Hadits, “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahad”, Shahihkah?

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📨 PERTANYAAN:

Assalamu ‘Alaikum, Afwan Ust, ana mau Tanya tentang hadits: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampal ke liang lahad.” Itu hadits shahih apa tidak, dan perawinya siapa saja. Syukran. (02192663xxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala
Rasulillah wa ‘ala Aalihi wa Ashhabihi wa Man waalah wa ba’d:

Ucapan tersebut sangat terkenal di lisan manusia, mulai dari para penceramah hingga orang awamnya. Lalu, mereka dengan yakin menisbatkannya sebagai hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ini telah dikoreksi para ulama. Hadits ini tidak diriwayatkan para imam muhadditsin, tidak dalam kitab Shahih, Sunan, Jami’, Musnad, dan Mu’jam.

Para ulama telah menyebutnya sebagai bukan hadits shahih, baik yang menyebutnya palsu (maudhu’) dan ada pula yang menyebut Laa ashla lahu (tidak memiliki dasar).

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah mengatakan:

حديث: ( اطلبوا العلم من المهد إلى اللحد ) ليس صحيحاً، موضوع عند أهل العلم

Hadits (tuntutlah ilmu dari ayunan/buaian hingga liang lahad) adalah bukan hadits shahih, itu palsu menurut para ulama. (Durus Lisyaikh Abdil Aziz bin Baaz, 10/35)

Begitu pula yang dikatakan oleh Syaikh Abdurrahman Sa’id Ad Dimasyqiyah, bahwa hadits ini tidak ada dasarnya, katanya:

فرواية أطلب العلم من المهد إلى اللحد مشهورة وهي لا أصل لها عند أهل الحديث« وحديث »أطلب العلم ولو في الصين« مشهور كذلك لكنه لا أصل له

Riwayat: Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga liang lahad adalah terkenal, dan ini tidak ada dasarnya menurut ahli hadits, begitu pula hadits: Tuntutlah ilmu walau ke negeri cina, juga terkenal tetapi tidak ada dasarnya. (Ahaadiits Yahtajju Biha Asy Syii’ah, Hal. 64)

Sebagian lain mengatakan ini adalah ucapan dan nasihat para salaf, seperti yang dikatakan Syaikh Ibnu Jibrin. (Fatawa Asy Syaikh Ibni Jibrin, 81/10), ada pun Syaikh Shalih Alu Asy Syaikh menyebutkan bahwa ini adalah ucapan Imam Ahmad bin Hambal. (Qismul ‘Ilmi wad Da’wah, Hal. 1)

Namun walaupun tidak benar dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ucapan ini secara makna adalah benar dan baik.

Berikut komentar Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih:

فهذا الحديث لا يصح سندا، وهو من الأحاديث المشتهرة على ألسنة الناس، ومثله حديث: اطلبوا العلم ولو في الصين. ونحوها، وقد أوردها العجلوني في كتابه كشف الخفاء ومزيل الإلباس عما اشتهر من الأحاديث على ألسنة الناس. إلا أن معناه صحيح، وقد قال تعالى في محكم كتابه: وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ {النحل: 78} فالإنسان يولد وهو لا يعلم شيئا، ثم لا يزال يتعلم حتى يوارى في رمسه

Ini adalah hadits yang tidak shahih sanadnya, dan termasuk hadits yang tenar diucapkan lisan manusia, sebagaimana hadits: Tuntutlah ilmu walau ke Cina, dan yang semisalnya. Hal ini telah disampaikan oleh Al ‘Ajluni dalam kitabnya Kasyful Khafa wa Muziil Al Ilbaas ‘ammasytahara minal Ahaadits ‘ala Alsinatin Naas. Hanya saja makna hadits ini memang shahih, Allah Ta’ala telah berfirman dalam kitabNya yang begitu jelas: dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati. (QS. An Nahl: 78).

Jadi, manusia dilahirkan dalam keadaan tidak tahu apa-apa, kemudian mereka terus menerus belajar sampai dia disemayamkan di kuburnya. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah, No. 60804)

Hal ini perkuat lagi oleh berbagai kisah fakta perjalanan kehidupan orang-orang shalih dan ulama yang menghabiskan hidupnya dengan ilmu, baik mencari dan mengajarkannya, sejak mereka kanak-kanak hingga detik-detik menjelang ajalnya.

Wallahu A’lam

Wash Shallallahu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Ashhabihi Ajmain.

🌷☘🌺🌴🌻🍃🌸🌾

✍ Farid Nu’man Hasan

Memakai Kuku Palsu

▪▫▪▫▪▫▪▫▪▫

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaykum ustadz, apa hukumnya memakai kuku palsu (nail art)? (+62 857-1344-xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Kuku palsu jika tujuan berobat, misal karena kuku pecah adalah boleh. Itu sama dgn memakai kaki palsu, agar anggota tubuh kembali berfungsi. Tp, jika utk kecantikan semata, maka terlarang.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid mengatakan:

لا حرج في وضع الأظافر الصناعية بشكل دائم إذا كان ذلك بسبب كسر الأظافر الطبيعية بسبب قلة الكالسيوم في الجسم .
أما وضعها من أجل الزينة والتجمل فلا يجوز ذلك

Tidak mengapa memasang kuku buatan yang permanen jika sebabnya adalah pecahnya kuku secara alami karena kekurangan kalsium dalam tubuh. Adapun memasangnya dengan tujuan sebagai perhiasan dan mempercantik diri, maka hal itu tidak dibolehkan.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 120850)

Dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah disebutkan:

لا يجوز استخدام الأظافر الصناعية ، والرموش المستعارة ، … ؛ لما فيها من الضرر على محالها من الجسم ، ولما فيها أيضا من الغش والخداع وتغيير خلق الله )

Tidak diperbolehkan memakai kuku palsu, bulu mata palsu, dan lensa kontak berwarna, karena barang tersebut berbahaya bagi tubuh, dan barang tersebut juga melakukan penipuan dan mengubah ciptaan Allah Subhanahu wata’alla.

(Fatwa Al Lajnah Ad Daimah, 17/133)

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Lebih Tampan Mana; Nabi Muhammad Shalallahu’Alaihi wa Sallam atau Nabi Yusuf ‘Alaihissalam?

▪▫▪▫▪▫▪▫

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum warahmatullah .. apakah benar isi BC yg menceritakan Nabi Muhammad lebih tampan dibanding Nabi Yusuf?

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Sallam memang sangat tampan …

عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ سَمِعَ الْبَرَاءَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرْبُوعًا وَقَدْ رَأَيْتُهُ فِي حُلَّةٍ حَمْرَاءَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَحْسَنَ مِنْهُ

Dari Abu Ishaq, dia mendengar Al Barra` Radhiallahu ‘anhu berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang laki-laki yang berperawakan sedang (tidak tinggi dan tidak pendek), saya melihat beliau mengenakan pakaian merah, dan saya tidak pernah melihat orang yang lebih tampan dari beliau.”

(HR. Bukhari no. 5848)

Hadits ini menunjukkan ketampanan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Sallam. Bisa jadi yang paling tampan di masanya. Ada pun perbandingan dgn ketampanan Nabi Yusuf ‘Alaihissalam, tidak ada dalil shahih yang menyebutkannya. Apalagi sampai spesifik menyebutkan Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam lebih tampan dibanding Nabi Yusuf ‘Alaihissalam.

Imam Ash Shan’aniy Rahimahullah mengatakan:

قيل: إنه لم يعط أحد من الحسن أكثر مما أعطي يوسف ، لأنه في مقام إفضاله تعالى على يوسف ؛ فالقائل أن نبينا – صلى الله عليه وسلم – أعطي أكثر مما أعطي يوسف من الحسن يحتاج إلى دليل

Dikatakan, bahwa dalam masalah ketampanan tidak ada seorang pun yang diberikan seperti ketampanan Nabi Yusuf, karena Allah Ta’ala memberikan posisi yang lebih kepadanya dalam hal ini.

Maka, perkataan bahwa Nabi kita Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam diberikan ketampanan lebih dari Nabi Yusuf adalah Perkataan yg membutuhkan dalil.

(At Tanwir Syarh Al Jaami’ Ash Shaghir, 2/496)

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

ويوسف الصديق، وإن كان أجمل من غيره من الأنبياء، وفي الصحيح: ” أنه أعطي شطر الحسن ، فلم يكن بذلك أفضل من غيره، بل غيره أفضل منه، كإبراهيم، وإسماعيل، وإسحاق، ويعقوب، وموسى، وعيسى، ومحمد، – صلوات الله عليهم أجمعين – .

Nabi Yusuf Ash Shidid, walau pun dia paling tampan di antara para nabi yang lain, dalam Ash Shahih disebutkan: “Dia diberikan setengah ketampanan”, tapi hal itu tidaklah menjadikannya sebagai nabi yang paling utama dibanding nabi yg lain seperti Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Musa, Isa, dan Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Sallam.

ويوسف، وإن كانت صورته أجمل، فإن إيمان هؤلاء وأعمالهم كانت أفضل من إيمانه وعمله ….

Nabi Yusuf, walau penampilannya paling menawan, tetapi iman mereka itu dan amalnya, lebih utama dibanding iman dan amalnya…

(Minhajus Sunnah, 5/318)

Perlu diketahui .., masalah ini bukan masalah krusial untuk diketahui. Jika kita tahu bahwa yang satu lebih tampan dibanding yang lain, tidaklah itu lantas jg membuat kita semakin shalih dan semakin baik akhirat kita. Seandainya tidak tahu pun tidak lantas kita buruk di sisi Allah Ta’ala.

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Hukum Membasuh Anggota Tubuh Tiga Kali saat Wudhu’

▪▫▪▫▪▫▪▫▪▫

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum Wr. Wb,

Apakah dalam berwudhu untuk masing-masing anggota badan diwajibkan membasuh 3x? Karena beberapa referensi yang saya baca dalam berwudhu untuk tiap anggota badan tidak diwajibkan 3x, namun ada juga yang berpendapat hal tsb wajib;

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Basuhan tiga kali itu SUNNAH, bukan wajib.

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhullah mengatakan:

فإن تثليث الغسل في الوضوء مستحب ولا مانع من الاقتصار على غسل العضو مرتين أو مرة واحدة، فقد ثبت ذلك عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، بل ذكر بعض الفقهاء أنه يستحب عدم التثليث عند خوف فوات الجماعة التي لا يجد غيرها ونحو ذلك

Sesungguhnya, 3 kali membasuh anggota wudhu adalah mustahab (sunnah). Tidak masalah dilakukan hanya dua kali atau sekali. Telah ada riwayat dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Sallam tentang itu.

Bahkan, sebagian ahli fiqih mengatakan dianjurkan untuk tidak 3 kali jika khawatir dia tertinggal jamaah, dan semisalnya.

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 108288)

Dalam Syaikh Umar bin Sulaiman Al Jamal Rahimahullah berkata:

وقد يطلب ترك التثليث أي ندباً كأن خاف فوت جماعة لم يرج غيرها، أو وجوباً كأن ضاق الوقت. انتهى

Diperintahkan untuk tidak melakukan 3 kali basuhan, yaitu dianjurkan, seperti bagi org yg khawatir kehilangan jamaah, atau bahkan wajib meninggalkan 3 kali itu jika khwatir kehabisan waktu shalat.

(Hasyiyah Al Jamal, 1/128)

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

scroll to top