan dan dusta belaka. Dia menjadikan lisan dan penanya, seperti yang telah kami sebutkan, juga pada fatwa-fatwanya yang menumbuhkan fitnah, perpecahan, kedengkian, kebencian dan permusuhan di antara kaum muslimin, dia adalah Si Tukang Jam yang dijuluki NASHIRUDDIN AL ALBANI (Pembela Agama dari Al Bania), yang bagi kami telah cukup keadaan dirinya sebagai bekal untuk membantahnya, yaitu ketika dia menceritakan dirinya sebagai tukang jam dan hobinya membaca kitab tanpa talaqqi ilmu kepada ahlinya dan dia tidak memiliki sanad ilmu yang resmi. Maka, telah terjadi kontradiksi antara kenyataan ini dan itu, antara kitab-kitab dan sandaran dirinya kepada salaf padahal dia telah menyelisihi kaum salaf dalam masalah aqidah dan hukum-hukum fiqih.

Dia menyangka dirinya adalah ahli hadits padahal dia tidak hapal satu pun hadits beserta sanadnya yang bersambung sampai Rasulullah ﷺ, maka bagaimana dia menjadi seorang ahli hadits ketika dia menshahihkan suatu hadits pada sebuah kitabnya, lalu dia mendhaifkan hadits tersebut pada kitabnya yang lain dan sebaliknya.Dia menyerang para ulama dengan perkataan yang merendahkan dan mengejek, begitu sombong dirinya mendebat secara batil dan berani dengan hawa nafsunya terhadap Al Bukhari, Muslim, dan lainnya. Dia mendhaifkan hadits shahih yang telah disepakati para huffazh, sikapnya itu telah membuatnya berlaku syadz (janggal) dan keluar dari kesepakatan mayoritas umat Muhammad ﷺ dari kalangan Asya’irah dan Maturidiyah, yang dia telah menuduh dengan dusta bahwa mereka ini adalah ahli bid’ah. Maha suci Rabb kami ini adalah kedustaan yang besar.” (Lihat Silsilah Al Hidayah Tabyin Dhalalat Al Albani, Hal. 5-6. Cet. 3, 2007M/1428H. Syirkah Darul Masyaari’)

Dalam kitab ini juga dicantumlan dialog yang menunjukkan Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani tidak pantas didudukan sebagai Ahli Hadits. Berikut ini kutipannya:

“Diceritakan kepada kami, bahwa seorang laki-laki yang berprofesi sebagai pengacara bertanya kepadanya: Apakah Anda seorang muhaddits/ahli hadits?” Syaikh Al Albani menjawab: “Ya.” Lalu pengacara itu berkata: “Riwayatkanlah kepada kami sepuluh hadits saja beserta sanad-sanadnya.”

Syaikh Al Albani menjawab: “Aku bukanlah ahli hadits dengan hapalan, tapi ahli hadits dengan kitab.” Maka, pengacara itu berkata: “Kalau begitu aku juga bisa jadi ahli hadits kitab.” Lalu Syaikh Al Albani terdiam.” (Ibid, Hal. 7)

Demikianlah. Ini baru satu saja buku yang mengkritiknya dengan tajam. Masih banyak lainnya yang berasal dari para ulama dari kalangan yang berbeda, baik ahli hadits bahkan sufi, seperti Syaikh Abdul Fattah Abu Ghudah, Syaikh Hasan As Saqqaf, Syaikh Habiburrahman Al A’zhami, dan sebagainya. Atau kritikan biasa saja, yang dilakukan oleh Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dalam masalah zakat pertanian, kritikan Syaikh Ali Ath Thanthawi dalam masalah cincin emas bagi wanita, bahkan ulama kerajaan Arab Saudi Syaikh Abdullah Al Ghudyan mengkritiknya dalam masalah aqidah, dan sebagainya.

Sebagian orang ada yang menjadikan kritikan-kritikan ini untuk menggebuk Syaikh Al Albani, melukainya, dan mencederai kehormatannya. Seharusnya kritikan-kritikan ini diletakkan pada porsi yang wajar; bahwasanya saling kritik di dunia ilmu adalah hal yang biasa dan maklum.

Kemudian …

Pada posisi pemujanya pun tidak kalah hiperbol dalam menyanjungnya dan menyamakan dengan imam-imam generasi awal dan pertengahan Islam.

Contohnya, tercatat pada beberapa syair yang ditulis mengiringi wafatnya tahun 1999 M yang lalu:

“Ia mengikuti Imam Al Bukhari menjadi Amirul Mukminin sesungguhnya, menjadi khalifah dalam hadits dan berjaya

Seperti Ibnul Madini menyingkap penyakit mata yang ada dalam hadits, ilmu yang menyulitkan para pakar, dan Beliau adalah salah satu pakarnya.” (Al Ashaalah, 23/46)

Juga Syairnya Syaikh Khairuddin Waatsili yang menyetarakan Syaikh Al Albani sebagai Imam Ibnu Taimiyah Abad 14.

“Ibnu Taimiyah tidak memiliki generasi pengganti yang lebih bernyawa daripada Syaikh As Sunnah Al Albani orangnya.

Keduanya adalah dua lautan ilmu dan lautan keutamaan, silahkan mereguknya sesukamu hendak mengambil ilmu dan keutamaannya.”

Syair ini membuat kita berpikir di mana posisi murid-murid Imam Ibnu Taimiyah sendiri yang langsung bersamanya selama bertahun-tahun seperti Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnu Katsir, Imam Ibnu Rajab, Imam Adz Dzahabi, dan murid-murid lainnya? Apakah semua ini tidak ada apa-apanya dibanding Syaikh Al Albani?

Ada pula yang memujinya bahwa mustahil ada ulama yang menggantikan posisi Syaikh Al Albani, tidak ada lagi imam seperti dirinya, dan keilmuannya tidak bisa digantikan oleh seseorang tapi baru bisa digantikan oleh sekelompok orang di berbagai negara, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad Musa Nashr.

“Sungguh mataku belum pernah terpejam selamanya, setelah kepergian Syaikh Al Albani ke alam baka

Hatiku selalu menjerit Ya Rabbana! Mustahil tampak di dunia akan ada imam sepertinya.

Mungkin mereka berkata: Fulan dan Fulan bisa menggantikannya dalam ilmu, penelitian hadits dan dalil yang nyata

Bohong, mereka dusta, demi Rabb kami, justru mereka sedang menderita, terombang ambingkan ke Timur dan ke Barat sepanjang masa tersisa

Tidak mungkin Syaikh kita ini tergantikan dalam ilmunya, melainkan oleh SEKELOMPOK orang di berbagai negara.” (Al Ashalah, 23/27)

Dan masih banyak lagi …

Nah kita lihat, baik celaan terhadapnya, juga pujian kepadanya, sama-sama bernadakan ekstrim. Yang satu menjatuhkannya seakan Syaikh Al Albani adalah bodoh dalam hadits sampai-sampai diberitakan tidak hapal satu pun hadits dengan sanad-sanadnya yang bersambung sampai Rasulullah ﷺ. Sementara itu, pemujanya pun menyanjungnya sedemikian rupa seolah Beliau seorang tabi’in besar yang Allah Ta’ala hidupkan kembali di masa modern. Bisa jadi ada orang yang memaklumi bahwa begitulah jika manusia sudah tenggelam pada lautan kekaguman apalagi antara murid kepada gurunya, sehingga itu hal yang dianggap wajar.

Sikap Pertengahan

Inilah sikap terbaik, baik cinta dan benci, tidak boleh diluapkan secara zalim. Kita bisa mengambil manfaat dari yang kita benci, sebagaimana kita bisa membuang dari yang kita cintai. Sebab kita adalah tawanan Allah dan Rasul-Nya, bukan tawanan manusia. Jika ada yang baik dan benar dari mereka maka ambil-lah dan jangan ragu mengamalkannya, jika ada yang buruk dan salah, maka tolaklah dan koreksi, termasuk yang datangnya dari Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah. Jangan sampai kebencian kita membuat kita buta kepada kebaikannya, dan jangan pula karena kecintaan kita membuat kita buta terhadap kekeliruannya.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Kami jadikan kalian sebagai umatan wasathan/pertengahan.” (QS. Al Baqarah: 143)

Diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Sebaik-baiknya perbuatan (‘amal) adalah yang pertengahan.”

(HR. Al Baihaqi,Syu’abul Iman, 8/411/3730. As Sam’ani meriwayatkan dalam Dzail Tarikh Baghdad secara marfu’ dari Ali, tetapi dalam sanadnya terdapat periwayat yang majhul. Ad Dailami juga meriwayatkan tanpa sanad dari Ibnu Abbas secara marfu’. Lihat Imam ‘Ajluni, Kasyful Khafa’, 1/391 dan Imam As Sakhawi, Al Maqashid Al Hasanah, Hal. 112. Imam As Suyuthi menyandarkan ucapan ini adalah ucapan Mutharrif bin Abdillah dan Abu Qilabah, yakni “sebaik-baiknya urusan (Al Umur) adalah yang pertengahan.” Lihat Ad Durul Mantsur, 6/333.)

Sekian. Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍ Farid Nu’man Hasan

Pribadi Pribadi Yang Dirindukan Surga

1️⃣ Konsisten Dengan Kewajiban

عَنْ طلحة بن عُبَيْدِ اللَّهِ
أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي مَافَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصِّيَامِ فَقَالَ شَهْرَ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الزَّكَاةِ فَقَالَ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَالَ وَالَّذِي أَكْرَمَكَ لَا أَتَطَوَّعُ شَيْئًا وَلَا أَنْقُصُ مِمَّا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ صَدَق

Dari Thalhah bin ‘Ubaidullah; Ada seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan kepalanya penuh debu lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan buatku tentang shalat?”. Maka beliau ﷺ menjawab, “Shalat lima kali kecuali bila kamu mau menambah dengan yang tathowwu’ (sunnah) “.

Orang itu bertanya lagi, “Lalu kabarkan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan buatku tentang puasa?”. Maka beliau ﷺ menjawab, “Puasa di bulan Ramadan kecuali bila kamu mau menambah dengan yang tathowwu’ (sunnah)”.

Orang itu bertanya lagi, __”Lalu kabarkan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan buatku tentang zakat?”.’_ Berkata, Thalhah bin ‘Ubaidullah radhiallahu’anhu: Maka Rasulullah ﷺ menjelaskan keorang itu tentang syari-at-syari’at Islam.

Kemudian orang itu berkata, “Demi Dzat yang telah memuliakan Anda, Aku tidak akan mengerjakan yang sunnah sekalipun, namun aku pun tidak akan mengurangi satupun dari apa yang telah Allah wajibkan buatku”. Maka Rasulullah ﷺ berkata, “Dia akan beruntung jika jujur menepatinya atau dia akan masuk surga jika jujur menepatinya ” (HR. Bukhari no. 1891)

Hadits ini menunjukkan jika seseorang konsisten dengan semua kewajiban, dan bagus dalam pelaksanaannya, maka dia mendapatkan surga. Sebab, apa yang dilakukannya sudah yang terbaik.

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah berkata:

إن أفضل العبادة أداء الفرائض و اجتناب المحارم

Sesungguhnya ibadah yang paling utama adalah menunaikan kewajiban dan menjauhi larangan. (Jawaahir min Aqwaal As Salaf No. 65)

2. Orang yang tegar dan sabar dikala mendapatkan ujian

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al Baqarah: 214)

Ada beberapa versi ttg latar belakang turunnya ayat ini:

– Menggambarkan situasi genting pengepungan perang Khandaq (Ahzab), seperti penjelasan Qatadah dan As Suddi. Inilah yg paling masyhur.

– Ada yg menyebut tentang kekalahan Uhud

– Ada yg menyebut awal da’wah di Madinah, penuh tekanan ekonomi dari Quraisy dan Yahudi Madinah seperti penjelasan Ibnu Abbas.

– Beberapa mufasir menyebut bahwa tidak harus satu peristiwa tunggal. Ayat ini bisa saja diwahyukan dalam konteks berkali-kali menghadapi tekanan, baik di perang Khandaq, Uhud, maupun dalam kondisi sosial-ekonomi umat saat itu. Dengan demikian, ayat ini bersifat umum dalam menangani berbagai bentuk ujian dan cobaan umat Islam

Pelajaran ayat ini, jalan menuju surga harus ditempuh dengan kesabaran atas ujian. Pertolongan Allah Ta’ala kadang datang setelah seorang hamba benar-benar diuji.

3. Orang yang bersabar dalam jihad

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata orang-orang yang sabar. (QS. Ali Imran: 142)

Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam Tafsirnya:

أي : لا يحصل لكم دخول الجنة حتى تبتلوا ويرى الله منكم المجاهدين في سبيله والصابرين على مقارنة الأعداء

“Yaitu kalian tidak akan memperoleh (kemudahan) masuk surga sebelum kalian diuji, sampai Allah melihat di antara kalian orang-orang yang berjihad di jalan-Nya dan orang-orang yang sabar dalam menghadapi musuh.”

Bahkan buat para mujahidin Allah Ta’ala sediakan surga Firdaus:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ

“Sesungguhnya di surga itu ada seratus derajat (kedudukan) yang Allah menyediakannya buat para mujahid di jalan Allah dimana jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi. Untuk itu bila kalian minta kepada Allah maka mintalah surga firdaus karena dia adalah tengahnya surga dan yang paling tinggi. (HR. Bukhari no. 2790)

4. Orang yang beriman, shalat yang khusyu’, menjauh dari perkara yang melalaikan, menunaikan zakat, serta menjaga kemaluan kecuali kepada istrinya, menjaga amanah dan janji, dan memelihara shalatnya.

Allah Ta’ala berfirman tentang mereka:

أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al Mu’minun: 1-11)

5. Orang yang menyebarkan salam, memberikan makanan, bersilaturahim, dan shalat malam ketika orang-orang tidur.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

“Wahai Rasulullah, beritahukan aku tentang urusan yang jika aku mengambilnya maka aku akan masuk surga.” Beliau menjawab:

افش السلام وأطعم الطعام وصل الأرحام وقم بالليل والناس نيام وادخل الجنة بسلام

“Sebarkan salam, berikanlah makanan, sambunglah silaturahim, bangunlah di malam hari untuk shalat ketika manusia tertidur, dan masuklah kau ke dalam surga dengan damai.” (HR. Al Hakim, Al Mustadrak, No. 7174, 7278. Ishaq dalam Musnadnya No. 133, Ahmad dalam Musnadnya No. 7932, sanadnya shahih)

6. Membaca Ayat Kursi setiap selesai shalat wajib

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلَّا أَنْ يَمُوتَ

Siapa yang membaca ayat Kursi setelah shalat wajib, maka tidak ada yang mencegah dirinya untuk masuk ke surga.

(HR. An Nasa’i, Sunan Al Kubra no. 9848, sanadnya jayyid)

Ayat Kursi, termasuk ayat yang dihapal secara umum oleh umat Islam. Para Fuqaha mengatakan sunah membacanya setiap selesai shalat wajib.

Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍ Farid Nu’man Hasan

Pendapat Ulama Tentang al Halaj

▫▪▫▪▫▪

 PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum… Ust.
Bs dibahas ttg al Hallaj trkait wihdatul wujud. Apakah benar beliau itu dihukum telah tersesat terkait hal diatas. Amntara belakangan ini muncul anggapan bhw al Hallaj lah yg benar pemahaman Tauhid nya.

Syukran ust


 JAWABAN

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Al Hallaj rata-rata imam besar besar menyatakan kesesatan dan kekafirannya, sebagian imam ada pula yang membelanya.

Ibnu Khalikan mengatakan:

أفتى أكثر علماء عصره بإباحة دمه

Mayoritas ulama di masanya memfatwakan bolehnya menumpahkan darah Al Halaj. (Tarikh Islam, 23/176)

Imam Ibnu Katsir menceritakan bahwa para ulama sepakat atas kekafiran dan kezindikan Al Halaj (Al Bidayah wan Nihayah, 11/174)

Al Qadhi ‘Iyadh berkata:

وأجمع فقهاء بغداد أيامَ المقتدر من المالكية على قتل الحلاج وصلبه؛ لدعواه الألوهية، والقول بالحلول، وقوله: أنا الحقّ، مع تمسُّكه في الظاهر بالشريعة، ولم يقبلوا توبته

Para fuqaha Baghdad pada masa al-Muqtadir dari kalangan Malikiyah telah sepakat untuk menghukum mati al-Hallaj dan menyalibnya, karena ia mengaku sebagai Tuhan, berkeyakinan hulul (Allah menyatu dengan manusia), serta ucapannya ‘Ana al-Ḥaqq (Akulah Allah yang Maha Benar)’, meskipun secara lahiriah ia masih berpegang pada syariat. Mereka tidak menerima tobatnya.” (Asy Syifa, 1/140)

Ada pun yang membelanya di antaranya Imam As Suyuthi yang menganggap para pengkritik Al Halaj salah paham terhadap pernyataan-pernyataan sufistiknya Al Halaj.

Wallahu A’lam

☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Hukum Pamer Kesenangan di Grup WA

 PERTANYAAN:

Assalammu’alaikum ustadz, Afwan jiddan ganggu…

Ust, apa fiqih nya bila ada anggota group wa memposting foto-foto sedang jalan2 dan foto2 liburannya di group wa yg padahal dia tahu di group wa itu ada anggota group yg sedang susah ekonomi, sedang di uji ekonomi dan anaknya sedang sakit di rawat sehingga tidak bisa jalan2 ??

Jadi mempertontonkan kesenangan nya di saat saudara2 sedang susah.

Gimana menurut ust fiqih Islam nya ??

Mohon pencerahannya ust

Jazakallah


 JAWABAN

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Jika dia tahu ada orang yang sedang sudah di grup tersebut, tapi dia sengaja melakukannya maka dia bukan hanya tidak peka tapi juga tidak punya perasaan. Memarkan kekayaan dan senang-senang di hadapan orang yang sedang susah. Seharusnya yang dia lakukan adalah membantu yang susah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ما آمن بي من بات شبعان وجاره جائع إلى جنبه وهو يعلم به

“Tidaklah beriman kepadaku, orang yang tidur malam hari dalam keadaan kekenyangan namun tetangga di sampingnya kelaparan padahal dia tahu hal itu.” (HR. Al Bazar, shahih)

Tapi jika sama sekali tidak tahu jika ada orang yang kesusahan, maka apa yang dilakukannya tetap sebuah hal yang tidak baik karena kesannya pamer dan berpeluang memunculkan kedengkian.

Wallahu A’lam

✍️Farid Numan Hasan

scroll to top