Dakwah dan Budaya

عن عائشة أنها زفت امرأة إلى رجل من الأنصار فقال نبي الله-صلى الله عليه وسلم-: “يا عائشة، ما كان معكم لهو، فإن الأنصار يعجبهم اللهو”

Dari ‘Aisyah, bahwa dia menikahkan seorang wanita kepada laki-laki Anshar. Nabi ﷺ berkata: “Wahai ‘Aisyah, kenapa tidak ada hiburan, karena orang Anshar itu suka hiburan” (HR. Bukhari no. 5162)

Beberapa pelajaran:

Pada hadits ini menunjukkan Rasulullah ﷺ memiliki kemampuan memahami budaya masyarakatnya.

Beliau bukanlah orang Anshar (Madinah), tapi Mekkah (Muhajirin), namun Beliau mengenali dengan baik budaya orang Anshar yang suka Al Lahwu (hiburan, nyanyian, permainan), dan Beliau menghargai hal itu.

Hal itu ditunjukkan oleh keheranan Beliau atas pesta pernikahan Anshar yang sepi dari Al Lahwu, padahal kaum Anshar menyukainya.

Peristiwa ini menunjukkan pentingnya bagi seorang muslim apalagi aktivis dakwah, untuk ma’rifatul maidan (mengenal lingkungan) dalam dakwahnya.

Tentu budaya yang dimaksud adalah yang baik dan positif, maka tetap menghargai bahkan ikut menjaganya. Bahkan bisa menjadikannya sbg mimbar untuk nasyrul khair (menyebarkan kebaikan).

Ada pun budaya yang menyimpang, baik secara aqidah, ibadah, akhlak, dan pemikiran, tentu ini mesti diperbaiki dengan cara efektif dan hati-hati.

Di sisi lain, hadits ini menjadi dalil bagi para ulama bolehnya hiburan (nyanyian, permainan) yang baik-baik, pada acara yang baik-baik pula.

Imam Ibnu Baththal menjelaskan:

اتفق العلماء على جواز اللهو فى وليمة النكاح، مثل ضرب الدف وشبهه ما لم يكن محرمًا وخصت الوليمة بذلك ليظهر النكاح وينتشر فتثبت حقوقه وحرمته

“Para ulama sepakat atas dibolehkannya al-lahwu (hiburan, nyanyian, permainan) dalam pesta pernikahan, seperti memukul rebana dan semisalnya, selama tidak mengandung hal yang haram. Dikhususkannya pesta pernikahan dalam hal lahwu bertujuan agar pernikahan menjadi nampak dan tersebar luas, sehingga dapat memenuhi hak-haknya dan kehormatannya.” (Syarh Shahih Al Bukhari, 7/279-280)

Hal ini sejalan dengan hadits shahih lainnya. Ar Rubayyi binti Mu’awidz Radhiallahu ‘Anha bercerita:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عُرْسِي، فَقَعَدَ فِي مَوْضِعِ فِرَاشِي هَذَا، وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ تَضْرِبَانِ بِالدُّفِّ، وَتَنْدُبَانِ آبَائِي الَّذِينَ قُتِلُوا يَوْمَ بَدْرٍ، فَقَالَتَا فِيمَا تَقُولَانِ: وَفِينَا نَبِيٌّ يَعْلَمُ مَا يَكُونُ فِي الْيَوْمِ وَفِي غَدٍ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا هَذَا، فَلَا تَقُولَاهُ

Pada hari pernikahanku Rasulullah ﷺ datang, dia duduk di permadaniku ini, aku memiliki dua jariyah (budak wanita remaja) yang sedang memainkan rebana, mereka menyanyikan lagu tentang ayah-ayah kami ketika terbunuh dalam perang Badar, maka mereka menyanyikan, “Di tengah kita ada seorang nabi yang mengetahui apa yang terjadi hari ini dan esok.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Ucapan yang ini, janganlah kalian berdua ucapkan.” (HR. Ahmad No. 27021. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan: shahih sesuai syarat Imam Muslim. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad, 44/570)

Karena itulah, Syakh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah mengatakan:

فلا يحرم سماع صوت المرأة ولو مغنية، إلا عند خوف الفتنة

Maka, tidaklah diharamkan mendengarkan suara wanita walau wanita penyanyi kecuali jika khawatir terjadinya fitnah (syahwat). (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 2/116)

Juga sejalan dengan hadits lainnya yg shahih. Dari Buraidah Radhiallahu ‘Anhu katanya:

خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ جَاءَتْ جَارِيَةٌ سَوْدَاءُ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي كُنْتَُذَرْتُ إِنْ رَدَّكَ اللَّهُ سَالِمًا أَنْ أَضْرِبَ بَيْنَ يَدَيْكَ بِالدُّفِّ وَأَتَغَنَّى، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ كُنْتِ نَذَرْتِ فَاضْرِبِي وَإِلاَّ فَلاَ
فَجَعَلَتْ تَضْرِبُ، فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَهِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عَلِيٌّ وَهِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ وَهِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عُمَرُ فَأَلْقَتِ الدُّفَّ تَحْتَ اسْتِهَا، ثُمَّ قَعَدَتْ عَلَيْهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَخَافُ مِنْكَ يَا عُمَرُ، إِنِّي كُنْتُ جَالِسًا وَهِيَ تَضْرِبُ فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَهِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عَلِيٌّ وَهِيَ تَضْرِبُ، ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ وَهِيَ تَضْرِبُ، فَلَمَّا دَخَلْتَ أَنْتَ يَا عُمَرُ أَلْقَتِ الدُّفَّ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan peperangan, ketika sudah kembali datanglah kepadanya seorang budak wanita berkulit hitam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku bernadzar jika engkau kembali dalam keadaan selamat aku akan memainkan REBANA dan  BERNYANYI di hadapanmu.” Rasulullah bersabda, “Jika engkau sudah bernadzar maka pukullah rebana itu, jika tidak bernadzar maka tidak usah dipukul rebananya.” Maka wanita itu pun memainkan rebananya, lalu masuklah Abu Bakar dia masih memainkannya. Masuklah Ali dia masih memainkannya. Masuklah Utsman dia masih memainkannya. Lalu ketika Umar yang masuk, dibantinglah rebana itu dan dia duduk (ketakutan). Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Umar syetan saja benar-benar takut kepadamu, ketika aku duduk dia memukul rebana, ketika Abu Bakar masuk dia amsih memainkannya, ketika Ali datang dia masih memainkannya, ketika Utsman datang dia masih memainkannya, tapi ketika Engkau yang datang dia lempar rebana itu.  (HR. At Tirmdzi No. 3690, katanya: hasan shahih. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam berbagai kitabnya)

Imam Ali Al-Qari Rahimahullah mengomentari kisah ini:

دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ سَمَاعَ صَوْتِ الْمَرْأَةِ بِالْغِنَاءِ مُبَاحٌ إِذَا خَلَا عَنِ الْفِتْنَةِ

Ini merupakan dalil bahwa mendengarkan suara wanita yang bernyanyi adalah mubah jika tidak ada fitnah. (Mirqah Al-Mafatih, 9/3902)

Namun masalah nyanyian dengan musik, baik suara laki-laki maupun wanita, walau dengan isi nasyid (syair) yang baik-baik adalah perkara pro kontra dalam fiqih para ulama sejak masa salaf dan khalaf. Ini kenyataan yang mesti diakui fakta dan eksistensinya dengan lapang dada oleh kedua pihak dengan mengedepankan adabul ikhtilaf.

Wallahu A’lam wa Lillahil ‘Izzah

✍ Farid Nu’man Hasan

Tahanlah Olehmu Jari jemarimu

“Tahanlah olehmu Jari jemarimu” bukanlah hadits Nabi ﷺ

Tapi kalimat tsb terinspirasi dari hadits:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir berkata, Aku bertanya: Wahai Rasulullah ﷺ bagaimana supaya selamat? beliau menjawab:

1. Jagalah olehmu lisanmu
2. Hendaklah rumahmu membuatmu lapang
3. dan menangislah karena dosa dosamu (HR. At Tirmidzi no. 2406, hasan)

Menjaga lisan adalah salah satu jalan keselamatan; asalkan mampu menjaganya dari menyebar fitnah (berita bohong), ghibah, adu domba, caci makian, dan semisalnya.

Kebalikannya, mulut (lisan) pula yang paling banyak menyebabkan manusia ke neraka. Sebagaimana hadits:

وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

Rasulullah ﷺ ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, maka beliau menjawab: “(karena) Mulut dan kemaluan.” (HR. At Tirmidzi no. 2004, hadits hasan)

Namun, zaman media sosial seperti sekarang, komunikasi manusia lebih didominasi atau diwakili oleh jari jemarinya, sehingga jari jemari menjadi delegasi lisannya. Baik mengetik, men-share, men-copas, komen, dll.

Oleh karena itu, pastikan dulu apa yang kita tulis, share, copas, adalah akurat, benar, dan memiliki manfaat.

Bukan berita dusta, atau bukan sesuatu yang tidak ada manfaat. Jangan asal share, asal komen, asal copas.

Rasulullah ﷺ bersabda:

بِحَسْبِ الْمَرْءِ مِنَ الْكَذِبِ أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang termasuk berbohong jika dia membicarakan semua apa yang didengarnya. (HR. Muslim no. 5)

Imam an Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

وَأَمَّا مَعْنَى الْحَدِيثِ وَالْآثَارِ الَّتِي فِي الْبَابِ فَفِيهَا الزَّجْرُ عَنِ التَّحْدِيثِ بِكُلِّ مَا سَمِعَ الْإِنْسَانُ فَإِنَّهُ يَسْمَعُ فِي الْعَادَةِ الصِّدْقَ وَالْكَذِبَ فَإِذَا حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ فَقَدْ كَذَبَ لِإِخْبَارِهِ بِمَا لَمْ يَكُنْ وَقَدْ تَقَدَّمَ أَنَّ مَذْهَبَ أَهْلِ الْحَقِّ أَنَّ الْكَذِبَ الْإِخْبَارُ عن الشيء بخلاف ماهو وَلَا يُشْتَرَطُ فِيهِ التَّعَمُّدُ لَكِنَّ التَّعَمُّدُ شَرْطٌ فِي كَوْنِهِ إِثْمًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Ada pun makna hadits dan atsar dalam bab ini adalah larangan keras bagi manusia membicarakan semua yang dia dengarkan, sebab aktifitas mendengarkan itu biasanya ada berita yang benar dan berita yang bohong, maka jika dia membicarakan semua yang didengarnya barang tentu dia telah berbohong, karena telah menyebarkannya apa-apa yang tidak terjadi. Telah dijelaskan sebelumnya, menurut madzhab Ahlul haq bahwa yang dikatakan berita bohong adalah sesuatu yang menyelisihi apa yang seharusnya. Dalam hal ini, unsur kesengajaan itu tidaklah menjadi syarat bahwa dia telah berbohong, tetapi kesengajaan itu merupakan syarat yang membuat dirinya berdosa. Wallahu A’lam

(al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 1/75)

Maka, jangan tergesa-gesa menyebarkan berita, sebab tergesa-gesa itu dari syetan. Rasulullah ﷺ bersabda:

التأني من الله و العجلة من الشيطان

Hati-hati itu dari Allah, tergesa-gesa itu dari syetan.

(HR. al Baihaqi, as Sunan al Kubra, 10/104. Sanadnya: hasan)

Maka, sayangilah diri kita di akhirat nanti … disaat jari jemari akan berbicara dan menjadi saksi atas apa yang telah diperbuatnya.

Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamith Thariq

✍ Farid Nu’man Hasan

Muhammad SAW Menjadi Nabi Dulu Sebelum Rasul

◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN:

Bismillahirrahmanirrahim. Ustadz, benarkah bahwa ada ulama yang mengatakan kalau pada Wahyu pertama, nabi itu belum menjadi Rasul ? Atau pendapat yang mengatakan menjaga nabi dulu kemudian Rasul. Terimakasih

✒️❕JAWABAN

Bismillahirrahmanirrahim..

Ya, benar. Tertulis dalam Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah:

وبدء النبوة كان بنزول أول آية نزلت من القرآن ـ وهي قول الله تعالى: اقرأ باسم ربك الذي خلق. الآية

Awal permulaan KENABIAN adalah dengan turunnya ayat pertama Al Quran yaitu Iqro’ bismi rabbikalladzi khalaq

وهذا لا نزاع فيه بين أهل العلم، وأما ما كان يأتيه قبل ذلك من الرؤى الصادقة، فمن إرهاصات النبوة وليست هي النبوة

Hal ini TIDAK ADA PERDEBATAN para ulama. Ada pun apa yang dialaminya sebelum itu baik berupa mimpi yang benar, tanda-tanda kenabian saat kecil (irhash), bukanlah masa kenabian.

وكان بدء الرسالة بنزول قوله تعالى: يا أيها المدثر قم فأنذر

Ada pun permulaan KERASULAN adalah dengan turunnya firman Allah Ta’ala: Ya Ayyuhal Muddatsir, qum fa andzir

(Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 137815)

Demikian. Wallahu a’lam

Farid Nu’man Hasan

Hukum Ziarah Kubur Bagi Wanita

◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN:

apakah ada larangan wanita yang sedang haidh untuk ziarah kubur? (B – Lampung)

✒️❕JAWABAN

Bismillahirrahmanirrahim..

Berziarah kubur bagi wanita muslimah baik haid atau tidak, diperselisihkan hukumnya oleh para ulama. Sebagian mengatakan terlarang namun mayoritas mengatakan boleh.

Pihak Yang Melarang

Mereka berdalil dengan hadits:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah ﷺ melaknat zawarat (para wanita yang berziarah kubur).

(HR. At Tirmidzi no. 1056, Beliau berkata: hasan shahih. Ibnu Majah juga meriwayatkan dari jalur Ibnu Abbas, dengan sanad hasan)

Bagi pihak yang melarang, hadits ini larangan yang begitu jelas bagi wanita yang berziarah kubur baik haid atau tidak, sama saja. Mereka adalah Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad al Badr, dan lainnya.

Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr menjelaskan:

فالقول الصحيح هو القول بالتحريم، وأن النساء لا يجوز لهن أن يزرن القبور، ثم أيضاً -كما هو واضح- أن المرأة إذا تركت الزيارة فأكثر ما في الأمر أنها تركت أمراً مستحباً، وأما إذا فعلت الزيارة فإنها تتعرض للعنة كما في هذا الحديث، ومعلوم أن ترك هذا الفعل الذي تسلم فيه من اللعنة أولى ومقدم على كونها تفعل شيئاً لو تركته لم يحصل لها شيء إلا أنها تركت أمراً مستحباً لا يترتب على تركه شيء. إذاً: القول بالتحريم والمنع هو الأظهر والأولى

Maka, pendapat yang benar adalah pendapat yang mengharamkannya, bahwa wanita tidak boleh berziarah kubur, lalu juga –sebagaimana yang telah jelas- bahwa wanita jika dia meninggalkan ziarah, maka paling banyak dia akan meninggalkan perkara sunah saja, ada pun jika dia melakukan ziarah, maka dia akan mendapatkan laknat sebagaimana disebutkan oleh hadits, telah maklum bahwa meninggalkan perbuatan ini, yang dengan itu akan membuatnya selamat dari laknat, adalah lebih utama dan didahulukan dibanding dia melakukan perbuatan yang jika dia tinggalkan tidak berdampak apa-apa, melainkan hanya dia telah meninggalkan anjuran saja, dan jika dia tinggalkan tidak apa-apa. Jadi, pendapat yang mengharamkannya lebih kuat dan utama. (Syarh Sunan Abi Daud, 17/150)

Pihak Yang Membolehkan

Ada sejumlah dalil yang menunjukkan wanita baik haid atau tidak, boleh berziarah kubur.

Di antaranya adalah dalil-dalil umum anjuran berziarah kubur, yang mana dalil ini berlaku umum baik laki-laki maupun perempuan, haid atau tidak.

عن بُرَيْدَة – رضي الله عنه – ، قَالَ : قَالَ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ( كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عن زِيَارَةِ القُبُورِ فَزُوروها ) رواه مسلم . وفي رواية : ( فَمَنْ أرَادَ أنْ يَزُورَ القُبُورَ فَلْيَزُرْ ؛ فإنَّهَا تُذَكِّرُنَا الآخِرَةَ )

Dari Buraidah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: Bersabda Rasulullah ﷺ: “Dahulu aku melarang kalian dari berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah.” (HR. Muslim no. 1977). Riwayat lain: “maka barangsiapa yang hendak berziarah kubur maka berziarahlah, karena hal itu bisa mengingatkan akhirat.”

Hadits lainnya:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلَّمَا كَانَ لَيْلَتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ إِلَى الْبَقِيعِ فَيَقُولُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَأَتَاكُمْ مَا تُوعَدُونَ غَدًا مُؤَجَّلُونَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata: Dahulu Rasulullah ﷺ ketika giliran malamnya bersama Rasulullah ﷺ , Beliau keluar pada malam itu menuju pekuburan Baqi’, Beliau bersabda: “Salam sejahtera untuk kalian negeri kaum beriman, telah didatangkan kepada kalian apa-apa yang dijanjikan, hari besok akan segera, dan kami –Insya Allah- akan besama kalian, Ya Allah berikanlah ampunan kepada penghuni Baqi’.” (HR. Muslim no. 974)

Berkata Al ‘Allamah Asy Syaikh Waliyuddin At Tibrizi Rahimahullah:

لأن الزيارة عللت بتذكير الموت ، ويحتاج إليه الرجال والنساء جميعاً

Karena berziarah merupakan sebab untuk mengingat kematian, dan hal itu dibutuhkan oleh laki-laki dan wanita sekaligus. (Misykah Al Mashabih, 5/1033)

Berkata Imam Mulla Ali Al Qari Rahimahullah:

وقد عللت الزيارة فيها بأنها ترق القلب وتدمع العين وتذكر الآخرة والموت ، وبأن فيها عبرة ما لفظه هذه الأحاديث بتعليلاتها تدل على أن النساء كالرجال في حكم الزيارة

Telah ada berbagai alasan berziarah bagi wanita, di dalamnya hal itu bisa melembutkan hati, mengalirkan air mata, dan mengingat akhirat dan kematian, dan pelajaran yang terdapat pada berbagai hadits yang menyebutkan sebab itu menunjukkan bahwa wanita adalah sama dengan laki-laki tentang hukum berziarah (kubur). (Ibid)

Ada pun tentang dalil khusus kebolehan wanita berziarah kubur, adalah perbuatan Aisyah Radhiallahu ‘Anha yang melakukannya dan diizinkan oleh Rasulullah ﷺ.

عن ابن أبي مليكة عن عائشة رضي الله عنها أنها كانت إذا قدمت مكة جاءت إلى قبر أخيها عبد الرحمن بن أبي بكر رضي الله عنهما فسلمت عليه

Dari Ibnu Abi Malikah, dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Beliau jika datang ke Mekkah, mendatangi ke kubur saudaranya Abdurrahman bin Abu Bakr Radhiallahu ‘Anhuma, dan mengucapkan salam kepadanya. (HR. Al Fakihi, Akhbar Makkah, No. 2443, Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 3/235)

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, -haditsnya cukup panjang kami ambil bagian akhirnya saja:

فَقَالَ إِنَّ رَبَّكَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَ أَهْلَ الْبَقِيعِ فَتَسْتَغْفِرَ لَهُمْ قَالَتْ قُلْتُ كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُولِي السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللَّهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ

Beliau bersabda: Sesungguhnya Rabbmu memrintahkan kamu untuk mendatangi ahlul baqi’ (kuburan baqi’), hendaknya memohonkan ampun buat mereka.” ‘Aisyah berkata: Aku bertanya: “Bagaimana yang aku ucapkan untuk mereka wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “katakanlah: As Salamu ‘Ala Ahlad Diyar minal mu’minin wal Muslimin ………….dst.” (HR. Muslim No. 974)

Kisah ini menunjukkan secara terang benderang kebolehannya. Jika berziarah kubur dilarang, tentulah pertanyaan ‘Aisyah itu tidak akan dijawab, atau sekalipun dijawab akan dijawab dengan larangan ke kubur bagi dirinya.

Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu menceritakan:

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

Nabi ﷺ melewati seorang wanita yang menangis di sisi kubur. Nabi bersabda: “Bertaqwa-lah kepada Allah dan bersabarlah.” Wanita itu berkata: “Enyah kau dariku, kau tidak mendapatkan musibah seperti yang aku terima.” Wanita itu tidak mengenalinya, lalu dikatakan kepadanya bahwa itu adalah Nabi ﷺ. Lalu wanita itu mendatangi pintu rumah Nabi ﷺ, dia tidak menemui adanya penjaga pintu. Lalu wanita itunberkata: “Aku tadi tidak mengenali engkau.” Nabi ﷺ bersabda: “Sabar itu dihantaman yang pertama.” (HR. Bukhari No. 1283)

Hadits ini sangat jelas menunjukkan kebolehannya, jika terlarang tentulah wanita itu sudah dilarang oleh Nabi ﷺ berada di sisi kubur.

Demikianlah alasan-alasan pihak yang membolehkan. Pendapat ini didukung juga oleh Syaikh Al Albani Rahimahullah. Syaikh Al Mubarkafuri mengutip dari Imam ibnu Hajar bahwa ini adalah pendapat mayoritas ulama. (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/137)

Sanggahan Dari Pihak Mayoritas kepada pihak yang melarang

Pihak yang membolehkan telah mengkoreksi alasan-alasan pihak yang melarang ini di beberapa sisi.

Pertama. Makna Zawarat

Mereka mengatakan bahwa makna zawarat adalah wanita yang sering-sering ziarah kubur. Itulah yg terlaknat dalam hadits tersebut. Bukan semata-mata wanita yang berziarah kubur.

Disebutkan dalam Tuhfah Al Ahwadzi:

قال القارىء لعل المراد كثيرات الزيارة وقال القرطبي هذا اللعن إنما هو للمكثرات من الزيارة

Berkata Al Qari bahwa bisa jadi maknanya adalah banyak berziarah. Al Qurthubi berkata: laknat ini adalah untuk yang banyak melakukan ziarah. (Syaikh Abul ‘Ala Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwdzi, 4/126)

Imam As Suyuthi mengatakan, bahwa yang dilaknat dalam hadits ini adalah wanita yang berziarah dengan tanpa menjaga adab dan akhlak, katanya:

إن اللعن محمول على زيارتهم بما لا يجوز كالتبرج والجزع والصياح وغير ذلك مما لا ينبغي ، وأما إذا أمن جميع ذلك فلا مانع من الإذن لهن

Sesungguhnya laknat di sini dimaknai bahwa ziarahnya mereka itu dibarengi dengan hal-hal yang tidak diperbolehkan seperti tabarruj (bersolek), mengeluh, berteriak, dan hal-hal tidak pantas lainnya. Ada pun jika aman dari semua hal ini, maka tidak terlarang mengizinkan mereka (untuk ziarah). (Misykah Al Mashabih, 5/1033)

Imam Asy Syaukani menguatkan penjelasan para imam ini, katanya:

وهذا الكلام هو الذي ينبغي اعتماده في الجمع بين أحاديث الباب المتعارضة في الظاهر

Dan ini adalah perkataan yang tepat untuk dijadikan pegangan di dalam mengkompromikan hadits-hadits yang secara zahirnya nampak bertentangan dalam bab ini. (Nailul Authar, 4/95)

Kedua. Hadits larangan telah mansukh (dihapus).

Larangan tersebut terjadi di masa-masa awal Islam, dengan kata lain telah mansukh (dihapus), sebagaimana penjelasan Imam At Tirmidzi Rahimahullah tentang hadits La’ana Az Zawaaraat Al Qubur (Rasulullah ﷺ melaknat wanita yang berziarah kubur):

قد رأى بعض أهل العلم أن هذا كان قبل أن برخص النبي – صلى الله عليه وسلم – في زيارة القبور، فلما رخص دخل في رخصته الرجال والنساء

Sebagian ulama mengatakan bahwa hal ini terjadi ketika sebelum diberikan keringanan oleh Nabi ﷺ tentang ziarah kubur, maka ketika sudah diberikan keringanan, maka keringanan itu mencakup laki-laki dan wanita. (Lihat Sunan At Tirmidzi No. 1056, lihat juga Imam As Suyuthi dalam Syarh Sunan Ibni Majah, 1/113, Imam Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, 2/417 )

Mansukh-nya hadits ini semakin jelas dengan riwayat ketika ‘Aisyah berziarah ke kubur saudaranya:

فقيل لها أليس قد نهى النبي صلى الله عليه و سلم عن ذلك قالت نعم كان نهى ثم أمر بزيارتها انتهى

Dikatakan kepada ‘Aisyah, bukankah Nabi ﷺ telah melarang hal itu? Beliau menjawab: “Ya, dahulu Beliau melarang, kemudian Beliau memerintahkan untuk berziarah.” Selesai. (Tuhfah Al Ahwadzi, 4/137)

Tiga. Sanadnya lemah

Menurut pihak yang membolehkan, hadits tersebut lemah. Imam Ibnu Abdil Bar menyebutkan:

قال أبو بكر وسمعت أبا عبد الله يعني أحمد بن حنبل يسأل عن المرأة تزور القبر فقال أرجو إن شاء الله أن لا يكون به بأس عائشة زارت قبر أخيها قال ولكن حديث ابن عباس أن النبي صلى الله عليه وسلم لعن زوارات القبور ثم قال هذا أبو صالح ماذا كأنه يضعفه ثم قال أرجو إن شاء الله عائشة زارت قبر أخيها قيل لأبي عبد الله فالرجال قال أما الرجال فلا بأس به

Berkata Abu Bakar: Aku mendengar Abu Abdillah –yakni Imam Ahmad bin Hambal- ditanya tentang wanita yang berziarah kubur. Beliau menjawab: “Aku harap hal itu tidak apa-apa, Insya Allah, ‘Aisyah menziarahi kubur saudaranya. ” Orang itu berkata: “Tetapi ada hadits Ibnu Abbas bahwa Nabi ﷺ melaknat wanita peziarah kubur.” Imam Ahmad menjawab: “Hadits ini terdapat Abu Shalih.” Apa yang dikatakannya seakan dia mendhaifkan hadits ini. Lalu Imam Ahmad berkata: “Aku harap tidak apa-apa, Insya Allah, ‘Aisyah berziarah ke kubur saudaranya.” Ditanyakan kepada beliau: “Kalau kaum laki-laki?” Beliau menjawab: “Ada pun laki-laki, tidak apa-apa.” (At Tamhid, 3/234)

Syaikh Al Albani telah mendhaifkan hadits Ibnu Abbas di atas, dan Beliau telah mengkritik para ulama yang telah berhujjah dengan hadits ini. Katanya:

أن هذا الحديث مع شهرته ضعيف الاسناد، لا تقوم به حجة، وإن تساهل كثير من المصنفين فأوردوه في هذا الباب وسكتوا عن علته، كما فعل ابن حجر في (الزواجر)، ومن قبله العلامة ابن القيم في (زاد المعاد)، واغتر به جماهير السلفيين وأهل الحديث فاحتجوا به في كتبهم ورسائلهم ومحاضراتهم

Hadits ini walau terkenal, isnadnya lemah (dhaif). Tidak boleh berhujjah dengannya. Sesungguhnya telah banyak penyusun kitab meremehkan hal ini, mereka menyampaikan hadits ini dalam permasalahan ini dan mereka diam saja terhadap cacat yang ada dalam hadits ini, sebagaimana yang dilakukan Ibnu Hajar dalam Az Zawajir. Juga sebelum beliau, Al ‘Allamah Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad, yang membuat terpedaya mayoritas salafiyin dan ahli hadits. Mereka berdalil dengan hadits ini baik pada buku, risalah, dan ceramah-ceramah mereka. (Ahkamul Janaiz, Hal. 232)

Kesimpulan:

Telah nampak bahwa pendapat yang membolehkan adalah pendapat yang lebih kuat. Dilihat dari banyak sisi:

– Hadits-haditsnya jauh lebih banyak jumlahnya, lebih kuat dalam periwayatannya, dan lebih beragam jenisnya, baik qauliyah (ucapan) dan taqririyah (persetujuan) nabi, yakni disebutkan dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan lainnya. Hadits-hadits ini ada yang berlaku umum (laki-laki dan wanita), dan ada pula yang khusus wanita.

– Sementara hadits yang paling kuat tentang pelarangan diriwayatkan lebih sedikit, dan diperdebatkan keshahihannya, yang paling kuat adalah hasan baik jalur Abu Hurairah dan Ibnu Abbas.

– Hadits riwayat Imam At Tirmidzi itu pun dimungkinkan telah mansukh sebagaimana keterangan sebagian ulama, dan diperkuat oleh pernyataan ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha.

– Kalau pun hadits itu tidak mansukh, maknanya bukan berarti terlaknat wanita yang berziarah kubur, tetapi terlaknat yang banyak berziarah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ali Al Qari, Imam Al Qurthubi, Imam As Suyuthi, dan lainnya, dan yang dikuatkan oleh Imam Asy Syaukani dan Syaikh Al Albani.

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top