Hukum Menyebut Almarhum Untuk Muslim

💥💦💥💦💥💦

Sebagian muballigh melarang penyebutan “AlMarhum” bagi mayat muslim sebab itu merupakan pemastian adanya rahmat bagi mayat tersebut, padahal mayat tersebut belum tentu shalih.

Kita lihat fatwa ulama ..

1⃣ Syaikh Abdullah bin Abdirrahman Al Jibrin Rahimahullah

س : ما حكم إطلاق كلمة المرحوم أو المغفور له على الميت؟
– أرى أنه لا بأس بذلك تفاؤلا كالدعاء كما يقال غفر الله له، فهو مغفور له بواسطة دعاء إخوانه المسلمين، وليس في ذلك جزم ولا تزكية

Pertanyaan: apa hukum memutlakan kata Al Marhum (yang dirahmati) atau Al Maghfur lahu (yang diampuni) kepada mayit?

Jawaban: (Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin Rahimahullah)

Saya memandang hal itu tidak apa-apa dengan menyikapinya selayaknya doa, sebagaimana disebutkan ghafarallahu lahu (semoga Allah mengampuninya), maka dia mendapakan ampunan dengan sebab doa saudara-saudaranya kaum musliman, yang demikian itu bukanlah kalimat jazm (pemastian) dan bukan pula tazkiyah (pensucian/pengkultusan). (Fatawa Asy Syaikh Ibnu Jibrin, 81/17. Syamilah)

2⃣ Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah juga mengatakan:

وهو قولك المرحومة والدتي المرحومة فإن بعض الناس ينكر هذا اللفظ يقولون إننا لا نعلم هل هذا الميت من المرحومين أو ليس من المرحومين وهذا الإنكار في ملحه إذا كان الإنسان يخبر خبراً عن أن هذا الميت قد رحم لأنه لا يجوز أن نخبر أن هذا الميت قد رحم أو عذب بدون علم قال الله تعالى (وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ) لكن الناس لا يريدون بذلك الإخبار قطعاً فالإنسان الذي يقول المرحوم الوالد أو المرحومة الوالدة أو المرحومة الأخت أو الأخ أو ما أشبه ذلك لا يريدون بهذا الجزم أو الإخبار أنهم مرحومون وإنما يريدون بذلك الدعاء أن الله تعالى قد رحمهم والرجاء وفرق بين الدعاء والخبر ولهذا نحن نقول فلان رحمه الله فلان غفر الله له ولا فرق من حيث اللغة العربية بين قولنا فلان المرحوم وفلان رحمه الله لأن جملة رحمه الله جملة خبرية والمرحوم بمعنى الذي رحم فهي أيضاً خبرية فلا فرق بينهما أي بين مدلولهما باللغة العربية فمن منع المرحوم يجب أن يمنع فلان رحمه الله على كل حال نقول لا إنكار في هذه الجملة أي في قولنا فلان المرحوم وفلان المغفور له وما أشبه ذلك لأننا لسنا نخبر بذلك خبراً ونقول إن الله قد رحمه وأن الله قد غفر له ولكننا نسأل الله ونرجو فهو من باب الرجاء والدعاء وليس من باب الإخبار وفرق بين هذا وهذا

Dan ucapan Anda “Al Marhumah Ibuku”, sesungguhnya Al Marhumah telah diingkari oleh sebagian manusia. Mereka mengatakan sesungguhnya kita tidak mengetahui apakah mayit ini termasuk yang mendapatkan rahmat atau tidak termasuk. Pengingkaran ini adalah pada penghormatannya, jika manusia membawa berita tentang mayit tersebut bahwa dia telah dirahmati sesungguhnya tidak boleh kita mengabarkan bahwa mayit ini telah mendapatkan rahmat atau azab tanpa ilmu. Allah Ta’ala berfirman: (janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya)

Tetapi mereka tidaklah memaksudkannya sebagai kabar yang menunjukkan kepastian. Manusia yang mengucapan Al Marhum ayahku, Al Marhumah ibuku, Al Marhum saudaraku yang laki-laki, Al Marhumah saudaraku yang perempuan, atau yang semisalnya, tidaklah memaksudkannya sebagai bentuk memastikan atau pengabaran bahwa mereka dirahmati. Sesungguhnya mereka memaksudkannya sebagai doa, bahwasanya Allah Ta’ala telah merahmati mereka dan sebagai pengharapan, dan berbeda antara doa dan pengabaran. Oleh karenanya kita mengatakan: fulan rahimahullah, fulan ghafarallahu lahu, dan tidak ada perbedaan dari sisi bahasa Arab antara ucapan fulan Al Marhum dengan fulan rahimahullah. Karena rahimahullah merupakan kalimat khabariyah (jumlah khabariyah), sedangkan Al Marhum dengan makna yang mendapatkan rahmat, juga kalimat khabariyah. Maka tidak ada perbedaan antara keduanya, yaitu tidak ada perbedaan dari sisi bahasa. Maka, barang siapa yang melarang Al Marhum wajib melarang pula fulan rahimahullah bagaimana pun keadaannya.

Kita katakan, tidak ada pengingkaran pada kalimat ini yaitu pada ucapan kita: Si Fulan Al Marhum dan Si fulan Al Maghfur Lahu, dan yang semisalnya. Sesungguhnya dengan kalimat itu kami tidak menyampaikan sebuah berita dengan perkataan: sesungguhnya Allah Ta’ala telah merahmatinya dan telah mengampuninya. Tetapi, kita memohon kepada Allah Ta’ala dan berharap, dan ini masuk dalam bab pengharapan (Ar Raja) dan doa, bukan masuk bab pengabaran, dan antara ini dan ini berbeda. (Syaikh Ibnu Al ‘Utsaimin, Fatawa Nur ‘Alad Darb Bab Al Janaaiz)

🍃☘🌾🌻🌺🌴🌿🌹

✏ Farid Nu’man Hasan

Hikmah dan Peristiwa Isra Miraj

💦💥💦💥💦💥💦

I. Definisi

Isra’ artinya perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa pada malam hari. Hal ini sesuai ayat:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (QS. Al Isra (17): 1)

Mi’raj artinya perjalanan naiknya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari Masjidil Al Aqsa ke Sidratul Muntaha di langit ke tujuh. Hal ini sesuai dengan ayat:

وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آَيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى(18)

Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS. An Najm (53): 13-18)

II. Kapan Peristiwanya?

Tidak ada kesepakatan para ulama hadits dan para sejarawan muslim tentang kapan peristiwa ini terjadi, ada yang menyebutnya Rajab, dikatakan Rabiul Akhir, dan dikatakan pula Ramadhan atau Syawal. (Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 7/242-243)

Imam Ibnu Hazm mengatakan terjadinya pada bulan Rajab, di tahun kedua belas kenabian. Sementara Imam Al Hafizh Abdul Ghani Al Maqdisi mengatakan terjadinya pada malam 27 Rajab. (Al Quran Al Karim wa Tafsiruhu, 5/429)

Imam Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, bahwa banyak ulama yang melemahkan pendapat bahwa peristiwa Isra terjadi pada bulan Rajab, sedangkan Ibrahim Al Harbi dan lainnya mengatakan itu terjadi pada Rabi’ul Awal. (Ibid Hal. 95).

Beliau (Imam Ibnu Rajab) juga berkata:

و قد روي: أنه في شهر رجب حوادث عظيمة ولم يصح شيء من ذلك فروي: أن النبي صلى الله عليه وسلم ولد في أول ليلة منه وأنه بعث في السابع والعشرين منه وقيل: في الخامس والعشرين ولا يصح شيء من ذلك وروى بإسناد لا يصح عن القاسم بن محمد: أن الإسراء بالنبي صلى الله عليه وسلم كان في سابع وعشرين من رجب وانكر ذلك إبراهيم الحربي وغيره

“Telah diriwayatkan bahwa pada bulan Rajab banyak terjadi peristiwa agung dan itu tidak ada yang shahih satu pun. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilahirkan pada awal malam bulan itu, dan dia diutus pada malam 27-nya, ada juga yang mengatakan pada malam ke-25, ini pun tak ada yang shahih. Diriwayatkan pula dengan sanad yang tidak shahih dari Al Qasim bin Muhammad bahwa peristiwa Isra-nya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terjadi pada malam ke-27 Rajab, dan ini diingkari oleh Ibrahim Al Harbi dan lainnya.” (Lathaif Al Ma’arif Hal. 121. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sementara, Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani mengutip dari Ibnu Dihyah, bahwa: “Hal itu adalah dusta.” (Tabyinul ‘Ajab hal. 6). Imam Ibnu Taimiyah juga menyatakan peristiwa Isra’ Mi’raj tidak diketahui secara pasti, baik tanggal, bulan, dan semua riwayat tentang ini terputus dan berbeda-beda.

III. Ruh dan jasad, atau ruh saja?

Mayoritas Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa perjalanan Isra Mi’raj yang dialami Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah ruh dan jasad sekaligus. Hal ini berdasarkan nash ayat:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha (QS. Al Isra: 1)

Kata bi’abdihi – hambaNya, menunjukkan perjalanan tersebut adalah ruh dan jasad sekaligus, sebab seseorang dikatakan ‘abdu (hamba) jika terdapat unsur keduanya.

Inilah pendapat Ibnu Abbas, Jabir, Anas, Khudzaifah, Umar, Abu Hurairah, Malik bin Sha`sha`ah, Abu Habbah Al Badriyyi, Ibnu Mas`ud, Dhahak, Said bin Jubair, Qatadah, Ibnu Musayyib, Ibnu Syihab, Ibnu Zaid, Al Hasan, Ibrahim, Masruq, Mujahid, Ikrimah, Ibnu Juraij, dengan dalil ucapan Aisyah dan pendapat para ulama ahli fiqh Muta`akhirin , para ahli hadits, para ahli bahasa, dan para ahli tafsir.

Syaikh Shalih Fauzan Hafizhahullah berkata:

الإسراء والمعراج كانا بالجسم والروح معًا، هذا قول الجمهور من أهل العلم، وذلك لقوله تعالى : { سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ } [ الإسراء : 1 . ] ، والعبد اسم للروح والجسم، وليس اسمًا للرُّوح فقط، وقد جاء في حديث النبي صلى الله عليه وسلم في ذكر الإسراء والمعراج ؛ أنه جاءه جبريل بدابَّة اسمها البُراق، وأركبه عليها، وذهب إلى بيت المقدس، وصلى بالأنبياء هنا . . . كل هذا يعطي أنه بالجسم والرُّوح معًا، وهذا قول الجماهير من أهل العلم، ولم يخالفهم فيه إلا طائفة يسيرة

Isra’ Mi’raj terjadinya dengan jasad dan ruh secara bersamaan, inilah pendapat mayoritas ulama. Hal ini berdasarkan ayat: Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha. (QS. Al Isra: 1).

Kata Al ‘Abdu merupakan nama bagi ruh dan jasad, bukan nama bagi ruh saja. Hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menceritakan tentang Isra Mi’raj; bahwa Jibril mendatangi Beliau dengan membawa hewan bernama Buraq, dia menungganginya, lalu dnegannya pergi menuju Baitul Maqdis dan shalat di sana bersama para nabi ………. Semua ini menunjukkan terjadinya adalah ruh dan jasad sekaligus, dan inilah pendapat mayoritas ulama, dan tidak ada yang menyelisihinya kecuali kelompok yang sedikit saja. (Al Muntaqa min Fatawa Al Fauzan, 7/3)

Lalu kafirkah orang yang menyatakan bahwa Isra Mi’raj hanya ruh saja tanpa jasad? Syaikh Shalih Fauzan berkata lagi:

وأما من أنكر الإسراء بالجسم؛ فهو لا يكفر؛ لأنه قال به بعض السَّلف؛ قالوا : إنَّ الإسراء بالرُّوح فقط، يقظة لا منامًا . وإن كان هذا القول مرجوحًا وضعيفًا، لكن من أخذ به؛ فإنه يكون مُخطئًا، ولا يكفر بذلك

Ada pun orang yang mengingkari Isra Mi’raj dengan jasad, maka dia tidak dikafirkan, karena sesungguhnya sebagian salaf ada yang berpendapat demikian. Mereka mengatakan bahwa Isra itu hanya ruh saja, dalam keadaan sadar dan bukan mimpi. Ini adalah pendapat yang lemah, tetapi siapa pun yang mengambil pendapat ini maka dia termasuk berbuat salah, dan tidak dikafirkan karena itu. (Ibid)

IV. Hikmah Isra’ Mi’raj

1⃣ Ujian Iman kepada Allah bahwa Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu

Bagi sebagian orang dahulu dan sekarang, tidak mempercayai kejadian ini. Mereka memandang dengan akal semata, bahwa mustahil manusia mengalami ini dalam waktu semalam saja.

Di tambah lagi berbagai kisah tentang berjumpanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan para nabi sebelumnya di masing-masing lapisan langit, serta pemandangan tentang surga dan neraka.

Ada pun bagi seorang mu’min amat meyakini wallahu ‘ala kulli syai’in qadiir, Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Jika saja ada peristiwa yang lebih besar dan lebih “tidak masuk akal” dari Isra’ Mi’raj, nisacaya bagi seorang mu’min tetap akan meyakininya. Sebab, hal-hal seperti adalah peristiwa yang sangat mudah bagi Allah Ta’ala untuk menjadikannya.

2⃣ Ujian Iman kepada kebenaran risalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Seorang mu’min wajib meyakini tanpa ragu sedikitpun, bahwa apa yang dibawa dan diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah benar adanya. Lihatlah yang dilakukan Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu ‘Anhu tentang peristiwa ini.

‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha menceritakan dengan sanad yang shahih:

لما أسري بالنبي صلى الله عليه وسلم إلى المسجد الأقصى أصبح يتحدث الناس بذلك فارتد ناس فمن كان آمنوا به وصدقوه وسمعوا بذلك إلى أبي بكر رضى الله تعالى عنه فقالوا هل لك إلى صاحبك يزعم أنه أسري به الليلة إلى بيت المقدس قال أو قال ذلك قالوا نعم قال لئن كان قال ذلك لقد صدق قالوا أو تصدقه أنه ذهب الليلة إلى بيت المقدس وجاء قبل أن يصبح قال نعم أني لأصدقه فيما هو أبعد من ذلك أصدقه بخبر السماء في غدوة أو روحة فلذلك سمي أبو بكر الصديق

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Isra (perjalanan malam) menuju Masjidil Aqsha, paginya beliau menceritakan hal itu kepada manusia dan manusia mengingkarinya. Sedangkan bagi yang mempercayainya, membenarkannya, dan mendengarkan hal itu, mereka mendatangi Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu. Mereka mengatakan: “Apakah kau dengar sahabatmu bahwa dia menyangka melakukan perjalanan malam hari menuju Baitul Maqdis?” Beliau (Abu Bakar) menjawab: “Dia mengatakan demikian?” Mereka menjawab: “Ya.” Abu Bakar berkata: “Jika benar dia berkata demikian maka dia telah benar (shadaqa).” Mereka mengatakan: “Apakah kau membenarkan bahwa dia pergi pada malam hari ke Baitul Maqdis dan sudah pulang sebelum subuh?” Abu Bakar menjawab: “Ya, saya membenarkannya walau pun dalam jarak yang lebih jauh dari itu.” Beliau membenarkan berita dari langit baik pada pagi atau malam, oleh karena itu dia dinamakan Abu Bakar Ash Shiddiq.

(HR. Al Hakim, Al Mustadrak No. 4407, Imam Al Hakim mengatakan: sanadnya shahih tetapi Bukhari – Muslim tidak meriwayatkannya. Imam Adz Dzahabi menyepakati keshahihan hadits ini. Abu Nu’aim, Ma’rifatush Shahabah No. 69. Syaikh Al Albani menyatakan shahih dalam As Silsilah Ash Shahihah, 1/615, No. 603)

3⃣ Keagungan dan keistimeaan ibadah shalat

Shalat adalah ibadah yang diperintahkan ketika Rasulullah di langit, sementara ibadah lain diperintahkan ketika Rasulillah di bumi. Shalat merupakan “mi’raj”-nya orang-orang mukmin di dunia. Shalat merupakan tiangnya agama, dan para sahabat nabi memandang pembeda antara kekafiran dan keislaman seseorang adalah shalat.

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

فُرِضَتْ عَلَى النّبِيّ صلى الله عليه وسلم لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِهِ الصَلوَاتُ خَمْسِينَ، ثُمّ نُقِصَتْ حَتّى جُعِلَتْ خَمْساً، ثُمّ نُودِيَ: يا محمدُ: إِنّهُ لاَ يُبَدّلُ الْقَوْلُ لَدَيّ وَإِنّ لَكِ بِهَذِهِ الْخَمْسِ خَمْسينَ

“Telah difardhukan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat pada malam beliau diisra`kan 50 shalat. Kemudian dikurangi hingga tinggal 5 shalat saja. Lalu diserukan, “Wahai Muhammad, perkataan itu tidak akan tergantikan. Dan dengan lima shalat ini sama bagi mu dengan 50 kali shalat.”

(HR. At Tirmidzi No. 213, katanya: hasan shahih gharib. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 213)

4⃣ Kemuliaan Masjidul Haram dan Masjidul Aqsha

Keduanya dianjurkan untuk diziarahi, juga Masjid Nabawi. Keduanya adalah kiblat umat Islam; pertama adalah Al Aqsha, lalu dipindahkan ke Al Haram. Shalat di keduanya memiliki kelipatan yang sangat banyak dibanding masjid lain.

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🌾🌻🌴🌺☘🌷🌸

✏ Farid Nu’man Hasan

Mencatat Isi Khutbah Jumat, Bolehkah?

💥💦💥💦💥💦

📨 PERTANYAAN:

Bismillah,mau tanya ustadz
Bolehkah kita mencatat isi khutbah pada saat mendengarkan khutbah jum’at?

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillah wal Hamdulillah …

Secara umum bagi jamaah shalat Jumat adalah mesti tertib dan tenang, serta perhatian  terhadap khutbah Jumat.  Bahkan, memerintahkan orang lain untuk diam saja juga terlarang dan termasuk yang membuat hilang kesempurnaan shalat Jumat orang tersebut.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya bahwa Nabi ﷺbersabda:

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الجُمُعَةِ: أَنْصِتْ، وَالإِمَامُ يَخْطُبُ، فَقَدْ لَغَوْتَ

Jika kamu berkata kepada kawanmu pada hari (shalat) Jumat: “Diam!” sedangkan Imam sedang berkhutbah, maka engkau telah sia-sia.”

(HR. Bukhari No. 934, Muslim No. 851)

Imam An Nawawi menjelaskan maksud Laghawta adalah engkau telah mengatakan perkataan yang melalaikan, gugur, sia-sia, dan tertolak. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/138)

Bahkan Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘Anhuma begitu marah kepada orang yang berbicara saat imam khutbah.

Alqamah bin Abdullah bercerita:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، قَالَ لِرَجُلٍ كَلَّمَ صَاحِبَهُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ: «أَمَّا أَنْتَ فَحِمَارٌ , وَأَمَّا صَاحِبُكَ فَلَا جُمُعَةَ لَهُ»

Bahwasanya Ibnu Umar berkata kepada laki-laki yang mengajak bicara pada sahabatnya   di hari Jumat dan imam sedang khutbah: “Ada pun kamu, kamu ini keledai, sedangkan kawanmu tidak ada Jumat baginya.” (Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 26103)

Semua riwayat ini, dan yang semisalnya, merupakan larangan secara  muthlaq berbicara pada saat imam sedang khutbah.

Imam Kamaluddin bin Al Hummam Rahimahullah berkata lebih rinci:

يَحْرُمُ فِي الْخُطْبَةِ الْكَلَامُ وَإِنْ كَانَ أَمْرًا بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْبِيحًا ، وَالْأَكْلُ وَالشُّرْبُ وَالْكِتَابَةُ ، وَيُكْرَهُ تَشْمِيتُ الْعَاطِسِ وَرَدُّ السَّلَامِ
وَعَنْ أَبِي يُوسُفَ لَا يُكْرَهُ الرَّدُّ ؛ لِأَنَّهُ فَرْضٌ

Diharamkan ketika khutbah; berbicara walau urusan kebaikan, atau bertasbih, makan, minum, dan MENULIS. Dimakruhkan mendoakan orang yang bersin dan menjawab salam. Dari Abu Yusuf: tidak makruh menjawab salam karena itu adalah wajib. (Fathul Qadir, 3/239)

Wallahu a’lam. Wa Shallallahu ‘ala Nabiyina Muhammadin wa ‘Aalihi wa Shahbihi wa Sallam.

☘🌾🌴🌹🌻🍃🌺🌿

✏ Farid Nu’man Hasan

Biografi Al Hasan bin Ali Radhiallahu ‘Anhuma

💦💥💦💥💦💥

📌 Nama dan Julukannya

Abu Muhammad adalah kun-yah Beliau. Nama aslinya adalah Al Hasan, anak pertama dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu. Tadinya, Ali ingin menamakannya dengan harb (perang), tetapi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan nama Al Hasan.

Ali Radhiallahu ‘Anhu berkata:

كُنْتُ رَجُلا أُحِبُّ الْحَرْبَ ، فَلَمَّا وُلِدَ الْحَسَنُ هَمَمْتُ أَنْ أُسَمِّيَهُ حَرْبًا ، فَسَمَّاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ ، فَلَمَّا وُلِدَ الْحُسَيْنُ هَمَمْتُ أَنْ أُسَمِّيَهُ حَرْبًا ، فَسَمَّاهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحُسَيْنَ

“Saya adalah laki-laki yang suka perang, ketika Al Hasan lahir saya ingin menamakannya dengan harb, namun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menamakannya dengan Al Hasan. Ketika lahir Al Husein, saya ingin menamakannya dengan harb, namun Beliau menamakannya dengan Al Husein.” (Diriwayatkan oleh Ath Thabarani No. 2777, Adz Dzahabi dalam As Siyar, 3/247, Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid, 8/52, katanya: rijalnya shahih)

📌Tahun Kelahirannya

Dia dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun ketiga hijriyah. Ada pula yang mengatakan pertengahan Ramadhan. Az Zubeir bin Bakar mengatakan bahwa Al Hasan dilahirkan pada pertengahan Ramadhan tahun ketiga Hijriyah. Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa yang lebih benar adalah dia dilahirkan pada bulan Sya’ban. (As Siyar, 3/246-248)

📌Kedudukan di Sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Dalam hadits Arbain Nawawi no. 11, Imam An Nawawi menyebutnya dengab As Sibthu dan Raihanah.

As Sibthu adalah cucu dari anak perempuan, sedangkan Hafiid (حفيد) adalah cucu dari anak laki-laki. Jadi, karena Al Hasan adalah anak dari putri Rasulullah Shallallah ‘Alaihi wa Sallam, yakni Fathimah Radhiallah ‘Anha, maka dia disebut As Sibthu.

Dia disebut Raihanah (wewangian-kesenangan), karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda tentang Al Hasan dan Al Husein:

هما ريحانتاي من الدنيا

“Mereka berdua adalah wewangian/kesenangan saya di dunia.” (HR. Bukhari No. 3543. At Tirmidzi No. 3770)

Berkata Syaikh Ibnul ‘Utsaimin Rahimahullah:

الريحانة هي تلك الزهرة الطيبة الرائحة

“Raihanah adalah bunga yang harum aromanya.” (Syarhul Arbain An Nawawiyah, Hal. 149)

📌 Keadaan dan Postur Tubuhnya

Abu Juhaifah mengatakan Al Hasan adalah yang perawakannya mirip dengan kakeknya. (As Siyar, 3/248).

‘Uqbah bin Al Harits menceritakan:

صلى بنا أبو بكر العصر، ثم قام وعلي يمشيان، فرأى الحسن يلعب مع الغلمان، فأخذه أبو بكر، فحمله على عنقه، وقال: بأبي شبيه النبي ليس شبيه بعلي وعلي يتبسم

“Abu Bakar shalat ashar bersama kami, lalu dia dan Ali berdiri lalu berjalan berdua, dia melihat Al Hasan bermain bersama dua anak laki-laki, lalu Abu Bakar mengambilnya dan menggendongnya di atas lehernya, dan dia berkata: “Demi ayahku, dia mirip dengan Nabi, tidak mirip dengan Ali,” dan Ali pun tersenyum.” (Ibid, 3/249. Lihat juga Bukhari dalam Shahihnya No. 3540, dengan lafaz: “ dan Ali pun tertawa.”)

Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, berkata:

لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَشْبَهَ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ

“Tidak seorang pun yang mirip dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibandingkan Al Hasan bin Ali.” (HR. Bukhari no. 3542)

📌Kedudukannya di Tengah-Tengah Umat

Al Hasan Radhiallahu ‘Anhu memiliki banyak keutamaan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutnya sebagai Sayyid (pemimpin-tuan) bagi umat ini yang akan mendamaikan dua kelompok umat Islam yang bertikai.

Tertera dalam Shahih Bukhari:

إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ

“Sesungguhnya anakku ini adalah seorang pemimpin, melaluinya Allah akan mendamaikan antara dua kelompok besar dari kaum muslimin.” (HR. Bukhari No. 2704)

Saat itu pasca syahidnya Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu –saat itu pertikaian masih berkecamuk dengan Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu, naiklah Al Hasan menjadi khalifah yang tentunya membuat tidak puas pengikut Mu’awiyah Radhiallah ‘Anhu. Namun, dengan jiwa besar Al Hasan mengundurkan diri dari jabatannya dan digantikan Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu. Di sisi lain, Al Hasan pun mampu memberikan pengertian kepada pengikut Ali Radhiallahu ‘Anhu, sehingga kedua belah pihak bisa didamaikan.

Syaikh Ibnul ‘Utsaimin Rahimahullah mengomentari hadits Bukhari di atas:

وكان الأمر كذلك، فإنه بعد أن استشهد علي بن أبي طالب رضي الله عنه وبويع بالخلافة للحسن تنازل عنها لمعاوية رضي الله عنه، فأصلح الله بهذا التنازل بين أصحاب معاوية وأصحاب علي رضي الله عنهما، وحصل بذلك خير كثير

“Saat itu begitulah kejadiannya, setelah mati syahidnya Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu dan Al Hasan dibai’at menjadi Khalifah, lalu dia menyerahkan jabatan itu kepada Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu. Maka, dengan pengunduran diri ini Allah damaikan antara pengikut Mu’awiyah dan Ali Radhiallah ‘Anhuma, dan dari situ hasilnya adalah kebaikan yang banyak. (Syarhul Arbain An Nawawiyah, hal. 148)

Selain itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga begitu mencintai Al Hasan. Diriwayatkan dari Al Bara bin ‘Azib Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ عَلَى عَاتِقِهِ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ

“Aku melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Al Hasan bin Ali ada di pundaknya, beliau bersabda: Ya Allah saya mencintainya, maka cintailah dia.” (HR. Bukhari No. 3539)

📌 Al Hasan Lebih Utama di banding Al Husein

Kedudukan Al Hasan Radhiallahu ‘Anhu, lebih utama dibanding Al Husein Radhiallahu ‘Anhu, hanya saja kaum Rafidhah (syiah) telah berlebihan terhadap Al Husein lantaran terbunuhnya Beliau di Karbala.

Berkata Syaikh Ibnul ‘Utsaimin Rahimahullah:

وهو أفضل من أخيه الحسين رضي الله عنهما،لكن تعلقت الرافضة بالحسين لأن قصة قتله رضي الله عنه تثير الأحزان، فجعلوا ذلك وسيلة، ولو كانوا صادقين في احترام آل البيت لكانوا يتعلقون بالحسن أكثر من الحسين،لأنه أفضل منه

Dia (Al Hasan) lebih afdhal dibanding saudaranya, Al Husein Radhiallahu ‘Anhuma, tetapi Rafidhah mencintai Al Husein karena peristiwa terbunuhnya Radhiallahu ‘Anhu yang menimbulkan kesedihan, dan mereka menjadikan peristiwa itu sebagai alasan untuk itu. Seandainya mereka jujur dalam menghormati Alu Bait (keluarga Nabi), niscaya mereka lebih banyak mencintai Al Hasan dibanding Al Husein, karena dia lebih utama darinya.” (Syarhul Arbain An Nawiyah, Hal. 149)

📌 Wafatnya

Beliau wafat karena diracuni pada tahun 50 Hijriyah, berikut ini keterangan Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah:

وَكَانَ مَوْلِد الْحَسَن فِي رَمَضَان سَنَة ثَلَاث مِنْ الْهِجْرَة عِنْد الْأَكْثَر ، وَقِيلَ بَعْد ذَلِكَ ، وَمَاتَ بِالْمَدِينَةِ مَسْمُومًا سَنَة خَمْسِينَ وَيُقَال قَبْلهَا وَيُقَال بَعْدهَا

“Al Hasan lahir pada Ramadhan tahun ketiga Hijriyah menurut mayoritas ulama, dan ada yang menyebut setelah itu. Dan, wafat di Madinah karena diracun pada tahun lima puluh Hijriyah, ada yang mengatakan sebelumnya ada pula yang mengatakan sesudahnya.” (Fathul Bari, 7/95. Darul Fikr. Lihat juga Syaikh Abul ‘Ala Muhammad Abdurrahman Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 10/272. Al Maktabah As Salafiyah)

Wallahu a’lam

🍃🌻🌾🌸🌺🌴☘🌷

✏ Farid Nu’man Hasan

scroll to top