Momen-Momen Utama Untuk Berdoa Di Waktu Shalat

Pada prinsipnya shalat sendiri adalah kumpulan dzikir dan doa, karena arti shalat secara bahasa adalah doa. Namun ada momen-momen khusus dianjurkan berdoa di luar doa dan dzikir yang biasa dibaca saat shalat.

Momen-momen tsb adalah:

1 Saat sujud

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Posisi paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah kalian berdoa.” (HR. Muslim no. 482)

Tidak ada ketentuan khusus mesti di sujud terakhir, sebagaimana kebiasaan sebagian manusia. Bebas saja di sujud yang mana pun, semua termasuk keumuman hadits ini.

2 Sebelum salam setelah usai membaca shalawat di tasyahud akhir

Dalam sebuah hadits yang cukup panjang, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa jika telah selesai membaca shalawat di duduk tasyahud akhir hendaknya:

ثُمَّ يَتَخَيَّرُ مِنَ الدُّعَاءِ أعْجَبَهُ إلَيْهِ، فَيَدْعُو.

Lalu dia pilih doa dengan doa apa pun yang disukainya, maka berdoalah (HR. Bukhari no. 835)

Doa yang bagaimana? Sebagian ulama mengatakan doa yang berasal dari sunnah adalah lebih utama tapi boleh saja selain itu, kecuali menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad yg kewajibkan doa dari sunnah.

Syaikh Abul Hasan al Mubarkafuri menyebutkan bahwa Imam Malik dan Imam asy Syafi’i mengatakan:

يجوز أن يدعوا بكل شيء من أمور الدين والدنيا مما يشبه كلام الناس ما لم يكن إثماً، ولا يبطل صلاته بشيء من ذلك

Bolehnya berdoa dengan doa apa pun baik urusan agama dan dunia yang perkataannya menyerupai perkataan manusia, selama tidak mengandung dosa. Hal itu sama sekali tidak membatalkan shalatnya.

Beliau juga menyebut bahwa Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad menyatakan tidak boleh berdoa kecuali dengan doa yang ma’tsur, atau yang berasal dari Al Quran, atau semisal itu.

Lalu Syaikh Abul Hasan al Mubarkafuri mengomentari:

قلت: لا دليل على هذا التقييد لا من كتاب الله، ولا من سنة رسوله، ولا من قول صحابي فلا يلتفت إليه

Aku berkata: “Tidak ada dalilnya pengkhususan doa tersebut (hanya doa ma’tsur), baik dalil dari Al Quran, As Sunnah, dan perkataan para sahabat nabi, maka jangan hiraukan hal tersebut.” (Mir’ah Al Mafatih, 3/312)

3 Berdoa setelah membaca Al Fatihah

Tidak ada dalil khusus tentang hal ini, baik Al Quran dan As Sunnah. Namun kebiasaan orang-orang shalih dahulu mereka melakukannya. Imam Al Hathab Rahimahullah mengatakan:

قال في الطراز: ويدعو بعد الفراغ من الفاتحة إن أحب قبل السورة، وقد دعا الصالحون

Dalam Ath Thiraz: “Hendaknya berdoa setelah usai baca Al Fatihah jika dia suka sebelum membaca surat, doa itu dilakukan orang-orang shalih.” (Al Mawahib al Jalil, 1/544)

Syaikh Abdullah Al Faqih berkata:

فما أقدمت عليه من الدعاء والذكر بعد الفاتحة لا يبطل الصلاة , بل إن بعض أهل العلم قالوا بمشروعية الدعاء بعد الفاتحة

Doa dan dzikir yang dilakukan setelah Al-Fatihah tidaklah membatalkan shalat, bahkan sebagian ulama mengatakan disyariatkannya berdoa setelah membaca Al-Fatihah. (Al Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 252826)

4 Berdoa setelah shalat

Hal ini berdasarkan hadits, dari Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu, beliau berkata:

أيُّ الدُّعاء أسمعُ؟ قال صلّى الله عليه وسلّم: «جوف الليل، وأدبار الصلوات المكتوبة»

“Doa manakah yang paling didengar? Rasulullah ﷺ menjawab: “Doa pada sepertiga malam terakhir, dan setelah shalat wajib.” (HR. At Tirmidzi, No. 3499. Hadits ini hasan, lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi, No. 3499)

Berdoa setelah shalat wajib adalah sunnah menurut mayoritas ulama, dan itu lebih baik dibanding berdoa setelah shalat sunnah.

Dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah disebutkan:

ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ مَا بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَفْرُوضَةِ مَوْطِنٌ مِنْ مَوَاطِنِ إِجَابَةِ الدُّعَاءِ

“Pendapat MAYORITAS fuqaha adalah bahwa waktu setelah shalat fardhu merupakan waktu di antara waktu-waktu dikabulkannya doa.” (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 39/227).

Imam Ja’far Ash Shadiq Radhiallahu ‘Anhu -salah satu guru Imam Abu Hanifah- berkata:

الدعاء بعد المكتوبة أفضل من الدعاء بعد النافلة كفضل المكتوبة على النافلة

“Berdoa setelah shalat wajib lebih utama dibanding berdoa setelah shalat nafilah, sebagaimana kelebihan shalat wajib atas shalat nafilah.” (Fathul Bari, 11/134. Lihat juga Imam Ibnu Baththal, Syarh Shahih Bukhari, 10/94)

Sebagian ulama seperti Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, juga ulama abad 20 Syaikh ‘Utsaimin, mengatakan tidak ada doa setelah shalat wajib, yang ada hanya dzikir.

Pendapat ini telah koreksi para ulama seperti Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, Imam Al Qasthalani dalam Mawahib Al Laduniyah, Syaikh Abdurrahman Al Mubarakfuri dalam Tuhfah Al Ahwadzi. Imam Al Kasymiri dalam Faidhul Bari.

Demikian. Wallahu A’lam

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

✍ Farid Nu’man Hasan

Kura-Kura, Penyu, Bulus Apakah Halal Dimakan?

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum wr wb. Izin bertanya ustadz, Hewan Kura-kura, Penyu, Bulus apakah halal untuk dimakan? (Muhammad Anshori-Tuban)

✒️❕JAWABAN

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bismillahirrahmanirrahim..

Dalam hal ini ada dua macam:

1. Kura-kura laut atau air, misalnya penyu

Mayoritas ulama mengatakan halalnya penyu (kura-kura laut/air), kecuali mazhab Hanafi yg mengatakan haram.

Sesuai firman Allah Ta’ala:

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ

Dihalalkan bagi kalian hasil buruan laut. (QS. Al Maidah: 96)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وقد استدل الجمهور على حل ميتة بهذه الآية الكريمة

Mayoritas ulama berdalil dengan ayat yang mulia ini tentang halalnya bangkai (hewan laut). (Tafsir Ibnu Katsir, 1/198)

Diperkuat lagi oleh hadits berikut, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ مِنْ مَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ :

Wahai Rasulullah, kami sedang berlayar di lautan, kami membawa sedikit air. Jika kami pakai air itu buat wudhu, maka kami akan kehausan, apakah boleh kami wudhu pakai air laut?

lalu Beliau bersabda: “Laut itu suci airnya, halal bangkainya.” (HR. At Tirmidzi no. 69, Abu Daud no. 83, Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Ibnul Mulaqin, dll)

Imam al Bukhari Rahimahullah mengatakan:

ولم ير الحسن بالسلحفاة بأساً

Al Hasan memandang tidak masalah dengan (makan) penyu. (Shahih Bukhari, Kitab adz Dzabaih wal shaid)

Sebagai jalan hati-hati sebaiknya disembelih dulu:

والأحوط أن تذبح خروجا من الخلاف

Lebih hati-hati adalah menyembelihnya dalam rangka keluar dari perselisihan pendapat. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 8959)

Hanya Hanafiyah yang mengatakan hewan laut itu bangkai ikan saja yang halal. Semua hewan laut selain ikan adalah haram. (Imam Al Kasani, Bada’i Shana’i, 5/35-36)

2. Kura-kura darat

Dibolehkan dengan syarat disembelih dulu sebagaimana hewan darat lainnya. Jika tidak disembelih maka haram.

Syaikh Abdullah al Faqih mengatakan:

وأما السلحفاة البرية، فلا يجوز أكلها، إلا بعد ذبحها.
قال ابن قدامة: كل ما يعيش في البر من دواب لا يحل بغير ذكاة، كطير الماء، والسلحفاة… وقال أحمد: كلب الماء يذبحه، ولا أرى بأسا بالسلحفاة إذا ذبح والرق يذبحه.

Ada pun kura-kura darat maka tidak boleh memakannya kecuali setelah disembelih terlebih dahulu. Imam Ibnu Qudamah mengatakan: “Semua hewan yang hidup di darat tidaklah halal memakannya tanpa disembelih seperti burung air (penguin), kura-kura .. Imam Ahmad berkata: “Anjing laut hendaknya disembelih. Bagiku tidak ada masalah dengan kura-kura jika disembelih.” (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 8959)

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Menghadiri undangan, acara belum selesai hingga masuk waktu shalat. Mana yang harus ditinggalkan?

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN:

Assalamualaikum ustadz. Izin bertanya, jika mengadiri undangan, dan acara belum selesai hingga masuk waktu shalat. Mana yang harus ditinggalkan/ditunda? (Anita-Palembang)

✒️❕JAWABAN

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bismillahirrahmanirrahim..

Tidak ragu lagi shalat di awal waktu adalah yang terbaik. Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, Beliau berkata:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ

Aku bertanya kepada Nabi ﷺ : “Amal apakah yang paling Allah cintai?” Beliau bersabda: “Shalat pada waktunya.” Ibnu Mas’ud berkata: “Lalu apa lagi?” Beliau bersabda: “Berbakti kepada kedua orang tua.” Ibnu Mas’ud berkata: “Lalu apa lagi?” Beliau bersabda: “Jihad fisabilillah.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Para ulama berbeda pendapat tentang makna “Shalat Pada Waktunya”. Ada yang mengartikan shalat di waktu masih berlaku (baik awal, tengah, dan akhir), bukan setelah waktunya berakhir. Ada pula yang mengartikan shalat di awal waktu. Ini yang lebih tepat, berdasarkan hadits lainnya.

عَنْ أُمِّ فَرْوَةَ، قَالَتْ: سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «الصَّلَاةُ فِي أَوَّلِ وَقْتِهَا»

Dari Ummu Farwah, dia berkata: Rasulullah ﷺ ditanya amal apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “Shalat di awal waktunya.” (HR. Abu Daud, Ahmad)

Imam Ibnu Rajab menjelaskan:

واستدل بذلك على أن الصلاة في أول الوقت أفضل، كما استدل لحديث ام فروة، عن النبي – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، أنه سئل: أي العمل أفضل؟ قال: ((الصلاة لأول وقتها)) . اخرجه الإمام أحمد وأبو داود والترمذي. وفي إسناده اضطراب -: قاله الترمذي والعقيلي

Berdalilkan hadits tersebut menunjukkan shalat di awal waktu lebih utama, berdasarkan hadits Ummu Farwah bahwa Rasulullah ﷺ ditanya amal apa yang paling utama? Beliau bersabda: “Shalat di awal waktunya” (HR. Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi). Namun sanadnya idhtirab (goncang), sebagaimana dikatakan At Tirmidzi dan Al ‘Uqaili. (Fathul Bari, 4/209)

Lalu bagaimana jika menundanya sehingga shalat tidak diawal waktu? Hal itu dibolehkan dengan syarat waktu shalat masih tersedia, hanya saja pelakunya kehilangan keutamaan shalat di awal waktu.

Dalil bolehnya shalat tidak di awal waktu adalah hadits sbb:

إن للصلاة أولا وآخرا، وإن أول وقت الظهر حين تزول الشمس، وإن آخر وقتها حين يدخل وقت العصر..

Shalat itu ada awal waktunya dan akhirnya, awal waktu zhuhur adalah saat tergelincir matahari, waktu akhirnya adalah saat masuk waktu ashar .. Dst (HR. Ahmad no. 7172, dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Ta’liq Musnad Ahmad, no. 7172)

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

يجوز تأخير الصلاة إلى آخر وقتها بلا خلاف، فقد دل الكتاب، والسنة، وأقوال أهل العلم على جواز تأخير الصلاة إلى آخر وقتها، ولا أعلم أحداً قال بتحريم ذلك

Dibolehkan menunda shalat sampai akhir waktunya tanpa adanya perselisihan pendapat, hal itu berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Perkataan para ulama juga membolehkan menunda sampai akhir waktunya, tidak ada seorang ulama yang mengatakan haram hal itu. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/58)

Penundaan ini bukanlah saahuun (melalaikan shalat), sebab makna saahuun adalah menunda shalat sampai habis waktunya. Sebagaimana penjelasan Sa’ad bin Abi Waqash, Ibnu Abbas, Masruq, Ibnu Abza, Abu Adh Dhuha, Muslim bin Shabih. (Tafsir Ath Thabari, 24/630)

Seorang ulama mazhab Hambali abad ini mengatakan:

وقد بين النبي صلى الله عليه وسلم مواقيتها من كذا إلى كذا فمن أداها فيما بين أول الوقت وآخره فقد صلاها في الزمن الموقوت لها

Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam telah menjelaskan bahwa waktu shalat itu sejak waktu ini ke ini, maka barang siapa yang menjalankan di antara awal waktu dan akhirnya, maka dia telah menunaikan shalat di waktu yang telah ditentukan.

(Syaikh Utsaimin, Majmu’ Al Fatawa wa Rasail, Jilid. 12, Bab Shalat)

Maka, jika Sdr penanya meninggalkan resepsi lalu shalat di awal waktu maka itu lebih utama, apalagi jika sudah mengucapkan selamat kpd penganten dan keluarganya, dan makan. Apabila meneruskan di resepsi, lalu shalat setelah itu dan waktu shalat masih lapang hal itu dibolehkan.

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Niat Puasa; Apakah Tiap Malam Ataukah Cukup Sekali di Awal Malam?

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum ustadz. Izin tanya, kalau niat puasa diawal langsung niat sebulan biar ga lupa, apa itu boleh?(+62 857-9597-xxxx)

✒️❕JAWABAN

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

Wa’alaikumussalam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Bismillahirrahmanirrahim..

Para ulama berbeda pendapat tentang hal itu.

Pertama. Mayoritas mengatakan niat harus tiap malam, selambat-lambatnya sebelum subuh.

Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut:

Dari Hafshah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من لم يبيت الصيام من الليل فلا صيام له

Barang siapa yang malam hari belum berniat puasa, maka tidak ada puasa baginya. (HR. An Nasa’i No. 2334)

Al Hafizh Ibnu hajar berkata: “Hadits ini dishahihkan para imam, seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al Hakim, dan Ibnu Hazm.” (Fathul Bari, jilid. 4, hal. 142)

Juga Dari Hafshah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ

Barang siapa yang belum berniat puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya. (HR. At Tirmidzi No. 730)

Hadits shahih, seperti yang dikatakan oleh Syaikh Al Albani, Syaikh Al A’zhami, dan Syaikh Husein Salim Asad.

Imam Ibnu Khuzaimah berkata:

أراد بقوله : لا صيام لمن لم يجمع الصيام من الليل الواجب من الصيام دون التطوع منه

Maksud dari sabdanya: “Tidak ada puasa bagi yang belum berniat puasa pada malam hari” adalah puasa wajib, bukan puasa sunnah. (Shahih Ibni Khuzaimah, 3/213)

Hadits ini menunjukkan niat puasa mesti ada tiap malam, maksimal sebelum subuh.

Dalam Al Mausu’ah:

ذَهَبَ الْجُمْهُورُ إِلَى تَجْدِيدِ النِّيَّةِ فِي كُل يَوْمٍ مِنْ رَمَضَانَ …

Mayoritas ulama berpendapat bahwa niat itu harus diperbarui setiap hari puasa di Ramadhan ..

وَلأِنَّ كُل يَوْمٍ عِبَادَةٌ مُسْتَقِلَّةٌ ، لاَ يَرْتَبِطُ بَعْضُهُ بِبَعْضٍ ، وَلاَ يَفْسُدُ بِفَسَادِ بَعْضٍ ……

Karena masing-masing hari adalah ibadah yang tersendiri, satu sama lain tidak saling terkait, dan tidaklah gara-gara batal satu hari membuat batal yg lain

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 28/26)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ولابد أن تكون قبل الفجر، من كل ليلة من ليالي شهر رمضا

“Harus berniat sebelum subuh setiap malamnya di antara malam-malam bulan Ramadhan.” (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/437)

Kedua. Boleh sekali niat untuk satu bulan, sebagaimana pendapat Imam Malik, Zufar, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal.

Dalam Al Mausu’ah:

… وَذَهَبَ زُفَرُ وَمَالِكٌ – وَهُوَ رِوَايَةٌ عَنْ أَحْمَدَ – أَنَّهُ تَكْفِي نِيَّةٌ وَاحِدَةٌ عَنِ الشَّهْرِ كُلِّهِ فِي أَوَّلِهِ ، كَالصَّلاَةِ . وَكَذَلِكَ فِي كُل صَوْمٍ مُتَتَابِعٍ ، كَكَفَّارَةِ الصَّوْمِ وَالظِّهَارِ …..

Ada pun Zufar, Malik, dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, bahwa niat cukup sekali utk satu bulan yaitu di awal malam Ramadhan, sebagaimana shalat. Demikian pula puasa dua bulan berturut-turut baik karena kafarat atau zhihar .. (Ibid)

Maka, dalam rangka kehati-hatian lebih baik tetap niat setiap malam atau menjelang subuh, di masing-masing hari Ramadhan. Bisa juga diniatkan saat makan sahur, walau biasanya makan sahur sudah dianggap indikasi seseorang sudah berniat puasa, tapi bagus jika dia tegaskan lagi niat tersebut. Di hati sudah cukup dan sah. Ada pun niat yang dilafazkan, maka itu diperselisihkan ulama; sunnah menurut mayoritas ulama, sdgkan Malikiyah mengatakan makruh, dan ada sebagian menyebut bid’ah.

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top