Berpuasa Setelah 15 Sya’ban, Terlarangkah?

📨 PERTANYAAN:

Assalamu ‘Alaikum Ustadz, ana mau Tanya, kalau gak salah, ada hadits riwayat At Tirmidzi yang menjelaskan bahwa ketika tersisa separuh bulan Sya’ban, maka janganlah berpuasa, itu maksudnya apa ya? Apa haditsnya shahih? (Rasyid)

📬 JAWABAN

Wa ‘Alaikum Salam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Man waalah wa Ba’d:

Ya, pertanyaan ini cukup sering ditanyakan, dan sejak lama pula kami ingin memberikan jawaban secara mendetail. Alhamdulillah saat ini ada kesempatan untuk itu.

Hadits larangan berpuasa setelah separuh bulan Sya’ban memang ada, yaitu sebagai berikut:

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا كَانَ النِّصْفُ مِنْ شَعْبَانَ فَأَمْسِكُوا عَنْ الصَّوْمِ حَتَّى يَكُونَ رَمَضَانُ

Jika sudah pada separuh bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa hingga masuk bulan Ramadhan.

📌 Hadits ini dan -yang semisalnya- diriwayatkan oleh:

–  Imam Ahmad dalam Musnadnya No. 9707
–  Imam Abu Daud dalam Sunannya No. 2337
–  Imam At Tirmidzi dalam Sunannya No. 738
–  Imam An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 2911
–  Imam Ibnu Majah dalam Sunannya No. 6151
–  Imam Ibnu Hibban dalam Shahihnya No. 3589
–  Imam Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Awsath No. 1936
–  Imam Al Baihaqi dalam AAs Sunan Al Baihaqi No.7750
–  Imam Ad Darimi dalam Sunannya No. 1740
–  Imam Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 2710
–  Imam Abu Ja’far Ath Thahawi dalam Syarh Ma’anil Aatsar, 2/82
–  Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, 3/21
–  Imam Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 7325
–  Imam Ad Dailami dalam Musnad Firdaus No. 1006

Semua sanad hadits ini berasal dari: Al ‘Ala bin Abdurrahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah.

Tentang keshahihan hadits ini, para ulama berbeda pendapat.

📌 Pihak yang menshahihkan

–  Imam At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih. (Sunan At Tirmidzi No. 738)
–   Imam Ibnu Hibban memasukkan hadits ini dalam kitab Shahihnya, maka menurutnya ini adalah shahih. (Shahih Ibni Hibban No. 3589)
–  Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani menyatakan shahih dalam berbagai kitabnya. (Shahih Abi Daud No. 2025, Shahih Ibni Majah No. 1651, Tahqiq Misykah Al Mashabih No. 1973, Ar Raudh An Nadhiir No. 643, dll)
–  Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan shahih. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 9707)
–  Syaikh  Ibnu Baaz juga menshahihkan. (Majmu’ Fatawa, 15/385)

📌 Pihak yang mendhaifkan

–  Imam Ahmad dan Imam Yahya bin Ma’in berkata: hadits ini munkar! (Mir’ah Al Mafatih, 6/441, Ta’liq Musnad Ahmad No. 9707)
–  Imam Abdurrahman bin Al Mahdi juga mengingkari riwayat Al ‘Ala bin Abdirrahman ini. (Syaikh Abdul Aziz bin  Marzuq Ath Thuraifi, Syarh Bulughul Maram,  Hal. 47)
–  Imam Abu Zur’ah dan Imam Al Atsram juga menyatakan munkar. (Lathaif Al Ma’arif, Hal. 151)

Nah, perbedaan dalam menilai keshahihannya tentu berdampak pada berbeda pula dalam mengamalkannya. Bagi pihak yang mendhaifkan tentu sama sekali tidak masalah berpuasa setelah 15 sya’ban. Bagi yang menshahihkan tentu mereka melarang berpuasa setelah 15 Sya’ban, yaitu larangan dengan makna makruh.

Imam Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullah berkata:

صححه الترمذي و غيره و اختلف العلماء في صحة هذا الحديث ثم في العمل به : فأما تصحيحه فصححه غير واحد منهم الترمذي و ابن حبان و الحاكم و الطحاوي و ابن عبد البر و تكلم فيه من هو أكبر من هؤلاء و أعلم و قالوا : هو حديث منكر منهم ابن المهدي و الإمام أحمد و أبو زرعة الرازي و الأثرم و قال الإمام أحمد : لم يرو العلاء حديثا أنكر منه

Dishahihkan oleh At Tirmidzi dan selainnya. Para ulama berbeda pendapat tentang keshahihan hadits ini, kemudian berbeda pula  tentang mengamalkan hadits ini. Ada pun pihak yang menshahihkan adalah lebih dari satu orang, di antaranya At Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al Hakim, Ath Thahawi, dan Ibnu Abdil Bar. NAMUN HADITS INI DIPERBINCANGJAN OLEH PARA IMAM YANG LEBIH BESAR DAN LEBIH BERILMU DIBANDING MEREKA, mereka mengatakan: ini adalah hadits munkar. Mereka adalah Ibnu Al Mahdi, Imam Ahmad, Abu Zur’ah Ar

Razi, dan  Al Atsram.  Imam Ahmad berkata: “Al ‘Ala tidak pernah meriwayatkan hadits yang lebih munkar dari ini.” (Lathaif Al Ma’arif, Hal. 151)

Sebagian ulama yang melarang berpuasa setelah 15 Sya’ban mengatakan bahwa makruhnya hal ini karena dikhawatiri melemahkan pelakunya karena dia berpuasa sepanjang bulan dan akan berpuasa lagi ketika Ramadhan nanti, serta dikhawatiri dia telah menyambung dua bulan puasa secara berturut-turut, padahal tidak ada puasa full kecuali hanya Ramadhan saja. Jika tidak melemahkan badan, dan tidak pula dia menyambungkannya, maka tidak apa-apa berpuasa setelah 15 Sya’ban.  Atau, kemakruhannya adalah jika dia berpuasa setelah 15 Sya’ban itu dilakukan sengaja dan  tanpa sebab, tanpa didahului oleh puasa pada  hari sebelumnya, dan sekedar ingin berpuasa saja. Sedangkan jika ada sebab seperti Senin Kamis, puasa Daud, atau dia sudah terbiasa berpuasa maka tidak apa-apa.

Pada titik ini, sebenarnya tidak ada perbedaan signifikan dengan para ulama yang membolehkan, mereka pun hampir mengatakan serupa.

Pihak yang memakruhkan, seperti Imam Mulla Ali Al Qari Rahimahullah berkata:

والنهي للتنزيه رحمة على الأمة أن يضعفوا عن حق القيام بصيام رمضان على وجه النشاط ، وأما من صام شعبان كله فيتعود بالصوم ويزول عنه الكلفة. ولذا قيد بالإنتصاف أو نهي عنه لأنه نوع من التقدم والله أعلم.

Larangan hanya menunjukkan makruh tanzih, sebagai kasih sayang untuk umat di mana mereka dapat mengalami kelemahan untuk menjalankan shalat malam  ketika Ramadhan  yang begitu  giat dilaksanakan, ada pun bagi orang yang berpuasa Sya’ban keseluruhannya maka pembiasaan itu dengan berpuasa bisa menghilangkan  taklifnya Ramadhan.  Oleh karenanya berpuasa setengah bulan itu atau larangannya, terikat oleh hal ini, karena hal itu  (berpuasa setengah bulan setelah 15 Sya’ban) termasuk jenis larangan “mendahulukan berpuasa” ketika menjelang Ramadhan. Wallahu A’lam. (Mirqah Al Mafatih, 6/280)

Maksud larangan mendahulukan puasa ketika menjelang Ramadhan adalah hadits berikut:

لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

“Janganlah salah seorang kalian mendahulukan Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali bagi seseorang yang  sedang menjalankan puasa kebiasaannya, maka puasalah pada hari itu.”  (HR. Bukhari No. 1815)

Mulla Ali Al Qari berkata lagi – Beliau mengutip dari Al Qadhi ‘Iyadh, katanya:

المقصود استجمام من لا يقوى على تتابع الصيام فاستحب الإفطار كما استحب إفطار عرفة ليتقوى على الدعاء فأما من قدر فلا نهي له ولذلك جمع النبي بين الشهرين في الصوم اه وهو كلام حسن لكن يخالف مشهور مذهبه أن الصيام بلا سبب بعد نصف شعبان مكروه

Maksudnya adalah memberikan keringanan bagi orang yang tidak kuat puasa berturut-turut, maka dianjurkan baginya untuk tidak berpuasa, sebagaimana  orang yang sedang wukuf di Arafah dianjurkan tidak berpuasa agar dia kuat berdoa. Ada pun bagi orang yang mampu melakukannya maka tidak ada larangan baginya, oleh karenanya Nabi pun menggabungkan puasa selama dua bulan, dst. (Ali Al Qari berkata): ini adalah komentar yang bagus, tetapi berselisih dengan madzhabnya sendiri  bahwasanya berpuasa tanpa sebab dilakukan setelah 15 Sya’ban adalah makruh. (Ibid)

Imam Al Mundziri Rahimahullah berkata – dan Beliau termasuk yang membolehkan puasa Sya’ban setelah tanggal 15:

من قال إن النهي عن الصيام بعد النصف من شعبان لأجل التقوى على صيام رمضان والاستجمام له ، فقد أبعد. فإن نصف شعبان إذا أضعف كان كل شعبان أحرى أن يضعف ، وقد جوز العلماء صيام جميع شعبان.

Barang siapa yang mengatakan bahwa larangan berpuasa setelah 15 Sya’ban adalah disebabkan kekuatan utuk puasa Ramadhan dan meringankannya, maka itu adalah pemahaman yang jauh. Jika memang setengah Sya’ban itu bisa melelahkan, maka berpuasa pada seluruh Sya’ban adalah lebih pantas untuk melemahkan. Para ulama telah membolehkan berpuasa pada seluruh hari Sya’ban. (Syaikh Waliyuddin At Tibrizi, Misykah Al Mashabih, 6/874)

Imam Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki Rahimahullah berkata:

قال بعض أئمتنا: يجوز بلا كراهة الصوم بعد النصف مطلقاً تمسكاً بأ

ن الحديث غير ثابت أو محمول على من يخاف الضعف بالصوم

Sebagian imam kami berkata: dibolehkan  secara mutlak dan tidak makruh berpuasa setelah separuh Sya’ban, berdasarkan dalil bahwa hadits yang melarangnya adalah tidak tsabit (kuat), atau (kalau pun kuat, pen)  maknanya adalah makruh bagi orang yang menjadi lemah dengan puasanya tersebut.  (Ibid)

Syaikh Abdul Aziz Ar Rajihi Hafizhahullah berkata:

وحديث العلاء يدل على المنع من تعمد الصوم بعد النصف, لا لعادة، ولا مضافا إلى ما قبله

Hadita Al ‘Ala ini menunjukkan larangan menyengaja berpuasa setelah saparuh Sya’ban padahal  puasa bukan  kebiasaan dia, dan bukan pula sebagai tambahan dari sebelumnya. (Al Ilmam bisy Syai’ min Ahkamish Shiyam, Hal. 6)

Syaikh Ibnu Baaz Rahimahullah juga berkata:

والمراد به النهي عن ابتداء الصوم بعد النصف ، أما من صام أكثر الشهر أو الشهر كله فقد أصاب السنة

Maksud dari larangan ini adalah memulai puasa setelah separuh Sya’ban, ada pun berpuasa lebih dari sebulan atau sebulan penuh maka itu sesuai dengan sunah. (Majmu’ Fatawa,  15/385)

📚 Dengan memadukan semua pandangan ulama ini, kesimpulannya:

–  Hadits ini diperselisihkan keshahihannya, pihak yang menshahihkan dan mendhaifkan adalah imam besar pada zamannya, namun pihak yang mendhaifkan adalah ulama yang lebih besar dan berilmu, sebagaimana kata Imam Ibnu Rajab.

–  Seandainya pun shahih, larangan ini bermakna makruh, bukan haram.

–  Larangan terjadi jika hal itu membuat pelakunya lemah  ketika memasuki Ramadhan

–  Larangan juga berlaku bagi orang yang tidak terbiasa puasa, namun sekalinya  berpuasa dia menyengaja melakukannya pada hari setelah separuh Sya’ban,  tanpa dia dahului   berpuasa pada hari-hari sebelumnya.

–  Makruhnya juga bagi orang yang melakukannya tanpa sebab.

–  Jadi, puasa setelah separuh Sya’ban adalah boleh bagi: 1. yang memang sudah terbiasa puasa lalu kebiasaannya itu diteruskan ketika setelah 15 hari Sya’ban, 2. Yang melakukannya karena sebab khusus seperti senin kamis, dan puasa Daud.

Sekian. Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi Ajma’in.

🍃🌾🌸🌴🌺☘🌷🌻

Farid Nu’man Hasan

Membaca Shadaqallahul ‘Azhim, Bid’ahkah?

📨 PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Hukum membaca Shadaqallahul ‘Azhim, bid’ahkah? (Yudhi Fadhil, Riau)

📬 JAWABAN

Wa Alaikum Salam Wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala rasulillah wa ‘ala aalihi wa ashhabihi wa man waalah, wa ba’du:

Sebagusnya lisan kita sebagai penuntut ilmu jangan mudah mengeluarkan kata-kata bid’ah atau haram, terhadap permasalahan yang hakikatnya kita belum tahu. Tahan dahulu. Urusan bid’ah atau haram, adalah perkara besar dalam Islam. Sebab bagi pelakunya diancam neraka oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Masih bagus jika mereka mengatakan, “Masalah ini para ulama berbeda pendapat, ada yang membolehkan ada pula yang melarang, tetapi saya pilih yang melarang.” Dengan demikian berarti kita telah jujur dalam ilmu dan permasalahan, dan amanah dalam penyampaian.

Termasuk dalam hal membaca shadaqallahul ‘azhim setelah membaca ayat. Sebagaimana kita tahu ada pihak yang membid’ahkan, alasannya sederhana, karena tidak ada dalilnya hal itu dilakukan oleh Rasulullah dan sahabat. Nah, benarkah masalah ini hanya satu pendapat yakni bid’ah? Ternyata tidak, justru banyak Imam yang mempraktekkannya dan membolehkannya di berbagai zaman dan madzhab. Maka, hendaknya kita menjaga lisan dan adab, kalau pun tidak tahu, lebih baik diamlah.

📌 Siapa sajakah para Imam yang pernah membacanya?

Pada kesempatan ini kami hanya akan memaparkan para ulama yang membolehkan saja. Ada pun pihak yang melarangnya, seperti para ulama di Lajnah Daimah Saud Arabia, Syaikh Shalih Fauzan, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Mushthafa Al ‘Adawi, Syaikh Muhammad Musa Nashr, dan lainnya tidak kami sampaikan, sebab fatwa-fatwa mereka sangat mudah di dapatkan di berbagai situs Islam, dan jawaban ini juga bertujuan sebagai cover both side, sisi lain,  bahwa apa yang dituduhkan sekelompok manusia sebagai bid’ah, ternyata itu merupakan perbuatan atas rekomendasi sebagian para Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah lainnya juga. Sehingga, tidak sepantasnya bersikap keras dalam perkara yang para imam terdahulu hingga saat ini mereka masih berselisih pendapat. Di sisi lain, umat pun mengetahui secara adil dan imbang kenyataan sebenarnya.

Berikut ini sebagian para ulama yang membolehkan bahkan menerapkan membaca Shaddaqallahul ‘Azhim setelah membaca Al Quran.

✅ Imam Hasan Al Bashri Radhiallahu ‘Anhu

Dia adalah tokoh tabi’in senior. Dia termasuk tujuh ahli fiqih Madinah pada zamannya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, ketika membahas surat Saba’ ayat 18, beliau mengutip ucapan Imam Hasan Al Bashri, sebagai berikut:

وقال الحسن البصري: صدق الله العظيم. لا يعاقب بمثل فعله إلا الكفور.

Berkata Al Hasan Al Bashri: “Shadaqallahul ‘Azhim. Tidaklah mendapatkan siksa semisal ini bagi pelakunya, melainkan orang kafir.” [1]

✅ Imam Al Qurthubi Rahimahullah

Dalam tafsirnya dia menulis:

” وفى السماء رزقكم وما توعدون ” فإنا نقول: صدق الله العظيم، وصدق رسوله الكريم، وأن الرزق هنا المطر بإجماع أهل التأويل

“Dan di langit Dia memberikan rizki kepada kalian, dan apa-apa yang dijanjikan kepada kalian,” Maka, kami berkata: Shadaqallahul ‘Azhim wa shadaqa rasul al karim, sesungguhnya maksud rezeki di sini adalah hujan berdasarkan6 ijma’ ahli takwil ..dst.” [2]

✅ Imam Ibnul ‘Iraqi Rahimahullah

Beliau ditanya begini;

وَسُئِلَ ابْنُ الْعِرَاقِيِّ عَنْ مُصَلٍّ قَالَ بَعْدَ قِرَاءَةِ إمَامِهِ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ هَلْ يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ وَلَا تَبْطُلُ صَلَاتُهُ فَأَجَابَ بِأَنَّ ذَلِكَ جَائِزٌ وَلَا تَبْطُلُ بِهِ الصَّلَاةُ

Ibnul Iraqi ditanya tentang orang yang shalat, setelah imam selesai membaca, orang itu membaca ‘Shadaqallahul ‘Azhim’, apakah boleh baginya dan tidak membatalkan shalatnya? Dia menjawab: Hal itu boleh, dan tidaklah membatalkan shalat.” [3]

✅ Imam Syihabuddin Ar Ramli Rahimahullah

Dalam Nihayatul Muhtaj dia mengatakan:

لَوْ قَالَ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ عِنْدَ قِرَاءَةِ شَيْءٍ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ م ر يَنْبَغِي أَنْ لَا يَضُرَّ

“Seandainya dia berkata Shadaqallahul ‘Azhim saat membaca bagian dari Al Quran,(berkata Ar Rafi’i) maka itu tidak memudharatkan (tidak mengapa).” [4]

✅ Imam Abu Hafs Umar Al Wardi Rahimahullah

Dalam Syarhul Bahjah Al Wardiyah beliau berkata:

كُلُّ مَا لَفْظُهُ الْخَبَرُ نَحْوُ صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيمُ أَوْ آمَنْتُ بِاَللَّهِ عِنْدَ سَمَاعِ الْقِرَاءَةِ بَلْ قَالَ شَيْخُنَا ز ي : لَا يَضُرُّ الْإِطْلَاقُ فِي هَذَا

“Semua yang dilafazhkannya, seperti Shadaqallahul ‘Azhim atau amantu billah, ketika mendengar bacaan Al Quran, bahkan syaikh kami berkata: Tidak memudharatkan secara muthlak dalam hal ini (alias boleh).”[5]

✅ Imam An Nawawi Rahimahullah

Dalam Al Majmu’ beliau mengatakan:

ثم صدق الله العظيم ” يسئلونك عن الاهلة قل هي مواقيت للناس والحج

“Kemudian Shadaqallahul ‘Azhim “Yas aluunaka ‘anil ahilah qul hiya mawaqitu linnas.” [6]

✅ Syaikh Dhiya’ Al Mishri dalam Fathul Manan mengatakan:

ويستحب للقارىء إذا انتهت قراءته أن يصدق ربه ويشهد بالبلاغ لرسوله صلى الله عليه وسلم ويشهد على ذلك أنه حق فيقول: صدق الله العظيم، وبلغ رسوله الكريم، ونحن على ذلك من الشاهدين.

“Dianjurkan bagi pembaca Al Quran, jika telah selesai hendaknya dia membenarkan Tuhannya, dan bersaksi atas tabligh yang dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan bersaksi bahwa itu adalah kebenaran, maka hendaknya membaca: Shadaqallahul ‘Azhim, Wa balagha rasuluhul karim, wa nahnu ‘ala dzalika minasy syahidin.” [7]

✅ Syaikh Athiyah Saqr, Mufti Mesir, ketika ditanya apa hukum membaca Shadaqallahhul ‘Azhim. Dia mengkirtik dan memberi peringatan kepada orang-orang yang gampang membid’ahkan termasuk masalah ini, beliau berkata:

وقول “صدق الله العظيم ” من القارى أو من السامع بعد الانتهاء من القراءة ، أو عند سماع آية من القراَن ليس بدعة مذمومة، أولا لأنه لم يرد نهى عنها بخصوصها، وثانيا لأنها ذكر لله والذكر مأمور به كثيرا ، وثالثا أن العلماء تحدثوا عن ذلك داعين إليه كأدب من آداب قراءة القرآن ، وقرروا أن قول ذلك فى الصلاة لا يبطلها، ورابعا أن هذه الصيغة أو قريبا منها ورد الأمر بها فى القرآن ، وقرر أنها من قول المؤمنين عند القتال .
قال تعالى : {قل صدق الله فاتبعوا ملة إبراهيم حنيفا} آل عمران :95 ، وقال {ولما رأى المؤمنون الأحزاب قالوا هذا ما وعدنا الله ورسوله وصدق الله ورسوله } الأحزاب : 22 ، وذكر القرطبى في مقدمة تفسيره أن الحكيم الترمذى تحدث عن آداب تلاوة القراَن الكريم وجعل منها أن يقول عند الانتهاء من القراءة : صدق الله العظيم أو أية عبارة تؤدى هذا المعنى .

“Kalimat Shadaqallahu Al ‘Azhim yang diucapkan oleh pembaca Al-Quran atau oleh pendengar setelah selesai membaca atau mendengar ayat-ayat Al-Quran, bukanlah bid’ah tercela, bahkan memiliki landasan yang cukup kuat. Yaitu:

Tidak ada satupun dalil yang melarangnyaKalimat itu merupakan zikir.Para ulama menjadikannya sebagai salah satu adab ketika hendak membaca Al Quran. Bahkan menurut mereka jika ia diucapkan dalam salat tidak membatalkan salat. Demikianlah pendapat kalangan Hanafi dan Syafi’i.Lafal atau ucapan tersebut demikian dekat dengan apa yang diperintahkan dalam Al-Quran serta merupakan ucapan orang mukmin di saat akan perang.

قل صدق الله فاتبعوا ملة إبراهيم حنيفا

Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah Dia Termasuk orang-orang yang musyrik (Ali Imran: 95)

ولما رأى المؤمنون الأحزاب قالوا هذا ما وعدنا الله ورسوله وصدق الله ورسوله

Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Benarlah Allah dan Rasul-Nya.

Al-Qurthubi dalam muqaddimah tafsirnya mengatakan bahwa menurut Imam Al Hakim dan Imam At Tirmidzi mengucapkan kalimat shadaqallahu al-azhim setelah selesai membaca Al-Quran merupakan salah satu bentuk adab membaca Al-Quran.”[8]

Lalu Syaikh ‘Athiyah Shaqr melanjutkan:

وجاء فى فقه المذاهب الأربعة ، نشر أوقاف مصر، أن الحنفية قالوا : لو تكلَّم المصلى بتسبيح مثل . صدق اللّه العظيم عند فراغ القارئ من القراءة لا تبطل صلاته إذا قصد مجرد الثناء والذكر أو التلاوة ، وأن الشافعية قالوا : لا تبطل مطلقا بهذا القول ، فكيف يجرؤ أحد فى هذه الأيام على أن يقول : إن قول : صدق الله العظيم ، بعد الانتهاء من قراءة القرآن بدعة؟ أكرر التحذير من التعجل فى إصدار أحكام فقهية قبل التأكد من صحتها ، والله سبحانه وتعالى يقول :{ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب إن الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون } النخل :116

“Terdapat dalam fiqih empat madzhab, yang telah tersebar di Mesir, bahwa kalangan Hanafiyah mengatakan, seandainya orang yang shalat memuji Allah Ta’ala dengan mengucapkan Shadaqallah Al ‘Azhim, setelah pembaca selesai membaca Al Quran, maka itu tidak membatalkan shalatnya, jika dia memang murni bermaksud memuji, dzikir, atau tilawah. Sedangkan Syafi’iyah mengatakan, ucapan ini secara mutlak tidak membatalkan shalat. Lalu bagaimana bisa seseorang zaman ini mengatakan: “Membaca Shadaqallahul ‘Azhim setelah selesai membaca Al Quran adalah bid’ah?”  Apakah mesti diulang-ulang peringatan tentang sikap tergesa-gesa menelurkan ketetapan hukum fiqih sebelum menguatkan kebenarannya. Terakhir Allah Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”. (QS. An Nahl: 116).[9]

Demikian. Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajma’in. Wallahu A’lam.

☘🌸🌺🌴🍃🌷🌻🌾

✍ Farid Nu’man Hasan


Catatan Kaki:

[1] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Azhim, Juz. 6, Hal. 508

[2] Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkam AL Qur’an, Juz. 13, Hal. 15, lihat juga Juz. 16, Hal. 222

[3] Imam Zakariya al Anshari, Asna Al Mathalib, Juz. 3, Hal. 68. Mawqi’ Al Islam

[4] Imam Muhammad Syihabbudin Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, Juz. 5, Hal. 60. Lihat juga Imam Zakariya Al Anshari, Hasyiyah Al Jumal, Juz.4, Hal. 96. Mawqi’ Al Islam

[5] Imam Abu Hafs Zainuddin Umar Al Wardi, Syarhul Bahjah Al Wardiyah, Juz. 3, Hal. 496. Mawqi’ Al Islam

[6] Imam An Nawawi, Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, Juz. 17, Hal. 208. Mawqi’ Ya’sub

[7] Syaikh Adh Dhiya al Mishri, Fathul Manan, Hal. 4.

[8] Fatawa Al Azhar, Juz. 8, Hal. 86.

[9] Ibid

Hukum Money Changer

Pertanyaan

Ustadz, mhn pencerahan:  Apa hukum nya jika kita usaha money changer


Jawaban Hukum Money Changer

Bismillah wal Hamdulillah

Money Changer (Ash Sharraaf), bukanlah membeli uang, tapi sesuai namanya jasa penukaran uang. Hal ini dibolehkan dengan syarat yadan biyadin (kontan), saat itu juga, sehingga tidak ada  riba.

Kalau nukarnya pagi, tapi ambilnya uang sore, ini tidak boleh sebab nilai mata uangnya bisa jadi berubah, sehingga terjadi riba.

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz mengatakan:

بيع العمل بالعمل الأخرى لا بأس به، إذا كان يداً بيد، فإذا باع عملة سعودية بدولار أمريكي يداً بيد، يعطيه ويأخذ منه، أو بعملة ليبية أو عملة عراقية أو عملة إنجليزية أو غير ذلك لا بأس، لكن يداً بيد

Menjual mata uang dengan mata uang lain tidaklah apa-apa, jika dilakukannya secara kontan. Jika menjual mata uang Saudi dengan Dolar AS secara kontan, dilakukan langsung baik memberi dan mengambilnya, atau dengan mata uang Libia, Iraq, Inggris, tidak apa-apa, selama dilakukan kontan.
(Selesai dari Syaikh Bin Baaz)

Dalilnya adalah:

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa” (HR. Muslim no. 1584).

Demikian. Wallahu A’lam.

Baca juga: Jual Beli Uang Kuno

✍ Farid Nu’man Hasan


Kesimpulan:

Hukum money changer boleh, asal transaksinya dilakukan kontan saat itu juga, tidak ada jeda waktu karena kurs selalu berubah.

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag. 1)

💥💦💥💦💥💦

1⃣ Definisi Shaum Ramadhan

📌 Apa arti shaum?

Secara bahasa, berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah:

الصيام في اللغة مصدر صام يصوم، ومعناه أمسك، ومنه قوله تعالى: {فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْناً فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَن صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا } [مريم] فقوله: {صَوْمًا} أي: إمساكاً عن الكلام، بدليل قوله: {فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا} أي: إذا رأيت أحداً فقولي: {إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَن صَوْمًا} يعني إمساكاً عن الكلام {فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا}.

“Shiyam secara bahasa merupakan mashdar dari shaama – yashuumu, artinya adalah menahan diri. Sebagaimana firmanNya: (Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. jika kamu melihat seorang manusia, Maka Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah, Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”) (QS. Maryam (19):26). firmanNya: (shauman) yaitu menahan diri dari berbicara, dalilnya firmanNya: (jika kamu melihat seorang manusia), yaitu jika kau melihat seseorang, maka katakanlah: (Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha pemurah) yakni menahan dari untuk bicara. (Maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini).

(Syarhul Mumti’, 6/296.  Cet. 1, 1422H.Dar Ibnul Jauzi. Lihat juga Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/431. Lihat Imam Al Mawardi, Al Hawi Al Kabir, 3/850)

Secara syara’, menurut Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, makna shaum adalah:

الامساك عن المفطرات، من طلوع الفجر إلى غروب الشمس، مع النية

“Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari, dan dibarengi dengan niat (berpuasa).” (Fiqhus Sunnah, 1/431)

Ada pun Syaikh Ibnul Utsaimin menambahkan:

وأما في الشرع فهو التعبد لله سبحانه وتعالى بالإمساك عن الأكل والشرب، وسائر المفطرات، من طلوع الفجر إلى غروب الشمس.
ويجب التفطن لإلحاق كلمة التعبد في التعريف؛ لأن كثيراً من الفقهاء لا يذكرونها بل يقولون: الإمساك عن المفطرات من كذا إلى كذا، وفي الصلاة يقولون هي: أقوال وأفعال معلومة، ولكن ينبغي أن نزيد كلمة التعبد، حتى لا تكون مجرد حركات، أو مجرد إمساك، بل تكون عبادة

“Ada pun menurut syariat, maknanya adalah ta’abbud (peribadatan) untuk Allah Ta’ala dengan cara menahan diri dari makan, minum, dan semua hal yang membatalkan, dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Wajib dalam memahami definisi ini, dengan mengaitkannya pada kata taabbud, lantaran banyak ahli fiqih yang tidak menyebutkannya, namun mengatakan: menahan dari dari ini dan itu sampai begini. Tentang shalat, mereka mengatakan: yaitu ucapan dan perbuatan yang telah diketahui. Sepatutnya kami menambahkan kata taabbud, sehingga shalat bukan  semata-mata gerakan , atau semata-mata menahan diri, tetapi dia adalah ibadah.

(Syarhul Mumti’,  6/298. Cet.1, 1422H. Dar Ibnul Jauzi)

Dari definisinya ini ada beberapa point penting sebagai berikut:

Menahan diri dari perbuatan yang membatalkan
💚Harus dibarengi dengan niat
💙Bertujuan ibadah kepada Allah Taala

📌Lalu, apa arti Ramadhan ?

Ramadhan, jamaknya adalah Ramadhanaat, atau armidhah, atau ramadhanun. Dinamakan demikian karena mereka mengambil nama-nama bulan dari bahasa kuno (Al Qadimah), mereka menamakannya dengan waktu realita yang terjadi saat itu, yang melelahkan, panas, dan membakar (Ar ramadh).  Atau juga diambil dari  ramadha ash shaaimu: sangat panas rongga perutnya, atau karena hal itu membakar dosa-dosa. (Lihat Al Qamus Al Muhith, 2/190)

Imam Abul Hasan Al Mawardi Rahimahullah mengatakan:

وَكَانَ شَهْرُ رَمَضَانَ يُسَمَّى فِي الْجَاهِلِيَّةِ ناتِقٌ  ، فَسُمِّيَ فِي الْإِسْلَامِ رَمَضَانَ مَأْخُوذٌ مِنَ الرَّمْضَاءِ ، وَهُوَ شِدَّةُ الْحَرِّ : لِأَنَّهُ حِينَ فُرِضَ وَافَقَ شِدَّةَ الْحَرِّ وَقَدْ رَوَى أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ {صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ} قَالَ : إِنَّمَا سُمِّيَ رَمَضَانُ : لِأَنَّهُ يَرْمِضُ الذُّنُوبَ أَيْ : يَحْرِقُهَا وَيَذْهَبُ بِهَا .

“Adalah bulan Ramadhan pada zaman jahiliyah dinamakan d

engan ‘kelelahan’, lalu pada zaman Islam dinamakan dengan Ramadhan yang diambil dari kata Ar Ramdha yaitu panas yang sangat. Karena ketika diwajibkan puasa bertepatan dengan keadaan yang sangat panas. Anas bin Malik telah meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: sesungguhnya dinamakan Ramadhan karena dia memanaskan  dosa-dosa, yaitu membakarnya dan menghapskannya. (Al Hawi Al Kabir, 3/854. Darul Fikr)

Secara istilah (terminologis), Ramadhan adalah nama bulan (syahr) ke sembilan dalam bulan-bulan hijriyah, setelah Syaban dan sebelum Syawal. Ada pun bulan dalam artian benda langit adalah al qamar, dan bulan sabit adalah al hilaal.

Demikian. Wallahu A’lam (Bersambung …)

🍃🌾🌸🌻🌴🌺☘🌷

✏ Farid Nu’man Hasan

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag 1)

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag 2)

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag 3)

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag 4)

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag 5)

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag 6)

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag 7)

Silsilah Panduan Shaum Ramadhan (Bag 8)

Versi Lengkap Silsilah Panduan Shaum Ramadhan, Klik di link berikut: Silsilah Panduan Shaum Ramadhan

scroll to top