Menguap Ketika Shalat

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Mungkin pembaca pernah mengalami hal ini. Islam telah memberikan panduan, yaitu:

– Tahan sebisa mungkin
– Kalau tidak bisa, maka tutup mulut dengan tangan
– Jika sedang membaca, maka hentikan dulu sampai nguapnya selesai, baru lanjutkan bacaan

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

التَّثَاؤُبُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ الشَّيْطَانُ

Menguap itu dari syetan, jika salah seorang kamu menguap maka tahanlah semampunya, karena jika kamu bersuara “HA” maka syetan tertawa. (HR. Muttafaq ‘Alaih, dari Abu Hurairah)

Dalam hadits lain:

اذا تثاءب أحدكم فليمسك بيده على فمه فإن الشيطان يدخل

Jika salah seorang diantara kamu menguap, maka tahanlah mulutnya dengan tangannya, karena syetan bisa masuk ke dalamnya. (HR. Muslim, dari Abu Sa’id Al Khudri)

Imam Ibnu ‘Allan Rahimahullah mengatakan:

“Yaitu tahan sejauh kemampuan dia dengan menutup mulutnya, kalau tidak mampu maka dia letakkan tangannya di mulutnya.” (Dalilul Falihin, 6/175)

Imam Al Munawi mengatakan: “Dengan tangan kiri bagian punggungnya.” (Faidhul Qadir, 1/404)

Wallahu A’lam

🍃🌻🌷🌾🌺🌸☘

✍ Farid Nu’man Hasan

Menjawab Syubhat Multitafsir Tentang Arti Auliya (Pemimpin)

💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Bagaimana untuk menjawab Syubhat dengan dalil Aqli dan Naqli :
>Tentang larangan memilih pemimpin non muslim untuk memimpin umat islam di sebuah daerah atau negara.
>Bahwa ayat2 tentang larangan kepemimpinan itu multitafsir / multi interpretasi sehingga tidak bisa jadi dalil larangan orang kafir menjadi pemimpin.

Assalamu’alaikum..
Afwan tadz,mohon pencerahan atas pertanyaan di atas 🙏🙏 (085946373xxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam, … Bismillah wal Hamdulillah …

Ayat tersebut multitafsir bagi pendukung Si Penista Al Quran. Tapi tidak bagi para mufassir dan fuqaha.

Ayat al Quran ada 2 macam, Muhkamat (jelas) dan Mutasyabihat (maknanya samar). Ayat-ayat seperti, alif laam miim, alif laam raa, ini mutasyabihat yg maknanya tafwidhul ‘ilmi ilallah, kembalikan ilmunya kepada Allah.

Ada pun ayat muhkamat, seperti kutiba ‘alaikumush shiyam, wajib bagimu berpuasa, ini jelas. Begitu pula ayat laa tattakhidzul yahuda wan nashaara auliya, jangan jadikan yahudi dan nasrani sebagai auliya, ini juga sangat jelas.

Auliya adalah jamak/plural dari wali. Dalam ayat ini disebut AULIYA (tanpa alif lam, istilahnya nakirah), bukan AL AULIYA (dengan alif lam, istilahnya ma’rifah). Apa bedanya keduanya?

AULIYA memiliki makna indefinit, tak terbatas, maka cakupannya semua makna terkandung di dalamnya. Baik itu pemimpin, kawan setia, penolong, dan kekasih.

Kalau dalam bahasa inggris sama dengan “A President” , yang maknanya masih umum, maka berlaku bagi presiden mana pun.

AL AULIYA memiliki makna definitif, terbatas, hanya satu makna saja. Seperti THE PRESIDENT, yg personnya sudah spesifik.

Maka, karena ayat ini dan ayat-ayat semisal menggunakan kata AULIYA, maka larangan berlaku semua maknanya baik pemimpin, kawan dekat, teman setia, atau penolong.

Jadi, terlarang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai semua makna itu; jangan jadikan mereka sebagai pemimpin, kawan dekat, teman setia, penolong, dan kekasih, seraya mengenyampingkan kaum muslimin.

Demikian. Wallahu A’lam

🍃🌿💐🌴☘🌸🌾🌻🌱

✍ Farid Nu’man Hasan

Ketika Pelawak Menghina Ulama

▫▫▫▫▪▪▪▪

📌 Melucu yang cerdas semakin sulit kita dapatkan dari para pelawak

📌 Umumnya lawakan mereka hanyalah kumpulan kebohongan atau kisah nyata yang dibumbui kebohongan untuk mengundang tawa.

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ Bersabda: “Seorang hamba tidak dikatakan beriman dengan sepenuhnya kecuali jika dia meninggalkan berbohong ketika bergurau, dan meninggalkan berdebat meski ia benar.” (HR. Ahmad)

Dr. Muhammad Rabi’ Muhammad Jauhari mengatakan:

“Beliau (Nabi ﷺ) memberikan arahan kepada para sahabatnya agar memiliki komitmen yang kuat untuk jujur dalam bergurau dan memperingatkan dari dusta saat bergurau. Dari Bahz bin Hakim, katanya: berkata ayahku, dari ayahnya, katanya: bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Celakalah bagi yang bicara lalu dia berdusta hanya untuk membuat orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi).

(Akhlaquna, Hal. 179. Cet. 4, 1999M/1420H. Maktabah Darul Fakhr Al Islamiyah)

📌 Sering pula hinaan demi hinaan kepada lawan mainnya bahkan kadang mereka pun rela dihina hanya untuk memunculkan tawa

📌 Baik hinaan kepada fisik, sifat, gaya bicara, gaya jalan ..

📌 Hasilnya adalah lawakan berkualitas rendah dan tidak mendidik, gelak tawa yang berawal dari kedustaan dan merendahkan sesama manusia

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ

“Wahai orang-orang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum lainnya ..” (QS. Al Hujurat: 11)

📌 Keburukan semakin bertambah parah jika yang direndahkan adalah Rasulullah ﷺ dan para ulama.

📌 Jika pelawak itu muslim, maka posisi sebagai musuh Rasulullah ﷺ lebih nampak, dibanding sebagai umat Rasulullah ﷺ ..

📌 Buat para penghina ulama, ketahuilah .. telah berlalu banyak manusia penista yang ujung hidupnya merana tersiksa krn Allah Ta’ala mendeklarasikan perang kepada para musuh-musuh waliNya.

Dalam hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ

“Barang siapa yang memusuhi WaliKu, maka aku deklarasikan perang kepadanya.”

(HR. Bukhari no. 6502)

📌 Kepada para penghina ulama, Imam Ibnu ‘Asakir Rahimahullah mengatakan:

يا أخي وفقنا الله وإياك لمرضاته وجعلنا ممن يغشاه ويتقيه حق تقاته أن لحوم العلماء مسمومة وعادة الله في هتك أستارمنتقصيهم معلومة وأن من أطلق لسانه في العلماء بالثلب ابتلاه الله تعالى قبل موته بموت القلب فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم

Wahai saudaraku –semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan anda untuk mendapatkan ridhaNya dan menjadikan kita termasuk orang yang bertaqwa kepadaNYa dengan sebenar-benarnya- dan Ketahuilah, bahwa daging–daging ulama itu beracun, dan sudah diketahui akan kebiasaan Allah dalam membongkar tirai orang-orang yang merendahkan mereka, dan sesungguhnya barang siapa siapa yang melepaskan mulutnya untuk mencela ulama maka Allah akan memberikan musibah baginya dengan kematian hati sebelum ia mati: maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya (Rasul) takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

(Imam An Nawawi, At Tibyan, Hal. 30. Mawqi’ Al Warraq)

Wallahul Musta’an!

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

Anak Menggantikan Puasa Orang Tuanya yang Sakit

💢💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

bolehkah sorang anak mengganti puasa ibunya yang sedang sakit parah yang sudah sangat udzur?

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim ..

Orang yang sedang sakit payah, dan bertepatan dgn hari-hari berpuasa, maka dia mesti dikonsultasikan kepada dokter yang jujur dan terpercaya dulu.

Jika dokter mengatakan bahwa dia masih ada harapan dan peluang sembuh, maka yang wajib baginya adalah qadha di hari lain.

Hal ini sebagaimana ayat:

فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ

Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.

(QS. Al-Baqarah, Ayat 184)

Ada pun jika dokter mengatakan tidak ada harapan sembuh, memang sangat sulit, maka yang wajib adalah fidyah dengan memberikan makan orang miskin sebanyak hari yang dia tinggalkan.

Hal ini sesuai firman Allah Ta’ala:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ

Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.

(QS. Al Baqarah: 184)

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma mengatakan tentang makna “bagi orang yang berat menjalankannya”:

هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لا يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

Itu adalah aki-aki dan nenek-nenek yang sudah tidak mampu berpuasa. Maka, mereka memberikan makanan tiap-tiap hari satu orang miskin. (HR. Bukhari no. 4505)

Orang yang sakit berat dan tidak ada harapan sembuh disamakan dengan aki-aki tua yang sudah tidak mampi puasa.

Imam Ibnu Qudamah Rahimahumallah berkata:

وَالْمَرِيضُ الَّذِي لا يُرْجَى بُرْؤُهُ , يُفْطِرُ , وَيُطْعِمُ لِكُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا ; لأَنَّهُ فِي مَعْنَى الشَّيْخِ اهـ

Orang sakit yang tidak bisa diharapkan sembuh hendaknya dia tidak berpuasa, dan dia memberikan makan masing-masing hari satu orang miskin karena keadaan dia semakna dengan aki-aki tua. (Al Mughni, 4/396)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah mengatakan:

العاجز عن الصيام عجزاً مستمراً لا يرجى زواله – كالكبير والمريض مرضاً لا يرجى برؤه كصاحب السرطان ونحوه – فلا يجب عليه الصيام لأنه لا يستطيعه وقد قال الله تعالى : ( فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ ) التغابن/16 . وقال : ( لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا ) البقرة/286 .
لكن يجب عليه أن يطعم بدل الصيام عن كل يوم مسكيناً

Orang yang sudah tidak mampu berpuasa, terus-menerus seperti itu, dan tidak bisa diharapkan hilang ketidakmampuan itu, seperti aki-aki tua, orang sakit yang tidak bisa diharapkan sembuh seperti penderita kanker, maka dia tidak wajib puasa, karena dia tidak mampu.

Allah Ta’ala berfirman: “Bertaqwalah kepada Allah semampu kamu.” (QS. At Taghabun: 16)

Ayat lainnya: “Allah tidaklah memberikan beban melainkan sesuai kesanggupan seseorang memikulnya. (QS. Al Baqarah: 286)

Tapi yang wajib adalah hendaknya dia memberikan makanan sebagai pengganti puasanya, masing-masing hari itu satu orang miskin.

(Majelis Ramadhan, Hal. 32)

Jadi seperti itu, bukan anaknya yang berpuasa untuknya. Anak berpuasa untuknya itu JIKA orang tua tersebut wafat, dan ada kewajiban berpuasa yang dia tinggalkan saat sakitnya, maka menurut mayoritas ulama adalah anaknya fidyah untuk orang tuanya, kecuali menurut Syafi’iyah yang mengatakan berpuasa, bukan fidyah.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menjelaskan dengan sangat bagus :

فذهب جمهور العلماء، منهم أبو حنيفة، ومالك، والمشهور عن الشافعي إلى أن وليه لا يصوم عنه ويطعم عنه مدا، عن كل يوم
والمذهب المختار عند الشافعية: أنه يستحب لوليه أن يصوم عنه، ويبرأ به الميت، ولا يحتاج إلى طعام عنه.
والمراد بالولي، القريب، سواء كان عصبة، أو وارثا، أو غيرهما.
ولو صام أجنبي عنه، صح، إن كان بإذن الولي، وإلا فإنه لا يصح.
واستدلوا بما رواه أحمد، والشيخان، عن عائشة: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ” من مات وعليه صيام صام عنه وليه ” زاد البزار لفظ: إن شاء
وروى أحمد وأصحاب السنن: عن ابن

عباس رضى الله عنهما أن رجلا جاء إلى النبي صلى الله عليه وسلم: فقال: يا رسول الله، إن أمي ماتت وعليها صيام شهر أفأقضيه عنها؟ فقال: ” لو كان على أمك دين أكنت قاضيه؟ ” قال: نعم. قال: ” فدين الله أحق أن يقضى ” قال النووي: وهذا القول هو الصحيح المختار الذي نعتقده وهو الذي صححه محققو أصحابنا الجامعون بين الفقه والحديث لهذه الاحاديث الصحيحة الصريحة.

Menurut mayoritas ulama seperti Abu Hanifah, Malik, dan yang masyhur dari Asy Syafi’i, bahwa walinya tidaklah berpuasa qadha untuknya, tetapi memberikan makan sebanyak satu mud untuk setiap harinya.

Tapi, madzhab yang DIPILIH oleh Syafi’iyyah adalah dianjurkan bagi walinya untuk berpuasa qadha baginya, yang dengan itu mayit sudah bebas, dan tidak perlu lagi memberikan makanan (fidyah).
Yang dimaksud dengan WALI adalah kerabatnya, sama saja baik dia ‘ashabah, atau ahli warisnya, atau selain mereka. Bahkan seandainya orang lain pun tetap sah, jika izin ke walinya, jika tidak maka tidak sah.

Mereka berdalil seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Syaikhan (Al Bukhari dan Muslim), dari Aisyah, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“Barang siapa yang wafat dan dia ada kewajiban puasa maka hendaknya walinya berpuasa untuknya.” Dalam riwayat Al Bazzar ada tambahan: “Jika dia mau.”

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ashabus Sunan, dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada Rasulullah ﷺ:

“Wahai Rasulullah, ibuku telah wafat dan dia ada kewajiban puasa, bolehkah saya yang mengqadha-nya?” Nabi ﷺ menjawab: “Apa pendapatmu jika ibumu memiliki hutang, apakah kamu akan membayarkannya?” Laki-laki itu menjawab: “Ya.” Lalu Nabi ﷺ bersabda: “Maka, hutang kepada Allah lebih layak kamu bayar.”

Imam An Nawawi berkata: “Pendapat ini adalah pendapat yang benar lagi terpilih, dan kami meyakininya dan telah dishahihkan para peneliti dari para sahabat kami (Syafi’iyah) yang telah menggabungkan antara hadits dan fiqih, karena hadits-hadits ini adalah shahih dan begitu jelas.

(Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/471. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Demikian. Wallahu a’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa’ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

📙📘📕📒📔📓📗

🖋 Farid Nu’man Hasan

scroll to top