Hukum Memajang Foto

 PERTANYAAN:

Assalamu’alaikum..mhn diberikan dalil sbg pencerahan ustdz, terhadap adanya masjid yg memasang foto tokoh/tuan guru di dalam masjid..syukron🙏🏼 (+62 895-3371-xxxx)


 JAWABAN

▪▫▪▫

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh

Memajang foto manusia di dinding rumah, gedung, masjid, hal ini diperselisihkan para ulama.

1. Haram

Ini pendapat sebagian ulama Arab Saudi seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Shalih al Fauzan, juga ulama Yaman Syaikh Muqbil bin Hadi al Wadi’i, serta yang mengikuti mereka.

Bagi mereka fotografi termasuk keumuman larangan dan ancaman thdp pembuat lukisan, sama-sama upaya menyerupai makhluk ciptaan Allah Ta’ala. Baik untuk dipajang atau sekedar kenangan. Bahkan bagi mereka foto lebih haram dibanding lukisan karena kemiripan dgn makhkuk hidup lebih kuat dibanding lukisan dan bisa diproduksi begitu banyak dalam waktu singkat, berbeda dgn lukisan yang satu buah membutuhkan waktu lama.

Ada pun Syaikh Utsaimin, Beliau membolehkan fotografi makhluk hidup namun tidak boleh dipajang.

2. Boleh

Ini pendapat para ulama Al Azhar seperti Syaikh Bakhit Al Muthi’i, Syaikh Mushthafa az Zarqa, Syaikh Mahmud Syaltut, Syaikh Yusuf al Qaradhawi, Syaikh Wahbah az Zuhaili, Syaikh Jad al Haq, Syaikh Ali Jum’ah, dll.

Alasan mereka, fotografi bukanlah lukisan, itu hal yg tidak sama. Tidak ada upaya menyamai makhluk hidup ciptaan Allah Ta’ala. Fotografi adalah bayangan kita sendiri yg terekam kamera sebagaimana bayangan pada cermin, bukan lukisan. Dahulu mereka menyebut tustel dengan ‘akkaas bukan shurah (lukisan) atau timtsal (patung).

Namun mereka tetap melarang jika foto tersebut mengandung unsur yg diharamkan seperti pornografi atau foto untuk dikultuskan.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili mengatakan:

أما التصوير الشمسي أو الخيالي فهذا جائز، ولا مانع من تعليق الصور الخيالية في المنازل وغيرها، إذا لم تكن داعية للفتنة كصور النساء التي يظهر فيها شيء من جسدها غير الوجه والكفين، كالسواعد والسيقان والشعور، وهذا ينطبق أيضاً على صور التلفاز وما يعرض فيه من رقص وتمثيل وغناء مغنيات، كل ذلك حرام في رأيي

“Ada pun fotografi maka itu boleh, dan tidak terlarang menggantungnya di rumah dan selainnya jika tidak mengundang fitnah, seperti foto wanita yang menampakkan bagian tubuhnya selain wajah dan telapak tangan, seperti bagian dada, betis, rambut, dan ini juga berlaku pada gambar televisi. Apa-apa yang terjadi di dalamnya seperti tarian, panggung, dan penyanyi wanita, semua ini adalah haram menurutku.”(Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, Juz. 4, Hal. 224)

Syaikh Jaad Al Haq Ali Jaad Al Haq Rahimahullah –mufti Mesir-  berkata:

  اختلف الفقهاء فى حكم الرسم الضوئى بين التحريم والكراهة، والذى تدل عليه الأحاديث النبوية الشريفة التى رواها البخارى وغيره من أصحاب السنن وترددت فى كتب الفقه، أن التصوير الضوئى للإنسان والحيوان المعروف الآن والرسم كذلك لا بأس به، إذا خلت الصور والرسوم من مظاهر التعظيم ومظنة التكريم والعبادة وخلت كلذلك عن دوافع تحريك غريزة الجنس وإشاعة الفحشاء والتحريض على ارتكاب المحرمات
ومن هذا يعلم أن تعليق الصور فى المنازل لا بأس به متى خلت عن مظنة التعظيم والعبادة، ولم تكن من الصور أو الرسوم التى تحرض على الفسق والفجور وارتكاب المحرمات

“Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang hukum foto,  antara yang mengharamkan dan memakruhkan, yang ditunjukkan oleh hadits-hadits nabi yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dan lainnya dari pengarang kitab As Sunan, dan dituangkan dalam kitab-kitab fiqih.  Sesungguhnya foto manusia dan hewan yang sekarang kita kenal adalah tidak  mengapa, jika tidak dicampur dengan sikap  pemandangan untuk diagungkan, dimuliakan, dan diibadahi, dan juga tidak dicampuri dengan hal-hal yang menggerakan syahwat, menyiarkan kekejian, dan segala hal yang diharamkan.

Dari sini, bisa diketahui bahwa menggantungkan foto tidaklah mengapa selama bersih dari pengagungan, peribadatan, dan bukan termasuk gambar yang mengundang kefasikan, dosa, dan hal-hal yang diharamkan lainnya.” (Fatawa Al Azhar, Juz. 7, Hal. 220)

Sehingga bagi mereka foto para ulama, habaib, tokoh pahlawan, di dinding masjid selama tidak dikultuskan dan ditambah lagi jika tidak full body, maka tidak apa-apa.

Sikap yg paling aman adalah tidak melakukannya, dalam rangka khurujan minal khilaf (keluar dari perbedaan pendapat), ini sikap yg lebih utama.

Demikian. Wallahu A’lam

Baca juga:

Masalah Gambar, Lukisan, Patung, Boneka, Foto, dan TV

☘🌷🌺🌴🌻🍃🌾🌸

✏ Farid Nu’man Hasan

Kapan Waktu Utama Berdoa di Hari Jumat

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ فِي الْجُمُعَةِ سَاعَةً لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فِيهَا خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ، وَهِيَ بَعْدَ الْعَصْرِ

Sesungguhnya di hari Jumat ada waktu yang tidaklah seorang hamba Muslim bertepatan dengannya untuk berdoa kepada Allah di waktu itu, melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya. Itu adalah setelah Ashar.

(HR. Ahmad No. 7688. Imam Al ‘Iraqi mengatakan: shahih. (Fiqhus Sunnah, 1/296). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 7688)

Dari Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu, dari Nabi ﷺ , Beliau bersabda:

يَوْمُ الْجُمُعَةِ اثْنَتَا عَشْرَةَ سَاعَةً لَا يُوجَدُ فِيهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا آتَاهُ إِيَّاهُ فَالْتَمِسُوهَا آخِرَ سَاعَةٍ بَعْدَ الْعَصْرِ

Hari Jumat itu ada 12 waktu, tidaklah ditemukan padanya oleh seorang hamba Muslim yang meminta sesuatu kepada Allah melainkan Allah akan mengabulkannya. Carilah waktu itu pada akhir waktu setelah Ashar.

(HR. An Nasa’i No. 1389, Abu Daud No. 1048, Al Hakim No. 1032, katanya: Shahih, sesuai standar Imam Muslim. Dihasankan Al Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari)

Dua riwayat ini menunjukkan salah satu waktu mustajab tersebut adalah ba’da Ashar. Imam Muhammad bin Sirin mengatakan: “Dari shalat Ashar sampai terbenam matahari.” (‘Umdatul Qari, 10/189)

Sementara Imam An Nawawi menyebutkan sejak khathib duduk dari mimbar sampai usai shalat Jumat.

Al Qadhi ‘Iyadh menyebutkan beragam pendapat, di antaranya saat shalat, yang lain mengatakan setelah shalat Ashar sampai terbenam matahari, ada yang mengatakan ketika imam keluar untuk khutbah sampai selesai shalat Jumat, yg lain mengatakan sejak khathib duduk dari mimbar sampai usai shalat Jumat, ada yang mengatakan akhir waktu di hari Jumat, dll. (‘Aunul Ma’bud, 3/262)

Perbedaan ini sudah ada sejak masa sahabat nabi dan tabi’in. Saking banyaknya, Imam Az Zarqani merinci sampai ada 42 pendapat tentang kapan waktu mustajab tsb. (Syarh Az Zarqani, 1/323-327)

Hal ini mirip seperti Lailatul Qadar, yang oleh Al Hafizh Ibnu Hajar disebutkan lebih dari 40 pendapat ulama kapan waktunya.

Tugas kita adalah senantiasa sigap dan berdoa, kapan pun itu, tidak menyia-nyiakan hari Jumat lewat begitu saja.

✍ Farid Nu’man Hasan

Saat Sujud Dahi Terhalang Oleh Mukena

Tentang mukena yang terhampar sehingga menghalangi wajah saat sujud, ini diperselisihkan para Fuqaha.

Makruh menurut mayoritas ulama karena menghalangi hidung dan keningnya. Tapi shalatnya tetap sah.

Sedangkan mazhab Syafi’i mengatakan tidak sah.

Imam An Nawawi menjelaskan:

فرع في مذاهب العلماء في السجود على كمه وذيله ويده وكور عمامته وغير ذلك مما هو متصل به، قد ذكرنا أن مذهبنا: أنه لا يصح سجوده على شيء من ذلك، وبه قال داود وأحمد في رواية، وقال مالك وأبو حنيفة والأوزاعي وإسحاق وأحمد، في الرواية الأخرى: يصح، قال صاحب التهذيب: وبه قال أكثر العلماء. انتهى

Rincian penjelasan berbagai mazhab ulama tentang sujud di lengan baju, ujungnya, tangan, dan lingkaran surbannya dan hal-hal lain yang bersambung dengan dirinya. Kami telah menyebutkan bahwa mazhab kami (Syafi’i) mengatakan: TIDAK SAH baginya untuk sujud di atas salah satu itu, dan ini dikatakan pula oleh Dawud dan Ahmad dalam satu riwayat.

Sedangkan Malik, Abu Hanifah, Al-Auza’i, Ishaq dan Ahmad dalam riwayat lain mengatakan: SAH. Penulis Al-Tahdzib mengatakan: Ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Selesai.

(Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, jilid. 3, hal. 428)

Maka, usahakan ketika sujud dahi dan hidung langsung kena tempat sujud, jangan sampai terhalang oleh mukena, peci, rambut, atau pakaian yang kita pakai.

✍️ Farid Nu’man Hasan

Shahihkah tambahan kalimat “Kullu Dhalatin fin Naar (Setiap yang Sesat Itu di Neraka)?

Hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak imam mukharrijul hadits, dari jalur Jabir bin Abdillah Radhiallahu ‘Anhu. Sebagian ada juga sebagai ucapan para sahabat saja, di antaranya:

– An Nasa’i, dalam Sunan-nya no. 1578, dari Jabir. Juga dalam As Sunan Al Kubra no. 1799, dan 5861, dari Jabir juga

– Ibnu Khuzaimah, dalam Shahihnya, no. 1785, dari jalur Jabir bin Abdillah

– Al Baihaqi, dalam Al Asma’ wash Shifat, no. 137, dari Jabir. Sdgkan no. 413, ucapan Ibnu Mas’ud

– Ibnu Baththah, dalam Ibanah Al Kubra no. 198, perkataan Ibnu Mas’ud. Juga no. 1491, dari Jabir

– Ibnu Wadhah, dalam Al Bida’, no. 56, perkataan dari Umar

– Al Maruzi, dalam As Sunnah, no. 79, perkataan Ibnu Mas’ud

– Al Firyabi, dalam Al Qadr no. 448, dari jalur Jabir

– Al Ajurri, dalam Asy Syari’ah, no. 84 dan 408, dari Jabir

– Ath Thabarani, dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8521, ucapan Ibnu Mas’ud

Status tambahan kalimat tersebut diperdebatkan keshahihannya.

Dinyatakan shahih oleh:

– Imam Ibnu Khuzaimah, Beliau memasukkan dalam kitab Shahih-nya
– Imam Ash Shan’ani dalam At Tanwir
– dan Syaikh Al Albani dalam beberapa kitabnya.

Sebagian lain mendhaifkannya. Imam Ibnu Taimiyah ada dua pendapat darinya. Beliau mengatakan bahwa kalimat tsb tidak ada:

لم يقل وكل ضلالة في النار

“Rasulullah ﷺ tidak pernah mengatakan setiap kesesatan itu neraka” (Majmu’ Al Fatawa, 19/191)

Tapi di Al Fatawa Al Kubra Beliau mengatakan:

رَوَاهُ النَّسَائِيّ بِإِسْنَادٍ صَحِيحٍ وَزَادَ: «فَكُلُّ بِدْعَةٍ فِي النَّارِ»

Diriwayatkan oleh An Nasa’i dengan sanad SHAHIH, dan tambahan “setiap bid’ah di neraka.” (Al Fatawa Al Kubra, 6/78)

Syaikh Ahmad Khalifah Shadiq mengatakan:

هذه الزيادة شاذة، والشاذ في عداد الواهي كما قال الذهبي في الموقظة، والشاذ لا تنفعه المتابعات والشواهد كما هو معروف؛ لأنه خطأ من أساسه. الشيخ محمد عمرو عبد اللطيف رحمه الله تعالى: “وشَرُّ الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة”، هذا هو الثابت المحفوظ ..

Tambahan (lafaz) ini adalah syadz (ganjil/menyelisihi riwayat yang kuat), dan hadis syadz termasuk dalam kategori hadits lemah sebagaimana dikatakan oleh adz-Dzahabi dalam al-Mauqiẓah. Riwayat syadz tidak dapat dikuatkan dengan mutaba‘at dan syawahid sebagaimana telah dikenal, karena pada asalnya ia memang merupakan sebuah kesalahan.

Syaikh Muhammad ‘Amr ‘Abdul Lathif رحمه الله تعالى berkata: ‘Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid‘ah adalah sesat.’ Inilah lafaz yang shahih dan terjaga.. (Dha’fu Ziyadah “Wa Kullu Dhalalatin Fin Naar” Riwayah wa Dirayah)

✍️ Farid Nu’man Hasan

scroll to top