Hukum Menyebarkan Video Korban Pembantaian

💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assllamuallaikum tad mau tanya ,
Tadi barusan kan terjadi penembakan trhdp muslim di new zeland ,
Pertanyaan nya banyak nya video2 yg tersebar ,bagaimana kita menyikapi nya tad soal menyebar luas kan video trsbt , apakah kita ikut menyebar luas kan juga / bagaimana seharus nya sifat kita..

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Menyebarkan video sebuah peristiwa, pada dasarnya sama dgn menyebarkan berita melalui media pemberitaan lainnya. Sama-sama berita, yg satu audio visual, dan yang satu verbal. Yg penting jujur dan bukan hoax.

Hanya saja, berita melalui audio visual, tidak boleh menampilkan aurat wanita, atau aurat para korban, atau kondisi mayat yg mengenaskan, sebab itu berpengaruh pada jiwa para penontonnya. Baik kengerian, bahkan ketakutan kepada pelaku kejahatan tersebut. Shgga, ahsannya di blur/samar.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

لا حرج في عرض صور ومقاطع الناس المنكوبين والقتلى والجرحى منهم ، مع مراعاة الضوابط الشرعية في هذا الباب

Tidak apa-apa menampilkan gambar-gambar klip korban bencana, pembunuhan, dan yang luka-luka di antara mereka, namun tetap dijaga rambu-rambunya dalam hal ini.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 223274 )

Di sisi lain, kadang video-video informasi seperti ini, menjadi informasi penting yg tidak ditemukan pada media-media mainstream. Yang dengan info itu dapat menjadi penyeimbang dan menimbulkan simpati kepada korbannya.

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Niatlah yang Menentukan Baik atau Buruknya Amal

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Baik tidaknya amal perbuatan seseorang itu tergantung kepada baik tidaknya niat amal perbuatan tersebut. Bisa jadi ada dua orang yang melakukan amal kebaikan yang sama secara kasat mata, tetapi berbeda nilai di sisi Allah ﷻ karena perbedaan niatnya.

Misalnya, ada dua orang ke masjid, tapi punya niat yang berbeda. Yang satu mencari kebaikan atau mengajarkan kebaikan, yang satu lagi ada tujuan duniawi, maka kedua orang ini dinilai beda oleh syariat.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من دخل مسجدنا هذا ليتعلم خيرا أو يعلمه كان كالمجاهد فى سبيل الله ومن دخله لغير ذلك كان كالناظر إلى ما ليس له

Barang siapa yang masuk ke dalam masjid kami ini, dengan tujuan untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya maka dia seperti mujahid fi sabilillah. Dan barang siapa yang memasukinya untuk tujuan selain itu, maka dia seperti orang yang sedang melihat sesuatu yang bukan kepunyaannya.

(HR. Ahmad No. 8587, Ibnu Hibban No. 78. Hadits ini hasan menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiq Beliau terhadap Shahih Ibni Hibban)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah mengatakan:

فمن جاء إلى المسجد من أجل أن يصلي فيه، أو من أجل أن يشهد الجماعة التي هي واجبة، أو من أجل أن يُحصّل الأجر في المسجد بالذكر وقراءة القرآن، فهو حظه وله ما أراد، ومن لم يدخل المسجد لهذا العمل العظيم، وإنما دخله لأمر من الأمور التي لا علاقة لها بالدين والطاعة فهو حظه، وله ما أراد من العمل بلا أجر

“Barangsiapa yang datang ke masjid untuk shalat, atau untuk menghadiri shalat berjamaah, atau mencari pahala dengan berdzikir dan membaca Al Quran, maka dengan ini dia akan mendapatkan sesuai apa yang diinginkannya. Ada pun yang masuk ke masjid untuk melakukan amal yang tidak ada kaitan dengan perkara agama dan ketaatan, maka dia mendapatkan sesuai apa yang diinginkannya itu, dan tidak mendapatkan pahala.” (Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, No. 066. Maktabah Al Misykah)

Tapi, ini tidak berlaku bagi “niat baik” dibalik sebuah kejahatan. Seperti ikut berjudi dengan niat mendakwahi para penjudi, berzina untuk mendakwahi PSK, dan semisalnya. Karena niat yang baik tidak mengubah yang haram menjadi halal, kecuali ada dalilnya.

Kaidahnya:

الغاية لا تبرر الوسيلة إلا بدليل

Tujuan (yang baik) tidaklah membuat baik sarana (yang haram) kecuali dengan adanya dalil.

(Syaikh Walid bin Rasyid bin Abdul Aziz bin Su’aidan, Tadzkir Al Fuhul bitarjihat Masail Al Ushul, Hal. 3. Lihat juga Talqih Al Ifham Al ‘Aliyah, 3/23)

Contoh, berbohong untuk mendamaikan saudara yang bermusuhan. Caranya “berbohong” tapi tujuannya baik, untuk mendamaikan, ini dibolehkan karena ada dalilnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي (بِالَّذِي) يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمِي خَيْرًا أَوْ يَقُولُ خَيْرًا

Bukan kategori pembohong orang yang mendamaikan manusia yang berselisih, lalu dia menyampaikan hal-hal yang baik (tentang salah satu pihak), dan mengatakan hal-hal yang baik. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Wallahu A’lam

🍃🌺 Keajaiban Niat 🌺🍃

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Imam Abdullah bin Al Mubarak Rahimahullah berkata:

رب عمل صغير تعظمة النية ورب عمل كبير تصغره النية

Bisa jadi ada amal kecil menjadi besar karena niat, dan bisa jadi amal besar menjadi kecil karena niat.

📚 Tathbiiq Jawaahir min Aqwaalis Salaf No. 100

🌷☘🌺🌴🍃🌸🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Salah Satu Cara Mendapatkan Pahala Jihad

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

من دخل مسجدنا هذا ليتعلم خيرا أو يعلمه كان كالمجاهد فى سبيل الله
ومن دخله لغير ذلك كان كالناظر إلى ما ليس له

Barang siapa yang masuk ke dalam masjid kami ini, tujuannya mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka dia seperti mujahid fisabilillah. Barang siapa memasukinya bukan untuk itu, maka dia seperti orang yang melihat sesuatu yang bujan kepunyaannya.

(HR. Ahmad No. 8587, Ibnu Hibban No. 78. Hadits ini hasan menurut Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiq Beliau terhadap Shahih Ibni Hibban)

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah mengatakan:

فمن جاء إلى المسجد من أجل أن يصلي فيه، أو من أجل أن يشهد الجماعة التي هي واجبة، أو من أجل أن يُحصّل الأجر في المسجد بالذكر وقراءة القرآن، فهو حظه وله ما أراد، ومن لم يدخل المسجد لهذا العمل العظيم، وإنما دخله لأمر من الأمور التي لا علاقة لها بالدين والطاعة فهو حظه، وله ما أراد من العمل بلا أجر

Barang siapa yang mendatangi masjid ingin shalat di dalamnya, atau ingin shalat berjamaah dan itu merupakan kewajiban, atau karena ingin mendapatkan pahala di masjid dengan berdzikir, membaca Al Quran, maka dia mendapatkan bagian sesuai yang diinginkan, barang siapa yang masuk ke masjid bukan untuk amal-amal agung ini, dia ke masjid tidak ada kaitan urusan agama dan ketaatan, maka dia akan mendapatkan sesuai apa yang diinginkan itu tapi tanpa pahala.

(Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr, Syarh Sunan Abi Daud, No. 066. Maktabah Al Misykah)

🌷☘🌺🌴🍃🌸🌾🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Memuliakan, Mencintai, dan Menghormati Ulama

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum, sebelumnya saya minta maaf saya gatau apa apa, saya mohon bimbingan nyaa, saya hanya bertanya apa yg saya tidak tau, agar saya bisa belajar dan dapat pengetahuan, saya ingin bertanya, apakah di alquran kita di wajibkan mencintai para ulama? Mohon maaf , saya cuma ingin bertanya. Supaya saya dapat pengetahuan baru.

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam warahmatullah .. Bismillah wal Hamdulillah ..

Ya, anjuran menghormati, memuliakan, dan mencintai ulama (org2 berilmu), sangat banyak, baik Al Quran dan As Sunnah.
Bahkan Allah memuliakan mereka, maka pantaslah jika manusia memuliakan mereka pula ..

Misalnya:

✅ Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk menjadikan mereka sbg tempat bertanya

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

maka bertanyalah kepada ahludz dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui. (Qs. An Nahl: 43)

Berkata Imam Al Qurthubi Rahimahullah dalam kitab tafsirnya:

وقال ابن عباس: أهل الذكر أهل القرآن وقيل: أهل العلم، والمعنى متقارب

.Berkata Ibnu ‘Abbas: “Ahludz Dzikri adalah Ahlul Quran (Ahlinya Al Quran), dan dikatakan: Ahli Ilmu (ulama), makna keduanya berdekatan.” (Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, Juz. 10, Hal. 108, Ihya’ Ats Turats Al ‘Arabi, 1985M-1405H. Beirut-Libanon)

✅ Allah Ta’ala membedakan kedudukan ulama dengan lainnya

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُون

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (Qs. Az Zumar: 9)

✅ Allah Ta’ala menerangkan ulama itu orang yang takut kpd Allah

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Qs. Fathir: 28)

✅ Allah Ta’ala mengangkat derajat org beriman dan berilmu

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Qs. Al Mujadilah: 11)

Dalam As Sunnah, saya ambil beberapa saja:

▶ Bukan Umat Rasulullah mereka yang tidak mengetahui hak-hak ulama

Dari ‘Ubadah bin Ash Shaamit Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Bukan termasuk umatku, orang yang tidak menghormati orang besar kami (orang tua, pen), tidak menyayangi anak kecil kami, dan tidak mengetahui hak para ulama kami.”

(HR. Ahmad No. 22755, Al Bazzar No. 2718, Ath Thahawi dalam Syarh Musykilul Atsar No. 1328, Asy Syaasyi dalam Musnadnya No. 1272. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih. Lihat Tahqiq Musnad Ahmad No. 22755)

Tiga hal dalam hadits ini yang dinilai “bukan golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,” yakni:
  1. Tidak menghormati orang besar/orang tua.
  2. Tidak sayang dengan yang kecil
  3. Tidak mengetahui hak ulama yang dengan itu dia merendahkannya

Imam Ibnu ‘Asakir memberikan nasihat buat kita, khususnya orang yang merendahkan ulama (karena mungkin merasa sudah jadi ulama sehingga dia berani merendahkannya!):

يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته وجعلنا ممن يغشاه ويتقيه حق تقاته أن لحوم العلماء مسمومة وعادة الله في هتك أستارمنتقصيهم معلومة وأن من أطلق لسانه في العلماء بالثلب ابتلاه الله تعالى قبل موته بموت القلب فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

Wahai saudaraku –semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan anda untuk mendapatkan ridhaNya dan menjadikan kita termasuk orang yang bertaqwa kepadaNYa dengan sebenar-benarnya- dan Ketahuilah, bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang meremehkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa siapa yang m

elepaskan mulutnya untuk mencela ulama maka Allah akan memberikan musibah baginya dengan kematian hati sebelum ia mati: maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Imam An Nawawi, At Tibyan, Hal. 30. Mawqi’ Al Warraq)

▶ Allah Ta’ala umumkan perang kepada orang yang memusuhi para ulama

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

Barang siapa yang memusuhi waliKu, maka aku telah umumkan peperangan kepadanya .. (Hr. Al Bukhari No. 6021)

Para ulama, amilin (org yg beramal shalih), shalihin, zahidin (org yg zuhud), adalah para wali-wali (kekasih) Allah Ta’ala. Memusuhi mereka, maka Allah Ta’ala proklamirkan perang buat buat musuh-musuh mereka.

Demikian. Wallahu a’lam

🌷☘🌺🌴🍃🌾🌻🌸

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top