Tertidur Yang Bagaimana Yang Membatalkan Wudhu?

💦💥💦💥💦💥

📨 PERTANYAAN:

0⃣1⃣
Assalamualaikum uztadz,,?
Posisi tidur seperti apkh yg membatalkn wudhu,?jika bersandar atau Dduk ap itu termasuk sdh batal wudhuny,?
jazkllh khoir😊

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah …, Bismillah wal Hamdulillah ..

Jika tidurnya masih dalam posisi duduk, keadaan setengah sadar, masih terkantuk-kantuk saja, kepala manggut-manggut karena ngantuk. Maka, ini belum membatalkan wudhu.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم ينامون ثم يصلون ولا يتوضئون

Dahulu para sahabat Rasul ﷺ tertidur lalu mereka shalat dan tidak berwudhu lagi. (HR. Muslim No. 376)

Tertidur yang bagaimana? Ada rincian dalam riwayat lain, juga dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu:

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْتَظِرُونَ الْعِشَاءَ الآخِرَةَ حَتَّى تَخْفِقَ رُءُوسُهُمْ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلاَ يَتَوَضَّئُونَ

Dahulu para sahabat Nabi ﷺ menunggu shalat Isya di waktu akhir, sampai kepala mereka condong (karena ngantuk), lalu mereka shalat dan tidak berwudhu lagi. (HR. Abu Daud No. 200, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 601. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, Lihat Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 200 )

Posisinya masih duduk (qu’uudan) , sebagaimana riwayat Imam Al Baihaqi. (Ma’rifah As Sunan wal Aatsar, No. 898)

Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullah mengatakan: “Mereka dalam keadaan duduk menurut kami.” (Ad Daruquthni, As Sunan, 1/130)

Imam Al Baihaqi mengatakan: “Begitu juga yang dipahami oleh Abdurrahman bin Mahdi dan Asy Syafi’i (bah mereka dalam keadaan duduk, pen).” (As Sunan Al Kubra, 1/120)

Jadi, belum membatalkan wudhu jika tidurnya masih duduk, kepala masih terkantuk-kantuk, sebagaimana dialami para sahabat, dan dipahami para ulama.

📌 Batal wudhunya jika sudah berbaring, sebagaimana riwayat Abu Hurairah: “Tidaklah berwudhu orang yang tidur dalam keadaan ruku’, sujud, tapi wudhu itu yang tidurnya sudah berbaring. Jika tidurnya berbaring maka dia wajib wudhu.” (HR. Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. No. 614)

Sanadnya jayyid (bagus), sebagaimana kata Al Hafizh Ibnu Hajar. (At Talkhish Al Habir, 1/336) Juga dikatakan Syaikh Al Albani. (As Silsilah Adh Dhaifah, 2/371)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan tantang hal-hal pembatal wudhu:

النوم المستغرق الذي لا يبقى معه إدراك مع عدم تمكن المقعدة من الارض

Tidur yang sudah nyenyak yang tidak menyisakan adanya kesadaran, juga tidak memungkinkan posisinya duduk di bumi. (Fiqhus Sunnah, 1/52)

Wallahu A’lam

🍃🌴🌻🌺🌷🌸🌾☘

✒ Farid Nu’man Hasan

Menjual Tanah Waqaf

💦💥💦💥💦💥

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum wr wb, Ustadz😊
Pertanyaan Member Manis 🅰2⃣8⃣
1. Di sekitar tempat tinggal ada bangunan sekolah & perumahan guru yang sudah bertahun-tahun lamanya, info nya lahan yg dipakai adalah hasil waqaf, kemudian belakangan,oleh si pemilik, lahan-lahan yang ada perumahan gurunya dijual. Yang tersisa hanya lahan yang ada bangunan sekolah dan halamanya. Bgaimana hukum nya status jual beli perumahan tsb?

2. Bila si fulan diminta oleh perusahaan/instansi t4 bekerja untk membeli barang,misal harga barang 1jt,kmudian diadakan twar menawar shingga hrga menjadi 900rb,namun di kwitansi si fulan meminta agar harga tetap ditulis 1jt (100rb nya untk fulan),bgaimana hukumnya?

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.

Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

1⃣ Jika benar itu adalah tanah waqaf, maka penjualan tersebut tidak lepas dari dua kemungkinan:

📌 Dijual untuk kepentingan pribadi, maka ini haram, bahkan termasuk dosa besar. Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang beriman, janganlah kalian memakan harta kalian yang ada di antara kalian, dengan cara yang bathil.” (QS. An Nisa: 29)

📌 Dijual untuk dipindahkan, lalu dibelikan tanah waqaf baru, agar tetap terpelihara amanah waqafnya. Ini tidak apa-apa.

2⃣ Kasus seperti itu tidak boleh. Sebab:

📌 Walaa ta’aaanuu ‘alal itsmi wal ‘udwaan – Jangan saling bantu dalam dosa dan kejahatan. (QS. Al Maidah: 2)

📌 Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Sallam bersabda: “Man ghasysyanaa falaisa minnaa – brgsiapa yang menipu kami maka bukan golongan kami.” (HR. Muslim No. 101)

Wallahu a’lam

🍃🌴🌻☘🌺🌸🌾🌷

✒ Farid Nu’man Hasan

Hati-Hati Jangan Salah Membandingkan

💢💢💢💢💢💢💢

Syaikh Salman bin Fahd Al ‘Audah Hafizhahullah berkata:

لا تكثرو من مُقارنة أنفسكَم مع الأخَرين فالمُقارنة الخاطئة سبب كفر أبليسَ وظَلم أخَوة يوسف – سلمان العودة

Jangan banyak membandingkan dirimu dengan orang lain. Sebab perbandingan yang salah menjadi sebab kafirnya Iblis dan zalimnya saudara-saudaranya Yusuf ‘Alaihissalam.

📚 Aqwaal Ad Du’aat Al Mu’aashiriin

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

Nikah Lagi Padahal Masa ‘Iddah Belum Selesai

💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalammu’alaikum wr wb ustadz
Ada sebuah kasus gini, seorang wanita yang baru cerai dari suaminya, kemudian dia menikah kembali dengan laki2 lain tapi tidak menunggu masa Iddah nya, apalagi nikah nya nikah Sirri. Bagaimana hukum pernikahan nya itu ustadz?? Lalu apakah masuk ke dalam perzinahan??

Mohon jawaban nya ya, ustadz 🙏. Jazakumullah Katsir(+62 813-7286-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Pernikahan saat masih masa ‘iddah, selain haram juga tidak sah, wajib dibatalkan. Jika mereka memaksakan diri maka itu perzinahan dan telah melawan ketetapan Allah Ta’ala dalam Al Qur’an. Dalam hal ini para ulama tidak ada perbedaan pendapat.

Tertulis dalam Al Mausu’ah :

اتفق الفقهاء على أنه لا يجوز للأجنبي نكاح المعتدة أيا كانت عدتها من طلاق أو موت أو فسخ أو شبهة ، وسواء أكان الطلاق رجعيا أم بائنا بينونة صغرى أو كبرى . وذلك لحفظ الأنساب وصونها من الاختلاط ومراعاة لحق الزوج الأول ، فإن عقد النكاح على المعتدة في عدتها ، فُرّق بينها وبين من عقد عليها ، واستدلوا بقوله تعالى : ( ولا تعزموا عقدة النكاح حتى يبلغ الكتاب أجله ) والمراد تمام العدة ، والمعنى : لا تعزموا على عقدة النكاح في زمان العدة ، أو لا تعقدوا عقدة النكاح حتى ينقضي ما كتب الله عليها من العدة

Para ahli fiqih sepakat bahwa seorang laki-laki asing tidak boleh menikahi wanita dalam masa ‘iddahnya. Apa pun sebab ‘iddahnya, baik karena cerai, suami wafat, fasakh, dan semisalnya. Baik talak raj’iy (1 dan 2), atau talak ba’in shughra atau kubra.

Hal ini dalam rangka menjaga nasab dan tercampurnya benih, serta menjaga kehormatan suaminya yang pertama. Maka, pernikahan saat wanita masih di masa ‘iddah mesti dipisahkan antara dirinya dan status akad nikahnya itu.

Dalilnya berdasar firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ

Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah, sebelum habis masa idahnya. (QS. Al-Baqarah: 235)

Maksudnya sempurna masa iddahnya. Maknanya janganlah melalukan akad pernikahan dimasa Iddah, atau jangan lakukan akad nikah sampai Allah tetapkan kehendakNya kepada wanita itu atas iddahnya.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 29/346)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

وإن كان وقع قبل انقضائها فالنكاح باطل ، ووجب أن يفرق بينكما ، ثم تكملي عدة الأول

Jika terjadi akad nikah sebelum sempurna Iddah maka pernikahan itu BATAL, wajib memisahkan keduanya. Lalu sempurnakan dulu masa iddahnya. (Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 153793)

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top