Menyikapi Hadiah Dari Non Muslim

💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Ustadz Bagaimana sikap terbaik dlm islam, terhadap tentangga kita yg akan merayakan natal
Mereka tetangga yg baik dan santun
Ketika lebaran, mereka berkunjung ke rumah kami.
Terkadang memberi makanan, apa boleh kami makan?
Kami belum tau makanan itu pesan atau buat sendiri, dan tidak tau apakah mereka meng konsumsi yg diharamkan dlm islam.
Mohon penjelasan ustadz🙏🏼 (+62 811-2017-xxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillah wal Hamdulillah ..

Hendaknya tetap berbuat baik dalam momen yang lain, yang bukan ritual keagamaan.

Menerima hadiah dari mereka saat hari raya mereka, selama makanan halal, barang halal, bukan makanan acara ritualnya, tidak apa-apa.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

أما قبول الهدية من الكافر في يوم عيده ، فلا حرج فيه ، ولا يعد ذلك مشاركة ولا إقرارا للاحتفال ، بل تؤخذ على سبيل البر ، وقصد التأليف والدعوة إلى الإسلام ، وقد أباح الله تعالى البر والقسط مع الكافر الذي لم يقاتل المسلمين ، فقال : ( لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) الممتحنة/8.
لكن البر والقسط لا يعني المودة والمحبة ؛ إذ لا تجوز محبة الكافر ولا مودته ، ولا اتخاذه صديقا أو صاحبا

Ada pun menerima hadiah dari mereka saat hari rayanya, tidak apa-apa. Itu tidak dinilai ikut serta dalam perayaan dan menyetujui acara mereka.

Bahkan itu bisa dijadikan sarana kebaikan dan ajakan kepada Islam. Allah Ta’ala telah membolehkan berbuat baik dan adil kepada orang yang tidak memerangi kaum muslimin:

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS. Al Mumtahanah: 8)

Tetapi berbuat baik dan adil bukan berarti menumbuhkan kasih sayang dan Mahabbah (cinta), sebab kasih sayang dan cinta terlarang kepada orang kafir, serta terlarang menjadikan sebagai sahabat dekat.

(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 85108)

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

وأما قبول الهدية منهم يوم عيدهم فقد قدمنا عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه أتي بهدية النيروز فقبلها

Ada pun menerima hadiah dari mereka saat hari raya mereka, dulu kami telah jelaskan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu bahwa dia diberikan hadiah pada hari raya Nairuz, dan dia menerimanya.

(Iqtidha Shirath al Mustaqim, Hal. 251)

Ibnu Abi Syaibah menceritakan:

أن امرأة سألت عائشة قالت إن لنا أظآرا [جمع ظئر ، وهي المرضع] من المجوس ، وإنه يكون لهم العيد فيهدون لنا فقالت : أما ما ذبح لذلك اليوم فلا تأكلوا ، ولكن كلوا من أشجارهم

Bahwa ada seorang wanita bertanya kepada Aisyah, katanya: “Kami memiliki wanita-wanita yang menyusui anak kami, dan mereka Majusi, mereka memberikan kami hadiah.”

Aisyah menjawab: “Ada pun makanan yg disembelih karena hari raya itu (makanan ritual), maka jangan kalian makan, tetapi makanlah yang sayuran.” (Ibid)

Bagaimana kalau kita yg memberikan hadiah?

Jika tidak terkait hari raya tidak apa-apa, bahkan bagus untuk mendakwahkan mereka. Dahulu Aisyah Radhiyallahu ‘Anha membawakan makanan kepada ibunya yang masih musyrik, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membolehkannya.

Tapi pemberian itu jika terkait hari raya, itu tidak boleh.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

يجوز للمسلم أن يهدي للكافر والمشرك ، بقصد تأليفه ، وترغيبه في الإسلام ، لاسيما إذا كان قريبا أو جارا ، وقد أهدى عمر رضي الله عنه لأخيه المشرك في مكة حلة (ثوبا) . رواه البخاري (2619).

Boleh bagi seorang muslim memberikan hadiah kepada orang kafir dan musyrik, dengan tujuan mengikat hatinya dan mengajaknya kepada Islam. Apalagi jika dia kerabat dekat atau tetangga. Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu pernah memberikan hadiah kepada saudaranya yg musyrik di Mekkah. (HR. Bukhari no. 2619)

لكن لا يجوز أن يهدي للكافر في يوم عيد من أعياده ، لأن ذلك يعد إقرارا ومشاركة في الاحتفال بالعيد الباطل

_Tapi tidak boleh memberikan hadiah kepada orang kafir di hari raya me

reka. Sebab itu dihitung sebagai ikut serta dan pengakuan atas acara hari raya mereka yg batil._

وإذا كانت الهدية مما يستعان به على الاحتفال كالطعام والشموع ونحو ذلك ، كان الأمر أعظم تحريما ، حتى ذهب بعض أهل العلم إلى أن ذلك كفر

Jika hadiah itu dapat membantu perayaan tersebut baik berupa makanan, minuman, dan lainnya. Maka, itu keharamannya besar, sampai ada sebagian ulama berpendapat ini adalah kafir.

(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 85108)

📓 Jadi, kesimpulannya:

– Secara umum menerima atau memberi hadiah kepada non muslim boleh, selama barang dan makanan halal

– Termasuk menerima hadiah dr mereka saat hari raya mereka, selama harta dan makanan halal, bukan barang dan makanan ritual. Ini tidak termasuk ikut membantu acara mereka.

– Kecuali memberikan hadiah saat mereka hari raya, ini terlarang. Sebab termasuk membantu mensukseskan acara mereka.

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

Syarah Matan Abu Syuja’ (Al Ghaayah wat Taqriib) (Bag. 3) – Air Laut

💢💢💢💢💢💢

٢. ماء البحر

2. Air laut.

Imam Abu Syuja’, menyebutkan air laut sebagai air yg SAH untuk bersuci.

Dalilnya adalah
Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنْ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ مِنْ مَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, kami sedang berlayar di lautan, kami membawa sedikit air. Jika kami pakai air itu buat wudhu, maka kami akan kehausan, apakah boleh kami wudhu pakai air laut?” lalu Beliau bersabda: “Dia suci airnya, halal bangkainya.” (HR. At Tirmidzi no. 69, Abu Daud no. 83, Ibnu Majah no. 386, Ahmad no. 7233)

Imam At Tirmidzi berkata: hasan shahih. Beliau juga bertanya kepada Imam Bukhari tentang hadits ini, Imam Bukhari menjawab: Shahih. (Imam Ibnul Mulaqin, Al Khulashah, 1/7)

Mayoritas ulama mengatakan air laut suci dan mensucikan, sebagian kecil mengatakan makruh bersuci dengan air laut. Hal ini dijelaskan Imam At Tirmidzi Rahimahullah:

وَهُوَ قَوْلُ أَكْثَرِ الْفُقَهَاءِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَابْنُ عَبَّاسٍ لَمْ يَرَوْا بَأْسًا بِمَاءِ الْبَحْرِ وَقَدْ كَرِهَ بَعْضُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوُضُوءَ بِمَاءِ الْبَحْرِ مِنْهُمْ ابْنُ عُمَرَ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو وَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو هُوَ نَارٌ

Ini (yang menyatakan sucinya air laut, pen) adalah mayoritas ahli fiqih dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, di antaranya: Abu Bakar, Umar, dan Ibnu Abbas, menurut mereka tidak apa-apa dengan air laut. Sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ada yang memakruhkan, di antaranya: Ibnu Umar dan Abdullah bin Amru. Dan, Abdullah bin Amru berkata: “Itu adalah api.” (Sunan At Tirmidzi No. 69)

Imam Al Munawi Rahimahullah menjelaskan, bahwa jawaban Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Dia (laut) suci airnya”, menunjukkan begitu kuat kesuciannya. Beliau tidak menggunakan kata na’am (Iya), padahal jawaban Iya juga sudah menunjukkan boleh bersuci dengannya. (Faidhul Qadir, 3/215)

Demikian. Wallahu a’lam

Bersambung ….

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

Syarah Matan Abu Syuja’ (Al Ghaayah wa At Taqriib) (Bag. 2) – Air Hujan

💢💢💢💢💢💢💢

Imam Abu Syuja’ berkata:

المياه التى يجوز التطهير بها سبع مياه:

Air yang boleh dengannya bersuci ada tujuh air:

Maksudnya air yang SAH dipakai untuk bersuci.

١. ماء السماء

Air langit

Maksudnya air yang turun dari langit, yaitu air hujan.

Dalilnya, Allah Ta’ala berfirman:

وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ

Dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu. (QS. Al-Anfal: 11)

Imam Abu Ishaq Asy Syirazi Rahimahullah berkata:

يجوز رفع الحدث وإزالة النجس بالماء المطلق وهو ما نزل من السماء …

Dibolehkan menghilangkan hadats dan menghapuskan najis dengan air mutlak, yaitu air dari langit … (Al Muhadzdzab, 1/15)

Imam Al Bahutiy Rahimahullah berkata:

والماء الطهور ما نزل من السماء كالمطر …

Air suci yaitu apa yang turun dari langit seperti hujan … (Al Kasysyaaf Al Qinaa’, 1/25)

(Bersambung …)

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

Sah-kah Shalat di Lantai Dua Masjid?

💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum ustd..
Ada masjid bertingkat 2
Ketika Solat berjamaah Lantai bawah masi terlihat Renggang/ tidak terlalu penuh.
Kemudia banyak pula yg berjamaah diLantai 2.
Apakah mereka yg Solat dilantai 2 mendapatkan Pahala berjamaah?
Syukron ustd.

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh …

Shalat di lantai dua, sementara imam di lantai pertama adalah sah, selama satu bangunan dan makmum mengetahui gerakan imam, baik melalui melihat imam atau mendengarkan suaranya. Ini sudah berlangsung lama di dunia Islam.

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah menjelaskan:

فلا حرج في الصلاة في المسجد المكون من طابقين ، سواء في الجمعة أو في غيرها ، إذ الطابق المتأخر بنياناً يعتبر توسعة طرأت على الطابق الأول ، والكل أصبح مسجداً واحداً ، لكن ينبغي أن تكون بينهما فتحة قرب الإمام يسمع الصوت منها إذا انقطع التيار الكهربائي.
كما ينبغي أيضاً ملاحظة تأخر المأمومين عن الإمام .

Ada apa-apa shalat di masjid yang memiliki dua lantai, baik shalat Jumat atau lainnya sama saja. Mengingat bangunan yg terakhir merupakan perluasan dari masjid lantai pertama, semuanya terhitung satu bangunan masjid. Tetapi hendaknya di antara dua tingkat itu disediakan fut-hah (lubang, celah, kamera) yang mendekat ke imam agar terdengar suara jika terputus aliran listrik. Sebagaimana juga agar ma’mun yg belakang bisa memperhatikan imam.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 10801)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah berkata:

الصلاة في الدور الثاني من المسجد جائزة إذا كان معه أحد في مكانه يعني لم ينفرد بالصف وحده، لكن الأفضل أن يكون مع الناس في مكانهم؛ لأنه إذا كان مع الناس في مكانهم كان أقرب للإمام، وما كان أقرب إلى الإمام فهو أفضل

Shalat di lantai ke dua masjid adalah boleh, jika dia bersama orang lain, yaitu jangan sendirian di shaf. Tetapi, afdolnya memang dia shalat bersama manusia di tempat mereka. Sebab jika dia shalat bersama orang-orang maka dia lebih dekat dengan imam, dan dekat ke imam itu lebih utama.

(Majmu’ Fatawa wa Rasaail, Jilid 12, Kitab Ahkaam Ash Shufuuf)

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top