Pujian Para Ulama Kepada Perjuangan HAMAS dan Para Tokohnya

Tidak sedikit komentar syubhat, fitnah, dan dusta, yang dilontarkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab tentang mujahidin Palestina di Gaza, khususnya HAMAS. Para pencela ini mengaku muslim, mengaku pro Palestina, tapi justru mencela mujahidinnya, menebarkan fitnah, menuduh dan asal bunyi. Tentunya perbuatan mereka selain aneh, jahat, juga menguntungkan Zionis Yahudi.

Perlu nampaknya kami sampaikan bagaimana pujian para ulama tentang para pejuang Gaza, khususnya HAMAS, agar mulut-mulut kotor tukang fitnah menghentikan fitnahannya, dan agar orang-orang yang terombang-ambing kembali tenang dan istiqamah.

1. Pujian Mufti Arab Saudi kepada pendiri HAMAS

Mufti Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz Alu Asy Syaikh berkata ketika mendengar berita wafatnya Syaikh Ahmad Yasin:

فإناً قد تلقينا ببالغ الحزن نبأ اغتيال الشيخ الشهيد أحمد ياسين غفر الله له ورحمه ورفع درجته في المهديين وخلفه في عقبه في الغابرين على يد طغمة فاسدة ظالمة عليها من الله ما تستحق ولما كان معروفاً عن الشيخ رحمه الله صبره وجهاده ووقوفه في وجه الظلم سني حياته فإني أرجو أن تكون خاتمته هذه خاتمة السعادة وأن يكون من الشهداء الأبرار

“Sesungguhnya kami menerima kabar terbunuhnya Asy Syaikh ASY SYAHID Ahmad Yasin ini dengan perasaan duka. Semoga Allah mengampuni beliau, merahmatinya, dan meninggikan derajatnya di surga dan memberikan pengganti beliau dalam rangka melawan kekuatan zalim yang keji semoga Allah membalas berbuatan mereka. Sepanjang hayatnya, Syaikh dikenal orang yang bersabar, berjihad, dan tegar dihadapan kezaliman, saya berharap semoga akhir kehidupannya adalah kehidupan yang bahagia dan  sebagai SYUHADA yang penuh kebaikan.”

Sumber: http://www.saaid.net/Doat/Zugail/313.htm

2. Pujian Syaikh Al Luhaidan (Ulama Senior di Arab Saudi, Anggota Hai’ah Kibaril ‘Ulama) kepada Syaikh Ahmad Yasin dan HAMAS

Syaikh Shalih Al Luhaidan mengkritik keras orang-orang yang mencela dan memfitnah HAMAS dan Syaikh Ahmad Yasin Rahimahullah.

Beliau berkata:

الرجل أشتهر عنه الخير .. والثبات ..
وإغاضة اليهود .. ومن ورائهم من حماتهم ..المدافعين عنهم ..ثم الرجل قُتِل قتلةً ،، بشعةً ،، شنيعة ..  نسأل الله أن يجعله بعدها في أعلى عليين ..
تَنَقُصُهم ، هو ومن يقاتل اليهود ، .. لايدل على خير من المُنَتَقِص .. وإنما إما يدل على إما جهل بالحقائق ..أو عن هوى ..والمسلم ينبغي أن يتجنب هذا وهذا ..

“Laki-laki ini (Syaikh Ahmad yasin) terkenal dengan kebaikannya, keteguhannya dan perlawanannya yang sengit terhadap Yahudi. Dan, di belakang beliau ada orang-orang yang siap melindungi dan membelanya (maksudnya HAMAS). Kemudian Syaikh Ahmad Yasin dibunuh secara keji dan tak berperikemanusiaan. Kita memohon kepada Allah memasukkannya di surgaNya yang tinggi. Orang-orang yang menjelek-jelekkan mereka (HAMAS) –beliau dan orang-orang yang memerangi Yahudi- tidak menunjukkan kebaikan orang yang menjelek-jelekkannya, melainkan menunjukkan kebodohannya terhadap fakta yang ada atau hanya menunjukkan hawa nafsunya. Seorang muslim hendaknya menjauhi hal ini dan itu …

Sumber: https://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?p=321491

3. Syaikh Abdul Hayy Yusuf, ulama Sudan, alumni Madinah

Syaikh ditanya oleh seseorang bernama ‘Adil Abdul Mun’im:

“Apa hukum orang yang mencela saudara-saudara kita di Gaza?”

Jawaban:

“Mencela para mujahid adalah sifat kaum munafiq. Kaum munafiq mencela para mujahidin, mencela para pimpinan mujahid,  menciptakan keraguan atas niat mereka, dan menganggap bodoh perbuatan mereka. Inilah perilaku kaum munafiq sejak masa lalu.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

أَشِحَّةً عَلَيۡكُمۡۖ فَإِذَا جَآءَ ٱلۡخَوۡفُ رَأَيۡتَهُمۡ يَنظُرُونَ إِلَيۡكَ تَدُورُ أَعۡيُنُهُمۡ كَٱلَّذِي يُغۡشَىٰ عَلَيۡهِ مِنَ ٱلۡمَوۡتِۖ فَإِذَا ذَهَبَ ٱلۡخَوۡفُ سَلَقُوكُم بِأَلۡسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى ٱلۡخَيۡرِۚ أُوْلَٰٓئِكَ لَمۡ يُؤۡمِنُواْ فَأَحۡبَطَ ٱللَّهُ أَعۡمَٰلَهُمۡۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٗا

Mereka (kaum munafiq) kikir terhadapmu. Apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka kikir untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus amalnya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. Al Ahzab:  19)

Sumber: https://youtu.be/LGHwzc5qRxk

4. Syaikh Shalih Al Maghamisi Hafizhahullah (Da’i terkenal Arab Saudi dan Mantan Imam dan Khathib Masjid Quba)

Beliau berkata tentang Syaikh Ahmad Yasin, HAMAS, dan pejuang di Gaza:

أولئك المرابطين في غزة .. ومحبتهم وموالاتهم دينهم وقربة وواجب .. وهم عندي المعنيون بقول النبي صلى الله عليه وسلم : المرابطون في اكناف بيت المقدس

Merekalah orang-orang yang menjaga Gaza .. (didasari) oleh kecintaan dan kesetiaan mereka kepada agama, qurbah (ibadah kepada Allah), dan menjalankan kewajiban. Bagiku merekalah yang dimaksud dalam hadits Nabi ﷺ : “Orang-orang yang melindungi sekitar Baitul Maqdis.”

Sumber: https://youtu.be/QWUan6b3PdU?si=MeJqHkX-ffKwECxR (detik ke 21-33)

5. Syaikh Muhammad Al ‘Arifi Hafizhahullah (Da’i terkenal di Arab Saudi)

Beliau menjelaskan tentang hadits:

Akan ada sekelompok ummatku yang senantiasa berada diatas kebenaran, mereka  menang dan mengalahkan musuh mereka, orang yang menentang mereka tidaklah membahayakan mereka kecuali cobaan yang menimpa mereka hingga urusan Allah tiba dan mereka tetap seperti itu.” Mereka bertanya; Wahai Rasulullah! Dimana mereka? Rasulullah ﷺ  bersabda;  “Baitul Maqdis dan di sekitar Baitul Maqdis.”

(HR. Ahmad no. 22320. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: Shahih. Ta’liq Musnad Ahmad no. 22320)

Syaikh Muhammad Al ‘Arifi menjelaskan:

أنا أرى -والله تعالى اعلم- أن هذا الحديث ينطبق على اخواننا فى حماس

Menurutku -Wallahu A’lam- hadits ini  sejalan untuk saudara-saudara kita di HAMAS

Sumber: https://youtu.be/QWUan6b3PdU?si=MeJqHkX-ffKwECxR (lihat menit 1, detik 39-43)

6. Fatwa 27 Ulama Mauritania tentang Perlawanan di Gaza dan HAMAS di Perang Badai Al Aqsha

Salah satu poinnya:

أن المجاهدين في فلسطين اليوم، وفي مقدمتهم حركة المقاومة الإسلامية ‌‏(حماس)، وبقية الفصائل المجاهدة، هم من خيرة المجاهدين على ظهر ‏الأرض، المدافعين عن المقدسات، الذابِّينَ عن العرض والحرمات.‏
ولا يَشكُّك في ذلك إلا جاهل، أو جاحد!‏

Sesungguhnya gerakan HAMAS serta semua faksi perlawanan yang ada di Palestina saat ini adalah mujahidin terbaik di muka bumi yang mempertahankan tanah suci serta menjaga kehormatan dan harga diri umat. Tidak ada yang meragukan hal ini kecuali orang jahil (bodoh) atau jahid (orang penolak fakta dan tidak berterima kasih).

Sumber: https://palscholars.org/news/%d9%81%d8%aa%d9%88%d9%89-%d8%b4%d8%b1%d8%b9%d9%8a%d8%a9-%d8%ad%d9%88%d9%84-%d8%a7%d9%84%d8%ac%d9%87%d8%a7%d8%af-%d9%88%d8%a7%d9%84%d9%85%d8%ac%d8%a7%d9%87%d8%af%d9%8a%d9%86-%d9%81%d9%8a-%d9%81%d9%84/

7. Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini (tokoh Salafi Mesir, murid Syaikh al Albani)

Beliau berkata tentang HAMAS:

“HAMAS adalah jamaah sunniyah (Ahlus Sunnah), tidak ada masalah pada mereka. Mereka bukan rofidhah (syiah) sebagaimana yang disebarkan oleh kelompok penipu dari kalangan Ahli Bid’ah – Madakhilah”

Dan masih banyak lainnya.

Wallahu A’lam Wa Lillahil ‘Izzah wa walirasulihi wa Lil Mu’minin

✍ Farid Numan Hasan

Hukum Berjualan di Teras Masjid

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum ustad,izin tanya apakah boleh berjualan dilokasi masjid,seperti jual minyak wangi,buku2 islam dansebagainya… (Lokasi di teras masjid)

✒️❕JAWABAN

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

Pada masjid ada bagian yang dinamakan AR RAHABAH, yaitu bagian bangunan atau teras yang masih nyambung dengan masjid, walau itu bukan bagian utama. Maka, semua sisi bangunan yang masih menempel dan satu pondasi dengan masjid itu namanya rahabah. Jadi, sekretariat masjid, perpustakaan, aula, jika semuanya bersambung dengan ruang utama masjid maka itu termasuk.

Imam Ibnu Hajar berkata tentang makna Ar Rahbah ini:

هِيَ بِنَاء يَكُون أَمَام بَاب الْمَسْجِد غَيْر مُنْفَصِل عَنْهُ ، هَذِهِ رَحَبَة الْمَسْجِد

Itu adalah bangunan yang berada di depan pintu masjid yang tidak terpisah dari masjid, inilah makna Ar Rahabah-nya masjid. (Fathul Bari, 13/155)

Kemudian, para fuqaha berbeda pendapat apakah rahabah termasuk masjid atau bukan? Jumhur mengatakan BUKAN bagian dari masjid, sehingga tidak berlaku hukum-hukum masjid.

Sebagian lain mengatakan bagian dari masjid, sehingga berlaku hukum-hukum masjid termasuk larangan-larangan di masjid.

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

فَاَلَّذِي يُفْهَمُ مِنْ كَلامِ الْحَنَفِيَّةِ وَالْمَالِكِيَّةِ وَالْحَنَابِلَةِ فِي الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ أَنَّهَا لَيْسَتْ مِنْ الْمَسْجِدِ , وَمُقَابِلُ الصَّحِيحِ عِنْدَهُمْ أَنَّهَا مِنْ الْمَسْجِدِ , وَجَمَعَ أَبُو يَعْلَى بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ بِأَنَّ الرَّحْبَةَ الْمَحُوطَةَ وَعَلَيْهَا بَابٌ هِيَ مِنْ الْمَسْجِدِ . وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إلَى أَنَّ رَحْبَةَ الْمَسْجِدِ مِنْ الْمَسْجِدِ , فَلَوْ اعْتَكَفَ فِيهَا صَحَّ اعْتِكَافُهُ

Maka, yang bisa difahami dari perkataan kalangan Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah, menurut pendapat yang sah sebagai pendapat madzhab adalah Ar Rahabah bukan termasuk masjid, dan ada pendapat mereka yang berlawanan dengan pendapat ini bahwa Ar Rahabah adalah bagian dari masjid. Abu Ya’la memadukan di antara dua riwayat yang berbeda ini bahwa Ar Rahabah yang termasuk masjid merupakan Ar Rahabah (bagian lapang) yang diberikan pagar (batasan/tembok) dan di atasnya dibuat pintu. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 5/224)

Manakah pendapat yang lebih kuat? Imam Ibnu Hajar berkata :

وَوَقَعَ فِيهَا الِاخْتِلَاف ، وَالرَّاجِح أَنَّ لَهَا حُكْم الْمَسْجِد فَيَصِحّ فِيهَا الِاعْتِكَاف

Telah terjadi perbedaan pendapat tentang ini, namun pendapat yang lebih kuat adalah Ar Rahabah memiliki hukum-hukum masjid, dan SAH I’tikaf di dalamnya. ( Fathul Bari, 13/155)

Imam Al ‘Aini Al Hanafi menerangkan tentang Ar Rahabah:

وهي الساحة والمكان المتسع أمام باب المسجد غير منفصل عنه وحكمها حكم المسجد فيصح فيها الاعتكاف في الأصح بخلاف ما إذا كانت منفصلة

Ar Rahabah adalah lapangan atau tempat yang luas di depan pintu masjid yang tidak terpisah dari masjid, hukumnya sama dengan hukum masjid, maka sah beri’tikaf di dalamnya menurut pendapat yang lebih benar dari perbedaan pendapat yang ada, selama dia masih bersambung dengan masjid. (Imam Badruddin Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 35/254)

Imam An Nawawi menjelaskan pula:

وقد نص الشافعي علي صحه الاعتكاف في الرحبة قال القاضي أبو الطيب في المجرد قال الشافعي يصح الاعتكاف في رحاب المسجد لانها من المسجد

Imam Asy Syafi’i telah mengatakan bahwa SAH-nya I’tikaf di Ar Rahbah. Al Qadhi Abu Ath Thayyib berkata dalam Al Mujarrad: “Berkata Asy Syafi’i: I’tikaf sah dilakukan di bangunan yang menyatu dengan masjid, karena itu termasuk bagian area masjid. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 6/507)

Jadi, selama bangunan itu (baik tegelnya atau dindingnya) MASIH menyatu dengan masjid –seperti teras, atap, ruang samping mihrab, basement, sekretariat, aula, menara- maka dia termasuk masjid, dan sah I’tikaf di sana, dan berlaku larangan jual beli di sana. Inilah pendapat yang lebih kuat di antara dua perselisihan yang ada, dan pendapat ini sesuai dengan kaidah:

الحريم له حكم ما هو حريم له

Sekeliling dari sesuatu memiliki hukum yang sama dengan hukum yang berlaku pada sesuatu itu sendiri. (Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhair, Hal. 125)

Tapi bagi yg meyakini itu bukan bagian dari masjid, juga tidak kita ingkari sbb itu pendapat para kaum muslimin.

Wallahu A’lam

✏ Farid Nu’man Hasan

Bolehkah Berutang dalam Islam?

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum ust, Afwan minta waktu nya ya… Ada pertanyaan dari Ikhwan… Apa boleh kita berhutang dalam Islam? Berhutang seperti apa yg tidak diperbolehkan dalam Islam ?? Mohon sekali pencerahannya ust Jazakallah ust

✒️❕JAWABAN

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

Wa’alaikumussa wa Rahmatullah wa Barakatuh

Boleh, dengan syarat:

– Memang perlu, tidak menjadi kebiasaan atau kecanduan
– yakin bisa bayar
– Tidak mengandung riba

Allah Ta’ala membolehkan dan Rasulullah ﷺ sendiri pernah berhutang ..

Dalam Al Qur’an:

َا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai (berhutang) untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al Baqarah : 282)

وَإِنْ كُنْتُمْ عَلَى سَفَرٍ وَلَمْ تَجِدُوا كَاتِبًا فَرِهَانٌ مَقْبُوضَةٌ فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُمْ بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ الَّذِي اؤْتُمِنَ أَمَانَتَهُ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آَثِمٌ قَلْبُهُ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai-berhutang) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ADA BARANG TANGGUNGAN yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian” (QS. Al Baqarah: 283).

Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata:

اشْتَرَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيئَةٍ، وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran ditunda (berhutang) dan beliau juga menggadaikan perisai kepadanya.”

(HR. Bukhari No. 2096 dan Muslim No. 1603)

Bahkan berhutang untuk keperluan ibadah juga diperbolehkan, misal untuk qurban, aqiqah, Umrah dan haji, asalkan kembali ke tiga ketentuan di atas.

Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah menceritakan dari Al Haarits tentang dialog antara Imam Ahmad bin Hambal dan Shalih (anaknya), katanya:

وقال له صالح ابنه الرجل يولد له وليس عنده ما يعق أحب إليك أن يستقرض ويعق عنه أم يؤخر ذلك حتى يوسر قال أشد ما سمعنا في العقيقة حديث الحسن عن سمرة عن النبي كل غلام رهينة بعقيقته وإني لأرجو إن استقرض أن يعجل الله الخلف لأنه أحيا سنة من سنن رسول الله واتبع ما جاء عنه انتهى

Shalih –anak laki-laki Imam Ahmad- berkata kepadanya bahwa dia kelahiran seorang anak tetapi tidak memiliki sesuatu buat aqiqah, mana yang engkau sukai berhutang untuk aqiqah ataukah menundanya sampai lapang keadaan finansialnya. Imam Ahmad menjawab: “Sejauh yang aku dengar, hadits yang paling kuat anjurannya tentang aqiqah adalah hadits Al Hasan dari Samurah, dari Nabi bahwa, “Semua bayi tergadaikan oleh aqiqahnya,” aku berharap jika berhutang untuk aqiqah semoga Allah segera menggantinya karena dia telah menghidupkan sunah di antara sunah-sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan telah mengikuti apa-apa yang Beliau bawa. Selesai. (Tuhfatul Maudud fi Ahkamil Maulud, Hal. 64. Cet. 1, 1971M-1391H. Maktabah Darul Bayan)

Demikian. Wallahu A’lam

✏ Farid Nu’man Hasan

Bayi yang Belum Diaqiqahkan Tidak Bisa Memberi Syafa’at Kepada Orang Tuanya?

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN:

Bismillah, afwan ustadz
Ada titipan pertanyaan

1.) Sebagai seorang muslim kita di suruh untuk beribadah kepada Allah dan menjauhi larangannya beriman terhadap rukun iman yang ada , sebagai orang awam apa kah itu cukup ??
Sedangkan waktu zaman nabi itu cobaan ny sepertinya berat2 , ujian ny sepertinya lebih berat ,nah kita kan hidup di zaman modernisasi berarti trus merdeka berarti Allah kasi ujian itu beda lagi ya atau bagaimana ??

2.) Apa benar anak yg tidak di aqiqahi tidak bisa memberi syafaat untuk kedua orangtua nya di yaumul akhir ?

Syukron


✒️❕JAWABAN

◼◽◼◽◼◽◼◽◼◽

Bismillahirrahmanirrahim..

1. Untuk orang awam, asalkan dia beriman kepada rukun iman yang 6 dan menjalankan rukun Islam yang 5.. (ada pun Haji jika mampu, zakat jika nishab), serta menjauhi larangan agama, maka itu sudah cukup.

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ
أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصِّيَامِ فَقَالَ شَهْرَ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الزَّكَاةِ فَقَالَ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَالَ وَالَّذِي أَكْرَمَكَ لَا أَتَطَوَّعُ شَيْئًا وَلَا أَنْقُصُ مِمَّا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ صَدَق

Dari Thalhah bin ‘Ubaidullah; Ada seorang Arab Badui datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan kepalanya penuh debu lalu berkata, “Wahai Rasulullah, kabarkan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan buatku tentang shalat?”. Maka beliau ﷺ menjawab, “Shalat lima kali kecuali bila kamu mau menambah dengan yang tathowwu’ (sunnat) “. Orang itu bertanya lagi, “Lalu kabarkan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan buatku tentang puasa?”. Maka beliau ﷺ menjawab, “Puasa di bulan Ramadan kecuali bila kamu mau menambah dengan yang tathowwu’ (sunnat) “.”Dan shiyam (puasa) Ramadan”. Orang itu bertanya lagi, “Lalu kabarkan kepadaku apa yang telah Allah wajibkan buatku tentang zakat?”. Berkata, Thalhah bin ‘Ubaidullah radhiallahu’anhu: Maka Rasulullah ﷺ menjelaskan keorang itu tentang syari-at-syari’at Islam. Kemudian orang itu berkata, “Demi Dzat yang telah memuliakan Anda, Aku tidak akan mengerjakan yang sunnah sekalipun, namun aku pun tidak akan mengurangi satupun dari apa yang telah Allah wajibkan buatku”. Maka Rasulullah ﷺ berkata, “Dia akan beruntung jika jujur menepatinya atau dia akan masuk surga jika jujur menepatinya ”

(HR. Bukhari no. 1891)

2. Tidak ada hadits yang secara harfiyah menyebut seperti itu. Yang ada adalah hadits: setiap bayi yang lahir tergadaikan oleh aqiqahnya. Salah satu penjelasan ulama tentang makna tergadai oleh aqiqahnya adalah jika bayi itu wafat dan belum diaqiqahkan maka dia tidak menjadi syafaat buat ortuanya, seperti yang dikatakan Imam Ahmad bin Hambal.

Demikian. Wallahu a’lam

✏ Farid Nu’man Hasan

scroll to top