Tidur Setelah Shalat Subuh

▫▫▫▫▪▪▪▪

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Perlu diketahui, tidak ada ayat atau hadits yang menyebutkan larangan tidur setelah shalat subuh. Sehingga pendapat yang paling kuat adalah BOLEH secara syar’i, sebab ketiadaan dalil atas larangannya. Bahkan, sebagian orang-orang shalih masa salaf melakukannya.

Dalam Al Mushannaf-nya Imam Ibnu Abi Syaibah disebutkan bahwa Aisyah, Ummu Salamah, Ibnu Sirin, Sa’id bin Jubeir, Shuhaib, mereka tidur setelah Subuh.[1]

Lalu, kenapa ada ulama lain sejak masa salaf dan khalaf memakruhkan? Sebab menurut mereka setelah subuh adalah waktu diberkahi, dan waktu dibagikan rezeki, dan tidak baik di sisi kesehatan tidur setelah shubuh.

Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah menjelaskan:

فإن النوم في هذا الوقت جائز بمعنى أنه لا يأثم فاعله، ولو لم يكن محتاجا إليه. وقد كرهه بعض أهل العلم نظرا لما يترتب عليه من آثار صحية وغيرها، إلا إذا كان لحاجة. وقد ورد أن الرزق يقسم في ذلك الوقت

“Sesungguhnya tidur di waktu ini adalah boleh, dalam arti tidak berdosa melakukannya, walau dia tidak membutuhkannya. Sebagian ulama memakruhkan karena melihat berbagai pertimbangan, seperti kesehatan dan lainnya, kecuali jika ada kebutuhan untuk melakukannya.” [2]

Imam Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad berkata;

نوم الصبحة يمنع الرزق لأن ذلك وقت تطلب فيه الخليقة أرزاقها وهو وقت قسمة الأرزاق فنومه حرمان إلا لعارض أو ضرورة . انتهى

“Tidur pagi itu menghalangi rezeki, sebab itulah saat rezeki makhluk sedang dicari, di waktu itulah rezeki sedang dibagikan. Maka, tidur di waktu itu bisa mencegahnya kecuali memang darurat.” [3]

Nabi ﷺ berdoa buat umatnya:

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا

“Ya Allah berkahilah umatku di pagi harinya.” [4]

‘Urwah bin Az Zubeir Rahimahullah berkata:

كَانَ الزُّبَيْرُ يَنْهَى بَنِيهِ عَنِ التَّصَبُّحِ

“Az Zubeir (bin Awwam) melarang anaknya untuk tidur setelah subuh.” [5]

Maka, sayang sekali jika waktu berkah itu disia-siakan. Ahsannya dan afdhalnya adalah berdizkir, tilawah, lalu silahkan istirahat. Atau beraktifitas seperti kerja, atau berbenah di rumah.

Kesimpulan:

– Tidak ada larangan syar’i tidur setelah subuh

– Sebagian salaf sejak masa sahabat dan tabi’in ada yang tidur setelah subuh

– Sebagian lain memakruhkannya sebab itu waktu yang diberkahi

Demikian. Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

[1] Imam Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, no. 25958-9, 25961-3

[2] Syaikh Abdullah Al Faqih, Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah no. 153487

[3] Imam Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad, 4/242

[4] HR. At Tirmidzi no. 1212, Abu Daud no. 2606, Ibnu Hibban no. 4754-4755. Hadits ini diperselisihkan statusnya. Imam At Tirmidzi menyatakan hasan. Imam Ibnu Hibban memasukkan dalam kitab Shahih-nya, begitu pula Syaikh Al Albani mengatakan shahih. Sementara Imam Ibnul Jauzi, Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Syaikh Husein Salim Asad mendhaifkannya.

[5] Imam Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, no. 25951

 

Menguap Ketika Shalat

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Mungkin pembaca pernah mengalami hal ini. Islam telah memberikan panduan, yaitu:

– Tahan sebisa mungkin
– Kalau tidak bisa, maka tutup mulut dengan tangan
– Jika sedang membaca, maka hentikan dulu sampai nguapnya selesai, baru lanjutkan bacaan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

التَّثَاؤُبُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ الشَّيْطَانُ

Menguap itu dari syetan, jika salah seorang kamu menguap maka tahanlah semampunya, karena jika kamu bersuara “HA” maka syetan tertawa. (HR. Muttafaq ‘Alaih, dari Abu Hurairah)

Dalam hadits lain:

اذا تثاءب أحدكم فليمسك بيده على فمه فإن الشيطان يدخل

Jika salah seorang diantara kamu menguap, maka tahanlah mulutnya dengan tangannya, karena syetan bisa masuk ke dalamnya. (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al Khudri)

Imam Ibnu ‘Allan Rahimahullah mengatakan:

“Yaitu tahan sejauh kemampuan dia dengan menutup mulutnya, kalau tidak mampu maka dia letakkan tangannya di mulutnya.” (Dalilul Falihin, 6/175)

Imam Al Munawi mengatakan: “Dengan tangan kiri bagian punggungnya.” (Faidhul Qadir, 1/404)

Wallahu A’lam

🍃🌻🌷🌾🌺🌸☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Menjawab Syubhat Multitafsir Tentang Arti Auliya (Pemimpin)

💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Bagaimana untuk menjawab Syubhat dengan dalil Aqli dan Naqli :
>Tentang larangan memilih pemimpin non muslim untuk memimpin umat islam di sebuah daerah atau negara.
>Bahwa ayat2 tentang larangan kepemimpinan itu multitafsir / multi interpretasi sehingga tidak bisa jadi dalil larangan orang kafir menjadi pemimpin.

Assalamu’alaikum..
Afwan tadz,mohon pencerahan atas pertanyaan di atas 🙏🙏 (085946373xxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam, … Bismillah wal Hamdulillah …

Ayat tersebut multitafsir bagi pendukung Si Penista Al Quran. Tapi tidak bagi para mufassir dan fuqaha.

Ayat al Quran ada 2 macam, Muhkamat (jelas) dan Mutasyabihat (maknanya samar). Ayat-ayat seperti, alif laam miim, alif laam raa, ini mutasyabihat yg maknanya tafwidhul ‘ilmi ilallah, kembalikan ilmunya kepada Allah.

Ada pun ayat muhkamat, seperti kutiba ‘alaikumush shiyam, wajib bagimu berpuasa, ini jelas. Begitu pula ayat laa tattakhidzul yahuda wan nashaara auliya, jangan jadikan yahudi dan nasrani sebagai auliya, ini juga sangat jelas.

Auliya adalah jamak/plural dari wali. Dalam ayat ini disebut AULIYA (tanpa alif lam, istilahnya nakirah), bukan AL AULIYA (dengan alif lam, istilahnya ma’rifah). Apa bedanya keduanya?

AULIYA memiliki makna indefinit, tak terbatas, maka cakupannya semua makna terkandung di dalamnya. Baik itu pemimpin, kawan setia, penolong, dan kekasih.

Kalau dalam bahasa inggris sama dengan “A President” , yang maknanya masih umum, maka berlaku bagi presiden mana pun.

AL AULIYA memiliki makna definitif, terbatas, hanya satu makna saja. Seperti THE PRESIDENT, yg personnya sudah spesifik.

Maka, karena ayat ini dan ayat-ayat semisal menggunakan kata AULIYA, maka larangan berlaku semua maknanya baik pemimpin, kawan dekat, teman setia, atau penolong.

Jadi, terlarang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai semua makna itu; jangan jadikan mereka sebagai pemimpin, kawan dekat, teman setia, penolong, dan kekasih, seraya mengenyampingkan kaum muslimin.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🌿💐🌴☘🌸🌾🌻🌱

✍ Farid Nu’man Hasan

Ketika Pelawak Menghina Ulama

▫▫▫▫▪▪▪▪

📌 Melucu yang cerdas semakin sulit kita dapatkan dari para pelawak

📌 Umumnya lawakan mereka hanyalah kumpulan kebohongan atau kisah nyata yang dibumbui kebohongan untuk mengundang tawa.

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ Bersabda: “Seorang hamba tidak dikatakan beriman dengan sepenuhnya kecuali jika dia meninggalkan berbohong ketika bergurau, dan meninggalkan berdebat meski ia benar.” (HR. Ahmad)

Dr. Muhammad Rabi’ Muhammad Jauhari mengatakan:

“Beliau (Nabi ﷺ) memberikan arahan kepada para sahabatnya agar memiliki komitmen yang kuat untuk jujur dalam bergurau dan memperingatkan dari dusta saat bergurau. Dari Bahz bin Hakim, katanya: berkata ayahku, dari ayahnya, katanya: bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Celakalah bagi yang bicara lalu dia berdusta hanya untuk membuat orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi).

(Akhlaquna, Hal. 179. Cet. 4, 1999M/1420H. Maktabah Darul Fakhr Al Islamiyah)

📌 Sering pula hinaan demi hinaan kepada lawan mainnya bahkan kadang mereka pun rela dihina hanya untuk memunculkan tawa

📌 Baik hinaan kepada fisik, sifat, gaya bicara, gaya jalan ..

📌 Hasilnya adalah lawakan berkualitas rendah dan tidak mendidik, gelak tawa yang berawal dari kedustaan dan merendahkan sesama manusia

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

“Wahai orang-orang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum lainnya ..” (QS. Al Hujurat: 11)

📌 Keburukan semakin bertambah parah jika yang direndahkan adalah Rasulullah ﷺ dan para ulama.

📌 Jika pelawak itu muslim, maka posisi sebagai musuh Rasulullah ﷺ lebih nampak, dibanding sebagai umat Rasulullah ﷺ ..

📌 Buat para penghina ulama, ketahuilah .. telah berlalu banyak manusia penista yang ujung hidupnya merana tersiksa krn Allah Ta’ala mendeklarasikan perang kepada para musuh-musuh waliNya.

Dalam hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Barang siapa yang memusuhi WaliKu, maka aku deklarasikan perang kepadanya.”

(HR. Bukhari no. 6502)

📌 Kepada para penghina ulama, Imam Ibnu ‘Asakir Rahimahullah mengatakan:

يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته وجعلنا ممن يغشاه ويتقيه حق تقاته أن لحوم العلماء مسمومة وعادة الله في هتك أستارمنتقصيهم معلومة وأن من أطلق لسانه في العلماء بالثلب ابتلاه الله تعالى قبل موته بموت القلب فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

Wahai saudaraku –semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan anda untuk mendapatkan ridhaNya dan menjadikan kita termasuk orang yang bertaqwa kepadaNYa dengan sebenar-benarnya- dan Ketahuilah, bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang merendahkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa siapa yang melepaskan mulutnya untuk mencela ulama maka Allah akan memberikan musibah baginya dengan kematian hati sebelum ia mati: maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

(Imam An Nawawi, At Tibyan, Hal. 30. Mawqi’ Al Warraq)

Wallahul Musta’an!

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

scroll to top