Air Mata Manusia Mulia: Tangisan Rasulullah SAW

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

💦 Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepadaku”,

«اقْرَأْ عَلَيَّ» قُلْتُ: آقْرَأُ عَلَيْكَ وَعَلَيْكَ أُنْزِلَ؟ قَالَ: «فَإِنِّي أُحِبُّ أَنْ أَسْمَعَهُ مِنْ غَيْرِي» فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ سُورَةَ النِّسَاءِ، حَتَّى بَلَغْتُ: {فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلاَءِ شَهِيدًا} [النساء: ٤١] قَالَ: «أَمْسِكْ» فَإِذَا عَيْنَاهُ تَذْرِفَانِ

“Bacakanlah Al Qur`an padaku.”

Aku pun berkata, “Aku membacakannya untuk Anda, padahal kepada Andalah ia diturunkan?”

Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku suka mendengarnya dari orang lain.”

Akhirnya aku pun membacakan surat An-Nisa` dan ketika sampai pada ayat: “Dan bagaimanakah sekiranya Kami mendatangkan manusia dari seluruh umat dengan seorang saksi, lalu kami mendatangkanmu sebagai saksi atas mereka.”

Maka beliau pun bersabda padaku: “Cukuplah.” Lalu aku pun melihat kedua mata beliau meneteskan air.

📚 Shahih Al Bukhari No. 4583, 5050, 5055, Shahih Muslim No. 247 (800) )

💦 Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata:

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkhutbah dengan khutbah yang belum kami dengar sebelumnya. Beliau bersabda:

“Seandainya kalian melihat apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Lalu para sahabat menutup wajah mereka dan menangis tersedu-sedu.

📚 HR. Muttafaq ‘Alaih

🌷☘🌺🌴🌻🌾🌸🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

Untuk Politisi Muslim, Bersatulah!

🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

⚔ Wahai umat Islam .. Kalian ingin Allah berikan kekuatan? Bersatulah!

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Anfal 46)

⚔ Kalian ingin Dicintai Allah? Bersatulah!

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. (QS. Ash Shaf: 4)

⚔ Kalian tidak ingin hancur dan binasa ? Bersatulah!

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (yakni saling menolong), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al Anfal 73)

⚔ Masih, ingin menyandang sebagai mujahid fi sabilillah ?? Campakkan fanatisme, usunglah kalimat Allah!!

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَكَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ العُلْيَا، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Barang siapa yang berperang untuk meninggikan kalimat Allah maka itulah yang fi sabilillah. (HR. Al Bukhari No. 123)

Allahu Akbar wa Lillahil Hamd .. !

🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩

✍ Farid Nu’man Hasan

Di antara Keutamaan Basmalah dan Tasmiyah

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Berikut ini adalah beberapa keutamaannya:

📕 Basmalah adalah salah satu nama Allah Ta’ala

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

أن عثمان بن عفان رضي الله عنه سأل رسول الله صلى الله عليه و سلم عن بسم الله الرحمن الرحيم فقال : هو اسم من أسماء الله و ما بينه و بين اسم الله الأكبر إلا كما بين سواد العين و بياضها من القرب

Bahwasanya Utsman bin Affan Radhiallahu ‘Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang bacaan Bismillahirrahmanirrahim. Beliau menjawab: “Ia adalah salah satu dari Nama-nama Allah, begitu dekatnya kalimah Bismillah ini dengan Nama Allah yang Teragung seperti dekatnya biji mata yang hitam dengan biji mata yang putih.” (HR. Al Hakim No. 2027, katanya: shahih. Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 2327, Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 4048)

📗 Untuk melawan dan melemahkan syetan

Berikut ini riwayatnya:

أَبِي الْمَلِيحِ عَنْ رَجُلٍ قَالَ كُنْتُ رَدِيفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَثَرَتْ دَابَّةٌ فَقُلْتُ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَقَالَ لَا تَقُلْ تَعِسَ الشَّيْطَانُ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَعَاظَمَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الْبَيْتِ وَيَقُولُ بِقُوَّتِي وَلَكِنْ قُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ ذَلِكَ تَصَاغَرَ حَتَّى يَكُونَ مِثْلَ الذُّبَابِ

Dari Abu Malih, dari seorang laki-laki katanya: “Saya memboncengi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu tergelincirlah hewan tunggangan. Lalu aku berkata: “Celakalah syetan!” Beliau bersabda: “Jangan kau ucapkan “celakah syetan”, sesungguhnya jika kamu ucapkan itu maka dia membesar sampai sebesar rumah dan dia berkata: “Demi kekuatanku.” Tetapi ucapkanlah: “Bismillah,” sesungguhnya jika engkau membacanya maka dia mengecil sampai seperti lalat.” (HR. Abu Daud No. 3982, Ahmad No. 20591, 20592, 20690, 23092, Al Hakim, Al Mustadrak No. 7792, 7793, An Nasa’i, As Sunan Al Kubra No. 10388, 10389, Al Baihaqi, Syu’abul Iman No. 5183, 5184, 5185, Ath Thahawi, Musykilul Aatsar No. 321, 322, Abdurrazzaq, Al Mushannaf No. 20899, Abu Nu’aim, Ma’rifatush Shahabah No. 2290, 2291)

Imam Al Hakim mengatakan: shahih. Juga dishahihkan Imam Adz Dzahabi dalam At Talkhish. (Al Mustadrak No. 7793).

Imam Al Bushiri mengatakan: jayyid – baik. (Az Zawaid, 6/432)

Imam An Nawawi mengatakan: shahih muttashil. (Al Adzkar, 1/263)

Imam Al Haitsami mengatakan: diriwayatkan Imam Ahmad dengan berbagai sanad, dan semua perawinya adalah perawi hadits shahih. (Majma’ Az Zawaid No. 17099)

Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam berbagai kitabnya. (Shahihul Jami’ No. 8401, Shahih At Targhib wat Tarhib No. 3128, dan kitabnya yang lain)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. (Ta’liq Musnad Ahmad No. 20591)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengomentari hadits di atas:

فهذا من تأثير بركة بسم الله؛ ولهذا تستحب في أوّل كل عمل وقول

Ini (syetan yang mengecil, pen) adalah akibat pengaruh dari keberkahan Bismillah, oleh karena itu dianjurkan dibaca diawal setiap perbuatan dan perkataan. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/120)

Secara umum membaca basmalah (yakni membaca bismillahirrahmanirrahim) dan tasmiyah (membaca bismillah saja) dianjurkan pada awal setiap amal kebajikan, sebagaimana riwayat shahih tentang menjima’ istri, naik kendaraan, memulai makan, memulai majelis, memulai wudhu, dan lainnya.

Ada sebuah riwayat:

كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه ب ( بسم الله الرحمن الرحيم ) فهو أبتر

“Setiap urusan dalam kehidupan yang di dalamnya tidak dimulai dengan bismillahirrahmanirrahim, maka dia terputus.” (Diriwayatkan oleh As Subki dalam Thabaqat As Syafi’iyah, 1/6. Al Khathib dan Al Hafizh Abdul Qadir Ar Rahawi, hal. 5)

Namun riwayat ini dhaif (lemah), lantaran seorang perawi bernama Ahmad bin Muhammad bin ‘Imran Al ‘Atiqi, biasa dikenal Ibnu Al Jundi. Imam Khathib Al Baghdadi mengatakan: “Riwayat darinya dilemahkan dan madzhabnya telah dicela (karena dia tasyayyu’ – terpengaruh syi’ah). Aku bertanya kepada Az Zuhri tentang Ibnu Al Jundi, katanya: “Dia bukan apa-apa.” (Tarikh Baghdad, 2/414)

Syaikh Al Albani menyatakan: dhaif jiddan – sangat lemah.

(Lihat Irwa’ul Ghalil, 1/29. Cet. 2. 1985M-1405H. Al Maktab Al Islami. Beirut)

Sementara Imam Ibnu Katsir berhujjah dengan hadits ini, namun tidak berkomentar apa-apa tentang derajat hadits ini. (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 1/120)

Wallahu a’lam

🌷🌴🌻🌿🍃🍀☘🌺

✍ Farid Nu’man Hasan

Amal-Amal Utama Setelah Ibadah Wajib Menurut Para Imam Kaum Muslimin

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Al Wazir Abul Muzhaffar Rahimahullah mengatakan:

فقال الشافعي : الصلاة أفضل أعمال الدين وتطوعها أفضل التطوع .
وقال أحمد : لا أعلم شيئا بعد الفرائض أفضل من الجهاد .
وأما مالك وأبو حنيفة فمذهبهما أنه لا شيء بعد فروض الأعيان من أعمال البر
أفضل من العلم ثم الجهاد .

Imam Asy Syafi’i berkata: “Shalat adalah amal agama yang paling utama, dan shalat tathawwu’ (sunnah) adalah sebaik-baiknya sunnah.”

Imam Ahmad bin Hambal mengatakan: “Tidak aku ketahui adanya amal yang lebin utama setelah kewajiban-kewajiban, dibanding Jihad.”

Sedangkan Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, mereka berdua berpandangan: “Bahwa tidak ada amal yang lebih utama setelah fardhu ‘ain dibandingkan menuntut ilmu lalu jihad.”

📚 Abul Muzhaffar Yahya bin Muhammad bin Hubairah Asy Syaibani, Ikhtilaf Al Aimmah Al ‘Ulama, Juz. 1, Hal. 259. Cet. 1. 1423H/2002M. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah, Beirut. Libanon.

🍃🌻🌴🌾🌺☘🌷🌸

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top