Hukum Shalat Isyraq di Rumah Karena Ada Wabah

💢💢💢💢💢💢💢💢

(pertanyaan dr beberapa jamaah)Bismillahirrahmanirrahim..

Keutamaan shalat isyraq itu ada syaratnya. Ada 3 syarat:

1. Berjamaah di masjid
2. Duduk dzikir
3. Sampai syuruq (terbit)

Hal ini berdasarkan hadits-hadits tentang shalat isyraq, kami kutip satu saja: dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda:

من صلى الصبح في جماعة ثم قعد يذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : تامة تامة تامة

“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah lalu dia duduk untuk berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari kemudian shalat dua rakaat maka dia seperti mendapatkan pahala haji dan umrah.” Anas berkata: Rasulullah bersabda: “Sempurna, sempurna, sempurna.”

(HR. At Tirmidzi No. 586, katanya: hasan. Al Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid (10/104) dikatakan: “Isnadnya jayyid.” Al Mundziri berkaya: “Hadits ini memiliki banyak syawaahid (pendukung).” (Mir’ah Al Mafatih, 3/328)

Bagaimana dalam keadaan ‘udzur? Nah, tapi kita husnuzhan billah.. Berbaik sangka kepada Allah Semoga tetap dapat pahala isyraq juga, krn ini ada udzur.

Syaikh Ahmad Mukhtar Asy Syanqitiy menjelaskan ada tiga syarat untuk mendapatkan keutamaan shalat Isyraq:

أولها : أن يصلي الفجر في جماعة ، فلا يشمل من صلى منفرداً ، وظاهر الجماعة يشمل جماعة المسجد وجماعة السفر وجماعة الأهل إن تخلف لعذر ، كأن يصلي بأبنائه في البيت ، فيجلس في مصلاه

Pertama. Shalat subuh berjamaah, maka tidak termasuk yang shalat sendiri. Jamaah yang dimaksud mencakup jamaah di masjid, jamaah saat safar, jamaah bersama keluarga jika dia tertinggal karena ‘udzur, misal dia shalat bersama anak-anaknya di rumahnya lalu dia duduk berdzikir di tempat shalatnya.

ثانياً : أن يجلس يذكر الله ، فإن نام لم يحصل له هذا الفضل ، وهكذا لو جلس خاملاً ينعس ، فإنه لا يحصل له هذا الفضل ، إنما يجلس تالياً للقرآن ذاكراً للرحمن ، أو يستغفر ، أو يقرأ في كتب العلم ، أو يذاكر في العلم ، أو يفتي ، أو يجيب عن المسائل ، أو ينصح غيره ، أو يأمر بالمعروف وينهى عن المنكر ، فإن جلس لغيبة أو نميمة لم يحز هذا الفضل ؛ لأنه إنما قال : ( يذكر الله ) 

Kedua. Duduk berdzikir kepada Allah. Jika dia duduknya untuk tidur, maka tidak mendapatkan keutamaannya. Begitu pula bagi yang duduk dan malas-malasan, tidak dapat keutamaan yang dimaksud. Sesungguhnya duduknya adalah untuk membaca Al Qur’an, istighfar, membaca buku-buku, atau diskusi ilmiah, atau berfatwa, menjawab banyak persoalan, atau menasihati orang lain, atau Amar Ma’ruf nahi Munkar. Tp jika duduknya untuk ghibah, namimah (adu domba), maka tidak dapat keutamaan ini. Sebab yang nabi katakan: “Berdzikir kepada Allah.”

الأمر الثالث : أن يكون في مصلاه ، فلو تحول عن المصلى ولو قام يأتي بالمصحف ، فلا يحصل له هذا الفضل

Ketiga. Hendaknya dia di tempat shalatnya. Jika dia berpindah tempat dari tempat shalatnya walau hanya untuk bangun mengambil mushaf, maka itu tidak dapat keutamaan. (Lihat Syarh Zaad Mustaqniy)

Untuk syarat yang ketiga, “harus benar-benar duduk, bergeser ambil mushaf pun tidak mendapat keutamaan isyraq” telah dikoreksi ulama lain. Bahwanya sekedar bergeser tentu tidak apa-apa, yang penting masih di masjid tersebut.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

أن الراجح أنه لا يشترط بقاء المصلي في المكان الذي صلى فيه ، فما دام في المسجد يذكر الله تعالى ، فإنه يرجى له حصول ذلك الثواب

Pendapat yang kuat adalah tidaklah menjadi syarat bagi orang yang shalat harus tetap di tempatnya shalat, yang penting selama dia masih di masjid tsb dan berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka diharapkan baginya mendapatkan pahala tersebut.

(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 221531)

Demikian. Wallahu A’lam

🍀🍃🌷🌸🌿🌻🌳

✍ Farid Nu’man Hasan

Menyebarkan berita bohong, walau tidak sengaja, tetaplah berbohong

💢💢💢💢💢💢💢💢

📌 Baca BC di medsos, jangan dulu disebarkan. Pastikan dulu kebenarannya, dan pastikan pula manfaatnya.

📌 Walau benar tapi tidak ada manfaatnya, tetap tahan diri, khawatir malah menimbulkan fitnah

📌 Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

بِحَسْبِ الْمَرْءِ مِنَ الْكَذِبِ أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang termasuk berbohong jika dia membicarakan semua apa yang didengarnya. (HR. Muslim no. 5)

📌 Hadits ini mengajarkan untuk menahan diri, tidak mudah nyerocos dan nge- share berita

📌 Sebab, jika sehari kita mendapatkan 20 berita, sangat mungkin ada yang dusta walau satu.

📌Jika semuanya kita sebarkan, maka kita pun menyebarkan satu kebohongan, walau tidak ada unsur kesengajaan, itu tetap berbohong dan kecerobohan.

📌 Imam an Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

وَأَمَّا مَعْنَى الْحَدِيثِ وَالْآثَارِ الَّتِي فِي الْبَابِ فَفِيهَا الزَّجْرُ عَنِ التَّحْدِيثِ بِكُلِّ مَا سَمِعَ الْإِنْسَانُ فَإِنَّهُ يَسْمَعُ فِي الْعَادَةِ الصِّدْقَ وَالْكَذِبَ فَإِذَا حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ فَقَدْ كَذَبَ لِإِخْبَارِهِ بِمَا لَمْ يَكُنْ وَقَدْ تَقَدَّمَ أَنَّ مَذْهَبَ أَهْلِ الْحَقِّ أَنَّ الْكَذِبَ الْإِخْبَارُ عن الشيء بخلاف ماهو وَلَا يُشْتَرَطُ فِيهِ التَّعَمُّدُ لَكِنَّ التَّعَمُّدُ شَرْطٌ فِي كَوْنِهِ إِثْمًا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Ada pun makna hadits dan atsar dalam bab ini adalah larangan keras bagi manusia membicarakan semua yang dia dengarkan, sebab aktifitas mendengarkan itu biasanya ada yang benar dan bohong, maka jika dia membicarakan semua yang didengarnya barang tentu dia telah berbohong, karena telah menyebarkannya apa-apa yang tidak terjadi. Telah dijelaskan sebelumnya, menurut madzhab Ahlul haq bahwa yang dikatakan berita bohong adalah sesuatu yang menyelisihi apa yang seharusnya. Dalam hal ini, unsur kesengajaan itu tidaklah menjadi syarat bahwa dia telah berbohong, tetapi kesengajaan itu merupakan syarat yang membuat dirinya berdosa. Wallahu A’lam

(al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 1/75)

📌 Maka, jangan tergesa-gesa, sebab tergesa-gesa itu dari syetan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

التأني من الله و العجلة من الشيطان

Hati-hati itu dari Allah, tergesa-gesa itu dari syetan.

(HR. al Baihaqi, as Sunan al Kubra, 10/104. Sanadnya: hasan)

Wallahu Muwafiq Ilaa Aqwamith Thariq

🌿🌺🌷🌻🌸🍃🌴🌵

✍ Farid Nu’man Hasan

Bolehkah Shalat Id di Rumah?

💢💢💢💢💢💢💢

Ada himbauan shalat Id di rumah saja, gimana ini? (bbrp jamaah)

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Bismillahirrahmanirrahim..

Semoga Allah Ta’ala berikan kekuatan dan kesabaran kepada kita dalam melewati musibah wabah ini…

Jika memang wabah ini berkepanjangan sampai ke bulan Syawwal. Maka, shalat Idul fitri di rumah seorg diri, bagi yang udzur sah. Jika memang kondisinya tidak bisa mendatanginya baik krn sakit, safar, atau kondisi wabah seperti saat ini.

Ada dua opsi, dia bisa melakukan seorang diri di rumah atau berjamaah bersama keluarganya. Tatacaranya seperti shalat Id, atau seperti shalat biasa dua rakaat, semua ini sah dan lapang saja.

Imam asy Syafi’i Rahimahullah mengatakan:

ويصلي العيدين المنفرد في بيته والمسافر والعبد والمرأة

Shalat dua hari raya seorg diri di rumah baik musafir, hamba sahaya, dan wanita.

(Mukhtashar al Umm, 8/125)

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

وهو مخير ، إن شاء صلاها وحده ، وإن شاء صلاها جماعة
قِيلَ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ: أَيْنَ يُصَلِّي؟ قَالَ: إنْ شَاءَ مَضَى إلَى الْمُصَلَّى، وَإِنْ شَاءَ حَيْثُ شَاءَ.

Dia boleh memilih, jika mau dia bisa shalat sendiri, jika mau dia bisa shalat berjamaah. Abu Abdillah (Imam Ahmad) ditanya, di mana shalatnya? Beliau menjawab: “Jika dia mau di mushalla (lapangan), kalau dia mau dimana saja.” (al Mughni, 2/290)

Dalam Al Lajnah Ad Daimah:

صلاة العيدين فرض كفاية؛ إذا قام بها من يكفي سقط الإثم عن الباقين

Shalat id itu fardhu kifayah, jika ada yang melaksanakan sebagian, maka sebagian lain tidak berdosa.

ومن فاتته وأحب قضاءها استحب له ذلك، فيصليها على صفتها من دون خطبة بعدها، وبهذا قال الإمام مالك والشافعي وأحمد والنخعي وغيرهم من أهل العلم

Bagi yg tidak melaksanakan dan dia mau mengqadhanya, maka itu sunnah baginya. Maka, shalatlah seperti tatacara shalat Id, tanpa khutbah setelahnya. Inilah pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, An Nakha’i, dan ulama lainnya.

(al Lajnah ad Daimah, 8/306)

Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu:

أَنَّهُ كَانَ إذَا لَمْ يَشْهَدْ الْعِيدَ مَعَ الْإِمَامِ بِالْبَصْرَةِ جَمَعَ أَهْلَهُ وَمَوَالِيهِ، ثُمَّ قَامَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي عُتْبَةَ مَوْلَاهُ فَيُصَلَّى بِهِمْ رَكْعَتَيْنِ، يُكَبِّرُ فِيهِمَا. وَلِأَنَّهُ قَضَاءُ صَلَاةٍ، فَكَانَ عَلَى صِفَتِهَا، كَسَائِرِ الصَّلَوَاتِ

Jika dia tdk bisa shalat Id bersama imam di Bashrah, maka dia kumpulkan keluarganya dan para pelayannya, lalu berdirilah Abdullah bin ‘Utbah – pelayannya- mengimami mereka sebanyak dua rakaat, dia bertakbir pada dua rakaat itu. Karena ini qadha shalat, maka caranya sama seperti shalat-shalat lainnya.

(al Mughni, 2/290)

Demikian. Wallahu a’lam

🌸🌿🌳🍀🌷🌻🍃

✍ Farid Nu’man Hasan

Rambu-Rambu dalam Membahas Kiamat dan Akhir Zaman

💢💢💢💢💢💢💢💢

📌 Beriman kepada hari akhir adalah salah satu rukun iman

📌 Hari akhir adalah satu perkara ghaib; ada dan pasti terjadi tapi tidak nampak saat ini

📌 Salah satu ciri orang bertaqwa adalah mengimani yang ghaib dan hari akhir. (QS. Al Baqarah: 3 – 4)

📌 Ya, tugas kita adalah mengimaninya bukan mengutak atiknya

📌 Hindarilah segala tambahan dan membumbuinya dengan imajinasi tanpa dasar, ramalan tanpa ilmu, prediksi tanpa dalil

📌 “Wow effect” dan rasa mencekam para pembaca dan pendengar bukanlah target dalam menyampaikan kajian akhir zaman

📌 Karena ini urusan keimanan, maka pijaklah di atas Al Quran dan As Sunnah yang shahih; agar iman semakin dalam

📌 Hindari yang dhaif apalagi yang palsu, sbb para ulama sepakat atas terlarangnya menggunakan hadits dhaif -apalagi palsu- dalam masalah aqidah dan penetapan halal dan haram. Tp, mereka berbeda pendapat penggunaan hadits dhaif dalam masalah Fadhailul A’mal.

📌 Contoh fatal adalah menggunakan riwayat palsu tentang huru hara 15 Ramadhan hari Jumat. Di mana para imam hadits sejak masa lampau menyatakan sebagai hadits palsu, seperti yang dikatakan Imam adz Dzahabi dan Imam Ibnul Qayyim.

📌 Maka, sampaikanlah yang Allah Ta’ala katakan tentang hari akhir, jangan melebihinya..

📌 Sampaikanlah yang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sampaikan, jangan melewatinya..

📌 Apalagi berdusta atas nama Allah, RasulNya, dan para ulama, tentang akhir zaman dengan membuat peristiwa rekaan

📌 Sesungguhnya mengingatkan manusia tentang hari akhir adalah kewajiban seorang da’i dan muballigh, bahkan para nabi sejak dulu sudah mengingatkan tentang fitnah Dajjal

📌 Tapi, mengingatkan manusia dengan cara imajinasi dan ilusi sendiri, cocokologi, plus riwayat lemah dan palsu, adalah tidak dibenarkan

📌 Jangan sampai perlahan lahan seperti penganut sekte-sekte kiamat di agama lain, yang berani memastikan kapan kiamat, baik tahun, bulan, bahkan tanggal, berdasarkan igauan mereka sendiri dan ternyata tidak terbukti

📌 Atau jgn pula menjadi kolektor tanda-tanda kiamat tapi minim persiapan

📌 Yang jelas dihadapan kita ada Al Quran yang menjelaskan:

يَسۡـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا

Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah terjadinya?”

Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktunya)?

Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahannya (ketentuan waktunya).

Engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari Kiamat).

(QS. An-Nazi’at: 42 – 45)

📌 Di hadapan kita ada hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Beliau menjawab saat ditanya oleh Jibril ‘Alaihissalam kapan kiamat:

مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ

Tidaklah yang ditanya lebih tahu dibanding yang bertanya (HR. Muttafaq ‘Alaih)

📌 Berikanlah kabar gembira kepada orang beriman, bahwa mereka tidak akan mengalami kiamat:

إِذْ بَعَثَ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ

“… tiba-tiba Allah mengirim angin sepoi-sepoi lalu mencabut nyawa setiap orang mu`min dan muslim dibawah ketiak mereka, dan orang-orang yang tersisa adalah manusia-manusia buruk, mereka melakukan hubungan badan secara tenang-terangan seperti keledai kawin. Maka atas mereka itulah kiamat terjadi.”

(HR. Muslim no. 2137)

Wa Shalallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala aalihi wa Shahbihi wa Sallam

🌿🌺🌷🌻🌸🍃🌴🌵

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top