Harta Anak Laki-laki Milik Orang Tuanya

Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu, berkata:

أن رجلا قال يا رسول الله إن لي مالا وولدا . وإن أبي يريد أن يحتاج مالي . فقال : ( أنت ومالك لأبيك )

Bahwa seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak, dan ayahku membutuhkan hartaku.” Maka Nabi ﷺ menjawab: “Kamu dan Hartamu adalah milik ayahmu.”

(HR. Ibnu Majah No. 2291. Imam Ibnul Mulaqin mengatakan: shahih. (Badrul Munir, 7/665). Ibnul Qaththan mengatakan: sanadnya shahih. Al Mundziri mengatakan: perawinya terpercaya. Lihat Nashbur Rayyah, 3/337)

Dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya:

أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى مَالاً وَوَلَدًا وَإِنَّ وَالِدِى يحتاج مَالِى. قَالَ « أَنْتَ وَمَالُكَ لِوَالِدِكَ إِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ أَطْيَبِ كَسْبِكُمْ فَكُلُوا مِنْ كَسْبِ أَوْلاَدِكُمْ »

Bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi ﷺ , dia berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta dan anak, dan ayahku memerlukan hartaku.” Maka Nabi ﷺ menjawab: “Kamu dan hartamu milik orangtuamu. Sesungguhnya anak-anakmu adalah hasil usahamu sendiri yang terbaik. Maka, makanlah dari hasil anak-anakmu.”

(HR. Abu Daud No. 3532, Ibnu Majah No. 2292. Imam As Sakhawi mengatakan: hadits ini kuat. (Maqashid Al Hasanah, Hal. 176). Dishahihkan pula oleh Syaikh Al Albani dalam beberapa kitabnya)

Wallahu A’lam

☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Hukum Sholat di Rumah Non Muslim

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📨 PERTANYAAN:

Assalamualaikum…
Sya lagi bingung ini Ustad, bagaimanakah Menurut Hukum Islam jika Kita Melaksanakan Salah satu Kewajiban ( Sholat ) kita sbgai seorang Muslim dirumah non Muslim ..?
Apakah tdk diprbolehkan atau bgmna..? Mnta penjelasannya…trimakasih Ustad

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam , Bismillah wal Hamdulillah ..

Tidak masalah shalat di rumah non muslim selama suci, dan di ruang yg tidak ada simbol salibnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ

Dijadikan untukku, bumi itu sebagai masjid dann suci. Maka, laki-laki mana pun dari umatku yang mendapatkannya, maka hendaknya dia shalat. (HR. Al Bukhari No. 335)

Perlu diketahui banyak ulama yang membolehkan shalat di gereja, maka apalagi rumah tempat tinggalnya.

Ibnu Abbas memakruhkan shalat di gereja yg ada patungnya. Ini jg pendapat Al Hasan. (Tuhfah Al Ahwadzi, 2/274). Artinya, jika tanpa patung bagi mereka tdk apa-apa.

Sementara Asy Sya’bi, Atha bin Abi Rabah, Ibnu Sirim jg membolehkan. Sdgkan Abu Musa Al Asy’ry dan Umar bin Abdul Aziz pernah shalat di gereja. (Ibid)

Walau sebagian lain memakruhkan shalat di gereja.
Sekian. Wallahu a’lam

🌷☘🌺🌴🌻🌾🌸🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

Memimpikan Orang yang Sudah Wafat, Itu Jelmaan Jin?

▪▫▪▫▪▫▪▫

📨 PERTANYAAN:

Apakah orang yang sudah meninggal terus mendatangi lewat mimpi termasuk jin pa gak?? (Sulardi, klaten)

📬 JAWABAN

💢💢💢💢💢💢💢

Bismillahirrahmanirrahim ..

Perlu diketahui, saat manusia tertidur, sebenarnya manusia mati sementara. Ruhnya ambil, dan dikembalikan saat bangunnya.

Ada pun orang yang sudah wafat ruhnya ditahan dan tidak dikembalikan. Nah, saat tidur itulah ruh mereka berjumpa. Demikian penjelasan sebagian ulama saat menjelaskan ayat berikut:

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.

(QS. Az-Zumar, Ayat 42)

Imam Ibnu Jarir Ath Thabariy Rahimahullah mengatakan:

ذكر إِنَّ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ تَلْتَقِي فِي الْمَنَامِ فَتَتَعَارَفُ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْهَا، فَإِذَا أَرَادَ جَمِيعُهَا الرُّجُوعَ إِلَى الْأَجْسَادِ أَمْسَكَ اللَّهُ أَرْوَاحَ الْأَمْوَاتِ عِنْدَهُ، وَأَرْسَلَ أَرْوَاحَ الْأَحْيَاءِ إِلَى أَجْسَادِهَا

Diceritakan bahwa sesungguhnya ruh orang yang hidup dan ruh orang mati bertemu dalam mimpi. Mereka saling mengenal sesuai yang Allah kehendaki. Ketika masing-masing hendak kembali ke jasadnya, Allah menahan ruh orang yang sudah mati di sisi-Nya, namun Allah melepaskan ruh orang yang masih hidup ke jasadnya.

(Tafsir Ath Thabariy, 9/7078)

Sejak masa generasi awal Islam, orang-orang shalih bermimpi satu sama lain. Baik kepada sahabatnya, gurunya, orangtuanya, … Dan tidak satupun yang mengatakan itu jin.

Ada pun perjumpaan di alam nyata (bukan mimpi), kepada orang yang sudah wafat, sehingga orang awam mengatakan “gentayangan”, itulah jelmaan syetan. Mereka tidak datang dalam wujud aslinya tapi mereka datang dalam wujud manusia dan hewan (ular, anjing hitam).

Ini sudah terjadi sejak masa Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam. Syetan datang ke barisan musuh di saat perang Badar, dalam wujud Suraqah bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu. Dan masih banyak contoh lainnya.

Demikian. Wa Shalallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa’ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

Wallahu a’lam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Untuk Para Da’i, Ustadz, dan Muballigh: Perhatikan Adat dan Kebiasaan Daerahmu

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Imam Al Qarafi Rahimahullah berkata:

فمهما تجدد في العرف اعتبره ومهما سقط أسقطه ولا تجمد على المسطور في الكتب طول عمرك بل إذا جاءك رجل من غير أهل إقليمك يستفتيك لا تجره على عرف بلدك واسأله عن عرف بلده وأجره عليه وأفته به دون عرف بلدك ودون المقرر في كتبك فهذا هو الحق الواضح والجمود على المنقولات أبدا ضلال في الدين وجهل بمقاصد علماء المسلمين والسلف الماضين

“Bagaimanapun yang baru dari adat istiadat perhatikanlah, dan yang sudah tidak berlaku lagi tinggalkanlah. Jangan kamu bersikap tekstual kaku pada tulisan di kitab saja sepanjang hayatmu.

Jika datang kepadamu seorang dari luar daerahmu untuk meminta fatwa kepadamu, janganlah kamu memberikan hukum kepadanya berdasarkan adat kebiasaan yang berlaku di daerahmu, tanyailah dia tentang adat kebiasaan yang terjadi di daerahnya dan hargailah itu serta berfatwalah menurut itu, bukan berdasarkan adat kebiasaan di daerahmu dan yang tertulis dalam kitabmu. Itulah sikap yang benar dan jelas.

Sedangkan sikap selalu statis pada teks adalah suatu kesesatan dalam agama dan kebodohan tentang tujuan para ulama Islam dan generasi salaf pendahulu.” 1]

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah, membuat pasal dalam kitabnya I’lamul Muwaqi’in, berbunyi:

في تغير الفتوى واختلافها يحسب تغير الأزمنة والأمكنة والأحوال والنيات والعوائد

“Pasal tentang perubahan fatwa dan perbedaannya yang disebabkan perubahan zaman, tempat, kondisi, niat, dan tradisi.”

Lalu Beliau berkata:

هذا فصل عظيم النفع جدا وقع بسبب الجهل به غلط عظيم على الشريعة أوجب من الحرج والمشقة وتكليف ما لا سبيل إليه ….

Ini adalah pasal yang sangat besar manfaatnya, yang jika bodoh terhadal pasal ini maka akan terjadi kesalahan besar dalam syariat, mewajibkan sesuatu yang sulit dan berat, serta membebankan apa-apa yang tidak pantas dibebankan … ” 2]

Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, sangat perhatian tethadap kondisi manusia dalam fatwanya. Imam Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubaidah:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عَبَّاسٍ فَقَالَ : لِمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا تَوْبَةٌ ؟ قَالَ : لاَ ، إِلاَّ النَّارُ ، فَلَمَّا ذَهَبَ قَالَ لَهُ جُلَسَاؤُهُ : مَا هَكَذَا كُنْتَ تُفْتِينَا ، كُنْتَ تُفْتِينَا أَنَّ لِمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا تَوْبَةٌ مَقْبُولَةٌ ، فَمَا بَالُ الْيَوْمِ ؟ قَالَ : إِنِّي أَحْسِبُهُ رَجُلاً مُغْضَبًا يُرِيدُ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا ، قَالَ : فَبَعَثُوا فِي أَثَرِهِ فَوَجَدُوهُ كَذَلِكَ

Ada seorang datang kepada Ibnu Abbas dan bertanya: “Apakah seorang yang membunuh mu’min taubatnya bisa diterima?”

Ibnu Abbas menjawab: “Tidak, dia neraka!” Ketika orang itu pergi, orang-orang yang duduk disekitar Ibnu Abbas bertanya: “Dulu engkau menjawab kepada kami tidak seperti itu, kau katakan dulu taubat seorang pembunuh diterima, emang kenapa hari ini?”

Beliau menjawab: “Saya melihat dia sedang marah dan ingin membunuh seorang mu’min.” Lalu mereka memgikuti orang tersebut dan mereka mendapatkan demikian. 3]

Inilah Ibnu Abbas! Dengan pandangannya yang mendalam, beliau melihat kemarahan pada orang itu. Pertanyaan yang diajukannya hanyalah mencari jalan agar menjadi ringan membunuh seorang mu’min jika dijawab tobatnya diterima. Tetapi, dengan dijawab “tidak diterima” maka dia mengurungkan niatnya, dan terhindarlah orang itu dalam dosa dan kebinasaan yang besar.

Wallahu A’lam

🌷☘🌺🌴🌻🌾🌸🍃

✍ Farid Nu’man Hasan


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Notes:

[1] Imam Al Qarafi, Al Furuq, Juz. 1, Hal. 176-177. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Beirut. 1418H-1989M. Tahqiq: Khalil Al Manshur

[2] Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, Juz. 3, Hal. 3. Maktabah Kulliyat Al Azhariyah. Kairo. 1388H-1968M. Tahqiq: Thaha Abdurrauf Sa’ad

[3] Imam Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, No. 28326. Darul Qiblah. Tahqiq: Muhammad ‘Awaamah.

Al Hafizh mengatakan: “para perawinya terpercaya.” (Lihat At Talkhish Al Habir, 4/454. Cet. 1. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Beirut. 1419H-1989M. )

 

scroll to top