Membaca Quran dari Mushaf Lebih Utama Dibanding dari Hapalan

💦💥💦💥💦💥

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

قراءة القرآن من المصحف أفضل من القراءة عن ظهر القلب لأن النظر في المصحف عبادة مطلوبة فتجتمع القراءة والنظر هكذا قاله القاضي حسين من أصحابنا وأبو حامد الغزالي وجماعات من السلف ونقل الغزالي في الاحياء ان كثيرين من الصحابة رضي الله عنهم كانوا يقرؤون من المصحف ويكرهون أن يخرج يوم ولم ينظروا في المصحف وروى ابن أبي داود القراءة في المصحف عن كثيرين من السلف ولم أر فيه خلافا

Membaca Al Quran dari mushaf lebih utama dibanding dari hapalan, karena melihat mushaf sendiri adalah ibadah yang diperintahkan. Sehingga terkumpul-lah antara aktifvitas membaca dan melihat. Demikianlah yang dikatakan oleh Al Qadhi Husein, seorang ulama dari sahabat-sahabat kami (Syafi’iyah), Abu Hamid Al Ghazali, dan para ulama salaf. Al Ghazali dalam Ihya-nya menukil bahwa banyak para sahabat Radhiallahu ‘Anhum membaca Al Quran dari mushaf, dan mereka membenci jika keluar dalam satu hari tanpa melihat mushaf. Ibnu Abi Daud meriwayatkan tentang membaca dari mushaf dari kebanyakan ulama salaf dan aku tidak melihat adanya perselisihan pendapat dalam hal ini.

📚 At Tibyan fi Adab Hamalah Al Quran, Hal. 100. Cet. 3. 1414H-1994M. Daar Ibni Hazm. Beirut

🍃🌻🌺🌿🌴☘🌾🌹

✏ Farid Nu’man Hasan

Awal Kerusakan Sebuah Negara, Hilangnya Nahi Munkar

💢💢💢💢💢💢

Syaikh Muhammad Al Ghazaliy Rahimahullah:

قال الشيخ محمد الغزالي:
إنما فسدت الرعية بفساد الملوك، وفساد الملوك بفساد العلماء، فلولا القضاة السوء والعلماء السوء لقلّ فساد الملوك خوفاً من إنكارهم

Sesungguhnya rusaknya rakyat disebabkan oleh rusaknya para penguasa, dan rusaknya penguasa disebabkan rusaknya para ulama. Seandainya tidak ada para hakim dan ulama yang buruk, niscaya hanya sedikit penguasa yang rusak, karena mereka (hakim dan ulama yg buruk) takut mengingkari para penguasa.

📚 Aqwaal Asy Syaikh Muhammad Al Ghazaliy no. 10

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

Sedekah Dulu atau Bayar Hutang Dulu?

Ada pertanyaan menarik, ketika kita ingin sedekah namun masih memiliki hutang, mana yang prioritas yang harus didahulukan? Simak jawaban dan penjelasannya pada artikel tanya jawab di bawah ini!


Pertanyaan

Ustadz
Misal kita infaq ke mesjid atau donasi ke palestina
Tapi sebenarnya kita masih memiliki banyak hutang?
Bagaimana itu ustadz
Mohon pencerahan nya (+62 811-2017-xxx)


Jawaban Untuk Bayar Hutang Atau Sedekah

Bismillah wal Hamdulillah ..

Hutang ada dua model:

1. Yang bayarnya boleh tertunda seperti kredit yang menahun.

Ini boleh saja dia bersedekah. Berkata Syaikh Utsaimin:

أما إذا كان الدين مؤجلاً، وإذا حل وعندك ما يوفيه : فتصدق ولا حرج ؛ لأنك قادر

Jika hutangnya bisa ditunda pembayarannya, dan Anda punya apa-apa yang bisa dijadikan pemenuhan hutang itu, maka sedekahlah dan tidak apa-apa, sebab Anda mampu. (selesai dari Asy Syarh Al Kaafiy)

2. Hutang yang tidak bisa ditunda, mesti dibayar secepatnya.

Maka ini tidak boleh sedekah .. dia mesti tunaikan hutangnya dulu.

Imam Al Bukhari Rahimahullah berkata:

مَنْ تَصَدَّقَ وَهُوَ مُحْتَاجٌ ، أَوْ أَهْلُهُ مُحْتَاجٌ ، أَوْ عَلَيْهِ دَيْنٌ : فَالدَّيْنُ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى مِنْ الصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ وَالْهِبَةِ

Barang siapa yang bersedekah, padahal dia sedang butuh, atau keluarganya butuh, atau dia punya hutang, maka hutang itu lebih berhak ditunaikan dulu, dibanding sedekah, memerdekakan budak, dan hibah.

(Shahih Al Bukhari, 2/112)

Baca juga: Hukum Membayar Utang di Masjid

Bayar Hutang Atau Sedekah?

Menunaikan hutang adalah wajib, bersedekah adalah Sunnah.

Imam Badruddin Al ‘Aini Rahimahullah menjelaskan:

فالواجب أن يقضي دينه ، وقضاء الدين أحق من الصدقة والعتق والهبة؛ لأن الابتداء بالفرائض قبل النوافل

Maka wajib menunaikan hutangnya, menunaikan hutang lebih berhak diutamakan dibanding sedekah, membebaskan budak, dan hibah, karena mendahulukan kewajiban sebelum yang Sunnah.

(‘Umdatul Qari, 13/327)

Demikian. Wallahu a’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Memakai Surban; Sunah atau Tradisi?

💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

asalamulaikum wr.wb…
mau tanya…bagaimana hukum memakai sorban,soalnya ada yang bilang itu budaya arab…mohon beri penjelasan ustad beserta sumbernya…???

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Perlu diketahui, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai gamis, jubah, izar (kain sarung), peci, rida (selendang), dan sorban (‘imaamah).

Hanya saja para ulama berbeda pendapat apakah ini SUNNAH secara hukum, ataukah ini adat yang mubah saja.

Ada penjelasan yang bagus dari Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah berikut ini:

واختلف العلماء في لبس العمامة هل هو من المباحات والعادات ، أم يعدّ سنة يشرع فيه الاقتداء بالرسول صلى الله عليه وسلم ، والأظهر أن ذلك من باب العادات والمباحات ، والأصل أن يلبس الإنسان ما يلبسه قومه – ما لم يكن محرما – وألا يشذ عنهم بلباس يشتهر به ؛ لنهي النبي صلى الله عليه وسلم عن لباس الشهرة ، ولو قيل بأن العمامة سنة من أجل أن النبي صلى الله عليه وسلم لبسها ، لقيل أيضا بأن لبس الإزار والرداء سنة لأن النبي صلى الله عليه وسلم لبسهما 

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum memakai surban, apakah itu termasuk perkara adat kebiasaan yang mubah ataukah Sunnah dlm rangka mengikuti Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam.

Yang BENAR adalah itu termasuk Bab kebiasaan yang mubah, sebab pada dasarnya manusia akan memakai pakaian seperti yang dipakai kaumnya -selama tidak ada unsur keharaman- dan tidak membuat heran manusia dengan memakai pakaian ketenaran, karena Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang memakai pakaian yang membuat tenar.

Seandainya memakai surban itu SUNNAH karena Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memakainya, maka tentu me memakai kain sarung dan rida (selendang/selimut) juga sunnah, sebab Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai keduanya.

(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 113894)

Dalam fatwa Al Lajnah Ad Daimah juga disebutkan:

وأما لبس العمامة فهو من المباحات وليس بسنة كما توهمت ، والأولى أن تبقى على ما يلبسه أهل بلدك على رؤوسهم من الغترة والشماغ ونحوه

Ada pun memakai Surban, itu termasuk perkara-perkara yang dibolehkan bukan Sunnah sebagaimana yang Anda sangka.

Yang lebih utama adalah memakai pakaian yang dipakai oleh orang-orang di negeri Anda, di kepala mereka menggunakan ghutrah (sorbannya Arab Saudi), dan kafiyeh, dan semisalnya.

(Al Lajnah Ad Daimah, 24/42)

Syaikh Utsaimin Ibnu Rahimahullah ditanya tentang Surban, sunah atau adat kebiasaan, Beliau menjawab:

“لا ، لباس العمامة ليس بسنة ، لكنه عادة ، والسنة لكل إنسان أن يلبس ما يلبسه الناس ما لم يكن محرماً بذاته ، وإنما قلنا هذا ؛ لأنه لو لبس خلاف ما يعتاده الناس لكان ذلك شهرة ، والنبي صلى الله عليه وسلم نهى عن لباس الشهرة ، فإذا كنا في بلد يلبسون العمائم لبسنا العمائم ، وإذا كنا في بلد لا يلبسونها لم نلبسها ، وأظن أن بلاد المسلمين اليوم تختلف ، ففي بعض البلاد الأكثر فيها لبس العمائم ، وفي بعض البلاد بالعكس ، والنبي صلى الله عليه وسلم كان يلبس العمامة ؛ لأنها معتادة في عهده ، ولهذا لم يأمر بها ، بل نهى عن لباس الشهرة ، مفيداً إلى أن السنة في اللباس أن يتبع الإنسان ما كان الناس يعتادونه ، إلا أن يكون محرماً …

Tidak, surban bukan Sunnah, itu kebiasaan. Yang disunnahkan bagi manusia adalah memakai pakaian yang dipakai manusia (di tempatnya) selama tidak mengandung keharaman.

Sesungguhnya kami katakan ini sebab jika kita memakai pakaian yang berbeda dengan kebiasaan masyarakat kita maka itu akan menjadi pakaian ketenaran, dan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang itu.

Jika kita tinggal di negeri yang memakai Surban maka kita memakainya. Sebaliknya, jika kita tinggal di negeri yang tidak memakainya maka kita tidak memakainya.

Saya lihat negeri-negeri kaum muslimin hari ini berbeda-beda. Sebagian ada yang begitu banyak memakai surban, sebagian negeri kebalikannya, Tidak memakai surban.

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memakainya karena itu kebiasaan di zamannya. Oleh karena itu Beliau tidak memerintahkannya, tapi Beliau melarang pakaian Syuhrah (ketenaran).

Jadi, faidah dari penjelasan ini, bahwa sunnahnya adalah memakai pakaian yang biasa dipakai manusia di tempatnya kecuali jika ada unsur yang diharamkan …

(Liqa Bab Al Maftuuh, 23/160)

Oleh karena itu, saya lebih sering pakai kain sarung, peci, dan Koko jika ta’lim di lingkungan rumah, atau celana panjang dan Koko kalau pengajian di kantor-kantor. Jarang pakai gamis dan surban, menghindar ‘tampil beda’ di tengah masyarakat.

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top