Adab Left Grup

💢💢💢💢💢💢

Dari Abu Burdah, katanya:

دَخَلْت مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ فَإِذَا عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلاَمٍ ، فَسَلَّمْت ثُمَّ جَلَسْت ، فَقَالَ : يَا ابْنَ أَخِي ، إنَّك جَلَسْت وَنَحْنُ نُرِيدُ الْقِيَامَ

Aku masuk ke Masjid Madinah, ada Abdullah bin Salam, lalu aku mengucapkan salam kemudia aku duduk. Dia berkata: “Wahai Anak saudaraku, kamu duduk sedangkan kami hendak berdiri.”

📚 Al Mushannaf Ibni Abi Syaibah No. 26178

Dari Musa bin Nafi’, dia berkata:

قَعَدْتُ إِلَى سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ، قَالَ: ” أَتَأْذَنُونَ؟ إِنَّكُمْ جَلَسْتُمْ إِلَيَّ “

Aku duduk bersama Sa’id bin Jubair, ketika Beliau hendak berdiri, Beliau berkata : “Apakah kamu mengizinkan ? Sesungguhnya kamu telah bermajelis (duduk) bersamaku.”

📚 Al Mushannaf Ibni Abi Syaibah, No. 26184

🌾🌾🌾🌾🌾🌾

Di antara adab bermajelis atau berkumpul adalah izin atau pamit kepada manusia yang semajelis dengannya. Ini merupakan hiasan akhlak bagi seorang muslim.

Sebagaimana datang mengucapkan salam atau izin, meninggalkannya juga demikian. Bermajelis di zaman modern bukan hanya di sebuah tempat, ruangan, masjid, dan semisalnya, tetapi juga di dunia maya, di antaranya grup Whatsapp, Telegram, dll. Hal ini penting, bukan hanya menunjukkan bagusnya perilaku, tapi juga meminimalisir zhan yang tidak baik bagi rekan-rekan sekumpulannya, dan terputusnya silaturrahim.

Namun, diakui bahwa kadang left grup terjadi secara tidak sengaja dan tidak diduga oleh pemiliknya, baik karena; hp error, dimainkan anak, dsb.

Wallahu A’lam

🌺🌾🌸🌿🍃🌾🌴🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Tanya Soal Sholat Arbain dan Thawaf Ifadah

📌📌📌📌📌

📨 PERTANYAAN:

Yuni Tjahyono:
Ustadz apakah sholat arbain di madinah mrpkn sunah haji ? Lalu bagaimana hukum wanita haid pada saat wukuf di arofah apakah hajinya sah?

Apakah thowaf iffadoh termsk rukun haji ? Terkait wanita yg sdg haid bgmn pelaksanaannya ?

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃

📌 Riwayat ttg shalat arbain (40 waktu) di masjid nabawi, sehingga orang berdiam 8 hari di sana, dengan tujuan bebas dari api neraka dan kemunafikan, haditsnya ada tapi dhaif. Sehingga sebagai dasar ibadah tidak bisa dijadikan hujjah.

Ada pun jika shalat arbain yg dimaksud adalah 40 hari berjamaah sejak takbir pertama, di masjid mana pun, maka bebas dari api neraka dan kenunafikan, ini ada haditsnya dan juga dinilai tsiqah dan shahih oleh sbagian ulama.

📌 Wukuf walau haid tetap sah, mnurut ksepakatan ulama. Dan juga tidak kena dam.

📌 Thawaf Ifadah itu rukun, kalo tidak thawaf ifadhah haji tidak sah, dan mesti dalam keadaan suci.

Adapun wanita haid, dan dia tidak bisa menghindari haid, itu merupakan masyaqqat/kesempitan yang membuatnya dharurat, tidak mengapa dia thawaf. Sebagaimana difatwakan sebagian ulama. Ada pun kalau menunggu suci, khawatir tertinggal rombongan hajinya dan masalah teknis lainnya.

Wallahu a’lam

🍃🌾🌸🌻🌴☘🌷🌺

✏ Farid Nu’man Hasan

Khatib Jumat Menyebut Nama Nabi Shalallahu’Alaihi Sallam, Bolehkah Jamaah Bershalawat?

▪▫▪▫▪▫▪▫▪▫

📨 PERTANYAAN:

Assalamu’laikum warohmatullohi wababarokatu
Ustad.. disaat kutbah jum’at khotib menyebut rosululloh muhammad SAW…
Apakah jama’ah mengucap SAW/tidak …jazakaullohukhoiron (+62 812-2566-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Bershalawat kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Sallam tetap sunnah, saat disebut nama Nabi Shalallahu ‘Alaihi Sallam, walau disaat khutbah Jum’at.

Imam Al Bujairimiy Rahimahullah mengatakan:

ووجب رد السلام، وسن تشميت العاطس ورفع الصوت بالصلاة على النبي – صلى الله عليه وسلم – عند قراءة الخطيب {إن الله وملائكته يصلون على النبي} [الأحزاب: ٥٦]

Wajib menjawab salam, sunah mendoakan org bersin, dan meninggikan suara bershalawat kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Sallam disaat khatib membaca: _Innallaha wa malaaikatahu yushalluuna ‘alan nabiy

(Hasyiyah Al Bujairimiy ‘alal Khathib, 2/202)

Syaikh Abdurrahman Ba’alawiy Rahimahullah mengatakan:

ينبغى لسامع الصلاة علي النبي أو الترضي عن الصحابة حال الخطبة أن يصلي على النبي و يترضى عنهم فهو افضل من الانصات

Seyogyanya seorang yg mendengar khutbah dia shalawat kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Sallam dan taradhi (mengucapkan Radhiallahu ‘Anhum), kepada para sahabat. Itu lebih utama dibanding diam.

(Bughyah Al Mustarsyidin, Hal. 137)

Imam Ibnu Hazm Rahimahullah mengatakan:

وفرض على كل من حضر الجمعة – سمع الخطبة أو لم يسمع – أن لا يتكلم مدة خطبة الإمام بشيء ألبتة، إلا التسليم إن دخل حينئذ، ورد السلام على من سلم ممن دخل حينئذ، وحمد الله تعالى إن عطس، وتشميت العاطس إن حمد الله، والرد على المشمت، والصلاة على النبي – صلى الله عليه وسلم – إذا أمر الخطيب بالصلاة عليه، والتأمين على دعائه

Wajib bagi yg menghadiri shalat Jumat baik bagi yg mendengar khutbah atau tidak kedengaran, utk tidak berbicara sepanjang khutbah berlangsung, kecuali mengucapkan salam bagi yg baru masuk, menjawab salam org tersebut, mengucapkan hamdalah bagi yang bersin, tasymit (yarhamukallah) untuk org yg bersin tersebut, bershalawat kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Sallam ketika khatib memerintahkan itu, dan mengaminkan doa khatib.

(Al Muhalla, 3/269)

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Shalat Sambil Gendong Bayi yang Pakai Pampers

▫▪▫▪▫▪▫▪▫▪

📨 PERTANYAAN:

Mau nanya ustadz..bgmana hukumnya bagi ibu yg membawa babynya ke masjid,sdangkan si baby kmungkinan sdang pup/ngompol di dlm pampersnya.tetapi qta yakin bahwa pempers tsb dlm keadaan kering & kotoran tdk sampai mengotori masjid.& misalnya si ibu td menggendong babynya yg dlm keadaan tsb ktika sholat apakah tdk membatalkan sholat si ibu? (+62 812-2621-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim ..

Membawa bayi atau anak kecil ke masjid tidak apa-apa, berdasarkan bbrp hadits berikut:

dari Abu Qatadah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنِّي لَأَقُومُ فِي الصَّلَاةِ أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلَاتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ

Saya mengimami dalam shalat dan hendak memanjangkan bacaannya, lalu saya mendengar tangisan anak kecil, maka saya ringankan shalat, saya tidak suka hal yg membuat sulit ibunya. (HR. Bukhari No. 707)

Riwayat lainnya:

عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ الزُّرَقِيِّ أَنَّهُ: سَمِعَ أَبَا قَتَادَةَ يَقُولُ: ” إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى وأُمَامَةُ ابْنَةُ زَيْنَبَ ابْنَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهِيَ ابْنَةُ أَبِي الْعَاصِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى عَلَى رَقَبَتِهِ، فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ مِنْ سُجُودِهِ أَخَذَهَا فَأَعَادَهَا عَلَى رَقَبَتِهِ “

Dari Amru bin Sulaim Az Zuraqiy, bahwa dia mendengar Abu Qatadah berkata: bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang shalat sedangkan Umamah –anak puteri dari Zainab puteri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan juga puteri dari Abu Al ‘Ash bin Ar Rabi’ bin Abdul ‘Uzza – berada di pundaknya, jika Beliau ruku anak itu diletakkan, dan jika bangun dari sujud diambil lagi dan diletakkan di atas pundaknya. (HR. Ahmad No. 22589, An Nasa’i No. 827, Syaikh Syu’aib Al Arnauth juga menshahihkannya dalamTa’liq Musnad Ahmad No. 22589, dan Amru bin Sulaim mengatakan bahwa ini terjadi ketika shalat subuh)

Lalu, bagaimana dgn shalat menggendong anak yg ada najisnya di Pampersnya?

Mayoritas ulama mengatakan BATAL shalatnya, tapi tidak batal wudhunya.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

من شروط صحة الصلاة : اجتناب النجاسة في البدن والثوب والمكان ، فمن صلى وعلى ثوبه أو بدنه نجاسة أو حمل طفلاً متنجساً أو حمل قارورة فيها نجاسة…، بطلت صلاته عند جمهور العلماء ، ولا يبطل وضوؤه

Di antara syarat sahnya shalat adalah menjauh dari najis baik pada badan, pakaian, dan tempat.

Maka, barang siapa yang shalat namun di pakaiannya atau badannya ada najis, atau dia menggendong anak yang ada najisnya, atau membawa botol kecil yg ada najisnya, maka shalatnya BATAL menurut mayoritas ulama, tapi tidak batal wudhunya.

(Al Islam Su’aal wa Jawab no. 136524)

Bagaimana jika LUPA atau TIDAK TAHU kalau di Pampersnya ada najisnya?

Syaikh ‘Utsaimin Rahimahullah menjawab:

إذن اجتناب النجاسة في البدن ، والثوب ، والبقعة شرط لصحة الصلاة ، لكن إذا لم يتجنب الإنسان النجاسة جاهلاً ، أو ناسياً فإن صلاته صحيحة ، سواء علم بها قبل الصلاة ثم نسي أن يغلسها ، أو لم يعلم بها إلا بعد الصلاة

Jadi, menjauh dari najis dari badan, pakaian, dan tempat, adalah syarat sahnya shalat. Tapi jika manusia tidak menjauhinya karena tidak tahu atau lupa, shalatnya tetap SAH, baik dia sebenarnya sudah tahu sebelum shalat tapi pas shalat dia lupa membersihkannya, atau dia baru tahu setelah selesai shalatnya.

(Majmu’ Fatawa, 12/390)

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

scroll to top