Membatalkan Puasa Sunnah Karena Istri Sedang “Berhasrat”

 PERTANYAAN:

Assalamualaikum wr wb
Ada orang yang mengatakan bahwa puasa senin kamis itu sunnah sedangkan memenuhi “hasrat” istri itu wajib. Maka ketika kita sedang puasa sunnah sedangkan istri sedang berhasrat maka sebaiknya batalkan puasanya dan penuhi hasrat istri.
Apakah hal ini benar, ustz?
Syukron wa jazakallahukhair
Wassalamu’alaikum wr wb (+62 813-8502-xxxx)


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Berhasrat atau tidak, membatalkan puasa sunah itu bebas.. Bahkan seandainya tidak ada alasan apa-apa pun tetap tidak dianggap salah..

Dari Ummu Hani Radhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

الصائم المتطوع أمير نفسه إن شاء صام وإن شاء أفطر

Seorang yang sedang shaum sunnah adalah raja bagi dirinya sendiri, jika dia mau maka dia teruskan puasanya, jika dia mau silahkan dia batalkan. (HR. Ahmad No. 26893, Al Hakim No. 1599, 1600, katanya: shahih. Disepakati oleh Adz Dzahabi keshahihannya)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

وقد ذهب أكثر أهل العلم إلى جواز الفطر، لمن صام متطوعا، واسحبوا له قضاء ذلك اليوم، استدلالا بهذه الاحاديث الصحيحة الصريحة

Mayoritas ulama berpendapat bolehnya membatalkan puasa bagi yang sedang shaum sunnah, dan mereka dianjurkan mengqadha puasa hari tersebut, berdasarkan hadits-hadits ini yang begitu jelas. (Fiqhus Sunnah, 1/455)

Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Sikap Umat Islam Ketika Diserang Musuh

💥💦💥💦💥💦

📨 PERTANYAAN:

Assalammu’alaikum ust, Afwan ganggu waktunya ..🙏🏻

Ada pertanyaan titipan dari teman di mesjid :

Apakah ada dalil dari contoh Rasulullah SAW atau sahabat nabi yang menunjukkan peristiwa umat Islam yang diserang oleh orang2 kafir atau yahudi lalu respon Rasulullah atau sahabat nabi sbg Khalifah tidak diam melainkan mengirim pasukan untk menyerang orang2 kafir atau yahudi tsb ??

Mohon pencerahannya ust 🙏🏻

Jazakallah khaiiran ust 🙏🏻 (+62 812-9252-xxxx)


📬 JAWABAN

🌴🌴🌴🌴

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh

Ya, ada baik di zaman Rasulullah maupun salaf.

Untuk di zaman Rasulullah ﷺ yaitu disaat orang-orang ‘Ukl dan Urainah di Madinah membunuh para penggembala utusan Rasulullah ﷺ, padahal penggembala ini utusan Rasulullah untuk memberikan obat (kencing dan susu unta) kepada dua suku tersebut yang sedang dilanda penyakit. Mereka sembuh, tapi mereka malah murtad dan membunuh para utusan Rasulullah ini dengan sadis. Akhirnya, Rasulullah ﷺ memerintahkan mengejar mereka dan membunuhnya dengan memotong tangan dan mencukil mata mereka dan dijemur siang-siang.

Kisah ini SHAHIH, terdapat dalam Bukhari dan Muslim.

Selengkapnya sbb:

Untuk SHAHIH BUKHARI:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفَرٌ مِنْ عُكْلٍ فَأَسْلَمُوا فَاجْتَوَوْا الْمَدِينَةَ فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَأْتُوا إِبِلَ الصَّدَقَةِ فَيَشْرَبُوا مِنْ أَبْوَالِهَا وَأَلْبَانِهَا فَفَعَلُوا فَصَحُّوا فَارْتَدُّوا وَقَتَلُوا رُعَاتَهَا وَاسْتَاقُوا الْإِبِلَ فَبَعَثَ فِي آثَارِهِمْ فَأُتِيَ بِهِمْ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسَمَلَ أَعْيُنَهُمْ ثُمَّ لَمْ يَحْسِمْهُمْ حَتَّى مَاتُوا

Dari Anas radhiallahu’anhu mengatakan, beberapa orang dari kabilah ‘Ukli menemui Nabi ﷺ menyatakan keIslamannya, tetapi mereka tidak cocok dengan iklim Madinah sehingga Nabi memerintahkan mereka untuk mendatangi unta-unta sedekah untuk meminum air kencingnya dan susunya. Mereka melakukan perintah tersebut dan mereka pun sembuh. Namun mereka murtad dan membunuh penggembalanya, merampok unta-untanya. Maka Nabi mengutus (pasukan) untuk meyusuri jejak mereka sehingga mereka bisa ditangkap. Kemudian Nabi memotong tangan dan kaki mereka serta mencongkel mata mereka, dan Nabi tidak menghentikan penghukuman terhadap mereka hingga mereka tewas.

(HR. Bukhari no. 6802)

Untuk Shahih Muslim:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ نَاسًا مِنْ عُرَيْنَةَ قَدِمُوا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَاجْتَوَوْهَا فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ شِئْتُمْ أَنْ تَخْرُجُوا إِلَى إِبِلِ الصَّدَقَةِ فَتَشْرَبُوا مِنْ أَلْبَانِهَا وَأَبْوَالِهَا فَفَعَلُوا فَصَحُّوا ثُمَّ مَالُوا عَلَى الرُّعَاةِ فَقَتَلُوهُمْ وَارْتَدُّوا عَنْ الْإِسْلَامِ وَسَاقُوا ذَوْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَ فِي أَثَرِهِمْ فَأُتِيَ بِهِمْ فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ وَسَمَلَ أَعْيُنَهُمْ وَتَرَكَهُمْ فِي الْحَرَّةِ حَتَّى مَاتُوا

Dari Anas bin Malik, bahwa beberapa orang dari kabilah ‘Urainah pergi ke Madinah untuk menemui Rasulullah ﷺ. Setibanya di Madinah, mereka sakit karena udara Madinah tidak sesuai dengan kesehatan mereka. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka:

“Jika kalian mau, pergilah kepada unta-unta sedekah (unta zakat), lalu minum air susu dan kencingnya.” Lalu mereka melakukan apa yang dianjurkan oleh Nabi ﷺ, sehingga mereka sehat kembali. Tetapi selang beberapa saat, mereka menyerang para penggembala unta dan mereka membunuhnya. Sesudah itu mereka murtad dari agama Islam, mereka juga rampas unta-unta Rasulullah ﷺ. Peristiwa tersebut dilaporkan kepada Rasulullah ﷺ, kemudian beliau memerintahkan supaya mengejar mereka sampai dapat. Setelah mereka di hadapan beliau, beliau memerintahkan supaya tangan dan kaki mereka dipotong, lalu mata mereka dicukil, sesudah itu mereka dibiarkan diterik matahari yang panas sampai mati.”

(HR. Muslim no. 1671)

Sikap keras ini sama sekali tidak mengurangi kenabiannya, kemuliaannya, keadilan, dan keluhuran akhlaknya. Sebab, semua sikap ada latar belakang masing-masing. Baik keras, tegas, atau lemah lembut.

Keras tidak pada tempatnya adalah kejahatan .. Lembut tidak pada tempatnya adalah kehinaan .. Sikap apa pun jika tidak pada tempatnya adalah kezaliman. Rasulullah ﷺ mampu menempatkan KERAS dan LEMBUT sesuai tempat dan situasinya. Itulah Insan Kamil (manusia sempurna), mampu memerankan dua instrumen (keras dan lembut) dalam jiwa manusia secara proporsional.

Untuk di zaman salaf, yaitu ketika seorang wanita diperkosa tentara Romawi, wanita itu melaporkan peristiwa itu ke Istana Al Mu’tashim dan menceritakan apa yang dialaminya.

Maka Al Mu’tashim mendatangi Romawi dan mengirim ribuan pasukan yang sangat panjang, yang mana kepala pasukan sudah sampai di Romawi sementara buntutnya masih di istananya. Romawi melindungi pelaku pemerkosaan itu dan memilih untuk perang. Maka terjadilah peperangan dan pasukan Romawi kalah.

Ini dikisahkan oleh Imam adz Dzahabi dalam kitab Siyar A’lam An Nubala , peristiwa ini terjadi di masa Imam Ahmad bin Hambal.

Wallahu A’lam

🌿🍃🌹☘🌸🌷🌺🌻🌴

✍ Farid Nu’man Hasan

Dalam Hal Seperti Apa Boleh Menceritakan Aib Pasangan?

 PERTANYAAN:

: Assalammu’alaikum ust, Afwan minkum ganggu waktunya 🙏🏻

Dalam dalil Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 187 dikatakan bahwa suami istri itu adalah :

Pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka…

Yg tafsiran nya :
Suami istri itu untk menjaga aib nya masing2 atau yg menjadi kekurangan pasangannya…

Pertanyaan nya ust pada hal2 seperti apa menurut ulama seorang istri atau suami dikatakan boleh menceritakan aib pasangannya ?? Batasannya apa ust ??

Mohon pencerahannya ust 🙏🏻(+62 812-9252-xxxx)


 JAWABAN

▪▫▪

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Secara umum, membuka aib sesama muslim adalah terlarang, termasuk aib suami/istri. Dianjurkan untuk menutup aib, sebagaimana hadits:

ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة

Siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan tutup aib dia pada hari kiamat. (HR. Muslim)

Namun, ada kondisi diperkenankan membuka aib jika memang mengharuskan seperti itu atau adanya maslahat. Misalnya:

– Dalam rangka konsultasi. Seorang istri menceritakan penyakit suaminya, atau kebalikannya, ke dokter untuk dicari penyembuhannya. Penyakit tersebut adalah aib, misal HIV, atau penyakit kulit dibagian tubuh tertentu, yang biasanya manusia malu jika diketahui org banyak.

– Dalam rangka mengadukan kezaliman. Misal, istri yang mengadukan kezaliman suami, atau kebalikannya, ke ortuanya atau ke hakim untuk dicarikan solusi dan keputusanya.

Jadi, bukan penceritaan yang didasari oleh hawa nafsu atau emosi semata.

Demikian. Wallahu A’lam

✍️ Farid Nu’man Hasan

Kalimat doa qunut “Allahummah Dini Fiman Hadait .. dst”, tidak ada dalam kitab hadits Kutubus Sittah?

Kutubus Sittah adalah enam kitab-kitab hadits primer:

1. Shahih Al Bukhari
2. Shahih Muslim
3. Sunan At Tirmidzi
4. Sunan Abu Daud
5. Sunan An Nasa’i
6. Sunan Ibnu Majah

Ada pun pertanyaan apakah benar doa qunut dengan lafaz “Allahummah dini fiman hadait … Dst” tidak ada dalam Kutubus Sittah .. maka itu tidak benar.

Kalimat “Allahummah dini fiman hadait”.. Dst, ada di dalam kitab-kitab Kutubus Sittah, sebagai berikut:

1. Sunan Abi Daud, Kitab Tafri’ ‘Alal Witri, Bab Al Qunut Fil Witri, no. hadits. 1425. Penerbit: Dar Ibnul Jauzi, Kairo.

Rasulullah ﷺ mengajarkan Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhuma agar membaca saat qunut witir.

Dengan teks sbb:

١٤٢٥ – حدَّثنا قُتيبة بن سعيدِ وأحمدُ بنُ جواس الحنفي، قالا: حدَّثنا أبو الأحوص، عن أبي إسحاق، عن بُريد بن أبي مريم، عن أبي الحَوْراء قال: قال الحسنُ بنُ عليّ: عَلَّمني رسولُ الله – صلَّى الله عليه وسلم – كلماتٍ أقولُهُنَّ في الوِتر – قال ابن جوَّاس في قنوتِ الوتر -: “اللهُم اهْدِني فيمَنْ هَدَيتَ، وعافِني فيمَنْ عافَيْتَ، وتَوَلني فيمَنْ تَوَلَيتَ، وبارِكْ لي فيما أعطيتَ، وقني شَرَّ ما قَضَيْتَ، إئك تقضي ولا يُقضَى عَليك، وإنه لا يَذلُ مَنْ وَالَيتَ، تبارَكْت رَبَّنا وتَعَالَيتَ”

2. Sunan An Nasa’i, Kitab Qiyamul Lail wa Tathawwu’ fi Nahar, Bab Ad Du’a fil Witri, no hadits. 1745. Penerbit: Dar Ibnul Jauzi.

Dengan teks sbb:

١٧٤٥ – أَخْبَرَنَا ‌قُتَيْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا ‌أَبُو الْأَحْوَصِ ، عَنْ ‌أَبِي إِسْحَاقَ ، عَنْ ‌بُرَيْدٍ ، عَنْ ‌أَبِي الْجَوْزَاءِ قَالَ: قَالَ ‌الْحَسَنُ : «عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي الْوِتْرِ فِي الْقُنُوتِ: اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ»

3. Sunan At Tirmidzi, Kitab Abwabul Witri, Bab Maa Jaa’a fil Qunut fil Witri, no hadits. 464. Penerbit: Dar Ibnul Jauzi, Kairo.

Dengan teks hadits sbb:

٤٦٤- حدثنا قتيبة حدثنا أبو الأحوص عن أبي إسحق عن بريد بن أبي مريم عن أبي الحوراء السعدي قال: قال الحسن بن علي رضي الله عنهما: علمني رسول الله صلى الله عليه وسلم كلمات أقولهن في الوتر: اللهم اهدني فمين هديت وعافني في من عافيتن وتولني فيمن توليت وبارك لي فيما أعطيت وقني ما قضيت فإنك تقضي ولا يقضى عليك وإنه لا يذل من واليت تباركت ربنا وتعاليت

4. Sunan Ibnu Majah, Kitab Iqamatush Shalah was Sunah fiiha, Bab Maa Jaa’a fil Qunut fil Witri, no hadits. 1178. Penerbit: Dar Ibnul Jauzi, Kairo.

Dengan teks hadits sbb:

١١٧٨- حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا شَرِيكٌ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، قَالَ: عَلَّمَنِي جَدِّي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ: «اللَّهُمَّ عَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَاهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، إِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، إِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، سُبْحَانَكَ رَبَّنَا تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ»

Selain itu, juga ada di Musnad Ahmad bin Hambal, dalam Musnad Ahlil Bait, Hadits Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib, no hadits. 1718. Penerbit: Darul Hadits, Kairo.

Dengan teks sbb:

١٧١٨ – حدثنا وكيع حدثنا يونس بن أبي إسحق عن بُرَيْد بن أبي مريم السَّلُولي عن أبي الحَوْراء عن الحسن بن علي: قال: علَّمني رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كلماتٍ أقولهن في قنوت الوتر: “اللهم اهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولني فيمن تولَّيت، وبارك لى فيما أَعطيت، وقني شرَّ ما قضيتَ، فإنك تَقْضي ولا يُقْضى عليك، إنه لا يَذلُّ من واليت، تباركتَ ربَّنا وتعاليت”.

Dan beberapa kitab lainnya selain Kutubus Sittah.

Maka, tidak benar bacaan dengan lafaz tersebut tidak ada dalam kitab Kutubus Sittah.

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Farid Nu’man Hasan

scroll to top