Qurban Dengan Ayam, Sahkah?

(Pertanyaan dari beberapa org)
Bismillahirrahmanirrahim..
Di antara ulama, ada yg membolehkan qurban dengan ayam, burung, atau semua hewan halal yg bisa dimakan dagingnya, sebagaimana pendapat sahabat nabi; Ibnu Abbas dan Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘Anhuma. Para ulama selanjutnya seperti Hasan bin Shalih, dan mazhab Zhahiri (Imam Daud az Zhahiri dan Imam Ibnu Hazm).
Namun para ahli fiqih di semua mazhab yang empat sepakat, tidak sah qurban kecuali dengan hewan ternak berupa bahimatul an’am (Unta, Sapi, dan Kambing). (QS. Al Haj: 34)
Imam An Nawawi berkata:
نقل جماعة إجماع العلماء عن أنَّ التضحية لا تصحُّ إلاَّ بالإبل أو البقر أو الغنم؛ فلا يجزىء شيء غير ذلك)
Segolongan ulama menyebutkan adanya IJMA’ bahwa qurban tidaklah sah kecuali dengan Unta, atau Sapi, atau Kambing  dan sama sekali tidak sah apa pun selain itu.  (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab)
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah juga berkata tentang hal ini:
أجمع العلماء على أن الهدي لا يكون إلا من النعم ، واتفقوا: على أن الافضل الابل، ثم البقر، ثم الغنم. على هذا الترتيب. لان الابل أنفع للفقراء، لعظمها، والبقر أنفع من الشاة كذلك
“Ulama telah ijma’ (sepakat) bahwa hewan qurban itu hanya sah dari hewan ternak (An Na’am).
Mereka juga sepakat bahwa yang lebih utama adalah unta  (Ibil), lalu sapi/kerbau (Baqar), lalu kambing (Ghanam), demikianlah urutannya.
Alasannya adalah karena Unta lebih banyak manfaatnya (karena lebih banyak dagingnya, pen) bagi fakir miskin, dan demikian juga sapi lebih banyak manfaatnya dibanding kambing.”
(Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah,  1/737. Darul Kitab Al ‘Arabi)
Ada pun apa yang disebutkan dari Ibnu Abbas dan Bilal bahwa berqurban walau dengan ayam, hendaknya dipahami sebagai tasyji’ (memotivasi) agar tidak ketinggalan kebaikan berqurban, bukan dimaknai secara harfiyah.
Demikian. Wallahu A’lam
✍️ Farid Nu’man Hasan

Pupuk Organik dari Kotoran Hewan Apakah Najis?

◼◽◼◽◼◽◼

PERTANYAAN:

Ustaz, apakah pupuk organik yg berasal dari pengolahan kotoran hewan tersebut termasuk najis atw nda?

JAWABAN

Bismillahirrahmanirrahim…

MAYORITAS ulama membagi menjadi dua:

1. Hewan yang dagingnya bisa di makan, kotoran dan kencingnya TIDAK NAJIS. Seperti kambing, unta, sapi, ayam.

2. Hewan yang dagingnya TIDAK BOLEH DIMAKAN, maka kotoran dan kencingnya NAJIS.

Imam An Nawawi Rahimahullah mengatakan:

واستدل أصحاب مالك وأحمد بهذا الحديث أن بول ما يؤكل لحمه وروثه طاهران

Para sahabat Imam Malik (Malikiyah) dan Imam Ahmad (Hambaliyah) berdalil dengan hadits ini bawah kencing dan kotoran hewan yang boleh dimakan dagingnya itu SUCI.

(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 11/154)

Dalilnya adalah dalam Shahih Al Bukhari;

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ نَاسًا اجْتَوَوْا فِي الْمَدِينَةِ فَأَمَرَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَلْحَقُوا بِرَاعِيهِ يَعْنِي الْإِبِلَ فَيَشْرَبُوا مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا فَلَحِقُوا بِرَاعِيهِ فَشَرِبُوا مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا حَتَّى صَلَحَتْ أَبْدَانُهُمْ

Dari Anas Radhiallahu ‘anhu bahwa sekelompok orang sedang menderita sakit ketika berada di Madinah, maka *Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan* mereka supaya menemui penggembala beliau dan meminum susu dan kencing unta, mereka lalu pergi menemui sang penggembala dan meminum air susu dan kencing unta tersebut sehingga badan-badan mereka kembali sehat .

(HR. Bukhari no. 5686)

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz Rahimahullah berkata:

نعم، هذا هو الصواب: أن بول ما يؤكل لحمه وروثه كله طاهر؛ مثل الإبل والبقر والغنم والصيد كله طاهر، والنبي صلى الله عليه وسلم كان يصلي في مرابض الغنم، ولما استوخم العرنيون في المدينة بعثهم إلى إبل الصدقة من وألبانها حتى صحوا، فلما أذن لهم بالشرب من أبوالها دلّ على طهارتها

Ya, inilah yang benar, bahwa air kencing dan kotoran dari hewan yg bisa dimakan dagingnya adalah SUCI. Seperti Unta, sapi, kambing, dan hasil buruan laut, dan dahulu Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam pernah shalat di kandang kambing.

Saat kaum ‘Uraniyun sakit, Nabi Shalallahu’Alaihi wa Sallam mengutus kepada mereka para gembala untuk mereka bisa minum susah dan air kencingnya. Saat Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam mengizinkan mereka meminumnya menunjukkan kesuciannya. (selesai)

Ini juga pendapat Imam Ibnu Taimiyah, Syaikh Yusuf Al Qaradhawi, dan lainnya.

Sementara itu, dalam madzhab Syafi’i, tidak membedakan dua jenis hewan tersebut. Bagi mereka SEMUANYA adalah NAJIS. Ada pun hadits di atas bukan menunjukkan sucinya kencing unta tapi kondisi darurat yang membuat boleh meminumnya.

Imam An Nawawi Rahimahullah melanjutkan;

وأجاب أصحابنا وغيرهم من القائلين بنجاستهما بأن شربهم الأبوال كان للتداوي وهو جائز بكل النجاسات سوى الخمر omوالمسكرات 

Para sahabat kami (Syafi’iyyah) dan selainnya yg berpendapat najisnya keduanya (kencing dan kotoran Unta) memberikan jawaban; bahwasanya minumnya mereka terhadap air kencing Unta krn untuk berobat, itu (berobat) memang boleh dgn semua najis kecuali khamr (minuman keras) dan apa pun yang memabukkan. (Ibid)

Dalam konteks madzhab Syafi’iy, Berkata Imam Ibnu Ruslan Rahimahullah:

وَالصَّحِيحُ مِنْ مَذْهَبِنَا يَعْنِي الشَّافِعِيَّةَ جَوَازُ التَّدَاوِي بِجَمِيعِ النَّجَاسَاتِ سِوَى الْمُسْكِرِ لِحَدِيثِ الْعُرَنِيِّينَ فِي الصَّحِيحَيْنِ حَيْثُ أَمَرَهُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالشُّرْبِ مِنْ أَبْوَالِ الْإِبِلِ لِلتَّدَاوِي

“Yang benar dari madzhab kami –yakni Syafi’iyah- bahwa dibolehkan berobat dengan seluruh benda najis kecuali yang memabukkan, dalilnya adalah hadits kaum ‘Uraniyin dalam shahihain (Bukhari-Muslim), ketika mereka diperintah oleh Nabi untuk minum air kencing Unta untuk berobat.”

(Nailul Authar, 13/166)

Demikian. Wallahu a’lam

Farid Nu’man Hasan

Memahami Atsar Tentang Waktu Sahur

Pertanyaan

Assalamualaikum..semoga ustadz sehat selalu.aamin

izin bertanya ustadz terkait beberpa atsar sahabat dibawa ini yg kemudian dijadikan sebagai dalil boleh sahur meskipun sudah azan subuh /terbit fajar shodiq..merka menjadikan atsar sahabt ini sebagai penguat bahwa yg dimaksud dlm hadits bukhari itu adalah azan kedua bukan azan pertama…mohon penjelasannya ustadz .jazakallahu khairan sebelumnya .

Imam al-Daruquthni meriwayatkan di dalam Sunannya (no: 2186) dengan sanad yang shahih dari Salim bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan:

كُنْتُ فِي حِجْرِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ فَصَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ مَا شَاءَ اللَّهُ , ثُمَّ قَالَ: اخْرُجْ فَانْظُرْ هَلْ طَلَعَ الْفَجْرُ؟،  قَالَ: فَخَرَجْتُ ثُمَّ رَجَعْتُ، فَقُلْتُ: قَدِ ارْتَفَعَ فِي السَّمَاءِ أَبْيَضُ، فَصَلَّى مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ قَالَ: اخْرُجْ فَانْظُرْ هَلْ طَلَعَ الْفَجْرُ؟، فَخَرَجْتُ ثُمَّ رَجَعْتُ فَقُلْتُ: لَقَدِ اعْتَرَضَ فِي السَّمَاءِ أَحْمَرُ، فَقَالَ: هَيْتَ الْآنَ فَأَبْلِغْنِي سَحُورِي

Artinya:

Suatu ketika di satu malam, aku berada di dalam bilik Abu Bakar al-Shiddiq, beliau shalat di dalam itu dengan jumlah raka’at yang Allah kehendaki dapat beliau lakukan. Kemudian beliau mengatakan: “keluar dan lihatlah, apakah sudah terbit fajar?”. Akupun keluar kemudian aku kembali, aku katakan: “telah naik tinggi berwarna putih”. Beliaupun melanjutkan shalatnya sebanyak jumlah raka’at yang Allah kehendaki mampu beliau lakukan. Kemudian beliau mengatakan lagi: “keluar dan lihatlah apakah fajar telah terbit?”. Aku pun keluar kemudian aku kembali dan aku katakan: “telah menyebar di langit berwarna merah”. Kemudian (Abu Bakar al-Shiddiq) mengatakan: sekarang waktunya, hidangkan kepadaku makan sahurku!

Ibnu Abi Syaibah di dalam Mushannafnya (no: 8930) dan al-Bukhari secara mukhtashar di dalam Tarikh Kabirnya (no: 301)  meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abu ‘Aqil Hibban bin Haris, ia mengatakan:

تَسَحَّرْتُ مَعَ عَلِيٍّ ثُمَّ أَمَرَ الْمُؤَذِّنَ، أَنْ يُقِيمَ

Artinya:

Aku bersantap sahur bersama Ali (bin Abi Thalib) kemudian beliau memerintahkan mu’adzin untuk mengumandangkan iqamah.

demikian ustadz.


Jawaban

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Atsarnya shahih, tapi pemahamannya yg perlu dikritisi..

Dalam atsar Abu Bakar tersebut disebutkan langit itu Ahmar (memerah), padahal subuh itu jika langit itu ASFARA (menguning/terang)..

ثم جاءَهُ لِلصُّبْحِ حِينَ أَسْفَرَ جِدًّا فصل فصلى العشاءفَصَلَّى الصُّبْحَ “

Kemudian dia (Jibril) mendatanginya untuk Shalat Shubuh ketika langit terang/asfara, lalu dia berkata, ‘Bangunlah dan shalatlah!’ maka beliau (Rasulullah) melaksanakan Shalat Shubuh.”  (HR. An Nasa’i No. 526, Ahmad No. 14011, shahih)

Artinya, apa yang dilakukan oleh Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu adalah sebelum fajar shadiq, inilah pemahaman 4 madzhab.

Atsar-atsar ini perlu penjelasan ulama, bukan penjelasan diri sendiri. Tidak mungkin pula 4 madzhab sepakat dalam kesalahan dalam memahaminya.

Termasuk Atsar dari Abi Aqil bin Haris di atas. Imam Ibnu Abi Syaibah memasukkan dalam Bab Man Kana Yastahibbu ta’khir As Sahuur (Siapa yang menyukai mengakhirkan makan sahur). Bukan bab tentang bolehnya makan sahur saat azan subuh.

Bab tersebut banyak sekali riwayat tentang ta’khir sahur, dan tidak satu pun menyebutkan setelah berkumandang azan. Jika 1 saja yg nampak “beda” maka mesti ditawfiq (kompromi) dgn yg lain., sehingga riwayat tersebut tidak bertentangan.

Imam An Nawawi Rahimahullah menjelaskan:

ذكرنا أن من طلع الفجر وفي فيه (فمه) طعام فليلفظه ويتم صومه , فإن ابتلعه بعد علمه بالفجر بطل صومه , وهذا لا خلاف فيه

Kami telah menyebutkan bahwa siapa yang mengalami terbitnya fajar (subuh), dan di mulutnya ada makanan hendaknya dia membuangnya dan dia lanjutkan puasanya. Jika dia telan setelah dia tahu sudah fajar, maka batal puasanya. Dan ini TIDAK ADA PERBEDAAN PENDAPAT ULAMA. (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, jilid. 6, hal. 333)

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah menjelaskan:

وذهب الجمهور إلى امتناع السحور بطلوع الفجر, وهو قول الأئمة الأربعة, وعامة فقهاء الأمصار, وروي معناه عن عمر وابن عباس رضي الله عنهم

Mayoritas ulama menyatakan larangan sahur disaat terbitnya fajar, inilah pendapat imam yang empat dan seluruh ulama di penjuru negeri. Telah diriwayatkan makna seperti itu dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma. (Imam Ibnul Qayyim, Syarh Sunan Abi Daud, jilid. 6, hal. 341)

Syaikh Al Kasymiri Rahimahullah menjelaskan:

وهو الذي قبل الفجر وقال بعضُ العلماء: إن الأذان قبل الفجر في عهد صلى الله عليه وسلّم كان لتعليمهم وقت السُّحُور، ثم لمَّا عَرَفُوه تُرِكَ

Adzan tersebut adalah sebelum fajar (subuh). Sebagian ulama mengatakan bahwa adzan sebelum subuh di zaman Rasulullah ﷺ dilakukan untuk memberitahu mereka datangnya waktu sahur, lalu ketika mereka sudah mengetahui hal itu mereka pun meninggalkannya. (Syaikh Muhammad Anwarsyah Al Kasymiri, Faidhul Bari, jilid. 2, hal. 222)

Hal serupa juga dikatakan Imam an Nawawi Rahimahullah sebagai berikut:

وهذا إن صح محمول عند عوام أهل العلم على أنه صلى الله عليه وسلم علم أنه ينادي قبل طلوع الفجر بحيث يقع شربه قبيل طلوع الفجر

Hadits ini jika shahih, maknanya menurut umumnya ulama adalah bahwa Rasulullah ﷺ tahu azan tersebut dikumandangkan sebelum terbitnya fajar dan minumnya pun menjelang fajar.

(Al Majmu’ Syarh al Muhadzdzab, jilid. 6, hal. 333)

Beliau juga mengatakan:

ويكون قول النبي صلى الله عليه وسلم : ( إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ ) خبراً عن النداء الأول

Sabda Nabi ﷺ: “Apabila salah seorang diantara kalian mendengar azan, sedangkan bejana (makanan) masih ada di tangannya” menunjukkan berita bahwa itu azan pertama. (Ibid)

Demikian. Wallahu a’lam

Farid Nu’man Hasan

Hukum Membatalkan Salat Ketika Ada yang Terlupa

▪▫▪▫▪▫

PERTANYAAN:

Assalamualakum ustad….mohan maaf sebelumnya sudih kiranya untuk membagi ilmu…apakah hukumnya membatalkan sholat di karenakan lupa padahal ada tuntunanya untuk melakukan sujud sahwi….lebih baik mana mengulang kembali atau melakukan sujud sahwi. Dalam sholat tadi munfarid/sendiri…terimakasih atas pencerahan ilmunya. Wassalamualaikum

JAWABAN

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah

Jika ada yang lupa dan ragu-ragu misal lupa atau ragu jumlah rakaat, maka yang mesti dilakukan adalah pilih rakaat yang paling kecil, lalu tuntaskan shalat dan akhiri dengan sujud sahwi 2 kali.

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي الْوَاحِدَةِ وَالثِّنْتَيْنِ فَلْيَجْعَلْهُمَا وَاحِدَةً وَإِذَا شَكَّ فِي الثِّنْتَيْنِ وَالثَّلَاثِ فَلْيَجْعَلْهُمَا ثِنْتَيْنِ وَيَسْجُدْ فِي ذَلِكَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Jika  di antara kalian ragu, apakah rakaat pertama dan kedua, maka jadikanlah itu sebagai rakaat pertama saja. Jika kalian ragu pada rakaat kedua dan ketiga, maka jadikanlah itu sebagai rakaat kedua. Oleh karena itu, sujudlah dua kali sebelum salam.” (HR. At Tirmidzi No. 396)

Dari hadits ini –dan hadits lain yang serupa- Jumhur ulama mengatakan bila seseorang ragu-ragu terhadap jumlah rakaat shalat, maka hendaknya dia meyakinikan rakaat yang lebih sedikit, kemudian dia melakukan sahwi.

Tetapi ada juga ulama yang mengatakan bahwa ragu-ragu dalam shalat,  seseorang yang tidak tahu sudah berapa rakaat shalatnya,  bukan diselesaikan dengan sahwi, tetapi harus diulang shalatnya. Hal ini diinformasikan oleh Imam At Tirmidzi berikut ini:

و قال بعض أهل العلم إذا شك في صلاته فلم يدر كم صلى فليعد

“Berkata sebagian ulama: jika seseorang ragu di dalam shalatnya, dia tidak tahu sudah berapa rakaat shalatnya, maka hendaknya dia mengulangi shalatnya.” (Sunan At Tirmidzi No. 396)

Dan, pendapat jumhur ulama yang menyatakan sujud sahwi nampaknya pendapat yang lebih kuat dan telah diterangkan dalam berbagai hadits shahih.
Wallahu A’lam

Farid Nu’man Hasan

scroll to top