Tobatnya Wanita Penggoda

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah menuturkan:

Dari Abu Qasim, seorang pelindung para pedagang. Dia berkata, “Berkata kepadaku Sa’dan:

Dulu pernah ada sekelompok orang menyuruh seorang wanita cantik untuk menggoda Rabi’ bin Khaitsam agar dia terpedaya bujuk rayunya.

Kepada wanita itu mereka mengatakan, ” Kami akan beri kamu seribu Dirham jika kamu mau melakukannya.”

Tertarik dengan tawaran mereka, wanita itu memakai pakaian terbagus dan parfum terharum yang dia punya. Dia pun siap menggoda Rabi’ bin Khaitsam yang sedang di dalam masjid.

Saat Rabi’ bin Khaitsam keluar, wanita itu mendekatinya dan berjalan sejajar di sampingnya. Rabi’ pun kagum atas kecantikannya.

Tapi, Rabi’ bin Khaitsam malah berkata kepadanya: “Bagaimana kelak jika kulitmu terkena panas sehingga menjadi pucat dan menghilangkan kegembiraanmu?

Bagaimana kelak jika malaikat pencabut nyawa mendatangimu dan memutus urat nadimu?

Bagaimana jika kamu ditanya malaikat Munkar dan Nakir?

Mendengar semua ucapan Rabi’ bin Khaitsam, wanita ini menjerit dan pingsan.

Ketika siuman, dia pun menjadi tekun ibadah kepada Rabbnya sampai akhir hayatnya, yang bagaikan sebatang dahan kurma yang terbakar.

☘☘☘☘☘☘

📚 Imam Ibnu Qudamah, Mukhtashar Kitab At Tawwabin, Cet. 2, 1412H/1992M. Al Maktabah At Tijariyah. Mekkah Al Mukarramah

✍ Farid Nu’man Hasan

Melihat Wajah Allah

🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Allah Ta’ala berfirman:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. (QS. Yunus: 26)

Para mufassir umumnya mengartikan tambahan (ziyadah) adalah melihat wajah Allah Ta’ala.

Berkata Syaikh Mushthafa Al Bugha:

وفسرت الزيادة برؤية الله عز وجل والنظر إلى وجهه الكريم وقيل غير ذلك

Ditafsirkan makna Az Ziyadah (tambahan) adalah melihat wajah Allah ‘Azza wa Jalla dan melihat wajahNya yang mulia. Dan ada pula perkataan selain itu. (Ta’liq ‘Ala Ash Shahih Al Bukhari)

Dan, kenikmatan melihat wajah Allah Ta’ala adalah kenikmatan tertinggi, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits berikut.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

” إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا؟ أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ، فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ “

“Jika penduduk surga memasuki surga. Maka Allah Ta’ala berfirman: Apakah kalian ingin suatu tambahan?

Penduduk surga menjawab: ” Bukankah wajah kami sudah berseri-seri? Bukankah Kau telah memasukan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka?”

Maka Allah Ta’ala membuka hijab, dan tidaklah suatu pemberian yang lebih mereka sukai dibandingkan melihat wajah Allah Ta’ala.
(HR Muslim No. 181)

Wallahu A’lam

🍃🌷☘🌻🌸🌾🌿🌳

✍ Farid Nu’man Hasan

Hukum Menyambung Gigi yang Patah

💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalaamu”alaikum…
Ustadz,anak sy terjatuh mengakibatkan gigi dpnnya patah. Menurut Islam bolehkah jika disambung kembali??? (+62 853-8772-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Menyambung gigi yg patah, sama seperti memakai hidung palsu, ketika hidung asli terpotong, yaitu mengembalikan fungsi, bukan untuk keindahan. Ini tidak apa-apa. Itu bukan termasuk al falj, mengkikir gigi dgn tujuan keindahan.

Dalilnya, dari Urfujah bin As’ad Radhiyallahu ‘Anhu:

أَنَّهُ أُصِيبَ أَنْفُهُ يَوْمَ الْكُلَابِ فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَاتَّخَذَ أَنْفًا مِنْ وَرِقٍ فَأَنْتَنَ عَلَيْهِ فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَتَّخِذَ أَنْفًا مِنْ ذَهَبٍ

Bahwa hidung beliau terkena sabetan senjata pada peristiwa perang Al Kulab di masa jahiliyah. Kemudian beliau tambal dengan perak, namun hidungnya membusuk. Kemudian Nabi ﷺ memerintahkannya untuk menambal hidungnya dari emas.

(HR. An Nasa’i 5161, Abu Daud 4232, Ahmad No. 19006, 20271, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan. Ta’liq Musnad Ahmad No. 19006. Dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban).

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

أن المذمومة من فعلت ذلك لأجل الحسن فلو احتاجت إلى ذلك لمداواة مثلا جاز

Sesungguhnya tercelanya orang yang melalukan itu dikarenakan maksud kecantikan, namun jika ada kebutuhan hal itu untuk pengobatan maka BOLEH.

(Fathul Bari, 10/372-373)

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Ilmu Itu Menyelamatkan, Kebodohan Itu Mecelakakan

💦💥💦💥💦💥

Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu bercerita:

“Seorang laki-laki tertimpa batu di bagian kepalanya. Kemudian orang itu bermimpi (basah), dan bertanya kepada para sahabatnya. “Apakah ada keringanan bagi saya untuk bertayamum?” Mereka menjawab: “Tidak ada keringanan bagimu, karena kamu masih mampu menggunakan air.” Kemudian laki-laki itu pun mandi dan akhirnya meninggal dunia. Setelah kami menghadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kami pun menceritakan hal itu kepadanya, lalu Beliau bersabda: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah memerangi mereka. Mengapa mereka tidak bertanya kalau memang tidak tahu? Obat dari kebodohan adalah bertanya. Sebenarnya cukup bagi dia bertayamum dan mengeringkan lukanya, atau membalut lukanya, dan membasuh bagian atasnya, lalu membasuh tubuhnya yang lain.”

(HR. Abu Daud No. 336, 337, Ibnu Majah No. 572, Ahmad No. 3056, Ad Darimi No. 779, Ad Daruquthni No. 729, Al Hakim No. 630,631, Abu Ya’la No. 2420, dll. Dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth (Ta’liq Musnad Ahmad No. 3056), Dishahihkan oleh Syaikh Husein Salim Asad (Musnad Abi Ya’la No. 2420), Imam Adz Dzahabi menyatakan shahih, sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim)

🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📚 Pelajaran dari kisah ini:

1⃣ Larangan berfatwa tanpa ilmu, sebab itu lebih besar peluang bahaya dibanding manfaatnya

2⃣ Anjuran bertanya lagi kepada yang ahlinya jika ada permasalahan disodorkan kepada kita dan kita belum ketahui jawabannya

3⃣ Dibolehkan bertayamum bagi yang sulit berwudhu karena sakit atau luka, yang jika berwudhu akan memperparah penyakitnya

4⃣ Kalau pun ingin berwudhu, cukup baginya membasuh bagian balutan saja, bukan mengguyurnya

Hal ini sesuai ayat:

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Ini juga sesuai kaidah yang berbunyi:

المشقة تجلب التيسير

Al Masyaqqah tajlibut taisir – Keadaan yang sulit akan mendatangkan kemudahan.

Dan Kaidah yang seperti ini:

إذا ضاق الأمر اتسع

Idza dhaaqal amru ittasa’a – Jika urusan menjadi sempit maka menjadi lapang

(Imam Tajjuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, 1/49)

Wallahu A’lam

🍃🌾🌸🌻🌷🌿☘🌳


🍃🌷 Diantara Modal Keberhasilan 🌷🍃

🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Syaikh Abdul Karim Bakkar berkata:

نحن على قدر مانعرف و مانتقن، و كلما زاد مانعرفه ،و مانتقنه ارتفعت منزلتنا ،و تحققت أهدافنا

Kita mampu menguasai apa yang kita tahu dan apa yang kita yakini, tiap kali bertambah apa yang kita ketahui dan yang kita yakini, maka meninggilah kedudukan kita dan realisasi target-target kita

🍃🌸🌻🌷🌿🌾☘🌳

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top