Doa Hendak Makan: Allahumma Baarik Lanaa ..dst, Bid’ah?

💦💥💦💥💦💥

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum ,saya mau minta penjelasan tentang do’a sebelum makan, apakah ada hadisnya? Karena ketika anak saya makan dan saya suruh baca do’a, dibantah oleh adik saya yang ikut pengajian SALAFI, katanya do’a sebelum makan itu tidak ada, cukup baca bismillah saja. Tolong dijelaskan dalil-dalilnya

📬 JAWABAN

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa barakatuh. Bismilkah wal Hamdulillah …

Doa hendak makan yang seperti Allahumma Baarik Lanaa fiimaa razaqtanaa .. dst, ada beberapa versi, dan umumnya tidak ada yang sah dari Nabi ﷺ, akan kami sampaikan dua versi saja.

1⃣ Versi Pertama: Allahumma Baarik Lana Fiimaa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaaban naar

Dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, bahwa: Selamanya tidaklah dia diberikan makanan, minuman, bahkan obat, melainkan dia kan membaca: (lalu disebut dzikir yang cukup panjang …, dan kalimat akhirnya adalah:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Allahumma Barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘azaaban naar.” (HR. Malik, no.1672, riwayat Yahya Al Laitsi. Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, No. 25000, 30184)

Disebutkan dari Abdullah bin Amr Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Nabi ﷺ jika mendekati makanan dia berdoa: (maka disebut doa di atas). (Al Kaamil fidh Dhu’afa, 6/206, Lisanul Mizan, 5/165)

Tapi, hadits ini munkar sebagaimana kata Imam Al Bukhari. Imam Ibnu Hajar Rahimahullah berkata:

والصواب قال البخاري منكر الحديث جداً

“Yang benar, menurut Imam Bukhari hadits ini sangat munkar.” (Imam Ibnu Hajar al Asqalani, Lisanul Mizan, 5/165)

Apakah hadits mungkar itu? Secara ringkas, hadits mungkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang buruk hafalannya, banyak salah dan lalainya, dan nampak kefasikannya, serta bertentangan dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh orang terpercaya, dan termasuk kelompok hadits dha’if jiddan (sangat lemah). (Syaikh Dr. Mahmud Ath Thahhan, Taisir al Mushthalah al Hadits, Hal. 80-81)

Sedangkan Prof.Dr. Ali Mushthafa Ya’qub, MA, mengatakan bahwa hadits mungkar adalah hadits paling buruk peringkat ketiga, setelah hadits maudhu’ (palsu) dan hadits matruk (semi palsu). Demikianlah.

Berkata Syaikh Ayman Shalih Sya’ban:

أخرجه مالك في الموطأ عن هشام بن عروة عن أبيه ، فذكره. ولم أقف على هذه الرواية مرفوعة ، وإسناد الأثر صحيح

Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Al Muwatha, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, lalu disebutkan kalimat itu. Dan aku belum temukan riwayat ini secara marfu’ (dari nabi), dan isnad atsar ini SHAHIH.” (Jaami’ Al Ushul, 4/309)

Jadi, yang shahih doa dengan redaksi seperti ini ada tapi bukan dari Nabi, melainkan dari seorang tabi’in bernama ‘Urwah, yaitu ‘Urwah bin Az Zubeir bin Awwam Radhiallahu ‘Anhuma. Sedangkan Imam Ibnu Abi Dunya meriwayatkan bahwa doa ini juga diucapkan oleh ‘Amru bin Al Ash, ketika Beliau hendak makan. (Asy Syukr, No. 169)

2⃣ Versi Kedua: Bismillah, Allahumma baarik lanaa fiima razaqtanaa

Ini juga bukan dari Nabi ﷺ tapi dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu.

Ibnu A’bud berkata: Berkata kepadaku Ali bin Abi Thalib: “Wahai Ibnu A’bud, tahukah kamu apa itu hak makanan?” Aku bertanya: “Apa itu wahai Ibnu Abi Thalib?” Beliau berkata:

بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا

Bismillah, Allahumma baarik lanaa fiima razaqtanaa. (HR. Ahmad, No. 1313, Teks riwayat Ibnus Sunni agak berbeda:” Allahumma Barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘azaaban naar, bismillah.”)

Hadits ini didhaifkan para ulama. Sebab, Ibnu A’bud adalah seorang yang majhul (tidak dikenal), hanya dikenal namanya saja. Ali bin Al Madini berkata: “Tidak dikenal.” Adz Dzahabi berkata: “Dia adalah Ali Al Laitsi.” (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, No. 10755)

Ali bin Al Madini berkata: “Ibnu A’bud tidak dikenal, aku tidak mengetahuinya kecuali pada hadits ini saja.” (Imam Ibnu Abi Hatim Ar Razi, Al Jarh wat Ta’dil, No. 1369)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “Hadits ini dhaif, karena ke-majhul-an Ibnu A’bud.” (Ta’liq Musnad Ahmad, No. 1313)

📌 Mana Yang Shahih?

Jika doa hendak makan seperti itu dhaif, maka dengan apa kita membaca doa hendak makan?

Diriwayatkan dari Umar bin Abi Salamah Radhiallahu ‘Anhu:

فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadaku, “Wahai anak! sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah yang terdekat denganmu.” (HR. Bukhari, No. 5062, 5063. Muslim, No. 2022. Ibnu Majah, No. 3267. Ahmad, No. 15740)

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha:

قَالَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرْ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فَإِنْ نَسِيَ أَنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللَّهِ تَعَالَى فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Beliau bersabda: “Jika salah seorang kalian hendak makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala, jika lupa menyebut nama Allah di awalnya, maka katakanlah: “Bismillahi awwalahu wa akhirahu (Dengan nama Allah di awal dan di akhirnya.” (HR. Abu Daud, No. 3767. At Timidzi, No. 1858. Dalam teks Imam At Tirmidzi agak berbeda yakni: “Jika salah seorang kalian hendak makan, maka katakanlah, “BISMILLAH,” jika lupa membaca di awalnya, maka bacalah, “Bismillahi fi awalihi wa akhirihi.” Beliau berkata: hadits ini hasan shahih. Dengan teks serupa juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, No. 3264. Ahmad, No. 23954. Al Hakim dalam Mustadrak ‘Alas Shahihain, Juz. 16, No. 412, No. 7087, katanya sanad hadits ini shahih, tapi tidak diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain:

كان إذا قرب إليه الطعام يقول : بسم الله ، فإذا فرغ قال : اللهم أطعمت و أسقيت و أقنيت و هديت و أحييت ، فلله الحمد على ما أعطيت

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika disuguhkan kepadanya makanan, dia membaca: “Bismillah,” setelah makan ia membaca,”Allahumma Ath’amta, wa asqaita, wa aqnaita, wa hadaita, wa ahyaita, falillahil hamdi ‘ala maa a’thaita.” (HR. Ahmad, hadits ini shahih, seluruh periwayatnya tsiqah (kredibel) sesuai syarat Imam Muslim, Lihat Silsilah Ash Shahihah, Juz. 1, hal. 70, pembahasan hadits no.71)

Inilah doa yang shahih, yang diperintahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika kita hendak menyantap makanan atau minuman. TAPI APAKAH HANYA INI? TIDAK!

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

من أطعمه الله الطعام فليقل اللهم بارك لنا فيه وأطعمنا خيرا منه ومن سقاه الله لبنا فليقل اللهم بارك لنا فيه وزدنا منه

Siapa yang diberikan makan oleh Allah dengan sebuah makanan, maka hendaknya membaca: ALLAHUMMA BARIK LANAA FIIH WA ATH’AMANA KHAIRAN MINHU, dan barang siapa yang diberikan oleh Allah susu maka hendaknya membaca: ALLAHUMMA BAARIK LANA FIIH WA ZIDNAA MINHU.

(HR. At Tirmdzi No. 3455, Imam At Tirmidzi berkata: hasan. Abu Daud No. 3732, Ahmad No. 1978, Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 5641)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: HASAN. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 1978), juga Syaikh Al Albani mengatakan hasan diberbagai kitabnya. (Al Misykah, Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 3732, Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3455, Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3322, Mukhtashar Asy Syamail No. 176)

Maka, yang sah dari Nabi ﷺ bukan hanya BISMILLAH, tetapi juga bacaan seperti yang tertera di atas.

📌Bagaimana Sikap Para Ulama?

Para ulama berbeda dalam menyikapi penggunaan doa ini. Sebagian ulama ada yang menolak pemakaian tambahan pada doa tersebut. Di antaranya Imam As Suyuthi dan Syaikh Al Albani. Berikut ini kutipannya:

و في هذا الحديث أن التسمية في أول الطعام بلفظ ” بسم الله ” لا زيادة فيها ،
و كل الأحاديث الصحيحة التي وردت في الباب كهذا الحديث ليس فيها الزيادة ، و لا
أعلمها وردت في حديث ، فهي بدعة عند الفقهاء بمعنى البدعة ، و أما المقلدون
فجوابهم معروف : ” شو فيها ؟ ! ” . فنقول : فيها كل شيء و هو الاستدراك على الشارع الحكيم الذي ما ترك شيئا يقربنا إلى الله إلا أمرنا به و شرعه لنا ، فلو كان ذلك مشروعا ليس فيه شيء لفعله و لو مرة واحدة ، و هل هذه الزيادة إلا كزيادة الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم من العاطس بعد الحمد . و قد أنكرها عبد الله بن عمر رضي الله عنه كما في ” مستدرك الحاكم ” ، و جزم السيوطي في ” الحاوي للفتاوي ” ( 1 / 338 ) بأنها بدعة مذم ومة

“Dalam hadits ini menunjukkan bahwa doa tasmiyah pada awal makan dengan lafaz “bismillah” tanpa ada tambahan apa-apa, semua hadits shahih yang membicarakan bab ini juga demikian tanpa ada tambahan, dan saya tidak mengetahui adanya tambahan itu dalam hadits, dan tambahan itu menurut istilah para fuqaha (ahli fiqih) adalah bid’ah, namun bagi orang-orang yang sudah terlanjur menggunakannya akan mengatakan perkataan yang sudah bisa diketahui: “Bukankah doa ini telah banyak dipakai?!”

Kami katakan: “Segala tambahan yang diberikan kepada pembuat syariat, berupa amalan yang jika memang benar itu bisa mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala, pastilah akan diperintahkan oleh syariat, seandainya itu disyariatkan pasti hal itu dilakukan oleh Rasulullah walau cuma sekali. Hal ini seperti menambahkan shalawat kepada Nabi, bagi orang yang membaca Alhamdulillah setelah bersin.

Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘Anhu telah mengingkari tambahan ini sebagaimana dijelaskan dalam Al Mustadrak-nya Imam al Hakim, dan ditegaskan oleh Imam as Suyuthi dalam Al Hawi Lil Fatawa (1/338), bahwa tambahan itu adalah bid’ah tercela.” (Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albany, Silsilah Ash Shahihah, No. 71)

Apa yang dikatakan Syaikh Al Albani bahwa tidak ada tambahan pada doa hendak makan kecuali hanya BISMILLAH, bertentangan dengan riwayat Imam At Tirmidzi, Abu Daud, Al Baihaqi, dan Ahmad dari Ibnu Abbas, yang justru dihasankan olehnya.

Kemudian, di antara Ulama ada yang tidak mempermasalahkan tambahan setelah BISMILLAH, karena pada prinsipnya berdoa itu boleh saja dengan kalimat kebaikan apa pun, bahkan walau dengan untaian sendiri, selama tidak menyandarkannya kepada Nabi ﷺ, namun lebih utama memang doa yang ma’tsur. Bahkan pembolehan ini memiliki dasar yang kuat berdasarkan riwayat Ibnu Abbas di atas. Kenyatannya pembolehan doa makan seperti ini menjadi pendapat para imam madzhab baik Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah.

✅ Malikiyah

Imam Ibnu Abdil Bar Al Maliki Rahimahullah berkata, ketika menjelaskan doa makan dan minum:

والدعاء كثير لا يكاد يحصى وخيره ما كان الداعي بنية ويقين بالإجابة ويكفي من ذلك قوله في أول الطعام بسم الله الرحمن الرحيم وفي آخره الحمد لله رب العالمين اللهم بارك لنا في ما رزقتنا وقنا عذاب النار

Doa itu banyak dan tidak terhitung. Dan yang terbaik adalah orang yang berdoa mesti memiliki niat dan keyakinan bahwa doanya dikabulkan, dan cukup baginya ketika di awal makan membaca: “BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM” dan di akhirnya ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘ALAMIN ALLAHUMMAH BAARIK LANA FI MAA RAZAQTANA WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR. (Al Istidzkaar, No. 39885)

Sementara, Imam Abul Barakat Ad Dardiri Al Maliki Rahimahullah (Maliki) mengatakan hal itu adalah dianjurkan (mandub/sunnah):

وندب زيادة: اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وزدنا خيرا منه

Disunahkan membaca tambahan: Allahumma baarik lanaa fiimaa razaqtanaa wa zidnaa khairan minhu. (Asy Syarh Al Kabir, 1/ 103)

Hal serupa dikatakan oleh Imam Ad Dasuqi Al Maliki dalam Hasyiyahnya. (Hasyiyah Ad Dasuqi, 1/103)

✅ Syafi’iyah

Syaikh Al ‘Allamah Sulaiman Al Jamal Asy Syafi’i mengatakan tambahan itu adalah sunnah, yakni bismillah Allahumma barik lana fiima razaqtana wa qinaa ‘adzaaban naar. (Hasyiyah Al Jamal, 1/357).

Imam Ibnu Al Wardi Asy Syafi’i Rahimahullah berkata:

وَأَنْ يَقُولَ إذَا قَرَّبَ إلَيْهِ الطَّعَامَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ بِسْمِ اللَّهِ

Dan jika didekatkan kepadanya makanan hendaknya membaca: ALLAHUMMA BAARIK LANA FIIMAA RAZAQTANAA WA QINAA ‘ADZAABAN NAAR BISMILLAH. (Syarh Al Bahjah Al Wardiyah, 15/226)

Hanabilah (Hambaliyah)

Imam Ar Rahibani Al Hambali Rahimahullah berkata:

وَمَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَلْيَقُلْ اسْتِحْبَابًا : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ , وَإِذَا شَرِبَ لَبَنًا قَالَ : اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ , وَزِدْنَا مِنْهُ

Barang siapa yang makan hendaknya membaca dan ini disukai (sunnah): ALLAHUMMA BARIK LANAA FIIH WA ATH’AMANA KHAIRAN MINHU, dan barang siapa yang diberikan oleh Allah susu maka hendaknya membaca: ALLAHUMMA BAARIK LANA FIIH WA ZIDNAA MINHU. (Mathalib Ulin Nuha, 5/251)
Imam Al Bahuti Al Hambali Rahimahullah juga berkata demikian. (Kasysyaf Al Qina’, 17/379)

Dan, masih sangat-sangat banyak para ulama menganjurkan tambahan doa bukan hanya BISMILLAH, dalam kitab-kitab fuqaha madzhab. Oleh karena itu, jangan tergesa-gesa melarangnya atau mengingkarinya.

📚 Kesimpulan:

📕 Membaca Tambahan selain BISMILLAH adalah sah dan boleh, seperti yang Nabi ﷺ contohkan dalam hadits riwayat Imam At Tirmidzi, Abu Daud, Ahmad, dan Al Baihaqi, dari Ibnu Abbas. Dengan sanad yang hasan, sebagaimana dikatakan Imam At Tirmidzi, Syaikh Syuaib Al Arnauth, dan Syaikh Al Albani.

📗 Bagi yang hanya membaca BISMILLAH saja, tanpa tambahan apa pun juga benar, sebagaimana hadits-hadits shahih Muttafaq ‘Alaih, dan lainnya.

📘 Tersebar di kitab fuqaha madzhab, khususnya Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hambaliyah, bahwa bacan hendak makan bukan hanya Bismillah.

📙 Yang salah adalah yang tidak membaca doa, justru bernyanyi, atau tertawa, atau bersiul, sebelum makan.

Demikian. Wallahu A’lam

📓📕📗📘📙📔📒

✏ Farid Nu’man Hasan

Hukum Memakai “Bin” Untuk Ayah Angkat

▫▪▫▪▫▪▫▪

📨 PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum ustadz.. selamat hari raya, taqaballahu minna wa minkum..

Izin bertanya ustadz, apa hukumnya menggunakan nama dengan bin ayah kandung atau ayah angkat ketika menikah? Apakah wajib menggunakan nama bin ayah kandung, atau boleh tetap menggunakan bin ayah angkat? (+62 856-1824-xxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Taqabbal ya karim ..

Tidak boleh memakaikan bin ke ayah angkat, wajib ke ayah kandung yaitu ayah yang sah secara syariat.

Allah Ta’ala berfirman:

ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ

Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah.

(QS. Al-Ahzab, Ayat 5)

Dahulu, Nabi ﷺ memiliki budak bernama Zaid bin Haritsah, lalu dimerdekakan, dan diangkat menjadi anak ( jadi anak angkat), dan manusia memanggilnya dengan ZAID BIN MUHAMMAD lalu turunlah ayat di atas.

Al Wahidiy bercerita, Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma berkata:

ما كنا ندعو زيد بن حارثة إلا زيد بن محمد حتى نزلت في القران: ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ

Dahulu kami tidak memanggil Zaid bin Haritsah melainkan dengan Zaid bin Muhammad, sampai Allah turunkan ayat:

Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah.

(Asbabun Nuzul, Hal. 256)

Bahkan bin kepada bukan ayah kandung, merupakan dosa besar .. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ، وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

Barang siapa yang mengklaim seorang yang bukan ayahnya, padahal dia tahu (itu bukan ayahnya), maka surga haram baginya.

(HR. Al Bukhari No. 4326, Muslim, 115/63)

Demikian. Wallahu a’lam

🌻🌿🌸🍃🍄🌷 💐☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Shalat Fardhu/Wajib Di Kendaraan, Boleh atau Tidak?

▫▪▫▪▫▪▫▪

📨 PERTANYAAN:

Ustadz, mohon izin bertanya.
Benarkah bahwa shalat di atas kendaraan hanya untuk shalat sunnah saja? (+62 856-8042-xxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim ..

Shalat fardhu (wajib) di kendaraan tanpa alasan, tanpa ‘udzur, memang tidak boleh, tapi jika ada alasan yang syar’iy tentu boleh, baik bagi shalat wajib dan sunnah. Hal ini jika memang tidak mungkin untuk turun atau singgah.

‘Amr bin Rabi’ah Radhiallahu Anhu berkata:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الرَّاحِلَةِ يُسَبِّحُ يُومِئُ بِرَأْسِهِ قِبَلَ أَيِّ وَجْهٍ تَوَجَّهَ وَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ ذَلِكَ فِي الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ

“Aku melihat Rasulullah ﷺ di atas hewan tunggangannya bertasbih dengan memberi isyarat dengan kepala beliau kearah mana saja hewan tunggangannya menghadap. Rasulullah ﷺ tidak pernah melakukan seperti ini untuk shalat-shalat wajib”. (HR. Bukhari no. 1097)

Imam An Nawawi Rahimahullah menerangkan:

وَفِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الْمَكْتُوبَةَ لَا تَجُوزُ إِلَى غَيْرِ الْقِبْلَةِ وَلَا عَلَى الدَّابَّةِ وَهَذَا مُجْمَعٌ عَلَيْهِ إِلَّا فِي شِدَّةِ الْخَوْفِ

Di dalamnya terdapat dalil, tidak bolehnya shalat wajib tanpa menghadap kiblat dan tidak boleh pula shalat wajib di atas kendaraan, dan ini perkara yang telah disepakati, kecuali keadaan yang begitu mengkhawatirkan.

(Syarh Shahih Muslim, 5/211)

Imam An Nawawi Rahimahullah berkata:

قال أَصْحَابُنَا وَلَوْ حَضَرَتْ الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ وَهُمْ سَائِرُونَ وَخَافَ لَوْ نَزَلَ لِيُصَلِّيَهَا عَلَى الْأَرْضِ إلَى الْقِبْلَةِ انْقِطَاعًا عَنْ رُفْقَتِهِ أَوْ خَافَ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ مَالِهِ لَمْ يَجُزْ تَرْكُ الصَّلَاةِ وَإِخْرَاجُهَا عَنْ وَقْتِهَا بَلْ يُصَلِّيهَا عَلَى الدَّابَّةِ لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ وَتَجِبُ الْإِعَادَةُ لِأَنَّهُ عُذْرٌ نَادِرٌ هَكَذَا ذَكَر الْمَسْأَلَةَ جَمَاعَةٌ مِنْهُمْ صَاحِبُ التَّهْذِيبِ وَالرَّافِعِيُّ وَقَالَ الْقَاضِي حُسَيْنٌ يُصَلِّي عَلَى الدَّابَّةِ كَمَا ذَكَرْنَا قَالَ وَوُجُوبُ الْإِعَادَةِ يَحْتَمِلُ وَجْهَيْنِ أَحَدَهُمَا لَا تَجِبُ كَشِدَّةِ الْخَوْفِ وَالثَّانِي تَجِبُ لِأَنَّ هَذَا نَادِرٌ

Para sahabat kami (Syafi’iyah) mengatakan: Jika masuk waktu shalat WAJIB, dan mereka dalam posisi perjalanan, dan khawatir jika shalatnya mereka menghadap kiblat membuat mereka terputus dari rombongan, atau khawatir atas keselamatan diri sendiri, atau hartanya, di sisi lain shalat tidak boleh ditinggalkan atau keluar dari waktunya, maka hendaknya dia shalat di atas kendaraannya untuk menghormati waktunya, dan wajib baginya nanti untuk mengulanginya karena itu adalah ‘udzur yang langka.

Demikianlah bahasan masalah ini, seperti yang dikatakan segolongan ulama di antara mereka pengarang At Tahdzib dan Ar Rafi’iy.

Al Qadhi Husein mengatakan tentang shalat di atas kendaraan seperti yang kami sebutkan, menurutnya kewajiban mengulangi itu ada dua makna: Pertama. TIDAK WAJIB mengulangi karena sama dengan shalat dalam keadaan sangat khawatir/khauf. Kedua. WAJIB ulangi, sebab ini udzur yang langka.

(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/242)

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah mengatakan:

ونقل عن بعضهم أنه لا تجب الإعادة، لأن فعل الفرض يطلب مرة واحدة، وهو الراجح، وإن كانت الإعادة أحوط

Dinukil dari sebagian ulama TIDAK WAJIBnya mengulangi shalatnya, karena melakukan shalat wajib itu hanya sekali di waktu yang sama, inilah pendapat yang lebih kuat, walau mengulangi itu adalah lebih hati-hati.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 14833)

Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:

تصح الصلاة في السفينة والقاطرة والطائرة بدون كراهية حسبما تيسر للمصلي. فعن ابن عمر قال: سئل النبي صلى الله عليه وسلم عن الصلاة في السفينة؟ قال: (صل فيها قائما إلا أن تخاف الغرق) رواه الدار قطني والحاكم على شرط الشيخين، وعن عبد الله بن أبي عتبة قال: صحبت جابر بن عبد الله وأبا سعيد الخدري وأبا هريرة في سفينة فصلوا قياما في جماعة، أمهم بعضهم وهم يقدرون على الجد، رواه سعيد بن منصور

“Shalat di kapal laut, kereta, dan pesawat, adalah sah tanpa dimakruhkan sama sekali, jika memang itu yang mungkin dilakukan. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang shalat di kapal laut. Dia menjawab: “Shalatlah di dalamnya dengan berdiri, kecuali jika engkau takut tenggelam.” Diriwayatkan oleh Ad Daruquthni dan Al Hakim sesuai syarat Bukhari-Muslim.

Dan dari Abdullah bin Abi Utbah, dia berkata: “Aku pernah menemani Jabir bin Abdullah, Abu Said al Khudri, dan Abu Hurairah di dalam apal laut. Mereka shalat sambil berdiri secara berjamaah dengan diimami salah seorang dari mereka, padahal mereka masih ada peluang shalat dipantai.” (HR. Said bin Manshur).” (Fiqhus Sunnah, 1/292)

Kebolehan shalat di kendaraan ini dipertegas lagi oleh perbuatan para salaf, baik kalangan sahabat dan murid-murid mereka, baik duduk atau berdiri, seperti yang dibuktikan dalam berbagai riwayat-nya Imam Ibnu Abi Syaibah sebagai berikut:

عن مجاهد قال كنا نغزو مع جنادة بن أبي أميه البحر فكنا نصلي في السفينة قعودا

Dari Mujahid, dia berkata: “Kami perang bersama Junadah bin Abu Umayyah di lautan, maka kami shalat di kapal laut sambil duduk.”

أن ابن سيرين قال خرجت مع أنس إلى بني سيرين في سفينة عظيمة قال فأمنا فصلى بنا فيها جلوسا ركعتين ثم صلى بنا ركعتين أخراوين

Bahwa Ibnu Sirin berkata: “Aku keluar bersama Anas menuju Bani Sirin dengan kapal besar, dia mengimami kami dan shalat dengan kami di dalamnya dengan cara duduk dua rakaat, kemudian shalat lagi dua raka’at lainnya.”

عن أبي قلابة أنه كان لا يرى بأسا بالصلاة في اسفينة جابسا. حدثنا وكيع عن أبي خزيمة وطاوس قال صل قاعدا

Dari Abu Qilabah bahwa dia memandang tidak masalah shalat di kapal sambil duduk. Telah bercerita kepada kami Waki’, dari Abu Khuzaimah dan Thawus, dia berkata: Shalatlah dengan cara duduk!

عن ابن سيرين أنه قال في الصلاة في السفينة إن شئت قائما وأن شئت قاعدا والقيام أفضل

Dari Ibnu Sirin, bahwa dia berkata tentang shalat di kapal laut: “Jika kau mau duduklah, namun berdiri lebih utama.” (Lihat semua dalam Al Mushannaf Ibni Abi Syaibah, 2/266-267)

Shalatnya para sahabat dan tabi’in secara berjamaah di kendaraan, dan berulang-ulang, menunjukkan mereka shalat wajib.

Demikian. Wallahu a’lam

🌻🌿🌸🍃🍄🌷 💐☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Ambil yang Baik dan Buang yang Buruk

▪▫▪▫▪▫▪▫

📨 PERTANYAAN:

Assalamu’alaikumu ust ,apa pendapat ust ,jika ada dalam majelis ilmu, kata kata”Ambil baiknya ,buang buruk nya”.
Afwan (+62 853-9146-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh ..

Kalimat itu benar. Sebagian kalangan ada nyinyir terhadap ucapan “ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk”, dan menyebutnya kaidah maling sendal di masjid. Ini gagal paham terhadap kehidupan dan fakta ilmiah para salaf.

Bagi yang dekat dgn kitab -kitab para ulama, kita akan dapati sebagian ulama Ahlus Sunnah mengambil yg bermanfaat dari Al Kasysyaf-nya Az Zamakhsariy, seorang ahli tafsir Mu’tazilah, tapi yang buruk darinya tidaklah mereka ambil.

Para ulama salaf, mengambil fiqih dari Imam Hasan bin Shalih bin Hay, tapi mereka tidak ambil haditsnya, seperti sikap Imam Sufyan Ats Tsauriy kepadanya.

Begitu pula, sikap para ulama terhadap Ihya ‘Ulumuddin-nya Imam Al Ghazaliy, .. Imam Ibnu Taimiyah berkata:

وَالْإِحْيَاءُ فِيهِ فَوَائِدُ كَثِيرَةٌ ، لَكِنَّ فِيهِ مَوَادَّ مَذْمُومَةً ، فَإِنَّ فِيهِ مَوَادَّ فَاسِدَةً مِنْ كَلَامِ الْفَلَاسِفَةِ تَتَعَلَّقُ بِالتَّوْحِيدِ وَالنُّبُوَّةِ وَالْمَعَادِ

“Kitab Al Ihya, di dalamnya terdapat banyak faedah (manfaat), tetapi di dalamnya juga terdapat materi-materi yang tercela, materi merusak yang berasal dari ucapan filsuf yang terkait masalah tauhid, kenabian, dan akhirat.” (Imam Ibnu Tamiyah, Al Fatawa Al Kubra, 5/86)

Justru kebiasaan Ahli Bid’ah adalah mereka hanya mau mengambil yang sejalan dengan dirinya saja, hanya yang sekelompok dengan dirinya saja, sementara Ahlus Sunnah akan mengambil yang bermanfaat dari yang sejalan dan tidak sejalan dengannya.

Imam Waki’ Ibnu Jarrah Rahimahullah berkata:

إن أهل العلم يكتبون ما لهم وما عليهم وأهل الأهواء لا يكتبون إلا ما لهم

“Sesungguhnya para ulama mengambil ilmu dari orang-orang yang sejalan dengan mereka dan juga dari yang tidak sejalan dengan mereka. Adapun para pengekor hawa nafsu (ahlul bid’ah), mereka tidak akan menulis ilmu kecuali dari yang sejalan saja dengan mereka.”

(Ahadits fi Dzammi ‘Ilmi Al Kalam, 2/188)

Demikian. Wallahu a’lam

🌻🌿🌸🍃🍄🌷 💐

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top