Mengulang Membaca Satu Surat Yang Sama Untuk Dua Rakaat

💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum ustadz.. Mau tanya.. Mna yg lebih afdhal shalat dhuha yg 4 rakaat d kerjakan 2 2 atau skaligus 4 stad?
Bolehkah dalam satu shalat membaca surat yg sama, antara rakaat pertama dan kedua? (08217413xxxc)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

2-2 dgn masing-masing sekali salam, lebih utama. Karena shalat itu pada dasarnya adalah matsna matsna – dua-dua.

Ada pun mengulang surat yang sama utk dua rakaat, boleh ..

Seorang laki-laki dari Juhainah berkata:

سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَقْرَأُ فِي الصُّبْحِ ( إِذَا زُلْزِلَتْ الْأَرْضُ ) فِي الرَّكْعَتَيْنِ كِلْتَيْهِمَا ، فَلَا أَدْرِي أَنَسِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْ قَرَأَ ذَلِكَ عَمْدًا

Dia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat subuh membaca IDZA ZULZILATIL ARDHU di dua rakaat masing-masing. Aku tidak tahu, apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam lupa atau sengaja sepeti itu.

(HR. Abu Daud no. 816, Hasan)

Imam Ibnul ‘Arabiy Rahimahullah berkata:

فَكَانَ هَذَا دَلِيلًا عَلَى أَنَّهُ يَجُوزُ تَكْرَارُ سُورَةٍ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ

Ini menjadi dalil bolehnya mengulang satu surat di tiap rakaat. (Ahkamul Qur’an, 4/468)

Dan kebolehan ini merupakan pendapat mayoritas. Tertulis dalam Al Mausu’ah :

ذَهَبَ الْجُمْهُورُ مِنْ الْحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ إلَى أَنَّهُ : لَا بَأْسَ لِلْمُصَلِّي أَنْ يُكَرِّرَ السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ الَّتِي قَرَأَهَا فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى

Mayoritas ulama dari kalangan Hanafiyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, Bahwasanya tidak apa-apa bagi orang yang shalat mengulang membaca surat Al Qur’an yang sama seperti pada rakaat pertama.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 25/290)

Demikian. Wallahu a’lam

🌴🍄🌷🌱🌾🌸🍃🌵🌹

✍ Farid Nu’man Hasan

Membaca Surat Kurang dari Tiga Ayat Ketika Shalat, Bolehkah?

💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum

Ustadz, bolehkah membaca surat pendek kurang dari 3 ayat pada baca sholat ?

Syukron
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Yang wajib adalah membaca Al Fatihah, sebagaimana pendapat jumhur, seperti Malikiyah, Syafi’iyyah, dan Hambaliyah.

Berbeda dengan Imam Abu Hanifah, Al Auza’i, Ats Tsauri, yang mengatakan membaca Al Fatihah tidak wajib, dan menurut mereka shalat tetap sah tanpa membaca Al Fatihah.

Sedangkan membaca surat setelah membaca Al Fatihah, adalah Sunnah, tanpanya shalat tetap sah.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

وهذا مجمع عليه في الصبح والجمعة والأولييْن من كل الصلوات ، وهو سنة عند جميع العلماء ، وحكى القاضي عياض رحمه الله تعالى عن بعض أصحاب مالك وجوب السورة ، وهو شاذ مردود

Hal ini (kesunahan membaca surat) adalah Ijma’, baik pada shalat subuh, shalat Jum’at, atau pada saat rakaat disemua shalat. Itu sudah menurut semua ulama. Al Qadhi ‘Iyadh menceritakan adanya yang mewajibkan dari kalangan pengikut Imam Malik. Tapi, itu pendapat aneh dan tertolak.

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 5/104)

Oleh karena itu, membaca satu ayat saja, atau kurang dari tiga ayat dari surat yang dibaca, adalah tidak masalah.

Dalam Syarh Al Muntaha, dijelaskan:

قال القاضي [أبو يعلى] وغيره : وتجزئ آية إلا أن أحمد استحب كونها طويلة , كآية الدين والكرسي

Berkata Al Qadhi Abu Ya’la dan lainnya: sudah cukup satu ayat, hanya saja Imam Ahmad menyukai satu ayat itu yang panjang seperti ayat tentang hutang dan ayat kursi.

(Syarh Al Muntaha, 1/191)

Ada pun satu ayat yang tidak membawa pada makna sempurna, sebaiknya jangan.

Seperti sekedar membaca tsumma nazhar (kemudian dia melihat), seperti yang ada dalam surat Al Muddatstsir, atau mudhaamataan (kedua surga yang tampak hijau warnanya), dalam surat Ar Rahman.

Imam Al Bahutiy berkata:

والظاهر أنه لا تجزئ آية لا تستقل بمعنى أو حكم نحو ( ثم نظر ) و ( مدهامتان)

Yang benar adalah tidak cukup membaca satu ayat yang tidak memiliki makna tersendiri atau hukum, seperti “tsumma nazhar” dan “mudhaammataan”.
(Kasysyaaf Al Qinaa’, 1/342)

Demikian. Wallahu a’lam

🌴🍄🌷🌱🌸🍃🌵🌾🌹

✍ Farid Nu’man Hasan

Membaca Al Qur’an Tidak dari Awal Surat, Apakah Mesti Baca Bismillah?

💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Muhammad Syaugi:
Ustadz, kalau kita shalat baca surat pendek mulai dari tengah tengah apakah tetap harus membaca bismillah?

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillah wal Hamdulillah ..

Dia bebas memilih, baca silahkan, tidak baca tidak apa-apa.

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

فإذا بدأ القارئ القراءة من منتصف السورة فهو مخير بين الإتيان بالبسملة وعدمه، كما نص على ذلك علماء القراءة

Jika seseorang membaca Al Qur’an dari tengah surat, maka dia bisa memilih antara membaca basmalah atau tidak. Sebagaimana hal itu dikatakan oleh para ulama qira’ah.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 4446)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz juga mengatakan boleh saja menyebut nama Allah saat membaca Al Qur’an dari tengah surat.

Beliau berkata:

أما إذا كانت البداءة أثناء السورة فإنه يبدأ بالتعوذ يقول : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم يكفي، وإن سمى فلا بأس لكن يكفي التعوذ؛ لقول الله جل وعلا فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Ada pun jika memulai bacaan dari tengah surat, maka bacalah ta’awudz: a’udzu billahi minasysyaithaanir rajiim, itu cukup. Jika dia mau membaca Bismillah tidak apa-apa, tapi ta’awudz sudah cukup. Berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Jika kalian hendak membaca Al Qur’an maka berlindunglah kepada Allah dari gangguan syetan yang terkutuk.”

(Lihat http://www.binbaz.org.sa/noor/2362)

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🌴🌱🌸🍃🌵🍄🌾

✍ Farid Nu’man Hasan

Menyimpan Emas Untuk Menabung

💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum,
Ustadz, sebenarnya bagaimana hukum investasi Emas, dimana yang melakukan hal itu
berharap agar dapat margin besar dikemudian hari? (08128879xxcc)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh …

Tidak ada larangan investasi emas di rumah, dikumpulkan, lalu dijual lagi saat harga tinggi.
Itu merupakan salah satu metode menabung. Selama dia tidak lupa mengeluarkan zakatnya saat sudah mencapai nishab dan cukup satu haul.

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya banyak dari orang-orang alim dan rahib-rahib mereka benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil, dan (mereka) menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih. (Qs. At-Taubah: 34)

Ayat ini bukan melarang dan mengancam menyimpan emas dan perak tapi mengancam bagi mereka yang menyimpan emas dan perak tapi tidak menzakatkannya.

Maksud dari “tidak menginfakkannya di jalan Allah” adalah zakat, sebagaimana keterangan Imam Ibnu Jarir Rahimahullah:

قالوا: وعنى بقوله: {ولا ينفقونها في سبيل الله} [التوبة: ٣٤] ولا يؤدون زكاتها

Para ulama mengatakan; makna firmanNya: mereka tidak menginfakkannya di jalan Allah, yaitu Mereka tidak menunaikan zakatnya. ( Tafsir Ath Thabari, 11/424)

Kemudian …

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri menyimpan emas batangan (at tibr) lalu Beliau sedekahkan.

Dari ‘Uqbah bin Al Harits Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَصْرَ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ سَرِيعًا دَخَلَ عَلَى بَعْضِ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ وَرَأَى مَا فِي وُجُوهِ الْقَوْمِ مِنْ تَعَجُّبِهِمْ لِسُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ تِبْرًا عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يُمْسِيَ أَوْ يَبِيتَ عِنْدَنَا فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ

“Aku shalat ashar bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika Beliau salam, beliau berdiri cepat-cepat lalu masuk menuju sebagian istrinya, kemudian Beliau keluar dan memandang kepada wajah kaum yang nampak terheran-heran lantaran ketergesa-gesaannya. Beliau bersabda: “Aku teringat saat shalat dengan sebatang emas yang kami miliki, saya tidak suka mengerjakannya sore atau kemalaman, maka saya perintahkan agar emas itu dibagi-bagi.” (HR. Bukhari No. 1221)

Lalu, jika dia mau menjualnya lagi saat harga naik .. tidak masalah. Seseorang berhak memperlakukan barang miliknya sesuka hatinya, mau dia jual, simpan, atau sedekahkan.

Al ‘Allamah As Sayyid Abdurrahman bin Umar Rahimahullah berkata:

إذ للمالك أن يتصرف في ملكه بما شاء

Seorang pemilik harta bebas memperlakukan harta miliknya sesuai kehendaknya. ( Bughiyatul Mustarsyidin, Hal. 291)

Demikian. Wallahu a’lam

🌴🌷🌱🌸🍃🌾🍄🌵

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top