Haruskah Khutbah Jumat Memakai Bahasa Arab?

💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum ustadz ada titipan pertanyaan kalau di suatu daerah atau pemukiman penduduk pada saat shalat jumat khotib dalam penyampaian khotbah memakai bahasa arab saja sehingga bisa dikatakan 90% jamaah tidak paham apa yang disampaikan oleh khotib bagaimana menyikapi masalah ini dan apa kah khutbah jumat memang harus memakai bahasa arab? (+62 878-2xxxxxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Ada tiga pendapat dalam masalah “Khutbah Jumat Memakai Bahasa Arab”.

1. Lebih utama pakai bahasa Arab yaitu bagi khathib yang mampu dgn baik bahasa Arabnya, walau pendengar tidak paham bahasa Arab.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

أنه يشترط أن تكون بالعربية للقادر عليها ولو كان السامعون لا يعرفون العربية
وبهذا قال المالكية ، وهو المذهب والمشهور عند الحنابلة

Disyaratkan pada khutbah Jum’at hendaknya dgn bahasa Arab bagi yang mampu walau audiens tidak paham bahasa Arab. Ini pendapat Malikiyah, dan pendapat yg masyhur dr Hanabilah.

2. Jika audiens tidak paham bahasa Arab maka boleh pakai bahasa mereka.

Syaikh menjelaskan lg:

يشترط أن تكون بالعربية للقادر عليها ، إلا إذا كان السامعون جميعاً لا يعرفون العربية فإنه يخطب بلغتهم
وهذا هو الصحيح عند الشافعية ، وبه قال بعض الحنابلة

Disyaratkan khutbah Jum’at dgn bahasa Arab bagi yang mampu, KECUALI jika semua audiens tidak paham bahasa Arab, maka khutbahnya dgn bahasa mereka. Inilah pendapat yg shahih dari Syafi’iyyah dan sebagian Hanabilah.

3. Khutbah pakai bahasa Arab hanya Sunnah bukan syaratnya khutbah, jadi tidak masalah sama sekali memakai selain bahasa Arab.

Syaikh menjelaskan lagi:

يستحب أن تكون بالعربية ولا يشترط ، ويمكن للخطيب أن يخطب بلغته دون العربية :
وهو قول أبي حنيفة وبعض الشافعية

Disunnahkan menggunakan bahasa Arab dan itu bukan syarat. Dimungkinkan si khathib menggunakan bahasa audiens, bukan bahasa Arab. Inilah pendapat Hanafiyah dan sebagian Syafi’iyyah.

(Fatawa Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 112041)

Pendapat yang ketiga adalah pendapat yang saya pilih. Mengingat tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa bahasa Arab menjadi syarat sahnya khutbah. Disampingnya tujuan khutbah adalah sampainya pesan ke jamaah yg tidak bisa diraih kecuali dgn bahasa yg mereka pahami.

Dalam Majelis Al Majma’ Al Fiqhiy-nya Rabithah ‘Alam Islamiy , dikeluarkan fatwa:

الرأي الأعدل هو أن اللغة العربية في أداء خطبة الجمعة والعيدين في غير البلاد الناطقة بها ليست شرطاً لصحتها ، ولكن الأحسن أداء مقدمات الخطبة وما تضمنته من آيات قرآنية باللغة العربية ، لتعويد غير العرب على سماع العربية والقرآن ، مما يسهل تعلمها ، وقراءة القرآن باللغة التي نزل بها ، ثم يتابع الخطيب ما يعظهم به بلغتهم التي يفهمونها

Pendapat yang paling adil adalah bahwa berkhutbah Jumat di negeri yg tidak berbahasa Arab bukanlah syarat sahnya khutbah Jum’at. Tetapi lebih baik dalam pembukaan khutbah dan membaca kandungan Al Qur’an hendaknya memakai bahasa Arab. Agar orang-orang selain Arab terbiasa mendengar bahasa Arab dan Al Qur’an, juga agar mudah dalam mempelajarinya dan membaca Al Qur’an sesuai bahasa saat turunnya.

Lalu si khathib melanjutkan mau’izhahnya dengan bahasa yang mereka pahami.

(Qararat Al Majma’ Al Fiqhiy, Hal. 99)

Demikian. Wallahu a’lam

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

Anjuran Shalat Sunah di Rumah

💢💢💢💢💢💢💢

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِي بُيُوتِكُمْ فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ صَلَاةُ الْمَرْءِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا الْمَكْتُوبَةَ

Maka, Shalatlah kalian wahai manusia di rumah-rumah kalian. Shalat paling utama bagi seseorang adalah di rumahnya, kecuali shalat wajib.

(HR. Bukhari no. 731)

📙 Hikmah dan Pelajaran :

1. Anjuran untuk menghidupkan shalat Sunnah di rumah

Yaitu shalat qabliyah dan ba’diyah, juga shalat malam, dhuha, … apa sebabnya? Karena hal itu lebih melindungi hati dari riya’ (pamer), sebab shalat sunah itu adalah tambahan, biasanya tambahan itu ada jika yg pokoknya sudah terpenuhi. Maka, saat org melakukan tambahan, seolah dia menunjukkan ke khalayak ramai bahwa dia sudah melewati batas yg pokoknya.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

الصواب أن المراد النافلة وجميع أحاديث الباب تقتضيه ولا يجوز حمله على الفريضة وإنما حث على النافلة
في البيت لكونه أخفى وأبعد من الرياء وأصون من المحبطات وليتبرك البيت بذلك وتنزل فيه الرحمة والملائكة وينفر منه الشيطان كما جاء في الحديث الآخر وهو معنى قوله صلى الله عليه وسلم في الروايةالأخرى فإن الله جاعل في بيته من صلاته خيرا

Yang benar, maksud hadits ini adalah shalat nafilah (tambahan/Sunnah), semua hadits yang membicarakan bab ini menunjukkan seperti itu, tidak boleh memaknai bahwa maksud shalat di rumah itu adalah shalat wajib.

Sesungguhnya, distimulusnya shalat sunah di rumah karena itu lebih tersembunyi dan jauh dari riya’ (pamer ibadah), serta lebih menjaga dari kesia-siaan, dan untuk mendatangkan keberkahan bagi rumah karenanya, mendatangkan rahmat dan turunnya malaikat (pemberi rahmat), dan menjauhinya dari syetan sebagaimana keterangan hadits lain. Inilah makna hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lain, “Allah jadikan kebaikan pada shalat di rumahnya.”

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/67-68)

2. Hadits ini juga menunjukkan anjuran shalat wajib di masjid bagi kaum laki-laki

Imam At Tirmidzi Rahimahullah berkata:

وَقَدْ رُوِيَ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ قَالُوا مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يُجِبْ فَلَا صَلَاةَ لَهُ و قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا عَلَى التَّغْلِيظِ وَالتَّشْدِيدِ وَلَا رُخْصَةَ لِأَحَدٍ فِي تَرْكِ الْجَمَاعَةِ إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

Telah diriwayatkan dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan banyak jalur, mereka mengatakan, “Barangsiapa mendengar adzan lalu tidak memenuhi panggilannya, maka tidak ada shalat baginya.”

Dan sebagian para ahli ilmu berkata; “Hal ini sangat ditekankan dan tidak ada keringanan bagi seseorang untuk meninggalkan shalat berjama’ah kecuali dengan udzur/halangan.” (Sunan At Tirmidzi no. 217)

Jika shalat sunah di rumah dalam rangka menyelamatkan hati dari riya’ …, maka shalat wajib ke masjid adalah syiar yg nyata kehidupan Islami ( sya-aa’ir zhahirah) di sebuah daerah.

3. Anjuran shalat Sunnah di rumah bukan berarti terlarang melakukannya di masjid.

Imam An Nawawi Rahimahullaah membuat Bab dalam penjelasan hadits ini:

باب استحباب صلاة النافلة في بيته وجوازها في المسجد

Bab Disunahkannya Shalat Nafilah di rumah dan boleh shalat Sunnah di masjid

Bahkan ada shalat sunnah tertentu yang bukan di rumah, seperti: tahiyatul masjid, istisqa’ (minta hujan), khusuf (gerhana), ‘id (shalat id), bahkan shalat tarawih lebih utama di masjid menurut mayoritas ulama.

Demikian. Wallahul Muwafiq ilaa aqwaamith Thariq

🌷🌱🌴🌾🌸🍃🌵🍄

✍ Farid Nu’man Hasan

Benarkah Tidak Boleh Makan Aqiqah Keluarga Sendiri?

▫▫▫▫▪▪▪▪

📨 PERTANYAAN:

Indra Lesmana:
Assalamu’alaikum, afwan ustadz kl untuk aqiqah c keluarga/orang tua boleh tidak mengkonsumsi daging sembelihan untuk aqiqah?, masalah nya ana pernah denger kl utk aqiqah beda dengan qurban keluarga/orang tua tdk mendapatkan jatah.

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah ..

Tidak ada dasar larangan memakan daging aqiqah bagi keluarga, itu merupakan larangan berasal dari asumsi semata.

Umumnya ulama mengatakan aqiqah itu sama dengan qurban, sama-sama boleh dimakan oleh pemiliknya. Kecuali aqiqah dan qurban karena nadzar, pada ulama berbeda pendapat apakah boleh makan atau tidak, namun pendapat yg lebih hati-hati adalah tidak boleh.

Ada pun aqiqah yg bukan karena nadzar, tidak masalah sama sekali ..

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

ذهب بعض الفقهاء إلى أن العقيقة كالأضحية في أحكامها ومصارفها ، فيستحب أن يقسمها الإنسان أثلاثا ، ثلثا لنفسه ، وثلثا لأصدقائه ، وثلثا للفقراء .
وذهب بعضهم إلى أن العقيقة ليست كالأضحية ، فيصنع بها ما يشاء .
وعلى كل ، فلو لم تخرج من العقيقة شيئا ، أجزأت .

Para ulama mengatakan bahwa aqiqah itu sama dgn qurban, baik dalam masalah hukumnya dan penyalurannya. Dianjurkan membaginya kepada manusia menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk dirinya, seperti untuk sahabat-sahabatnya, dan seperti untuk org faqir.

Sebagian ulama mengatakan aqiqah berbeda dgn qurban, DIA BEBAS membagikan sekehendak hatinya. Pada masing-masing (Qurban dan Aqiqah), seandainya dia tidak mengeluarkan buat orang lain sedikitpun tetap SAH.

(Fatawa Islam Su’aal wa Jawaab No. 90029)

Syaikh Abdullah Al Faqih juga mengatakan:

فقد سبق أن بينا أقوال أهل العلم في توزيع العقيقة، وأنه يستحب عند بعضهم توزيعها أثلاثا، وعند بعضهم نصفين، وكل ذلك على سبيل الاستحباب، فلا حرج على صاحب العقيقة أن يتصدق بها كلها، أو يأكلها كلها والأمر في ذلك واسع ـ إن شاء الله تعالى 

Kami telah jelaskan tentang perkataan para ulama dalam hal pendistribusian aqiqah, bahwa mereka menganjurkan pembagiannya menjadi tiga bagian, sebagian mereka mengatakan Fifty-Fifty, semua ini Sunnah. Tidak masalah pihak yang beraqiqah menyedekahkan semuanya, atau memakannya semua. Masalah ini begitu luas – Insya Allah.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 141673)

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📗📕📒📔📓

🖋 Farid Nu’man Hasan

Shalat Awwabin; Shalat Dhuha atau Shalat Ba’da Maghrib?

💦💥💦💥💦💥

📨 PERTANYAAN:

Assalamu ‘alaikum .., minta penjelasan shalat awwabin .. (08524533×××)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah ..,

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Al Awwaab, dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Ismail Ath Thahawi adalah:

والأواب هو الذي إذا أذنب ذنبا بادر إلى التوبة

Al Awwaab adalah orang yang jika melakukan sebuah dosa dia segera bertaubat. (Hasyiyah Ath Thahawi ‘Ala Miraqi Al Falaah, Hal. 390)

Mayoritas ulama mengatakan bahwa shalat awwabin adalah shalat dhuha.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب قال : وهي صلاة الأوابين

“Tidaklah yang menjaga shalat dhuha melainkan orang yang Awwab,” Dia bersabda: “Itulah shalat Awwabin.” (HR. Al Hakim, Ibnu Khuzaimah, dan Ath Thabarani. Syaikh Al Albani menghasankan dalam Shahihul Jami’ No. 7628)

Hadits ini menunjukkan pujian bagi orang yang menjaga shalat dhuha, dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menamakannya dengan sebutan Al Awwabin (Orang-orang yang taat dan bertaubat).

Dari Zaid bin Arqam Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

“Shalat Awwabin waktunya adalah ketika unta merasakan panas.” (HR. Muslim No. 748, Ad Darimi No. 1457, Ibnu Hibban No. 2539)

Maksud tarmadhul fishal (ketika Unta merasakan panas) adalah ketika dhuha. Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

قَالَ أَصْحَابنَا : هُوَ أَفْضَل وَقْت صَلَاة الضُّحَى ، وَإِنْ كَانَتْ تَجُوز مِنْ طُلُوع الشَّمْس إِلَى الزَّوَال

“Sahabat-sahabat kami (syafi’iyah) telah berkata: ‘Itu adalah waktu yang paling utama untuk shalat dhuha, dan boleh saja melakukannya dari terbitnya matahari hingga tergelincirnya matahari.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 3/88. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Tapi, ulama lain juga menganggap shalat awwabin adalah shalat sunnah setelah maghrib, sebanyak 6 rakaat, maksimal 20 rakaat. Semua riwayatnya tidak selamat dari kritikan ulama atas validitasnya.

Di antaranya:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من صلى بعد المغرب ست ركعات لم يتكلم بينهن بسوء عدلن له بعبادة ثنتي عشرة سنة

Barangsiapa yang shalat setelah maghrib enam rakaat, dan tidak berbicara buruk di antara itu, maka itu setara dengan ibadah selama dua belas tahun lamanya. (HR. Ibnu Majah No. 1167. At Tirmidzi No 435. Imam Zainuddin Al ‘Iraqi mengatakan: dhaif. Lihat Takhrijul Ihya No. 550. Syaikh Al Albani mengatakan: dhaif jiddan. Lihat Dhaiful Jami’ No. 5661)

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من صلى بين المغرب والعشاء عشرين ركعة بنى الله له بيتا في الجنة

Barang siapa yang shalat antara maghrib dan isya sebanyak dua puluh rakaat maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga. (HR. Ibnu Majah No. 1373, Abu Ya’la No. 4948. Para ulama menyatakan kedhaifan hadits ini seperti Imam As Suyuthi. (Jami’ Ash Shaghir, No. 8805, Al Kattaniy. (Mishbah Az Zujajah No. 485), Husein Salim Asad (Musnad Abi Ya’la No. 4948), sementara Syaikh Al Albani menyatakan palsu. (Dhaiful Jami’ No. 5662) )

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

مَنْ صَلَّى بَعْدَ الْمَغْرِبِ سِتَّ رَكَعَاتٍ كُتِبَ مِنْ الْأَوَّابِينَ

Barang siapa yang shalat setelah maghrib enam rakaat maka dicatat baginya sebagai orang awwabin. (Hadits ini tertera dalam kitab-kitab induk Hanafiyah, seperti Fathul Qadir-nya Imam Kamaluddin bin Al Hummam 1/444, Al Mabsuth-nya Imam As Sarkhasi, 1/157, Tabyin Al Haqaiq-nya Imam Az Zaila’i, 1/172, Al Bahrur Raiq-nya Imam Ibnu Nujaim, 2/54, Hasyiyah Ath Thahawi ‘Ala Miraqi Al Falah-nya Imam Ahamd Ath Thahawi, Hal. 390)

Semua riwayat ini, atau yang semisalnya, tidak lepas dari kritikan para ulama. Sehingga umumnya tidak menjadikannya sebagai hujjah, bahwa shalat enam rakaat atau dua puluh rakaat itulah yang bernama shalat awwabin.

Namun, legalitas shalat awwabin jenis ini, tertera tegas dalam kitab-kitab induk madzhab Hanafiyah dan Syafi’iyyah

Imam Kamaluddin bin Al Hummam berkata:

وَاعْلَمْ أَنَّهُ نُدِبَ إلَى سِتٍّ بَعْدَ الْمَغْرِبِ ….

Ketahuilah, bahwa disunahkan shalat enam rakaat setelah maghrib … (lalu beliau menyebut hadits Ibnu Umar). (Fathul Qadir, 1/444)

Imam As Sarkhasi mengatakan:

وَإِنْ تَطَوَّعَ بَعْدَ الْمَغْرِبِ بِسِتِّ رَكَعَاتٍ فَهُوَ أَفْضَلُ

Dan jika shalat sunah setelah maghrib dilakukan enam rakaat maka itulah yang lebih utama. (Al Mabsuth, 1/157)

Tertulis dalam Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah:

وانفرد الشافعية بتسمية التطوع بين المغرب والعشاء بصلاة الأوابين ، وقالوا : تسن صلاة الأوابين ، وتسمى صلاة الغفلة ، لغفلة الناس عنها ، واشتغالهم بغيرها من عشاء ، ونوم ، وغيرهما ، وهي عشرون ركعة بين المغرب والعشاء ، وفي رواية أخرى أنها ست ركعات

Golongan Syafi’iyah menyendiri dalam penamaan shalat antara maghrib dan isya adalah awwabin. Merkea mengatakan: disunahkan shalat awwabin, dinamakan juga shalat ghfalah (lalai), karena manusia biasa melalaikannya, mereka disibukkan oleh makan malam, tidur, dan selainnya, jumlahnya dua puluh rakaat antara maghrib dan isya, dalam riwayat lain enam rakaat. (Al Mausu’ah, 27/135)

Bagi mereka hadits-hadits tersebut bisa dijadikan dalil, sebagaimana keterangan berikut:

وَقَدْ وَرَدَ فِي إِحْيَاءِ هَذَا الْوَقْتِ طَائِفَةٌ مِنَ الأَْحَادِيثِ الشَّرِيفَةِ، وَإِنْ كَانَ كُل حَدِيثٍ مِنْهَا عَلَى حِدَةٍ لاَ يَخْلُو مِنْ مَقَالٍ، إِلاَّ أَنَّهَا بِمَجْمُوعِهَا تَنْهَضُ دَلِيلاً عَلَى مَشْرُوعِيَّتِهَا

Telah ada sekumplan hadits tentang menghidupkan waktu ini (antara maghrib ke isya), semua hadits tersebut tidak ada yang sepi dari perbincangan, hanya saja jika dikumpulkan semuanya dapat menjadi kuat dan dalil disyariatkannya ibadah tersebut. (Al Mausu’ah, 2/237)

Demikianlah masalah ini. Dapat disimpulkan bahwa mayoritas ulama mengatakan bahwa maksud shalat awwabin adalah shalat dhuha sebab dalilnya lebih shahih. Namun, sebagian ulama juga memasukkan shalat setelah maghrib sebanyak enam rakaat adalah shalat awwabin, berdasarkan gabungan semua hadits yang ada. Oleh karena itu, ada yang mengatakan bahwa shalat awwabin itu adalah dhuha dan shalat sunah ba’da maghrib.

Berikut ini keterangannya:

قال الجمهور : هي صلاة الضحى ، والأفضل فعلها بعد ربع النهار إذا اشتد الحر واستدلوا بحديث النبي صلى الله عليه وسلم : صلاة الأوابين
حين ترمض الفصال

Mayoritas ulama mengatakan: itu adalah shalat dhuha. Waktu aling utama adalah dilakukan setelah seperempat siang ketika matahari mulai panas, mereka berdalil dengan hadits Nabi ﷺ: shalat awwabin adalah ketika unta mulai kepanasan. (Al Mausu’ah, 27/134)

Lalu disebutkan:

وتطلق أيضا على التنفل بعد المغرب .فقالوا : يستحب أداء ست ركعات بعد المغرب ليكتب من الأوابين

Secara mutlak juga, shalata wwabin adalah shalat sunah setelah magrib. Mereka mengatakan disunahkan menunaikannya enam rakaat setelah maghrib agar tercatat baginya sebagai awwabiin.

Lalu juga disebutkan, dan ini merupakan kesimpulannya:

ويؤخذ مما جاء عن صلاة الضحى والصلاة بين المغرب والعشاء أن صلاة الأوابين تطلق على صلاة الضحى ، والصلاة بين المغرب والعشاء . فهي مشتركة بينهما كما يقول الشافعية

Dengan menjadikan riwayat tentang shalat dhuha dan shalat anrara maghrib dan isya, maka shalat awwabin secara mutlak adalah shalat dhuha dan shalat antara maghrib dan ‘Isya, keduanya adalah shalat awwabin sebagaimana dikatakan Syafi’iyah. (Al Mausu’ah, 27/135)

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🌴🌻🌸🌷🌺🌾☘

✏ Farid Nu’man Hasan

scroll to top