Puasa Asyura Terbaik adalah 3 hari: 9, 10, 11 Muharam

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

Berkata Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah –setelah merangkum semua dalil yang ada:

وعلى هذا فصيام عاشوراء على ثلاث مراتب : أدناها أن يصام وحده ، وفوقه أن يصام التاسع معه ، وفوقه أن يصام التاسع والحادي عشر والله أعلم

“Oleh karena itu, puasa ‘Asyura terdiri atas tiga tingkatan:

1⃣ Paling rendah yakni berpuasa sehari saja (tanggal 10)

2⃣ Puasa hari ke-9 dan ke-10.

3⃣ Paling tinggi puasa hari ke-9, 10, dan ke-11. Wallahu A’lam”

(Lihat Fathul Bari, 6/280, lihat juga Fiqhus Sunnah, 1/450)

🌷☘🌺🌴🌻🌾🌸🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

Wahai Syiah, Kenapa Kalian Sangat Membenci Muawiyah Radhiallahu ‘Anhu?

💢💢💢💢💢💢

📌 Padahal dia didoakan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menjadi pembawa petunjuk dan mendapat petunjuk . (HR. At Tirmidzi, Ahmad, shahih)

📌 Padahal dia sekretaris Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (HR. Muslim)

📌 Padahal dia adalah pemimpin pertama yg pasukannya berperang dilaut, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjamin surga kepada mereka. (HR. Bukhari)

📌 Padahal dia adalah ipar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menikah dengan saudara Muawiyah, yaitu Ummu Habibah. (Qs. Al Mumtahanah: 7)

Wahai Syiah .. Kalian menuduh Muawiyah Radhiallahu ‘Anhu menghalalkan riba, menghalalkan khamr, dan tujuan rapuh lainnya ..

🍃🍃🍃🍃🍃

Muhammad bin Yahya bin Sa’id mengatakan:

سئل ابن المبارك عن معاوية فقيل له ما تقول فيه قال ما أقول في رجل قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم) سمع الله لمن حمده فقال معاوية من خلفه ربنا ولك الحمد فقيل له ما تقول في معاوية هو عندك أفضل أم عمر بن عبد العزيز فقال لتراب في منخري معاوية مع رسول الله (صلى الله عليه وسلم) خير أو أفضل من عمر بن عبد العزيز

Abdullah bin Al Mubarak pernah ditanya tentang Mu’awiyah,”Apa pendapatmu tentangnya?” Beliau menjawab,”Apa yang harus kukatakan terhadap lelaki, yang ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan: Sami’ Allahu liman hamidah (Allah mendengar hamba yang memujiNya), lalu Mu’awiyah menyambutnya dari belakang Rabbana wa Lakal Hamdu (Segala puji bagiMu, wahai Rabb kami).”

Lalu ada yang bertanya: “Apa pendapatmu terhadap Mu’awiyah, apakah menurutmu ia lebih utama dari pada Umar bin Abdul Aziz?” Beliau berkata,”Sungguh celaka aku ini, Mu’awiyah yang telah menyertai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentu lebih utama dan lebih baik daripada Umar bin Abdul Aziz.” (Tarikh Dimasyqi, 59/207-208. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)

Imam Abdullah bin Al Mubarak juga mengatakan:

تراب في أنف معاوية أفضل من عمر بن عبد العزيز

“Debu pada hidung Mu’awiyah adalah lebih utama dibanding Umar bin Abdul ‘Aziz.” (Tarikh Dimasyqi, 59/207. Al Bidayah wan Nihayah, 8/148)

Wallahul Musta’an

🍄🌷🌴🌱🌸🍃🌵🌾

✍ Farid Nu’man Hasan

Allah Tidak Perlu Dibela?

💢💢💢💢💢💢💢

📌 Orang-orang liberal sering nyinyir kepada aktifis Islam dengan kalimat “Allah tidak perlu dibela”.. Karena Allah Maha Kuat

📌 Kalimat itu benar tapi salah penempatan, istilahnya: kalimatul haq yuradu bihal baathil (kalimatnya benar tapi maksudnya batil)

📌 Dalam pikiran mereka, seakan menolong Allah itu serupa dengan menolong makhluk yang lemah tidak berdaya, lalu datanglah manusia yang menolongnya. Maha Suci Allah dari pemahaman seperti itu.

📌 Apakah mereka lupa dengan ayat:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

(QS. Muhammad, Ayat 7)

📌 Apa makna dari “menolong Allah” dalam ayat ini? Yaitu menolong, membela, agama Allah (Islam) saat melawan orang kafir. Hal ini dikatakan Imam Al Qurthubi dalam Tafsirnya.

📌 Menolong agama Allah, bukan karena Allah tidak mampu menjaganya, bukan karena Dia lemah, tapi tidak lain karena hal itu adalah sarana bagi hambaNya untuk berlomba dalam kebaikan, dan sarana mendekatkan diri kepadaNya.

📌 Dalam Al Quran, Allah menceritakan tentang Nabi ‘Isa’ Alaihissalam:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُونُوٓاْ أَنصَارَ ٱللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ٱبۡنُ مَرۡيَمَ لِلۡحَوَارِيِّـۧنَ مَنۡ أَنصَارِيٓ إِلَى ٱللَّهِۖ قَالَ ٱلۡحَوَارِيُّونَ نَحۡنُ أَنصَارُ ٱللَّهِۖ فَـَٔامَنَت طَّآئِفَةٞ مِّنۢ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ وَكَفَرَت طَّآئِفَةٞۖ فَأَيَّدۡنَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ عَلَىٰ عَدُوِّهِمۡ فَأَصۡبَحُواْ ظَٰهِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikutnya yang setia itu berkata, “Kamilah Ansharullah (penolong-penolong (agama) Allah),” lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; lalu Kami berikan kekuatan ke-pada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, sehingga mereka menjadi orang-orang yang menang.

(QS. Ash-Shaf, Ayat 14)

📌 Ansharullah, penolong Allah, yaitu pembela agama Allah, adalah bahasa Al Quran dan merupakan stimulus untuk kaum beriman. Bukan karena Allah lemah -Maha Suci Allah dari sifat lemah-, tapi itu medan perjuangan dan amal shalih yang benefitnya kembali ke manusianya baik dunia dan akhirat.

📌 Dalam hadits shahih, riwayat Imam At Tirmidzi, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

احْفَظْ اللَّهَ يَحْفَظْكَ

“Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu”

Apakah hadits ini bermakna Allah itu lemah dan harus dijaga? Laksana rumah yang dijaga sekelompok security? Bukan.

📌 Para ulama menjelaskan maksudnya adalah jagalah batasan-batasan syariatNya, larangannya, perintahnya, janganlah kamu langgar. Sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Rajab dalam Jami’ al ‘Ulum wal Hikam.

📌 Maka, sangat keliru anggapan orang-orang liberal yang menyinyir aktifis Islam dengan kalimat “Allah tidak perlu dibela.”

📌 Karena memang mereka tidak paham apa makna membela agama dan memang sama sekali tidak tertarik untuk membela sesuatu yang mereka benci.

📌 Sesungguhnya jalan perjuangan, membela agama Allah, adalah jalan yang begitu berat tapi nikmat. Walau musuh-musuhnya menaburi dengan berbagai ranjau, jebakan, tuduhan, tapi para pejuang melaluinya dengan tegar dan kebahagiaan.

📌 Seandainya mereka tahu nikmatnya jalan ini, tahu kemuliaannya, paham karakternya, niscaya mereka pun akan ikut bersama kafilah para pejuang walau harus meraihnya dengan terseok-seok dan bersusah payah.

Wallahu A’lam wa Lillahil ‘Izzah

🍃🌸🌺🌴🌵🌷🌿🌳🌻

✍ Farid Nu’man Hasan

Tanyakan Kepada Ulama

💢💢💢💢💢💢💢💢💢

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengatakan:

إذا كان عند الرجل الكتب المصنفة فيها قول رسول الله – صلى الله عليه وسلم – واختلاف الصحابة والتابعين فلا يجوز أن يعمل بما شاء ويتخير فيقضي به ويعمل به حتى يسأل أهل العلم ما يؤخذ به فيكون يعمل على أمر صحيح

Jika seseorang memiliki berbagai buku, yang didalamnya terdapat hadits Rasulullah ﷺ, perselisihan para sahabat, dan tabi’in, maka tidak diperkenankan seenaknya saja baginya memilih pendapat lalu dia menetapkan perkaranya dengan itu, dan mengamalkannya, sampai dia bertanya dulu kepada ulama ttg apa yang dijadikan olehnya sebagai pegangan itu, agar itu menjadi perkara yang benar.

(Imam Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, 1/35)

Al Hafizh Abul Hasan Al Maimuni Rahimahullah berkata: Imam Ahmad bin Hambal berkata kepadaku:

يا ابا الحسن إياك أن تتكلم أن مسألة ليس لك فيها امام

Wahai Abu Hasan, hati-hatilah kamu berbicara tentang permasalahan yang seorang imam tidak membicarakan permasalahan itu.

(Imam Ibnul Jauzi, Manaqib al Imam Ahmad, Hal. 178)

Ada pun mereka yang meremehkan fiqihnya para ulama, dgn alasan langsung berhukum kepada Al Quran dan As Sunnah, hakikatnya mereka tidak mengerti fiqih. Kita lihat keterangan Imam Adz Dzahabi berikut tentang Ibnu Syahin:

قال الخطيب: وسمعت محمد بن عمر الداوودي يقول:
ابن شاهين ثقة، يشبه الشيوخ إلا أنه كان لحانا، وكان أيضا لا يعرف من الفقه لا قليلا ولا كثيرا، وإذا ذكر له مذاهب الفقهاء كالشافعي وغيره، يقول: أنا محمدي المذهب

Al Khathib Al Baghdadi berkata: Saya mendengar Muhammad bin Umar Ad Dawudi berkata:

Ibnu Syahin adalah seorang tsiqah dan mirip para syaikh, hanya saja ia sering keliru. Dia juga tidak mengerti tentang fikih sama sekali baik sedikit atau banyak, dan kalau disebutkan kepadanya ttg mazhab-mazhab para fuqaha (ahli fiqih) seperti Asy Syafi’i dan lainnya, ia berkata: “Madzhab saya Muhammadi (pengikut nabi Muhammad).”

(Siyar A’lam An Nubalaa’ 15/32, Muassasah Ar Risalah)

Apa yang dikatakan Ibnu Syahin, mirip perkataan sebagian orang saat ini. Di mana perkataan ini dikritik sebagai ucapan yang disebabkan ketidaktahuan ilmu fiqih sama sekali. Ini ulama sekelas Ibnu Syahin, lalu bagaimana dengan orang awam saat ini yang berkata demikian?

Laa haula walaa quwwata illa billah

📙📘📕📒📔📓📗

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top