Mengucapkan Selamat Paskah, Natal, dan Hari Besar Agama Lain

💦💥💦💥💦💥

📨 PERTANYAAN:

Bagaimana hukum seorang muslim mengucapkan selamat paskah?

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃

Jawaban:

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa Ba’d:

Islam tidak melarang berperilaku dan kata-kata baik kepada siapa pun, termasuk kepada non muslim selain kafir harbi, bahkan justru di anjurkan.

Sebagaimana ayat:

وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Dan katakanlah perkataan yang baik bagi mereka. (QS. An Nisa: 5)

Demikian secara umum, tapi secara khusus -dalam konteks Salam- kita dilarang untuk mengucapkan salam atau selamat kepada mereka. Sebagaimana hadits berikut:

لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ

Jangan memulai ucapan selamat/salam kepada Nasrani dan Yahudi. (HR. Muslim No, 2167)

Oleh karena itu, mengucapkan Selamat Paskah (Hari Kematian dan Kebangkitan Yesus) dan Selamat Natal (hari kelahiran Yesus), adalah terlarang. Pantaskah seorang muslim mengucapkan selamat kepada orang yang berjudi, mabuk, berzina, atau maksiat lainnya? Jika tidak, dan tentu tidak pantas, … maka mengucapkan selamat kepada puncak kekafiran yaitu keyakinan bahwa Tuhan itu dilahirkan, keyakinan bahwa Tuhan itu mati, keyakinan bahwa Tuhan itu dibangkitkan,   adalah lebih tidak pantas lagi.

Berikut ini fatwa Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah Rahimahullah tentang mengucapkan selamat hari raya agama lain:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه. وكثير ممن لا قدر للدين عنده يقع في ذلك ولا يدري قبح ما فعل فمن هنأ عبدا بمعصية أو بدعة أو كفر فقد تعرض لمقت الله وسخطه

“Adapun memberi ucapan selamat (tahniah) pada syiar-syiar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal, imlek, waisak, dll. pen) adalah  hal  yang diharamkan berdasarkan  kesepakatan  kaum muslimin.  Misalnya memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan yang semacamnya.  Jika memang orang yang mengucapkan itu bisa selamat dari kekafiran, namun  itu termasuk dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan itu lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dimurkai   Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya. Banyak orang yang kurang paham agama terjatuh dalam hal tersebut, dan dia tidak mengetahui kejelekan dari amalan yang mereka perbuat. Oleh karena itu, barangsiapa memberi ucapan selamat pada seseorang yang berbuat maksiat, bid’ah atau kekufuran, maka dia  layak mendapatkan kebencian dan murka Allah Ta’ala.”(Imam Ibnul Qayyim, Ahkam Ahlu Adz Dzimmah, Hal. 162. Cet. 2. 2002M-1423H. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah)

Perbedaan pendapat dalam hal ini memang ada, seperti pendapat yang membolehkan dalam rangka basa basi saja, seperti Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, Syaikh Mushthafa Az Zarqa, dan Syaikh Wahbah Az Zuhaili. Tentu pendapat ini tidak dinafikan keberadaannya, walau belum tentu diikuti dalam pelaksanaannya.

Demikian. Wallahu A’lam

☘🌺🌴🍃🌸🌾🌷🌻

✏ Farid Nu’man Hasan

Membaca Quran dari Mushaf Lebih Utama Dibanding dari Hapalan

💦💥💦💥💦💥

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

قراءة القرآن من المصحف أفضل من القراءة عن ظهر القلب لأن النظر في المصحف عبادة مطلوبة فتجتمع القراءة والنظر هكذا قاله القاضي حسين من أصحابنا وأبو حامد الغزالي وجماعات من السلف ونقل الغزالي في الاحياء ان كثيرين من الصحابة رضي الله عنهم كانوا يقرؤون من المصحف ويكرهون أن يخرج يوم ولم ينظروا في المصحف وروى ابن أبي داود القراءة في المصحف عن كثيرين من السلف ولم أر فيه خلافا

Membaca Al Quran dari mushaf lebih utama dibanding dari hapalan, karena melihat mushaf sendiri adalah ibadah yang diperintahkan. Sehingga terkumpul-lah antara aktifvitas membaca dan melihat. Demikianlah yang dikatakan oleh Al Qadhi Husein, seorang ulama dari sahabat-sahabat kami (Syafi’iyah), Abu Hamid Al Ghazali, dan para ulama salaf. Al Ghazali dalam Ihya-nya menukil bahwa banyak para sahabat Radhiallahu ‘Anhum membaca Al Quran dari mushaf, dan mereka membenci jika keluar dalam satu hari tanpa melihat mushaf. Ibnu Abi Daud meriwayatkan tentang membaca dari mushaf dari kebanyakan ulama salaf dan aku tidak melihat adanya perselisihan pendapat dalam hal ini.

📚 At Tibyan fi Adab Hamalah Al Quran, Hal. 100. Cet. 3. 1414H-1994M. Daar Ibni Hazm. Beirut

🍃🌻🌺🌿🌴☘🌾🌹

✏ Farid Nu’man Hasan

Awal Kerusakan Sebuah Negara, Hilangnya Nahi Munkar

💢💢💢💢💢💢

Syaikh Muhammad Al Ghazaliy Rahimahullah:

قال الشيخ محمد الغزالي:
إنما فسدت الرعية بفساد الملوك، وفساد الملوك بفساد العلماء، فلولا القضاة السوء والعلماء السوء لقلّ فساد الملوك خوفاً من إنكارهم

Sesungguhnya rusaknya rakyat disebabkan oleh rusaknya para penguasa, dan rusaknya penguasa disebabkan rusaknya para ulama. Seandainya tidak ada para hakim dan ulama yang buruk, niscaya hanya sedikit penguasa yang rusak, karena mereka (hakim dan ulama yg buruk) takut mengingkari para penguasa.

📚 Aqwaal Asy Syaikh Muhammad Al Ghazaliy no. 10

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

Sedekah Dulu atau Bayar Hutang Dulu?

Ada pertanyaan menarik, ketika kita ingin sedekah namun masih memiliki hutang, mana yang prioritas yang harus didahulukan? Simak jawaban dan penjelasannya pada artikel tanya jawab di bawah ini!


Pertanyaan

Ustadz
Misal kita infaq ke mesjid atau donasi ke palestina
Tapi sebenarnya kita masih memiliki banyak hutang?
Bagaimana itu ustadz
Mohon pencerahan nya (+62 811-2017-xxx)


Jawaban Untuk Bayar Hutang Atau Sedekah

Bismillah wal Hamdulillah ..

Hutang ada dua model:

1. Yang bayarnya boleh tertunda seperti kredit yang menahun.

Ini boleh saja dia bersedekah. Berkata Syaikh Utsaimin:

أما إذا كان الدين مؤجلاً، وإذا حل وعندك ما يوفيه : فتصدق ولا حرج ؛ لأنك قادر

Jika hutangnya bisa ditunda pembayarannya, dan Anda punya apa-apa yang bisa dijadikan pemenuhan hutang itu, maka sedekahlah dan tidak apa-apa, sebab Anda mampu. (selesai dari Asy Syarh Al Kaafiy)

2. Hutang yang tidak bisa ditunda, mesti dibayar secepatnya.

Maka ini tidak boleh sedekah .. dia mesti tunaikan hutangnya dulu.

Imam Al Bukhari Rahimahullah berkata:

مَنْ تَصَدَّقَ وَهُوَ مُحْتَاجٌ ، أَوْ أَهْلُهُ مُحْتَاجٌ ، أَوْ عَلَيْهِ دَيْنٌ : فَالدَّيْنُ أَحَقُّ أَنْ يُقْضَى مِنْ الصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ وَالْهِبَةِ

Barang siapa yang bersedekah, padahal dia sedang butuh, atau keluarganya butuh, atau dia punya hutang, maka hutang itu lebih berhak ditunaikan dulu, dibanding sedekah, memerdekakan budak, dan hibah.

(Shahih Al Bukhari, 2/112)

Baca juga: Hukum Membayar Utang di Masjid

Bayar Hutang Atau Sedekah?

Menunaikan hutang adalah wajib, bersedekah adalah Sunnah.

Imam Badruddin Al ‘Aini Rahimahullah menjelaskan:

فالواجب أن يقضي دينه ، وقضاء الدين أحق من الصدقة والعتق والهبة؛ لأن الابتداء بالفرائض قبل النوافل

Maka wajib menunaikan hutangnya, menunaikan hutang lebih berhak diutamakan dibanding sedekah, membebaskan budak, dan hibah, karena mendahulukan kewajiban sebelum yang Sunnah.

(‘Umdatul Qari, 13/327)

Demikian. Wallahu a’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top