Nikah Lagi Padahal Masa ‘Iddah Belum Selesai

💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalammu’alaikum wr wb ustadz
Ada sebuah kasus gini, seorang wanita yang baru cerai dari suaminya, kemudian dia menikah kembali dengan laki2 lain tapi tidak menunggu masa Iddah nya, apalagi nikah nya nikah Sirri. Bagaimana hukum pernikahan nya itu ustadz?? Lalu apakah masuk ke dalam perzinahan??

Mohon jawaban nya ya, ustadz 🙏. Jazakumullah Katsir(+62 813-7286-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Pernikahan saat masih masa ‘iddah, selain haram juga tidak sah, wajib dibatalkan. Jika mereka memaksakan diri maka itu perzinahan dan telah melawan ketetapan Allah Ta’ala dalam Al Qur’an. Dalam hal ini para ulama tidak ada perbedaan pendapat.

Tertulis dalam Al Mausu’ah :

اتفق الفقهاء على أنه لا يجوز للأجنبي نكاح المعتدة أيا كانت عدتها من طلاق أو موت أو فسخ أو شبهة ، وسواء أكان الطلاق رجعيا أم بائنا بينونة صغرى أو كبرى . وذلك لحفظ الأنساب وصونها من الاختلاط ومراعاة لحق الزوج الأول ، فإن عقد النكاح على المعتدة في عدتها ، فُرّق بينها وبين من عقد عليها ، واستدلوا بقوله تعالى : ( ولا تعزموا عقدة النكاح حتى يبلغ الكتاب أجله ) والمراد تمام العدة ، والمعنى : لا تعزموا على عقدة النكاح في زمان العدة ، أو لا تعقدوا عقدة النكاح حتى ينقضي ما كتب الله عليها من العدة

Para ahli fiqih sepakat bahwa seorang laki-laki asing tidak boleh menikahi wanita dalam masa ‘iddahnya. Apa pun sebab ‘iddahnya, baik karena cerai, suami wafat, fasakh, dan semisalnya. Baik talak raj’iy (1 dan 2), atau talak ba’in shughra atau kubra.

Hal ini dalam rangka menjaga nasab dan tercampurnya benih, serta menjaga kehormatan suaminya yang pertama. Maka, pernikahan saat wanita masih di masa ‘iddah mesti dipisahkan antara dirinya dan status akad nikahnya itu.

Dalilnya berdasar firman Allah Ta’ala:

وَلَا تَعْزِمُوا عُقْدَةَ النِّكَاحِ حَتَّىٰ يَبْلُغَ الْكِتَابُ أَجَلَهُ

Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah, sebelum habis masa idahnya. (QS. Al-Baqarah: 235)

Maksudnya sempurna masa iddahnya. Maknanya janganlah melalukan akad pernikahan dimasa Iddah, atau jangan lakukan akad nikah sampai Allah tetapkan kehendakNya kepada wanita itu atas iddahnya.

(Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah, 29/346)

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

وإن كان وقع قبل انقضائها فالنكاح باطل ، ووجب أن يفرق بينكما ، ثم تكملي عدة الأول

Jika terjadi akad nikah sebelum sempurna Iddah maka pernikahan itu BATAL, wajib memisahkan keduanya. Lalu sempurnakan dulu masa iddahnya. (Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 153793)

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

Syarat Hewan Aqiqah

Syarat hewan untuk aqiqah sama dengan syarat hewan untuk qurban. Penjelasannya ada dalam artikel tanya jawab berikut ini:


Pertanyaan

Assalamu alaikum wr.wb..
Mw nanya ustadz…, apa saja persyaratan hewan/kambing yg dijadikan hewan aqiqah???
Trima kasih ustadz(+62 822-5494-xxxx)


Jawaban Atas Syarat Hewan Untuk Aqiqah

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Syarat hewan yang layak untuk aqiqah, sama dengan hewan qurban. Sehat dan cukup umur, ini yang pokok. Boleh jantan, boleh pula betina.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata;

ويجتنب فيها من العيب ما يجتنب في الأضحية ، وجملته : أن حكم العقيقة حكم الأضحية ، في سنها , وأنه يمنع فيها من العيب ما يمنع فيها .

Jauhi pada hewan aqiqah itu cacat sebagaimana pada hewan qurban. Secara global: hukum hewan aqiqah adalah hukum hewan qurban, dalam umurnya, dan cacat yang terlarang pd qurban terlarang pula pada aqiqah.

(Al Mughni, 7/366)

Baca juga: Mengaqiqahkan Bayi yang Wafat

Dalam hadits, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ ، وَعَنْ الْأُنْثَى وَاحِدَةٌ ، وَلَا يَضُرُّكُمْ ذُكْرَانًا كُنَّ ، أَمْ إِنَاثًا

Untuk bayi laki-laki adalah dua kambing, untuk bayi perempuan satu kambing. Tidak apa-apa bagimu kambing jantan atau betina.

(HR. At Tirmidzi no. 1516, Shahih)

Baca juga: Bolehkah Aqiqah Bayi Laki-Laki tidak Langsung Dua Kambing?

Demikian. Wallahu a’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Fitnah Kesenangan

💢💢💢💢💢💢

Nafsu manusia menginginkan hidupnya selalu senang, padahal kesenangan belum tentu membawa kebahagiaan hakiki.

Syaikh Abdul Aziz Ath Tharifiy mengatakan:

فتنة السراء تُبعد عن الله أكثر من فتنة الضراء. قال عبدالرحمن بن عوف: (ابتلينا بالضراء فصبرنا ثم ابتلينا بالسراء فلم نصبر)
– عبد العزبز الطريفي

Fitnah kesenangan dapat menjauhkan diri dari Allah lebih banyak dibanding fitnah kesusahan. Berkata Abdurrahman bin ‘Auf: “Kita diuji dengan kesusahan maka kita mampu bersabar, kemudian kita diuji dengan kesenangan tapi kita tidak mampu bersabar.”

📚 Aqwaal Ad Du’aat Al Mu’ashirin

▪▫▪▫▪▫▪▫

✍ Farid Nu’man Hasan

Membaca Amin, Panjang atau Pendek?

💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamu alaikum….ustadz ada yg meributkan aamiin dengan amin…apakah maknanya berbeda…mohon penjelasannya…jazakallah (+62 821-5029-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh …

Bismillah wal Hamdulillah ..

Membaca amin, sunnahnya adalah dipanjangkan yaitu aamiin ..

Dari Wail bin Hujr, dia berkata:

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ: (غَيْرِ المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ) ، فَقَالَ: (آمِينَ) ، وَمَدَّ بِهَا صَوْتَهُ

Aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca: Ghairi Maghdhuubi ‘Alaihim wa Ladh dhaaliin, lalu nabi membaca: aamiin.
Dengan suara yg dipanjangkan.

(HR. At Tirmidzi no. 248, Shahih)

Dalam riwayat Al Baihaqi (2/83) :

رَفَعَ صَوْتَهُ بِآمِينَ وَطَوَّلَ بِهَا

Ditinggikan suaranya aamin dan dipanjangkan.

Namun, demikian jika dibaca pendek juga tidak masalah. Sebab, amin dalam konteks doa bukanlah bahasa Arab, tapi bahasa Ibrani yg tidak mengenal panjang pendek, yang bermakna:

Allahumma istajib (Ya Allah kabulkanlah)!

Maka, kita lihat … Yahudi dan Nasrani pun juga memakai amin dalam doa mereka.

Sedangkan “Amin” dalam bahasa Arab, bermakna orang terpercaya, orang yg dapat menjaga amanah. Seperti gelar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Salam, yaitu Al amiin, beda makna dgn amin setelah berdoa.

Oleh karena itu membaca aamiin dalam setelah doa, boleh panjang, boleh pendek.

Imam Ali Al Qari berkata:

وَيَجُوزُ فِيهِ الطُّولُ وَالتَّوَسُّطُ وَالْقَصْرُ ، أَوْ مَدٌّ بِأَلْفِهَا ، فَإِنَّهُ يَجُوزُ قَصْرُهَا وَمَدُّهَا

Dibolehkan membacanya dgn panjang, pertengahan, atau pendek, atau panjang satu alif, maka boleh dibaca dgn pendeknya atau panjangnya.

(Mirqah Al Mafatih, 2/296)

Jadi masalah ini luwes aja. Mendebatkan amin atau aamiin adalah perdebatan yang capek deeh…..

Oleh karena itu, Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

والأمر في هذا واسع ، إن شاء الله

Permasalahan dalam hal ini begitu lapang. Insya Allah. (Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 216571)

Demikian. Wallahu a’lam

☘🌸🌷🌹🍀🎋🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top