Jumlah Rakaat Shalat Dhuha

💥💦💥💦💥💦

Imam Ibnu Jarir Ath Thabari –sebagaimana dikutip Imam Ibnul Qayyim- mengatakan – ketika menjelaskan beragamnya jumlah Rakaat shalat Dhuha – sebagai berikut :

وليس في هذه الأحاديث حديثّ يدفع صاحبه، وذلك أن من حكى أنه صلى الضحى أربعاً جائز أن يكون رآه في حال فعلِه ذلك، ورآه غيرُه في حالٍ أخرى صلى ركعتين، ورآه آخرُ في حال أخرى صلاها ثمانياً، وسمعه آخر يحثّ على أن يُصلي ستاً، وآخر يحثُّ على أن يُصلي ركعتين، وآخر على عشر، وآخر على ثنتي عشرة، فأخبر كلُّ واحد منهم عما رأى وسمع. قال: والدليل على صحة قولنا، ما روِيَ عن زيد بن أسلم قال. سمعتُ عبد اللّه بن عمر يقول لأبي ذر: أوصني يا عم، قال: سألتُ رسول اللّه صلى الله عليه وسلم كما سألتني، فقال؟ “مَنْ صَلَّى الضّحَى رَكْعَتَيْنِ، لَمْ يكْتَبْ مِن الغَافِلِينَ، وَمَنْ صَلًى أربَعاً، كتِبَ مِنَ العَابِدين، ومَن صَلَّى سِتّاً، لَمْ يَلْحَقْةُ ذَلِكَ اليَوْمَ ذَنْبٌ، وَمَنْ صَلَّى ثَمانِياَ، كُتِبَ مِنَ القَانِتِينَ، ومَنْ صَلَّى عَشْراً بَنى اللَّه لَهُ بَيْتا في الجَنَّة”.
وقال مجاهد: صلَّى رسولُ اللّه صلى الله عليه وسلم يوماً الضحى ركعتين، ثم يوماً أربعاً، ثم يوماً سِتّاً، ثم يوماً ثمانياً ثم تركَ. فأبان هذا الخبر عن صحة
ما قلنا من احتمال خبر كل مُخْبِرٍ ممن تقدم أن يكون إخبارُه لِما أخبر عنه في صلاة الضُّحى على قدر ما شاهده وعاينه.
والصواب: إذا كان الأمر كذلك: أن يُصلّيها من أراد على ما شاء من العدد. وقد روِيَ هذا عن قوم من السلف حدثنا ابنُ حميد، حدثنا جرير، عن إبراهيم، سأل رجل الأسود، كم أصلي الضحى؟ قال: كم شئت

“Tentang hadits-hadits ini tidak ada yang mesti ditolak riwayatnya, begitu pula orang yang meriwayatkan bahwa  Rasulullah melaksanakan shalat dhuha sebanyak empat rakaat yang memang bisa jadi dia melihatnya seperti itu. Orang lain melihatnya pada kesempatan yang lain bahwa Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakannya dua rakaat. Orang lain lagi juga melihat pada kesempaan yang lain pula bahwa Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Salam melakukannya dengan delapan rakaat. Sebagian pihak mendengar Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan dengan enam rakaat, pihak lain menganjurkan dua rakaat, yang lain sepuluh rakaat, dan yang lainnya menganjurkan dua belas rakaat. Semua itu berasal dari apa yang mereka lihat dan dengar.” Dia (Ibnu Jarir) melanjutkan: “Dalil dari kebenaran pendapat kami ini adalah sebuah hadits yang menyebutkan:

Dari Zaid bin Aslam, dia berkata, “Aku melihat Abdullah bin Umar berkata kepada Abu Dzar: “Berwasiatlah kepadaku wahai pamanku!” Abu Dzar menjawab, “Aku pernah meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti apa yang kamu minta kepadaku.” Lalu dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

Barangsiapa yang menunaikan shalat dhuha sebanyak dua rakaat, dia tidak ditulis termasuk golongan orang-orang yang lalai. Barangsiapa yang menunaikan empat rakaat dia dicatat termasuk golongan ahli ibadah. Barangsiapa menunaikan enam rakaat, maka dia tidak menemukan dosa pada hari itu. Barangsiapa yang menunaikan delapan rakaat, dia ditulis sebagai orang-orang yang tunduk kepada Allah. Dan, barangsiapa yang menunaikannya sepuluh rakaat, maka Allah akan membangunkan sebuah rumah baginya di surga.

Mujahid berkata: “Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakan shalat dhuha dua rakaat, di hari lain empat rakaat, hari berikutnya enam rakaat. Hari berikutnya lagi delapan rakaat, kemudian tidak melakukannya.” Riwayat ini menjadi bukti kebenaran pendapat kami, bahwa setiap perawi menceritakan sesuai apa yang dilihatnya.

Yang benar, jika persoalannya seperti itu, maka setiap orang boleh melaksanakan shalat dhuha dengan jumlah rakaat yang dikehendakinya. Hal ini  pernah diriwayatkan  dari suatu kelompok ulama salaf. Diceritakan kepada kami dari Ibnu Humaid, diceritakan oleh kami dari Jarir, dari Ibrahim, bahwa Al Aswad bertanya kepadanya: “Berapa rakaat yang aku lakukan dalam shalat dhuha?” Dia menjawab: “Terserah kamu.” (Imam Ibnul Qayyim, Zaadul Ma’ad, 1/352. Muasasah Ar Risalah)

Jadi, paling sedikit jumlah rakaat shalat dhuha adalah dua rakaat, dan paling banyak dua belas rakaat sesuai dengan yang disabdakannya. Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri paling banyak melakukan delapan rakaat. Sememtara, sebagian ulama lain mengatakan tidak ada batasannya.

Berikut  ini kami sampaikan keterangan tambahan  dari Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah dalam Fiqhus Sunnahnya:

عدد ركعاتها: أقل ركعاتها اثنتان كما تقدم في حديث أبي ذر وأكثر ما ثبت من فعل رسول الله صلى الله عليه وسلم ثماني ركعات، وأكثر ما ثبت من قوله اثنتا عشرة ركعة.
وقد ذهب قوم – منهم أبو جعفر الطبري وبه جزم المليمي والروياني من الشافعية – إلى أنه لاحد لاكثرها.
قال العراقي في شرح الترمذي: لم أر عن أحد من الصحابة والتابعين أنه حصرها في اثنتي عشرة ركعة. وكذا قال السيوطي.
وأخرج سعيد بن منصور عن الحسن أنه سئل: هل كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم يصلونها؟ فقال: نعم..كان منهم من يصلي ركعتين، ومنهم من يصلي أربعا، ومنهم من يمد إلى نصف النهار.
وعن إبراهيم النخعي أن رجلا سأل الاسود بن يزيد: كم أصلي الضحى؟ قال: كما شئت.
وعن أم هانئ أن النبي صلى الله عليه وسلم صلى سبحة الضحى ثماني ركعات يسلم من كل ركعتين. رواه أبو داود بإسناد صحيح.
وعن عائشة رضي الله عنها قالت: (كان النبي صلى الله عليه وسلم يصلي الضحى أربع ركعات ويزيد ما شاء الله) رواه أحمد ومسلم وابن ماجه

“Jumlah rakaa shalat dhuha paling sedikit adalah dua rakaat, sebagaimana keterang hadits Abu Dzar  sebelumnya, dan paling banyakyang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah delapan rakaat, dan paling banyak menurut apa yang dikatakannya adalah dua belas rakaat.

Sekelompok orang berpendapat –diantaranya Abu Ja’far Ath Thabari, juga Al Halimi dan Ar Ruyani dari kalangan Syafi’iyah- bahwa banyaknya jumlah rakaat tidak ada batasannya. Al ‘Iraqi berkata dalam Syarh At Tirmidzi: “Saya belum melihat adanya pembatasan jumlah rakaat dari kalangan shahabat dan tabi’in yang hanya sampai dua belas rakaat saja.” Ini juga pendapat As Suyuthi.

Said bin Manshur meriwayatkan dari Al Hasan, bahwa beliau ditanya: Apakah sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan shalat dhuha? Dia menjawab: “Ya, diantara mereka ada yang shalat dua belas rakaat, ada yang empat, dan ada pula yang mengerjakannya sampai tengah hari.”

Dari Ibrahim An Nakha’i, bahwa ada seorang yang bertanya kepada Al Aswad bin Yazid: “Berapa rakaatkah saya mesti shalat dhuha? Dia menjawab: “Sesuka hatimu.”

Dari Ummu Hani’,  Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan shalat dhuha sebanyak delapan rakaat, dan dia salam setiap dua rakaat. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan isnadnya shahih.

Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, dia berkata: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan shalat dhuha empat rakaat dan dia menambahkannya sesuai yang Allah kehendaki.” Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, dan Ibnu Majah. (Syaikh Sayyid Sabiq, Fiqhus Sunnah, 1/210-211. Darul Kitab Al ‘Arabi)

Wallahu A’lam

🌿🍃🌿🍃🌿🍃

✏ Farid Nu’man Hasan

Qurban dan Pembahasannya (Bag. 3)

🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾

📌 Niat Untuk Berqurban

Berqurban adalah termasuk amal ibadah, dan amal ibadah mestilah didahulukan dengan niat untuk membedakannya dengan adat (kebiasaan). Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah menerangkan:

لا تجزئ الأضحية بدون النية؛ لأن الذبح قد يكون للحم، وقد يكون للقربة، والفعل لا يكون قربة بدون النية، لقوله عليه الصلاة والسلام: «إنما الأعمال بالنيات، وإنما لكل امرئ ما نوى» قال الكاساني: والمراد منه عمل هو قربة، فلا تتعين الأضحية إلا بالنية.

Qurban tidaklah sah tanpa niat, karena sembelihan yang akan menjadi daging akan menjadi qurbah (sarana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala), dan perbuatan tidaklah dinilai sebagai qurbah tanpa dengan niat, sesuai sabdanya: (sesungguhnya amal perbuatan hanyalah dengan niat dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa-apa yang sesuai yang diniatkannya). Al Kisani mengatakan: “maksudnya adalah amal perbuatan untuk qurbah, maka berqurban tidaklah memiliki nilai kecuali dengan niat.” [1]

Beliau meneruskan:

واشترط الشافعية والحنابلة: أن تكون النية عند ذبح الأضحية؛ لأن الذبح قربة في نفسه. ويكفيه أن ينوي بقلبه، ولا يشترط أن يتلفظ بالنية بلسانه؛ لأن النية عمل القلب، والذكر باللسان دليل عليها

Kalangan Syafi’iyah dan Hanabilah mengsyaratkan: hendaknya berniat sebelum menyembelih, karena menyembelih (hewan qurban) merupakan qurbah. Telah mencukupi bahwa niat adalah di hati. Tidak disyaratkan melafazkan niat dengan lisan, karena niat adalah amalan hati, dan pengucapan di lisan merupakan petunjuk bagi amalan di hati.  [2]

📌 Waktu Penyembelihan

Waktu penyembelihan Qurban hanyalah tertentu saja, yakni  setelah Shalat ‘Ied (10 Zulhijjah) hingga selesai ayyamut tasyriq (hari-hari tasyrik), yakni 11,12,13 Zulhijjah. Lewat itu maka bukan lagi disebut Hewan Qurban (Al Udh-hiyah) tetapi sedekah biasa, namun tetap akan mendapat ganjaran dari Allah Ta’ala. Insya Allah.

Hal ini berdasarkan hadits dari Jubeir bin Muth’im Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَكُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“Setiap hari-hari tasyriq merupakan waktu penyembelihan.”[3]

Penyembelihan dilakukan setelah shalat Ied, sesuai ayat berikut:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2)

Ayat ini menunjukkan bahwa an nahr (penyembelihan) dilakukan setelah shalat ‘Ied sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Ash Shan’ani di atas.

Juga diterangkan dalam riwayat Jundab Al Bajali Radhiallahu ‘Anhu:

شَهِدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ أَضْحًى ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ مَنْ كَانَ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُعِدْ مَكَانَهَا وَمَنْ لَمْ يَكُنْ ذَبَحَ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat pada Idul Adha, kemudian berkhutbah dan berkata: barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat maka dikembalikan tempatnya, dan barangsiapa yang belum menyembelih maka sembelihlah dengan menyebut nama Allah.”[4]

Bersambung …
🍃🌴🌻🌾🌸🌷☘🌺

✏ Farid Nu’man Hasan


🌴🌴🌴🌴🌴🌴

[1]  Syaikh Wahbah Az Zuhaili, Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 1/187

[2]  Ibid

[3] HR. Ahmad No. 16751. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 1583, Al Baihaqi dalam As sunan Al Kubra No. 10006, 19021. Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal No. 12052. Berkata Imam Al Haitsami: rijaluhu mautsuqun (semua) pirawayat haditsnya tsiqat (kredibel/terpercaya).(Majma’ az Zawaid, 3/251). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: “shahih lighairih.” (Ta’liq Musnad Ahmad No. 16751)
 
[4] HR. Bukhari No. 6674, Muslim No. 1960. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 1713, Al baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 6058, Abu ‘Uwanah dalam Musnadnya No. 7834

Serial Qurban dan Pembahasannya
Qurban dan Pembahasannya (Bag. 1)

Qurban dan Pembahasannya (Bag. 2)

Qurban dan Pembahasannya (Bag. 3)

Qurban dan Pembahasannya (Bag. 4)

Qurban dan Pembahasannya (Bag. 5)

Qurban dan Pembahasannya (Bag. 6)

Qurban dan Pembahasannya (Bag. 7)

Qurban dan Pembahasannya (Bag. 8)

Anak-Anak Lalu Lalang Di Depan Orang Shalat Membatalkan Shalat?

💢💢💢💢💢💢💢

📨 PERTANYAAN:

Assalamu’alaykum ustadz… ana mau bertanya, apakah makruh atau batal sholat kita ketika saat sholat ada yg melintas didpn kita. Bagaimana dengan ibu2 seperti ana mempunyai anak yg senang mondar mandir didpn ana ketika sholat. Jazakumullah khair ustadz. (08529917xxxx)

📬 JAWABAN

🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh .. Bismillah wal Hamdulillah ..

Dalam hadits disebutkan:

يقطع الصلاة المرأة والحمار والكلب

Terputusnya shalat karena (lewatnya) wanita, keledai, dan anjing. (HR. Muslim No. 511)

Dalam hadits lain:

يقطع الصلاة المرأة الحائض والكلب الأسود

Terputusnya shalat karena wanita haid dan anjing hitam. (HR. Abu Daud No. 703, Ibnu Majah No. 949, Ibnu Hibban No. 2387)

Nah .., keterangan ini dijadikan dalil oleh sebagian ulama  batalnya shalat jika dilewati oleh hal-hal di atas, yaitu jika lewatnya di antara orang shalat dan sutrahnya. Hal ini ditegaskan oleh  hadits Nabi ﷺ dari Abdullah bin Ash Shamit, dari Abu Dzar berikut:

فإذا لم يكن بين يديه مثل آخرة الرحل فإنه يقطع صلاته الحمار والمرأة والكلب الأسود قلت يا أبا ذر ما بال الكلب الأسود من الكلب الأحمر من الكلب الأصفر قال يا بن أخي سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم كما سألتني فقال الكلب الأسود شيطان

Jika di hadapannya tidak ada sutrah seukuran pelana kuda maka shalatnya terputus oleh Keledai, wanita, dan anjing hitam. Aku (‘Ubadah bin Ash Shaamit) bertanya (kepada Abu Dzar):

“Wahai Abu Dzar kenapa anjing hitam, bagaimana dengan anjing merah dan anjing kuning?” Abu Dzar menjawab: “Wahai saudaraku, dulu aku pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ sebagaimana pertanyaanmu, Beliau menjawab: “Anjing hitam itu syetan.”  (HR. Muslim No. 510)

Tentang batalnya shalat karena dilewati hal-hal di atas, menjadi pendapat sebagian ulama.

Imam Ibnu Abdil Bar Rahimahullah berkata:

واختلف فيه العلماء أيضا فقالت طائفة يقطع الصلاة على المصلي إذا مر بين يديه الكلب والحمار والمرأة وممن قال هذا أنس بن مالك وأبو الأحوص والحسن البصري وحجة من قال بهذا القول حديث حميد بن هلال عن عبد الله بن الصامت عن أبي ذر قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم

Pada masalah ini para ulama berbeda pendapat, segolongan ulama berkata bahwa shalat seseorang terputus/batal jika lewat di hadapannya anjing, keledai, dan wanita. Di antara yang mengatakan ini adalah Abas bin Malik, Abu Al Ahwash, Hasan Al Bashri. Dan hujjah pihak yang berpendapat ini adalah hadits Humaid bin Hilal, dari Abdullah bin Ash Shaamid, dari Abu Dzar dia berkata: Bersabda Rasulullah ﷺ: (lalu disebutkan hadits di atas). (Imam Ibnu Abdil Bar, At Tamhid, 21/167)

Tetapi, mayoritas ulama berpendapat sama sekali itu tidak batal. Dalilnya adalah hadits Shahih Al Bukhari dalam Bab Man Qaala Laa Yaqtha’ush Shalah Syai’un (Pihak yang mengatakan Tidak ada apa pun yang membuat batal shalat).

عَنْ عَائِشَةَ ذُكِرَ عِنْدَهَا مَا يَقْطَعُ الصَّلَاةَ الْكَلْبُ وَالْحِمَارُ وَالْمَرْأَةُ فَقَالَتْ شَبَّهْتُمُونَا بِالْحُمُرِ وَالْكِلَابِ وَاللهِ لَقَدْ رَأَيْتُ النَّبِيَّ ? يُصَلِّي وَإِنِّي عَلَى السَّرِيرِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ مُضْطَجِعَةً (مُضْطَجِعَةٌ)  ..

Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, disebutkan dihadapannya apa yang dapat membatalkan shalat: Anjing, Keledai, dan Wanita. Maka Aisyah berkata: “Kalian menyerupai kami dengan keledai dan anjing. Demi Allah, aku telah melihat Nabi ﷺ shalat dan aku sedang berbaring di kasur di antara dirinya dan kiblat … “ . (HR. Al Bukhari No. 514)

Imam Ibnu Baththal Rahimahullah mengatakan:

ذهب جمهور أهل العلم إلى أن الصلاة لا يقطعها شىء روى ذلك عن عثمان ، وعلى ، وحذيفة ، وابن عمر ، ومن التابعين : الشعبى ، وعروة ، وهو قول مالك ، والثورى ، وأبى حنيفة ، والشافعى ، وأبى ثور ، وجماعة

Mayoritas ulama mengatakan shalat tidaklah batal oleh apa pun juga, pendapat ini diriwayatkan dari Utsman, Ali, Hudzaifah, Ibnu Umar, Sya’bi, Urwah, Malik, Ats Tsauri, Abu Hanifah, Asy Syafi’iy, Abu Tsaur, dan jamaah para ulama. (Syarh Shahih Al Bukhari, 2/141)

Sementara  itu Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah mengatakan:

يَقْطَعهَا الْكَلْب الْأَسْوَد ، وَفِي قَلْبِي مِنْ الْحِمَار وَالْمَرْأَة شَيْء

“(Lewatnya) Anjing hitam membatalkan shalat, dan dihati saya ada sesuatu (ragu) terhadap keledai dan wanita.” (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/266)

Imam Ahmad termasuk yang menilai batalbya shalat karena lewatnya anjing hitam. Tetapi mayoritas ulama mengatakan sama sekali tidaklah batal seseorang karena apa pun yang lewat dihadapan mereka. Imam An Nawawi menjelaskan:

وَقَالَ مَالِك وَأَبُو حَنِيفَة وَالشَّافِعِيّ رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ وَجُمْهُور الْعُلَمَاء مِنْ السَّلَف وَالْخَلَف : لَا تَبْطُل الصَّلَاة بِمُرُورِ شَيْء مِنْ هَؤُلَاءِ وَلَا مِنْ غَيْرهمْ ، وَتَأَوَّلَ هَؤُلَاءِ هَذَا الْحَدِيث عَلَى أَنَّ الْمُرَاد بِالْقَطْعِ نَقْص الصَّلَاة لِشُغْلِ الْقَلْب بِهَذِهِ الْأَشْيَاء ، وَلَيْسَ الْمُرَاد إِبْطَالهَا

“Pendapat Malik, Abu hanifah, Syafi’i Radhiallahu ‘Anhum dan mayoritas (jumhur) ulama dari kalangan salaf dan khalaf mengatakan: Tidaklah batal shalat karena adanya sesuatu yang lewat baik karena itu semua (keledai, anjing hitam, dan wanita) dan tidak pula karena lainnya. Mereka menta’wilkan hadits ini, bahwa maksud terputusnya shalat adalah shalatnya kurang sempurna lantaran hati menjadi sibuk karenanya, bukan bermakna hal itu membatalkannya.” (Ibid)

Dan,   pendapat jumhur (mayoritas) inilah yang lebih kuat. Insya Allah

Wallahu A’lam

🌴🍄🌷🌱🌸🍃🌵🌾

✍ Farid Nu’man Hasan

Shalat Sunnah Rawatib

💦💥💦💥💦💥

Sholat sunnah rawatib ini merupakan yang paling populer di antara sholat sunnah yang lain. Karena sudah biasa dilakukan oleh ummat muslim. Dan momen untuk melaksanakan sholat ini cukup mudah, karena mengiringi sholat wajib. Ketika menunggu iqomat, disempatkan dulu sholat dua sampai empat rakaat. Begitu juga setelah sholat wajib didirikan, sebelum meninggalkan masjid/musholla, disempatkan dulu mengerjakan dua sampai empat rakaat. Tidak perlu mengkhususkan waktu sebagaimana sholat dhuha atau qiyamul lail.

📙 Definisi Sholat Sunnah Rawatib:

Tertulis dalam Al mausu’ah:

وهي السنن التابعة للفرائض ، ووقتها وقت المكتوبات التي تتبعها

Ini adalah shalat sunah yang mengiringi shalat-shalat wajib, dan waktunya adalah bersama shalat wajib yang diiringinya. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 22/44)

Jadi, sholat sunnah rawatib adalah sholat sunnah yang ada sebelum dan sesudah sholat wajib, seperti yang sudah biasa dilakukan oleh umat muslim.

📔 Macam-Macam Sholat Sunnah Rawatib

Secara global ada dua macam:

▶     Qabliyah, yaitu shalat sunah rawatib yang dilaksanakan sebelum shalat wajib.

▶     Ba’diyah, yaitu shakat sunah rawatib yang dilaksanakan sesudah shalat wajib.

📓 Perinciannya sebagai berikut:

1⃣ Sholat Sunnah Rawatib sebelum shubuh sebanyak dua rakaat, atau nama lainnya shalat sunah fajar.

Dari Aisyah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Dua rakaat (sebelum) fajar lebih baik dibanding dunia dan isinya. (HR. Muslim No. 725)

2⃣ Sholat Sunnah Rawatib zhuhur, ada tiga model:

📌 Pertama. Dua rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat setelahnya.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, katanya:

حفظت من النبي صلى الله عليه وسلم عشر ركعات: ركعتين قبل الظهر، وركعتين بعدها

Aku hapal dari Nabi ﷺ sepuluh rakaat (shalat sunah): “Dua rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat setelahnya ……… (HR. Al Bukhari No. 1180)

📌 Kedua. Empat Rakaat sebelum zhuhur dan dua rakaat setelahnya.

Dari Ali Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

كان النبي صلى الله عليه و سلم يصلي قبل الظهر أربعا وبعدها ركعتين

Dahulu Nabi ﷺ shalat sebelum zhuhur empat rakaat dan dua rakaat setelahnya. (HR. At Tirmidzi No. 424, katanya: hasan. Ahmad No. 1375. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isanadnys kuat. Ta’liq Musnad Ahmad No. 1375. Syaikh Al Albani menshahihkan. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 424)

📌 Ketiga. Empat rakaat sebelum zhuhur dan empat rakaat setelahnya.

Dari Ummu Habibah Radhiallahu ‘Anha, bahwa Nabi ﷺbersabda:

من صلى قبل الظهر أربعًا وبعدها أربعًا حرمه الله على النار

Barang siapa yang shalat sebelum zhuhur empat rakaat dan setelahnya empat rakaat, maka Allah haramkan baginya neraka. (HR. At Tirmidzi no. 427, katanya: hasan. Ibnu majah No. 1160, An Nasa’i No. 1814, Abu Daud No. 1269. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam banyak kitabnya)

3⃣ Sholat Sunnah Rawatib Ashar

📌 Pertama. Empat rakaat sebelum ashar.  Dalilnya adalah:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, dia berkata: Bersabda Rasulullah ﷺ : “Semoga Allah meramati seseorang yang shalat  empat rakaat sebelum ashar. (HR. Abu Daud No. 1273, At Tirmidzi No. 430, katanya: hasan. Syaikh Al Albani juga menyatakan hasan. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 430)

📌 Kedua. Dua rakaat sebelum ashar. Dalilnya adalah:

عَنْ عَلِىٍّ  أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يُصَلِّى قَبْلَ الْعَصْرِ رَكْعَتَيْنِ

Dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu, bahwasanya Nabi ﷺdahulu shalat dua rakaat sebelum ashar. (HR. Abu Daud No. 1274. Imam An Nawawi mengatakan: shahih. Lihat Khulashah Al Ahkam No. 1821)

Sedangkan keberadaan dua rakaat setelah ashar telah terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. Insya Allah akan kami bahas nanti.

4⃣ Sholat Sunnah Rawatib Maghrib

📌 Pertama. Dua rakaat sebelum maghrib, ini sunnah ghairu muakkadah (tidak ditekankan)

Dari Abdullah Al Muzani, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

صَلُّوا قَبْلَ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَتَّخِذَهَا النَّاسُ سُنَّةً

Shalatlah kalian sebelum shalat maghrib, lalu nabi mengatakan lagi yang ketiga kalinya: “Bagi yang mau.” Dia khawatir manusia menjadikannya sebagai sunah (kebiasaan). (HR. Al Bukhari No. 1183)

Ini menunjukkan bahwa qabliyah maghrib memang ada tetapi tidak sampai ditekankan (ghairu muakkadah), bagi yang mau saja. Wallahu A’lam

Abu Tamim Al Jaisyani pernah shalat dua rakaat sebelum maghrib, ketika ia ditanya tentang shlat apa itu, ia menjawab, “Ini adalah shalat yang kami lakukan pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”   (HR. An

Nasa’i No. 578, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 475, dalam kitab ini juga disebutkan Uqbah bin ‘Amr Al Juhani shalat sebelum maghrib)

Dari ‘Ashim, bahwa Ubai bin Ka’ab dan Abdurrahman bin ‘Auf ketika terbenam matahari mereka shalat doa rakaat sebelum maghrib.   (HR. Ahmad No. 20355, Al Mushannaf Ibni Abi Syaibah No. 251, di kitab ini juga disebutkan Abdurrahman bin Abi Laila shalat dua rakaat sebelum maghrib)

Dalam riwayat Imam Ibnu Hibban , disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga pernah shalat dua rakaat sebelum maghrib.

Imam Muslim  meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhu dia berkata: “Kami shalat dua rakaat sebelum maghrib dan Rasulullah melihat perbuatan kami itu, tetapi tidak menyuruh dan tidak pula melarang kami.”

📌 Kedua. Dua rakaat setelah maghrib

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma:

حفظت من النبي صلى الله عليه وسلم عشر ركعات : ……. وركعتين بعد المغرب في بيته

Aku hapal dari Nabi ﷺ sepuluh raka’at (shalat sunah): ….. dan dua rakaat setelah maghrib di rumah … (HR. Al Bukhari No. 1180)

5⃣ Sholat Sunnah Rawatib Isya

📌 Pertama. Dua rakaat sebelum Isya, ini tidak ditekankan (sunnah ghairu muakkadah)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili Rahimahullah memasukan ini dalam ghairu muakkadah, kata beliau:

“Empat rakaat sebelum Isya dan empat rakaat sesudahnya, dengan sekali salam, berdasarkan riwayat dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha bahwa Rasulullah ﷺ shalat sebelum Isya empat rakaat, lalu setelah Isya juga empat rakaat, kemudian dia berbaring.” (Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu, 2/227)

Dan, secara umum juga berdasarkan hadits ini:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ ثَلَاثًا لِمَنْ شَاءَ

Di antara setiap dua adzan ada shalatnya. (nabi ulang tiga kali), bagi yang mau. (HR. Al Bukhari No. 624)

Maksud di antara dua adzan adalah antara adzan dan iqamah. “Liman syaa’a-bagi yang mau” menunjukkan itu tidak ditekankan.

📌 Kedua. Dua rakaat setelah Isya, ini termasuk yang sunah muakkadah.

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma:

حفظت من النبي صلى الله عليه وسلم عشر ركعات : …….  وركعتين بعد العشاء في بيته

Aku hapal dari Nabi ﷺ sepuluh raka’at (shalat sunah): ….. dan dua rakaat setelah Isya di rumah … (HR. Al Bukhari No. 1180)

🍃🌴🍃🌴🍃🌴

Demikianlah shalat sunah rawatib yang senantiasa ada tiap harinya mengiringi shalat wajib. Namun, dari sekian banyak itu tidak semua yang kategori muakkadah (ditekankan). Mayoritas ulama mengatakan sepuluh rakaat saja, sebagian ulama menyebut dua belas rakaat.

Tertulis dalam Al Mausu’ah:

ذهب جمهور العلماء إلى أن الرواتب المؤكدة عشر ركعات ، ركعتان قبل الصبح ، وركعتان قبل الظهر ، وركعتان بعدها ، وركعتان بعد المغرب ، وركعتان بعد العشاء ؛ لما ورد عن ابن عمر رضي الله عنهما أنه قال : حفظت من النبي صلى الله عليه وسلم عشر ركعات : ركعتين قبل الظهر ، وركعتين بعدها ، وركعتين بعد المغرب في بيته ، وركعتين بعد العشاء في بيته ، وركعتين قبل الصبح

Mayoritas ulama berpendapat bahwa rawatib yang muakkadah ada sepuluh rakaat, yaitu dua rakaat sebelum subuh, dua rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dan dua rakaat setelah Isya. Hal ini berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, dia berkata: “Aku hapal dari Nabi ﷺsepuluh rakaat: dua rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib,  dua rakaat setelah Isya, dan dua rakaat sebelum subuh.” (Al Mausu’ah, 22/44)

Ada pun yang dua belas rakaat berdasarkan hadits berikut:

ما من عبد مسلم يصلي لله كل يوم ثنتي عشرة ركعة تطوعا غير فريضة إلا بنى الله له بيتا في الجنة

Tidaklah seorang hamba muslim yang shalat karena Allah, sebanyak dua belas rakaat sunnah sehari semalam selain shalat wajibnya, melainkan Allah akan buatkan baginya rumah di surga. (HR. Muslim No. 728)

Dua belas rakaat ini di dapatkan dari sepuluh rakaat di atas (hadits Ibnu Umar), dengan dua rakaat sebelum zhuhur. Hal ini sebagaimana dikatakan Imam Al Baihaqi berikut:

باب مَنْ قَالَ هِىَ ثِنْتَا عَشْرَةَ رَكْعَةً فَجَعَلَ قَبْلَ الظُّهْرِ أَرْبَعًا

Bab Tentang Orang yang Mengatakan Dua Belas Rakaat Itu Dengan Menjadikan Sebelum Zhuhurnya Empat Rakaat. (As Sunan Al Kubra No. 2/48)

Wallahu A’lam

📘📙📓📔📒📓📕📗

✏ Farid Nu’man Hasan

scroll to top