Panduan Kenabian Dalam Memilih Pemimpin

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah ﷺ  bersabda:
مَنِ اسْتَعْمَلَ عَامِلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّ فِيهِمْ أَوْلَى بِذَلِكَ مِنْهُ وَأَعْلَمُ بِكِتَابِ اللَّهِ وَسُنَّةِ نَبِيِّهِ فَقَدْ خَانَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَجَمِيع الْمُسْلِمِينَ
Barang siapa yang memilih seseorang untuk mengurus urusan kaum muslimin padahal dia tahu ada orang lain yang lebih pantas darinya, lebih paham Kitabullah dan Sunnah Rasulnya, maka dia telah mengkhianati Allah, Rasul, dan semua Kaum Muslimin.
(HR.  Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 20861,  Imam Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 7023, katanya: shahih)
▶️ Hadits ini mengarahkan kita agar memilih atau mengangkat seorang pemimpin yang paling cakap dalam menjalankan amanahnya, plus paling paham Al Quran dan As Sunnah di antara calon-calon lainnya.
▶️ Jika yang seperti itu tidak dipilih, maka itu adalah pengkhianatan kepada Allah, Rasul, dan semua kaum muslimin.
▶️ Secara implisit menunjukkan pula bahwa pemilihan pemimpin bukan didasari semata-mata kedekatan suku, marga, pergaulan, dengan para pemilihnya, tapi lebih pada kapasitas. Hal ini sejalan dengan hadits lainnya:
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, Rasulullah  ﷺ bersabda:
إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَة
َ
“Jika urusan dikembalikan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah waktu kehancurannya.” (HR. Bukhari  No. 59)
▶️ Penerapan masalah ini berlaku atas semua jenis dan level kepemimpinan, baik dari yg terendah di masyarakat maupun kepemimpinan yang tertinggi.
▶️ Dalam banyak hadits sangat sering Rasulullah ﷺ memberikan arahan tentang kepemimpinan, hal ini menunjukkan Islam sangat konsern terhadap kebaikan para pemimpin. Oleh karena itu Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan:
لو كان لنا دعوة مجابة لدعونا بها للسلطان
Seandainya kami memiliki doa yang mustajab, niscaya akan kami  doakan penguasa (Imam Ibnu Taimiyah, AS Siyasah Asy Syar’iyyah, hal. 169)
▶️ Oleh karenanya, Imam Al Ghazali mengatakan:
 والملك والدين توأمان؛ فالدين أصل والسلطان حارس، وما لا أصل له فمهدوم، وما لا حارس له فضائع، ولا يتم الملك والضبط إلا بالسلطان
“Kekuasaan dan agama adalah saudara kembar; agama merupakan  pondasi dan penguasa adalah penjaganya. Apa saja yang tidak memiliki pondasi akan hancur, dan apa saja yang tidak memiliki penjaga akan hilang. Dan tidaklah sempurna kekuasaan dan hukum kecuali dengan adanya pemimpin.”
 (Imam Al Ghazali, Ihya ‘Ulumuddin, 1/17. Mawqi’ Al Warraq)
Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamith Thariq
✍ Farid Nu’man Hasan

Ambillah Ilmu Dari Ahlinya

Allah Ta’ala berfirman:
قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ
Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar, Ayat 9)
Pertanyaan dalam ayat ini jawabannya sudah diketahui; bahwa tidak sama antara orang berilmu dan orang bodoh. Sebagaimana tidak sama antara ilmu dan kebodohan, maka tidak sama pula antara pengusung ilmu dan pengusung kebodohan.
Sementara Imam Al Qurthubi menjelaskan ttg siapa ahli ilmu itu:
قال الزجاج: أي كما لا يستوي الذين يعلمون والذين لا يعلمون كذلك لا يستوي المطيع والعاصي. وقال غيره: الذين يعلمون هم الذين ينتفعون بعلمهم ويعملون به، فأما من لم ينتفع بعلمه ولم يعمل به فهو بمنزلة من لم يعلم
Berkata Az Zajaj: “yaitu sebagaimana tidak sama antara orang-orang yangvtahu dan orang-orang yang tidak tahu, maka demikian pula tidak sama antara orang yang taat dan yang maksiat.
Yang lain mengatakan: “Arti orang-orang yang tahu (berilmu) adalah orang-orang yang ilmunya bermanfaat dan dia mengamalkan ilmunya, sedangkan orang yang ilmunya tidak bermanfaat dan dia tidak mengamalkannya maka kedudukannya sama saja dengan orang-orang yang tidak tahu. (Tafsir Al Qurthubi, 9/81)
Maka, ambillah ilmu dari ulama yang ‘amilin, ulama yang menjalankan ilmunya. Kepada merekalah ilmu menjadi hidup, bukan semata di lembar-lembar kertas semata.
Selain itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memuji:
 فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ
“Keutamaan seorang alim dari seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaanku dari orang yang paling rendah di antara kalian.”
(HR. At Tirmidzi no. 2685, At Tirmidzi mengatakan: hasan shahih)
Syaikh Abul ‘Ala al Mubarkafuri mengatakan:
وفيه إشارة إلى وجه الأفضلية بأن نفع العلم معتد و نفع العبادة قاصر
Ini menjadi isyarat tentang sisi  keutamaan, karena manfaat ilmu itu berkepenjangan sedangkan manfaat ibadah itu pendek (terbatas).  (Tuhfah al Ahwadzi, 8/106)
Kembali kepada Al Quran dan As Sunnah, tanpa melalui ulama pakar yang menjelaskan makna-maknanya, hikmah, dan hukumnya, adalah tindakan gegabah, sombong, dan berbahaya.
Betapa banyak manusia khususnya lagi anak muda, yg tergelincir hanya bermodalkan semangat tanpa didasari oleh ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan. Akhirnya terjadilah budaya takfir (pengkafiran), tabdi’ (pembid’ahan), dan tafsiq (pemfasikan), tanpa dalil, tidak terkendali dan begitu liar.
Wallahul Muwafiq Ilaa Aqwamith Thariq
✍ Farid Nu’man Hasan 

Menyapih Anak Sebelum Dua Tahun

◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum mohon pencerahannya semua,bagaimana seharusnya ibu hamil punya anak umur 1 th sedang menyusui, sementara dalam islam anak disapih umur 2 th,apakah boleh disusui anaknya atau tidak sama sekali?? Bagaimana seharusnya ini dalam islam??? (+62 852-6458-xxxx)

✒️❕JAWABAN

Wa’alaikumussalam Wa Rahmatullah Wa Barakatuh

Menyusui sampai dua tahun itu sunnah, jika seorang ibu ada halangan syar’i tidak sampai tuntas dua tahun maka tidak berdosa..

Allah Ta’ala berfirman:

وَالْوَالِدٰتُ يُرْضِعْنَ اَوْلَا دَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَا مِلَيْنِ لِمَنْ اَرَا دَ اَنْ يُّتِمَّ الرَّضَاعَة

“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna.”

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 233)

Ayat ini menunjukkan bahwa menggenapkan susuan selama dua tahun bukan kewajiban tapi bagi dikembalikan kepada kehendak ibunya.

Imam Al Qurthubi menjelaskan:

فيه دليل على أن إرضاع الحولين ليس حتما فإنه يجوز الفطام قبل الحولين

Ayat ini adalah dalil bahwa menyusui sampai dua tahun bukanlah keharusan, boleh baginya menyapih sebelum dua tahun.

(Tafsir Al Qurthubi, 3/162)

Hamil di masa masih menyusui anak, salah satu alasan syar’i untuk terhentinya menyusui .. Sebab biasanya wanita hamil air susunya sangat sedikit bahkan berhenti. Tapi sebagian wanita ada pula yang tetap memproduksi ASI. Maka bagi yang masih lancar ASI hendaknya tetap menyusui, asalkan ibu tsb menjaga asupannya agar tetap fit. Bagi yang sedikit, lemah, atau bahkan berhenti sama sekali, maka tidak apa-apa baginya tidak sampai dua tahun.

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

Hukum Hormat – Upacara Bendera

◼◽◼◽◼◽

✉️❔PERTANYAAN:

Afwan Ust.,. Mau nanya tentang pandangan Islam mengenai penghormatan bendera saat upacara… krn ada yg berpendapat mengikuti cara org kafir… Syukron (+62 812-5764-xxx)

✒️❕JAWABAN

Bismillah wal hamdulillah ..

Masalah penghormatan kepada bendera para ulama zaman ini berselisih pendapat. Sebagian ada yang melarang dan menilainya sebagai penyerupaan kepada orang kafir. Sebagian lain membolehkan, dan menyatakan tidak ada larangan dalam syariat tentang hal itu berdasarkan dalil-dalil yang begitu jelas.

Pertama, pihak yang melarang.

Mereka menganggap ini adalah bid’ah, tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir), bahkan dianggap dapat memunculkan kesyirikan.

Fatwa Al lajnah Ad Daimah, di kerajaan Arab Saudi, bahwa penghormatan kepada bendera adalah bid’ah. Berikut ini fatwanya:

لا تجوز تحية العلم، بل هي بدعة محدثة، وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: « من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد » رواه البخاري ومسلم

Tidak boleh menghormati bendera, bahkan itu adalah bid’ah, dan nabi ﷺ telah bersabda: “Barang siapa yang mengada-ada hal yang baru dalam urusan kami ini maka itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

(Fatwa No. 5963)

Dalam fatwa yang lain, Al Lajnah Ad Daimah menganggap penghormatan bendera adalah tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir). Berikut ini fawanya:

لا يجوز تحية العلم، ويجب الحكم بشريعة الإسلام والتحاكم إليها، ولا يجوز للمسلم أن يحيي الزعماء أو الرؤساء تحية الأعاجم، لما ورد من النهي عن التشبه بهم، ولما في ذلك من الغلو في تعظيمهم

Tidak boleh penghormatan kepada bendera, dan wajib berhukum dengan syaria Islam dan menerapkan hukum kepadanya, dan tidak boleh bagi seornag muslim menghornati para pemimpin dgn cara penghormatan orang ‘ajam (non Arab), sebab adanya larangan untuk menyerupai mereka, dan juga didalamnya ada bentuk melampaui batas dalam menghormati mereka. (fatwa No. 6894)

Atau fatwa lainnya yang lebih lengkap:

لا يجوز للمسلم القيام إعظاماً لأي علم وطني ، أو سلام وطني ، بل هو من البدع المنكرة التي لم تكن في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، ولا في عهد خلفائه الراشدين رضي الله عنهم ، وهي منافية لكمال التوحيد الواجب ، وإخلاص التعظيم لله وحده ، وذريعة إلى الشرك ، وفيها مشابهة للكفار ، وتقليد لهم في عادتهم القبيحة ، ومجاراة لهم في غلوهم في رؤسائهم ومراسيمهم ، وقد نهى النبي صلى الله عليه وسلم عن مشابهتهم أو التشبه بهم

Seorang muslim tidak boleh berdiri untuk menghormati bendera atau salam kebangsaan. Itu adalah bid’ah yg munkar yang tidak ada pada masa Nabi.ﷺ masa Khalifah yang empat. Itu dapat menghilangkan kesempurnaan tauhid yang wajib dan kemurnian dalam menganggungkan Allah satu-satunya, memunculkan syirik dan menyerupai orang kafir serta meniru mereka dalam tradisinya yang jelek dan berlebihan dalam menghormati penguasa. Padahal Rasulullah sudah melarang meniru dan menyerupai orang kafir.

(Fatwa no. 2123)

Fatwa serupa juga dikatakan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani:

هذه -لا شك- من التقاليد الأوروبية الكافرة، وقد نهينا عن تقليدهم بمناهي عامة وخاصة، ولا يجوز لأي دولة مسلمة حقاً أن تتبنى شيئاً من تقاليد الكفار

Hal ini – tidak ragu lagi- termasuk bentuk taklid kepada budaya Eropa yang kafir. Kita telah dilarang mengikuti mereka baik dengan larangan umum dan khusus, maka tidak dibolehkan bagi negera muslim mana pun untuk meniru orang-orang kafir.

(Al Ajwibah Al Albaniyah ‘alal As’ilah Al Kuwaitiyah, Hal. 1-2)

Kedua. Pihak yang membolehkan.

Mereka mengkritik pihak pertama. Menurut golongan ini, penghormatan bendera bukanlah masalah ibadah, dan tidak pantas dikatakan bid’ah. Serta bukan pula penyerupaan kepada orang kafir, sebab menghormati simbol negara tidaklah terlarang secara syariat.

Mufti Mesir, Syaikh Syauqi Ibrahim Abdul Karim ‘Allam Hafizhahullah mengatakan:

لا مانع شرعًا من تحية العلم والوقوف للسلام الوطني؛ فكِلاهُما تعبير عن الحب لرمز الوطن وعلامته وشعاره

Tidak terlarang secara syariat penghormatan bendera dan berdiri untuk salam kenegaraaan. Keduanya merupakan ungkapan rasa cinta kepada simbol tanah air dan syiar-syiarnya …

Beliau juga berkata:

ولا يمكن القول بأن هذا من التعظيم المحرم؛ لأن التعظيم الممنوع هو ما كان على وجه عبادة المعظَّم، كما لا يمكن القول بأنه من التشبه بغير المسلمين المنهي عنه شرعًا؛ فالتشبه إنما يحرم فيما يتعلق بعقائدهم وخصوصياتهم الدينية إذا قصد المسلمُ بها التشبه

Tidak mungkin ini dikatakan sebagai penghormatan yang diharamkan, sebab penghormatan yang dilarang itu adalah pengagungan dlm konteks ibadah, sebagaimana tidak mungkin juga disebut menyerupai non muslim yang telah dilarang oleh syariat, sebab tasyabbuh (penyerupaan) itu diharamkan dalam hal kaitannya dengan aqidah mereka, ciri khusus mereka yang duniawi, jika seorang muslim melakukannya memang bermaksud untuk menyerupai.

(Lihat: http://www.dar-alifta.org/AR/ViewFatwa.aspx?ID=11069)

Begitu pula fatwa dr Lajnah Al Fatwa Darul Ifta Al Mishriyah, mereka mengoreksi pihak yang mengatakan bahwa ta’zhim (pengagungan, pemuliaan) hanya hak Allah semata, dan menganggapnya ini pendapat yang batil ..

Penghormatan bendera sudah ada di masa Nabi ﷺ dan para Sahabatnya. Dalam perang Mu’tah Nabi ﷺ mengangkat Ja’far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah, dan Abdullah bin Rawahah, sebagai pemimpin pasukan dan pemegang bendera. Di masa itu tegaknya bendera merupakan tanda kejayaan dan kemenangan sebuah pasukan perang, oleh karena itu mereka sangat menjaganya .. zaman ini cara penghormatan tidak sama karena sudah berubahnya zaman.

Di akhir fatwa, tertulis:

فإن تحية العلم المعهودة أو الوقوف للسلام الوطني أمران جائزان لا كراهة فيهما ولا حرمة كما شغَّب به مَن لا علمَ له، فإذا كان ذلك في المحافل العامة التي يُعَدُّ فيها القيام بذلك علامة على الاحترام وتركه مشعرًا بترك الاحترام: فإن الوقوف يتأكَّد؛ فيتعيَّن فعلُه حينئذٍ؛ دفعًا لأسباب النفرة والشقاق، واستعمالا لحسن الأدب ومكارم الأخلاق

Penghormatan bendera dan salam kenegaraan adalah dua hal yang dibolehkan, tidak makruh dan tidak pula haram, sebagaimana pandangan picik orang yang tidak memiliki ilmu.

Jika hal itu dilakukan dalam proses umum yang dianggap bahwa berdiri adalah bagian dr penghormatan dan meninggalkannya bernilai tidak hormat, maka berdiri saat itu ditekankan. Sebagai pencegah dari sebab munculnya perpecahan, dan dalam rangka memakai adab yang baik dan akhlak yang mulia.

(Selesai)

Syaikh ‘Athiyah Saqr Rahimahullah mengatakan:

فتحية العلم بالنشيد أو الإشارة باليد في وضع معين إشعار بالولاء للوطن والالتفاف حول قيادته والحرص على حمايته، وذلك لا يدخل فى مفهوم العبادة له، فليس فيها صلاة ولا ذكر حتى يقال : إنها بدعة أو تقرب إلى غير الله

Menghormati bendera dengan lagu atau isyarat tangan, dalam situasi khusus itu menunjukkan loyalitas pada tanah air, bersatu di bawah kepemimpinannya, dan komitmen untuk mendukungnya. Sikap ini bukan termasuk dalam pengertian menyembah kepada bendera itu. Penghormatan bendera bukanlah shalat atau dzikir sampai-sampai ada yang bilang: “itu bid’ah atau ibadah pada selain Allah.” (selesai)

Nah, pendapat kedua inilah yg kami ikuti .. sebab memang masalah hormat bendera bukan ibadah, bukan pula tasyabbuh, secara umum ada dasar dalam sejarah Islam.

Hanya saja, jika ini dikaitkan dgn upacara bendera, maka mesti diperhatikan: jangan sampai ikhtilat, jangan pula cara doa meniru orang kafir yaitu doa dgn diiringi musik dan bernyanyi, dan tidak boleh memunculkan rasa nasionalisme sempit dan chauvinist (merasa lebih tinggi dibanding bangsa lain), seraya mendeskreditkan bendera negara muslim lainnya termasuk bendera yang bertuliskan kalimat tauhid.

Demikian. Wallahu a’lam

Farid Nu’man Hasan

scroll to top